Anda di halaman 1dari 30

8.

Pengertian Geopolitik
Istilah geopolitik semula oleh pencetusnya, Frederic Ratzel (18441904), diartikan sebagai ilmu bumi politik (Political Geography). Istilah
geopoltik dikembangkan dan diperluas lebih lanjut oleh Rudolf Kjellen(18641922) dan Karl Haushofer(1869-1946) menjadi Geographical Politic.
Perbedaan kedua artian tersebut terletak pada fokus perhatiannya. Ilmu Bumi
Politik (Political Geography) mempelajari fenomena geografi dari aspek
politik, sedangkan Geopolitik (Geographical Politic) mempelajari fenomena
politik dari aspek geografi. Geopolitik dapat diartikan sebagai ilmu bumi politik
terapan (Appli ed Political Geography).

8.2

Teori Geopolitik

1.

Teori Geopolitik Frederich Ratzel


Pokok-pokok teori ratzel disebut Teori Ruang, menyebutkan bahwa :
a.

Pertumbuhan negara mirip dengan pertumbuhan organisme (makhluk


hidup), yang memerlukan ruang hidup (lebensraum) cukup agar dapat
tumbuh dengan subur melalui proses lahir, tumbuh, berkembang,

b.

mempertahankan hidup, meyusut, dan mati.


Kekuatan suatu negara harus mampu mewadahi pertumbuhannya. Makin
luas ruang dan potensi geografi yang ditempati oleh kelompok politik
dalam arti kekuatan makin besar kemungkinan kelompok politik itu

c.

tumbuh.
Suatu bangsa dalam mempertahankan kelangsungan hidupnyatidak
terlepas dari hukum alam. Hanya bangsa yang unggul saja yang dapat

d.

bertahan hidup terus dan berlangsung.


Apabila ruang hidup negara sudah tidak dapat memenuhi keoerluan,
ruang itu dapat diperluas dengan mengubah batas-batas negarabaik secara
damai maupun melalui jalan kekerasan atau perang.

Pandangan Ratzel tentang geopolitik menimbulkan dua aliran kekuatan yaitu


1.

Berfokus pada kekuatan di darat (kontonental).

2.

Berfokus pada kekuatan dilaut (maritime).


Melihat adanya efek persaingan dua aliran kekuatan yang bersumber dari

teorinya, Ratzel meletakkan dasar-dasar suprastruktur geopolitik yaitu bahwa


kekuatan suatu negara harus mampu mewadahi pertumbuhan kondisi dan
kedudukan geografisnya. Dengan demikian, esensi pengertian politik adalah
penggunaan kekuatan fisik dalam rang mewujudkan keinginan atau aspirasi
nasional suatu bangsa. Hal ini sering ke arah politik adu kekuatan dan adu
kekuasaan dengan tujuan ekspansi.
2.

Teori Geopolitik Rudolf Kjellen


Pokok-pokok dalam teori Kjellen dengan tegas menyatakan bahwa negara
adalah suatu organisme hidup. Pokok teori tersebut terinsipirasi oleh pendapat
Ratzel yang menyatakan bahwa negara adalah suatu organism yang tunduk
pada hukum biologi, sedangkan Ratzel mencoba menerapkan metodelogi
biologi Evolusi Darwin yang sedang popular di Eropa pada akhir abad ke 19 ke
dalam teori ruangnya.
Pokok-pokok teori Kjellen menyebutkan :
a. Negara merupakan satuan biologis, suatu organism hidup, yang memiliki
intelektualitas. Negara dimungkinakan untuk mendapatkan ruang yang
cukup luas agar kemampuan dan kekuatan rakyatnya dapat berkembang
secara bebas.
b. Negara merupakan suatu system politik yang meliputi geopolitik, ekonomi
politik, demo politik dan krato politik (politik memerintah).
c. Negara harus mampu berswasembada serta memanfaatkan kemajuan
kebudayaan dan teknologiuntuk meningkatkan kekuatan nasionalnya.
Kedalam untuk mencapai persatuan dan kesatuan yang harmonis dan
keluar untuk mendapatkan bats-batas negara yang lebih baik. Sementara
itu, kekuasaan Imperium Kontinental dapat mengontrol kekuatan maritim

3.

Teori Geopolitik Karl Haushofer


Pokok-pokok teori Haushofer pada dasarnya menganut teori Kjellen dan
bersifat ekspansionis serta rasial, bahkan dicurigai sebagai teori yang menuju

pada peperangan. Kecurigaan itu disebabkan oleh pendapat yang mengutip


pernyataan Herakleitos, bahwa peperangan adalah bapak dari segala hal atau
dengan kata lain, perang merupakan hal yang diperlukan untuk mencapai
kejayaan bangsa dan negara.
Teori Haushofer berkembang di Jerman dan mempengaruhi Adolf Hiter.
Teori ini pun dikembangkan di Jepang dalam ajaran Hako Ichiu yang dilandasi
oleh semangat militerisme dan fasisme. Inti teori Haushofer adalah :
a.

Suatu bangsa dalam mempertahankan hidupnya tidak terlepas dari hukum

b.

alam.
Kekuasaan Imperium Daratan dapat mengejar kekuasaan Imperium

c.

Maritim untuk menguasai pengawasan dilaut.


Beberapa negara besar didunia akan timbul dan akan menguasai Eropa,
Afrika, dan Asia Barat (Jerman dan Italia) serta Jepang di Asia Timur

4.

d.

Raya.
Geopolitik adalah doktrin negara yang menitikberatkan perhatian kepada

e.

soal strategi perbatasan.


Ruang hidup bangsa dan tekanan kekuasaan ekonomi dan social yang

f.

rasial mengharuskan pembagian baru dari kekayaan alam didunia.


Geopolitik adalah landasan ilmiah bagi tindakan politik dalam perjuangan

mendapatkan ruang hidup.


Teori Geopolitik Sir Halford Mackinder
Pokok teori Mackinder menganut konsep kekuatan darat dan
mencetuskan Wawasan Benua. Teorinya menyatakan : Barang siapa dapat
menguasai Daerah Jantung yaitu Eurasia (Eropa dan Asia) akan dapat
menguasai Pulau Dunia yakni Eropa, Asia, dan Afrika. Barang siapa dapat
menguasai pulau dunia akhirnya dapat menguasai dunia.

5.

Teori Geopolitik Sir Walter Raleigh dan Alfred Thyer mahan


Pokok teori kedua ahli tersebut menganut konsep kekuatan maritim dan
mencetuskan Wawasan Bahari yaitu kekuatan dilautan. Teorinya menyatakan :
Barang siapa menguasai lautan akan menguasai perdagangan. Menguasai

perdagangan berarti menguasai kekayaan dunia sehingga pada akhirnya akan


menguasai dunia.
6.

Teori Geopolitik Wiliam Mitchel, Albert Saversky, Giulio Douhet, dan


John Frederick Charles Fuller
Keempat ahli geopolitik ini melahirkan teori Wawasan Dirgantara yaitu
kekuatan diudara. Dengan pemikiran bahwa kekuatan diudara memiliki daya
tangkis yang dapat diandalkan untuk menangis ancaman dan melumpuhkan
kekuatan lawan.

7.

Teori Geopolitik Nicholas J. Spykman


Pokok teori Spykman disebut Teori Daerah Batas atau Teori Wawasan
Kombinasi yaitu teori yang menggabungkan kekuatan darat, laut dan udara
yang dalam pelaksanaannya disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi suatu
negara.

8.3

Indonesia sebuah Negara Kepulauan

1.

Zaman Kolonial Belanda


Di zaman kolinial Belanda, wilayah laut teritorial Indonesia tidak pernah
diukur. Berdasarkan Ordonansi Tahun 1939 (Territoriale Zee en Maritieme
Kringen Ordonnantie 1939), lebar laut wilayah Hindia Belanda adalah 3 mil
diukur dari garis air rendah di pantai setiap pulau. Dengan kata lain, batas laut
teritorial yang tercatat dalam Ordonansi 1939 itu membagi wilayah daratan
Indonesia dalam bagian-bagian terpisah dengan teritorialnya sendiri-sendiri.
Ketentuan Ordonansi 1939 terpaksa digunakan oleh Indonesia merdeka
karena UUD 1945 tidak menentukan batas-batas wilayah RI, dan di
pembukaannya hanya menyebutkan Segenap bangsa Indonesia dan seluruh
tumpah darah Indonesia.

2.

Deklarasi Djuanda
Ketentuan Ordonansi 1939 tidak sesuai dengan kepentingan bangsa
Indonesia sebagai wilayah yang berdaulat. Oleh karena itu, pemerintah

Indonesia mengeluarkan pengumuman mengenai wilayah perairan Indonesia


yang dikenal sebagai Deklarasi Djuanda, yang menyatakan:
a.

Bahwa bentuk geografi Indonesia sebagai suatu negara kepulauan

b.

memiliki sifat dan corak tersendiri.


Bahwa menurut sejarah sejak dulu kala kepulauan Indonesia merupakan

c.

satu kesatuan.
Bahwa batas laut teritorial yang termaktub dalam Ordonansi 1939
memecah keutuhan teritorial Indonesia karena membagi wilayah daratan
Indoneia ke dalam bagian-bagian terpisah dengan teritorialnya sendiri-

sendiri.
Tujuan inti Deklarasi Djuanda adalah:
a.
Perwujudan bentuk wilayah NKRI yang utuh dan bulat.
b.
Penentuan batas-batas wilayah negara Indonesia disesuaikan dengan asa
negara kepulauan (Archipelagic State Principle).
Konferensi Hukum Laut Internasional yang diselenggarakan di Jenewa
pada tahun 1958 guna memperdebatkan pendirian Indonesia. Namun akibat
adanya kapal perang Belanda yang lalu lalang di perairan Nusantara, membuat
pelayaran kapal-kapal Indonesia terganggu. Sehingga pada saat itu, kesulitan
untuk meyakinkan kebenaran pendirian Indonesia dikenal baru rezim
Archipelago, sedangkan Archipelagic State masih belum dikenal.
Kemudian Deklarasi Djuanda dipertegas dengan Peraturan Pemerintah
Pengganti Undang-Undang (Perpu) No. 4 Tahun 1960 tertanggal 18 Februari
1960 (Lembaran Negara No. 22 Tahun 1960) tentang Perairan Indonesia. Sejak
itu berubahlah bentuk wilayah nasional yang cara perhitungannya diukur 12 mil
laut dari titik pulau terluar yang saling dihubungkan sehingga merupakan satu
kesatuan wilayah yang utuh dan bulat. Ini membuat luas wilayah Indonesia
menjadi 5.193.250 km2. Selanjutnya Perpu No. 4 Tahun 1960 diperkuat dengan
Ketetapan MPR Tahun 1973, 1978, 1983, 1988, dan 1993, konsep negara
kepulauan dalam Deklarasi Djuanda ditetapkan sebagai Wawasan dalam
mencapai tujuan pembangunan nasional.
Konsep tersebut dilakukan pada tahun 1957 dan baru berhasil setelah
diterimanya Hukum Laut Internasional III Tahun 1982, pokok-pokok asas

negara kepulauan diakui dan dicantumkan dalam UNCLOS (united Nation


Convention on the Law of the Sea atau Konvensi PP tentang Hukum Laut).
Pemerintah Indonesia meratifikasi UNCLOS 82 melalui Undang-Undang
No. 17 Tahun 1985 pada tanggal 31 Desember 1985 dan itu berpengaruh dalam
upaya pemanfaatan laut bagi kesejahteraan, seperti bertambah luasnya Zone
Ekonomi Eksklusif (ZEE) dan Landas Kontinen Indonesia.
3.

Landasan Kontinen dan ZEE


Pada tanggal 17 Februari 1960, pemerintah Indonesia mengeluarka
Deklarasi tentang Landas Kontinen, dengan pertimbangan pokok sebagai
berikut.
a.

Segala sumber kekayaan alam yang terdapat dalam Landas Kontinen


Indonesia adalah milik eksklusif Negara Indonesia.

b.

Dalam hal landas kontinen Indonesia, bagian-bagian dalam yang terdapat


pada landas kontinen atau kepulauan Indonesia yang berbatasan dengan
suatu negara lain, pemerintah Indonesia bersedia melalui perundingan
dengan negara bersangkutan menetapkan suatu garis batas sesuai dengan
prinsip-prinsip hukum dan keadilan.

c.

Menjelang tercapainya persetujuan seperti yang di maksud diatas,


pemerintah Indonesia akan mengeluarkan izin untuk mengadakan
eksplorasi serta memberikan izin untuk produksi minyak dan gas bumi
dan untuk ekploitasi sumber-sumber mineral ataupun kekayaan alam
lainnya hanya untuk daerah sebelah Indonesia dari garis tengah yang
ditarik dari pantai dari pada pulau-pulau Indonesia yang terluar.

d.

Ketentuan-ketentuan tersebut di atas tidak akan mempengaruhi sifat serta


status dari pada perairan di atas landas kontinen Indonesia sebagai laut
lepas, demikian pula ruang udara di atasnya.
Pengumuman pemerintah tentang Landas Kontinen Tahun 1969

dikukuhkan dengan Undang-Undang No. 1 Tahun 1973 tentang Landas


Kontinen Indonesia. Apabila dibandingkan isi deklarasi tahun 1957 dan tahun
1969, perbedaannya terdapat pada sifat konsep nusantara: Konsep tahun1957

merupakan konsep kewilayahan, sedangkan konsep tahun 1969 lebih


merupakan konsep politik dan ketatanegaraan.
Pada tanggal 21 Maret 1980 pemerintah Indonesia mengumumkan ZEE
Indonesia yang lebarnya 200 mil diukur dari garis pangkal laut wilayah
Indonesia. Di dalam pengumuman tersebut Indonesia menyatakan bahwa di
dalam ZEE, Indonesia memiliki dan melaksanakan:
a.
Hak berdaulat untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi, pengelolaan,
dan pelestarian sumber daya hayati dan nonhayati dan hak berdaulat lain
b.
-

atas eksplorasi dan eksploitasi sumber tenaga dari air, arus, dan angin.
Hak yurisdiksi yang berhubungan dengan:
Pembuatan dan penggunaan pulau buatan, instalasi, dan bangunan lainnya,
Penelitian ilmiah mengenai laut,
Pelestarian lingkungan laut, serta
Hal lain berdasar hukum internasional.
Di dalam ZEE Indonesia, kebebasan pelayaran dan penerbangan

internasional serta pemasangan kabel dan pipa di bawah permukaan laut


dijamin sesuai dengan hukum internasional. ZEE Indonesia dikukuhkan dengan
Undang-Undang No. 5 Tahun1983 tertanggal 18 November 1983.
Pada tahun 1982 konvensi hukum laut memberikan perluasan yurisdiksi
negara-negara pantai di lautan bebas. Asas ZEE diterima. Keuntungan yang
diperoleh ialah diterimanya asas nusantara sebagai asas hukum internasional
dan hasil konvensi tersebut disahkan pada bulan Agustus 1983 dalam seminar
Konvensi Hukum Laut Internasional di New York.
Perjuangan bangsa Indonesia selanjutnya adalah menegakkan kedaulatan
di ruang udara dan memperjuangkan kepentingan RI di wilayah antariksa
nasional, termasuk Geo Stationery Orbit (GSO).
Konvensi Paris 1919, yang kemudian disusul dengan Konvensi Chicago
1944, menetapkan ruang udara sebagai jalur ruang udara di atmosfir yang berisi
cukup udara yang memungkinkan pesawat udara bergerak. Jarak ketinggian
kedaulatan negara di atmosfir ditentukan oleh kesanggupan pesawat udara
mencapai ketinggian. Pasal 1 Konvensi Paris 1919 yang kemudian diganti oleh

Pasal 1 Konvensi Chicago 1944 yang menyatakan bahwa setiap negara


memiliki kedaulatan yang utuh dan eksklusif di ruang udara di atas wilayahnya.
Indonesia menentukan batas wilayah udara dengan mengikuti sistem cerobong.
Batas wilayah udara ditarik vertikal dari batas wilayah ke bawah dan ke
atas yang telah tercantum dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 1982, dan
kemudian diubah menjadi Undang-Undang No. 1 Tahun 1988 tentang
Ketentuan-ketentuan Pokok Pertahanan dan Keamanan Negara.
8.4

Wawasan Nusantara Sebagai Geopolitik Indonesia

1.

Pengertian dan Hakikat


Kata wawasan mengandung arti pandangan, tinjauan, penglihatan, atau
tanggap

inderawi,

sedangkan

istilah

nusantara

dipergunakan

untuk

mengambarkan kesatuan wilayah perairan dengan gugusan pulau-pulau


Indonesia yang terletak di antara Samudra Pasifik dan Samudra Indonesia serta
di antara benua Asia dan benua Australia. Untuk membina menyelenggarakan
kehidupan nasional, bangsa Indonesia merumuskan suatu landasan visional
yang dapat membangkitkan kesadaran untuk menjamin persatuan dan kesatuan
dalam kebhinekaan yang menjadi cara pandang Indonesia tentang diri dan
lingkungannya. Landasan visional ini dikenal dengan istilah Wawasan
Kebangsaan atau Wawasan Nasional dan diberi nama Wawasan Nusantara.
Landasan Visional. Wawasan Nusantara adalah geopolitik Indonesia, yang
diberi pengertian sebagai cara pandang dan sikap bangsa Indonesia mengenai
diri dan lingkungannya yang serba beragam dan bernilai strategis dengan
mengutamakan persatuan dan kesatuan wilayah dan tetap menghargai serta
menghormati kebhinekaan dalam setiap aspek kehidupan nasional untuk
mencapai tujuan nasional.
Dari pengertian Wawasan Nusantara di atas, jelaslah bahwa Wawasan
Nusantara sebagai geopolitik dan landasan visional bangsa Indonesia pada
hakikatnya merupakan perwujudan ideology Pancasila. Wawasan Nusantara
mengarahkan visi bangsa Indonesia untuk mewujudkan kesatuan dan keserasian

dalam berbagai bidang kehiduapan nasional : bidang ideology, politik, ekonomi,


sosial-budaya, dan pertahanan-keamanan.
2.

Latar Belakang Filisofi


Wawasan nusantara

sebagai

geopolitik

Indonesia

dikembangkan

berdasarkan latar belakang filosofi sebagai berikut :


a.
Falsafah Pancasila
Wawasan nusantara dikembangkan berdasarkan falsafah Pancasila yang
mengandung nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan, keadilan, dan
keberadaban, persatuan dan kesatuan, musyawarah untuk mencapai
mufakat serta kesejahteraan guna menciptakan suasana damai dan tentram
menuju kebahagiaan dan kelangsungan hidup bangsa Indonesia dari
b.

generasi ke generasi.
Aspek Kewilayahan Nusantara
Kondisi objektif geografi Indonesia terdiri dari 17.508 pulau yang
tersebar dan terbentang di khatulistiwa serta terletak pada posisi silang
yang sangat strategis, pada batas-batas astronomis: 06-080 LU, 11-150 LS,
94-450 BT; dan jarak utara-selatan 1.888 km, barat-timur 5.110 km;
memiliki karakteristik yang berbeda dengan negara lain menjadi aspek

yang melatar belakangi pengembangan wawasan nusantara.


c. Aspek Sosial-Budaya
Indonesia terdiri atas ratusan suku bangsa yang masing-masing memiliki adat
istiadat, bahasa, agama, dankepercayaan yang berbeda - beda, sehingga tata
kehidupan nasional yang berhubungan dengan interaksi antargolongan
mengandung potensi konflik yang besar.mengenai berbagai macam ragam
budaya.
d. Aspek Kesejarahan
Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan wawasan nasional Indonesia
yang diwarnai oleh pengalaman sejarah yang tidak menghendaki terulangnya
perpecahan dalam lingkungan bangsa dan negara Indonesia. Hal ini
dikarenakan kemerdekaan yang telah diraih oleh bangsa Indonesia merupakan
hasil dari semangat persatuan dan kesatuan yang sangat tinggi bangsa
Indonesia sendiri. Jadi, semangat ini harus tetap dipertahankan untuk
persatuan bangsa dan menjaga wilayah kesatuan Indonesia.

3.

Kedudukan, Fungsi, dan Tujuan


a.
Kedudukan Wawasan Nusantara
1)
Wawasan nusantara sebagai ajaran yang diyakini kebenarannya
2)

oleh masyarakat dalam mencapai dan mewujudkan tujuan nasional.


Wawasan nusantara dalam paradigma nasional memliki
spesifikasi:
a)
Pancasila sebagai falsafah, ideologi bangsa, dan dasar

b.

b)

negara berkedudukan sebagai landasan idiil.


Undang - Undang Dasar 1945 sebagai landasan konstitusi

c)

negara, berkedudukan sebagai landasan idiil.


Wawasan nasional sebagai visi nasional, berkedudukan

d)

sebagai landasan konsepsional.


Ketahanan nasional sebagai konsepsi nasional, berkedudukan

e)

sebagai landasan konsepsional


GBHN sebagai politik dan strategi nasional, berkedudukan

sebagai landasan operasional.


Fungsi Wawasan Nusantara
Wawasan nusantara berfungsi sebagai pedoman, motivasi, dorongan, serta
rambu-rambu dalam menentukan segala kebijakan, keputusan, tindakan,
dan

c.

perbuatan

bagi

penyelenggaraan

negara

dalam

kehidupan

bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.


Tujuan Wawasan Nusantara
Tujuan wawasan nusantara terdiri dari dua, yaitu::
1.
Tujuan nasional, dapat dilihat dalam Pembukaan UUD 1945,
dijelaskan bahwa tujuan kemerdekaan Indonesia adalah "untuk
melindungi

segenap

bangsa

Indonesia

dan

seluruh

tumpah darahIndonesia dan untuk mewujudkan kesejahteraan


umum,

mencerdaskan

kehidupan

melaksanakan ketertiban dunia yang


2.

bangsa,

berdasarkan

dan

ikut

kemerdekaan

perdamaian abadi dankeadilan sosial".


Tujuan ke dalam adalah mewujudkan kesatuan segenap aspek
kehidupan baik alamiah maupun sosial, maka dapat disimpulkan
bahwa tujuan bangsa Indonesia adalah menjunjung tinggi
kepentingan

nasional,

serta

kepentingan

kawasan

untuk

menyelenggarakan dan membina kesejahteraan, kedamaian dan


budi luhur serta martabat manusia di seluruh dunia.
8.5

Impementasi Wawasan Nusantara

1.

Unsur Dasar Wawasan Nusantara


Wawasan Nusantara memiliki tiga unsur dasar, yaitu wadah (contour), isi
(content), dan tata laku (conduct). Wadah dan isi membentuk konsepsi dasar.
Wawasan Nusantara, sedangkan tata laku merupakan konsesi pelaksanaannya.
a.
Wadah
Wadah mencangkup tiga unsur, yakni (1) batas ruang lingkup atau
bentuk wujud; (2) tata susunan pokok atau inti organisasi; dan (3) tata
1)

susunan pelengkap atau tata kelengkapan organisasi.


Batas Ruang Lingkup
Wawasan nusantara memiliki bentuk wujud : (a) Nusantara; (b)
Menunggal dan Utuh Menyeluruh.
(a)
Nusantara
Dalam bentuk wujud Nusantara, batas-batas negara ditentukan oleh
lautan yang di dalamnya pulau-pulau serta gugusan pulau-pulau
yang satu sama lainnya dihubungkan dan dipersatukan oleh air, baik
berupa laut maupun selat.
Adapun pengaruh-pengaruh tersebut diantaranya :
1.
Pengaruh dari aspek-aspek kehidupan sosial. Dengan
posisi silang tersebut, bangsa Indonesia akan menyerap apa
2.

saja yang lewat karena adanya adaptasi yang masih rendah.


Hubungan antar bangsa selalu melandaskan diri pada
kepentingan nasional masing-masing. Selama kepentingan
nasional diuntungkan, selama itu hubungan akan berjalan

3.

lancar, bahkan saling menguntungkan.


Upaya mengabdikan diri kepada kepentingan nasional
masing-masing bangsa menjaminkepastiannya atas dukungan

4.

bidang politik dan ideologi.


Kesatuan wilayah Nusantara dengan kekayaan yang
melimpah dan tenaga kerja yang banyak dan murah.

(b)

Menunggal dan Utuh Menyeluruh

Manunggal dan utuh menyeluruh memberikan sifat dan ciri pokok, yaitu
sebagai kesatuan dan persatuan dalam :
1.
Wilayah
Wilayah RI, meliputi beribu-ribu pulau besar dan kecil dan
dipisahkan serta dihubungkan oleh laut dan selat, dijaga dan
diusahhakan tetap menjadi 1 kebulatan wilayah nasional dengan
2.

segala isi dan kekayaannya.


Bangsa
Bangsa Indonesia terdiri atas berbagai suku bangsa dan berbicara
bermacam bahasa daerah dan meyakini berbagai macam agama

3.

serta keper cayaan.


Ideologi
Bangsa Indonesia telah menetapkan dan memutuskan secara final

4.

memiliki dan menganut ideologi Pancasila.


Politik
Karena bangsa Indonesia menganut ideologi Pancasila, maka
dibidang politik perlu diwujudkan dan dibina kestabilan politik
yang bersumber pada nilai-nilai dasar yang terkandung dalam

5.

pancasila.
Ekonomi
Kekayaan wilayah bangsa Indonesia baik potensial maupun efektif

6.

merupak modal dan milik bersama bangsa.


Sosial
Rakyat Indonesia adalah satu perikehidupan bangsa harus

7.

merupakan suatu kehidupan homogen.


Kebudayaan
Kebudayaan adalah suatu, corak ragam budaya menggambarkan

8.

kekayaan budaya bangsa.


Psikologi
Psikologi bangsa Indonesia adalah satu., merasa sebagai satu
keluarga besar, berbangsa dan setanah air.

2.

Arah dan Sasaran Implementasi


Arah pandang Wawasan Nusantara meliputi arah pandang ke dalam dan
kelua, sebagai berikut :
a. Arah Pandang ke Dalam

1. Menjamin perwujudan persatuan dan kesatuan segenap aspek kehidupan


nasional, abaik aspek alamiah maupun aspek nasional.
2. Mencegah dan mengatasi faktor-faktor penyebab timbulnya disentegrasi
bangsa.
b. Arah Pandang ke Luar
1. Menjamin kepentingan nasional dalam dunia yang serba berubah
ataupun kehidupan dalam negeri.
2. Menjamin kerja sama dan sikap saling hormat menghormati.
3. Melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan , perdamaian
abadi, dan keadilan sosial.
3.

Tantangan Implementasi
Mengingat besarnya tantangan dari nilai-nilai kehidupan baru yang
dibawa oleh negara maju dengan kekuatan penetrasi globalnya, sebagai berikut;
a.
Kondisi pembangunan nasional secara menyeluruh belum merata
sehingga menimbulkan keterbelakangan, kemiskinan, dan kesenjangan
sosial di masyrakat. Hal ini dapat merupakan ancaman bagi tetap tegak
b.

dan utuhnya NKRI.


Perkembangan IPTEK

khususnya

dibidang

teknologi

informasi,

komunikasi dan transportasi mempengaruhi pola pikir bangsa Indonesia


bahwa dunia menjadi transparan tanpa mengenal batas negara. Dalam
tingkat kwalitas sumber daya manusia di Indonesia yang masih terbatas
c.

pemahaman tersebut merupakan ancaman bagi persatuan dan kesatuan.


Era baru kapitalisme diterapkan oleh negara-negara kapitalisme dengan
terus berusaha mempertahankan eksistensinya di bidang ekonomi dengan
menekan negara-negara berkembang melalui isu global yang mencangkup
demokrasi, hak asasi manusia, dan lingkungan hidup.

8.6

Otonomi Daerah

1.

Pengertian Otonomi Daerah


Otonomi daerah berasal dari kata otonomi dan daerah. Dalam bahasa
Yunani, otonomi berasal dari kata autos dan namos. Autos berarti sendiri dan
namos berarti aturan atau undang-undang, sehingga dapat dikatakan sebagai
kewenangan untuk mengatur sendiri atau kewenangan untuk membuat aturan

guna mengurus rumah tangga sendiri. Sedangkan daerah adalah kesatuan


masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah.
Desentralisasi adalah penyerahan wewenangpemerintah oleh Pemerintah
kepada Daerah Otonom dalam kerangka Negara Kesatuan Republik
Indonesia.Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang dari pemerintah pusat
kepada Gubernur sebagai Wakil Pemerintah dan/atau perangkat pusat di daerah.
Tugas Pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah kepada daerah dan desa
serta dari daerah ke desa untuk melaksanakan tugas tertentu yang disertai
pembiayaan, sarana, prasarana serta sumber daya manusia dengan kewajiban
melaporkan pelaksanaannya dan mempertanggung jawabkannya kepada yang
menugaskan. Otonomi daerah adalah kewenangan daerah otonom untuk
mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa
sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundangundangan. Daerah Otonom adalah kesatuan masyarakat hukum yang
mempunyai batas daerah tertentu berwenang mengatur dan mengurus
kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi
masyarakat dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Wilayah
Administrasi adalah wilayah kerja Gubernur selaku wakil pemerintah. Instansi
Vertikal adalah perangkat departemen dan/atau lembaga pemerintah non
departemen di daerah.
Prinsip otonomi daerahmenggunakan prinsip otonomi seluas-luasnya
dalam arti daerah diberikan kewenangan mengurus dan mengatur semua urusan
pemerintahan di luar yang menjadi urusan Pemerintah yang ditetapkan dalam
Undang-Undang ini.Otonomi daerahmemiliki kewenangan membuat kebijakan
daerah untuk memberi pelayanan, peningkatan peranserta, prakarsa, dan
pemberdayaan masyarakat yang bertujuan pada peningkatan kesejahteraan
rakyat.
Prinsip Otonomi Daerahadalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah
otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan
kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-

undangan. Undang-Undang pertama yang mengatur Otonomi Daerah adalah


Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1948 tentang Pokok-pokok Tentang
Pemerintahan Sendiri di Daerah-daerah yang Berhak Mengatur dan Mengurus
Rumah Tangganya Sendiri.
Prinsip otonomi seluas-luasnya artinya daerah berwenang mengatur
semua urusan pemerintahan di luar urusan pemerintahan yang ditetapkan
Undang-undang (misalnya selain bidang-bidang politik luar negeri, pertahanan,
keamanan, yustisi, moneter dan fiskal nasional, serta agama).
2.

Tujuan Otonomi Daerah


a.

Tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia


Tujuan otonomi daerah adalah menjamin eksistensi NKRI secara mantap.
oleh karena itu, pemerintah pusat selalu mempertimbangkan secara sungguh
sungguh berbagai macam pelimpahan wewenangnya kepada daerah.

b. Perwujudan Demokrasi dalam Pemerintahan Daerah


Perwujudan

demokrasi

dalam

pemerintahan

daerah

berati

bahwa

masyarakat dilibatkan dalam perumusan kebijakasanaan penyelenggaraan


pemerintahan daerah

c.

Perwujudan Kesejahteraan Rakyat dan Keadilan Sosial Daerah


Perwujudan kesejahteraan rakyat dan keadaan sosial daerah dengan
memanfaatkan dukungan kapasitas pemerintah daerah dan masyarakat
dalam menggarap potensi sumber daya daerah secara optimal.

d. Pengembangan Kreativitas Sumber Daya Manusia di Daerah


Pengembangan kreativitas dan dinamika sumber daya manusia di daerah
perlu dilakukan antara lain melalui motivasi politik, ekonomi, sosial budaya
dan teknologi
e.

Pengembangan Karakteristik Daerah

Karakteristik daerah yang dimaksud adalah karakteristik yang bersifat fisik


seperti keadaan geologi dan letak geografi, dan non fisik seperti keadaan
sosial budaya.
3.

Pembagian Tujuan Pemerintahan


Pembagian dan pendistribusian kekuasaaan atau wewenang dalam suatu
pemerrintahan diatur secara horisontal dalam bentuk kekuasaan legislatif,
kekuasaan eksekutif, dan kekuasaan yudikatif, sedangkan pendistribusian
secara vertikal diatur dalam bentuk pelimpahan kekuasaan Pemerintahan Pusat
kepada Daerah. otonomi daerah merupakan pola pendistribusian secara vertikal
atau wewenang pemerintah pusat dan daerah.
Berdasarkan undang undan no.32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah, kewenangan daerah mencakup kewenangan dalam seluruh biadang
pemerintahan, kecuali kewenangan daerah mencakup kewenangan dalam
seluruh bidang politik luar negeri, pertahanan keamanan,peradilan, moneter dan
fiksal nasional, dan agama.
Dalam urusan pemerintahan, yang menjadi kewenangan pemerintah pusat
di luar urusan pemerintahan yaitu:
a.

menyelenggarakan sendiri sebagian urusan pemerintahan.

b.

melimpahkan sebagain urusan pemerintahan kepada Gubernur selaku


wakit pemerintah pusat

c.

menugaskan sebagian urusan pemerintahan kepada Pemerintah Desa dan


Pemerintah daerah berdasarkan asas tugas pembantuan.

Urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintah daerah Provinsi


merupakan urusan dalam skala Provinsi meliputi:
a.

perencanaan dan pengendalian pembangunan

b.

penyediaan sarana dan prasarana umum

c.

pengendalian lingkungan hidup

d.

pelayanan kependudukan dan catatan sipil

e.

pelayanan admistrasi umum pemerintahan.

f.

dll
Prusan pemerintahan Kabupaten/Kota yang bersifat pilihan meliputi

pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan


kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi, kekhasan, dan potensi
unggulan daerah bersangkutan. Pelaksanaan ketentuan tersebut di atas diatur
lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintahan.
Daerah yang memiliki wilayah laut diberikan kewenangan untuk
mengelola sumber daya di wilayah laut. kewenangan daerah untuk mengelola
sumber daya di wilayah laut meliputi:
a.

eksplorasi, eksploitasi, konservasi, dan pengolahan kekayaan laut

b.

pengaturan administrative

c.

pengaturan tata ruang

d.

penegakkan hukum terhadap peraturan yang dikeluarkan oleh daerah atau


yang dilimpahkan kewenangannya oleh pemerintah pusat

e.
f.

ikut serta dalam pemeliharaan keamanan


ikut serta dalam pertahanan kedaulatan negara.

Dalam menyelenggarakan otonomi, daerah memiliki hak:


a.

mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahannya

b.

memilih pemimpin daerah

c.

mengatur aparatur daerah

d.

mengelola kekayaan daerah

e.

memungut pajak daerah dan retribusi daerah

f.

mendapatkan sumber sumber pendapatan lain yang sah.

Dan kewajibannya sebagai berikut:


a.

melindungi masyarakatm menjaga persatuan, kesatuan, dan kerukunan


nasional, serta keutuhan NKRI

b.

meningkatkan kualitas hidup masyarakat

c.

mengembangkan kehidupan demokrasi

d.

mewujudkan keadilan dan pemerataan

e.

meningkatkan pelayanan dasar pendidikan

f.
5.

menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan

Perkembangan Pengaturan Otonomi Daerah


a.

Periode Awal Kemerdekaan (1945-1949)


Dasar negara pada periode ini adalah Undang-Undang Dasar Tahun 1945
(UUD 1945) dan Konstitusi Republik Indonesia Serikat (KRIS) 1949.
Undang-Undang (UU) yang pertama kali lahir yakni UU No. 1 tahun
1945 dengan dasarnya ialah UUD 1945. UU ini dibuat dengan semangat
demokrasi

menyusul

proklamasi

kemerdekaan

yang

meemang

menggelorakan kebebasan. UU tersebut hanya berisi 6 pasal yang pada


pokoknya memberi tempat penting bagi Komite Nasional Daerah sebagai
alat kelengkapan demokrasi di daerah. Kemudian lahir sesudah itu yakni
UU No. 22 Tahun 1948 yang menganut asas otonomi formal dan materil
sekaligus dengan memakai istilah otonomi sebanyak-banyaknya.
b.

Periode Demokrasi liberal (1950-1959)


Dalam periode ini negara Indonesia berubah bentuk dari negara kesatuan
menjadi negara serikat tetapi hanya bertahan 1 tahun. Periode ini berlaku
Undang-Undang Dasar Sementara (UUDS) 1950 sebagai dasar negara
serta menggunakan sistem pemerintahan parlementer. Dalam UUDS
1950, gagasan otonomi nyata yang seluas-luasnya tertampung dengan
lahirnya UU No. 1 tahun 1957. UU ini belum terlaksana dengan baik
negara Indoensia kembali terjadi gejolak politik dimana Presiden
Soekarno mengeluarkan dekrit 5 Juli 1959 yang memberlakukan kembali
UUD 1945. UU No. 1 Tahun 1957 menganut asas otonomi seluas-luasnya
yang tertuag di dalam pasal 31 ayat 1 berikut penjelasannya. Sistem
rumah tangga yang di gunakan ialah sistem rumah tangga nyata.
c.

Periode Demokrasi Terpimpin/Orde Lama (1959-1966)


Pada periode demokrasi terpimpin ini yang berlaku ialah UUD 1945,
politik hukum otonomi daerah berbalik dari desentralisasi ke sentralisasi.
Presiden Soekarno mengeluarkan Penetapan Presiden (Penpres) No.6

Tahun 1959 yang mempersempit otonomi daerah. Otonomi seluasluasnya masih dipakai sebagai asas, tetapi elaborasinya di dalam sistem
pemerintahan justru pengekangan luar biasa atas daerah. Kemudian
Penpres tersebut dikuatkan dengan diundangkannya UU No. 18 tahun
1965 yang substansi tidak mengubah apa yang ada di alam Penpres
sebelumnya. Sehingga masih tentap menggunakan otonomi seluasluasnya namun dalam praktiknya yang terjadi adalah sentralisasi
bukannya desentralisasi.
d.

Periode Orde Baru (1966-1998)


Dalam Periode ini dasar negara yang berlaku ialah UUD 1945. Kemudia
lagi-lagi Indonesia mengalami guncangan politik dengan adanya tragedi
G30S PKI sehingga memaksa Presiden Soekarno lengser dan digantikan
oleh Jendral Soeharto yang kemudian mengundurkan diri karena
gelombang reformasi pada tahun 1998. Melalui TAP MPRS No.
XXI/MPRS/1966

mengamanatkan

otonomi

seluas-luasnya

yang

sesungguhnya agar daerah mampu menangani urusan rumah tangganya


sendiri.
Amanah Tap MPRS No. XXI/MPRS/1966 belum dilaksanakan kemudian
digantikan dengan Tap MPRS No. XXI/MPRS/1973 tentang GBHN serta
lahirnya UU No. 5 Tahun 1974 yang merubah dari otonomi seluasluasnya menjadi otonomi yang nyata dan bertanggungjawab
e.

Periode Reformasi (1998-sekarang)


Ketika reformasi tahun 1998, kembali yang banyak dibahas mengenai
otonomi daerah karena banyak sekali daerah yang ingin melepaskan diri
dari NKRI sehingga UU No. 5 tahun 1974 direvisi dan dan diganti
dengan UU No 22 tahun 1999 yang berbeda 180 derajat. Dalam UU ini
kembali meletakkan prinsip otonomi seluas-luasnya untuk pemerintahan
daerah sesuai amanat Tap MPR No. XV/MPR/1998. Pada periode ini
sempat muncul gagasan federalisme yang diutarakan oleh Amien Rais

yang kemudian di tolak oleh banyak kalangan dan tetap bersepakat negara
Indonesia tetap berbentuk kesatuan dengan otonomi luas.
Paradigma yang ingin di bangun dalam UU no 22 Tahun 199 ialah
paradigma pelayanan dan pemberdayaan dengan pola kemitraan yang
desentralistik. Kemudian dikarenakan UUD 1945 di amandemen menjadi
UUDNRI 1945 maka UU No. 22 Tahun 1999 diganti dengan UU No 32
Tahun 2004 namun paradigma yang dibangun tetap sama dengan
menggunakan otonomi seluas-luasnya, nyata dan bertanggung jawab.
UU No 32 Tahun 2004 yang sudah merupakan hasil perubahan kesekian
kalinya sangat mungkin masih harus segera diubah kembali guna
mengatasi persoalan-persoalan yang ada.
6.

Implementasi Otonomi Daerah


Otonomi

daerah

merupakan

suatu

keharusan

bagi

penyelenggaraan

pemerintahan NKRI mengingat luasnya wilayah dengan keanekaragaman yang


dimiliki serta luasnya rentang kendali pemerintahan.

Otonomi daerah

diselenggarakan dalam rangka memperkokoh NKRI. Secara politis pemberian


otonomi

kepada

daerah

merupakan

pelaksanaan

dan

pengembangan

demokratisasi pemerintahan yang memungkinkan daerah mengatur dan


mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat. Otonomi daerah
diselenggarakan dengan berorientasi pada kepentingan masyarakat dan daerah
yang bertumpu pada aspek sosial budaya, adat istiadat, dan kondisi karakteristik
lainnya. OtonomI daerah dapat berhasil apabila penyelenggara pemertintahan
daerah (kepala daerah/wakil dan anggota DPRD) dan seluruh jajarannya secara
konsisten melaksanakan tugas, wewenang, dan kewajibannya sesuai konsep,
prinsip, dan nilai yang terkandung dalam Pancasila, yang diwujudkan dalam
peningkatan pelayanan kepada masyarakat, dengan :
1.

melaksanakan ketentuan ketentuan yang mengacu pada Pancasila

2.

meningkatkan kesejahteraan rakyat

3.

memelihara ketentraman dan ketertiban masyarakat

4.
7.

melaksanakan kehidupan berdemokrasi

Perencanaan Pembangunan Daerah


Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan

daerah disusun perencanaan

pembangunan daerah sebagai satu kesatuan dalam sistem perencannan


pembangunan nasional.
Perencanaan pembangunan daerah disusun secara berjangka meliputi:
a.

rencana pembangunan jangka panjang daerah (RPJP)

b.

rencan pembangunan jangka menengah daerah (RPJM)

c.

RPJM daerah memuat arah kebijakan keuangan daerah

d.

rencana kerja pembangunan daerah (RKPD)

e.

RPJP daerah dan RPJM ditetapkan dengan Perda berpedoman pada


Peraturan Pemerintah

Setuan kerja perangkat daerah menyusun rencana strategis, yang selanjutnya


disebut renstra SKPD, memuat visi , misi, tujuan, strategi, kebijakan, program,
dan kegiatan pembangunan sesuai dengan tugas dan fungsinya.
Perencanaan pembangunan daerah didasarkan pada data dan informasi yang
akurat dan dapat dipertanggjawabkan. data dan informasi yang akurat
mencakup:
a.

penyelenggaraan pemerintahan daerah

b.

organisasi dan tata laksana pemerintahan daerah

c.

kepala daerah, DPRD, perangkat daerah dan PNS daerah

d.

keuangan daerah

e.

potensi sumber daya daerah

f.

produk hukum daerah

g.

Kependudukan

h.

informasi dasar kewilayahan

i.

informasi lain terkait dengan penyelenggaraan pemerintahan daerah.

Dalam rangka pemyelenggaraan pemerintahan daerah, untuk tercapainya


daya guna dan hasil guna, pemanfaatan day dan informasi dikelola dalam
sistem informasi daerah terintegrasi secara nasional.
Dalam

menyelenggarakan

urusan

pemerintahan

yang

menjadi

kewenangan daerah didanai dari dan atas beban anggaran pendapatan dan
belanja daerah.
Sumber pendapatan daerah terdiri atas.
a. pendapatan asli daerah, yaitu hasil pajak daerah, hasil retribusi pajak, hasil
pengelolaan kekayaan daerah
b. dana perimbangan
c.

pendapatan daerah yang sah

Dana perimbangan terdiri atas Danan Bagi Hasil, Dana Alokasi Umum dan
Dana Alokasi Khusus. Dana Bagi Hasil bersumber dari pajak dan sumber daya
alam. Dana Bagi Hasil yang bersumber dari pajak terdiri atas :
a.

pajak bumi dan bangunan PBB)

b.

bea perolehan atas hak tanah dan bangunan (BPHTB)

c.

pajak penghasilan (PPh)

Dana bagi hasil yang bersumber dari sumber daya alam berasal dari:
a. penerimaan kehutanan yang berasal dari iuran hak pengusahaan hutan
(IHPH), provinsi sumber daya hutan (PSDH) dan dana reboisasi yang di
hasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan
b. penerimaan pertambangan umum yang berasal dari penerimaan iuran tetap
(landrent) dan penerimaan iuran eksplorasi serta iuran eksplorasi (royalti)
yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan
c. penerimaan perikanan yang diterima secara nasional yang di hasilkan dari
penerimaan pungutan pengusahaan perikanan dan penerimaan pungutan
hasil perikanan
d. penerimaan pertambangan minyak yang dihasilkan dari wilayah daerah yng
bersangkutan

e. penerimaan pertambangan gas alam yang dihasilkan dari wilayah daerah


yang bersangkutan.
8.

Rencana tata ruang wilayah


Dalam otonomi daerah dikenal adanya kawasan perkotaan dan pedesaan.
kawasan perkotaan dapat berbentuk:
a.

kota sebagai daerah otonom

b.

bagian daerah kabupaten yang memiliki ciri perkotaan

c.

bagian dari dua atau lebih daerah yang berbatasan langsung dan memiliki
ciri perkotaan
Kawasan perkotaan di kelola oleh daerah atau lembaga pengelola yang

dibentuk dan beertanggung jawab kepada pemerintah kabupaten. kawasan


perkotaan dalam hal penataan ruang dan penyediaan fasilitas umum tertentu
dikelola bersama oleh daerah terkait. Di kawasan pedesaan yang direncanakan
dan dibangun menjadi kawasan perkotaanm pemerintah daerah bersangkutan
dapat membentuk badan pengelola pembangunan.
Pembangunan kawasan pedesaan yang dilakukan oleh kabupaten/kota
dan/

pihak

ketiga

permusyawaratan

mengikusertakan

desa.

pelaksanaannya

pemerintah
diatur

desa

dengan

dan

badan

Perda,

dengan

memperhatikan: kepentingan masyarakat desa, kewenangan desa, kelancaran


pelaksanaan inovasi, kelestarian lingkungan hidup serta keserasian kepentingan
antar kawasan dan kepentingan umum. pengaturan lebih lanjut mengenai desa
ditetapkan dalam perda dengan berpedoman pada peraturan pemerintah perda
wajib mengakui dan menghormati hak, asal usul dan adat istiadat desa.
9.

Tantangan Implementasi
1.

Partisipasi masyarakat rendah


Sebagian besar masyarakat kabupaten mempunyai persepsi bahwa
otonomi daerah merupakan persoalan pemerintah daerah. Kondisi seperti
ini berakibat pada rendahnya partisipasi masyarakat dan pemerintah

kabupaten. Salah satu akibatnya adalah, dalam perencanaan dan persiapan


lainnya pemerintah kabupaten akan sibuk sendirian dan kurang mendapat
dukungan dan kontrol dari masyarakat. Mereka tidak perduli pemerintah
siap atau tidak, cenderung menunggu dan melihat apa yang akan
dilakukan oleh pemerintah daerah untuk melaksanakan otonomi daerah.
Bagi masyarakat, yang penting ada perubahan pada kinerja
pemerintah sehingga masyarakat akan memperoleh pelayanan yang lebih
baik dan murah. Sikap menunggu ini akan sangat mengganggu
pelaksanaan otonomi daerah karena sesungguhnya pelaksanaan otonomi
ini akan sangat diuntungkan dengan adanya partisipasi masyarakat.
3. Sikap dan mentalitas penyelenggara Pemerintah Daerah
Penyelenggaraan pemerintah di daerah merupakan salah satu kunci
penting keberhasilan pelaksanaan kebijakan otonomi daerah, karena
merekalah ujung tombak dan eksekutor program tersebut.
Ada gejala yang cukup menonjol pada hampir semua pemerintah
kabupaten bahwa sikap dan mentalitas aparatur baik eksekutif maupun
legislatif masih menyisakan pengaruh kebijakan pemerintah yang
sentralistik, sehingga mereka lebih baik menunggu dan kurang berani
mengambil inisiatif dan prakarsa untuk melaksanakan fungsi pemerintah.
Kondisi ini tentu saja tidak menguntungkan pelaksanaan otonomi justru
ketika

saat

ini

pemerintahan

daerah

di

Kabupaten

dituntut

kepeloporannya untuk mencapai keberhasilan pelaksanaan otonomi itu


sendiri.
4. Uniformitas
Salah satu sisi kebijakan sentralistisme kekuasaan adalah kebijakan
penyeragaman (uniformitas) pada semua bidang kehidupan masyarakat.
Penyeragaman ini telah melumpuhkan semua sendi keanekaragaman
daerah.
Akibatnya banyak potensi yang tertutup dan tidak bisa berkembang
dengan baik. Padahal salah satu kunci penting otonomi daerah. Dengan

konteks kultur uniformitas ini pelaksanaan otonomi daerah akan


menghadapi tantangan yang berat dalam upaya penggalian dan
pertumbuhan keanekaragaman dan potensi daerah.
5. Ketergantungan
Sentralistik telah merenggut hampir semua kekuasaan pemerintah hanya
pada pusat. Daerah tinggal memiliki kewenangan yang sedikit dan sekedar
menjadi pelaksana kebijakan pusat. Daerah memiliki ketergantungan yang
amat penting dengan pusat.
Kebijakan otonomi mencoba membalik semua hal diatas. Tentu saja
karena sudah berlangsung sangat lama, maka upaya tersebut akan
memerlukan waktu yang cukup panjang, tidak bisa serta merta.
6. Kecenderungan dominasi kekuasaan oleh pusat dan propinsi
Ada kecenderungan kuat bahwa di sebagian kalangan Pemerintah Pusat
dan juga Pemerintah Propinsi untuk bersikap setengah hati dalam
menyerahkan kewenangan kepada Pemerintah Kabupaten. Keengganan ini
akan berdampak pada proses pengalihan dan penyerahan kewenangan
terutama secara psikologis birokratis, sehingga proses penyerahan
kewenangan akan berlarut-larut dan mengulur jadwal pelaksanaan
otonomi daerah di kabupaten.
7. Sumber daya daerah dan sistem data daerah
Kesiapan

pemerintah

kabupaten

untuk

segera

menyelenggarakan

kewenangan pemerintah sering terhambat oleh dirinya sendiri. Banyak


kabupaten yang kurang memiliki sumber daya, atau kurang memiliki data
tentang sumber daya dan potensi daerah.
Masih sedikit kabupaten yang mempunyai sumber data yang lengkap dan
aplikatif. Data yang tersedia selama ini kurang diolah dan disajikan dan
bahkan jarang dipakai sebagai salah satu dasar pengambilan keputusan
dalam perumusan kebijakan daerah, sehingga banyak yang tidak relevan
dan realistik.

8.7

Pembinaan Daerah Frontier


Daerah frontier adalah daerah milik wilayah geografi NKRI yang
letaknya berbatasan langsung dengan negara tetangga. Dalam Era otonomi
daerah sekarang ini, pemerintah daerah memiliki peran besar di dalam satu
paket pembangunan daerah yang menjadi wilayah otonominya. Perhatian dan
dukungan pemerintah pusat serta peran yang dimainkan pemerintah daerah
merupakan indikator keberhasilan pembangunan daerah frontier.
Daerah frontier dalam wilayah pemerintahan daerah juga harus
diperhitungkan sebagai daerah yang penting dibangun agar hasil-hasil
pembangunan dapat merata, kesejahteraan dan keamanan dapat menyebar,
kedaulatan wilayah geografi NKRI pun dapat terjamin.
Tujuan kebijakan penanganan daerah frontier pada intinya adalah untuk
menjaga

dan

mengamankan

wilayah

perbatasan

negara

dari

upaya

pengambilalihan pulau-pulau dan/atau laut diperbatasan oleh negara tetangga,


serta eksploitasi ilega sumber daya alam, baik oleh penduduk maupun karena
didorong oleh kepentingan negara tetangga.
Sasaran yang ingin dicapai di dalam pembinaan daerah frontier antara lain
penduduk yang bermukim di daerah frontier memiliki kemampuan dan
keterampilan untuk mengeksploitasi sumber daya alam; potensi sumber daya
alam dapat dilindungi untuk kepentingan bangsa dan negara, kedaaulatan
seluruh wilayah NKRI dapat lebih terjamin.
Langkah yang harus dilakukan pemerintah daerah untuk pembinaan
melalui pembangunan daerah frontier adalah:
1.

Mengmplementasikan manajemen dan program pembangunan daerah


frontier dalam konteks pemantapan penyelenggaraan pemerintahan
daerah dan aktualisasi pelayanan perbatasan antar negara dalam skala

2.

internasional.
Mewujudkan peningkata kinerja aparatur pemerintahan daerah dalam
upaya penanganan antar daerah frontier, terutama bagi pemerintahan

daerah yang wilayah geografinya berbatasan langsung baik daarat


3.

maupun laut dengan egara tetangga.


Mewujudkan tertib administrasi daalam penyelenggaraan tugas-tugas

4.

pemerintahan umum di daerah frontier.


Menyelenggarakan pemberdayaan masyarakat, pemetaan wilayah, dan
pengembangan kawasan daerah fromtier antarnegara untuk mencegah dan
menangkal tindak kriminal dan kejahatan antar negara.
Budang-bidang pembinaan yang dilaksanakan melalui program-program

pembaangunan daerah frontier meliputi bidang astagrata yaitu:


1.
Geografi negara. Pemangunan untuk menyediakan sarana transportasi
jalan darat ataupun laut, landasan pacu, dan sarana informasi dan
2.

komunikasi.
Keadaan dan kekayaan alam. Pembangunan untuk menyediakan peta-peta
sumber daya alam serta berisikan kandungan-kandungan kekayaan alam

3.

yang ada di daerh tersebut.


Keadaan dan kemampuan penduduk. Pembangunan untuk meningkatkan
kemampuan an keterampilan penduduk melalui beberapa jenis jenjang
pendidikan,

4.

melaksanakan

transmigrasi

dan

pemukiman

kembali

penduduk setempat dengan alokasi dana yang memadai.


Ideologi. Pembangunan untuk meningkatkan pemnghayatan

dan

pemahaman terhadap ideologi pancasila serta penguatan pancasila sebagai


identitas bangsa dan NKRI guna menyiapkan kekuatan untuk menangkal
5.

idologi asing yang masuk dari negara tetagga.


Politik. Pembangunan untuk menguatkan pemahanan terhadap sistem
politik nasional, kesadaran penduduk dalam satu ikatan wilayah, bangsa,
dan NKRI, serta menguatkan aparatur pemerintahan sebagai mitra TNI

6.

dalam pembinaan teritorial daerah frontier.


Ekonomi. Pembangunan untuk meningkatan aktivitas produksi dan
perekonomian

7.

untuk

kesejahteraan

penduduk

sehingga

mampu

menyangga wilayah sekitarnya.


Sosial-budaya. Pembangunan untuk memelihara sistem sosial dan nilai
budaya guna menangkal penetrasi budaya asing yang masuk dari negara
tetangga.

8.

Pertahanan-keamanan. Pembangunan untuk memperkuat teritorial melalui


penyediaan pos-pos perbatasan pembentukan perangkat komando beserta
program pengendaliannya untuk mempertahankan wilayah dari negara
tetangga.
Daerah frontier tampaknya belum menjadi bagian integral sebagai daerah

tertinggal yang memerlukan sentuhan program pembangunan dari pemerintah


pusat ataupun pemerintah daerah, padahal begitu panjang wilayah yang
termasuk daerah frontier bagi NKRI, baik di sebelah barat, utara, selatan,
maupun timur Indonesia. Apabila dicermati denga seksama, kondisi daerah
frontier sebagai wilayah yang berbatasan langsung dengan negara tetangga
dapat dirinci tentang kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancamannya, yang
tentunya rincian tersebut digunakan untuk merncanakan politik, strategi, tujuan,
dan sasaran serta program pembangunan yang ingin dilaksanakan dalam
membina daerah frontier sebagau daerah kedaulatan NKRI.
Dari segi kekuatan, daera frontier pada umumnya memiliki kandungan
sumber daya alam yang potensial sebagai modal dasar pembangunan daerah.
Untuk membina daera fronteir sebaiknya dipahami lebih dahulu kelainan dan
ancamannya agar mampu menemukan langkah-langkah yang dapat dijadikan
program pembangunannya. Kelemahan yang dihadapi daerah frontier antara
lain:
1.
Sumber daya manusia yang masih rendah dalam jumlah apapun dalam
kemampuan dan keterampilan. Jadi penduduk setempat belum dapat
2.

diandalkan untuk melaksanakan pembangunan.


Lapangan dan kesempatan kerja bagi penduduk masih rendah. Jadi

3.

tingkat pendapatan penduduk rendah.


Kualitas kehidupan sejahtera masih rendah dan tidak merata sehingga

4.

kegiatan pelintas batas ilegal da berbagai penyelunduoan sering terjadi.


Sarana dan prasarana dengan akses yang sangat minim di sepanjang garis
perbatasan dapa berbagai aspek kehidupan. Jadi penduduk cenderung
berorientasi kepada negara tetangga yang tingkat aksesbilitasnya relatif
lebih tinggi.

5.

Penegasan batas daaerah frontier dengan negara tetangga masih banyak


yang belum diwujudkan dalam bentuk akta kesepahaman bilateral. Jadi
kepastian hukumtentang larangan mengelola dan mengembangkan

6.

kawasan sepanjang garis perbatasan tidak berfungsi semestinya.


Rencana tata ruang dan pemanfaatan sumber daya alam kurang
teroodinasi dengan baik sehingga timbul konflik antar pemerintah daerah

7.

yang mengakibatkan penelantaran pembinaan daerah frntier.


Pengembangan daerah frontier belum menjadi prioritas pembangunan
sehingga alokasi pendanaan sangat minim sehingga ringkat kesenjang

8.

daerah frontier sengan daerah lainnya semakin jauh.


Kelmbagaan dan aparatur di daerah frontier masih sangat terbatas.

Yang dianggap sebagai ancaman dalam membina daerah frontier antara lain:
1.
Ancaman terhadap kedaulatan NKRI. Ancaman ini dapat terjadi karena
kontak antarpenduduk daerah frontier dengan penduduk negara tetangga
2.

baik secara ekonomi maupun sosial budaya.


Ancaman terhadap pulau dan sumber daya alam. Ancaman ini dapat
terjadi sebagai akibat faktor internal (pemerintah pusat atau pemerinta
daerah membiarkan pulau-pulau di daerah frontier tetap terlantar), faktor
eksternal (anggapan negara tetangga bahwa pulau-pulau di daerah frontier
itu tidak bertuan sehingga mengakuinya dan mengeksploitasi sumber

3.

daya alamnya untuk kepentingan negaranya).


Ancaman keamanana. Tingkat ancaman di daerah frontier sangat tinggi,
terutama daerah yang sedikit penduduknya dan kurang mendapat prioritas
bidang pertahanan-keamanan, terutama dari kegiatan ilegal.
Di dalam melaksanakan otonomi daerah, pemerintah daerah yang

memiliki daerah frontier dituntut mampu memberdayakan daerah itu mealui


program-program pembangunan termasuk dukungan pendaanaannya dalam
rangka mempertahankan kedaulatan NKRI serta memberdayakan penduduknya
atau melindungi mereka dari ancaman-ancaman. Mengingat peluang yang
dimiliki daerah frontier, maka diperlukan program pembangnan yang mampu

mengangkat harkat dan martabat daerah frontier. Diterimanya hasil-hasil


pembangunan oleh penduduk daerah frontier diharapkan dapat mengurangi
konflik kepentingan antarpemerintah daerah yang berbatasan ataupun dengaan
negara tetangga, diharapkan tingkat keamanan menjadi lebih terjamin dan
penyelesaian urusan pemerintahan dan pelayanan publik semakin lancar.