Anda di halaman 1dari 13

REKAYASA SOSIAL

Oleh:
Karim Lahaya
KAMMI Daerah Kota Ternate

KESATUAN AKSI MAHASISWA MUSLIM INDONESIA


2011

ABSTRAKSI

Krisis Muldimensional yang menimpa umat tidak bisa dibiarkan berlangsung, harus ada langkahlangkah praktis agar harga diri umat dan bangsa kembali mulia. Allah berfirman: Dan
hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh
(berbuat) yang maruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang
beruntung. (Ali-imran: 104).
Bahwa kebijakan gerakan harus disertai dengan kesadaran adanya perubahan. Orang-orang
mengatakan semuanya berubah kecuali perubahan itu sendiri. Tapi di zaman sekarang ini,
semuanya berubah termasuk perubahan itu sendiri. Dalam kondisi seperti itu gerakan
mahasiswa harus menyadari perubahan global yang terjadi. Di titik perubahan seperti ini,
gerakan mahasiswa kerap menyusun strategi gerakannya yang reaktif. Padahal bagaimanapun
juga, hukum mengubah masyarakat selalu berawal dari mengubah individu terlebih dahulu. AlQuran secara lebih detail menyebut maa bi anfusihim, sesuatu yang ada di dalam diri individu
manusia yaitu akal dan hatinya. Jika dua hal itu dapat berubah, maka Allah pun akan mengubah
konsiai masyarakat tersebut.
Terus bergerak untuk menyadarkan umat dan senantiasa menciptakan perbaikan dengan
seluruh makna yang terkandung di dalamnya, adalah jati diri KAMMI yang sesungguhnya.
Keyakinan terhadap kebenaran hanya bisa dibuktikan oleh perjuangan yang tidak terhenti
untuk merealisasikannya. KAMMI adalah ruh baru di tubuh umat yang dilahirkan sebagai fajar
kebangkitan umat. KAMMI seharusnya merupakan anugerah Allah bagi Indonesia. Dan hanya
kepada Allah semata kami berserah diri dan memohon pertolongan-Nya.

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmairrahim
Subhanallah Walhamdulillah Walaailaahaillallahu Akbar

Segala puji hanya milik Allah, Rabb Yang Maha Cerdas yang menggengaam hati, akal dan jasad
semua manusia. Karena atas Rahmat dan karunia-Nya penulis bisa menyelesaikan makalah yang
berjudul Rekayasa Sosial. Sholawat dan salam semoga tetap tercurah kepada manusia paling
mulia Rasulullah SAW yang telah memberikan teladan bagaimana memimpin ummat dengan
cerdas, kasih sayang dan penuh tanggungjawab beserta keluarga, sahabat dan semua
pengikutnya.

Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada KAMMI Daerah Cirebon
dan panitia DM2 yang telah memberikan sarana bagi penulis untuk melatih wawasan dan
kemampuan penulis dalam penulisan makalah. Tidak lupa juga kepada semua pihak atas
bantuan yang telah diberikan. Semoga segala yang tersampaikan pada makalah ini dapat
bermanfaat bagi semua pihak.

Harapannya makalah ini lebih bermanfaat jikalau tidak hanya dibaca, namun dapat kita kritisi
bersama, agar mampu mengambil benang merah dari akar permasalahan yang dibahas.

North Moluccas, 6 Februari 2011


Dini Hari

Penulis

I. PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang

Sejak runtuhnya Khilafah Utsmaniyah pada tahun 1924 yang merupakan perencanaan busuk
dunia barat saat itu maka berakhir sudah peradaban yang dipegang oleh Islam selama 350 tahun
yang didalamnya terdapat kedamaian. Ini merupakan momentum besar bagi dunia barat untuk
menanamkan ide-idenya disetiap penghuni bumi.

Dunia barat dan pemikirannya kini semakin subur bercokol menebarkan benih-benih pemikiran
dan nilai di negara-negara dunia ketiga. Meskipun kolonialisme dan imperialisme tidak lagi
nampak secara fisik, namun perang pemikiran yang digulirkan oleh Barat telah berdampak
sedemikian hebat. Melalui penguasaan di berbagai media informasi, kebudayaan, dan
pendidikan, Barat menggencarkan serangan globalisasi dan modernisasi yang semakin merusak
umat.

Masih banyak masyarakat dunia, bahkan umat Islam sendiri yang masih menganggap peradaban
Barat sebagai peradaban dunia. Nilai-nilai dan pemikiran Barat dijadikan sebagai standar
perilaku dan gaya hidup yang selalu terkesan modern.

Barat secara tidak objektif senantiasa mendiskreditkan Islam sebagai agama 'teroris' yang kolot
dan tidak dinamis. Penguasaan barat atas beberapa aspek material yang penting, seperti
perekonomian, keamanan, dan pendidikan ditambah dengan terpojoknya Islam atas segala
strategi Barat, membuat Islam harus kembali diperjuangkan sebagai peradaban dunia, dan harus
segera dilepaskan dari cengkeraman Barat yang kini telah menghegemoni di dunia. Harus ada
strategi dan langkah nyata sebagai upaya mengembalikan kejayaan Islam sebagai peradaban
dunia.

B.

Tujuan

Makalah ini bertujuan mempelajari makna, sebab-musabab perubahan sosial, strategi perubahan
sosial, bentuk perubahan sosial danperubahan/rekayasa sosial yang kehendaki.

II. RUMUSAN MASALAH

Dari latar belakang yang ada, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan, antara lain:
1.

Apakah makna dari rekayasa sosial

2.

Apa sebab-musabab perubahan sosial itu harus terjadi?

3.

Bagaimanakah bentuk perubahan sosial?

4.

Strategi apa yang harus dipakai dalam perubahan sosial?

5.

Perubahan / rekayasa Sosial seperti apa yang dikehendaki?

III.

A.

PEMBAHASAN

Pengertian Rekayasa Sosial

Rekaya sosial merupakan campur tangan atau seni memanipulasi sebuah gerakan ilmiah dari visi
ideal tertentu yang ditujukan untuk mempengaruhi perubahan sosial, bisa berupa kebaikan
maupun keburukan dan juga bisa berupa kejujuran, bisa pula berupa kebohongan.

Perubahan sosial yang dilakukan karena munculnya problem-problem sosial sebagai adanya
perbedaan antara das sollen (yang seharusnya) dengan das sein (yang nyata). Tindakan kolektif
untuk memecahkan masalah sosial (collective action to solve social problems). Biasanya ditandai
dengan perubahan bentuk dan fungsionalisasi kelompok, lembaga atau tatanan sosial yang
penting.

Dibanding dengan perencanaan sosial (social planning), ia lebih luas atau lebih pragmatis, sebab
sebuah rekayasa selalu mengandung perencanaan, tetapi tidak semua perencanaan
diimplementasikan hingga terimplementasikan di alam nyata. Begitu pula jika dibandingkan
dengan manajemen perubahan (change management), ia memiliki makna lebih pasti, sebab jika
obyek dari manajemen dapat ditafsirkan sebagai perubahan dalam arti luas, sedangkan obyek
dari rekayasa sosial sudah jelas, yakni perubahan sosial menuju suatu tatanan dan sistem baru
sesuai dengan apa yang dikehendaki sang perekayasa.

Selain pengertian di atas, rekayasa sosial juga dapat diartikan sebagai sebuah proses
perencanaan, pemetaan dan pelaksanaan dalam konteks perubahan struktur dan kultur sebuah
basis sosial masyarakat.

B.

Sebab-Musabab Perubahan Sosial

Ideas; pandangan hidup (way of life), pandangan dunia (world view) dan nilai-nilai (values),
seperti yang Max Weber ungkapkan bahwa betapa berpengaruhnya ide terhadap suatu
masyrakat.

Great individuals (tokoh-tokoh besar); perubahan sosial terjadi karena munculnya seorang
tokoh atau pahlawan yang dapat menarik simpati dari para pengikutnya yang setia, kemudian
bersama-sama dengan simpatisan itu, sanga pahlawan melancarkan gerakan untuk mengubah
masyarakat (great individuals as historical forces).

Social Movement (gerakan sosial); sebuah gerakan sosial yang dipelopori oleh sebuah
komunitas atau institusi semacam LSM/NGO, Ormas, OKP dan sebagainya.

Sumber-sumber perubahan juga bisa disebabkan oleh; (1) Kemiskinan (poverty) sebagai problem
yang melibatkan banyak orang, (2) Kejahatan (crimes) yang biasanya berjenjang dari blue collar
crimes sampai white collar crimes, dan (3) Pertikaian atau konflik (conflict), konflik sosial bisa
bersifat etnis, rasial, sektarian, ideologis, dan sebagainya.

C.

Bentuk dan Teori Perubahan Sosial

Terdapat tiga bentuk perubahan yang disepakati kalangan ilmuwan sosial: evolusi, revolusi dan
reformasi. Evolusi dipahami sebagai bentuk perubahan yang memakan waktu lama. Proses
perubahan seperti ini cenderung hanya melingkar di tingkat elite saja dan sedikit sekali
mengakomodasikan inputdari grass root yang muncul ke permukaan sebagai reaksi atas berbagai
kebijakan elit penguasa. Konsekuensi logis dari perubahan model ini akan menempatkan rezim
penguasa pada keleluasaan menentukan agenda-agenda perubahan yang ada berdasar aman atau
tidak bagi kekuasaannya.

Perubahan model ini, biasanya kurang populer di Dunia Ketiga (the Third World), yang
mayoritas adalah berpenduduk muslim, karena perubahan politiknya secara umum masih cukup
eksplosif. Tidak perlu tokoh yang kharismatik atau terkenal untuk evolusi, karena semua
ditentukan dalam kendali penguasa. Elite penguasa serta pihak-pihak tertentu saja yang bisa
terlibat dalam perumusan persoalan yang ada dan itu bias kepentingan. Figur-figur di luar
lingkaran kekuasaan hanya memberikan respons minimal sebatas masukan atau paling
maksimal, pressure (tekanan), itupun jika ada kebebasan.

Bentuk kedua adalah revolusi. Perubahan secara cepat ini cukup populer di kalangan gerakan
sosial atau aktivis pembebasan. Dalam prosesnya, cara ini cukup beresiko. Bisa jadi dalam
prosesnya yang singkat tersebut meminta banyak korban sebagai prasyarat dari proses yang
memang cukup reaktif dan terkesan sporadis dari sisi waktu maupun agenda-agenda yang
dilakukan. Hasil dari cara ini dapat dilihat dengan cepat, karena secara umum bertujuan pada
perubahan politik, khususnya perubahan tampuk kekuasaan.

Revolusi Islam sebagai metode perubahan adalah sebuah tawaran yang telah pernah
diaplikasikan dalam lapangan kenegaraan di Iran di bawah kepemimpinan Ayatullah Khomeini
(1977), Mesir oleh Ikhwanul Muslimin bersama Nasser (1952) dan beberapa negara Arab
lainnya, baik memenuhi standar teori Barat maupun tidak.

Sedangkan reformasi didefinisikan sebagai sebuah bentuk perubahan yang gradual dan
parsial. Tidak terlalu cepat, namun juga tidak lambat.Reformasi merupakan bentuk kompromi
antara evolusi dan revolusi. Reformasi atau pembaharuan (perubahan yang signifikan atas hal
yang dianggap menyimpang), telah berlangsung di berbagai belahan dunia sejak
zamanRenaissance abad ke-15 Masehi. Berawal di Jerman dengan pemikiran Martin Luther

King, yang menggugat penyimpangan ajaran Kristiani, berlanjut pada pemikiran Thomas Hobbes
tentang State of Nature-nya di Inggris, John Locke, Rousseau hingga pemikiran demokrasi
modern-nya Robert A Dahl, berintikan pentingnya moralitas pemimpin untuk menjalankan
demokrasi. Demokrasi tidak saja berarti kekuasaan ditangan rakyat, namun juga desakralisasi
pemimpin yang dibatasi aturan konstitusi dan diawasi oleh lembaga lain dimana rakyat memiliki
hak atas mandat pemimpinnya.
Gerakan reformasi acapkali terjadi, manakala seorang pemimpin berlaku korup dan manipulatif,
sehingga diperlukan langkah-langkah politik yang berarti dari rakyat untuk melakukan
perbaikan. Atau, bila rakyat merasakan adanya kekurangan dalam sistem konstitusi yang tidak
berpihak pada kepentingan rakyat. Dengan kedua alasan inilah, apa yang terjadi di Korea Selatan
denganUp-rising in Kwangju tahun 1986, di Cina dengan tragedi Tiananmen 1989, dan
penggulingan Soeharto di Indonesia tahun 1998, merupakan gerakan reformasi yang berdampak
pada penyelenggaraan negara.
D.

Strategi-Strategi Perubahan Sosial


Strategi Normative-Reeducative (normatif-reedukatif); Normativemerupakan kata sifat
dari norm yang berarti aturan yang berlaku di masyarakat (norma sosial),
sementara reeducation dimaknai sebagai pendidikan ulang untuk menanamkan dan mengganti
paradigma berpikir masyarakat yang lama dengan yang baru. Sifat strategi perubahannya
perlahan dan bertahap.
Cara atau taktik yang digunakan adalah mendidik, yakni bukan saja mengubah perilaku
yang tampak melainkan juga mengubah keyakinan dan nilai sasaran perubahan.
Persuasive Strategy (strategi persuasif); Strategi ini dijalankan melalui pembentukan
opini dan pandangan masyarakat, biasanya menggunakan media massa dan propaganda.
Cara atau taktik yang digunakan adalah membujuk, yakni berusaha menimbulkan
perubahan perilaku yang dikehendaki para sasaran perubahan dengan mengidentifikasikan objek
sosial pada kepercayaan atau nilai agen perubahan. Bahasa merupakan media utamanya.
Efektifitas teori persuasi sangat bergantung pada media yang dipergunakan. Media itu
dibagi dua; (1) media pengaruh (media komunikasi yang digunakan pelaku perubahan untuk
mencegah sasaran perubahan), dan (2)media respon (media yang digunakan oleh sasaran
perubahan dalam menggulingkan tanggapan mereka), keduanya dapat menggunakan media
massa atau saluran-saluran interpersonal.
Peoples power (revolusi); Merupakan bagian dari power strategy(strategi perubahan
sosial dengan kekuasaan), revolusi ini merupakan puncak dari semua bentuk perubahan sosial,
karena ia menyentuh segenap sudut dan dimensi sosial secara radikal, massal, cepat, dan
mengundang gejolak intelektual dan emosional dari semua orang yang terlibat di dalamnya.
Cara atau taktik yang digunakan berbentuk paksaan (memaksa) dengan kekuasaan, yakni upaya
menimbulkan kepasrahan behavoral atau kerjasama pada sasaran perubahan melalui penggunaan
sanksi yang dikendalikan agen.

Strategi Perubahan Sosial Islam; cepat atau lambat bukan sebuah soal dalam cara pandang
Islam. Dengan meletakkan ridha Allah sebagai tujuan hidup manusia (mardhtillah), Islam telah
dilengkapi dengan standar moral yang tertinggi. Ini membuka cakrawala yang tak terbatas bagi

perkembangan moral dan etik manusia dalam komunitas kolektifnya. Secara garis besar, tahapan
perubahan sosial masyarakat Islam adalah sebagai berikut:
1.
mewujudkan pribadi muslim yang diridhai Allah (bina al-fardli al-muslim), yaitu pribadi
muslim yang paripurna, yang penuh moralitas iman, Islam, taqwa dan ihsan. [al-Baqarah: 177]
2.
mewujudkan rumah tangga dan keluarga Islami (bina al-usrah al-islamiyah) yang diridhai
Allah, yaitu rumah tangga yang sakinah diliputimawaddah serta rahmah anugerah ilahi. [arRuum: 21]
3.
mewujudkan
masyarakat
dan
lingkungan
islami (bina
al-ijtimai
alislamiyyah) yang marhamah, yaitu lingkungan yang kondusif dan layak menerima berkah Allah
karena warganya yang beriman dan bertaqwa. [al-Araf: 96]
4.
mewujudkan
negara (bina
daulat
al-islamiyyah) yang
yaitubaldat yang thayyibah dan diliputi maghfirah Allah. [Saba: 15]

diridhai

Allah

5.
mewujudkan peradaban dunia yang diridhai Allah dengan kepemimpinan Islam atas
alam (ustadziyat al-alam), yaitu dunia yang hasanah dan berkesinambungan dengan akhirat
yang hasanah. [al-Baqarah: 201].

E. Konsep Kejayaan dan Aktor dibalik Kejayaan serta Proses yang dilalui untuk
Membangun
Kembali Islam

Konsep kejayaan harus dibangun secara integral, baik dari aspek internal maupun
eksternal. Secara internal dan dari perspektif umat Islam, konsep kejayaan tidaklah jauh berbeda
dengan konsep kebangkitan umat. Yusuf Qardhawi (2003) mengungkapkan sepuluh langkah
menuju kematangan kebangkitan Islam, yaitu :
1.

Dari format dan simbol menuju hakikat dan substansi

2.

Dari retorika dan perdebatan menuju penerapan dan aksi

3.

Dari sikap sentimentil dan emosional menuju sikap rasional dan ilmiah

4.

Dari orientasi masalah cabang dan sekunder menuju masalah pokok dan primer

5.

Dari menyulitkan dan ancaman menuju kemudahan dan kabar gembira

6.

Dari kejumudan dan taklid menuju ijtihad dan pembaharuan

7.

Dari fanatisme dan eksklusifisme menuju toleransi dan inklusifisme

8.

Dari sikap berlebihan dan meremehkan menuju moderatisme

9.

Dari kekerasan dan kebencian menuju kelemahlembutan dan rahmat

10. Dari ikhtilaf dan perpecahan menuju persatuan dan solidaritas


Sedangkan untuk menjawab tantangan umat dari segi eksternal, terdapat beberapa langkah, yaitu
:
1.

Membebaskan diri dari depedensi Barat dan westernisasi

Bencana paling nyata akibat westernisasi adalah adanya generasi yang mengalami proses
pembaratan, yang kehilangan jati diri, legitimasi, dan loyalitas sebagai bangsa Timur yang sejak
lama dimiliki. Westernisasi yang bertujuan untuk melakukan sekulerisasi negara dan masyarakat

harus mendapatkan perlawanan penuh dari umat Islam, dengan cara bangkit dan aktif berjuang
mengembalikan jati diri masyarakat muslim sekaligus menggagalkan propaganda Barat.
2.

Penguasaan media

Pentingnya media sebagai pembentuk opini publik membuat sarana ini harus dikuasai oleh umat
Islam, untuk membuktikan fakta-fakta dan kebenaran informasi tentang Islam. Sehingga, umat
Islam tidak lagi terpojok oleh berita negatif yang sering diekspos media Barat selama ini.
3.

Revitalisasi dan pembaharuan

Munculnya gerakan revitalisasi atau pembaharuan merupakan titik cerah yang memunculkan
babak baru bagi kehidupan Islami, yaitu keyakinan bahwa Islam akan kembali memegang
kendali kehidupan dan menggelisahkan kekuatan musuh. Suatu arus gerakan yang kemudian
dinamakan "Kebangkitan Islam".
Revitalisasi akan berkorelasi positif dengan teori perubahan. Menurut Chinet al., (1989), terdapat
beberapa strategi perubahan, yaitu strategi empiris-nasional, strategi pengubahan normatifreedukatif, pendekatan kekuasaan-paksaan. Strategi empiris-nasional meliputi reset dasar
penyebaran pengetahuan melalui pendidikan umum, seleksi dan pergantian personal dalam
sistem, analisis sistem, penerapan sistem, serta reorganisasi perseptual dan konseptual.
4.

Menghadapi Normalisasi dan Destruksi Barat

Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam upaya menghadapi normalisasi dan destruksi Barat
(Qardhawi, 2001) antara lain:
a.

Budaya perlawanan, bukan eksklusivitas

Perlawanan budaya yang dilakukan tidak hanya dengan cara konservatif dan ekslusif dengan cara
menarik diri dan tenggelam dalam konflik golongan. Namur harus mulai dilakukan dengan caracara riil dan aplikatif.
b.

Budaya persatuan yang variatif

Yaitu budaya yang berusaha mengembangkan unsur-unsur persatuan yang ada dan menguatkan
tali perekat dalam masyarakat, karena adanya pluralitas dalam kebudayaan.
c.

Budaya interaksi dan kebersamaan, bukan percerai-beraian

d.

Mengokohkan budaya umat

5.

Unifikasi

Seluruh kekuatan umat Islam harus disatukan dalam kerangka unifikasi, rekonsiliasi, dan
penyatuan barisan, agar terjalin ikatan akidah yang begitu kuat. Salah satu unifikasi yang harus
dilakukan adalah unifikasi kekuatan umat Islam.

Konsep-konsep tersebut tidak akan berguna jika tidak ada aplikasi nyata dari aktor kebangkitan,
yaitu umat Islam secara umum dan pemuda Islam secara khusus. Perlu disiapkan generasi
Rabbaniyyin dari kaum muda, yang nantinya akan menempati posisi strategis, menjadi
pemimpin dan penentu kebijakan umat.

Proses yang dilalui oleh aktor perubahan adalah sesuai dengan proses menuju kemenangan
Islam. Dimulai dari pengenalan dan dakwah Islam, pembentukan aktor-aktor perubahan yang
siap mengemban amanah, kemudian amal produktif. Proses yang dilalui akan mengikuti sunnah

gradual, sehingga memerlukan kesabaran tingkat tinggi untuk melakukan setiap tahapan (Ash
Shalabi, 2006).

Hal yang sama diungkapkan oleh Hasan Al Banna (Al Ghazali, 2001) tentang langkah-langkah
tahapan dakwah menuju kebangkitan Islam, yaitu:
1.

Tahap propaganda dan pengenalan

2.

Tahap penyiapan dan pembinaan

3.

Tahap kerja dan pelaksanaan

4.

Tahapan negara

5.

Tahapan penyiapan khilafah

6.

Tahapan peneguhan eksistensi negara atau khilafah

7.

Tahapan kepemimpinan dan perwujudan keteladanan.

F.

Grand Design Besar Kammi untuk Indonesia

Mewujudkan masyarakat Islami bagi Indonesia, itulah grand design KAMMI untuk
Indonesia. Tentunya dalam mewujudkan cita-cita besar tersebut dibutuhkan sistematika ideologi
yang mengerakkannya secara teratur. Sistematika Ideologi ini adalah alat bantu untuk
membumikan cita-cita besar pada tataran strategis operasional. Dalam konteks gerakan, KAMMI
telah memiliki ideologi sekaligus prinsip yang menjiwai gerakan di seluruh aktivitas dan
kegiatannya. Dari ideologi dan prinsip gerakan itulah KAMMI meletakkan seluruh aktivitasnya
secara teratur dan terencana.

Masyarakat terus bergerak dan zaman global pun terus bergulir mencari jati dirinya. Oleh karena
itu KAMMI harus mampu menemukan jati dirinya dan semangat zamannya. Agar ia tidak
terlindas namun menjadi pengendali atas pergerakan dunianya. Roda waktu terus berputar,
seiring dengan itu maka dunia pun terus berubah. Barang siapa yang mampu menggiring dan
mensetting zaman dengan lincah dan tetap berada pada garis idealismenya, maka dialah yang
berhasil memimpin dunia dan menjadi pengendali atasnya. Perubahan adalah suatu hal mutlak,
Tak ada sesuatu yang tak berubah didunia ini kecuali perubahan itu sendiri ungkap John
naisbitt dalam bukunya yang berjudul mind set!. Jangan berjalan terlalu lamban sehingga
orang-orang lelah menunggumu dan akhirnya tak menghiraukanmu, jangan juga berjalan terlalu
cepat hingga akhirnya kau jauh meninggalkan barisan dan orang-orang tak ada yang
mengenalimu Beranjak dari salah satu pola fikir inilah maka harus ada proses adaptasi gerakan
yang harus dilakukan oleh setiap gerakan melalui proses menganalisis kebutuhan zaman secara
konprehensif agar mampu tetap eksis.

Teori perubahan ini juga berlaku pada KAMMI, diusianya yang hampir menginjak angka 10
semenjak tanggal 29 Maret 1998, KAMMI dituntut untuk menjadi pemain yang cerdas
memainkan peran-peran subtantif sebagai organ gerakan dengan tetap berada pada garis sakral
visi-misi KAMMI sesuai dengan tuntutan zaman, sekaligus cermat mengatur strategi dan
mensetting gerakan yang akan dilakukan dimasa depan dalam menghadapi dinamika dunia yang
sedemikian kompleks dan cepat berubah. KAMMI dituntut untuk mampu mengidentifikasi
kebutuhan dan keinginan dari elemen terbesar negri ini, rakyat.

Memandang persoalan Indonesia pada saat ini seakan menyeret kita pada zaman nubuah, ketika
Muhammad dihadirkan ke muka bumi untuk memperbaiki system kehidupan dan moral umat
Islam yang telah lama terlena dalam kejahiliahan. Muhammad adalah pelopor yang mampu
mendialogkan pesan-pesan langit pada bumi dan menjadikannya formula perbaikan
umat. Namun perlu diingat, perubahan yang diciptakan Muhammad bukanlah perubahan yang
serta-merta menjadikannya sebagai pemimpin besar dari negara Madinah. Sebelum sampai pada
masa kejayaannya Muhammad beserta para sahabatnya harus melalui fase mekkah yang penuh
intrik, penindasan dan kehinaan.

Lalu, bagaimanakah dengan KAMMI yang masih berusaha berdenyut hidup menyertai setiap
polah gerak bangsa Indonesia. Perubahan seperti apa yang KAMMI tawarkan menghadapi
kompleksitas persoalan bangsa yang mana tiap sendinya mengandung persoalan. Tawaran format
gerakan seperi apa yang KAMMI tawarkan untuk menyelamatkan Indonesia menuju bangsa
yang berdaulat di mata internasional.

Dengan mengutip pendapat Andi Rahmat, kehendak untuk menempatkan diri secara signifikan
dalam setiap peristiwa politik dalam kerangka perubahan menunjukkan kebutuhan yang
mendasar terhadap satu ideologi politik yang kuat. Bagi mahasiswa, ideologi tidak hanya
sekedar berfungsi untuk memperkuat identitas dan aksi-aksi politiknya, akan tetapi juga
berfungsi untuk memberi bentuk terhadap identitas dan aksi-aksi politik tersebut. Sebaliknya,
pengabaian terhadap keberadaan ideologi politik bagi mahasiswa akan menempatkannya pada
posisi serba salah dan mudah sekali terjebak pada perilaku-perilaku pragmatis dan tidak
konsisten. Karenanya, KAMMI dalam menjawab berbagai persoalan bangsa ini dengan
menghadirkan dirinya sebagaidirector of change, hendaklah selalu berpedoman pada apa yang
menjadi khittah perjuangan KAMMI sehingga ketika pilihan gerak harus jatuh pada perubahan
format geraknya, KAMMI tetap memiliki kekhasan yang telah menjadi karakter dalam elan vital
perjuangan KAMMI. Berdasarkan khittah juang KAMMI dan kemampuan KAMMI untuk
menyerap segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan bangsa dan negara Indonesia,
menggharuskan KAMMI untuk mentransformasikan gerakannya ke dalam format kepemimpinan
umat yang menyentuh dua wilayah gerak, yaitu system kehidupan dan masyarakat.

Kepemimpinan seperti apakah yang dibutuhkan untuk bisa berkontribusi dalam dinamika
kehidupan bangsa Indonesia? Yang mana dengan kepemimpinan tersebut mampu menjadikan
KAMMI sebagai gerakan kepeloporan yang membawa pada arah perubahan yang lebih
baik. Konsepsi kepemimpinan inilah yang seringkali menjadi bias maknanya dalam alam pikir
para kader KAMMI, apalagi ketika istilah Muslim Negarawan diwacanakan dalam gerak
KAMMI, tafsirannya menjadi multiintepretatif dan mengapresiasi pada gerak parlemen.

Muslim Negarawan adalah jiwa, yang jiwa ini menjadi besar karena ia mengerti dan memahami
persoalan bangsanya tidak hanya dalam satu sudut pandang tapi dari berbagai sudut pandang
yang dielaborasikannya menjadi embrio-embrio perubahan menuju satu samudera kejayaan.
Pada level inilah, kita akan membahas domain-domain public KAMMI dalam aras kebijakan
masyarakat. Di mana, kepemimpinan KAMMI hadir dengan membawa embrio-embrio
perubahan yang beretika dan sangat memperhatikan kaidah kepatutan sosial dan keadilan dalam
kehidupan bermasyarakat sehingga ia datang bukan sebagai beban tapi sebagai solusi dari
kondisi kritis masyarakat. Embrio ini hadir ke tengah masyarakat dalam berbagai bentuk dan
dari berbagai arah yang mengepung setiap lini kehidupan masyarakat dari berbagai penjuru
sehingga ia terlihat dalam keelokan martabat dan keanggunan gerak.

Embrio perubahan ini hadir dalam dunia politik dalam bentuk pengawalan terhadap agendaagenda politik, di mana ia turut serta dalam proses pengambilan kebijakan bukan pada wilayah
praksisnya tapi pada wilayah ide, gagasan, informasi, saran, bantuan, intelektualitas, dan
kecemelangan pikir sehingga tidak dapat ia ditolak untuk dijadikan referensi utama oleh
paradecision maker dalam memutus berbagai persoalan politik. Dalam bidang sosial ekonomi,
embrio ini hadir dalam bentuk lembaga-lembaga juang yang mampu mengakumulasi modalmodal potensial masyarakat, ikut mengatur perputaran keuangannya, sehingga dengannya ia
membantu memperkuat perekonomian rakyat menuju pembebasan kemiskinan yang
menghinakan. Kemudian, embrio ini juga lahir dalam bidang pertahanan keamanan dalam
bentuk kemampuan diplomasi yang cakap dalm perputaran media untuk mempertahankan setiap
hak bangsa, embrio ini juga menjelma dalam proses-poses hukum untuk memberikan tawarantawaran draft undand-undang, memberikan masukan kritiis dan solusi yang membangun
sehingga kejahatan-kejahatan layaknya korupsi, illegal logging, dan sejenisnya dapat
dimusnahkan.Untuk mampu menciptakan dan menghadirkan embrio perubahan ini diperlukan
jiwa kepemimpinan yang mengakar pada ideologi ke-KAMMI-an dan memiliki pengetahuan
yang luas pada persoalan bangsanya.

Beginilah KAMMI memandang dan mentransformasikan gerakannya pada saat ini, di mana
kader-kader KAMMI mulai menggurita di tengah masyarakat tapi tidak memiliki wadah yang
khas di mana ia mampu berjuang secara optimal sesuai dengan kapasitas dan ketertarikan ilmu
serta pribadinya. Penciptaan embrio-embrio perubahan sebagai bentuk ekspansi KAMMI di
tengah masyarakat dalam berbagai domain publik adalah sebuah keniscayaan. Tentunya, dalam
penciptaan embrio ini, KAMMI mengambil bentuk yang khas dengan tetap melibatkan berbagi
elemen lain sebagai mitra kerja dalam rangka persaudaraan pikir.

Inilah kepemimpinan umat dan dialah Muslim Negarawan, di mana dalam geraknya ia mampu
memimpin, menciptakan dan memberikan solusi. Pada akhirnya, kepemimpinan yang membawa
embrio perubahan ini merupakan bukti otentik atau artefak-artefak sejarah juang KAMMI yang
sengaja diciptakan untuk merangkai gerakan juang KAMMI menuju capaian yang lebih besar

Bila embrio-embrio telah tercipta dan kader kader KAMMI telah cakap dengan kepemimpinan
umatnya maka momentum pun akan tercipta mengikuti proses alaminya dalam sebuah
keniscayaan sejarah. Momentum ini akan datang dari arah yang tidak terduga, dari pikiran yang
tidak terprediksi, dari waktu yang banyak, dia lahir dalam kiasan sejarah yang akan mengusung
dan merangkul semua embrio perubahan menuju suatu samudera kebesaran di mana para kader
KAMMI menjadi pelaku utama, pengendali gelombang dan riak airnya.

Demikian, KAMMI mencoba hadir dalam zaman yang berbeda dengan sekian banyak tantangan
yang terkadang menghimpit kecerdasan pikir dan menyusahkan jiwa. Karenanya, hendaklah para
kader KAMMI kembali bernostalgia terhadap sejarah kelahirannya agar ia memahami betul
khittah gerakan KAMMI yang maha indah dan mampu mentransformasikannya ke dalam
berbagai bentuk juang tanpa harus menghilangkan kekhasan ideologi KAMMI. Oleh sebab itu
marilah kita berikrar dalam penghayatan yang tinggi karena Allah SWT sebagaimana termaktub
dalam kredo gerakan KAMMI:
Kami adalah orang-orang yang senantiasa menyiapkan diri untuk masa depan Islam. Kami
bukanlah orang yang suka berleha-leha, minimalis, dan loyo. Kami senantiasa bertebaran di
dalam kehidupan, melakukan eksperimen yang terencana, dan kami adalah orang-orang yang

progressif, yang bebas dari kejumudan, karena kami memandang bahwa kehidupan ini adalah
tempat untuk belajar agar kami dan para penerus kami menjadi perebut kemenangan yang
hanya akan kami persembahkan untuk Islam.
Semoga sampailah kita pada zaman di mana kebesaran Islam adalah kejayaannya, sebagaimana
firman Allah SWT:
Dengan Nama Allah, Tuhan Yang azali, Yang Maha Pengasih
Ketika dukungan Allah, dan kemenangan telah datang
Dan engkau melihat manusia masuk
Agama Allah dengan berkelompok,
Maka muliakanlah dengan puji-pujian kepada Tuhanmu,
Dan mintalah ampinan dari-Nya.
Sungguh! Dia akan selalu siap
Untuk menunjukkan kasih-Nya.

IV. KESIMPULAN

Beberapa hal yang dapat disimpulkan dari pembahasan di atas antara lain sebagai berikut:
1.
Rekayasa sosial yang berujung pada perubahan sosial yang dilakukan oleh wadah
perjuangan itu terjadi ketika masyarakat itu sendiri sudah keluar dari fitrahnya yang akan
mengakibatkan berbagai problematika hidup diantaranya korupsi, kekerasan, imprealisme dan
lain-lain.
2.
Lambat atau cepat dalam perubahan adalah sebuah proses. Yang terpenting adalah
mengganti pradigma masyarakat dengan melakukan tarbiyah untuk membentuk kepribadian
muslim yang diridhai oleh Allah SWT.
3.
Tujuan yang diinginkan dari rekayasa sosial adalah terbentuknya masyarakat Islam dan
tersampaikannya dakwah kepada segenap manusia. Sedangkan tahapan yang harus dilalui adalah
tahap propaganda dan pengenalan, tahap penyiapan dan pembinaan, tahap kerja dan pelaksanaan,
tahapan negara, tahapan penyiapan khilafah, tahapan peneguhan eksistensi negara atau khilafah,
tahapan kepemimpinan dan perwujudan keteladanan.
4.
Generasi muslim yang akan menjadi pemenang masa depan telah dijelaskan dalam Al
Quran, yaitu orang-orang beriman dan beramal shalih, yang senantiasa merealisasikan
ubudiyahnya dalam seluruh aspek kehidupan, yang senantiasa gigih memerangi kemusyrikan,
yang ikhlas dan sabar.

PROLOG

Akhir dengan satu kata ketika Allah berada di sisi lawan kita maka siapa lagi yang kita
harapkan? Dan ketika Allah berada di sisi kita maka siapa lagi yang kita takuti? Bukankah Allah
telah mengabadikan sebuah ayat yang artinya. Barang siapa yang membantu/menolong agama
Allah, Allah akan senanntiasa membantunya dan meneguhkan kedudukanya. (Q.S.
MUHUMMAD: 7).

Peradaban Barat akan segera mengakhiri masa tuanya, lengser, dan digantikan oleh peradaban
yang sempurna dan mulia di sisi Allah, yaitu peradaban Islam. Dan Allah telah menjanjikan hal
itu pada orang-orang beriman dan beramal shalih. Hendaknya janji tersebut menjadi motivator
kuat bagi umat Islam untuk bangkit dan bergerak, secara maknawi dan materi, secara filosofis
dan aplikatif, demi terwujudnya kemenangan Islam.

Semoga banyak manfaat dan ilmu yang dapat diambil dari makalah ini, meskipun dengan segala
keterbatasan dan kekurangan yang ada. Kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan
untuk perbaikan makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

Al Ghazali, Abdul Hamid. 2001. Meretas Jalan Kebangkitan Islam, Peta Pemikiran Hasan Al
Banna. Era Intermedia, Solo.
Budiyanto, Dwi. 2009. Prophetik Learning. Pro-U Media, Yogyakarta.
Chin, R., W.G. Bennis, K.D. Benne. 1989. Merencanakan Perubahan. Era Intermedia, Solo.
Kasali, Rhenld. 2006. Change!. Gramedia. Jakarta.
Matta, Anis. 2006. Arsitek Peradaban. Fitrah Rabbani, Jakarta.