Anda di halaman 1dari 10

HIV

Presentasi Oleh :
Zebasthian Sibuea
Fransiska Panjaitan
Debora Margaretha
Yunike Tambunan

Struktur Genomik HIV


HIV adalah virus sitopatik diklasifikasikan dalam Famili
Retroviridae, Subfamili Lentifirinae, Genus Lentivirus.
Berdasarkan strukturnya HIV termasuk famili retrovirus,
termasuh virus RNA dengan berat molekul 9.7kb (kilo
bases).
Dari perangkat untaian RNA HIV, tiap untaian memiliki 9
genes. RNA diliputi oleh kapsul berbentuk kerucut terdiri
atas sekitar 2000 kopi p24 protein virus.

Siklus Hidup HIV


HIV merupakan retrovirus obligat intraseluler dengan
replikasi sepenuhnya didalam sel host.
Internalisasi HIV ke sel target
Perjalanan infeksi HIV didalam tubuh manusia diawali dari
interaksi gp120 pada selubung HIV berikatan dengan
reseptor spesifik CD4 yang terdapat pada permukaan
membran sel target. Sel target utama adalah sel yang
mampu mengekspresikan reseptor CD4. Kekuatan ikatan
antara HIV dan sel target sangat ditentukan afinitas koreseptor yang satu sama lain tidak sama.

Replikasi Virus
Replikasi berlangsung didalam sel host. Setelah masuk dan
berada didalam sel target, HIV melepaskan single strand
RNA. Sel target yang terpapar HIV tersebut mengalami
perubahan aktifitas, menjadi aktif memproduksi sitokin.
Dengan demikian akhirnya terbentuk virus baru yang
lengkap dan matur. Virus yang matur ini keluar dari sel
target untuk menyerang sel target berikutnya. Dalam 1 hari
replikasi HIV dapat menghasilkan virus baru, jumlahnya
dapat mencapai 10milyar.

Pelepasan HIV dari Sel Host


Akumulasi dan komunikasi RNA HIV dengan berbagai protein
didalam virion diperlukan untuk mengatur aktifitas sel guna
menghasilkan, memproses, dan mentransfor berbagai
komponen sehingga dapat ditempatkan, diintegrasikan
melalui proses katalitik. Berbagai protein virus berperan
penting dalam proses ini. Selain persiapan membaran sel
Host, juga terjadi persiapan pada virus sebelum dilepaskan
dari sel host.

Patofisiologi HIV
HIV masuk kedalam tubuh manusia melalui berbagai cara
yaitu secara vertikal, horizontal, dan transeksual.
Individu yang terinfeksi HIV mengalami penurunan jumlah
limfosit T - CD4 melalui beberapa mekanisme sebagai
berikut:
1. Kematian sel secara langsung karena hilangnya integritas
membran plasma akibat adanya penojolan dan perobekan
oleh virion.
2. Syncytia formation.
3. Respon imun humoral dan seluler terhadap HIV ikut
berperan melenyapkan virus dan sel yang terinfeksi virus.
4. Mekanisme autoimun dengan pembentukan autoantibodi
yang berperan untuk mengeliminasi sel yang terinfeksi.
5. Apoptosis.

Perjalanan Infeksi HIV


Fase Infeksi Akut.
2. Fase Infeksi Laten.
3. Fase Infeksi Kronis.
1.

Manifestasi Klinis
Pertama merupakan tahap infeksi akut, pada tahap ini muncul
gejala tetapi tidak spesifik. Tahap ini muncul 6 minggu
pertama setelah paparan HIV dapat berupa demam, rasa
letih, nyeri otot dan sendi, nyeri telan, dan pembesaran
kelenjar getah bening.
Kedua merupakan tahap asimtomatis, pada tahap ini gejala dan
keluhan hilang. Tahap ini berlangsung 6 minggu hingga
beberapa bulan bahkan tahun setelah infeksi.

Ketiga merupakan tahap simtomatis, pada tahap ini gejala dan


keluhan lebih spesifik dengan gradasi sedang sampai berat. Berat
badan menurun tetapi tidak sampai 10%, dapat juga ditemukan
infeksi bakteri pada saluran napas bagian atas namun penderita
dapat melakukan aktifitas meskipun terganggu.
Keempat, merupakan tahap yang lebih lanjut atau tahap AIDS. Pada
tahap ini terjadi penurunan berat badan lebih 10%, diare yang
lebih dari 1 bulan, panas yang tidak diketahui sebabnya lebih dari
1bulan, TB paru, dan pneumonia bakteri. Penderita berbaring
ditempat tidur lebih dari 12 jam sehari selama sebulan terakhir.

Berbagai Faktor Risiko Epidemiologis Infeksi HIV adalah:


1. Perilaku berisiko tinggi:
Hubungan seksual dengan pasangan berisiko tinggi tanpa
menggunakan kondom.
Penggunaan narkotika intravena.
Hubungan seksual yang tidak aman.
2. Mempunyai riwayat infeksi menular seksual.
3.Riwayat menerima transfusi darah berulang tanpa test
penapisan.
4. Riwayat perlukaan kulit, tato, tindik, atau sirkumsisi dengan
alat yang tidak disterilisasi.

Pemeriksaan Laboratorium Infeksi HIV.


Salah satu cara pemeriksaan serologi HIV yang dianjurkan
adalah ELISA, mempunyai sensitifitas 93-98% dengan
spesifisitas 98-99%. Pemeriksaan serologi HIV sebaiknya
dilakukan dengan 3 metode berbeda.
Untuk mendeteksi seorang menderita HIV, dapat dilakukan tes
langsung pada virus HIV atau secara tidak langsung dengan
cara penetuan antibodi. Bila individu didapatkan adanya
antibodi terhadap HIV berarti pernah atau sedang terpapar
HIV.