Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

MENGENAL KABUPATEN BLORA


Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Lingkungan Hidup
Dosen Pengampu: Dra. Sri Mantini Rahayu Sedyawati M.Si

Disusun Oleh:
Hirroe Wijaya A.K

5302411174

Rombel 29

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG


2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam mempelajari lingkungan hidup, sangat dibutuhkan pengenalan lebih dalam
terhadap berbagai macam komponen pendukung dalam lingkungan itu sendiri.
pendukung yang dimaksud adalah komponen biotik dan abiotik.

Komponen

Dalam komponen biotik

terdapat unsur manusia, termasuk unsur interaksi sosial dan kebudayaan.


Mempelajari cara interaksi sosial dan ragam kebudayaan itu bersifat kedaerahan.
Artinya, antara satu daerah dengan daerah lain memiliki perbedaan. Karena masing-masing
daerah memiliki ciri masing-masing.

Ciri yang dimaksud diantaranya berkaitan dengan

komponen abiotik, yaitu unsur alam dengan segala sumber dayanya. Selain unsur alam, ciri
suatu daerah juga erat kaitannya dengan ragam budaya adalah struktur dan pola bersosial, agama,
dan kondisi ekonomi masyarakatnya.
Melihat karakteristik suatu daerah, berarti melakukan identifikasi secara mendalam
terhadap daerah tersebut. Identifikasi yang dapat dilakukan salah satunya dengan mengenal
karakteristik penduduk daerah yang diidentifikasi, mengenal kuliner dan cinderamata khas
daerah, juga tempat wisata yang sering dikunjungi.
Seperti halnya untuk mengetahui karakteristik salah satu kabupaten di Jawa Tengah, yaitu
Kabupaten Blora. Dengan mengenal kuliner dan cinderamata khasnya, kita dapat mengetahui
kondisi lingkungan hidup di kabupaten tersebut.

1.2 Rumusan Masalah


a. Apa identitas Kabupaten Blora ?
b. Di mana letak Kabupaten Blora ?
c. Apa makanan khas Kabupaten Blora ?

d. Apa cinderamata khas Kabupaten Blora ?


e. Apa kesenian khas Kabupaten Blora ?

1.3 Tujuan
a. Untuk mengetahui karakteristik Kabupaten Blora melalui makanan, kesenian dan
cideramata khas.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Identitas Kabupaten Blora
2.1.1 Keadaan Wilayah
a. Letak Geografis
Di sebelah Utara Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Rembang dan Kabupaten
Pati, di sebelah Timur dengan Kabupaten Bojonegoro (Jawa Timur), di sebelah Selatan dengan
Kabupaten Ngawi (Jawa Timur) dan di sebelah Barat dengan Kabupaten Grobogan. Luas
wilayah Kabupaten Blora adalah, 1.820,59 km2 (182058,3077) atau sekitar 5,5 persen luas
wilayah Propinsi Jawa Tengah. Kecamatan yang memiliki wilayah terluas adalah Randublatung
seluas 211,13 km2 sedangkan Cepu dengan luas wilayah 49,15 km2 merupakan kecamatan
tersempit.

b.Topografi

Kabupaten Blora memiliki wilayah dengan ketinggian terendah 30-280 dpl dan tetinggi
500 dpl. Kecamatan dengan letak tertinggi adalah Japah (280 dpl) sedangkan kecamatan Cepu
terendah mempunyai permukaan terendah (31 dpl). Kabupaten Blora diapit oleh Pegunungan
Kendeng Utara dan Selatan sengan susunan tanah 56 persen gromosol, 39 persen mediteran dan
5 persen aluvial. Menurut penggunaan tanah, hutan mendominasi luas wilayah 90.416,52 hektar
(49,66 persen), sebelum terjadinya penjarahan hutan jati di Kabupaten Blora merupakan hutan
terluas dan merupakan komoditi unggulan,disusul lahan sawah seluas 46.186,99 hektar dan lahan
tegalan (kering) seluas 26.315,34 hektar. Lahan sawah di Kabupaten Blora yang merupakan
sawah tadah hujan seluas 29.760,99 hektar (64,44 persen), sawah beririgasi teknis 7449,0000 Ha,
sawah beririgasi sederhana 4114,0000 Ha, sawah beririgasi desa (non Pu) 1640,000 Ha. dan
sawah beririgasi setengah teknis 967 Ha. Sebagian besar lahan kering merupakan tanah tegalan

(ladang) sebesar 26315,3381 Ha, sisanya merupakan pekarangan seluas 16705,1598 Ha dan lainlain (waduk, kuburan, lapangan olah raga dan lain sebagainya) seluas 2430,7885 Ha.

c. Iklim dan Curah Hujan


Banyaknya hari hujan di Kabupaten Blora selama tahun 2007 relatif baik bila dibanding
dengan tahun sebelumnya. Selama tahun 2007, curah hujan tertinggi di Kecamatan Kradenan
sebanyak 2.638 mm, untuk hari hujan terbanyak terdapat di Kecamatan Blora sebanyak 115 hari.

d. Pembagian wilayah administrasi


Jumlah kecamatan di Kabupaten Blora adalah 16 kecamatan yang terdiri 271 desa dan 24
kelurahan. Yang keseluruhannya terdiri dari 941 dusun, 1.204 RW dan 5.429 RT. Enam
kecamatan memiliki wilayah kelurahan (Randublatung, Cepu, Jepon, Blora, Ngawen, dan
Kunduran). Kecamatan Ngawen memiliki desa/kelurahan terbanyak (27 desa dan 2 kelurahan)
sedangkan kecamatan Sambong dan Kradenan memiliki desa/kelurahan paling sedikit masingmasing

dengan

10

desa.

d. Penduduk
Berdasarkan Blora Dalam Angka tahun 2007, penduduk Kabupaten Blora tercatat
sebanyak 846.310 jiwa, perempuan sebanyak 428.512 jiwa dan laki-laki sebanyak 417.798 jiwa
dengan sex ratio sebesar 97,50. Tingkat kepadatan tertinggi tercatat di Kecamatan Cepu sebesar
1.572 jiwa per km2. Pertambahan penduduk seiring dengan pertambahan jumlah KK, dari
230.972 di tahun 2006 menjadi 232.156 di tahun 2007.

2.1.2 Kondisi Dan Potensi

a. Aspek SDM
Pegawai Negeri Sipil dan Calon PNS di Kabupaten Blora berjumlah 10.763 orang, 6.545
laki-laki dan 4.218. Data tentang sarana dan prasarana pendidikan merupakan data pokok dalam

membangun pendidikan di Kabupaten Blora. Dari data Blora Dalam Angka tahun 2007, jumlah
SD/MI sebanyak 708 unit, SLTP/MTs 123 unit, SLTA 56 unit dan Akademi/perguruan tinggi
sebanyak 4 unit. Akademi atau perguruan tinggi tercatat sebanyak 4 unit, 3 unit di Kecamatan
Cepu dan 1 unit di Kecamatan Blora, dengan jumlah mahasiswa sebanyak 2.200 orang, dosen
tetap sebanyak 119 orang dan tidak tetap sebanyak 290 orang. Kegiatan kelompok belajar paket
A dan B hingga tahun 2007 mencapai 82 dan 51 kelompok.
b. Aspek Ekonomi

Pertanian
Mayoritas mata pencaharian penduduk Kabupaten Blora adalah petani, utamanya
pertanian tanaman pangan. Hal ini menjadikan Kabupaten Blora sebagai salah satu
lumbung padi di Jawa Tengah. Padi sawah merupakan komoditi utama pertanian tanaman
pangan. Produksi padi sawah tahun 2007 sekitar 301.972 ton, Komoditi unggulan kedua
adalah jagung dan kedelai. Pada tahun 2007 produksi jagung mencapai 284.730 ton,
sedangkan kedelai mencapai 5.805 ton. Sementara perkembangan hortikultura didominasi
buah mangga dimana jumlah produksinya pada tahun 2007 sebesar 486.787 kwintal.
Selanjutnya produksi jeruk mencapai 112.297 kwintal.

Perkebunan
Produksi tanaman perkebunan di Kabupaten Blora hanya perkebunan rakyat. Luas dan
produksi tidak terlalu banyak. Tidak ada perkebunan besar yang dikelola negara atau
swasta berbadan hukum di Kabupaten ini. Produksi tanaman yang menonjol adalah
kelapa dan kapuk, dimana produksi kelapa mencapai 4.284, 610 ton, sedangkan kapuk
sebesar 227,229 ton.

Peternakan
Satu lagi yang menjadi andalan utama penduduk Kabupaten Blora selain padi dan
palawija adalah usaha ternak. Kabupsten Blora merupakan kabupaten dengan jumlah
ternak besar terbanyak di Propinsi Jawa Tengah, utamanya ternak sapi potong. Dalam
beberapa kesempatan sering mewakili Jawa Tengah untuk mengikuti lomba ternak baik
untuk popukasi, kualitas ternak maupun kekimpakan kelompok peternak di tingkat

nasional. Pada akhir tahun 2007 populasi sapi potong mencapai 215.587 ekor, kambing
96.250 ribu ekor, dan domba 16.881 ekor. Dalam tingkat propinsi, Blora merupakan
Kabupaten dengan jumlah ternak terbanyak terutama sapi potong. Ternak lain yang
mempunyai populasi cukup banyak adalah ayam kampung sebanyak 1,177.635 ekor.

Perikanan
Subsektor perikanan, meliputi kegiatan usaha perikanan darat yang terdiri dari usaha
budidaya sawah, kolam dan perairan umum (sungai, waduk dan cekdam). Produksi
perikanan yang ada didominasi oleh perikanan umum sebesar 251 ribu ton berasal dari
sungai.

Kehutanan
Sebanyak 49,66 persen luas wilayah Kabupaten Blora digunakan sebagai hutan negara,
terbagi dalam tiga kesatuan administrasi yaitu KPH Randublatung, KPH Cepu dan KPH
Blora. Salah satu komoditi hasil hutan adalah kayu jati, dimana produksi terbesar dari
KPH Cepu sebanyak 43.999,385 meter kubik. Tahun 2005 total produksi kayu jati bundar
sebanyak

92.803,78

meter

kubik.

Industri
Menurut Dinas Perdagangan, Industri dan Koperasi Kab. Blora terdapat 11.020
perusahaan industri kecil dan rumah tangga di tahun 2007. Jumlah tenaga kerja yang
diserap adalah 39.299 orang, dengan nilai produksi mencapai 456 milyar rupiah.

Energi
Sebagai upaya peningkatan taraf hidup masyarakat pemerintah mengupayakan program
listrik di Blora dipenuhi oleh PT. PLN. Sudah 100 persen desa/kelurahan yang terpasang
aliran listrik dengan jumlah pelanggan sebanyak 156.557 di tahun 2007. Kebutuhan akan
air bersih dilayani oleh PDAM. Meskipun baru delapan Kecamatan yang dapat dicukupi,
jumlah air yang sudah disalurkan mencapai 1,65 juta meter kubik, turun 4,60 persen dari
tahun

sebelumnya.

Koperasi
Koperasi sebagai soko guru perekonomian sangat penting peranannya dalam lingkup
usaha kecil dan menengah. Dari tahun ke tahun jumlahnya mengalami kenaikan,
demikian pula dengan jumlah anggotanya. Pada tahun 2007 jumlah koperasi naik sebesar
2,08 persen. Banyaknya koperasi ada 491 unit terdiri atas 17 KUD dan 474 non KUD
dengan

jumlah

total

anggota

sebanyak

121.199

orang.

Pasar
Pasar merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli, produsen dengan konsumen.
Jumlah pasar yang ada di Kabupaten Blora sebanyak 61 unit dengan jenis pasar
terbanyak adalah pasar desa / tradisional.

2.2 Makanan Khas Kabupaten Blora


2.2.1 Sate Ayam Blora

Gambar 1. Sate Ayam Blora

Salah satu makanan khas Kabupaten Blora adalah Sate Ayam Blora. Sate ayam yang
menggunakan bahan dasar daging ayam kampong ini dibakar di atas arang panas sehingga
rasanya sangat khas. Bahan yang digunakan untuk sambal dari sate ini adalah kacang tanah yang
dihaluskan dan ditambah dengan minyak sayur. Satu lagi yang menjadi ciri khas dari Sate Ayam
Blora adalah kuah opor yang disajikan sebagai pelengkap nasi.
2.2.2 Lontong Tahu Gimbal

Gambar 2. Lontong Tahu Gimbal


Makanan khas Blora ini dibuat dengan bahan dasar lontong dan tahu yang dipotong kecilkecil. Sementara untuk bumbunya dibuat dari kacang tanah dan cabai yang dihaluskan. Lontong
Tahu Gimbal ini disajikan dengan taburan kacang tanah goring yang masih utuh di atasnya.

2.2.3 Keripik Tempe

Gambar 3. Keripik Tempe


Di Kabupaten Blora terdapat sentra Keripik Tempe di Desa Kedungjenar. Sepanjang
jalan kecil pada tiap gang di desa tersebut terdapat kios-kios yang menjual Keripik Tempe dalam
kemasan plastik. Bahan baku keripik ini adalah tempe yang diiris tipis dan tepung. Keripik
Tempe sangat cocok dimakan sebagai pelengkap makan.

2.3 Kesenian Khas Kabupaten Blora


2.3.1 Seni Barongan

Gambar 4. Barongan

Gambar 5. Bujang Ganong


Kesenian Barong atau lebih dikenal dengan kesenian Barongan merupakan kesenian khas
Jawa Tengah. Akan tetapi dari beberapa daerah yang ada di Jawa Tengah Kabupaten Blora lah
yang secara kuantitas, keberadaannya lebih banyak bila dibandingkan dengan Kabupaten
lainnya.
Seni Barong merupakan salah satu kesenian rakyat yang amat populer dikalangan
masyarakat Blora, terutama masyarakat pedesaan. Didalam seni Barong tercermin sifat-sifat
kerakyatan masyarakat Blora, seperti sifat : spontanitas, kekeluargaan, kesederhanaan, kasar,
keras, kompak, dan keberanian yang dilandasi kebenaran.
Barongan dalam kesenian barongan adalah suatu pelengkapan yang dibuat menyerupai
Singo Barong atau Singa besar sebagai penguasa hutan angker dan sangat buas.
Adapun tokoh Singobarong dalam cerita barongan disebut juga GEMBONG AMIJOYO
yang berarti harimau besar yang berkuasa.
Kesenian Barongan berbentuk tarian kelompok, yang menirukan keperkasaan gerak
seekor Singa Raksasa. Peranan Singo Barong secara totalitas didalam penyajian merupakan
tokoh yang sangat dominan, disamping ada beberapa tokoh yang tidak dapat dipisahkan yaitu :
Bujangganong / Pujonggo Anom Joko Lodro / Gendruwo Pasukan berkuda / reog Noyontoko
Untub.

Selain tokoh tersebut diatas pementasan kesenian barongan juga dilengkapi beberapa
perlengkapan yang berfungsi sebagai instrumen musik antara lain : Kendang,Gedhuk, Bonang,
Saron, Demung dan Kempul. Seiring dengan perkembangan jaman ada beberapa penambahan
instrumen modern yaitu berupa Drum, Terompet, Kendang besar dan Keyboards. Adakalanya
dalam beberapa pementasan sering dipadukan dengan kesenian campur sari.
Kesenian barongan bersumber dari hikayat Panji, yaitu suatu cerita yang diawali dari
iring-iringan prajurit berkuda mengawal Raden Panji Asmarabangun / Pujonggo Anom dan
Singo Barong.
Adapun secara singkat dapat diceritakan sebagai berikut :
Prabu Klana Sawandana dari Kabupaten Bantarangin jatuh cinta kepada Dewi Sekartaji
putri dari Raja Kediri, maka diperintahlah Patih Bujangganong / Pujonggo Anom untuk
meminangnya. Keberangkatannya disertai 144 prajurit berkuda yang dipimpin oleh empat orang
perwira diantaranya : Kuda Larean, Kuda Panagar, Kuda Panyisih dan Kuda sangsangan. Sampai
di hutan Wengkar rombongan Prajurit Bantarangin dihadang oleh Singo Barong sebagai
penjelmaan dari Adipati Gembong Amijoyo yang ditugasi menjaga keamanan di perbatasan.
Terjadilah perselisihan yang memuncak menjadi peperangan yang sengit. Semua Prajurit dari
Bantarangin dapat ditaklukkan oleh Singo Barong, akan tetapi keempat perwiranya dapat lolos
dan melapor kepada Sang Adipati Klana Sawandana. Pada saat itu juga ada dua orang Puno
Kawan Raden Panji Asmara Bangun dari Jenggala bernama Lurah Noyontoko dan Untub juga
mempunyai tujuan yang sama yaitu diutus R. Panji untuk melamar Dewi Sekar Taji. Namun
setelah sampai dihutan Wengker, Noyontoko dan Untub mendapatkan rintangan dari Singo
Barong yang melarang keduanya utuk melanjutkan perjalanan, namun keduanya saling ngotot
sehingga terjadilah peperangan. Namun Noyontoko dan Untub merasa kewalahan sehingga
mendatangkan saudara sepeguruannya yaitu Joko Lodro dari Kedung Srengenge. Akhirnya
Singo Barong dapat ditaklukkan dan dibunuh. Akan tetapi Singo Barong memiliki kesaktian.
Meskipun sudah mati asal disumbari ia dapat hidup kembali. Peristiwa ini kemudian dilaporkan
ke R. Panji, kemudian berangkatlah R. Panji dengan rasa marah ingin menghadapi Singo Barong.
Pada saat yang hampir bersamaan Adipati Klana Sawendono juga menerima laporan dari
Bujangganong ( Pujang Anom ) yang dikalahkan oleh Singo Barong. Dengan rasa amarah

Adipati Klana Sawendada mencabut pusaka andalannya, yaitu berupa Pecut Samandiman dan
berangkat menuju hutan Wengker untuk membunuh Singo Barong. Setelah sampai di Hutan
Wengker dan ketemu dengan Singo Barong, maka tak terhindarkan pertempuran yang sengit
antara Adipati Klana Sawendana melawan Singo Barong. Dengan senjata andalannya Adipati
Klana Sawendana dapat menaklukkan Singo Barong dengan senjata andalannya yang berupa
Pecut Samandiman. Singo Barong kena Pecut Samandiman menjadi lumpuh tak berdaya.
Akan tetapi berkat kesaktian Adipati Klana Sawendana kekuatan Singo Barong dapat
dipulihkan kembali, dengan syarat Singo Barong mau mengantarkan ke Kediri untuk melamar
Dewi Sekartaji. Setelah sampai di alun-alun Kediri pasukan tersebut bertemu dengan rombongan
Raden Panji yang juga bermaksud untuk meminang Dewi Sekartaji. Perselisihanpun tak
terhindarkan, akhirnya terjadilah perang tanding antara Raden Panji dengan Adipati Klana
Sawendano, yang akhirnya dimenangkan oleh Raden Panji. Adipati Klana Sawendana berhasil
dibunuh sedangkan Singo Barong yang bermaksud membela Adipati Klana Sawendana dikutuk
oleh Raden Panji dan tidak dapat berubah wujud lagi menjadi manusia ( Gembong Amijoyo )
lagi. Akhrnya Singo Barong Takhluk dan mengabdikan diri kepada Raden Panji, termasuk
prajurit berkuda dan Bujangganong dari Kerajaan Bantarangin.
Kemudian rombongan yang dipimpin Raden Panji melanjutkan perjalanan guna melamar
Dewi Sekartaji. Suasana arak-arakan yang dipimpin oleh Singo Barong dan Bujangganong inilah
yang menjadi latar belakang keberadaan kesenian Barongan.
2.3.2 Seni Tayub

Gambar 6. Tari Tayub

Tayuban merupakan salah satu seni kebudayaan yang ada di Blora. Berdasarkan
keterangan-keterangan yang dapat dikumpulkan, perkataan Tayuban berasal dari kata Tayub,
yang menurut keroto boso adalah ringkasan dari kata "ditoto guyub" dan itu adalah bahwa
didalam penyajian seni tayuban gerak tari para penari serta gending iringannya diatur bersama
supaya serempak berdasarkan kesepakatan dari para pemain ( penari dan penabuh ) dengan para
penonton.

Sehingga

terwujudlah

suatu

keakraban

dan

persaudaraan.

Seni

Tayuban

menggambarkan penyambutan para tamu atau pimpinan yang dihormati oleh masyarakat
menurut jenjang kepangkatan mereka masing-masing. Penyambutan itu oleh para pemain wanita
yang disebut joget dengan cara menyerahkan sampur ( selendang yang dipakai penari wanita )
atas petunjuk pengarih. Tamu yang menerima sampur atau istilah "ketiban sampur" mendapatkan
kehormatan untuk menari bersama-sama dengan joget.
Didalam kelompok seni pertunjukan, tayuban dapat digolongkan tari rakyat tradisional,
sifat kerakyatan sangat menonjol, tampak sebagai gambaran dari jiwa masyarakat
pendukungnya, yaitu masyarakat pedesaan yang umum dijumpai diwilayah Kabupaten Blora,
seperti sifat spontanitas, kekeluagaan, kesederhanaan, sedikit kasar, namun penuh rasa humor.
Sebagaimana ciri khas tari ini yang sudah memasyarakat, maka Tayuban sudah menyebar
hampir seluruh Kabupaten Blora. Seni Tayuban pada umumnya dipentaskan pada upacara adat
yaitu sedekah desa, sedekah bumi atau upacara adat lain. Juga pada orang punya kerja,
memenuhi nadar, khitanan,perkawinan dan sebagainya.
2.4 Cinderamata Khas Kabupaten Blora

Gambar 7. Cinderamata Kayu Jati

Di Kabupaten Blora terdapat kios-kios yang menjual cinderamata berbahan kayu jati di
sepanjang jalan raya utama di Desa Jepon. Setidaknya hampir sepuluh buah kios berjejer di
sepanjang jalan yang tidak hanya menjual cinderamata hasil olahan kayu jati, namun juga
menjual furniture berbahan kayu jati. Furniture yang ditawarkan diantaranya meja dan kursi
kayu, serta lemari berbahan kayu.

BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Mengidentifikasi banyak hal yang menjadi kekhasan daerah Kabupaten Blora dapat
menjadi tolok ukur atas seberapa berkembangnya lingkungan hidup di Kabupaten Blora. Dilihat
dari aspek kesenian, Seni Barong memiliki karakter yang keras, sama halnya dengan karakter
masyarakat Blora yang demikian.
Sementara itu dari aspek kerajinan cinderamata khas Blora yang berbahan baku kayu jati,
menandakan bahwa hutan jati di Blora masih dilestarikan dan dimanfaatkan untuk produksi.
Sementara dari aspek kuliner khas Blora, yaitu keripik tempe, sate ayam dan lontong tahu
gimbal, menandakan bahwa hasil pertanian, terutama palawija, sangat melimpah. Sedangkan
hasil ternak terutama ayam juga berkembang baik.
3.2 Saran
a. Membudidayakan kesenian daerah sebaiknya juga didukung oleh Pemerintah Kabupaten
Blora, dapat melalui pembukaan sanggar seni khas Blora yang digagas oleh Pemda dan
sifatnya resmi.
b. Pelestarian hutan yang ditingkatkan dengan lebih baik, yaitu reboisasi, agar produksi
cindramata khas berbahan kayu jati tetap berjalan baik dan lingkungan hidup tetap terjaga.
c. Meningkatkan produktivitas dari sektor pertanian yang juga harus diimbangi dengan
pemeliharaan kualitas lahan, sehingga lahan tetap terjaga kesuburannya.

Hal ini dapat

dilakukan dengan cara pemupukan dan melakukan penanaman secara selang seling (tidak
menanam tanaman yang sama setiap waktu).