Anda di halaman 1dari 1

PERAN REMAJA DALAM PERMASALAHAN HIV DAN NAPZA

LATAR BELAKANG
Banyak berita seputar perilaku di kalangan remaja mewarnai media massa akhir-akhir
ini. Beberapa waktu yang lalu dikejutkan dengan berita pembunuhan sadis akibat tindakan
aborsi seorang mahasiswi oleh seorang dukun bayi, penyalahgunaan dan peredaran narkoba
yang menjerat beberapa pemuda serta penyebaran penyakit HIV/AIDS yang merupakan
masalah berat yang tidak dapat diabaikan. Dari fenomena tersebut bukanlah saat yang tepat
untuk mencari siapa yang bersalah, tetapi bagaimana caranya antara pemerintah dan
masyarakat dapat bekerjasama mencari alternatif solusi mengatasi akar permasalahan secara
bersama. Para pemuda ibarat ruh dalam setiap tubuh komunitas atau kelompok; baik itu
dalam ruang lingkup kecil ataupun luas seperti negara. Mereka merupakan motor penggerak
akan kemajuan sebuah negera.
Berdasarkan laporan Direktorat Pengendalian Penyakit Dan Penyehatan Lingkungan
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan data lima provinsi dengan jumlah
kumulatif AIDS terbanyak dari tahun 2007-2013 yaitu provinsi papua sebanyak 10,116
kasus, Jawa Timur sebanyak 8,725 kasus, DKI Jakarta sebanyak 7,477 kasus, Jawa Barat
sebanyak 4.131 kasus dan Bali sebanyak 3.985 kasus. Sedangkan laporan dari bulan oktober
sampai dengan Desember 2013 jumlah infeksi HIV tahun 2013 persentase infeksi HIV
tertinggi pada kelompok umur 25-49 tahun (70,4%), diikuti kelompok umur 20-24 tahun
(16,4%), dan kelompok umur > 50 tahun (5,3%). Sedangkan kasus AIDS dari bulan Oktober
Desember 2013 persentase AIDS tertinggi pada kelompok umur (30-39 tahun (26%),
diikuti kelompok umur 20-29 tahun (25,3%) dan kelompok umur 40-49 tahun (11,6%).
Penderita HIV/AIDS di Jawa Timur semakin bertambah. pada tahun 2012 jumlah kasus HIV
sebanyak 15, 681 kasus dan tahun 2013 ini sudah mencapai 17.775 orang (KPAP JATIM,
2013). Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Kota Mojokerto sebanyak 284 kasus sedangkan
pada kasus AIDS sebanyak 6,900 kasus dan Kota Mojokerto sebanyak 36 kasus.
Risiko kesehatan reproduksi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling
berhubungan misalnya kebersihan organ-organ reproduksi, hubungan seksual pranikah, akses
terhadap pendidikan kesehatan, kekerasan seksual, pengaruh media massa, gaya hidup yang
bebas, penggunaan NAPZA, akses terhadap pelayanan kesehatan reproduksi yang terjangkau,
dan kurangnya kedekatan remaja dengan kedua orangtuanya dan keluarganya. Sebenarnya,
pemuda mempunyai peran strategis dalam melakukan pencegahan akan timbulnya
permasalahan pada kesehatan reproduksi dan penyalahgunaan NAPZA, karena pada diri
pemuda mempunyai peran ganda dalam soal tersebut. Untuk itu, penyelaman akan faktor
yang melatarbelakangi terjadinya dekadensi moral pada generasi muda adalah langkah bijak
yang semestinya dilakukan. Dengan demikian, diharapkan bisa menumbuhkan semangat
dalam diri pemuda itu sendiri guna melakukan perubahan dan memainkan secara maksimal
peran strategis yang dimiliki pemuda dalam rangka penatalaksanan permasalahan HIV/AIDS
dan NAPZA.
Berdasarkan penjelasan latar belakang diatas maka kami ingin melaksanakn seminar
sehari dengan tema peran remaja dalam penanggulangan permasalahan HIV/AIDS dan
NAPZA dengan tujuan agar para remaja dan pemuda serta masyarakat menjadi paham akan
ancaman bahaya narkoba dan HIV/AIDS, bagaimana cara mengatasi permasalahan dan
tantangan tersebut, karena penyalahgunaan narkoba dan HIV/Aids seringkali juga merupakan
akibat dari kompleksitas permasalahan baik yang bersumber dari dalam diri orang yang
bersangkutan maupun faktor lingkungan.