Anda di halaman 1dari 13

PENGHAPUSAN PIUTANG PAJAK

A. Pengertian Piutang Pajak yang Dapat Dihapuskan


Pada pasal 24 UU KUP dijelaskan bahwa, tata cara penghapusan piutang pajak dan
penetapan besarnya penghapusan diatur dengan/atau berdasarkan Peraturan Menteri
Keuangan. Hal ini tertuang dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor 539/KMK.03/2002
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan No. 68/PMK.03/2012 tentang
Tata Cara Penghapusan Piutang Pajak dan Penetapan Besarnya Piutang Pajak.
Dirjen Pajak memberikan kebijaksanaan dan kepastian hukum bagi Wajib Pajak yang
masih memiliki kewajiban pajak yang masih terhutang namun dapat dihapuskan sebagaimana
dalam ketentuan tersebut. Menteri Keuangan mengatur tata cara penghapusan dan
menentukan besarnya jumlah piutang pajak yang tidak dapat ditagih lagi, antara lain karena
wajib pajak telah meninggal dunia dan tidak mempunyai harta warisan atau kekayaan. Wajib
pajak badan yang telah selesai proses pailitnya, atau Wajib Pajak yang tidak memenuhi syarat
lagi sebagai subjek pajak dan hak untuk melakukan penagihan pajak telah daluarsa. Melalui
cara ini dapat diperkirakan secara efektif besarnya saldo piutang pajak yang akan dapat
ditagih atau dicairkan.
Piutang pajak yang dapat dihapuskan adalah piutang pajak yang tercantum dalam:
a) Surat Tagihan Pajak (STP);
b) Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB);
c) Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT);
d) Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang (SPPT);
e) Surat Ketetapan Pajak (SKP);
f) Surat Ketetapan Pajak Tambahan (SKPT); atau
g) Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, Putusan Banding, serta
Putusan Peninjauan Kembali, yang menyebabkan jumlah pajak yang masih harus
dibayar bertambah.

B. Gambaran Umum Tata Cara Penghapusan Piutang Pajak


Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 68/PMK.03/2012, dijelaskan
mengenai tata cara penghapusan piutang pajak dan penetapan besarnya penghapusan. Pertama
kali, untuk memastikan keadaan Wajib Pajak atau piutang pajak yang tidak dapat ditagih lagi,
wajib dilakukan penelitian setempat atau penelitian administrasi oleh Kantor Pelayanan Pajak.
Penelitian tersebut dilakukan oleh Jurusita Pajak dan hasilnya dituangkan dalam laporan hasil
penelitian. Kemudian Laporan hasil penelitian tersebut harus menguraikan keadaan Wajib
Pajak dan piutang pajak yang bersangkutan sebagai dasar untuk menentukan besarnya piutang
pajak yang tidak dapat ditagih lagi dan diusulkan untuk dihapuskan.
1

Berdasarkan laporan hasil penelitian, Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyusun daftar
usulan penghapusan piutang pajak. Daftar usulan penghapusan piutang pajak disampaikan
kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak atasannya.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak menyampaikan daftar usulan
penghapusan piutang pajak yang telah dilakukan penelitian kepada Direktur Jenderal Pajak.
Direktur Jenderal Pajak mengusulkan penghapusan piutang pajak kepada Menteri
Keuangan. Berdasarkan usulan penghapusan piutang pajak sebagaimana dimaksud pada
penjelasan diatas, Menteri Keuangan menerbitkan Keputusan Menteri Keuangan mengenai
penghapusan piutang pajak. Dan Keputusan Menteri Keuangan mengenai penghapusan
piutang pajak untuk menghapuskan piutang pajak, dibuat sesuai dengan contoh format
sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari
Peraturan Menteri keuangan.
Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan mengenai penghapusan piutang pajak,
Direktur Jenderal Pajak melakukan:
a) penetapan mengenai rincian atas besarnya penghapusan piutang pajak; dan
b) hapus tagih dan hapus buku atas piutang pajak tersebut sesuai dengan Standar Akuntansi
Pemerintahan yang berlaku.
Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan atas penugasan dari Menteri Keuangan
melakukan reviu atas usulan penghapusan piutang pajak yang disampaikan oleh Direktorat
Jenderal Pajak.

C. Syarat-Syarat Penghapusan Piutang Pajak


Penghapusan piutang pajak dapat dilakukan dalam hal hak menagih Direktorat Jenderal
Pajak telah melampaui jangka waktu dalam jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak
penerbitan Surat Tagihan Pajak, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar, serta Surat Ketetapan
Pajak Kurang Bayar Tambahan, dan Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan
Keberatan, Putusan Banding, serta Putusan Peninjauan Kembali.
Untuk memastikan keadaan Wajib Pajak atau piutang pajak yang tidak dapat atau tidak
mungkin ditagih lagi, Direktorat Jenderal Pajak wajib dilakukan penelitian setempat atau
penelitian administrasi dan hasilnya dilaporkan dalam Laporan Hasil Penelitian. Laporan
Hasil Penelitian tersebut harus menggambarkan keadaan Wajib Pajak atau Piutang Pajak yang
bersangkutan sebagai dasar untuk menentukan besarnya Piutang Pajak yang tidak dapat
ditagih lagi sehingga diusulkan untuk dihapus.
Piutang Pajak hanya dapat diusulkan untuk dihapuskan setelah adanya Laporan Hasil
Penelitian dan Kepala Kantor Pelayanan Pajak setiap akhir tahun takwim menyusun Daftar
Usulan Penghapusan Piutang Pajak berdasarkan Laporan Hasil Penelitian. Usulan
Penghapusan Piutang Pajak setiap awal tahun berikutnya disampaikan kepada Kepala Kantor
2

Wilayah Direktorat Jenderal Pajak atasannya. Selanjutnya, Kepala Kantor Wilayah Direktorat
Jenderal Pajak menyampaikan Daftar Usulan Penghapusan Piutang Pajak yang telah diteliti
kepada Direktur Jenderal Pajak.
Piutang pajak yang dapat dihapuskan untuk Wajib Pajak orang pribadi adalah piutang
pajak yang tidak dapat ditagih lagi karena:
a) Wajib Pajak dan/atau Penanggung Pajak meninggal dunia dan tidak mempunyai harta
warisan atau kekayaan;
b) Wajib Pajak dan/atau Penanggung Pajak tidak dapat ditemukan;
c) hak untuk melakukan penagihan pajak sudah daluwarsa;
d) dokumen sebagai dasar penagihan pajak tidak ditemukan dan telah dilakukan
penelusuran secara optimal sesuai dengan ketentuan perundang-undangan di bidang
perpajakan; atau
e) hak negara untuk melakukan penagihan pajak tidak dapat dilaksanakan karena
kondisi tertentu sehubungan dengan adanya perubahan kebijakan dan/atau
berdasarkan pertimbangan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.
Piutang pajak yang dapat dihapuskan untuk Wajib Pajak badan adalah piutang pajak
yang tidak dapat ditagih lagi karena:
a) Wajib Pajak bubar, likuidasi, atau pailit dan Penanggung Pajak tidak dapat
ditemukan;
b) hak untuk melakukan penagihan pajak sudah daluwarsa;
c) dokumen sebagai dasar penagihan pajak tidak ditemukan dan telah dilakukan
penelusuran secara optimal sesuai dengan ketentuan perundang-undangan di bidang
perpajakan; atau
d) hak negara untuk melakukan penagihan pajak tidak dapat dilaksanakan karena
kondisi tertentu sehubungan dengan adanya perubahan kebijakan dan/atau
berdasarkan pertimbangan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.

D. Penelitian Setempat dan Penelitian Administrasi


Usulan penghapusan piutang pajak harus dilakukan dengan prinsip kehati-hatian.
Untuk mencerminkan prinsip kehati-hatian tersebut, salah satu kewajiban Jurusita Pajak
adalah wajib melakukan penelitian atas piutang pajak yang tidak dapat ditagih lagi, baik
penelitian administrasi maupun penelitian setempat, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2
ayat (1) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 68/PMK.03/2012 tanggal 2 Mei 2012 tentang
Tata Cara Penghapusan Piutang Pajak dan Penetapan Besarnya Penghapusan. Hasil penelitian
tersebut dituangkan dalam laporan hasil penelitian.
Laporan hasil penelitian harus menguraikan keadaan Wajib Pajak dan piutang pajak
yang bersangkutan sebagai dasar untuk menentukan besarnya piutang pajak yang tidak dapat
3

ditagih lagi dan diusulkan untuk dihapuskan. Berdasarkan laporan hasil penelitian, Kepala
Kantor Pelayanan Pajak menyusun daftar usulan penghapusan piutang pajak. Daftar usulan
penghapusan piutang pajak selanjutnya disampaikan kepada Kepala Kantor Wilayah
Direktorat Jenderal Pajak atasannya. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak
menyampaikan daftar usulan penghapusan piutang pajak yang telah dilakukan penelitian
kepada Direktur Jenderal Pajak. Direktur Jenderal Pajak mengusulkan penghapusan piutang
pajak kepada Menteri Keuangan. Berdasarkan usulan penghapusan piutang pajak, Menteri
Keuangan menerbitkan Keputusan Menteri Keuangan mengenai penghapusan piutang pajak.
Selanjutnya, berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan mengenai penghapusan piutang pajak
tersebut, Direktur Jenderal Pajak akan melakukan penetapan mengenai rincian atas besarnya
penghapusan piutang pajak serta hapus tagih dan hapus buku atas piutang pajak tersebut
sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan yang berlaku. Terakhir, Inspektorat Jenderal
Kementerian Keuangan atas penugasan dari Menteri Keuangan melakukan reviu atas usulan
penghapusan piutang pajak yang disampaikan oleh Direktorat Jenderal Pajak.
Penelitian administrasi adalah penelitian yang dilakukan dalam rangka penghapusan
piutang pajak yang tidak dapat ditagih lagi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (2)
huruf c dan huruf d serta Pasal 1 ayat (3) huruf b dan huruf c Peraturan Menteri Keuangan
Nomor 68/PMK.03/2012 tentang Tata Cara Penghapusan Piutang Pajak dan penetapan
Besarnya Penghapusan, karena :
a. Hak untuk melakukan penagihan pajak sudah daluwarsa.
b. Dokumen sebagai dasar penagihan pajak tidak ditemukan dan telah dilakukan
penelusuran secara optimal sesuai dengan ketentuan perundang-undangan di bidang
perpajakan.
Pasal 1 ayat (2) huruf c dan huruf d serta Pasal 1 ayat (3) huruf b dan huruf c
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 68/PMK.03/2012 tentang Tata Cara Penghapusan
Piutang Pajak dan penetapan Besarnya Penghapusan menyatakan sebagai berikut:
Pasal 1 ayat (2) huruf c dan huruf d:
Piutang pajak yang dapat dihapuskan sebagaimana dimaksud pada Pasal 1 ayat (1)
Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor : 68/PMK. 03/2012 untuk Wajib
Pajak orang pribadi adalah piutang pajak yang tidak dapat ditagih lagi karena:

hak untuk melakukan penagihan pajak sudah daluwarsa;

dokumen sebagai dasar penagihan pajak tidak ditemukan dan telah dilakukan
penelusuran secara optimal sesuai dengan ketentuan perundang-undangan di bidang
perpajakan.

Pasal 1 ayat (3) huruf b dan huruf c:


Piutang pajak yang dapat dihapuskan sebagaimana dimaksud pada Pasal 1 ayat (1)
Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor : 68/PMK. 03/2012 untuk Wajib
Pajak badan adalah piutang pajak yang tidak dapat ditagih lagi karena:

hak untuk melakukan penagihan pajak sudah daluwarsa;

dokumen sebagai dasar penagihan pajak tidak ditemukan dan telah dilakukan
penelusuran secara optimal sesuai dengan ketentuan perundang-undangan di bidang
perpajakan.
Penelitian setempat adalah penelitian yang dilakukan dalam rangka penghapusan

piutang pajak yang tidak dapat ditagih lagi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (2)
huruf a dan b serta Pasal 1 ayat (3) huruf a Peraturan Menteri Keuangan Nomor
68/PMK.03/2012 tentang Tata Cara Penghapusan Piutang Pajak dan Penetapan Besarnya
Penghapusan, karena :

Wajib Pajak Orang Pribadi dan/atau Penanggung Pajak meninggal dunia dan tidak
mempunyai harta warisan atau kekayaan.

Wajib Pajak Orang Pribadi dan/atau Penanggung Pajak tidak dapat ditemukan.

Wajib Pajak Badan bubar, likuidasi, atau pailit dan Penanggung Pajak tidak dapat
ditemukan.
Penelitian yang dilakukan dalam rangka penghapusan piutang pajak yang tidak dapat

ditagih lagi karena hak negara untuk melakukan penagihan pajak tidak dapat dilaksanakan
karena kondisi tertentu sehubungan dengan adanya perubahan kebijakan dan/atau berdasarkan
pertimbangan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1
ayat (2) huruf e serta Pasal 1 ayat (3) huruf d Peraturan Menteri Keuangan Nomor
68/PMK.03/2012 tentang Tata Cara Penghapusan Piutang Pajak dan Penetapan Besarnya
Penghapusan, dapat dilakukan dengan penelitian administrasi maupun penelitian setempat
tergantung kondisi dan latar belakang penghapusan piutang pajak tersebut.
Pengusulan penghapusan piutang pajak dilakukan secara berjenjang dari Kepala
Kantor Pelayanan Pajak kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak dan
selanjutnya kepada Direktur Jenderal Pajak. Usulan penghapusan piutang pajak dari Kepala
Kantor Pelayanan Pajak harus telah diteliti kebenarannya oleh Kepala Kantor Wilayah
Direktorat Jenderal Pajak sebelum disampaikan kepada Direktur Jenderal Pajak. Berdasarkan
Keputusan Menteri Keuangan mengenai penghapusan piutang pajak, Direktur Jenderal Pajak
melakukan:
a. penetapan mengenai rincian atas besarnya penghapusan piutang pajak; dan
b. hapus tagih dan hapus buku atas piutang pajak tersebut sesuai dengan Standar Akuntansi
Pemerintahan yang berlaku.

Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan atas penugasan dari Menteri Keuangan


melakukan reviu atas usulan penghapusan piutang pajak yang disampaikan oleh Direktorat
Jenderal Pajak.Keseluruhan proses pengusulan penghapusan piutang pajak dan tindak lanjut
penerbitan Keputusan Menteri Keuangan (KMK) tentang penghapusan piutang pajak harus
diadministrasikan secara tertib dan cermat untuk tujuan pelaporan keuangan dan evaluasi
kinerja penagihan.

E. Temuan BPK Penetapan dan Penagihan Pajak Tidak Sesuai Ketentuan yang
Mengakibatkan Piutang Pajak Daluwarsa Sebesar Rp800,88 Miliar
Neraca LKPP Tahun 2013 (Audited) menyajikan jumlah piutang pajak bruto pada
Neraca sebesar Rp103.240.249.433.833,00. Dari nilai piutang pajak bruto tersebut, nilai
piutang pajak bruto pada DJP adalah sebesar Rp77.366.561.749.071,00 dengan nilai piutang
bersih yang dapat direalisasikan (Net Realizable Value) sebesar Rp28.581.451.198.172,00.
Piutang pajak berasal dari ketetapan pajak yang diterbitkan DJP, namun masih belum
dilakukan pelunasan oleh WP. Atas ketetapan yang belum lunas dan telah melewati jatuh
tempo pembayaran, DJP melakukan penagihan kepada WP. Untuk memberikan kepastian
hukum dan keadilan bagi WP, Undang-Undang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan diantaranya mengatur daluwarsa penetapan dan penagihan pajak. Hak untuk
melakukan penagihan pajak, termasuk bunga, denda, kenaikan, dan biaya penagihan pajak,
daluwarsa setelah melampaui waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak penerbitan STP, SKPKB,
serta SKPKBT, dan Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, Putusan
Banding, serta Putusan Peninjauan Kembali.
Untuk Tahun Pajak 2007 ke bawah, hak untuk melakukan penagihan pajak, termasuk
bunga, denda, kenaikan, dan biaya penagihan pajak, daluwarsa setelah lampau waktu sepuluh
tahun terhitung sejak saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak, Bagian Tahun
Pajak atau Tahun Pajak yang bersangkutan. Atas piutang pajak yang telah daluwarsa, negara
tidak memiliki hak untuk melakukan penagihan pajak termasuk Surat Teguran, Surat Paksa,
Surat Perintah Melakukan Penyitaan (SPMP), penyitaan, hingga pelaksanaan lelang.
Dari nilai piutang pajak bruto pada DJP sebesar Rp77.366.561.749.071,00, CaLK
C.2.11

mengungkapkan

bahwa

terdapat

Piutang

Pajak

daluwarsa

sebesar

Rp15.331.353.474.096,00. Berdasarkan hasil pemeriksaan BPK atas daluwarsa penetapan dan


penagihan, diketahui permasalahan sebagai berikut.
1. DJP Menerbitkan SKP Senilai Rp74.357.250.010,00 Setelah Masa/Tahun
Pajaknya Daluwarsa
Selama TA 2013 DJP telah menerbitkan SKP yang berasal dari pemeriksaan dan
penelitian

sejumlah

526.308

ketetapan

senilai

Rp36.380.287.616.910,00

dan

USD632,681,281.00. Dari penerbitan ketetapan sejumlah tersebut, terdapat 822 SKP


6

senilai Rp74.357.250.010,00 yang diterbitkan melewati jangka waktu atau daluwarsa


penetapannya. SKP tersebut merupakan ketetapan pajak atas PPh Pasal 21, PPh Pasal
22, PPh Pasal 23, PPh Pasal 4 Ayat (2), PPN, dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah
(PPnBM) yang atas penetapan pajaknya melewati jangka waktu lima tahun dari
berakhirnya masa pajak. Hasil penelusuran ke data pembayaran pajak menunjukkan
dari SKP yang telah daluwarsa tersebut senilai Rp24.111.674.979,00 telah dibayar oleh
WP dan senilai Rp50.245.575.031,00 belum dibayar oleh WP
2. DJP

Tidak Melakukan Penagihan Aktif

atas

Piutang Pajak Senilai

Rp81.818.152.650,00 Sehingga Piutang Tersebut Menjadi Daluwarsa


Berdasarkan penelitian pada database piutang pajak, diketahui terdapat piutang
pajak yang tidak dilakukan penagihan aktif oleh DJP baik tidak dilakukan penagihan
sama sekali, maupun hanya sampai dengan penerbitan Surat Paksa tanpa dilanjutkan
dengan kegiatan penyitaan
3. SKPKBT PT A.2.1 Tertanggal 21 November 2013 Senilai Rp668.818.723.800,00
Diterbitkan Menjelang Daluwarsa Penagihan Sehingga Tidak Dapat Dilakukan
Penagihan Aktif oleh KPP
Atas SKPKBT tersebut telah diterbitkan Surat Teguran tertanggal 10 Januari
2014, namun demikian, seharusnya atas SKPKBT tersebut tidak boleh diterbitkan Surat
Teguran karena telah melewati tanggal jatuh tempo daluwarsa penagihan dan tidak
menunda daluwarsa penagihannya. SKPKBT tersebut tidak dapat dilakukan penagihan
aktif dan telah daluwarsa penagihannya karena jangka waktu yang tidak memadai
untuk diterbitkan surat paksa. Dengan tidak setujunya PT A.2.1 atas pendapat
pemeriksa/ketetapan pajak tersebut dan tidak dapat dilakukannya penagihan aktif
menyebabkan hilangnya potensi penerimaan pajak sebesar Rp668.818.723.800,00.

Selain pengujian atas daluwarsa penetapan dan penagihan, BPK juga menemukan
tindakan penagihan tidak sesuai ketentuan yaitu:
1. DJP Menerbitkan Surat Paksa atas Piutang Pajak yang Telah Daluwarsa
Penagihan Sejumlah 40.274 SKP/STP Senilai Total Rp76.196.637.190,00
Berdasarkan hasil pemeriksaan atas database piutang pajak, diketahui terdapat
40.274 SKP/STP senilai total Rp76.196.637.190,00 yang telah daluwarsa penagihan,
tetapi diterbitkan Surat Paksa oleh DJP. BPK berpendapat bahwa penerbitan Surat
Paksa atas SKP/STP yang telah daluwarsa penagihan tidak sesuai dengan ketentuan
perpajakan yang berlaku. Atas SKP/STP yang telah daluwarsa penagihannya,
seharusnya Pemerintah tidak memiliki hak untuk melakukan penagihan secara aktif.
2. Tahapan Penagihan Pajak pada KPP Madya Semarang Belum Sepenuhnya
Dilaksanakan Sesuai Ketentuan
7

Berdasarkan data saldo akhir piutang pajak per 31 Desember 2013, data Surat
Teguran, dan data Surat Paksa serta Kertas Kerja Kualitas Piutang per 31 Desember
2013 diketahui bahwa belum seluruh tahapan penagihan dilaksanakan sesuai dengan
ketentuan dengan rincian sebagai berikut.
a) Terdapat 955 SKP/STP tidak diterbitkan Surat Teguran tujuh hari setelah jatuh
tempo;
b) Terdapat 338 SKP/STP belum diterbitkan Surat Paksa setelah 21 hari sejak ST
terbit;
c) Terdapat 382 SKP/STP belum diterbitkan SPMP setelah 2 x 24 jam sejak SP;
dan
d) Terdapat 62 SKP/STP belum dilakukan penyitaan setelah 14 hari sejak SPMP.

Permasalahan tersebut mengakibatkan Piutang Pajak sebesar Rp800.882.451.481,00


(Rp50.245.575.031,00 + Rp81.818.152.650,00 +Rp668.818.723.800,00) tidak dapat ditagih
oleh negara untuk menjadi penerimaan pajak.

Atas permasalahan tersebut, Pemerintah dhi. Kementerian Keuangan memberikan


tanggapan:
1. Terkait daluwarsa penetapan pajak, DJP mengakui hal ini terjadi karena keterbatasan
waktu penyelesaian pemeriksaan dari sejak diterimanya surat perintah pemeriksaan
pajak sampai dengan diterbitkannya laporan hasil pemeriksaan pajak. DJP akan
melakukan pembenahan manajemen pemeriksaan dalam rangka memonitor
penyelesaian pemeriksaan pajak.
2. Piutang pajak yang melewati jatuh tempo daluwarsa penagihan tanpa dilakukan
tindakan aktif secara memadai.
a) Kanwil DJP Jawa Barat II
Berdasarkan sampling dokumen yang disampaikan, Piutang Pajak daluwarsa
sebesar Rp49.381.912.116,00 tanpa tindakan penagihan pajak aktif, di dalamnya
terdapat piutang pajak yang telah lunas sebesar Rp297.351.229,00. Selanjutnya
piutang pajak telah daluwarsa sebesar Rp34.543.397.368,00 akan diusulkan
penghapusan. Sedangkan piutang pajak sebesar Rp14.541.163.519,00 akan
dilakukan tindakan penagihan aktif.
b) Kanwil DJP Jawa Tengah I
Berdasarkan UU KUP Nomor 28 Tahun 2007 Pasal 25 ayat (7) dan Pasal 27
ayat (5a), PP Nomor 74 Tahun 2011 Pasal 48, dan PMK Nomor 85/PMK.03/2010
Pasal 9, bahwa atas SKP yang diajukan keberatan/banding, tindakan
penagihannya tertangguh sampai dengan satu bulan setelah keluarnya surat
8

keputusan

keberatan/banding

dan

atas

STP

yang

SKP-nya

diajukan

keberatan/banding tindakan penagihannnya juga ditangguhkan sampai dengan


SKP tersebut mempunyai kekuatan hukum tetap, maka kemungkinan dari data
temuan tersebut ada WP yang mengajukan keberatan maupun banding dan belum
ada keputusan, sehingga terhadap SKP dan/atau STP-nya belum dilakukan
tindakan penagihan. Sesuai ketentuan tersebut, bahwa seluruh tindakan penagihan
yang dilakukan oleh KPP Madya Semarang telah dilakukan sesuai dengan
ketentuan yang ada.
c) Kanwil DJP Jawa Timur II
Selain penagihan aktif yang dilakukan sampai dengan Surat Paksa sesuai UU
PPSP, KPP melakukan upaya persuasif. Untuk WP yang tidak masuk dalam
Laporan 100 Besar KPP maka lebih diutamakan tindakan penagihan persuasif ini
ini karena memiliki risiko rendah. Selain itu juga terdapat SKP yang berasal dari
WP Pindahan dari KPP Lain.
d) Kanwil DJP Jakarta Selatan
Untuk keterangan WP telah mengakui hutang dan akan dilakukan
pembayaran agar dilampirkan bukti pendukung untuk yang nilainya diatas Rp100
juta sedangkan jika telah pengakuan hutang untuk dilampirkan bukti
pendukungnya.
3. Penerbitan surat paksa atas piutang pajak yang telah melewati jangka waktu
daluwarsa penagihan
DJP memahami bahwa tindakan penagihan pajak tidak dilaksanakan apabila
telah daluwarsa sesuai ketentuan Pasal 41 UU Nomor 19 Tahun 2000. Dengan
mempertimbangkan hal tersebut, DJP telah menegaskan agar KPP menerbitkan Surat
Pencabutan/Pembatalan atas Surat Paksa yang tidak seharusnya terbit tersebut sesuai
Surat Direktur Pemeriksaan dan Penagihan tentang Penegasan Terkait Surat Teguran
dan Surat Paksa yang Seharusnya Tidak Diterbitkan atau Belum Saatnya Diterbitkan
Terhadap WP Penanggung Pajak. Pembatalan Surat Paksa tersebut dilakukan jika
dalam satu Surat Paksa memuat seluruh utang pajak yang telah daluwarsa. Namun,
jika dalam Surat Paksa terdapat utang pajak yang daluwarsa dan tidak daluwarsa
maka akan dilakukan pembetulan Surat Paksa sebagaimana diatur dalam Pasal 39
ayat (2) UU Nomor 19 Tahun 2000 yang mengatur bahwa Pejabat karena jabatan
dapat membetulkan Surat Teguran atau Surat Peringatan atau surat lain yang sejenis,
Surat Perintah Penagihan Seketika dan Sekaligus, Surat Paksa, Surat Perintah
Melaksanakan Penyitaan, Surat Perintah Penyanderaan, Pengumuman Lelang dan
Surat Penentuan Harga Limit yang dalam penerbitannya terdapat kesalahan atau

kekeliruan. Sedangkan untuk koreksi atas nilai penyisihan piutang pajak akan
dilakukan oleh DirektoratPemeriksaan dan Penagihan.
4. SKBKBT PT A.2.1 diterbitkan menjelang daluwarsa penagihan
a) SKPKBT tersebut diterbitkan dari hasil pemeriksaan ulang berdasarkan Instruksi
Direktur Jenderal Pajak tertanggal 23 September 2013;
b) Proses pemeriksaan dimulai dari SP2 yang diterbitkan tanggal 03 Oktober 2013
s.d. terbitnya Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan (SPHP) tanggal 23 Oktober
2013, yang ditanggapi WP tanggal 11 November 2013;
c) WP mengajukan Quality Assurance (QA) dan dilakukan pembahasan QA tanggal
20 November 2013; dan
d) SKPKBT terbit tanggal 21 November 2013.

Atas tanggapan Pemerintah huruf b angka 2), BPK sampai dengan pembahasan terakhir
(9 Mei 2014) belum menerima dokumen/bukti pendukung atas tindakan penagihan yang telah
dilakukan terhadap SKP/STP tersebut.
Atas permasalahan tersebut, BPK merekomendasikan Pemerintah c.q. Menteri
Keuangan agar menginstruksikan Direktur Jenderal Pajak untuk:
1. Menerbitkan instruksi terkait dengan kegiatan pemeriksaan pajak dengan
memperhatikan waktu daluwarsa penetapan pajak;
2. Memberikan pembinaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku kepada pemeriksa
pajak, petugas penagihan, kepala seksi penagihan, kepala KPP terkait, Direktur
Keberatan dan Banding, Direktur Peraturan Perpajakan I, dan Direktur
Pemeriksaan dan Penagihan; dan
3. Meningkatkan

pengawasan

secara

berjenjang

terkait

dengan

kegiatan

pemeriksaan, penetapan dan penagihan pajak secara aktif.

F. Daluarsa Piutang Pajak


1. Ketentuan Daluwarsa dan Tertangguhnya Daluwarsa Penagihan Pajak
Ketentuan mengenai daluwarsa pajak diatur dalam Pasal 22 UU KUP (UU No. 16
Tahun 2009) yang berbunyi:
1. Hak untuk melakukan penagihan pajak, termasuk bunga, denda, kenaikan, dan biaya
penagihan pajak, daluwarsa setelah melampaui waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak
penerbitan Surat Tagihan Pajak, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar, serta Surat
Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan, dan Surat Keputusan Pembetulan,
Putusan Banding, serta Putusan Peninjauan Kembali.
Isi pasal 22 di atas tidak bisa diterapkan tanpa memperhatikan isi dari Ketentuan
Peralihan Pasal II UU KUP yang berbunyi:
10

1. Terhadap semua hak dan kewajiban perpajakan Tahun Pajak 2001 sampai dengan
Tahun Pajak 2007 yang belum diselesaikan, diberlakukan ketentuan Undang-Undang
Nomor 6 tahun 1983 tentang Ketentuan Umum Perpajakan sebagaimana telah
beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 tahun 2000.
Berdasarkan pasal peralihan tersebut, daluwarsa penagihan tahun pajak 2007 dan
sebelumnya akan mengikuti pasal 22 UU No. 6 tahun 1983 stdt. UU No. 16. Tahun 2000
sebelum perubahan ketiga yaitu yang berbunyi sebagai berikut:
1. Hak untuk melakukan penagihan pajak, termasuk bunga, denda, kenaikan, dan
biaya penagihan pajak, daluwarsa setelah lampau waktu 10 (sepuluh) tahun
terhitung sejak saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak, Bagian Tahun
Pajak atau Tahun Pajak yang bersangkutan.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa:
i.

Untuk utang pajak 2008 akan daluwarsa pada tahun 2013. Tahun pajak 2009 akan
daluwarsa pada tahun 2014, demikian seterusnya (daluwarsa dalam jangka waktu 5
tahun).

ii. Sementara untuk utang pajak 2007 dan sebelumnya, penagihannya akan daluwarsa
dalam jangka waktu 10 tahun sesuai pasal 22 UU No. 16 tahun 2000. Contoh,
tahun pajak 2007, daluwarsa penagihannya pada tahun 2017. Begitu pula dengan
utang pajak tahun 2002 akan daluwarsa tahun 2012. Demikian pula dengan utang
pajak tahun 2003 baru daluwarsa pada tahun 2013.
iii. Sedangkan untuk tahun pajak 2000 dan sebelumnya, daluwarsa penagihan mengikuti
pasal 22 UU No. 9 tahun 1994 yaitu 10 tahun sejak saat terutang pajak. Artinya
utang pajak tahun 2000 akan daluwarsa 2010.
Disamping itu, daluwarsa pajak bisa saja tertangguh berdasarkan ketentuan pasal 22
UU KUP (UU No. 16 Tahun 2009) yang berbunyi:
2. Daluwarsa penagihan pajak akan tertangguh apabila:
1. Diterbitkan Surat Paksa,
2. Ada pengakuan utang pajak dari wajib pajak baik langsung maupun tidak
langsung,
3. Diterbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 13 ayat (5) UU KUP, atau Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar
Tambahan sebagaimana dimaksud dalam Pasa 15 ayat (4) UU KUP,
4. Dilakukan penyidikan tindak pidana di bidang perpajakan.
2. Permasalahan Terkait Daluwarsa Penagihan Pajak
Ada salah satu permasalahan yang sering menjadi perdebatan antara pihak DJP dan
non-DJP (WP dan lainnya) terkait daluwarsa penagihan pajak ini, yaitu: Apakah utang pajak
yang telah daluwarsa yang belum diusulkan penghapusan tetap harus diperhitungkan
11

sebagai perhitungan utang pajak dalam hal AR hendak menerbitkan SPMKP dan proses
perhitungan PLB WP?
Sebelumnya perlu diketahui kaitan antara daluwarsa penagihan pajak dengan SPMKP
dan PLB. Seorang AR biasanya akan meminta konfirmasi utang pajak kepada seksi
penagihan. Jawaban konfirmasi utang pajak inilah yang nantinya akan digunakan sebagai
dasar perhitungan PLB jika masih ada tunggakan pajak. Nah, di sini masalahnya adalah
kadangkala seksi penagihan seringkali memilih untuk tidak mengajukan usul penghapusan
piutang pajak yang telah daluwarsa sehingga jawaban konfirmasi utang pajak seringkali
memperhitungkan hutang pajak yang telah daluwarsa. Alasan yang dipegang adalah karena
dalam PMK 68/PMK.03/2012 mengenai Tata Cara Penghapusan Piutang Pajak Dan
Penetapan Besarnya Penghapusan, pasal 1 digunakan kata Dapat bukan kata Wajib
sebagaimana tertuang dalam pasal berikut:
2. Piutang pajak yang dapat dihapuskan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk
Wajib Pajak Orang Pribadi adalah piutang pajak yang tidak dapat ditagih lagi
karena:
(c) hak untuk melakukan penagihan pajak sudah daluwarsa.
Lalu apakah tindakan yang harus diambil oleh AR? Tidak ada aturan khusus yang
mengatur mengenai tata cara PLB dengan memperhitungan utang pajak yang telah daluwarsa.
Bagi kebanyakan orang (terutama pihak non-DJP) menganggap bahwa utang pajak telah
dianggap lunas oleh negara meskipun belum diajukan usul penghapusan piutang. Dengan
demikian, lunas sama artinya dengan tidak diperhitungkan sebagai tunggakan pajak.
Akhirnya dapat disimpulkan bahwa utang pajak yang telah daluwarsa meskipun belum
diusulkan untuk dilakukan penghapusan tidak dapat dimasukkan dalam perhitungan Lebih
Bayar dalam penerbitan SPMKP dan PLB. AR sudah seharusnya berpegang pada UndangUndang di sini, bukan pada disposisi jawaban konfirmasi dari seksi penagihan seperti yang
selama ini dipraktekkan. Pertanyaannya adalah bagaimana mengatasi perbedaan penafsiran
terkait permasalahan seperti ini?

12

Daftar Referensi

http://rizmy-otlani.blogspot.com/2012/10/gonjang-ganjing-daluwarsa-penagihan-pbb.html

http://ziajaljayo.blogspot.com/2012/02/timbul-dan-berakhirnya-utang-pajak.html

http://padeliman.blogspot.com/2012/08/penghapusan-piutang-pajak-normal-0.html

http://kuwatslametgemiadi.wordpress.com/tag/daluwarsa/

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 68/PMK.03/2012 tentang Tata Cara Penghapusan


Piutang Pajak dan Penetapan Besarnya Penghapusan

13