Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kehamilan ektopik adalah suatu kehamilan dimana sel telur yang
dibuahi berimplantasi dan tumbuh diluar endometrium kavum uteri.
Kehamilan ektopik dapat mengalami abortus atau ruptur pada dinding tuba
dan peristiwa ini disebut sebagai Kehamilan Ektopik Terganggu.
Sebagian besar kehamilan ektopik terganggu berlokasi di tuba (90%)
terutama di ampula dan isthmus. Sangat jarang terjadi di ovarium, rongga
abdomen, maupun uterus. Keadaan-keadaan yang memungkinkan terjadinya
kehamilan ektopik adalah penyakit radang panggul, pemakaian antibiotika
pada penyakit radang panggul, pemakaian alat kontrasepsi dalam rahim IUD
(Intra Uterine Device), riwayat kehamilan ektopik sebelumnya, infertilitas,
kontrasepsi yang memakai progestin dan tindakan aborsi.
Gejala yang muncul pada kehamilan ektopik terganggu tergantung
lokasi dari implantasi. Dengan adanya implantasi dapat meningkatkan
vaskularisasi di tempat tersebut dan berpotensial menimbulkan ruptur organ,
terjadi perdarahan masif, infertilitas, dan kematian. Hal ini dapat
mengakibatkan meningkatnya angka mortalitas dan morbiditas Ibu jika tidak
mendapatkan penanganan secara tepat dan cepat.
Insiden kehamilan ektopik terganggu semakin meningkat pada semua
wanita terutama pada mereka yang berumur lebih dari 30 tahun. Selain itu,
adanya kecenderungan pada kalangan wanita untuk menunda kehamilan
sampai usia yang cukup lanjut menyebabkan angka kejadiannya semakin
berlipat ganda.
Kehamilan ektopik terganggu menyebabkan keadaan gawat pada
reproduksi yang sangat berbahaya. Berdasarkan data dari The Centers for
Disease Control and Prevention menunjukkan bahwa kehamilan ektopik di
Amerika Serikat meningkat drastis pada 15 tahun terakhir. Menurut data
statistik pada tahun 1989, terdapat 16 kasus kehamilan ektopik terganggu

dalam 1000 persalinan. Menurut hasil penelitian yang dilakukan Cuningham


pada tahun 1992 dilaporkan kehamilan ektopik terganggu ditemukan 19,7
dalam 100 persalinan. Pada makalah ini akan dibahas lebih lanjut tantang
masalah Kehamilan Ektopik Terganggu.

BAB II
ISI
A.

DEFINISI
Kehamilan ektopik adalah kehamilan dengan implantasi terjadi di luar
rongga uterus. Kehamilan intra uterin tidak sinonim dengan kehamilan
ektopik karena pada pars interstisialis tuba dan kanalis servikalis masih dalam
uterus tapi bersifat ektopik.kehamilan ektopik adalah setiap implantasi yang
telah di buahi di luar cavum uterus. Implantasi dapat terjadi di tuba falopii,
ovarium, serviks dan abdomen. Tuba falopii merupakan tempat tersring
terjadinya implantasi kehamilan ektopik (lebih besar dari 90%).
Kehamilan intra uterin dapat di temukan bersamaan dengan kehamilan
ekstra uterin. Dalam hal ini dibedakan 2 jenis yaitu combined ectopid
pregnancy dimana kehamilan intra uterin dapat pada waktu yang sama
dengan kehamilan ekstra uterin dan compound ectopic pregnancy yang
merupakan kehamilan ekstra uterin lebi dahulu dengan janin sudah mati dan
menjadi litopedion.

B.

EPIDEMIOLOGI
Sebagian besar wanita yang mengalami kehamilan ektopik berumur
antara 20-40 tahun dengan umur rata-rata 30 tahun. Lebih dari 60%
kehamilan ektopik terjadi pada wanita 20-30 tahun dengan sosio-ekonomi
rendah dan tinggal didaerah dengan prevalensi gonore dan prevalensi
tuberkulosa yang tinggi. Pemakaian antibiotik pada penyakit radang panggul
dapat meningkatkan kejadian kehamilan ektopik terganggu. Diantara
kehamilan-kehamilan ektopik terganggu, yang banyak terjadi ialah pada
daerah tuba (90%).
Antibiotik dapat mempertahankan terbukanya tuba yang mengalami
infeksi tetapi perlengketan menyebabkan pergerakan silia dan peristaltik tuba
terganggu sehingga menghambat perjalanan ovum yang dibuahi dari ampula
ke rahim dan berimplantasi ke tuba.

Penelitian Cunningham Di Amerika Serikat melaporkan bahwa


kehamilan etopik terganggu lebih sering dijumpai pada wanita kulit hitam
dari pada kulit putih karena prevalensi penyakit peradangan pelvis lebih
banyak pada wanita kulit hitam. Frekuensi kehamilan ektopik terganggu yang
berulang adalah 1-14,6%.
Di negara-negara berkembang, khususnya di Indonesia, pada RSUP
Pringadi Medan (1979-1981) frekuensi 1:139, dan di RSUPN Cipto
Magunkusumo Jakarta (1971-1975) frekuensi 1:24 , sedangkan di RSUP. DR.
M. Djamil Padang (1997-1999) dilaporkan frekuensi 1:110.
Kontrasepsi IUD juga dapat mempengaruhi frekuensi kehamilan
ektopik terhadap persalinan di rumah sakit. Banyak wanita dalam masa
reproduksi tanpa faktor predisposisi untuk kehamilan ektopik membatasi
kelahiran dengan kontrasepsi, sehingga jumlah persalinan turun, dan
frekuensi kehamilan ektopik terhadap kelahiran secara relatif meningkat.
Selain itu IUD dapat mencegah secara efektif kehamilan intrauterin, tetapi
tidak mempengaruhi kejadian kehamilan ektopik.
Menurut penelitian Abdullah dan kawan-kawan (1995-1997) ternyata
paritas 0-3 ditemukan peningkatan kehamilan ektopik terganggu. Pada paritas
>3-6 terdapat penurunan kasus kehamilan ektopik terganggu.
Cunningham dalam bukunya menyatakan bahwa lokasi kehamilan
ektopik terganggu paling banyak terjadi di tuba (90-95%), khususnya di
ampula tuba (78%) dan isthmus (2%). Pada daerah fimbrae (5%), intersisial
(2-3%), abdominal (1-2%), ovarium (1%), servikal (0,5%) (5).
C.

TANDA DAN GEJALA


Etiologi kehamilan ektopik terganggu telah banyak diselidiki, tetapi sebagian
besar penyebabnya tidak diketahui. Trijatmo Rachimhadhi dalam bukunya
menjelaskan beberapa faktor yang berhubungan dengan penyebab kehamilan
ektopik terganggu, yaitu:
1. Faktor mekanis
Hal-hal yang mengakibatkan terhambatnya perjalanan ovum yang
dibuahi ke dalam kavum uteri, antara lain:

Salpingitis, terutama endosalpingitis yang menyebabkan aglutinasi silia


lipatan mukosa tuba dengan penyempitan saluran atau pembentukan
kantong-kantong buntu. Berkurangnya silia mukosa tuba sebagai akibat
infeksi juga menyebabkan implantasi hasil zigot pada tuba falopii.
Adhesi peritubal setelah infeksi pasca abortus/ infeksi pasca nifas,
apendisitis, atau endometriosis, yang menyebabkan tertekuknya tuba
atau penyempitan lumen
Kelainan pertumbuhan tuba, terutama divertikulum, ostium asesorius
dan hipoplasi. Namun ini jarang terjadi
Bekas operasi tuba memperbaiki fungsi tuba atau terkadang kegagalan
usaha untuk memperbaiki patensi tuba pada sterilisasi
Tumor yang merubah bentuk tuba seperti mioma uteri dan adanya
benjolan pada adneksia
Penggunaan IUD
2. Faktor Fungsional
Migrasi eksternal ovum terutama pada kasus perkembangan duktus
mulleri yang abnormal
Refluks menstruasi

Berubahnya motilitas tuba karena perubahan kadar hormon estrogen


dan progesterone.

3. Peningkatan daya penerimaan mukosa tuba terhadap ovum yang dibuahi.


4. Hal lain seperti; riwayat KET dan riwayat abortus induksi sebelumnya.
D.TANDA DAN GEJALA
Sebuah kehamilan ektopik atau tubal terjadi ketika sebuah telur yang
telah dibuahi menanamkan diri di suatu tempat di luar rahim, biasanya di
saluran tuba. Ini adalah kondisi yang sangat serius yang fatal bagi embrio dan
dapat mengancam kehidupan bagi sang ibu, terutama jika tabung pecah dan
menyebabkan perdarahan yang ekstensif. Selama awal kehamilan tuba
beberapa perempuan mengalami banyak gejala, tetapi yang lain tidak

memiliki tanda-tanda sama sekali. kehamilan ektopik sering disebut sebagai


"kehamilan tuba."
Tanda gejala kehamilan ektopik terganggu
Kolaps dan kelelahan.
Denyut nadi cepat dan lelah.
Hipotensi.
Hipovolemia.
Abdomen akut dan nyeri pelvis.
Distansi abdomen.
Nyeri lepas.
Pucat.
Gejala kehamilan ektopik sebagian besar mirip dengan gejala
kehamilan normal. Jika Anda memiliki gejala normal seperti payudara
melunak, mual, sering buang air kecil, tidak menstruasi, atau muntah maka
gejala tersebut di atas adalah gejala kehamilan ektopik, kemungkinan
kehamilan ektopik yang sangat tinggi.
Gejala Kehamilan ektopik
Gejala yang paling umum kehamilan tuba adalah :

Tanda pertama kehamilan ektopik adalah rasa sakit tiba-tiba di salah


satu sisi perut.

Jika Anda hamil dan jika Anda mendapat sakit pada bahu Anda saat
Anda menghirup atau menghembuskan napas, kemungkinan Anda
memiliki kehamilan ektopik sangat tinggi.

Jika Anda mengalami nyeri sewaktu ke kamar mandi, ada


kemungkinan kuat bahwa kehamilan Anda ektopik.

Jika mens Anda tidak biasa dan / atau jika Anda memiliki vagina
abnormal dengan warna aneh, kemungkinan kehamilan ektopik
tinggi.

Gejala-gejala kehamilan tuba lainnya adalah kulit pucat, diare,


collapse, sakit, tekanan darah rendah dan peningkatan denyut nadi.

Gejala Awal

Nyeri perut (terutama satu sisi dan / atau rendah)

Tidak atau terlambat haid (walaupun seorang wanita dapat mulai


mengalami gejala ektopik sebelum ia tidak haid)

Vagina berdarah

Bagian Jaringan dari vagina (wanita harus berusaha untuk menyimpan


jaringan yang keluar agar dokter dapat menganalisanya)

Gejala kehamilan

Gejala Akhir
Pusing dan pingsan (karena kehilangan darah)
Nyeri Bahu (darah mengganggu diafragma; saraf diafragma dirasakan
di bahu)
Kelemahan
Jantung berdebar
Kembung dan perut terasa keras.
E.

PATOFISIOLOGI
Proses implantasi ovum terjadi dituba pada dasarnya sama hanya
dicavum uteri. Telur bernidasi secara kolumner atau interkolumner. Secara
kolumner telur berimplantasi di ujung atau sisi jonjot endosalping.
Perkembangan telur selanjutnya dibaatasi oleh kurangnya vaskularisasi dan
abiasanya telur mati secara dini dan kemudian di resorbsi. Pada nidasi
interkolmner telur bernidasi antara 2 jonjot endosalping. Setelah tempat
tertutup, maka telur dipisahkan dari lumen tuba oleh lapisan yang menyerupai
desidua dan dinamakan pseudoapsularis, karena pembentukan desidua tidak
sempurna maka dengan mudah vili korealis menembus endosalping dan
masuk

lapisan

otot

dengan

merusak

jaringandan

pembulih

darah.

Perkembangan janin selanjutnya bergantung pada tempat implantasi, tebalnya


dinding tuba dan banyaknya perdarahan yang terjadi oleh invasi trofoblas.

Di bawah pengaruh hormone estrogen dan progesterone dari korpus


luteum gravidarum dan trofoblas uteri menjadi besar dan lembek,
endometrium dapat merubah menjadi desidua. Sel epitel membesar dengan
intinya hipertropik, hiperkromatik, lobuler dan membentuk tidak teratur.
Sitoplasma sel dapat berlubang-lubang atau berbusa kadang ditemukan
mitosis. Perubahan ini hanya ditemukan pada sebian, kehamilan ektopik,
setelah janin mati, desiduaa dalam uterus mengalami degenersi dan kemudian
dileluarkan berkeping-keping, tetapi kadang-kadang dilepaskan secara utuh.
Perdarahan yang di jumpai pada kehamilan ektopik terganggu berasal dari
uterus dan disebabkan oleh desisua yang degenerative.
F.

PATHWAYS

G.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Kesukaran membuat diagnosis yang pasti pada kehamilan ektopik
belum terganggu demikian besarnya, sehingga sebagian besar penderita

mengalami abortus tuba atau rupture tuba sebelum keadaan menjadi jelas.
Bila diduga ada kehamilan ektopik yang belum terganggu, maka penderita
segera dirawat di rumah sakit. Alat bantu diagnostic yang dapat digunakan
ialah ultrasonografi, laparoskopi atau kuldoskopi.
Diagnosis kehamilan ektopik terganggu pada jenis mendadak tidak
banyak mengalami kesukaran, tetapi pada jenis menahun atau atipik bisa sulit
sekali. Untuk mempertajam diagnosis, maka pada tiap wanita dalam masa
reproduksi dengan keluhan nyeri pada perut bagian bawah atau kelainan haid,
kemungkinan kehamilan ektopik harus dipikirkan. Pada umumnya dengan
anamnesis yang teliti dan pemeriksaan yang cermat diagnosis dapat
ditegakkan, walaupun biasanya alat bantu diagnostic seperti kuldosentesis,
ultrasonografi dan laparoskopi masih diperlukan anamnesis. Haid biasanya
terlambat untuk beberapa waktu dan kadang-kadang terdapat gejala subyektif
kehamilan muda. Nyeri perut bagian bawah, nyeri bahu, tenesmus, dapat
dinyatakan. Perdarahan per vaginam terjadi setelah nyeri perut bagian bawah.
Pemeriksaan umum : penderita tampak kesakitan dan pucat, pada
perdarahan dalam rongga perut tanda-tanda syok dapat ditemukan. Pada
jenis tidak mendadak perut bagian bawah hanya sedikit mengembung dan
nyeri tekan.
Pemeriksaan ginekologi : tanda-tanda kehamilan muda mungkin
ditemukan. Pergerakan serviks menyebabkan rasa nyeri. Bila uterus dapat
diraba, maka akan teraba sedikit membesar dan kadang-kadang teraba
tumor di samping uterus dengan batas yang sukar ditemukan. Kavum
Douglas yang menonjol dan nyeri-raba menunjukkan adanya hematokel
retrouterina. Suhu kadang-kadang naik, sehingga menyukarkan perbedaan
denga infeksi pelvik.
Pemeriksaan laboratorium : pemeriksaan hemoglobim dan jumlah sel
darah merah berguna dalam menegakkan diagnosis kehamilan ektopik
terganggu, terutama bila ada tanda-tanda perdarahan dalam rongga perut.
Pada kasus jenis tidak mendadak biasanya ditemukan anemia, tetapi harus
diingat bahwa penurunan hemoglobin baru terlihat setelah 24 jam.

Penghitungan leukosit secara berturut menunjukkan adanya perdarahan


bila leukositosis meningkat. Untuk membedakan kehamilan ektopik dari
infeksi pelvik, dapat diperhatikan jumlah leukosit. Jumlah leukosit yang
melebihi 20.000 biasanya menunjuk pada keadaan yang terakhir. Tes
kehamilan berguna apabila positif. Akan tetapi tes negative tidak
menyingkirkan kemungkinan kehamilan ektopik terganggu karena
kematian hasil konsepsi dan degenerasi trofoblas menyebabkan produksi
human chorionic gonadotropin menurun dan menyebabkan tes negative.
Kuldosentris : adalah suatu cara pemeriksaan untuk mengetahui apakah
kavum Douglas ada darah. Cara ini amat berguna dalam membantu
membuat diagnosis kehamilan ektopik terganggu. Tekniknya :
1. Penderita dibaringkan dalam posisi litotomi
2. Vulva dan vagina dibersihkan dengan antiseptic
3. Speculum dipasang dan bibir belakang porsio dijepit dengan cunam
servik ; dengan traksi ke depan sehingga forniks posterior tampak
4. Jarum spinal no 18 ditusukkan ke dalam kavumDouglasdan dengan
semprit 10 ml dilakukan penghisapan
5. Bila pada penghisapan ditemukan darah, maka isinya disemprotkan
pada kain kasa dan perhatikan apakah darah yang dikeluarkan
merupakan :
6. Darah segar berwarna merah yang dalam beberapa menit akan
membeku; darah ini berasal dari arteri atau vena yang tertususk
7. Darah tua berwarna coklat sampai hitam yang tidak membeku, atau
yang berupa bekuan kecil-kecil; darah ini menunjukkan adanya
hematokel retrouterina.

Ultrasonografi : berguna dalma diagnostic kehamilan ektopik. Diagnosis


pasti ialah apabila ditemukan kantong gestasi di luar uterus yang di
dalamnya tampak denyut jantung janin. Hal ini hanya terdapat pada 5 %
kasus kehamilan ektopik. Walaupun demikian, hasil ini masih harus
diyakini lagi bahwa ini bukan berasal dari kehamilan intrauterine pada
kasus uternus bikornis.

Laparoskopi : hanya digunakan sebagai alat bantu diagnostic terakhir


untuk kehamilan ektopik, apabila hasil penilaian prosedur diagnostic yang
lain meragukan. Melalui prosedur laparoskopik, alat kandungan bagian
dalam dapat dinilai. Secara sistematis dinilai keadaan uterus, ovarium,
tuba, kavumDouglasdan ligamentum latum. Adanya darah dalam rongga
pelvis mungkin mempersulit visualisasi alat kandungan, tetapi hal ini
menjadi indikasi untuk melakukan laparotomi.

H.

PENATALAKSANAAN MEDIS DAN KEPERAWATAN


Pada kehamilan ektopik terganggu, walaupun tidak selalu ada bahaya
terhadap jiwa penderita, dapat dilakukan terapi konservatif, tetapi sebaiknya
tetap dilakukan tindakan operasi. Kekurangan dari terapi konservatif (nonoperatif) yaitu walaupun darah berkumpul di rongga abdomen lambat laun
dapat diresorbsi atau untuk sebagian dapat dikeluarkan dengan kolpotomi
(pengeluaran melalui vagina dari darah di kavum Douglas), sisa darah dapat
menyebabkan perlekatan-perlekatan dengan bahaya ileus. Operasi terdiri dari
salpingektomi ataupun salpingo-ooforektomi. Jika penderita sudah memiliki
anak cukup dan terdapat kelainan pada tuba tersebut dapat dipertimbangkan
untuk mengangkat tuba. Namun jika penderita belum mempunyai anak, maka
kelainan tuba dapat dipertimbangkan untuk dikoreksi supaya tuba berfungsi.
Tindakan laparatomi dapat dilakukan pada ruptur tuba, kehamilan
dalam divertikulum uterus, kehamilan abdominal dan kehamilan tanduk
rudimenter. Perdarahan sedini mungkin dihentikan dengan menjepit bagian
dari adneksia yang menjadi sumber perdarahan. Keadaan umum penderita
terus diperbaiki dan darah dari rongga abdomen sebanyak mungkin
dikeluarkan. Serta memberikan transfusi darah.
Untuk kehamilan ektopik terganggu dini yang berlokasi di ovarium
bila dimungkinkan dirawat, namun apabila tidak menunjukkan perbaikan
maka dapat dilakukan tindakan sistektomi ataupun oovorektomi. Sedangkan
kehamilan ektopik terganggu berlokasi di servik uteri yang sering
menngakibatkan perdarahan dapat dilakukan histerektomi, tetapi pada

nulipara yang ingin sekali mempertahankan fertilitasnya diusahakan


melakukan terapi konservatif.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
Asuhan Keperawatan Pada Tn. H dengan gejala Glomerolunefritis di Ruang
Mawar RSUD Dr. H. Slamet, Sokaraja
Tanggal Pengkajian : 02 Oktober 2011, Jam 09.00 WIB
I. PENGKAJIAN
a. Identitas
1. Pasien / klien
Nama

: Ny. H

Umur

: 30 tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Pendidikan

: SLTA

Pekerjaan

: Wiraswasta

Agama

: Islam

Suku

: Jawa

Status Perkawinan

: Kawin

Alamat

: Jl. Soepardjo Roestam No. 045,


Purwokerto-Sokaraja

Tanggal Masuk

: 03/05/2012

Tanggal Pengkajian

: 03/05/2012

Nomor Register

: 1011020809

Diagnosa Medis

: Gejala Kehamilan Ektopik

2. Penanggung Jawab
Nama

: Tn. D

Umur

: 40 tahun

Jenis kelamin

: Laki-laki.

Alamat

: Jl. Soepardjo Roestam No. 045,


Purwokerto-Sokaraja

Hubungan dengan klien

: Istri.

b. Riwayat penyakit
1. Keluhan utama (saat masuk rumah sakit)
Klien mengalami rasa sakit tiba-tiba di salah satu sisi perut, nyeri
sewaktu ke kamar mandi, kulit pucat, diare, collapse, sakit, tekanan
darah rendah dan peningkatan denyut nadi.
2. Riwayat penyakit sekarang
a. Yang menjadi keluhan utama ialah nyeri
b. Riwayat keluhan utama biasanya nyeri disertai dengan perdarahan
vagina dalam jumlah yang sedikit, berwarna cokelat tua, pasien akan
juga merasa mual/muntah bahkan sampai pingsan.
3. Riwayat penyakit dahulu
Klien pernah mengalami suatu penyakit yang diberikan terapi
antibiotika, menggunakan alat kontrasepsi, bisa saja sebelumnya klien
sudah pernah mengalami penyakit yang sama.
4. Riwayat penyakit keluarga
Penyakit ini juga merupakan penyakit kongenital, ada anggota
keluarganya yang juga pernah mengalami penyakit yang sama.
c. Pengkajian Fungsional
1. Persepsi dan pemeliharaan kesehatan
Klien SMRS tidak pernah menderita penyakit yang serius. Jika sakit
klien hanya diobati dengan obat warung.
2. Nutrisi dan metabolik
Program diet dari rumah sakit TKTP (tinggi kalori tinggi protein).intake
frekuensi 3x sehari,makan tidak dihabiskan seluruhnya, ada penurunan
nafsu makan, intake cairan < 5000 cc/hari jenis air putih.
3. Pola eliminasi
Gejala: perubahan pola berkemih (oliguri) .
Tanda: Perubahan warna urine (kuning pekat, merah)
4. Pola tidur dan istirahat
Gejala: kelemahan/malaise.
Tanda: kelemahan otot, kehilangan tonus otot
5. Pola aktivitas dan latihan

Kemampuan Merawat Diri


0 1

Makan / minum
Mandi
Toileting
Berpakaian
Mobilitas di tempat tidur
Berpindah
Ambulasi
Keterangan
0 = Mandiri
2 = Dibantu orang lain
1 = Alat Bantu
3 = Di bantu orang lain dan alat

4 = Tergantung total
Kesimpulan : semua aktivitas klien dibantu orang lain
6. Persepsi sensorik / perseptual
Klien mengalami rasa sakit di salah satu sisi perut, nyeri sewaktu ke
kamar mandi.
7. Persepsi diri dan konsep diri
Klien merasa sedih dengan kondisinya sekarang karena dia takut
operasi dan kegagalan dari pasca operasinya.
8. Pola seksual dan reproduksi
Klien mengatakan bahwa hubungan seksualitasnya mengalami masalah
karena tidak bisa memenuhi kebutuhan rohani yang baik pada sang
suami.
9. Pola hubungan peran
Klien tinggal bersama dengan suaminya dan dua orang anaknya, klien
sebagai ibu rumah tangga, komunikasi dengan anggota keluarganya
baik selama sakit pasien di temani oleh suaminya.
10. Pola pengelolaan koping dan stress
Klien mengatakan dengan penyakitnya sekarang klien merasa cemas
dan was-was, serta menyerahkan semua pada Tuhan YME.
11. Sistem nilai dan keyakinan
Klien beragama Islam, sebelum masuk rumah sakit rutin melakukan
pengajian di masjid dekat tempat tinggal.
d. Pemeriksaan fisik ( Head to Toe )
Keadaan Umum
: Kompos mentis, tampak lemah
Kepala
:Bentuk simetris, rambut warna hitam, bersih,
Mata
Hidung
Telinga

wajah pucat
: konjungtifa dan retina anemis
: simetris bersih tidak ada polip
: simetris, bersih, tidak ada serumen

Gigi dan mulut

:masih utuh, tidak ada karies, bersih tidak bau, bibir

Daerah leher
Daerah dada
Mammae
Jantung
Paru

kebiruan
: tidak ada pembesaran kelenjar tyhroid, simetris
: simetris tidak ada kelainan
: terjadi perubahan pada mamae
: irama tidak teratur, tidak terdengar suara mur-mur
: terdengar baik, tidak ada whezing

Abdomen

: nyeri tekan abdomen bagian bawah (defance


musculair), tanda culen, shitting dullness

Genetalia

: Pervaginem keluar di cidual cast, perdarahan


berwarna cokelat tua

Anus
Ekstremitas
Tanda tanda vital

e. Data penunjang lain

: bersih, tidak ada haemorhoid


: atas sebelah kiri terpasang infus
:T
: 100 / 70 mmHg
N
: 60 x/m
RR : 25 x/m
S
: 39,5C
:

1. Laboratorium :
Darah Rutin tanggal 10-05-2011
Hb

: 10,6 g/dl

Ht

: 31,4%

Leukosit

: 28.200 /l

Trombosit

: 369.000 /l

Eritrosit

: 3.60 juta/UL

Index Eritrosit
MCV

: 82,5 fl

MCH

: 26,7 pg

MCHC

: 32.3 %

Tes kehamilan (10-11-2011) Positif

2. USG tanggal (12-05-2011) dilakukan di RSCM (fetomaternal)


- Uterus anteflexi, bentuk dan ukuran normal. Miometrium homogen.
- Kavum uteri kosong tidak tampak kantung kehamilan didalamnya
- Endometrium regular, tebal 4 mm
- Portio dan endoserviks normal
- Kedua ovariuym sulit di nilai.
- Pada kavum Douglasi hingga cranial uterus terdapat masa kompleks
ukuran 152x83x137mm berasal dari masa hematokel.
- Terdapat cairan bebas berasal dari hemoperitoneal.
Lain lain
:
Abdomen :
Inspeksi

: Perut tampak datar

Palpasi

: TFU sulit di nilai, Perut Keras , Nyeri tekan + di perut


bagian bawah, teraba benjolan di perut kiri bawah ukuran
4X 3 cm dengan batas tegas, padat .

Perkusi

: Nyeri ketuk (+), Shifting dullness (+).

Auskultasi : Bising Usus (+) normal

Anogenital
a. Inspeksi : vulva/ urethra tampak tenang, perdarahan (-).
b. VT
: nyeri goyang serviks (+)
f.

Program Terapi
:
Injeksi :
IVFD RL 20 tpm/menit
Transfusi PRC (kolf ke 4)
Tyason 2x1
Metronidazole 2x1
Asam traneksamat 3x2 amp
Lactor 3x1 amp
Pemeriksan darah rutin post transfuse

g. Data Fokus / kumpulan data


Tgl / Jam
Data Fokus
02/11/2011 DS : Klien mengatakan nyeri pada perut bagian bawah
08.00
(defance musculair), ada perdarahan alat kelaminnya
WIB

DO : Klien tampak mual / muntah, pusing, ekspresi wajah


meringis, Pucat, TD menurun, nadi kecil
DS : Klien mengatakan anggota badannya lemah dan tidak
dapat digerakan.
DO : Klien tampak ada luka post laparotomy, kemerahan,
bengkak, dan basah.
DS : Klien mengatakan tentang penyakitnya bingung.
DO : Klien tampak takut dengan keadaannya

h. Analisis Data
Tgl / Jam
02/10/11
08.00
WIB

Data
DS
:
Klien
mengatakan
nyeri
pada perut bagian
bawah
(defance
musculair),
ada
perdarahan
alat
kelaminnya
DO : Klien tampak mual
/

muntah,

pusing,

ekspresi
meringis,

wajah
Pucat,

TD

menurun, nadi kecil

DS : Klien mengatakan
anggota

badannya

lemah dan tidak dapat


digerakan.
DO : Klien tampak ada
luka post laparotomy,
kemerahan,

bengkak,

dan basah.

Etiologi
Proses nidasi

Gangguan pada
tuba

Perjalanan telur
terhambat

Kehamilan
ektopik

Responsi tuba

nyeri
Kehamilan
ektopik
terganggu

Problem
Adanya Nyeri .

Terjadi
Gangguan
mobilitas fisik

Laparatomy

Post
laparatomy

kelemahan

DS : Klien mengatakan

Kurang

Ansietas

tentang

penyakitnya

bingung.
DO : Klien tampak takut
dengan keadaannya

pengetahuan

Kurangnya
informasi

Takut dengan
keadaannya

Ansietas

II. DIAGNOSA KEPERAWATAN


1.

Nyeri berhubungan dengan berimplentasinya hasil konsepsi


diluar endometrium. Postoperasi

2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan


ketidaknyamanan yang terjadi setelah operasi Gangguan
istirahat tidur b/d immobilisasi dan edema.
3. Ansietas berhubungan dengan kurangnya informasi tentang kehamilan.
III. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
No
Dx
1.

Diagnosa
Keperawatan
Nyeri
berhubunga
n dengan
berimplenta
sinya hasil
konsepsi
diluar
sekitar
endometriu
m.
Postoperasi

Tujuan

Intervensi

Rasional

Setelah
o Kaji tingkat
o Untuk
dilakukan
nyeri,
mengetahui
tindakan
observasi
perubahan
perawatan
lokasi, lamanya
pada
3 X 24 jam
dengan
dan
karakteristik
kriteria:
intensitasnya
nyeri dan
nyeri
dapat
berkura
menunjukkan
ng
sampai
penyetaran
Detance
hilang
penyakit
musticulair Ekspresi o jelaskan
o agar pasien
Perdarahan
wajah
penyebab
tahu
vagina
tenang
nyeri dan
penyebab dia
Mual

Muntah

anjurkan

merasa nyeri

Pusing

pasien untuk

dan

Ekspresi
wajah
meringis

menghindariny

menghindari

a
o posisi yang

Pucat

o atur posisi

Gelisah
TD
menurun,
nadi kecil
Respirasi
cepat

baik dan

pasien sesuai

nyman dapat

dengan

mengurangi

keinginan dan

nyeri

kenyamananny
a

o agar
perasaannya
tidak terfokus

o alihkan
perhatian
pasien

pada nyeri
o untuk
mengendalika
n nyeri
o untuk

o anjurkan
teknik relaksasi

mengurangi
nyeri

o kolaborasi
dengan dokter
dalam
pemberian
analgetik
2.

Gangguan
mobilitas
fisik
berhubunga
n dengan
ketidaknya
manan

o ajarkan pasien o pengendalian


nyeri adalah
dilakukan
untuk
komponon
asuhan
melakukan
yang
keperawatan
teknik relaksasi
terpenting
dalam
3 X 24 jam
untuk
mempertahan
dengan
pengendalian
Setelah

yang terjadi
setelah
operasi,
ditandai
dengan:

kriteria hasil :

nyeri

kan mobilitas
otot
dan
persendian
yang optimal

o Mobilitas
fisik
o membantu
dapat
pasien dalam o untuk
terlaksan
melakukan ADL
o luka post
memberikan
a dengan
laparatom
rasa puas dan
optimal
y
percaya
diri
o pasien
pada pasien
o luka
tampak
o memberikan
kemeraha
rileks
mandi dengan
n,
o pasien
o air
hangat
bengkak
air hangat dan
kuat
dapat
o luka basah o mulai
memberikan
tidak
boleh
o nyeri
kenyamanan
dapat
terlalu panas
pada pasien
melakuka
o pasien
saat
mandi,
n
lemah
tetapi
air
aktivitas
o tidak
yang
terlalu
dapat
panas dapat
beraktifvit
menyebabkan
o mengajarkan
as
rasa letih
dan membantu
pasien

o untuk
mencegah
terjadinya
fisik
kekakuan
demi
sendi
secara

melakukan
latihan
sedikit
sedikit

bertahap, mis:
pergerakan
jari,
pergelangan
tangan/kaki
o menganjurkan
pasien

uintuk

mengimbangi
istirahat

o untuk
meningkatkan

dengan latihan
fisik

3.

Ansietas
berhubunga
n dengan
kurangnya
informasi
tentang
kehamilan
ektopik,
ditandai
dengan:
o Klien
bertanya
tentang
penyakitn
ya
bingung
o pasien
takut
dengan
keadaann
ya
o pasien
tegang

o Monitor tingkat
ecemasasan
dilakukan
pasien,
asuhan
observasi
keperawatan
keadaan
kesadaran
3 X 24 jam
pasien dan
dengan
kemampuan
kriteria hasil :
dalam
o Ansietas
memecahkan
dapat
masalah
diatasi
o Pertahankan
Setelah

o Klien
tidak
bertanya
lagi
tentang
penyakit
yang
diderita
o Klien
tenang

lingkungan
yang aman
dan nyaman
dan tenang
bagi pasien
o berikan
penjelasan
pasa pasien
tentang
penyakitnya
dan
penyebabnya
o Berikan
informasi
bahwa setelah
perawatan
selesai paien
sudah berada
dalam keadaan

kekuatan dan
fungsi
serta
mengurangi
pelatihan
sehubungan
dengan
tingkat
aktivitas
o untuk
menentukan
tindaan yang
aan dilakuan

o lingkungan
yang tenang
dapat
mengurangi
kecemasan

o agar pasien
mengerti dan
menyadari
akan
keberadaanny
a
o agar pasien
mengerti
bahwa dia
akan sembuh
dan akan
kembali
melakukan
fungsinya

yang aman

sepeti
sebelum
sakit.

IV. IMPLEMENTASI
NO
Tgl....
Dx
Jam
1
02/10/2011
08.00
WIB

Implementasi

Memonitor dan catat untuk mendeteksi


TD setiap 1 2 jam gejala dini perubahan
perhari

09.00
WIB

Respon Pasien

selama

fase TD dan menentukan

akut

intervensi

Menyediakan makan

selanjutnya.
Diet tinggi

dan karbohidrat yang

karbohodrat biasanya

tinggi

lebih cocok dan


menyediakan kalori
essensial.

10.00
WIB

Menyediakan kasur

Menurunkan resiko

busa pada tempat tidur

terjadinya kerusakan

klien

kulit.

02/10/2011 Menjaga kebersihan


08.00
jalan nafas, siapkan
WIB
suction

Serangan dapat
terjadi karena
kurangnya perfusi
oksigen ke otak

09.00
WIB

Menyajikan
sedikit-sedikit

makan Menyajikan makan


tapi sedikit-sedikt tapi

sering,

termasuk sering, memberikan

makanan

kesukaan kesempatan bagi

klien.

klien untuk
menikmati

Paraf
Perawat

makanannya, dengan
menyajikan makanan
kesukaannya dapat
menigkatkan nafsu
makan.
3

10.00
WIB

Membantu merubah

Dapat mengurangi

posisi tiap 2 jam.

tekanan dan

memperbaiki
sirkulasi, penurunan
resiko terjadi
kerusakan kulit.

02/10/2011 Mengatur pemberian


08.00
anti HT, memonitor
WIB
reaksi klien.

Anti HT dapat
diberikan karena
tidak terkontrolnya
HT yang dapat
menyebabkan
kerusakan ginjal

09.00
WIB

Batasi masukan

Sodium dapat

sodium dan protein

menyebabkan retensi

sesuai order.

cairan, pada
beberapa kasus ginjal
tidak dapat
memetabolisme
protein, sehingga
perlu untuk
membatasi
pemasukan cairan.

10.00
WIB

Mendukung / memberi Meningkatkan


sokongan

dan sirkulasi balik dari

elevasikan ekstremitas pembuluh darah vena


yang

mengalami untuk mengurangi

edema.

pembengkakan.

V. EVALUASI
Tgl/Jam

Diagnosa

Keperawatan
02/10/2011 Gangguan perfusi
13.00
jaringan b/d retensi air
WIB
dan hipernatremia

SOAP
Perkembangan
S
:
Klien
mengatakan
kekurangan volume
cairan

hilang

meningkat.
O : Klien hanya bisa
terbaring di tempat
tidur
A : Gangguan
perfusi jaringan b/d
retensi air dan
hipernatremia
P

Lanjutkan

pemberian program
terapi yang sudah
dilakukan.
02/10/2011 Perubahan status nutrisi S
:
Klien
13.00
(kurang dari
mengatakan merasa
WIB
kebutuhan) b/d
lemas, dan lelah
O
:
Klien
anorexia.
sebelumnya
mengalami
gangguan pada pola
makan yang kurang
seimbangan

elektrolit, glukosa.
A
:
Pemberian
nutrisi yang cukup
untuk kebutuhannya
sehingga

dapat

teratasi

minimal

mungkin.
P : Lanjutkan asuhan
02/10/2011 Gangguan istirahat
13.00
tidur b/d immobilisasi
WIB
dan edema.

keperawatan
S
:

Klien

mengatakan
mengalami
gangguan

istirahat

tidur
O : Meminimalkan
ketidakseimbangan
pola

gangguan

istirahat tidur.
A : Gangguan pada
pada
dan

immobilisasi
edema

bisa

teratasi.
P : Lanjutkan asuhan
keperawatan

DAFTAR PUSTAKA
Doenges, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi 3. Jakarta
: EGC
Wartonah, Tarwoto. 2006. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses
Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika
Mansjoer, Arif,dkk. 2000.Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media
Aescutapius.