Anda di halaman 1dari 25

Warna Tata Waktu Liturgi

Arti warna Hijau


Minggu biasa
Hijau adalah warna hidup baru, masa depan, harapan dan keremajaan.
Warna hijau juga dihubungkan dengan keadilan dan perdamaian.
Sepanjang tahun liturgi warna ini digunakan sebagai simbol, kecuali jika ada Hari Raya khusus.
[5]

Ungu

Adven
Prapaskah

Ungu melambangkan rasa sedih dan ketenangan.


Dalam liturgi warna ungu dipakai selama masa mawas diri yang membutuhkan ketenangan.
Masa mawas diri adalah masa Advent (empat minggu menjelang Hari Raya Natal) dan masa
Prapaskah (empat puluh hari sebelum Hari Raya Paskah). Dalam satu minggu menjelang Paskah,
warna ungu berhubungan erat dengan sengsara dan wafat Yesus Kristus. Pakaian liturgi imam
yang dipakai pada Pekan Suci ini dihiasi dengan simbol-simbol seperti salib dan mahkota duri.[5]
Putih
Natal
Kamis Putih

Paskah

Minggu Trinitas

Kristus Raja

Baptisan dan Peneguhan sidi

Penahbisan

Peneguhan

Pernikahan

Putih melambangkan kesucian dan dipakai dalam beberapa liturgi khusus.[1]


Merah
Adven minggu ketiga
Minggu Palem

Kenaikan

Pentakosta

Hari Raya Para Martir

Merah berarti cinta dan penderitaan. Warna ini biasa dipakai dalam perayaan peringatan para
martir dan pada perayaan Hari Raya Pentakosta. Pada perayaan hari raya Pentakosta, biasanya

para imam akan memakai pakaian merah yang dihiasi dengan moitif lidah api atau burung
merpati yang merupakan simbol dari Roh Kudus.[5] Hitam
Rabu Abu
Jumat Agung

Kedukaan

Hitam
melambangkan kedukaan. Biasanya dipakai dalam Hari Raya Rabu Abu, Jumat Agung dan
liturgi khusus kedukaan.[1]

Amik, tanda perlindungan

Amik adalah kain putih segi empat dengan dua tali di dua ujungnya atau ada juga model modern
lain yang tidak segi empat dan tanpa tali.
Amik yang melingkari leher dan menutupi bahu dan pundak itu melambangkan pelindung
pembawa selamat (keutamaan harapan), yang membantu pemakainya untuk mengatasi serangan
setan.

Kain itu secara praktis juga berfungsi untuk menutupi kerah baju supaya tampak rapi, untuk
menahan dingin, atau sekaligus untuk menyerap keringat agar busana liturgis pada zaman dulu
yang biasanya amat indah dan mahal tidak mengalami kerusakan.
Amik dikenakan oleh imam, diakon, atau petugas lain yang hendak mengenakan alba.
Pemakaian amik sering tergantung juga pada alba yang akan dipakai. Kalau alba kiranya tidak
menutup sama sekali kerah pakaian sehari-hari, maka barulah amik itu dikenakan sebelum alba
(PUMR 336).
Alba, citra kekudusan

Pakaian putih (Latin: alba = putih) panjang; simbol kesucian dan kemurnian yang seharus-nya
menaungi jiwa diakon/ imam yang me-rayakan liturgi, khususnya Pe-rayaan Ekaristi.

Alba dengan warna putihnya itu sendiri secara simbolis mengingatkan kita akan komitmen baptis
dan kebangkitan. Sebenarnya alba juga boleh dipakai untuk pelayan altar lainnya, bahkan
meski tidak lazimuntuk lektor dan pemazmur.
Jubah Lektor

Sudah amat lazim bahwa lektorjuga beberapa petugas liturgis lainnya, seperti pemazmur dan
pembagi komuni, bahkan kelompok paduan suaramengenakan jubah atau busana
semacamnya. Tidak ada aturan khusus untuk itu, juga tidak ada larangan untuk meneruskan
kebiasaan itu. Namun perlu ditegaskan bahwa hal itu bukanlah keharusan, sehingga tidak ada
kewajiban untuk mengadakannya.
Justru, ketika awam atau petugas liturgis yang tidak ditahbiskan berperan dalam perayaan
liturgis, sebaiknya ia tampil dengan busananya sendiri. Tentu saja busana yang layak dan sopan
untuk ukuran publik.
Lagipula, seringkali memakai jubah bagi mereka malah bisa mengundang pemikiran lain (baik
secara asosiatif maupun estetis). Dengan kata lain, tidak semua orang cocok memakai jubah.
Jelasnya, jubah yang sebenarnya diperuntukkan bagi lelaki tentunya jadi kelihatan aneh jika
dikenakan perempuan

Superpli, pengganti alba


Superpli merupakan pengganti alba, potongannya tidak sepanjang alba. Ber-warna putih.
Superpli tidak sampai mata kaki, cukup sebatas lutut dengan perge-langan tangan yang cukup
lebar. Tidak boleh sembarangan memakai superpli. Alba dapat diganti superpli, kecuali kalau
dipakai kasula atau dalmatik, atau kalau stola menggan-tikan kasula atau dalmatik (PUMR 336).
Dengan kata lain, jika memakai kasula dan dalmatik, imam dan diakon harus memakai alba,
bukan superpli. Jika hanya memakai stola, maka imam dan diakon boleh memakai superpli di
atas jubahnya.
Singel, tali kesucian

Tali pengikat alba pada pinggang ini merupakan simbol nilai kemurnian hati (chastity) dan
pengekangan diri. Biasanya berwarna putih atau sesuai dengan warna masa liturginya. Biasanya
singel dipakai jika model alba membutuhkan-nya atau jika dipakai stola dalam (PUMR 336).
Busana khusus untuk yang ditahbiskan

Ada beberapa busana liturgis khusus untuk petugas yang ditahbiskan (klerus), yang tidak boleh
dikenakan atau bahkan ditiru untuk petugas liturgis awam. Unsur busana khusus itu adalah stola,
kasula, dalmatik, dan velum. Selain mengenakan beberapa unsur di atas sebelumnya (amik, alba,
singel), beberapa unsur berikut ini kemudian melengkapi penampilan se- orang petugas yang
ditah- biskan sesuai dengan kebu- tuhan perayaannya.
Stola, lambang penugasan resmi

Stola adalah semacam selendang panjang; simbol bahwa yang mengenakannya sedang
melaksanakan tugas resmi Gereja, terutama menyangkut tugas pengudusan (imamat).
Stola melambang-kan otoritas atau ke- wenangan dalam pelayanan sakra-mental dan berkhotbah. Secara khusus, sesuai dengan doa ketika mengenakan-nya, stola dimaknai sebagai simbol
kekekalan. Warnanya sesuai dengan warna masa liturgi pada saat perayaan dilangsungkan.

Stola hanya digunakan oleh diakon dan imam.

Diakon memakainya menyilang, dari pundak kiri ke pinggang kanan.


Imam memakainya dengan cara mengalungkannya di leher, dua ujung stola itu ke depan, dibiarkan menggantung (PUMR 340).

Dulu (sebelum pembaruan liturgis 1970), cara ini hanya untuk uskup atau abas, pejabat yang
biasanya mengenakan kalung salib (pektoral) kalung salib semacam itu pun sebenarnya tidak
perlu diperlihatkan di atas kasula, dalmatik, atau pluviale, tapi boleh di atas mozzetta (lihat CE /
Caeremoniale Episco-porum 61). Sedangkan para imamnya dulu mengalungkan stola dan
kemudian menyilangkannya di depan. Sekali lagi, baik imam maupun uskup sekarang boleh
mengenakan stola dengan cara yang sama (CE 66).
Kasula, lambang cinta dan pengorbanan

Kasula adalah busana khas untuk imam, khususnya selebran dan konselebran utama, yang
dipakai untuk memimpin Perayaan Ekaristi
Kasula melambangkan keutamaan cinta kasih dan ketulusan untuk melaksanakan tugas yang
penuh pengorbanan diri bagi Tuhan. Warnanya sesuai dengan warna liturgi untuk perayaannya.
Model kasula mengalami beberapa perubahan dan variasi. Dari yang panjang dan mewah banyak
hiasannya, lalu yang tampak minimalis dengan lengannya seperti terpotong, sampai yang
sederhana polos.

Hingga saat ini setidaknya ada dua macam model atau cara pemakaian stolanya. Kasula dengan
stola dalam berarti memakai stolanya di dalam, tertutup kasula. Kasula dengan stola luar berarti
stolanya di atas kasula.
Dalmatik, untuk pelayanan Misa

Dalmatik dikenakan setelah stola diakon. Ini adalah busana resmi diakon tatkala bertugas
melayani dalam Misa/Perayaan Ekaristi, khususnya yang bersifat agung/meriah.
Busana ini melambang-kan sukacita dan kebaha-giaan yang merupakan buah-buah dari pengabdiannya kepada Allah.

Warna atau motif dalmatik disesuaikan dengan kasula imam yang dilayaninya pada waktu Misa.
Bentuk dalmatik seolah mirip kasula, namun sebenarnya mempunyai pola berbeda.Biasanya ada

beberapa garis menghiasinya.


Velum
Velum adalah semacam kain putih/kuning/emas lebar yang dipakai pada punggung ketika
membawa Sakramen Mahakudus dalam prosesi (ingat saat pemindahan Sakramen Mahakudus
pada bagian akhir Misa Pengenangan Perjamuan Tuhan, Kamis Putih malam!) dan memberi
berkat dengan Sakramen Mahakudus.
Memang unsur busana ini tidak dipakai dalam Perayaan Ekaristi, namun sangat ber-kaitan
dengan Sakramen Ekaristi, yakni dalam adorasi atau penghormatan kepada Sakramen
Mahakudus. Kain semacam itu biasanya dihiasi. Ada juga yang tanpa hiasan, namun dipakai
untuk mem-bawa tongkat gembala dan mitra uskup, ketika seorang uskup memimpin Perayaan
Ekaristi meriah. Velum untuk tongkat dan mitra uskup itu biasanya berwarna putih saja.

Pluviale

Ini semacam mantel panjang (Latin: pluvia = hujan) yang digunakan di luar Perayaan Ekaristi
dan dalam perarakan liturgis, atau perayaan liturgis lain yang rubriknya menuntut digunakan
busana itu (misalnya untuk liturgi pemberkatan). Kita bisa melihatnya meski sudah jarang
jika imam mengenakannya dalam perarakan sebelum Misa Minggu Palma. Jenis busana ini
memang tidak langsung berkaitan dengan Misa, tapi sering digunakan sebelum Misa itu sendiri.
Norma umum berbusana liturgi

Baik Imam Selebran maupun Imam Konselebran mengenakan busana yang sama, kecuali jika
sang Imam Selebran adalah seorang Uskup. Biasanya uskup mengenakan tanda-tanda lain yang
tidak dimiliki imam biasa. Namun, pada beberapa tahap berbusana, sebenarnya ada norma
tertentu yang berlaku untuk setiap petugas liturgis, khususnya pemimpin liturgis.
Singkatnya, busana dasar- nya adalah alba (yang putih!), sebelumnya bisa memakai amik
(tertutup alba), dan sesudahnya bisa memakai singel. Jika diakon, sesudah itu ia mengenakan
stola, kemudian dalmatik. Jika imam, setelahnya me- makai stola, lalu kasula; atau dapat juga
langsung
kasula, lalu stola luar.Seorang uskup agung (metropolis) juga mengenakan palium, semacam
kalung dari kain keras, ada warna putih dan hitam, berikut beberapa simbol salib. Uskup biasa
(sufragan) tidak mempunyai palium. Salib dada (pektoral) seorang uskup sebenarnya tidak
dikeluarkan (CE 61), alias tidak tampak pada kasula, alias sebaiknya dicopot atau disembunyikan
saja di balik kasula. Salib pektoral seorang uskup merupakan bagian dari pakaian (jubah)
kesehariannya (termasuk di antaranya topi kecil [pelliolum, soli Deo] dan cincin). Salib semacam
itu bukan bagian dari perlambangan busana liturgis, berbeda halnya dengan mitra dan tongkat
gembala.
Busana untuk awam jangan sama dengan klerus

Mungkin kita pernah melihat bahwa seorang bapak pembagi komuni berbusana mirip seorang
imam, dengan memakai semacam stola; atau mirip seorang uskup, lengkap dengan jubah putih
dan singel ungu (karena masa Prapaskah atau Adven), beserta salib pektoralnya. Wow! Instruksi
Redemptionis Sacramentum mengingatkan bahwa umat awam tidak pernah boleh bertindak atau
berbusana liturgis seperti seorang imam atau diakon, atau memakai busana yang mirip dengan
busana dimaksud (RS 152). Maksud larangan itu adalah untuk menghindari kerancuan simbolis,
atau terutama untuk tidak mengaburkan apa yang menjadi tugas khas masing-masing (RS 151).
Maksud aneka warna busana liturgis
Peraturan tentang warna liturgis secara khusus berlaku untuk busana liturgis. Ada beraneka
warna yang digunakan. Maksud keanekaragaman warna busana liturgis itu adalah [1] untuk
secara lahiriah dan berhasil guna mengungkapkan ciri khas misteri iman yang dirayakan; [2] dan
dalam kerangka tahun liturgi, untuk mengungkapkan makna tahap-tahap perkembangan dalam
kehidupan kristen (PUMR 345).
Kapan menggunakan warna tertentu?
Warna-warna yang masih berlaku:
[1] putih: untuk Masa Paskah, Natal, perayaan-perayaan Tuhan Yesus (kecuali peringatan
sengsara-Nya), pesta Maria, para malaikat, orang kudus yang bukan martir, Hari Raya Se-mua
Orang Kudus (1 November), kelahiran St. Yohanes Pembaptis (24 Juni), Pesta Yohanes
Pengarang Injil (27 Desember), Pesta St. Petrus Rasul (22 Februari), dan Pesta Bertobatnya St.
Paulus Rasul (25 Januari). Warna putih juga bisa dipakai untuk Misa Ritual (PUMR 347);
[2] merah: untuk Minggu Palma, Jumat Agung, Minggu Pentakosta, perayaan Sengsara Tuhan,
pesta para rasul dan pengarang Injil (kecuali Yohanes), perayaan para martir;
[3] hijau: untuk Masa Biasa sepanjang tahun;
[4] ungu: untuk Masa Adven dan Prapaskah, dan Liturgi Arwah;
[5] hitam: untuk Misa Arwah, meskipun kini sudah jarang digunakan;
[6] jingga: untuk hari Minggu Gaudete (Minggu Adven III) dan Laetare (Minggu Prapaskah IV),
jika memang sudah biasa (PUMR 346).
Bisakah warna itu diganti?
Perubahan warna tertentu untuk perayaan khusus diizinkan juga. Ini biasa terjadi dalam konteks
kultural tertentu yang mungkin memiliki konsep makna berbeda tentang warna. Namun,
kewenangan untuk mengubah demi penyerasian kultural itu ada pada pihak Konferensi Uskup,
yang kemudian perlu memberitahukannya kepada Takhta Apostolik (PUMR 346) sebelum
memberlakukannya.

Bahan dan hiasannya


Biasanya busana liturgis itu terbuat dari kain, entah bahannya dari apa. Bahan apa saja memang
boleh digu-nakan asal selaras dengan martabat perayaan liturgis dan cocok untuk keadaan
pelayan liturgi yang mengenakan-nya (PUMR 343). Untuk daerah tropis seperti di Indonesia.
kiranya ada bahan-bahan yang lebih cocok. Tidak semua busana liturgis buatan luar negeri
(Eropa atau Amerika, misalnya) nyaman dipakai untuk daerah-daerah di Indonesia. Bahkan,
busana liturgis buatan dalam negeri pun juga tidak semuanya nyaman bagi orang kita. Maka,
perlulah setiap daerah memertimbangkan sendiri jenis kain atau bahan yang cocok untuk
daerahnya, agar busana liturgis tidak menjadi gangguan bagi yang memakainya. Itu dari sisi
pemakainya (petugas liturgi).
Sekarang perlu juga kita pertimbangkan dari sisi yang melihatnya, yaitu jemaat pada umumnya.
Unsur keindahan dan keanggunannya sangat penting dan perlu diperhatikan. Keindahan dan
keanggunan busana liturgis bukan ditentukan oleh banyak dan mewahnya hiasan, melainkan
karena bahan dan bentuk potongannya. Juga bukan karena murah atau mahal harganya. Namun,
juga jangan terlalu pelit untuk mengadakan busana yang membantu mencitrakan kekudusan ini.
Hiasan yang berupa gambar atau lambang hendaknya juga sesuai dengan liturgi, khususnya
Ekaristi (PUMR 344). Proporsi ornamen itu sebaiknya juga disesuaikan dengan interior atau
bentuk bangunan gerejanya. Misalnya, untuk interior atau tata ruang gereja yang sudah meriah,
mungkin tidak perlu lagi busana liturgi yang meriah atau ramai. Atau juga, busana liturgis
bermotif batik-Jawa (atau motif tradisional lain) mungkin kurang sesuai jika dikenakan di dalam
gereja yang bergaya gotik-Eropa, tapi lebih cocok dalam gereja yang bergaya joglo ala rumah
Jawa (atau bergaya tradisional lainnya).
PERALATAN MISA
PIALA

(calix =cawan)
Piala adalah cawan yang menjadi tempat anggur untuk dikonsekrasikan, dimana
sesudah konsekrasi menjadi tempat untuk Darah Mahasuci Kristus.
Melihat fungsinya,maka Piala harus dibuat dari logam mulia. Piala melambangkan cawan yang
dipergunakan Tuhan kitapada Perjamuan Malam Terakhir di mana Ia untuk pertama kalinya
mempersembahkan Darah-Nya.Piala melambangkan cawan Sengsara Kristus (Ya Abba,
ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, Mrk 14:36);
dan yang terakhir, piala melambangkan Hati Yesus, darimana mengalirlah Darah-Nya demi
penebusan kita
PURIFIKATORIUM

berasal dari bahasa Latin


purificatorium
, yaitu sehelai kain lenan berwarna putih berbentuk segi empat untuk membersihkan
piala, sibori dan patena. Sesudah dipergunakan, purifikatorium dilipat tigamemanjang lalu
diletakkan di atas piala.
PATENA

berasal dari bahasa Latin yang artinya


piring.
Patena, yang sekarang berbentuk bundar,datar, dandirancang untuk roti pemimpin Perayaan
Ekaristi, aslinya
sungguh sebuah piring
. Dengan munculnyaroti-roti kecil yang dibuat khusus untuk umat yang biasanya disimpan dalam
sibori, fungsi dari patenasebagai piring menghilang. Maka bentuknya menjadi lebih kecil (Sejak
abad 11). Menurut PUMR 2000,"
untuk konsekrasi hosti, sebaiknya digunakan patena yang besar, di mana ditampung hosti,baik
untuk imamdan diakon, maupun untuk para pelayan dan umat (No. 331)
.Patena, hendaknya dibuat serasi dengan pialanya, dari bahan yang sama dengan piala, yaitu dari
emasatau setidak-tidaknya disepuh emas. Patena diletakkan di atas purifikatorium.

PALLA

berasal dari bahasa Latin


palla corporalis
yang berarti
kain untukTubuh Tuhan
, adalah kain lenanputih yang keras dan kaku seperti papan, berbentuk bujursangkar,
dipergunakan untuk menutup piala.Palla
melambangkan batu makam yang digulingkan para prajurit Romawi
untuk menutup pintumasuk ke makam Yesus.
Palla diletakkan di atas Patena
.
CORPORALE

Sehelai kain lenan putih berbentuk bujur sangkar dengan gambar salib kecil di tengahnya.
Seringkalipinggiran korporale dihiasi dengan renda.Dalam perayaan Ekaristi, imam
membentangkan korporale di atas altar sebagai alas untuk bejana- bejana suci roti dan
anggur. Setelah selesai dipergunakan,korporale dilipat menjadi tiga memanjang,lalu dilipat
menjadi tiga lagi dari samping dan ditempatkan di atas Palla.
SIBORI

berasal dari bahasa Latin cyborium yang berarti piala dari logam,adalah bejana serupa piala,
tetapid e n g a n t u t u p d i a t a s n ya . S i b o r i a d a l a h w a d a h u n t u k r o t i - r o t i k e c i l
y a n g a k a n d i b a g i k a n d a l a m Komunikepada umat beriman. Sibori dibuat dari logam
mulia, bagian dalamnyabiasa dibuat dari emasatau disepuh emas.
PIKSIS

berasal dari bahasa Latin pyx yang berarti kotak, adalah sebuahwadah kecil
berbentuk bundardengan engsel penutup, serupa wadah jamkuno. Piksis biasanya dibuat dari
emas. Piksis dipergunakanuntukmenyimpan Sakramen Mahakudus, yang akan dihantarkan
kepada mereka yang sakit, atau yangakan ditahtakan dalam kebaktian kepada Sakramen
Mahakudus.
MONSTRANS

berasal dari bahasa Latin monstrans, monstrare yang berartimempertontonkan, adalah bejana
sucitempat Sakramen Mahakudusditahtakan atau dibawa dalam prosesi.
AMPUL

adalah dua bejana yang dibuat dari kaca atau logam, bentuknya seperti b u yu n g
kecil dengan tutup di atasnya. Ampul adalah bejana- bejana darimana imam
a t a u d i a k o n menuangkan air dan anggur ke dalam piala. Selaluada dua ampul di
atas meja kredens dalam setiapMisa.

Sendok kecil

Berfungsi untuk mengambil air yang akan di campur dengan anggur.

LAVABO

b e r a s a l d a r i b a h a s a L a t i n l a v a r e ya n g b e r a r t i m e m b a s u h , a d a l a h bejana
berbentuk seperti buyung kecil, atau dapat juga berupa mangkuk,tempat menampung air
bersihya n g d i p e r g u n a k a n i m a m u n t u k m e m b a s u h t a n g a n s e s u d a h p e r s i a p a n
p e r s e m b a h a n . S e b u a h l a p biasanya menyertai lavabo untuk dipergunakan mengeringkan
tangan imam.
TURIBULUM

(disebutjuga
Pedupaan/wiruk), berasaldaribahasa Latin thuris yang berarti dupa, adalahbejana di
manadupadibakaruntukpendupaanliturgis.Turibulumterdiridarisuatubadandarilogamdengantutupt
erpisah yangmenudungisuatuwadahuntukarangdandupa; turibulumdibawadandiayunayunkandengantigarantai yang
dipasangpadabadannya,sementararantaikeempatdigunakanuntukmenggerak-gerakkantutupnya.
Pada turibulumdipasangbaraapi, lalu
diatasnyaditaburkanserbukdupasehinggaasapdupamembubungdanmenyebarkanbauharum.Dupaa
dalahharum-haruman yang dibakarpadakesempatan-kesempatanistimewa, sepertipadaMisa
yangmeriahdan
PujiankepadaSakramenMahakudus.

NAVIKULA

(disebutjugaWadahDupa) adalahbejanatempatmenyimpanserbukdupa.Dupaadalahgetah yang


harumdanrempah-rempah yang diambildaritanamtanaman,biasanyadibakardengancampurantambahangunamenjadikanasapnyalebihtebaldanaroma
nyalebihharum.Asapdupayangdibakarnaikkeatasmelambangkannaiknyadoa-

doaumatberimankepadaTuhan.
Adapadakitacatatanmengenaipenggunaandupabahkansejakawalkisah
P
erjanjianLama.SecarasimbolisdupamelambangkansemangatumatKristiani yangberkobar-kobar,
harummewangikeutamaan-keutamaandannaiknyadoa-doadanperbuatanperbuatanbaikkepadaTuhan.
ASPERGILUM

berasaldaribahasa Latin aspergere yang berarti mereciki,adalahsebatangtongkatpendek, di


ujungnyaterdapatsebuah bolalogamyangberlubang-lubang, dipergunakanuntukmerecikkan
airsucipadaorangataubendadalamAspergesdanpemberkatan.
Bejana AirSuciadalahwadahyangdipergunakanuntukmenampung air
suci;kedalamnyaaspergilumdicelupkan.
SACRAMENTARIUM

atau
Buku Misa adalah buku pegangan imam pada waktu memimpin perayaan Ekaristi, berisi doa-doa
dan tata perayaan Ekaristi.

LILIN

: melambangkan Yesus Kristus, Sang Terang


Dunia.
KANDELAR

: tempat lilin.
LUNULA

: Berbentuk sabit untuk mengapit hosti kudus


yang ditempatkan dalam Monstrans.

KUSTODIA

: Sibori kecil tempat menyimpan Hosti besar


yang diapit lunula setelah digunakan dalam perarakan atau adorasi.
TEMPAT MINYAK SUCI:

Kaleng untuk menyimpan minyak yang sudah diberkati.


Ada tiga jenis minyak suci:
OC (Oleum Cathechumenorum) minyak untuk para katekumen/calon

baptis.

SC (Sanctum Chrisma) minyak untuk penerimaan Sakramen Krisma.


OI

(Oleum Infirmorum) minyak untuk pengurapan orang sakit.

JUBAH MISDINAR & KERAH LEBAR:


Warnanya sesuai dengan warna liturgi.
SUPERPLI

: Alba yang panjangnya sebatas pinggang.


JUBAH USKUP

: Berwarna hitam atau putih dengan kombinasi ungu.


SALIB DADA

CINCIN USKUP

: Dipakai di tangan kanan, lambang


kesetiaan.

TOPI MERAH

MITRA
Uskup saat memimpin liturgi.

Topi

yang

dikenakan

TONGKAT USKUP
wewenang sebagai gembala umat.

MANTOL USKUP

:Melambangkan