Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Saat ini, penyakit muskuloskeletal telah menjadi masalah yang banyak dijumpai di pusatpusat pelayanan kesehatan di seluruh dunia. Bahkan WHO telah menetapkan dekade ini (20002010) menjadi Dekade Tulang dan Persendian. Penyebab fraktur terbanyak adalah karena
kecelakaan lalu lintas. Kecelakaan lalu lintas ini selain menyebabkan fraktur, menurut WHO juga
menyebabkan kematian 1,25 juta orang setiap tahunnya, dimana sebagian besar korbannya
adalah remaja atau dewasa muda.
Fraktur adalah salah satu gangguan musculoskeletal yang umum yang disebabkan oleh
trauma. Dengan semakin pesatnya kemajuan lalu lintas di Indonesia maka mayoritas fraktur
adalah akibat kecelakaan lalu-lintas. Kecelakaan lalu-lintas dengan kecepatan tinggi sering
menyebabkan trauma. dan kita harus waspada terhadap kemungkinan polytrauma yang dapat
mengakibatkan trauma organ-organ lain. Trauma-trauma lain adalah jatuh dari ketinggian,
kecelakaan kerja, kecelakaan domestik, dan kecelakaan/cidera olahraga.
Menurut Smeltzer (2001 : 2357) fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan
sesuai jenis dan luasnya. Prinsip mengenai fraktur meliputi reduksi yaitu memperbaiki posisi
fragmen yang terdiri dari reduksi tertutup (tanpa operasi) dan reduksi terbuka ( dengan operasi),

mempertahankan reduksi / imobilisasi yaitu tindakan untuk mencegah pergeseran dengan traksi
terus nmenerus, pembebatan dengan gips, pemakaian penahan fungsional, fiksasi internal dan
fiksasi

eksternal,

memulihkan

fungsi

yang

tujuannya

adalah

mengurang

oedem,

mempertahankan gerakan sendi, memulihkan kekuatan otot dan memandu pasien kembali ke
aktifitas normal. (Apley & Solamon 1995)
Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik membuat makalah tentang fraktur secara umum dan
khususnya fraktur 1/3 distal dextra
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan mahasiswa dalam mempelajari fraktur dan
2.
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

dapat diterapkan dalam kehidupan sesuai teori yang ada.


Tujuan Khusus
Diharapkan mahasiswa dapat mengetahui pengertian dari fraktur secara umum
Diharapkan mahasiswa dapat mengetahui klasifikasi fraktur
Diharapkan mahasiswa dapat mengetahui etiologi/penyebab terjadinya fraktur
Diharapkan mahasiswa dapat mengerti tentang manifestasi fraktur
Diharapkan mahasiswa dapat mengetahui komplikasi dari fraktur
Diharapkan mahasiswa dapat mengetahui penatalaksanaan dari faktur.
Agar dapat mamberikan askep pada fraktur tibia fibula cruris 1/3 distal dextra mulai dari
pengkajian sampai evaluasi dengan baik dan benar
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Pengertian Fraktur Cruris


Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang, yang biasanya disertai dengan luka
sekitar jaringan lunak, kerusakan otot, rupture tendon, kerusakan pembuluh darah, dan luka
organ-organ tubuh dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya, terjadinya jika tulang dikenai stress
yang lebih besar dari yang besar dari yang dapat diabsorbsinya (Smeltzer, 2001).
Cruris berasal dari bahasa latin crus atau cruca yang berarti tungkai bawah yang terdiri dari
tulang tibia dan fibula (Ahmad Ramali, 1987). 1/3 distal dextra adalah tulang dibagi menjadi tiga
bagian kemudian bagian paling bawah yang diambil.
Fraktur cruris adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya,
terjadi pada tulang tibia dan fibula. Fraktur terjadi jika tulang dikenai stress yang lebih besar dari
yang dapat diabsorbsinya. (Brunner & Suddart, 2000).

B. Klasifikasi Fraktur
1. Fraktur berdasarkan derajat atau luas garis fraktur terbagi menjadi :
a. Fraktur complete, dimana tulang patah terbagi menjadi dua bagian (fragmen) atau lebih,

b. Fraktur incomplete (parsial). Fraktur parsial terbagi lagi menjadi :


1) Fissure/Crack/Hairline, tulang terputus seluruhnya tetapi masih di tempat, biasa terjadi di tulang
pipih.
2) Greenstick Fracture, biasa terjadi pada anak-anak dan pada os. radius, ulna, clavikula dan costae.
3) Buckle Fracture, fraktur dimana korteksnya melipat ke dalam.
2. Berdasarkan garis patah atau konfigurasi tulang:
a. Transversal, garis patah tulang melintang sumbu tulang (80-1000 dari sumbu tulang)
b. Oblik, garis patah tulang melintang sumbu tulang (<800 atau >1000 dari sumbu tulang)
c. Longitudinal, garis patah mengikuti sumbu tulang
d. Spiral, garis patah tulang berada di dua bidang atau lebih
e. Comminuted, terdapat dua atau lebih garis fraktur.
3. Berdasarkan hubungan antar fragman fraktur :
a. Undisplace, fragment tulang fraktur masih terdapat pada tempat anatomisnya
b. Displace, fragmen tulang fraktur tidak pada tempat anatomisnya, terbagi atas :
1) Shifted Sideways, menggeser ke samping tapi dekat
2) Angulated, membentuk sudut tertentu
3) Rotated, memutar
4) Distracted, saling menjauh karena ada interposisi
5) Overriding, garis fraktur tumpang tindih
6) Impacted, satu fragmen masuk ke fragmen yang lain.
4. Secara umum berdasarkan ada tidaknya hubungan antara tulang yang fraktur dengan dunia luar,
fraktur juga dapat dibagi menjadi 2, yaitu :
a. Fraktur tertutup, apabila kulit diatas tulang yang fraktur masih utuh

b. Fraktur terbuka, apabila kulit diatasnya tertembus dan terdapat luka yang menghubungkan tulang
yang fraktur dengan dunia luar yang memungkinkan kuman dari luar dapat masuk ke dalam luka
sampai ke tulang sehingga cenderung untuk mengalami kontaminasi dan infeksi. fraktur terbuka
1)
a)
b)
c)
d)
2)
a)
b)
c)
3)

dibagi menjadi tiga derajat, yaitu :


Derajat I
luka kurang dari 1 cm
kerusakan jaringan lunak sedikit tidak ada tanda luka remuk.
fraktur sederhana, tranversal, obliq atau kumulatif ringan.
Kontaminasi ringan.
Derajat II
Laserasi lebih dari 1 cm
Kerusakan jaringan lunak, tidak luas, avulse
Fraktur komuniti sedang.
Derajat III
Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas meliputi struktur kulit, otot dan neurovaskuler serta
kontaminasi derajat tinggi.

C. Etiologi Fraktur
Penyebab fraktur diantaranya:
1. Trauma
Jika kekuatan langsung mengenai tulang maka dapat terjadi patah pada tempat yang terkena,
hal ini juga mengakibatkan kerusakan pada jaringan lunak disekitarnya. jika kekuatan tidak
langsung mengenai tulang maka dapat terjadi fraktur pada tempat yang jauh dari tempat yang
terkena dan kerusakan jaringan lunak ditempat fraktur mungkin tidak ada. Fraktur karena trauma
dapat dibagi menjadi 2 yaitu:
a. Trauma langsung. Benturan pada tulang mengakibatkan ditempat tersebut.
b. Trauma tidak langsung. Titik tumpu benturan dengan terjadinya fraktur berjauhan.
2. Fraktur Patologis
Adalah suatu fraktur yang secara primer terjadi karena adanya proses pelemahan tulang
akibat suatu proses penyakit atau kanker yang bermetastase atau osteoporosis.
3. Fraktur akibat kecelakaan atau tekanan
Tulang juga bisa mengalami otot-otot yang berada disekitar tulang tersebut tidak mampu
mengabsorpsi energi atau kekuatan yang menimpanya.
4. Spontan . Terjadi tarikan otot yang sangat kuat seperti olah raga.
5. Fraktur tibia dan fibula yang terjadi akibat pukulan langsung, jatuh dengan kaki dalam posisi
fleksi atau gerakan memuntir yang keras.
6. Fraktur tibia dan fibula secara umum akibat dari pemutaran pergelangan kaki yang kuat dan
sering dikait dengan gangguan kesejajaran.
(Apley, G.A. 1995 : 840)
D. Manifestasi Klinis Fraktur

1. Deformitas
2. Daya tarik kekuatan otot menyebabkan fragmen tulang brrpindah dari tempatnya perubahan
keseimbangan dan contur terjadi seperti :
a. Rotasi pemendekan tulang
b. Penekanan tulang
3. Bengkak : edema muncul secara cepat dari lokasi dan ekstravaksasi darah dalam jaringan yang
4.
5.
6.
7.

berdekatan dengan fraktur.


Echumosis dan perdarahan subculaneus
Spasme otot spasme involunters dekat fraktur.
Tendernes/keempuka
Nyeri mungkin disebabkan oleh spasme otot berpindah tulang dari tempatnya dan kerusakan

struktur di daerah yang berdekatan.


8. Kehilangan sensasi (Mati rasa, munkin terjadi dari rusaknya saraf / perdarahan)
9. Pergerakan abnormal
10. Syock hipovolemik dari hilangnya hasil darah
11. Krepitasi
E. Patofisiologi Fraktur
Ketika tulang patah, periosteum dan pembuluh darah di bagian korteks, sumsum tulang dan
jaringan lunak didekatnya (otot) cidera pembuluh darah ini merupakan keadaan derajat yang
memerlukan pembedahan segera sebab dapat menimbulkan syok hipovolemik. Pendarahan yang
terakumulasi menimbulkan pembengkakan jaringan sekitar daerah cidera yang apabila di tekan
atau di gerakan dapat timbul rasa nyeri yang hebat yang mengakibatkn syok neurogenik.
(Mansjoer Arief, 2002)
Sedangkan kerusakan pada system persyarafan akan menimbulkan kehilangan sensasi yang
dapat berakibat paralysis yang menetap pada fraktur juga terjadi keterbatasan gerak oleh karena
fungsi pada daerah cidera. Sewaktu tulang patah pendarahan biasanya terjadi di sekitar tempat
patah, kedalam jaringan lemak tulang tersebut, jaringan lunak juga biasanya mengalami
kerusakan.Reaksi perdarahan biasanya timbul hebat setelah fraktur.
Sel darah putih dan sel anast berakumulasi menyebabkan peningkatan aliran darah ke tempat
tersebut. Fagositosis dan pembersihan sisa sisa sel mati di mulai. Di tempat patah terdapat
fibrin hematoma fraktur dan berfungsi sebagai jala-jala untuk membentukan sel-sel baru.
Aktivitas osteoblast terangsang dan terbentuk tulang baru umatur yg disebut callus.Bekuan fibrin
direabsorbsi dan sel-sel tuulang baru mengalmi remodelling untuk membentuk tulang sejati.
(Mansjoer Arief, 2002)
F. Pemeriksaan Penunjang
1. Foto Rontgen

a. Untuk mengetahui lokasi fraktur dan garis fraktur secara langsung


b. Mengetahui tempat atau tipe fraktur. Biasanya diambil sebelum dan sesudah serta selama proses
penyembuhan secara periodik.

1. Artelogram bila ada kerusakan vaskuler


2. Hitung darah lengkap HT mungkin terjadi (hemokonsentrasi) atau menurun (perdarahan
bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada organ multiple). Peningkatan jumlah SDP adalah
kompensasi normal setelah fraktur.
3. Profil koagulasi perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah transfusi multiple atau trauma
hati.
4. Sebagai penunjang, pemeriksaan yang penting adalah pencitraan menggunakan sinar rontgen
(x-ray). Hal yang harus dibaca pada x-ray:
a. Bayangan jaringan lunak.
b. Tipis tebalnya korteks sebagai akibat reaksi periosteum atau biomekanik atau juga rotasi.
c. Trobukulasi ada tidaknya rare fraction.
d. Sela sendi serta bentuknya arsitektur sendi.
5. Selain foto polos x-ray (plane x-ray) mungkin perlu tehnik khususnya seperti:

a. Tomografi: menggambarkan tidak satu struktur saja tapi struktur yang lain tertutup yang sulit
divisualisasi. Pada kasus ini ditemukan kerusakan struktur yang kompleks dimana tidak pada
satu struktur saja tapi pada struktur lain juga mengalaminya.
b. Myelografi: menggambarkan cabang-cabang saraf spinal dan pembuluh darah di ruang tulang
vertebrae yang mengalami kerusakan akibat trauma.
c. Arthrografi: menggambarkan jaringan-jaringan ikat yang rusak karena ruda paksa.
d. Computed Tomografi-Scanning: menggambarkan potongan secara transversal dari tulang dimana
didapatkan suatu struktur tulang yang rusak.

6. Pemeriksaan Laboratorium
a. Kalsium Serum dan Fosfor Serum meningkat pada tahap penyembuhan tulang.
b. Alkalin Fosfat meningkat pada kerusakan tulang dan menunjukkan kegiatan osteoblastik dalam
membentuk tulang.
c.

Enzim otot seperti Kreatinin Kinase, Laktat Dehidrogenase (LDH-5), Aspartat Amino
Transferase (AST), Aldolase yang meningkat pada tahap penyembuhan tulang.

d. Pemeriksaan lain-lain
e. Pemeriksaan mikroorganisme kultur dan test sensitivitas: didapatkan mikroorganisme penyebab
infeksi.
f. Biopsi tulang dan otot: pada intinya pemeriksaan ini sama dengan pemeriksaan diatas tapi lebih
dindikasikan bila terjadi infeksi.
g. Elektromyografi: terdapat kerusakan konduksi saraf yang diakibatkan fraktur.
h. Arthroscopy: didapatkan jaringan ikat yang rusak atau sobek karena trauma yang berlebihan.
i. Indium Imaging: pada pemeriksaan ini didapatkan adanya infeksi pada tulang.
j. MRI: menggambarkan semua kerusakan akibat fraktur.
(Ignatavicius, Donna D, 1995)

A. Penatalaksanaan Fraktur

Prinsip penanganan fraktur meliputi rekognisi, traksi, reduksi imobilisasi dan pengembalian fungsi
dan kekuatan normal dengan rehabilitasi.
1. Rekognasi
Pergerakan relatif sesudah cidera dapat mengganggu suplai neurovascular ekstremitas yang
terlibat. Karena itu begitu diketahui kemungkinan fraktur tulang panjang, maka ekstremitas yang
cedera harus dipasang bidai untuk melindunginya dari kerusakan yang lebih parah.
Kerusakan jaringan lunak yang nyata dapat juga dipakai sebagai petunjuk kemungkinan
adanya fraktur, dan dibutuhkan pemasangan bidai segera dan pemeriksaan lebih lanjut. Hal ini
khususnya harus dilakukan pada cidera tulang belakang bagian servikal, di mana contusio dan
laserasio pada wajah dan kulit kepala menunjukkan perlunya evaluasi radiografik, yang dapat
memperlihatkan fraktur tulang belakang bagian servikal dan/atau dislokasi, serta kemungkinan
diperlukannya pembedahan untuk menstabilkannya.
(Smeltzer C dan B. G Bare, 2001)
2. Traksi
Alat traksi diberikan dengan kekuatan tarikan pada anggota yang fraktur untuk meluruskan
bentuk tulang. Ada 2 macam yaitu:
a. Skin Traksi
Skin traksi adalah menarik bagian tulang yang fraktur dengan menempelkan plester
langsung pada kulit untuk mempertahankan bentuk, membantu menimbulkan spasme otot pada
bagian yang cedera, dan biasanya digunakan untuk jangka pendek (48-72 jam).

b. Skeletal traksi
Adalah traksi yang digunakan untuk meluruskan tulang yang cedera pada sendi panjang
untuk mempertahankan bentuk dengan memasukkan pins / kawat ke dalam tulang.
3. Reduksi
Dalam penatalaksanaan fraktur dengan reduksi dapat dibagi menjadi 2 yaitu:
a. Reduksi Tertutup/ORIF (Open Reduction Internal Fixation)
Reduksi fraktur (setting tulang) berarti mengembalikan fragment tulang pada kesejajarannya
dan rotasi anatomis. Reduksi tertutup, traksi, dapat dilakukan untuk mereduksi fraktur. Metode
tertentu yang dipilih bergantung sifat fraktur, namun prinsip yang mendasarinya tetap sama.

Sebelum reduksi dan imobilisasi fraktur, pasien harus disiapkan untuk menjalani prosedur dan
harus diperoleh izin untuk melakukan prosedur, dan analgetika diberikan sesuai ketentuan.
Mungkin perlu dilakukan anesthesia. Ekstremitas yang akan dimanipulasi harus ditangani
dengan lembut untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. Reduksi tertutup pada banyak kasus,
reduksi tertutup dilakukan dengan mengembalikan fragment tulang ke posisinya (ujungujungnya saling berhubungan) dengan manipulasi dan traksi manual.
b. Reduksi Terbuka/OREF (Open Reduction Eksternal Fixation)
Pada Fraktur tertentu dapat dilakukan dengan reduksi eksternal atau yang biasa dikenal
dengan OREF, biasanya dilakukan pada fraktur yang terjadi pada tulang panjang dan fraktur
fragmented. Eksternal dengan fiksasi, pin dimasukkan melalui kulit ke dalam tulang dan
dihubungkan dengan fiksasi yang ada dibagian luar. Indikasi yang biasa dilakukan
penatalaksanaan dengan eksternal fiksasi adalah fraktur terbuka pada tulang kering yang
memerlukan perawatan untuk dressings. Tetapi dapat juga dilakukan pada fraktur tertutup radius
ulna. Eksternal fiksasi yang paling sering berhasil adalah pada tulang dangkal tulang misalnya
tibial batang.
4. Imobilisasi Fraktur
Setelah fraktur di reduksi, fragment tulang harus diimobilisasi, atau dipertahankan dalam
posisi dan kesejajaran yang benar sampai terjadi penyatuan. Imobilisasi dapat dilakukan dengan
fiksasi eksterna atau interna. Metode fiksasi eksternal meliputi pembalutan, gips, bidai, traksi
kontinu, pin dan teknik gips, atau fiksator eksterna. Implan logam dapat digunakan untuk fiksasi
interna yang berperan sebagai bidai interna untuk mengimobilisasi fraktur.
B. Perawatan Perioperatif Di Kamar Bedah
1. Perawatan Pre Operasi:
a. Persiapan Pre Operasi:
1) Pasien sebaiknya tiba di ruang operasi dengan daerah yang akan di operasi sudah dibersihkan (di
cukur dan personal hygiene)
2) Kateterisasi
3) Persiapan saluran pencernaan dengan puasa mulai tengah malam sebelum operasi esok paginya
(pada spinal anestesi dianjurkan untuk makan terlebih dahulu)
4) Informed Consent
5) Pendidikan Kesehatan (Penkes) mengenai tindakan yang dilakukan di meja operasi, seperti
anestesi yang digunakan, tindakan yang dilakukan dan lamanya operasi
b. Perawatan Pre Operasi:
1) Menerima Pasien:
2) Memeriksa kembali persiapan pasien:
a) Identitas pasien

b) Surat persetujuan operasi


c) Pemeriksaan laboratorium darah, rontgen, EKG.
3) Mengganti baju pasien
4) Menilai KU dan TTV
a) Memberikan Pre Medikasi: Mengecek nama pasien sebelum memberikan obat dan memberikan
obat pre medikasi.
b) Mendorong pasien kekamar tindakan sesuai jenis kasus pembedahan
c) Memindahkan pasien ke meja operasi
C. Proses Penyambungan Tulang
1. Hematoma
Pembuluh darah robek dan terbentuk hematoma di sekitar dan di dalam fraktur (Apley,
1995). Hal ini mengakibatkan gangguan suplay darah pada tulang yang berdekatan dengan
fraktur dan mematikannya (Maurice King, 2001).
2. Proliferasi
Dalam 8 jam setelah fraktur terdapat reaksi radang akut disertai proliferasi sel di bawah
periosteum dan di dalam saluran medulla yang tertembus. Hematoma yang membeku perlahanlahan diabsorbsi dan kapiler baru yang halus berkembang ke dalam daerah itu (Apley, 1995).
3. Pembentukan callus
Selama beberapa minggu berikutnya, periosteum dan endosteum menghasilkan callus
yang penuh dengan sel kumparan yang aktif. Dengan pergerakan yang lembut dapat merangsang
pembentukan callus pada fraktur tersebut (Maurice King, 2001).
4. Konsolidasi
Selama stadium ini tulang mengalami penyembuhan terus-menerus. Fragmen yang patah
tetap dipertahankan oleh callus sedangkan tulang mati pada ujung dari masing-masing fragmen
dihilangkan secara perlahan, dan ujungnya mendapat lebih banyak callus yang akhirnya menjadi
tulang padat (Maurice King, 2001). Ini adalah proses yang lambat dan mungkin perlu beberapa
bulan sebelum tulang cukup kuat untuk membawa beban yang normal (Apley, 1995).
5. Remodeling
Tulang yang baru terbentuk, dibentuk kembali sehingga mirip dengan struktur normal
(Appley, 1995). Semakin sering pasien menggunakan anggota geraknya, semakin kuat tulang
baru tersebut (Maurice King, 2001).
Faktor yang Mempercepat Penyembuhan Fraktur:
a. Imobilisasi fragment tulang
b. Kontak fragment tulang maksimal
c. Asupan darah yang memadai
d. Nutrisi yang baik
e. Latihan pembebanan berat badan untuk tulang panjang
f. Hormon-hormon pertumbuhan, tiroid, kalsitonin, vitamin D, steroid anabolik.
Faktor yang Menghambat Penyembuhan Tulang:

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Trauma lokal ekstensif


Kehilangan tulang
Imobilisasi tak memadai
Rongga atau jaringan di antara fragmen tulang
Infeksi
Keganasan lokal
Penyakit tulang metabolik (mis. penyakit Paget)

h. Radiasi tulang (nekrosis radiasi)Nekrosis avaskuler


i. Usia (lansia sembuh lebih lama). (Smeltzer dan Bare, 2001 : 2386)
D. Komplikasi
1. Dini
c. Compartement syndrome
Merupakan komlikasi serius yang terjadi karena terjebaknya otot, tulang, saraf, dan pembuluh
darah dalam jaringan parut. Ini disebabkan oleh odem atau perdarahan yang menekan otot, saraf
dan pembuluh darah. Selain itu karena tekanan dari luar seperti gips, dan embebatan yang terlalu
kuat
1) Tekanan intracompartement dapat diukir langsung dengan cara whitesides.
2) Penanganan: dalam waktu kurang 12 jam harus dilakukan fascioterapi.
d. Infeksi
System pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada trauma orthopedic infeksi di
mulai pada kulit (superficial) dan masuk ke dalam. Ini biasanya terjadi pada kasus fraktur
terbuka, tapi juga bisa karena penggunaan bahan lain dalam pembedahan seperti pin dan plat
e. Avaskuler nekrosis
Avaskuler Nekrosis (AVN) terjadi karena aliran darah ketulang rusak atau terganggu yang bisa
menyebabkan nekrosis tulang dan diawali dengan adanya Volkmans Ischemia
f. Shock
Shock terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya permeabilitas kapiler yang bisa
menyebabkan menurunnya oksigenasi. Ini biasanya terjadi pada fraktur.

(Padila, 2012 : 306)


2. Lanjut
a.

Malunion: biasanya terjadi pada fraktur yang komminutiva sedang immobilisasinya longgar,
sehingga terjadi angulasi dan rotasi. Untuk memperbaiki perlu dilakukan osteotomi.

b. Delayed union: terutama terjadi pada fraktur terbuka yang diikuti dengan infeksi atau pada
frakter yang communitiva. Hal ini dapat diatasi dengan operasi bonegraft alih tulang spongiosa.

c.

Non union: Disebabkan karena terjadi kehilangan segmen tulang tibia disertai dengan infeksi.
Hal ini dapat diatasi dengan melakukan bone grafting menurut cara papineau.

d. Kekakuan sendi: Hal ini disebabkan karena pemakaian gips yang terlalu lama. Pada persendian
kaki dan jari-jari biasanya terjadi hambatan gerak, hal ini dapat diatasi dengan fisiotherapi .
(Padila, 2012 : 306)

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn.H DENGAN FRAKTUR CRURIS 1/3 DISTAL


DEXTRA
Tinjauan Kasus
Sdr. H umur 25 tahun datang dengan riwayat kecelakaan lalu lintas dengan trauma pada kaki
bawah kanan , mengeluh kaki kanan sakit sekali dan tidak bisa digerakan dalam pemeriksaan ada
tanda fungsio laesa, deformitas, bengkak dan jejas trauma, dari pemeriksaan radiology diperoleh
ada fraktur cruris 1/3 distal, di UGD terpasang fiksasi spalk dan konsul dr. SpBO.
A. Pengkajian
1. Pengumpulan Data
a. Anamnesa
1) Identitas klien
2) Keluhan utama
Pada umumnya keluhan utama pada kasus fraktur adalah rasa nyeri. Nyeri tersebut bisa akut atau
kronis tergantung dan lamanya serangan. Untuk memperoleh data tentang nyeri digunakan P, Q,
R, S, T.
3) Riwayat Penyakit Sekarang
4) Riwayat Penyakit Dahulu
5) Riwayat Penyakit Keluarga
6) Riwayat Psikososial
7) Pola-pola Fungsi Kesehatan menurut Gordon
8) Pemeriksaan Fisik
9) Pemeriksaan diagnostik
b. Data Fokus
Pemeriksaan pada system musculoskeletal adalah
1) Look (inspeksi)
a) Cictriks (jaringan parut baik yang alami maupun buatan)
b) Cape au lait spot
c) Fistulae
d) Warna kemerahan atau kebiruan (livide) atau hiperpigmentasi
e) Benjolan, pembengkakan, atau cekungan dengan hal-hal yang tidak biasa (abnormal)

f) Posisi dan bentuk dari ekstremitas (deformitas)


g) Posisi jalan (gait, waktu masuk kekamar operasi)
2) Feel (palpasi)
Pada waktu akan palpasi, terlebih dahulu posisi penderita diperbaiki mulai dari posisi netral
(posisi anatomi). Yang perlu dicatat adalah:
a) Perubahan suhu disekitar trauma (hangat) dan kelembapan kulit
b) Apabila ada pembengkakan, apakah terdapat fluktuasi atau oedem terutama disekitar persendian
c) Nyeri tekan (tenderness), krepitasi, catat letak kelainan (1/3 proksimal, tengah, distal)
Otot: tonus pada waktu relaksasi atau kontraksi, benjolan yang terdapat dipermukaan atau
melekat pada tulang. Selain itu juga diperiksa status neurovaskuler. Apabila ada benjolan maka
sifat benjolan perlu dideskripsikan permukaanya, konsistensinya, pergerakan terhadap dasar atau
permukaannya, nyeri atau tidak dan ukurannya.
3) Move (pergerakan terutama lingkup gerak)
Setelah dilakukan pemeriksaan feel, kemudian diteruskan dengan menggerakkan ekstremitas dan
catat apakah ada keluhan nyeri pada pergerakan. Gerakan sendi dicatat dengan ukuran derajat,
tiap arah pergerakan mulai dari titik 0 (posisi netral) atau dalam ukuran metric. Pemeriksaan ini
menentukan apakah ada gangguan gerak (mobilitas atau tidak).
(Padila, 2012 : 317)

B. Analisa Data
No Data Fokus
1
DS: klien
mengeluh kaki
kanan sakit
sekali
DO: dari hasil
pemeriksaan
radiology
diperoleh ada
fraktur cruris 1/3
distal, adanya
bengkak,
deformitas

Problem
Nyeri

Etiologi
Diskontinuitas
tulang

Pathway
Cedera jaringan atau
kulit
Diskontinuitas
tulang
Pergeseran fragmen
tulang
proses inflamasi
menekan ujung
syaraf bebas
nosiseptor

Medull
a spinalis
Korteks serebri
Nyeri
2

DS: klien

Hambatan

Terapi

mengatakan

mobilitas

pembatasan

kaki kanannya

fisik

aktivitas

tidak dapat

Diskontuinitas
tulang
Kerusakan fragmen
tulang

digerakkan
Deformitas tulang

DO:
pemeriksaan ada
tanda

fungsio

laesa,
bengkak
dan

(fungsio laesa)
Terapi dengan

deformitas,
jejas

Gangguan fungsi

pemasangan spalk
dan

trauma,
terpasang

Hambatan mobilitas
fisik

fiksasi spalk

C. Diagnosa Keperawatan
D. Intervensi Keperawatan
Dx: nyeri berhubungan dengan diskontuinitas tulang
Tujuan ; nyeri berkurang setelah dilakukan tindakan perawatan
Kriteria hasil:
-

Klien menyatajkan nyei berkurang

Tampak rileks, mampu berpartisipasi dalam aktivitas/tidur/istirahat dengan tepat

Tekanan darahnormal

Tidak ada eningkatan nadi dan RR

Intervensi:
a. Kaji ulang lokasi, intensitas dan tpe nyeri
b. Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring
c. Berikan lingkungan yang tenang dan berikan dorongan untuk melakukan aktivitas hiburan
d. Ganti posisi dengan bantuan bila ditoleransi
e. Jelaskanprosedu sebelum memulai
f.

Akukan danawasi latihan rentang gerak pasif/aktif

g. Drong menggunakan tehnik manajemen stress, contoh : relasksasi, latihan nafas dalam, imajinasi
visualisasi, sentuhan
h. Observasi tanda-tanda vital
i.

Kolaborasi : pemberian analgetik

2. Dx: hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan


Tujuan : kerusakn mobilitas fisik dapat berkurang setelah dilakukan tindakan keperaawatan
terapi pembatasan aktivitas
Kriteria hasil:
-

Meningkatkan mobilitas pada tingkat paling tinggi yang mungkin

Mempertahankan posisi fungsinal

Meningkaatkan kekuatan /fungsi yang sakit

Menunjukkan tehnik mampu melakukan aktivitas


Intervensi:

a. Pertahankan tirah baring dalam posisi yang diprogramkan


b. Tinggikan ekstrimutas yang sakit
c. Instruksikan klien/bantu dalam latian rentanng gerak pada ekstrimitas yang sakit dan tak sakit
d. Beri penyangga pada ekstrimit yang sakit diatas dandibawah fraktur ketika bergerak
e. Jelaskan pandangan dan keterbatasan dalam aktivitas
f.

Berikan dorongan ada pasien untuk melakukan AKS dalam lngkup keterbatasan dan beri bantuan
sesuai kebutuhanAwasi teanan daraaah, nadi dengan melakukan aktivitas

g. Ubah psisi secara periodic


h. Kolabirasi fisioterai/okuasi terapi

PENATALAKSANAAN TERAPI LATIHAN PASCA ORIF PADA FRAKTUR


FEMUR 1/3 DISTAL DENGAN PEMASANGAN PLATE AND SCREW
Pada hakikatnya, pembangunan nasional adalah pembangunan manusia seutuhnya, jasmani dan
rohani yang dilaksanakan secara terarah, terpadu menyeluruh dan berkesinambungan.
Pembangunan di bidang kesehatan merupakan bagian integral dari pembangunan untuk
meningkatkan kualitas hidup masyarakat sehingga tercapai derajat kesehatan optimal.
Dalam konsep paradigma sehat menuju Indonesia sehat 2010, tujuan pembangunan kesehatan
diarahkan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap
orang, agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal, melalui terciptanya
masyarakat, bangsa dan Negara Indonesia yang ditandai oleh penduduknya hidup dalam
lingkungan dengan perilaku hidup sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan
kesehatan yang bermutu secara adil dan merata serta memiliki derajat kesehatan yang optimal di
seluruh wilayah Republik Indonesia (Depkes RI,1999).
Dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan, Fisioterapi sebagai salah satu tim kesehatan harus
berperan aktif dalam meningkatkan kualitas hidup dan derajat kesehatan masyarakat dengan cara
menguasai ilmu pengetahuan dan skill yang optimal sesuai dengan bidang, serta memiliki
profesionalisme yang tinggi.

A. Latar Belakang
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membawa perubahan ke arah perkembangan di
bidang industri yang lebih maju. Hal ini ditandai dengan munculnya industri-industri baru yang
didukung dengan teknologi yang serba canggih.
Hasil dari adanya perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, salah satunya
adalah terjadi peningkatan jumlah alat transportasi. Dengan adanya peningkatan jumlah alat
transportasi menyebabkan terjadinya peningkatan kecelakaan lalu lintas. Selain itu adanya
kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan juga dapat mengakibatkan adanya kecelakaan kerja
ataupun kecelakaan dalam rumah tangga. Dimana akan mengakibatkan berbagai macam cidera
mulai dari cidera yang sifatnya ringan sampai berat. Yang lebih memprihatinkan lagi dapat
mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang atau meninggal dunia. Trauma yang terjadi pada
kecelakaan lalu-lintas memiliki banyak bentuk, tergantung dari organ apa yang dikenai. Trauma
semacam ini, secara lazim, disebut sebagai trauma benda tumpul. Ada tiga trauma yang paling
sering terjadi dalam peristiwa ini, yaitu trauma kepala, fraktur (patah tulang) dan trauma dada
(Amrizal,2007).
Trauma kedua yang paling sering terjadi dalam sebuah kecelakaan adalah fraktur (patah tulang).
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang umumnya
disebabkan oleh tekanan atau rudapaksa. Fraktur dibagi atas fraktur terbuka, yaitu jika patahan
tulang itu menembus kulit sehingga berhubungan dengan udara luar dan fraktur tertutup, yaitu
jika fragmen tulang tidak berhubungan dengan dunia luar.

Dari semua jenis fraktur, fraktur tungkai atas atau lazimnya disebut fraktur femur (tulang paha)
memiliki insiden yang cukup tinggi (Amrizal,2007). Salah satu bentuk cidera yang terjadi adalah
Fraktur Femur 1/3 Distal. Dengan banyaknya kasus fraktur, peran Rumah Sakit juga sangat
diperlukan untuk menangani kasus tersebut. Ada dua penanganan fraktur. Yaitu konservatif dan
operatif. Metode konservatif adalah penanganan fraktur dengan reduksi atau reposisi tertutup.
Dimana prinsip reposisi adalah berlawanan dari arah fraktur. Setelah reposisi, dilakukan
immobilisasi untuk mencegah fragmen fraktur bergerak dan untuk memfasilitasi penyambungan
tulang. Sedangkan metode operatif adalah dengan reduksi terbuka yaitu membuka daerah yang
mengalami fraktur dan memasangkan fiksasi internal. Disini fiksasi internal yang biasa
digunakan untuk fraktur femur 1/3 distal adalah Plate and Screw. Metode operatif merupakan
metode yang paling cocok karena beberapa fraktur (misalnya pada batang femur) sulit direduksi
dengan manipulasi karena tarikan otot yang sangat kuat dan membutuhkan waktu traksi yang
lama (Apley,1995). Selain itu hasil yang diperoleh tidak maksimal. Dari penjelasan di atas, maka
penulis mengambil judul studi kasus tentang penanganan pasca open reduction internal fixation
(ORIF) fraktur femur 1/3 distal tanpa disertai adanya komplikasi. Biasanya masalah fisioterapi
yang muncul segera setelah operasi open reduction internal fixation (ORIF), pasien telah sadar
dan berada di bangsal adalah oedem atau bengkak, nyeri, keterbatasan lingkup gerak sendi,
penurunan kekuatan otot serta penurunan kemampuan fungsionalnya yaitu berjalan dikarenakan
luka bekas operasi dan luka bekas trauma. Oleh karena itu fisioterapis bekerja untuk mengatasi
masalah-masalah itu secara tepat dan cepat agar dapat menurunkan atau menghilangkan derajat
permasalahan dan pasien dapat kembali ke aktivitas semula. Salah satu modalitas yang
digunakan fisioterapis adalah terapi latihan.
Terapi latihan merupakan salah satu upaya pengobatan dalam fisioterapi yang dalam
pelaksanaannya menggunakan latihan gerak aktif maupun pasif (Priatna, 1985). Modalitas terapi
latihan yang diberikan berupa static contraction yang disertai dengan positioning yang dapat
membantu mengurangi oedema, dengan oedem berkurang maka dapat membantu mengurangi
rasa nyeri. Passive movement dan hold relax diharapkan dapat membantu meningkatkan dan
memelihara lingkup gerak sendi. Active movement diharapkan dapat membantu meningkatkan
nilai kekuatan otot. Selain itu, fisioterapis juga harus memberikan latihan transfer dan ambulasi,
terutama latihan jalan untuk mengembalikan kemampuan fungsionalnya.
B. Rumusan Masalah
Pada kondisi pasca ORIF Fraktur Femur 1/3 Distal dapat dirumuskan masalahnya : (1) apakah
Static Contraction yang disertai positioning dapat mengurangi oedem dan nyeri? (2) apakah
Passive Movement dan Hold Relax dapat meningkatkan lingkup gerak sendi? (3) apakah Active
Movement dapat meningkatkan kekuatan otot? (4) apakah latihan jalan dapat meningkatkan
kemampuan fungsionalnya?
C. Tujuan Penulisan
Pada kasus pasca ORIF Fraktur Femur 1/3 Distal dapat dirumuskan : (1) untuk mengetahui
manfaat static contraction yang disertai positioning dalam mengurangi oedem dan nyeri, (2)
untuk mengetahui manfaat passive movement dan hold relax dalam meningkatkan lingkup gerak
sendi, (3) untuk mengetahui manfaat active movement dalam meningkatkan kekuatan otot, (4)

untuk mengetahui manfaat latihan jalan dalam meningkatkan kemampuan fungsional jalan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Deskripsi Kasus
Dalam deskripsi kasus memuat anatomi fungsional, definisi, etiologi, patologi, tanda dan gejala,
komplikasi, prognosis.
1. Anatomi Fungsional
a. Sistem tulang
1) Tulang femur
Femur, tulang terpanjang dan terberat dalam tubuh meneruskan berat tubuh dari os coxae kepada
tibia sewaktu kita berdiri. Femur ke proksimal membentuk articulatio coxae, dimana caput femur
akan berhubungan dengan acetabulum, gerakan yang akan terjadi adalah fleksi, ekstensi,
abduksi, adduksi, rotasi internal dan rotasi eksternal. Sedangkan femur ke distal berhubungan
dengan patella membentuk articulatio genu, dimana gerakan yang mungkin terjadi adalah fleksi
dan ekstensi lutut. Caput femoris menganjur ke arah craniomedial dan agak ke ventral sewaktu
bersendi dengan acetabulum. Ujung proksimal femur terdiri dari sebuah caput femoris, collum
femoris dan dua trochanter (trochanter mayor dan trochanter minor). Caput femoris dan collum
femoris membentuk sudut (115o-140o) terhadap poros panjang corpus femoris, sudut ini
bervariasi dengan umur dan jenis kelamin. Meski demikian memungkinkan daya gerak femur
pada articulatio coxae yang lebih besar, keadaan ini juga melimpahkan beban yang cukup besar
pada collum femoris. Corpus femoris berbentuk lengkung, yakni cembung ke arah anterior.
Ujung distal femur berakhir menjadi dua condylus yaitu condylus medialis dan condylus lateralis
yang melengkung bagaikan ulir (Moore,2002). Femur mengadakan persendian dengan tiga
tulang, yaitu tulang coxae, tulang tibia dan patella (Pearce,2006).
2) Tulang patella
Patella atau tempurung lutut adalah tulang yang berkembang di dalam tendon otot Quadriceps

ekstensor. Permukaan posteriornya halus dan bersendi dengan permukaan pateler dari ujung
bawah femur. Letaknya di depan sendi lutut, tetapi tidak ikut serta di dalamnya (Pearce,2006).
3) Tulang tibia dan fibula
Tibia yang besar dan merupakan penyangga beban, proksimal bersendi dengan condylus femur
dan distal dengan talus (Moore,2002).

Keterangan gambar 1 :
1. Caput femoris
2. Collum femoris
3. Trochanter minor
4. Trochanter major
5. Linea intertrochanterica
6. Corpus femoris
7. Epicondilus Medialis
8. Facies patellaris
9. Epicondylus lateralis
10. Crista intectrochantorica
11. Linea pectinea
12. Linea aspera
13. Condylus medialis
14. Condylus lateralis
15. Fossa intercondylaris

Gambar 2.1

Tulang femur, tampak depan dan belakang (Putz and Pabst, 2000)
b. Sistem otot
Untuk gerakan fleksi pada articulatio coxae dilakukan oleh otot iliacus dan otot psoas mayor.
Untuk gerakan ekstensinya dilakukan oleh otot gluteus maximus dan hamstrings (biceps femoris,
semitendinosus, semimembranosus).
Gerakan abduksi pada articulatio coxae dilakukan oleh otot gluteus medius, gluteus minimus dan
otot pembantu tensor fascialata (Daniels,1995).
Gerakan adduksi pada articulatio coxae terjadi melalui otot adductor magnus, adductor brevis,
pectineus dan gracilis.
Untuk gerakan rotasi internal pada articulatio coxae terjadi melalui otot gluteus minimus, gluteus
medius, tensor fasciae latae, sedangkan gerakan rotasi eksternal dilakukan oleh otot obturatorius
externus, obturatorius internus, quadratus femoris, piriformis, gemellus superior, gemellus
inferior, gluteus maximus (Daniels,1995).
Otot ekstensor tungkai bawah pada articulatio genu atau otot ekstensor lutut yang menutupi
bagian femur anterior, medial, lateral yaitu otot quadriceps femoris dan terdiri dari (a) otot rectus
femoris di sebelah anterior paha, (b) otot vastus lateralis yang terdapat pada sisi lateral paha, (c)
otot vastus medialis yang menutupi sisi medial paha dan (d) otot vastus intermedius yang terletak
di sebelah dalam otot rectus femoris dan antara otot vastus medialis dan otot vastus lateralis
(Moore,2002).
Fleksi lutut terjadi melalui otot-otot hamstrings (lateral biceps femoris dan medial
semitendinosus serta semimembranosus) (De Wolf,1994). Selain itu gerakan fleksi lutut juga
dibantu oleh otot sartorius dan gracilis (De wolf, 1994).
Keterangan Gambar 2:
1. M. psoasmajor
2. M. Iliacus
3. M. Iliopsoas
4. M. tensor fasciae Latae
5. M. rectus femoris
6. M. vastus lateralis
7. M. psoas minor
8. M. pectineus
9. M. adductor longus
10. M. sartorius
11. M. adductor magnus
12. M. gracilis
13. M. vastus medialts

Gambar 2
Otot paha penguat sendi lutut dilihat dari anterior (Putz and Pabst, 2000)

Keterangan Gambar 3 :
1. M. gluteus maximus
2. M. gracilis
3. M. semitendinosus
4. M. semimembranosus
5. M. gastrocnemius
6. M. gluteus medius. fascia
7. M. vastus lateralis
8. M. biceps femoris

Gambar 3
Otot paha penguat sendi lutut dilihat dari posterior (Putz and Pabst, 2000)
c. Sistem sendi
1) Articulatio coxae
Terbentuk diantara caput femoris tulang femur dan acetabulum os coxae yang berbentuk
mangkuk, permukaan sendi acetabulum berbentuk tapal kuda dan terbuka di bagian bawah pada
incisura acetabuli. Jenis sinovial Ball and Socket (Richard,1998). Gerakan yang terjadi pada
articulatio coxae adalah fleksi, ekstensi, abduksi, adduksi, rotasi internal dan rotasi eksternal.
2) Articulatio genu
Sendi sinovial jenis engsel yang memungkinkan sedikit gerak rotasi sewaktu berada dalam sikap
fleksi.
Articulatio genu secara mekanis bersifat tidak stabil karena bentuk permukaannya yang datar.
Untuk kekuatan articulatio genu tergantung pada ligamentum yang mengikat femur pada tibia
(Moore,2002). Gerakan yang dapat dilakukan pada sendi ini adalah fleksi-ekstensi, yang mana
terjadi pada bidang gerak sagital dengan axis tranversal. Luas gerak sendi untuk gerakan fleksi

berkisar antara 130o 140o, sedangkan untuk gerakan ekstensi nilainya 0o, apabila nilainya
berkisar antara 5o 10o maka terjadi hyperekstensi, tetapi masih dalam batas normal (Norkin,
1995).
2. Definisi
a. Terapi latihan
Terapi latihan adalah salah satu upaya pengobatan dalam fisioterapi yang dalam pelaksanaannya
menggunakan latihan gerakan tubuh, baik secara aktif maupun pasif (Priatna, 1985).
b. Pasca
Pasca berarti setelah (Ramali, 1987).
c. Open Reduction Internal Fixation
Apabila diartikan dari masing-masing kata adalah sebagai berikut; Open berasal dari bahasa
Inggris yang berarti buka, membuka, terbuka (Jamil,1992), Reduction berasal dari bahasa Inggris
yang berarti koreksi patah tulang (Ramali, 1987), Internal berasal dari bahasa Inggris yang
berarti dalam (Ramali, 1987), Fixation berasal dari bahasa Inggris yang berarti keadaan
ditetapkannya dalam satu kedudukan yang tidak dapat berubah (Ramali, 1987). Jadi dapat
disimpulkan sebagai koreksi patah tulang dengan jalan membuka dan memasang suatu alat yang
dapat membuat fragmen tulang tidak dapat bergerak.
d. Plate and screw
Plate berarti struktur pipih atau lapisan (Dorland,1998). Screw berarti silinder padat
(Dorland,2002). Plate and screw berarti suatu alat untuk fiksasi internal yang berbentuk struktur
pipih yang disertai alat berbentuk silinder padat untuk memfiksasi daerah yang mengalami
perpatahan.
e. Fraktur femur 1/3 distal
Fraktur adalah suatu patahan pada kontinuitas struktur tulang, dikarenakan trauma langsung,
trauma tidak langsung, faktor tekanan atau kelelahan dan faktor patologik (Appley,1995). Pada
kasus ini terjadi pada 1/3 bagian distal femur.
3. Etiologi
Menurut etiologinya fraktur dapat disebabkan oleh : (a) trauma yang terjadi baik secara langsung
maupun tidak langsung, (b) karena tekanan pada tulang sehingga tulang mengalami kelelahan,
(c) karena penyakit pada tulang atau faktor patologik.
Oedem, nyeri, gangguan lingkup gerak sendi, penurunan kekuatan otot dan gangguan aktivitas
berjalan disebabkan adanya luka fraktur dan luka bekas operasi.
4. Patologi
Pada kasus fraktur femur 1/3 distal, tindakan yang dilakukan untuk memperbaiki posisi fragmen
adalah dengan reduksi secara terbuka atau dengan tindakan operasi (Appley, 1995). Pada
tindakan operasi akan dilakukan incisi pada tungkai atas bagian lateral dan pemasangan plate and
screw untuk mendekatkan ujung fragmen dan untuk fiksasi. Dengan adanya tindakan operasi ini,
maka akan terjadi kerusakan jaringan lunak. Tindakan operasi akan menyebabkan reaksi radang,
pembuluh darah vasodilatasi sehingga permeabilitas dinding akan meningkat. Dengan
meningkatnya permeabilitas dinding maka cairan eksudat keluar dan meningkatkan tekanan pada
jaringan interstitial. Kumpulan cairan eksudat akan mengakibatkan oedem. Oedem akan
menekan nociceptor sehingga akan timbul nyeri. Apabila terasa nyeri, biasanya pasien enggan

untuk bergerak, sehingga dapat menyebabkan penurunan lingkup gerak sendi. Apabila hal ini
dibiarkan terus-menerus dan dalam jangka waktu yang lama, maka akan terjadi penurunan
kekuatan otot sehingga aktivitas fungsional pasien juga akan menurun khususnya aktivitas jalan.
Namun secara fisiologis, tulang mempunyai kemampuan untuk menyambung sendiri setelah
patah tulang. Proses penyambungan tulang pada setiap individu berbeda-beda. Faktor-faktor
yang mempengaruhi penyambungan tulang adalah (1) usia pasien, (2) jenis fraktur, (3) lokasi
fraktur, (4) suplai darah, (5) kondisi medis yang menyertainya (Garrison,1995). Proses
penyambungan tulang terdiri dari tahapan-tahapan :
a. Hematoma
Pembuluh darah robek, darah keluar sehingga terbentuk kumpulan darah di sekitar dan di dalam
tempat yang mengalami fraktur. Tulang pada ujung fragmen yang tidak mendapat pasokan darah,
akan mati sepanjang satu atau dua millimeter (Appley,1995).
b. Proliferasi
Dalam 8 jam setelah fraktur terdapat reaksi radang akut disertai proliferasi sel di bawah
periosteum dan di dalam canalis medullaris yang terkoyak. Ujung fragmen dikelilingi oleh
jaringan yang kaya sel, yang menghubungkan ujung fragmen fraktur. Hematoma yang membeku
perlahan-lahan diabsorbsi dan kapiler baru yang halus berkembang ke dalam daerah itu
(Appley,1995).
c. Pembentukan callus
Selama beberapa minggu berikutnya, callus bervaskular masih lunak, penuh dengan sel
berbentuk kumparan yang aktif. Tulang spongiosa membentuk callus bila kedua ujung fragmen
berdekatan, sedangkan tulang kortikal dapat membentuk callus walaupun kedua ujung fragmen
tidak berdekatan. Pergerakan yang lembut dapat merangsang pembentukan callus pada fraktur
tulang panjang. Setelah dua minggu endapan kalsium telah cukup terdapat pada callus yang
dapat dilihat pada foto sinar-X dan diraba dengan palpasi. Callus yang mengalami kalsifikasi ini
secara lambat diubah menjadi anyaman tulang longgar terbuka yang membuat ujung tulang
menjadi melekat dan mencegah pergerakan ke samping satu sama lain (King, 2001).
d. Konsolidasi
Bila aktivitas osteoklast (sel yang meresorpsi tulang) dan osteoblast (sel yang membentuk
tulang) berlanjut, tulang baru akan berubah menjadi tulang lamellar (berlapis-lapis). Sistem itu
sekarang cukup kaku untuk memungkinkan osteoklast menerobos melalui reruntuhan pada garis
fraktur dan dekat di belakangnya osteoblast mengisi celah-celah yang tersisa di antara fragmen
dengan tulang yang baru (Apley,1995).
e. Remodelling
Tulang yang fraktur telah dijembatani oleh suatu manset tulang yang padat. Selama beberapa
bulan atau bahkan beberapa tahun, pengelasan kasar ini dibentuk ulang oleh proses resorpsi dan
pembentukan tulang yang terus-menerus. Lamella yang lebih tebal diletakkan pada tempat yang
tekanannya tinggi: dinding-dinding yang tidak dikehendaki dibuang, rongga sumsum dibentuk
akhirnya tulang akan memperoleh bentuk yang mirip dengan bentuk normalnya (Appley,1995).
5. Tanda dan gejala
Menurut Appley dikatakan tanda dan gejala pasca operasi fraktur adalah : (a) oedem di sekitar
daerah fraktur, (b) rasa nyeri dikarenakan luka fraktur dan luka bekas operasi dan ada oedem di
dekat daerah fraktur, (c) keterbatasan gerak sendi lutut, (d) penurunan kekuatan otot, (e)

gangguan aktifitas fungsional tungkai, (f) bila di foto Roentgen akan terlihat garis fraktur
(Appley,1995).
6. Komplikasi
Beberapa komplikasi yang dapat timbul pasca operasi fraktur femur 1/3 distal adalah :
a) Infeksi
Infeksi terjadi karena masuknya mikroorganisme patogen ke dalam daerah fraktur dan karena
fiksasi internal yang di pasang di dalam tubuh pasien mungkin tidak steril atau karena teknik,
perlengkapan dan keadaan operasi yang buruk (Adam, 1992).
b) nekrosis avaskular
Ini adalah komplikasi dini dari cedera tulang, karena iskemia terjadi selama beberapa jam
pertama setelah fraktur (Appley,1995).
c) Deep Venous Trombosis ( DVT )
Komplikasi yang paling sering ditemukan pada cedera dan operasi. Di Indonesia insidensi yang
sebenarnya tidak diketahui. Penyebab utama Deep Venous Thrombosis pada pasien pembedahan
adalah hiperkoagulabilitas darah, terutama akibat aktivasi faktor X oleh tromboplastin yang
dilepas oleh jaringan yang rusak. Faktor-faktor sekunder yang penting, seperti imobilisasi yang
lama, kerusakan endotel dan peningkatan jumlah dan kelengketan trombosit dapat diakibatkan
oleh cedera atau operasi (Appley,1995).
7. Prognosis
Penderita fraktur femur setelah operasi pemasangan fiksasi internal dengan plate and screw bila
tanpa komplikasi dan mendapat layanan fisioterapi yang cepat, tepat dan adekuat diharapkan
kapasitas fisik dan kemampuan fungsionalnya, baik Quo ad vitam, Quo ad sanam, Quo ad
fungsionam, ataupun Quo ad cosmeticam baik.
B. Deskripsi problematika kasus
Problematika yang dapat muncul pada pasca operasi fraktur femur 1/3 distal adalah meliputi :
1. Impairment
a. Oedem di sekitar daerah fraktur
Oedem yang terjadi karena adanya luka bekas operasi, sehingga tubuh memberikan respon
radang atas kerusakan jaringan di dekat daerah fraktur.
b. Nyeri di sekitar luka operasi
Adanya luka bekas operasi serta adanya oedem di dekat daerah fraktur, menyebabkan
peningkatan tekanan pada jaringan interstitial sehingga akan menekan nociceptor, lalu
menyebabkan nyeri.
c. Keterbatasan lingkup gerak sendi
Karena oedem dan nyeri yang disebabkan oleh luka fraktur dan luka operasi menyebabkan
pasien takut untuk bergerak, sehingga lingkup gerak sendi lama-lama akan mengalami gangguan

atau penurunan.
d. Penurunan kekuatan otot
Oedem dan nyeri karena luka bekas operasi dapat menyebabkan penurunan kekuatan otot karena
pasien tidak ingin menggerakkan anggota geraknya dan dalam jangka waktu yang lama akan
menyebabkan disused atrophy.
2. Functional Limitation
Adanya oedem dan nyeri menyebabkan pasien mengalami penurunan kemampuan
fungsionalnya, seperti transfer, ambulasi, jongkok berdiri, naik turun tangga, keterbatasan
melakukan Buang Air Besar (BAB) dan Buang Air Kecil (BAK).
Hal ini disebabkan adanya rasa nyeri, oedem, dan karena penyambungan tulang oleh callus yang
belum sempurna, sehingga pasien belum mampu menumpu berat badan dan melakukan aktifitas
sehari-hari secara optimal.
3. Participation Restriction
Oleh karena nyeri, oedem dan keterbatasan fungsional, pasien tidak mampu berhubungan dengan
lingkungan sekitarnya atau bersosialisasi dengan orang lain.

C. Teknologi Intervensi Fisioterapi


Teknologi Fisioterapi yang digunakan dalam kasus ini adalah terapi latihan. Terapi latihan adalah
usaha pengobatan dalam fisioterapi yang pelaksanaannya menggunakan latihan-latihan gerakan
tubuh, baik secara aktif maupun pasif (Priatna,1985).
Pada umumnya, sebelum dan setelah pelaksanaan terapi latihan, bagian yang mengalami operasi
yaitu 1/3 distal femur pasien dalam keadaan dielevasikan sekitar 30o.
1. Static Contraction
Terjadi kontraksi otot tanpa disertai perubahan panjang otot dan tanpa gerakan pada sendi
(Kisner,1996). Latihan ini dapat meningkatkan tahanan perifer pembuluh darah, vena yang
tertekan oleh otot yang berkontraksi menyebabkan darah di dalam vena akan terdorong ke
proksimal yang dapat mengurangi oedem, dengan oedem berkurang, maka rasa nyeri juga dapat
berkurang.
2. Passive Movement
Passive movement adalah gerakan yang ditimbulkan oleh adanya kekuatan dari luar sementara
itu otot pasien lemas (Priatna,1985). Passive movement ada 2, yaitu :
a. Relaxed Passive Movement
Gerakan pasif hanya dilakukan sebatas timbul rasa nyeri. Bila pasien sudah merasa nyeri pada
batas lingkup gerak sendi tertentu, maka gerakan dihentikan (Priatna,1985).
b. Forced Passive Movement

Forced Passive Movement bertujuan untuk menambah lingkup gerak sendi. Tekniknya hampir
sama dengan relaxed passive movement, namun di sini pada akhir gerakan diberikan penekanan
sampai pasien mampu menahan rasa nyeri (Priatna,1985).
3. Active Movement
Merupakan gerakan yang dilakukan oleh otot anggota gerak tubuh pasien itu sendiri
(Kisner,1996). Pada kondisi oedem, gerakan aktif ini dapat menimbulkan pumping action yang
akan mendorong cairan bengkak mengikuti aliran darah ke proksimal. Latihan ini juga dapat
digunakan untuk tujuan mempertahankan kekuatan otot, latihan koordinasi dan mempertahankan
mobilitas sendi.
Active Movement terdiri dari :
a. Free Active Movement
Gerakan dilakukan sendiri oleh pasien, hal ini dapat meningkatkan sirkulasi darah sehingga
oedem akan berkurang, jika oedem berkurang maka nyeri juga dapat berkurang. Gerakan ini
dapat menjaga lingkup gerak sendi dan memelihara kekuatan otot.
b. Assisted Active Movement
Gerakan ini berasal dari pasien sendiri, sedangkan terapis memfasilitasi gerakan dengan alat
bantu, seperti sling, papan licin ataupun tangan terapis sendiri. Latihan ini dapat mengurangi
nyeri karena merangsang relaksasi propioseptif.
c. Ressisted Active Movement
Ressisted Active Movement merupakan gerakan yang dilakukan oleh pasien sendiri, namun ada
penahanan saat otot berkontraksi. Tahanan yang diberikan bertahap mulai dari minimal sampai
maksimal. Latihan ini dapat meningkatkan kekuatan otot.
4. Hold Relax
Hold Relax adalah teknik latihan gerak yang mengkontraksikan otot kelompok antagonis secara
isometris dan diikuti relaksasi otot tersebut. Kemudian dilakukan penguluran otot antagonis
tersebut. Teknik ini digunakan untuk meningkatkan lingkup gerak sendi ( Kisner,1996).
5. Latihan Jalan
Latihan transfer dan ambulasi penting bagi pasien agar pasien dapat kembali ke aktivitas seharihari. Latihan transfer dan ambulasi di sini yang penting untuk pasien adalah latihan jalan. Mulamula latihan jalan dilakukan dengan menggunakan dua axilla kruk secara bertahap dimulai dari
non weight bearing atau tidak menumpu berat badan sampai full weight bearing atau menumpu
berat badan. Metode jalan yang digunakan adalah swing, baik swing to ataupun swing through
dan dengan titik tumpu, baik two point gait, three point gait ataupun four point gait. Latihan ini
berguna untuk pasien agar dapat mandiri walaupun masih menggunakan alat bantu.

BAB III
RENCANA PELAKSANAAN STUDI KASUS
A. Rencana Pengkajian kasus
1. Anamnesis
Anamnesis adalah proses tanya jawab untuk mendapatkan data pasien beserta keadaan dan
keluhan-keluhan yang dialami pasien. Anamnesis dapat dibagi menjadi dua, yaitu auto
anamnesis dan hetero anamnesis. Auto anamnesis adalah bila tanya jawab dilakukan dengan
penderita sendiri. Sedangkan hetero anamnesis adalah bila tanya jawab dilakukan dengan orang
lain yang dianggap mengetahui keadaan penderita (Hudaya, 2002).
a. Anamnesis umum
Dalam anamnesis umum ini berisi identitas pasien, dari anamnesis ini bukan hanya dapat
diketahui siapa pasien, namun juga dapat diketahui bagaimana pasien tersebut dan permasalahan
pasien. Identitas pasien terdiri dari nama pasien, umur, jenis kelamin, alamat, agama dan
pekerjaan pasien.
b. Anamnesis khusus, terdiri dari :
1) Keluhan utama
Merupakan keluhan atau gejala yang mendorong atau membawa penderita mencari pertolongan.
Biasanya merupakan ada tidaknya nyeri, oedem, keterbatasan gerak sendi akibat fraktur.
2) Riwayat penyakit sekarang
a) Riwayat perjalanan penyakit
Menggambarkan riwayat penyakit secara lengkap dan jelas. Yang biasa ditanyakan adalah kapan
terjadi fraktur, mekanisme terjadinya fraktur, penanganan pertama setelah trauma, dimana letak
keluhan, faktor yang memperberat dan memperingan keluhan.
b) Riwayat pengobatan
Menggambarkan segala pengobatan yang pernah didapat sebelumnya, riwayat penanganan
fraktur yaitu sudah pernah berobat atau ditangani dimana sebelumnya, bagaimana cara
penanganannya dan bagaimana hasilnya.

3) Riwayat penyakit dahulu


Riwayat penyakit baik fisik maupun psikiatrik yang pernah diderita sebelumnya. Dapat diketahui
apakah pasien dulu pernah mondok, pernah mempunyai penyakit yang serius, trauma,
pembedahan.
4) Riwayat keluarga
Penyakit-penyakit dengan kecenderungan herediter atau penyakit menular, misalnya apakah di
dalam keluarga pasien ada yang mempunyai penyakit Diabetes Melitus, apakah mempunyai
penyakit pada tulang.
5) Riwayat pribadi
Menggambarkan hobby, olahraga, pola makan, minum alkohol, kondisi lingkungan baik di
rumah, sekolah atau tempat kerja yang mungkin ada hubungannya dengan kondisi pasien.
6) Anamnesis sistem
Anamnesis sistem ini dilakukan untuk melengkapi anamnesis atau pertanyaan-pertanyaan
sebelumnya. Anamnesis sistem ini meliputi kepala dan leher, sistem respirasi, sistem
kardiovaskuler, gastrointestinal, urogenital, muskuloskeletal dan nervorum.
2. Pemeriksaan klinik
a. Pemeriksaan fisik
1) Vital Sign
Pemeriksaan ini meliputi pengukuran tekanan darah, denyut nadi, pernapasan, suhu tubuh, tinggi
badan, berat badan. Pemeriksaan ini dapat digunakan untuk mengetahui apakah pasien menderita
hipertensi, takikardi, demam ataupun obesitas.
2) Pemeriksaan setempat di tempat operasi
a) Inspeksi
Pemeriksaan dengan cara melihat dan mengamati (Mardiman,1994). Hal-hal yang dapat diamati
dalam kasus ini adalah adanya oedem atau bengkak ataupun perubahan warna kulit pada daerah
yang dioperasi.
b) Palpasi
Pemeriksaan dengan jalan meraba, menekan dan memegang bagian tubuh pasien untuk
mengetahui tentang adanya nyeri tekan, suhu, oedem atau adanya spasme otot (Mardiman,1994).
3) Pemeriksaan gerak ditujukan pada anggota gerak yang mengalami operasi
Pemeriksaan gerak meliputi :
a) Pemeriksaan gerak aktif
Pemeriksaan gerak aktif dilakukan pada sendi lutut. Pasien secara aktif menggerakkan anggota
tubuhnya yang mengalami gangguan dengan aba-aba dari terapis. Gerakan yang dilakukan
meliputi fleksi-ekstensi sendi lutut dan abduksi-adduksi sendi panggul. Pemeriksaan ini
bertujuan untuk memperoleh informasi tentang lingkup gerak sendi aktif, rasa nyeri, koordinasi
serta kekuatan otot.
b) Pemeriksaan gerak pasif
Terapis menggerakkan anggota tubuh pasien yang mengalami gangguan. Pemeriksaan gerak
pasif ini dilakukan pada sendi lutut dan sendi panggul. Gerakan meliputi fleksi-ekstensi sendi
lutut dan abduksi-adduksi sendi panggul. Dari pemeriksaan gerak pasif ini didapatkan informasi
tentang lingkup gerak sendi pasif, rasa nyeri, dan stabilitas sendi.
c) Pemeriksaan gerak isometrik melawan tahanan
Pasien menggerakkan tungkainya secara aktif sementara terapis memberi tahanan. Pasien

berusaha menggerakkan tungkainya baik fleksi-ekstensi sendi lutut dan abduksi-adduksi sendi
panggul, namun tidak ada gerakan dalam sendi. Pemeriksaan gerak isometrik ini ditujukan untuk
mengetahui kekuatan otot dan adanya rasa nyeri.
b. Pemeriksaan spesifik
1) Pemeriksaan nyeri
Pemeriksaan nyeri bertujuan untuk memeriksa derajat nyeri yang dirasakan oleh pasien saat itu.
Sebelum mengukur derajat nyeri, terapis mengajarkan kepada pasien tentang skala nyeri Verbal
Descriptive Scale (VDS) itu sendiri. Bahasa yang digunakan terapis adalah bahasa yang
sederhana, sehingga pasien memahami maksud dari pengukuran tersebut. Pemeriksaan dengan
verbal descriptive scale (VDS) dilakukan dengan tiga pemeriksaan yaitu pemeriksaan nyeri saat
diam, tekan dan saat digerakkan.
Pemeriksaan ini dengan menggunakan VDS, yaitu derajat nyeri dengan tujuh skala penilaian :
TABEL 3.1
Kriteria Verbal Descriptive Scale (VDS)
Skala Keterangan
1
2
3
4
5
6
7 Tidak nyeri
Nyeri sangat ringan
Nyeri ringan
Nyeri tidak begitu berat
Nyeri cukup berat
Nyeri berat
Nyeri hampir tak tertahankan
(Pudjiastuti,2003)
2) Pemeriksaan antropometri
Pemeriksaan untuk mengetahui lingkar segmen tungkai atas dan tungkai bawah bilateral.
Pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan pita ukur. Titik patokan adalah Tuberositas
tibia. Kemudian terapis mengukur mulai dari Tuberositas Tibia ke atas mulai 10 cm untuk
mengukur circumferentia atau lingkar segmen tungkai atas dan Tuberositas ke bawah mulai 10
cm untuk mengukur circumferentia tungkai bawah. Pemeriksaan ini salah satunya digunakan
untuk mengetahui apakah ada oedem atau tidak. Hasil dari pengukuran kemudian dibandingkan
antara sisi yang sehat dan sisi yang sakit karena oedem dapat terjadi pada sisi yang sakit
diakibatkan adanya luka fraktur dan luka bekas operasi.
3) Pemeriksaan lingkup gerak sendi
Pemeriksaan ini untuk mengetahui derajat keterbatasan gerak pasien. Pemeriksaan lingkup gerak
sendi ini dengan menggunakan goniometer, dimana as goniometer diletakkan di condylus lateral
femur untuk gerakan fleksi-ekstensi lutut. Tangkai statik diletakkan sejajar tulang femur dan
tangkai dinamis diletakkan sejajar tulang fibula. Posisi pasien berbaring terlentang. Lingkup
gerak sendi yang normal untuk fleksi dan ekstensi lutut adalah (S) 0o-0o-130o, bila ekstensi 5o10o dikatakan hiperekstensi, namun masih dalam batas normal (Norkin,1995). Untuk gerakan

abduksi-adduksi sendi panggul, as goniometer diletakkan di Spina Iliaca Superior Inferior


(SIAS). Tangkai statik diletakkan menuju arah Spina Iliaca Superior Inferior (SIAS) yang
berlawanan dan tangkai dinamis diletakkan sejajar tulang femur. Posisi pasien berbaring
terlentang. Lingkup gerak sendi yang normal untuk abduksi-adduksi sendi panggul adalah (S)
45o-0o-25o (Russe,1975).
TABEL 3.2
Lingkup Gerak Sendi normal
Sendi panggul
(Abduksi) Sendi panggul
(Adduksi) Sendi lutut
(Fleksi) Sendi lutut
(Ekstensi)
45o 25o 130o 0o
4) Pemeriksaan kekuatan otot
Pemeriksaan kekuatan otot ini dengan menggunakan Manual Muscle Testing (MMT),
pemeriksaan ini dengan menggunakan tahanan manual dari terapis. Pemeriksaan kekuatan otot
dilakukan pada sisi yang sakit. Kelompok otot yang akan dinilai kekuatan ototnya adalah
kelompok fleksor dan ekstensor lutut. Dalam pemeriksaan ini harus diperhatikan : (a) posisi
pasien, (b) stabilisasi, (c) besarnya tahanan dari terapis, karena pemeriksaan kekuatan otot
dengan manual muscle testing bersifat subjektif sehingga hasilnya kurang valid.
TABEL 3.3
Kriteria Hasil MMT
Kriteria Tes MMT Keterangan
0 (zero) Tidak ada kontraksi otot
1 (trace) Ada kontraksi otot tetapi tidak terjadi gerakan
2 (poor) Mampu bergerak penuh tanpa melawan gravitasi
3 (fair) Mampu bergerak penuh melawan gravitasi
4 (good) Mampu bergerak penuh melawan gravitasi dengan tahanan moderat
5 (normal) Mampu bergerak penuh melawan gravitasi dengan tahanan maksimal
5) Pemeriksaan aktivitas fungsional
Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan pasien dalam beraktivitas terutama
kemampuan jalannya. Pemeriksaan dilakukan dengan mengamati kemampuan pasien dalam
berjalan dengan menggunakan alat bantu yaitu axilla kruk serta jarak tempuh yang dapat dicapai
pasien.
3. Diagnosis fisioterapi
Pada kasus pasca operasi fraktur femur 1/3 distal dapat ditemukan masalah-masalah yaitu berupa
impairment, functional limitation dan participation restriction. Impairment berupa oedem, nyeri,
keterbatasan gerak dan penurunan kekuatan otot. Functional limitation berupa penurunan
kemampuan fungsionalnya seperti penurunan kemampuan berjalan. Participation restriction
berupa ketidakmampuan pasien dalam aktivitas yang berhubungan dengan lingkungan sekitar.

B. Tujuan Fisioterapi
Berdasarkan problematik dan diagnosis fisioterapi di atas, tujuan fisioterapi adalah mengurangi
oedem, mengurangi nyeri, meningkatkan lingkup gerak sendi, meningkatkan kekuatan otot dan
mengembalikan kemampuan transfer dan ambulasi yaitu kemampuan jalannya, sehingga pasien
dapat kembali melakukan aktivitas sehari-hari secara optimal.

C. Rencana Pelaksanaan Terapi


Sebelum dan setelah pelaksanaan terapi latihan, pasien dalam posisi mengelevasikan tungkai atas
yang sakit dengan diganjal bantal pada tungkai bawah sisi yang sakit sehingga membentuk sudut
30o.
Adapun pelaksanaan terapi latihan berturut-turut :
1. Static Contraction
Latihan ini dilakukan segera setelah pasien berada di bangsal atau hari pertama setelah operasi.
Posisi pasien berbaring terlentang, ditujukan untuk otot quadriceps femoris. Tangan terapis
berada di bawah fossa poplitea sisi yang sakit, lalu pasien diminta menekan tangan terapis
selama 6 kali hitungan. Latihan ini dilakukan sekali sehari dengan pengulangan 10-12 kali dan
dilakukan setiap hari. Latihan ini diharapkan dapat mengurangi oedem dan nyeri.
2. Passive Movement
a. Relaxed Passive Movement
Posisi pasien berbaring terlentang, terapis berada di sebelah lateral tungkai pasien yang sakit dan
menghadap ke sisi kranial pasien. Terapis menggerakkan tungkai ke arah fleksi lutut secara
perlahan sampai batas timbul rasa nyeri, kemudian dikembalikan lagi ke arah ekstensi lutut.
Gerakan lain yang dapat dilakukan adalah abduksi-adduksi sendi panggul, dorsal-plantar fleksi
serta inversi-eversi sendi pergelangan kaki. Gerakan ini dilakukan sekali sehari dengan 10-12
kali pengulangan dan dilakukan setiap hari.
b. Forced Passive Movement
Posisi pasien berbaring terlentang, terapis berada di sebelah lateral tungkai pasien yang sakit dan
menghadap ke sisi kranial pasien. Gerakan sama seperti relaxed passive movement, namun
diakhir gerakan diberi penekanan sampai pasien mampu menahan rasa nyeri. Gerakan ini
dilakukan sekali sehari dengan 10-12 kali pengulangan dan dilakukan setiap hari.
3. Active Movement
a. Free Active Movement
Gerakan ini diberikan untuk tungkai yang sakit. Posisi pasien berbaring terlentang, posisi terapis
berada di sebelah lateral tungkai pasien yang sakit dan menghadap ke sisi kranial pasien. Tangan

terapis yang satu memfiksasi di proksimal lutut dan yang lain di distal tungkai bawah. Pasien
menggerakkan sendiri anggota gerak yang sakit. Gerakan yang dilakukan adalah fleksi-ekstensi
sendi lutut, abduksi-adduksi sendi panggul dan dorsal-plantar serta inversi-eversi sendi
pergelangan kaki. Gerakan dilakukan 1 kali dalam sehari dengan 10-12 kali pengulangan dan
dilakukan setiap hari.
b. Assisted Active Movement
Gerakan ini dapat dilakukan pada hari pertama setelah operasi. Posisi pasien berbaring
terlentang, dengan satu tangan terapis menyangga di bawah proksimal lutut dan tangan yang lain
berada pada distal tungkai bawah pasien. Gerakan yang dilakukan adalah fleksi-ekstensi lutut,
abduksi-adduksi sendi panggul dan dorsal-plantar fleksi serta inversi-eversi sendi pergelangan
kaki. Gerakan dilakukan 1 kali dalam sehari dengan 10-12 kali pengulangan dan dilakukan setiap
hari.
c. Ressisted Active Movement
Gerakan ini dapat dilakukan sekalipun pada hari pertama setelah operasi. Gerakan berupa fleksiekstensi lutut, abduksi-adduksi sendi panggul, dorsal-plantar fleksi serta inversi-eversi sendi
pergelangan kaki. Terapis memberikan penahanan untuk setiap gerakan yang dilakukan. Tahanan
yang diberikan bertahap dari mulai minimal sampai maksimal dan penahanan yang dilakukan
sampai pasien mampu menahan rasa nyeri. Tahanan yang diberikan terapis berlawanan dari arah
gerakan yang dilakukan pasien. Gerakan dilakukan 1 kali dalam sehari dengan 10-12 kali
pengulangan dan dilakukan setiap hari.
4. Hold Relax
Posisi pasien berbaring terlentang, lalu pasien diminta untuk menggerakkan ke arah fleksi lutut
sampai batas timbul rasa nyeri, terapis memberikan penahanan ke arah ekstensi lutut. Pasien
diminta untuk mempertahankan agar tidak terjadi gerakan pada sendi. Setelah itu pasien rileks
dan terapis menggerakkan ke arah fleksi lutut untuk penguluran otot-otot ekstensor.
5. Latihan Jalan
Latihan berjalan dilakukan pada hari kedua namun juga harus melihat kondisi pasien. Sebelum
dilakukan latihan berjalan, pasien duduk ongkang-ongkang di tepi bed. Tungkai yang sehat
diturunkan dari bed terlebih dahulu, tungkai yang sakit diturunkan dengan bantuan dari terapis.
Terapis menyangga dengan cara meletakkan satu tangan di bawah bagian distal tungkai atas dan
yang lainnya di distal tungkai bawah. Setelah itu pasien diberdirikan dengan menggunakan dua
axilla kruk, kemudian latihan berjalan di mulai non weight bearing dengan metode three point
gait dan swing to.
D. Rencana Evaluasi Hasil Terapi
Rencana evaluasi yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan efek
samping yang mungkin timbul dari program terapi yang diberikan. Rencana evaluasi pada kasus
pasca operasi fraktur femur 1/3 distal yaitu pada tempat bekas operasi adalah : (1) oedema
dengan antropometri yaitu menggunakan pita ukur, (2) nyeri dengan menggunakan Verbal
Descriptive Scale (VDS), (3) lingkup gerak sendi dengan menggunakan goniometer, (4) nilai
kekuatan otot dengan manual muscle testing (MMT), (5) kemampuan aktifitas fungsional dengan

mengamati kemampuan transfer ambulasi pasien yaitu kemampuan berjalan serta melihat
perkembangan jarak tempuh yang dapat dicapai pasien saat berjalan.