Anda di halaman 1dari 2

PEMBAHASAN KASUS

Dari uraian kasus diatas didapatkan permasalahan sebagai berikut :


1. Bagaimana proses penegakan diagnosa Preeklamsia Berat dengan Missed abortion?
2. Bagaimana Proses Preeklamsia Berat dapat menyebabkan Missed Abortion ?
3. Apakah penatalaksanaan sudah tepat untuk pasien ini?
4. Bagaimana prognosis pada kasus ini?

1. Proses penegakan diagnosis


Dasar penegakan diagnosa pada Ny nurlaila dilakukan dengan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
Dari anamnesis terjadinya preeklamsia pada pasien ini yang dapat
diidentifikasi salah satunya dai faktor resiko yang antara lain;

dari faktor usia,

riwayat hipertensi sebelumnya, riwayat hipertensi dalam keluarga dan obesitas dan
stres. Dari faktor usia diketahui pasien berusia 38 tahun yang mana pada usia >35
tahun resiko terjadinya hipertensi tinggi bahkan hipertensi dapat menetap. Diketahui
pasien juga sebelumnya memiliki riwayat hipertensi serta ibu pasien juga mengalami
hal yang sama.
Dari pengukuran tekanan darah pada pasien didapatkan tekanan darah sistolik
200 mmHg dan tekanan darah diastolik 130 mmHg yang mana salah satu kriteria
diagnosis preeklamsia berat adalah tekanan darah sistolik >160 mmHg dan tekanan
darah sistolik >110 mmHg.
Pemeriksaan laboratorium pada didapatkan kadar albumin rendah 1,3 g/dl
(normal 3,8-5,1 g/dl). Hal ini terjadi karena pada preeklamsia berat laju filtrasi
glomerulus pada ginjal berkurang akibat spasme arteri renalis sehingga penyerapan
terhadap protein berkurang berakibat proteinuria. Selanjutnya menyebabkan tekanan
hipovolemik intravaskular berkurang dan berakibat albumin serum mengalami
penurunan (hipoalbuminemia).
Pada kasus Missed Abortion anamnesis tidak banyak membantu karna pasien
tidak ada mengeluhkan apapun tentang kehamilannya. Diagnosis baru dapat
ditegakkan dari pemeriksaan USG dimana hasilnya didapatkan uterus yang mengecil,
bentuknya tidak beraturan dan disertai gambaran fetus yang tidak ada kehidupan.

2. Bagaimana Proses Preeklamsia Berat dapat menyebabkan Missed Abortion ?


Preeklamsia berat ataupun eklasmia akan menyebabkan perkembangan janin
dalam uterus terhambat bahkan dapat menyebabkan kematian pada janin. Disfungsi
endotel akan mengakibatkan

gangguan keseimbangan antara kadar hormon

vasokontriktor (endotelin, tromboksan, angiotensin) dan vasodilator (nitroksida,


prostaksilin).
Vasokontriksi yang terjadi secara terus-menerus pada pasien menyebabkan
hipertensi

yang

menetap.

Vasokontriksi

pembuluh

darah

mengakibatkan

berkurangnya suplai darah ke plasenta sehingga terjadi hipoksia janin.


Pada preeklamsia berat ditandai dengan invasi tidak sempurna dinding
arteriola spiralis oleh trofoblas ekstavilus dan menyebabkan terbentuknya pembuluh
darah berdiameter sempit sehingga aliran darah ke palsenta menurun dan terjadi
gangguan fungsi plasenta sehingga lama kelamaan pertumbuhan janin terganggu
bahkan dapat menyebabkan gawat janin dan kematian pada janin akibat kekurangan
oksigen. Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa pada preeklamsia berat
dapat menyebabkan missed abortion.