Anda di halaman 1dari 153

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS IV DAN V MI NEGERI 02 CEMPAKA PUTIH CIPUTAT TIMUR TAHUN AJARAN 2010/2011

SKRIPSI

CEMPAKA PUTIH CIPUTAT TIMUR TAHUN AJARAN 2010/2011 SKRIPSI Oleh: Sri Minatun 107101001764 PROGRAM STUDI KESEHATAN

Oleh:

Sri Minatun

107101001764

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

2011

LEMBAR PERNYATAAN
LEMBAR PERNYATAAN

i

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI JAKARTA

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT

Skripsi, November 2011

Sri Minatun, NIM : 107101001764

Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Prestasi Belajar Siswa Kelas IV dan V MIN 02 Cempaka Putih Ciputat Timur Tahun Ajaran 2010/2011

xv + 115 halaman + 23 tabel + 2 bagan + 3 lampiran

ABSTRAK

Pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam sebuah negara. Prestasi belajar siswa dianggap sebagai ukuran untuk menentukan tingkat keberhasilan proses pendidikan di Indonesia. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan pada 10 siswa kelas IV dan V MIN 02 Cempaka Putih didapatkan bahwa rata- rata nilai beberapa mata pelajaran kurang dari 7, yang berarti prestasi belajar siswa masih kurang.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan prestasi belajar siswa MIN 02 Cempaka Putih tahun ajaran 2010/2011, dengan menggunakan disain studi cross sectional. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 66 anak yang diambil secara acak. Data penelitian didapatkan dari data primer dengan menggunakan kuesioner, timbangan injak dan mikrotoa, serta data sekunder dari nilai rapor dan arsip sekolah. Data dianalisis secara univariat untuk melihar gambaran masing-masing variabel, bivariat dengan menggunakan anova dan uji t-independen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prestasi belajar siswa MIN 02 Cempaka Putih cukup baik, yaitu dengan rata-rata nilai siswa 75,03. Berdasarkan hasil analisis bivariat tidak ada hubungan yang signifikan antara status gizi, kesehatan, kebiasaan sarapan pagi, pendidikan orang tua, ekonomi keluarga dan lingkungan tempat tinggal dengan prestasi belajar. Sedangkan untuk variabel sikap, minat dan motivasi terdapat hubungan yang signifikan dengan prestasi belajar. Saran yang bisa diberikan adalah pihak sekolah sebaiknya mempertahankan prestasi belajar yang sudah baik dengan memantau dan memperhatikan faktor-faktor yang berhubungan dengan prestasi belajar, terutama dalam hal gizi dengan mengadakan kantin sekolah yang memenuhi persyaratan gizi dan memeriksa status gizi secara periodik.

Kata kunci: prestasi belajar, status gizi

Daftar bacaan: 110 (1978 – 2011)

ii

JAKARTA STATE ISLAMIC UNIVERSITY FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENE STUDY PROGRAM OF PUBLIC HEALTH Undergraduated Thesis, November 2011

Sri Minatun, NIM : 107101001764

The Factors Accociated with Learning Achievement Class of IV & V Cempaka Putih State Elementary School 02 Ciputat Timur School Year 2010/2011

xv + 115 pages + 23 table + 3 attachments

ABSTRACT

Education plays a very important role in improving the quality of human resources within a country. Student achievement is considered as a measure to determine the level of success of the process of education in Indonesia. Based on preliminary studies conducted on 10 students in grade IV and V Cempaka Putih State Elementary School found that the average value of some subjects is less than 7, which means that student achievement is still lacking.

This study aims to determine the factors that related with student achievement Cempaka Putih State Elementary School academic year 2010/2011, by using cross-sectional study design. The sample in this study as many as 66 children taken at random. The research data obtained from primary data using questionnaires, scales and mikrotoa stampede, as well as secondary data

from the report cards and school records. Data were analyzed by univariate to look for a picture

of each variable, bivariate using anova to see the relationship with the nutritional status of

learning achievement and a independen t-test to see the relationship with the other determinants

of learning achievement.

Results showed that student achievement Cempaka Putih State Elementary School quite good, with an average value of 75.03 students. Based on the results of bivariate analysis there was no significant relationship between nutritional status, health, breakfast habits, parental education, family economics and the environment in which to live with learning achievement. As for the variable attitudes, interests and motivation there is a significant relationship with learning achievement. The advice can be given is the school should maintain the achievements that have been well studied by monitoring and attention to factors associated with learning achievement, especially in terms of nutrition by holding a school cafeteria that meet nutritional requirements and examine the nutritional status periodically.

Keywords: learning achievement, nutritional status

References: 110 (1978 – 2011)

iii

PERNYATAAN PERSETUJUAN Skripsi dengan Judul FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS IV DAN
PERNYATAAN PERSETUJUAN
Skripsi dengan Judul
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA
KELAS IV DAN V MI NEGERI 02 CEMPAKA PUTIH
CIPUTAT TIMUR TAHUN AJARAN 2010/2011
Telah diperiksa, disetujui dan dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi
Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Jakarta, 22 November 2011
Mengetahui
Yuli Amran, SKM, MKM
Ratri Ciptaningtyas, SKM, S.Sn.Kes
Pembimbing I
Pembimbing I

iv

PANITIA SIDANG UJIAN SKRIPSI PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS
PANITIA SIDANG UJIAN SKRIPSI
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
Jakarta, 22 November 2011
Mengetahui,
Penguji I
Yuli Amran, SKM, MKM
Penguji II
Ratri Ciptaningtyas, SKM, S.Sn.Kes
Penguji III
Frima Elda, SKM, MKM

v

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang Maha Pengasih dan Penyayang, atas

limpahan

rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul “Faktor-

faktor yang Berhubungan dengan Prestasi Belajar Siswa MI Negeri 02 Cempaka Putih

Ciputat

Timur

Tahun

Ajaran

2010/2011”.

Shalawat

serta

salam

semoga

senantiasa

tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa dari kegelapan menuju cahaya

yang terang benderang yaitu Islam.

Skripsi ini penulis susun dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar

Sarjana Kesehatan Masyarakat, pada Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam

Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Dalam penulisan skripsi ini, penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak akan terselesaikan

tanpa bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis mengucapkan

terima kasih kepada :

1. Prof. Dr (hc). dr. M. K. Tajudin, Sp.And, selaku dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu

Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. dr. Yuli Prapanca Satar, MARS, selaku ketua Program Studi Kesehatan Masyarakat.

3. Kemenag RI yang telah memberikan beasiswa sehingga penulis diberikan kesempatan

untuk menyelesaikan studi di FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

4. Ibu Yuli Amran, SKM, MKM selaku pembimbing I dalam penyusunan skripsi, yang

telah memberikan arahan, saran dan saran sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi

ini.

vi

5.

Ibu Ratri Ciptaningtyas, SKM, S.Sn.Kes selaku pembimbing II, yang telah memberikan

bimbingan, arahan, dan motivasi sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

6. Kepala sekolah MI Negeri 02 Cempaka Putih yang telah mengizinkan penulis untuk

melakukan penelitian di MI Negeri

02 Cempaka Putih, serta para guru dan staf di MI

Negeri 02 Cempaka Putih yang telah membantu kelancaran penelitian penulis.

7. Ayah dan Ibu tersayang yang senantiasa mendoakan dan memberikan bantuan baik moril

maupun materiil serta adik-adik tercinta (Irfana dan Imam), yang selalu memberikan

dorongan semangat bagi penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

8. Teman-teman CSS MoRa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta khususnya angkatan 2007

yang selalu memberikan semangat bagi penulis

9. Semua pihak yang telah memberikan bantuannya sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih sangat jauh dari sempurna. Oleh karena itu,

penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Semoga dengan disusunnya skripsi ini

akan memberikan manfaat bagi banyak pihak, khususnya bagi penulis serta bagi pembaca.

Ciputat, 15 November 2011

vii

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman

LEMBAR PERSETUJUAN……………………………………………………………

i

ABSTRAK

ii

PERNYATAAN PERSETUJUAN

iv

PANITIA SIDANG UJIAN SKRIPSI

v

KATA PENGANTAR…………………………………………………………………

viii

DAFTAR ISI……………………………………………………………………………

vii

DAFTAR TABEL………………………………………………………………………

xii

DAFTAR BAGAN……………………………………………………………………….

xiv

DAFTAR LAMPIRAN…………………………………………………………………

xv

BAB I PENDAHULUAN………………………………………………………………

1

A. Latar Belakang……………………………………………………………….…

1

B. Rumusan Masalah………………………………………………………….…….

6

C. Pertanyaan Penelitian……………………………………………………….……

7

D. Tujuan Penelitian………………………………………………………….……

9

1. Tujuan Umum………………………………………………………………

9

2. Tujuan Khusus……………………………………………………………….

9

E. Manfaat Penelitian………………………………………………………………

10

1. Bagi MI Negeri 02 Cempaka Putih Ciputat Timur…………………………

10

2. Bagi Peneliti………………………………………………………………….

11

F. Ruang Lingkup Penelitian………………………………………………………

11

BAB II TINJAUAN PUSTAKA…………………………………………………………

12

A. Prestasi Diri…………………………………………………………………

12

1. Pengertian Prestasi Diri…………………………………………………

12

2. Macam-macam Prestasi Diri…………………………………………………

12

B. Prestasi Belajar……………………………

13

viii

1.

Pengertian Prestasi Belajar……………………………………………………

13

2. Indikator Prestasi Belajar……………………………………………………… 15

18

4. Evaluasi Prestasi Belajar………………………………………………………. 18

3. Batas Minimal Prestasi Belajar………………………………………………

C.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar…………………………

19

1. Faktor Internal…………………………………………………………………

20

 

a. Aspek Fisiologis……………………………………………………………

20

 

1)

Status gizi………………………………………………………………

20

2)

Kesehatan………………………………

29

3) Kebiasaan sarapan pagi……………………………………………

30

 

b. Aspek Psikologis…………………………………………………………

32

 

1)

Inteligensi siswa………………………………………………………

32

2)

Sikap siswa……………………………………………………………

34

3)

Bakat siswa……………………………………………………………

35

4)

Minat siswa……………………

35

5)

Motivasi siswa………………………………………………………….

37

2. Faktor Eksternal………………………………………………………………

40

 

a. Lingkungan Sosial………………………………………………

40

 

1)

Keluarga……………………………………………………………….

40

 

a) Pendidikan orangtua………………………………………………

41

b) Keadaan ekonomi keluarga………………………………………

43

 

2)

Sekolah………………………………………………………………

44

3)

Masyarakat…………………………………………………………….

44

 

b. Lingkungan nonsosial……………………………………………………

45

 

1)

Lingkungan sekolah ………………………

45

2)

Lingkungan tempat tinggal …………………………………………

46

 

3.

Faktor Pendekatan Belajar…………………………………………………….

49

D. Anak Sekolah…………………………………………………………………….

50

E. Kerangka Teori…………………………………………………………………

52

BAB III KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPERASIONAL DAN HIPOTESIS……

53

A.

Kerangka Konsep………………………………………………………………

53

ix

B.

Definisi Operasional……………………………………………………………

55

C. Hipotesis…………………………………………………………………………. 59

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN………………………………………………

60

A. Disain Penelitian…………………………………………………………………

60

B. Lokasi dan Waktu Penelitian……………………………………………………. 60

C. Populasi dan Sampel Penelitian…………………………………………………. 60

1. Populasi Penelitian…………………………………………………………

60

2. Sampel Penelitian…………………………………………………………….

60

D. Instrumen Penelitian……………………………………………………………

61

E. Pengumpulan Data Penelitian…………………………………………………… 62

1. Primer………………………………………………………………………

62

2. Sekunder …………………………………………………………………….

63

F. Pengolahan Data Penelitian……………………………………………………… 63

G. Teknis dan Analisis Data Penelitian……………………………………………

64

1. Analisis Data Univariat………………………………………………………

64

2. Analisis Data Bivariat………………………………………………………

64

BAB V HASIL…………………………………………………………………………

66

A. Analisis Univariat…………………………………………………………………

66

1. Gambaran Prestasi Belajar……………………………………………………

66

2. Gambaran Status Gizi…………………………………………………………

66

3. Gambaran Kesehatan…………………………………………………………

67

4. Gambaran Kebiasaan Sarapan Pagi……………………………………………. 68

5. Gambaran Sikap………………………………………………………………

68

6. Gambaran Minat………………………………………………………………

69

7. Gambaran Motivasi……………………………………………………………

69

8. Gambaran Pendidikan Ayah……………………………………………………

70

9. Gambaran Pendidikan Ibu………………………………………………………

70

10. Gambaran Ekonomi Keluarga…………………………………………………

71

11. Gambaran Lingkungan Tempat Tinggal………………………………………

71

B. Analisis Bivariat…………………………………………………………………….

72

1.

Hubungan Status Gizi dengan Prestasi Belajar…………………………………

72

x

2.

Hubungan Kesehatan dengan Prestasi Belajar…………………………………. 73

73

4. Hubungan Sikap dengan Prestasi Belajar……………………………………… 74

5. Hubungan Minat dengan Prestasi Belajar……………………………………… 74

3. Hubungan Kebiasaan Sarapan Pagi dengan Prestasi Belajar…………………

75

7. Hubungan Pendidikan Ayah dengan Prestasi Belajar…………………………. 76

8. Hubungan Pendidikan Ibu dengan Prestasi Belajar……………………………. 76

6. Hubungan Motivasi dengan Prestasi Belajar…………………………………

9. Hubungan Ekonomi Keluarga dengan Prestasi Belajar………………………

77

10. Hubungan Lingkungan Tempat Tinggal dengan Prestasi Belajar……………

77

BAB VI PEMBAHASAN………………………………………………………………

79

A. Keterbatasan Peneliti……………………………………………………………….

79

B. Prestasi Belajar……………………………………………………………………

79

C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar………………………………

83

1. Status Gizi ……………………………………………………………………

83

2. Kesehatan ………………………………………………………………………

88

3. Kebiasaan Sarapan Pagi ………………………………………………………. 90

4. Sikap …………………………………………………………………………

93

5. Minat …………………………………………………………………………

95

6. Motivasi …………………………………

96

7. Pendidikan Ayah ………………………………………………………………

97

8. Pendidikan Ibu ………………………………………………………………

99

9. Ekonomi Keluarga …………………………………………………………….

101

10. Lingkungan Tempat Tinggal ……………

102

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN…………………………………………………

106

A. Simpulan …………………………………………………………………………

106

B. Saran ……………………………………………………………………………….

108

1. Bagi Sekolah……………………………………………………………………

108

2. Bagi Peneliti Selanjutnya………………………………………………………. 108

109

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………

xi

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1

Jenis, Indikator, dan Cara Evaluasi Prestasi Belajar

16

Tabel 2.2

Indikator Motivasi………………………………………………………….

39

Tabel 5.1

Distribusi Prestasi Belajar Siswa Kelas IV dan V MI Negeri 02 Cempaka Putih Ciputat Timur Tahun Ajaran 2010/2011……………………………

66

Tabel 5.2

Distribusi Status Gizi Siswa Kelas IV dan V MI Negeri 02 Cempaka Putih Ciputat Timur Tahun Ajaran 2010/2011…………………………… 67

Tabel 5.3

Distribusi Kesehatan Siswa Kelas IV dan V MI Negeri 02 Cempaka Putih Ciputat Timur Tahun Ajaran 2010/2011…………………………… 67

Tabel 5.4

Distribusi Kebiasaan Sarapan Pagi Siswa Kelas IV dan V MI Negeri 02 Cempaka Putih Ciputat Timur Tahun Ajaran 2010/2011………………… 68

Tabel 5.5

Distribusi Sikap Siswa Kelas IV dan V MI Negeri 02 Cempaka Putih Ciputat Timur Tahun Ajaran 2010/2011…………………………………

68

Tabel 5.6

Distribusi Minat Siswa Kelas IV dan V MI Negeri 02 Cempaka Putih Ciputat Timur Tahun Ajaran 2010/2011…………………………………

69

Tabel 5.7

Distribusi Motivasi Siswa Kelas IV dan V MI Negeri 02 Cempaka Putih Ciputat Timur Tahun Ajaran 2010/2011…………………………………

70

Tabel 5.8

Distribusi Pendidikan Ayah Siswa Kelas IV dan V MIN 02 Cempaka Putih Ciputat Timur Tahun Ajaran 2010/2011…………………………… 70

Tabel 5.9

Distribusi Pendidikan Ibu Siswa Kelas IV dan V MI Negeri 02 Cempaka Putih Ciputat Timur Tahun Ajaran 2010/2011……………………………

71

Tabel 5.10

Distribusi Ekonomi Keluarga Siswa Kelas IV dan V MI Negeri 02 Cempaka Putih Ciputat Timur Tahun Ajaran 2010/2011…………………

71

Tabel 5.11 Distribusi Lingkungan Tempat Tinggal Siswa Kelas IV dan V MI Negeri 02 Cempaka Putih Ciputat Timur Tahun Ajaran 2010/2011……………

72

Tabel 5.12

Distribusi Nilai Menurut Status Gizi Siswa Kelas IV dan V MI Negeri 02 Cempaka Putih Ciputat Timur Tahun Ajaran 2010/2011…………………

72

Tabel 5.13 Distribusi Nilai Menurut Kesehatan Siswa Kelas IV dan V MI Negeri 02

xii

Cempaka Putih Ciputat Timur Tahun Ajaran 2010/2011………………… 73

Tabel 5.14 Distribusi Nilai Menurut Kebiasaan Sarapan Pagi Siswa Kelas IV dan V MIN 02 Cempaka Putih Ciputat Timur Tahun Ajaran 2010/2011………

Tabel 5.15

73

Distribusi Nilai Menurut Sikap Siswa Kelas IV dan V MI Negeri 02 Cempaka Putih Ciputat Timur Tahun Ajaran 2010/2011………………… 74

Tabel 5.16 Distribusi Nilai Menurut Minat Siswa Kelas IV dan V MI Negeri 02 Cempaka Putih Ciputat Timur Tahun Ajaran 2010/2011…………………

74

Tabel 5.17 Distribusi Nilai Menurut Motivasi Siswa Kelas IV dan V MI Negeri 02 Cempaka Putih Ciputat Timur Tahun Ajaran 2010/2011…………………

75

Tabel 5.18 Distribusi Nilai Menurut Pendidikan Ayah Siswa Kelas IV dan V MI Negeri 02 Cempaka Putih Ciputat Timur Tahun Ajaran 2010/2011……

76

Tabel 5.19 Distribusi Nilai Menurut Pendidikan Ibu Siswa Kelas IV dan V MI Negeri 02 Cempaka Putih Ciputat Timur Tahun Ajaran 2010/2011……

76

Tabel 5.20 Distribusi Nilai Menurut Ekonomi Keluarga Siswa Kelas IV dan V MI Negeri 02 Cempaka Putih Ciputat Timur Tahun Ajaran 2010/2011……

77

Tabel 5.21 Distribusi Nilai Menurut Lingkungan Tempat Tinggal Siswa Kelas IV dan V MI Negeri 02 Cempaka Putih Ciputat Timur Tahun Ajaran 2010/2011………………………………………………………………… 77

xiii

DAFTAR BAGAN

Halaman

Bagan 2.1 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar…………………….

52

Bagan 3.1 Bagan Kerangka Konsep………………………………………………

54

xiv

1. Lampiran 1

2. Lampiran 2

3. Lampiran 3

DAFTAR LAMPIRAN

: Hasil Analisis SPSS

: Kuesioner Penelitian

: Uji Validitas dan Reabilitas Kuesioner

xv

A. Latar Belakang

BAB I

PENDAHULUAN

Anak sekolah merupakan aset negara yang sangat penting sebagai sumber daya

manusia

bagi

keberhasilan

pembangunan

bangsa

(Moehji,

2003).

Keberhasilan

pembangunan suatu bangsa sangat tergantung kepada keberhasilan bangsa itu sendiri dalam

menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas, sehat, cerdas, dan produktif (Hadi,

2005). Upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia harus dilakukan sejak dini,

sistematis dan berkesinambungan (Judarwanto, 2008). Kualitas sumber daya manusia

(SDM) memainkan peran penting dalam pembangunan bangsa. Perkembangan ilmu dan

pengetahuan (iptek) yang kini berlangsung amat cepat dan menjadi barometer kemajuan

suatu bangsa, membutuhkan SDM berkualitas tinggi (Sibuea, 2002).

Berdasarkan

UU

No.

20

tahun

2003

tentang

Sistem

Pendidikan

Nasional,

terwujudnya sumber daya manusia yang berkualitas tidak terlepas dari peranan dunia

pendidikan.

Pendidikan

memegang

peranan

yang

sangat

penting

dalam peningkatan

kualitas sumber daya manusia dalam sebuah negara. Prestasi belajar siswa sebagai ukuran

untuk

menentukan

tingkat

keberhasilan

proses

pendidikan

di

Indonesia.

Hal

ini

menunjukkan

berhasil

tidaknya

proses

pendidikan

dapat

diamati

berdasarkan

tinggi

rendahnya

prestasi

belajar

siswa.

Menurut

Purwadarminto

dalam

Wijayanto

(2001),

prestasi belajar adalah prestasi yang dicapai oleh seorang siswa dalam jangka waktu

tertentu dan yang tercatat dalam buku rapor sekolah.

1

2

Menurut Syah (2010), faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi terbagi menjadi tiga

yaitu faktor internal, faktor eksternal, dan faktor pendekatan belajar. Faktor internal terdiri

dari aspek fisiologis (status gizi, kesehatan, dan kebiasaan sarapan pagi) dan aspek

psikologis (inteligensi, sikap, bakat, minat, dan motivasi). Faktor eksternal terdiri dari

lingkungan sosial (pendidikan ayah, pendidikan ibu, keadaan ekonomi orang tua, guru,

teman-teman

sepermainan,

dan

masyarakat)

dan

sekolah dan lingkungan tempat tinggal).

Status gizi seseorang merupakan faktor yang

lingkungan

non-sosial

(lingkungan

memberikan pengaruh cukup besar

terhadap prestasi seseorang. Hal ini dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan oleh

Himmah (2010) pada anak SD di Bekasi, dihasilkan bahwa prestasi belajar siswa kurang

ternyata banyak terjadi pada siswa dengan status gizi yang kurang (80,6%) dibandingkan

siswa dengan status gizi yang normal (41,4%). Hal ini didukung dengan penelitian

Pamularsih pada anak SD di Boyolali, terdapat hubungan antara status gizi dengan prestasi

belajar.

Menurut

Moeloek

(1999),

gizi

merupakan

salah

satu

faktor

penting

dalam

memberikan kontribusi terhadap kualitas sumber daya manusia (SDM). Asupan gizi yang

baik berperan penting di dalam mencapai pertumbuhan badan yang optimal. Pertumbuhan

badan yang optimal ini mencakup pula pertumbuhan otak yang

sangat

menentukan

kecerdasan seseorang. Dampak akhir dari konsumsi gizi yang baik dan seimbang adalah

meningkatnya kualitas sumber daya manusia (Khomsan, 2004). Kualitas bangsa di masa

depan ditentukan oleh kualitas anak-anak saat ini (Judarwanto, 2008).

Menurut Sediaoetama (2000), anak sekolah atau masa kanak-kanak pertengahan

merupakan salah satu kelompok yang rentan terhadap ketidakcukupan gizi, sehingga anak

3

sekolah harus dipantau agar ketidakcukupan gizi bisa dihindari. Anak yang gizi kurang

menjadi terbelakang, sehingga seringkali mereka tidak dapat menyesuaikan diri dengan

situasi sekolah (Berg, 1986).

Fase usia sekolah membutuhkan asupan makanan yang bergizi untuk menunjang

masa pertumbuhan dan perkembangannya. Kebutuhan tubuh akan energi jauh lebih besar

dibandingkan dengan usia sebelumnya, karena anak sekolah lebih banyak melakukan

aktivitas fisik seperti bermain, berolahraga atau membantu orang tuanya (Anindya, 2009).

Selain itu, pengaruh makanan terhadap perkembangan otak, apabila makanan tidak cukup

mengandung zat-zat gizi yang dibutuhkan, dan keadaan ini berlangsung lama, akan

menyebabkan perubahan metabolisme dalam otak, berakibat

terjadi ketidakmampuan

berfungsi normal. Pada keadaan yang lebih berat dan kronis, kekurangan gizi menyebabkan

pertumbuhan badan terganggu, badan lebih kecil diikuti dengan ukuran otak yang juga

kecil.

Jumlah

sel

dalam

otak

berkurang

dan

terjadi

ketidakmatangan

dan

ketidaksempurnaan organisasi biokimia dalam otak. Keadaan ini berpengaruh terhadap

perkembangan kecerdasan anak (Anwar, 2008 dalam Pamularsih, 2009). Untuk itu, usaha-

usaha peningkatan gizi terutama harus ditujukan pada anak-anak (Krisno, 2004).

Anak

yang

kurang

gizi

mudah

mengantuk

dan

kurang

bergairah

yang

dapat

mengganggu proses belajar di sekolah dan menurun prestasi belajarnya, daya pikir anak

juga akan berkurang, karena pertumbuhan otaknya tidak optimal (Anindya, 2009). Kurang

gizi akan menyebabkan kegagalan pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan,

menurunkan daya tahan, meningkatkan kesakitan dan kematian (Achmad, 2000). Dalam

Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (2000) disebutkan bahwa pada anak usia sekolah

kekurangan gizi akan mengakibatkan anak menjadi lemah, cepat lelah dan sakit - sakitan

4

sehingga anak seringkali absen serta mengalami kesulitan mengikuti dan memahami

pelajaran. Menurut Almatsier (2006), kekurangan gizi secara umum (makanan kurang

dalam

kuantitas

dan

kualitas)

menyebabkan

gangguan

pada

proses-proses

seperti

pertumbuhan, produksi tenaga, pertahanan tubuh, struktur dan fungsi otak serta perilaku.

Begitu juga dengan anak yang mengalami obesitas akan mempengaruhi terhadap

prestasi belajarnya. Hal ini berdasarkan Datar, Sturm, dan Magnabosco (2004) yang

menyatakan prestasi anak obesitas pada pelajaran matematika dan membaca cenderung

lebih rendah dibandingkan anak yang tidak obesitas.

Selain itu, sarapan pagi juga penting bagi anak sekolah. Menurut Khomsan (2004),

anak yang tidak sarapan pagi akan mengalami kekosongan lambung sehingga kadar gula

akan menurun. Padahal gula darah merupakan sumber energi utama bagi otak. Dalam

keadaan demikian anak akan sulit untuk dapat menerima pelajaran dengan baik. Gairah

belajar dan kecepatan reaksi juga akan menurun.

Tinggi rendahnya prestasi belajar siswa juga berhubungan dengan tingkat pendidikan

dan tingkat penghasilan orang tua. Karena dengan adanya tingkat pendidikan dan tingkat

penghasilan yang tinggi diharapkan orang tua selain akan memberikan perhatian dan

kepedulian terhadap kegiatan belajar siswa juga akan dapat memenuhi fasilitas belajar

siswa dan biaya sekolah lainnya, yang pada gilirannya dapat memotivasi siswa untuk

meningkatkan prestasi belajarnya. Sebaliknya dengan tingkat pendidikan yang rendah dan

tingkat penghasilan yang rendah dari orang tua maka selain dapat mengurangi perhatian

dan kepedulian orang tua terhadap kegiatan belajar siswa juga akan dapat mengurangi

pemenuhan kebutuhan atau fasilitas belajar siswa dan biaya sekolah lainnya. Sehingga akan

5

menurunkan motivasi belajar yang pada gilirannya akan mengurangi prestasi belajar siswa

(Kusumastuti, 2010).

Kualitas pendidikan di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Ini dibuktikan

antara lain dengan data UNESCO (2000) tentang peringkat Indeks Pengembangan Manusia

(Human Development Index), yaitu komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan,

kesehatan, dan penghasilan per kepala yang menunjukkan bahwa Indeks Pengembangan

Manusia Indonesia makin menurun (Aqila, 2010). Berdasarkan IPM maka pembangunan

sumber daya manusia Indonesia belum menunjukkan hasil yang menggembirakan. Pada

tahun 2003, IPM Indonesia menempati urutan ke 112 dari 174 negara (UNDP, 2003).

Sedangkan pada tahun 2004, IPM Indonesia menempati peringkat 111 dari 177 negara

(UNDP, 2004), yang merupakan peringkat lebih rendah dibandingkan peringkat IPM

negara-negara tetangga (Hadi, 2005).

Hasil penelitian yang dilakukan oleh IEA, Asosiasi Internasional yang secara berkala

meriset pencapaian bidang pendidikan masyarakat dunia, tentang kemampuan membaca

siswa Sekolah Dasar (SD) di sejumlah negara, termasuk Indonesia, menunjukkan bahwa

kemampuan siswa SD di Indonesia sangat rendah (di bawah rata-rata). Dari 33 negara yang

diteliti, siswa SD di Indonesia berada di urutan ke-32 (Eriyanti, 2007).

Begitu juga dengan prestasi belajar siswa SD/MI di Provinsi Banten yang masih

kurang baik. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata UASBN (Ujian Akhir Sekolah

Berstandar Nasional) Provinsi Banten tahun 2008 untuk mata pelajaran Matematika,

Bahasa Indonesia dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berdasarkan Depdiknas (2009) adalah

6,46.

6

Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan pada 10 siswa kelas IV dan V MI

Negeri 02 Cempaka Putih Ciputat Timur didapatkan bahwa rata-rata nilai Matematika

adalah 6,8, nilai Bahasa Indonesia adalah 7,2, nilai IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) adalah

6,6, dan rata-rata nilai IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) adalah 6,8. Sedangkan nilai rata-rata

pelajaran agama yang terdiri dari Al-Qur’an Hadits, Akidah Akhlak, Fikih, Sejarah

Kebudayaan Islam (SKI) dan Bahasa Arab adalah 6,9; 7,5; 7,5; 6,4 dan 7,5.

Hal tersebut

menunjukkan bahwa prestasi belajar siswa kelas IV dan V MI Negeri 02 Cempaka Putih

masih kurang, karena untuk pelajaran Matematika, IPA dan IPS, yaitu rata-rata nilai

tersebut masih kurang dari 7 sebagaimana standar dari Depdiknas (2008). Demikian juga

dengan prestasi pelajaran agama, pelajaran Al-Qur’an Hadits dan SKI, masih kurang dari 7.

Oleh karena itu, peneliti bermaksud untuk meneliti faktor-faktor yang berhubungan

dengan prestasi belajar siswa kelas IV dan V MI Negeri 02 Cempaka Putih Ciputat Timur

tahun ajaran 2010/2011.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan Depdiknas (2009), prestasi belajar siswa SD/MI di Provinsi Banten

masih kurang baik. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata UASBN (Ujian Akhir Sekolah

Berstandar Nasional) Provinsi Banten tahun 2008 untuk mata pelajaran Matematika,

Bahasa Indonesia dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang masih kurang dari 7,00 yaitu

6,46.

Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan pada 10 siswa kelas IV dan V MI

Negeri 02 Cempaka Putih didapatkan bahwa rata-rata nilai beberapa mata pelajaran, seperti

Matematika,

IPA,

IPS,

Al-Qur’an

Hadits

dan

SKI,

masih

kurang

dari

7.

Hal

ini

menunjukkan bahwa prestasi belajar siswa masih kurang. Padahal, prestasi belajar siswa

7

dijadikan sebagai ukuran untuk menentukan tingkat keberhasilan proses pendidikan di

Indonesia. Pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam peningkatan kualitas

sumber daya manusia dalam sebuah negara. Sedangkan keberhasilan pembangunan suatu

bangsa sangat tergantung kepada keberhasilan bangsa itu sendiri dalam menyiapkan

sumber daya manusia yang berkualitas, sehat, cerdas, dan produktif. Sehingga, prestasi

belajar anak sekolah menjadi sangat penting dalam menentukan keberhasilan pembangunan

negara.

Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar antara lain faktor internal yang

terdiri dari aspek fisiologis (kesehatan, status gizi dan keiasaan sarapan pagi) dan aspek

psikologis (inteligensi, sikap, bakat, minat dan motivasi); faktor eksternal yang terdiri dari

faktor sosial (pendidikan ayah, pendidikan ibu, keadaan ekonomi orang tua, guru, teman-

teman sepermainan, dan masyarakat) dan faktor non sosial (lingkungan sekolah dan

lingkungan tempat tinggal); serta pendekatan belajar. Berdasarkan hal tersebut, peneliti

bermaksud untuk meneliti faktor-faktor yang berhubungan dengan prestasi belajar siswa

kelas IV dan V MI Negeri 02 Cempaka Putih Ciputat Timur tahun ajaran 2010/2011.

C. Pertanyaan Penelitian

1. Bagaimana gambaran prestasi belajar siswa kelas IV dan V MI Negeri 02 Cempaka

Putih Ciputat Timur tahun ajaran 2010/2011?

2. Bagaimana gambaran status gizi siswa kelas IV dan V MI Negeri 02 Cempaka Putih

Ciputat Timur tahun ajaran 2010/2011?

3. Bagaimana gambaran kesehatan siswa kelas IV dan V MI Negeri 02 Cempaka Putih

Ciputat Timur tahun ajaran 2010/2011?

8

4. Bagaimana gambaran kebiasaan sarapan pagi siswa kelas IV dan V MI Negeri 02

Cempaka Putih Ciputat Timur tahun ajaran 2010/2011?

5. Bagaimana gambaran pendidikan ayah siswa kelas IV dan V MI Negeri 02 Cempaka

Putih Ciputat Timur tahun ajaran 2010/2011?

6. Bagaimana gambaran pendidikan ibu siswa kelas IV dan V MI Negeri 02 Cempaka

Putih Ciputat Timur tahun ajaran 2010/2011?

7. Bagaimana gambaran ekonomi keluarga siswa kelas IV dan V MI Negeri 02 Cempaka

Putih Ciputat Timur tahun ajaran 2010/2011?

8. Bagaimana gambaran lingkungan tempat tinggal siswa kelas IV dan V MI Negeri 02

Cempaka Putih Ciputat Timur tahun ajaran 2010/2011?

9. Adakah hubungan antara status gizi dengan prestasi belajar pada siswa kelas IV dan V

MI Negeri 02 Cempaka Putih Ciputat Timur tahun ajaran 2010/2011?

10. Adakah hubungan antara kesehatan dengan prestasi belajar pada siswa kelas IV dan V

MI Negeri 02 Cempaka Putih Ciputat Timur tahun ajaran 2010/2011?

11. Adakah hubungan antara kebiasaan sarapan pagi dengan prestasi belajar pada siswa

kelas IV dan V MI Negeri 02 Cempaka Putih Ciputat Timur tahun ajaran 2010/2011?

12. Adakah hubungan antara pendidikan ayah dengan prestasi belajar pada siswa kelas IV

dan V MI Negeri 02 Cempaka Putih Ciputat Timur tahun ajaran 2010/2011?

13. Adakah hubungan antara pendidikan ibu dengan prestasi belajar pada siswa kelas IV

dan V MI Negeri 02 Cempaka Putih Ciputat Timur tahun ajaran 2010/2011?

14. Adakah hubungan antara ekonomi keluarga dengan prestasi belajar pada siswa kelas IV

dan V MI Negeri 02 Cempaka Putih Ciputat Timur tahun ajaran 2010/2011?

9

15. Adakah hubungan antara lingkungan tempat tinggal dengan prestasi belajar pada siswa

kelas IV dan V MI Negeri 02 Cempaka Putih Ciputat Timur tahun ajaran 2010/2011?

D. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Diketahuinya faktor-faktor yang berhubungan dengan prestasi belajar pada siswa

kelas IV dan V MI Negeri 02 Cempaka Putih Ciputat Timur tahun ajaran 2010/2011.

2. Tujuan Khusus

a. Diketahuinya gambaran prestasi belajar siswa kelas IV dan V MI Negeri 02

Cempaka Putih Ciputat Timur tahun ajaran 2010/2011.

b. Diketahuinya gambaran status gizi siswa kelas IV dan V MI Negeri 02 Cempaka

Putih Ciputat Timur tahun ajaran 2010/2011.

c. Diketahuinya gambaran kesehatan siswa kelas IV dan V MI Negeri 02 Cempaka

Putih Ciputat Timur tahun ajaran 2010/2011.

d. Diketahuinya gambaran kebiasaan sarapan pagi siswa kelas IV dan V MI Negeri 02

Cempaka Putih Ciputat Timur tahun ajaran 2010/2011.

e. Diketahuinya gambaran pendidikan ayah siswa kelas IV dan V MI Negeri 02

Cempaka Putih Ciputat Timur tahun ajaran 2010/2011.

f. Diketahuinya gambaran pendidikan ibu siswa kelas IV dan V MI Negeri 02

Cempaka Putih Ciputat Timur tahun ajaran 2010/2011.

g. Diketahuinya gambaran ekonomi keluarga siswa kelas IV dan V MI Negeri 02

Cempaka Putih Ciputat Timur tahun ajaran 2010/2011.

h. Diketahuinya gambaran lingkungan tempat tinggal siswa kelas IV dan V MI Negeri

02 Cempaka Putih Ciputat Timur tahun ajaran 2010/2011.

10

i. Diketahuinya hubungan antara status gizi dengan prestasi belajar pada siswa kelas

IV dan V MI Negeri 02 Cempaka Putih Ciputat Timur tahun ajaran 2010/2011.

j. Diketahuinya hubungan antara kesehatan dengan prestasi belajar pada siswa kelas

IV dan V MI Negeri 02 Cempaka Putih Ciputat Timur tahun ajaran 2010/2011.

k. Diketahuinya hubungan antara kebiasaan sarapan pagi dengan prestasi belajar pada

siswa kelas IV dan V MI Negeri 02 Cempaka Putih Ciputat Timur tahun ajaran

2010/2011.

l. Diketahuinya hubungan antara pendidikan ayah dengan prestasi belajar pada siswa

kelas IV dan

V

MI Negeri 02

Cempaka Putih

Ciputat

Timur tahun ajaran

2010/2011.

m. Diketahuinya hubungan antara pendidikan ibu dengan prestasi belajar pada siswa

kelas IV dan

V

MI Negeri 02

Cempaka Putih

Ciputat

Timur tahun ajaran

2010/2011.

n. Diketahuinya hubungan antara ekonomi keluarga dengan prestasi belajar pada siswa

kelas IV dan

V

MI Negeri 02

Cempaka Putih

Ciputat

Timur tahun ajaran

2010/2011.

o. Diketahuinya hubungan antara lingkungan tempat tinggal dengan prestasi belajar

pada siswa kelas IV dan V MI Negeri 02 Cempaka Putih Ciputat Timur tahun

ajaran 2010/2011.

E. Manfaat Penelitian

1. Bagi MI Negeri 02 Cempaka Putih Ciputat Timur

Diperolehnya

informasi

mengenai

prestasi

dan

faktor-faktor

yang

mempengaruhinya.

Selain

itu,

dengan

hasil penelitian

diharapkan

dapat

menjadi

11

masukan bagi pengelola pendidikan di MI Negeri 02 Cempaka Putih dalam melakukan

kegiatan berbasis sekolah dalam upaya peningkatan prestasi belajar anak sekolah.

2. Bagi Peneliti

Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan landasan untuk dilakukannya

penelitian

lanjutan

yang

berkaitan

prestasi

belajar

dan

mempengaruhinya, terutama dalam hal gizi.

F. Ruang Lingkup Penelitian

faktor-faktor

yang

Penelitian ini merupakan penelitian mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan

prestasi belajar siswa kelas IV dan V MI Negeri 02 Cempaka Putih Ciputat Timur.

Mahasiswi Peminatan Gizi Program Studi Kesehatan Masyarakat merupakan peneliti

dalam penelitian ini dan yang diteliti adalah siswa kelas IV dan V MI Negeri 02 Cempaka

Putih Ciputat Timur tahun ajaran 2010/2011. Alasan dilakukan penelitian ini karena

berdasarkan studi pendahuluan, prestasi siswa kelas IV dan V MI Negeri 02 Cempaka

Putih Ciputat Timur masih kurang, yaitu nilai rata-rata pelajaran Matematika, IPA, IPS, Al-

Qur’an Hadits dan SKI masih kurang dari 7. Penelitian dilakukan pada bulan Mei sampai

November

tahun

2011

di

MI

Negeri

02

Cempaka

Putih

Ciputat

menggunakan disain penelitian cross-sectional.

Timur

dengan

12

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. PRESTASI DIRI

1. Pengertian Prestasi Diri

Prestasi diri berarti hasil usaha atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau

pribadi. Dapat pula dikatakan bahwa seseorang dianggap berprestasi, jika dia telah

meraih

sesuatu

dari apa

yang

berolahraga

dan

sebagainya.

telah diusahakannya,

baik

melalui belajar,

bekerja,

Prestasi

tersebut

merupakan

wujud

optimalisasi

pengembangan potensi diri (Mustofa, 2009).

2. Macam-Macam Prestasi Diri

Prestasi diri dibagi menjadi beberapa macam, yaitu (Mustofa, 2009):

a. Prestasi belajar

Prestasi belajar atau bidang pendidikan ini dapat di perinci lebih luas misalnya

prestasi hasil belajar matematika, IPA, bahasa dan lain-lain.

b. Prestasi kerja

Prestasi kerja mencakup hal yang sangat luas misalnya prestasi kerja buruh,

karyawan, pegawai negeri, petani dan lain-lain.

c. Prestasi di bidang seni dan budaya

Para seniman menghasilkan berbagai bentuk kesenian baik seni lukis, seni pahat,

seni musik, seni suara, panggung wayang orang, ketoprak maupun berbagai jenis tari-

tarian.

13

d. Prestasi di bidang olahraga

Para olahragawan memperoleh prestasi yang baik dalam bidang olahraga.

e. Prestasi di bidang politik dan pemerintah

Para pejabat negara dan para anggota lembaga negara merupakan contoh orang-

orang yang meraih prestasi yang tinggi dalam bidang politik dan pemerintah. Mereka

mampu memimpin bangsa dan negara serta meningkatkan kesadaran warga negara

dan tentang arti pentingnya hidup berbangsa dan bernegara.

f. Prestasi di bidang hukum

Alat-alat negara sebagai penegak hukum seperti polisi, hakim, jaksa maupun

perangkat hukum lainnya merupakan contoh figur yang memperoleh prestasi di dalam

bidang

hukum

atau

penegak

hukum.

Selain

para

penegak

hukum

dan

ahli

ketatanegaraan merupakan pihak yang memiliki prestasi yang baik di bidang hukum,

mereka telah membantu pemerintah dalam menyusun hukum dan memasyarakatkan

hukum.

g. Prestasi di bidang ekonomi

Bidang ekonomi merupakan bidang yang sangat luas menyangkut hampir segala

lapisan kehidupan masyarakat.

h. Prestasi di bidang lingkungan hidup

i. Prestasi di bidang iptek, dan lain-lain

B. Prestasi Belajar

1. Pengertian Prestasi Belajar

Prestasi belajar menurut Tu’u (2004) adalah hasil yang dicapai seseorang ketika

mengerjakan tugas atau kegiatan tertentu. Prestasi belajar adalah hasil yang diberikan

14

oleh guru kepada siswa dalam jangka waktu tertentu sebagai hasil perbuatan belajar

(Wuryani,

2002).

Sedangkan

menurut

Depdiknas

(2008),

prestasi

belajar

adalah

penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan melalui mata pelajaran,

lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau nilai yang diberikan oleh guru.

Prestasi belajar siswa dapat diketahui setelah diadakan evaluasi, yang dinyatakan

dalam bentuk nilai. Prestasi belajar siswa meliputi prestasi kognitif (kemampuan berpikir

dan analisis, prestasi afektif (sikap) dan prestasi psikomotor (tingkah laku). Namun dari

tiga spek tersebut aspek kognitiflah yang menjadi tujuan utama dalam suatu sistem

pendidikan tanpa mengesampingkan aspek yang lain (Syah, 2010).

Berdasarkan UU No.20 Tahun 2003, pendidikan nasional berfungsi mengembangkan

kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam

rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta

didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa pada Tuhan Yang Maha Esa,

berakhlak

mulia,

sehat, berilmu, cakap, kreatif,

mandiri dan menjadi warga yang

demokratis dan tanggung jawab. Melalui pendidikan seseorang diharapkan mampu

membangun sikap dan tingkah laku serta pengetahuan dan keterampilan yang perlu dan

berguna bagi kelangsungan dan kemajuan diri dalam masyarakat, bangsa dan negara.

Tercapainya tujuan pendidikan nasional dapat dilihat dari prestasi belajar yang diperoleh

oleh

peserta

didik.

Pendidikan

pada

dasarnya

adalah

usaha

sadar

untuk

menumbuhkembangkan

potensi

sumber

daya

manusia

peserta

didik

dengan

cara

mendorong dan memfasilitasi kegiatan belajar mereka.

Belajar adalah istilah kunci (key term)

yang

paling

vital dalam setiap usaha

pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tidak pernah ada pendidikan. Sebagai

15

suatu proses, belajar hampir selalu mendapat tempat yang luas dalam berbagai disiplin

ilmu yang berkaitan dengan upaya pendidikan. Belajar juga memainkan peranan penting

dalam mempertahankan kehidupan sekelompok umat manusia (bangsa) di tengah-tengah

persaingan yang ketat diantara bangsa-bangsa lainnya yang terlebih dahulu maju karena

belajar (Syah, 2006).

Portosuwido dkk (1976) dalam Isdaryanti (2007) telah melakukan penelitian di

bidang kognitif pada anak sekolah dasar dengan mengukur skor prestasi belajar melalui

mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS. Keempat mata pelajaran ini

sudah cukup menggambarkan nilai kognitif anak sekolah dasar. Skor prestasi ialah hasil

yang dicapai oleh murid pada mata pelajaran tertentu yang dinyatakan dalam wujud

angka (Soemantri, 1978).

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang Sistem Pendidikan

Nasional, beban belajar untuk Madrasah Ibtidaiyah (MI) ditambah mata pelajaran agama

dan akhlak mulia. Sedangkan berdasarkan SK Dirjen Pendidikan Islam No. Dj.I/60/2011

(2011), untuk mengetahui hasil belajar peserta didik dan untuk meningkatkan mutu

pendidikan Agama Islam, perlu diselenggarakan Ujian Akhir Madrasah Berstandar

Nasional (UASBN). Mata pelajaran UASBN tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI) meliputi

Al-Qur’an Hadits, Akidah Akhlak, Fikih, Sejarah Kebudayaan Islam, dan Bahasa Arab.

2. Indikator Prestasi Belajar

Pada

prinsipnya,

pengungkapan

hasil

belajar

ideal

meliputi

segenap

ranah

psikologis yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar siswa. Namun

demikian, pengungkapan perubahan tingkah laku seluruh ranah itu, khususnya ranah rasa

murid, sangat sulit. Hal ini disebabkan perubahan hasil belajar itu ada yang bersifat

16

intangible (tak dapat diraba). Oleh karena itu, yang dapat dilakukan guru dalam hal ini

hanya

mengambil

cuplikan

perubahan

tingkah

laku

yang

dianggap

penting

dan

diharapkan dapat mencerminkan perubahan yang terjadi sebagai hasil belajar siswa, baik

yang berdimensi cipta dan rasa maupun yang berdimensi karsa (Syah, 2010).

Berikut merupakan jenis, indikator, dan cara evaluasi prestasi menurut Surya

(1982), Barlow (1985), Petty (2004) dalam Syah (2010):

Tabel 2.1 Jenis, Indikator, dan Cara Evaluasi Prestasi Belajar

Ranah/Jenis Prestasi

Indikator

Cara Evaluasi

A. Kognitif

1. Pengamatan

1. Dapat menunjukkan

1. Tes lisan

2. Dapat membandingkan

2. Tes tertulis

3. Dapat menghubungkan

3. Observasi

2. Ingatan

1. Dapat menyebutkan

1. Tes lisan

2. menunjukkan

Dapat

2. Tes tertulis

kembali

3. Observasi

3. Pemahaman

1. Dapat menjelaskan

1. Tes lisan

2. Dapat mendefinisikan dengan lisan sendiri

2. Tes tertulis

4. Penerapan

1. Dapat

memberikan

1. Tes tertulis

contoh

2. Pemberian tugas

2. Dapat

menggunakan

3. Observasi

secara tepat

5. Analisis (pemeriksaan dan pemilahan secara teliti)

1. Dapat menguraikan

1. Tes tertulis

2. Dapat mengklasifikasikan/memi lah-milah

2. Pemberian tugas

6. (membuat

Sintesis

1. Dapat menghubungkan

1. Tes tertulis

panduan

baru

dan

2. Dapat menyimpulkan

2. Pemberian tugas

17

 

utuh)

3.

Dapat menggeneralisasikan (membuat prinsip umum)

 

B.

Afektif

1.

Penerimaan

1.

Menunjukkan

 

sikap

1. Tes tertulis

 

menerima

2. Tes skala sikap

2.

Menunjukkan

 

sikap

3. Observasi

menolak

2.

Sambutan

1.

Kesediaan berpartisipasi/ terlibat

1. Tes skala sikap

 

2. Pemberian tugas

2.

Kesediaan memanfaatkan

 

3. Observasi

3.

Apresiasi

(sikap

1.

Menganggap penting dan bermanfaat

1. skala

Tes

penilaian/

menghargai)

sikap

 

2.

Menganggap

indah

dan

2. Pemberian tugas

harmonis

3. Observasi

3.

Mengagumi

 

4.

Internalisasi

1.

Mengakui dan meyakini

1. Tes skala sikap

(pendalaman)

2.

Mengingkari

 

2. Pemberian ekspresif menyatakan

tugas

   

(yang

sikap)

dan

proyektif

(yang

menyatakan

perkiraan/ramalan)

3. Observasi

5.

Karakteristik

1.

Melembagakan

atau

1. Pemberian

tugas

(penghayatan)

meniadakan

 

ekspresif

dan

 

2.

Menjelmakan

dalam

proyektif

pribadi

dan

perilaku

2. Observasi

sehari-hari

C.

Psikomotor

18

1.

Keterampilan

1. Mengkoordinasikan gerak mata, tangan, kaki dan anggota tubuh lainnya

1. Observasi

bergerak

dan

2. Tes tindakan

bertindak

3.

Kecakapan ekspresi verbal dan non verbal

1. Mengucapkan

 

1. Tes lisan

2. Membuat

mimik

dan

2. Observasi

 

gerakan jasmani

3. Tes tindakan

Berdasarkan Depdiknas (2008), penilaian kelompok mata pelajaran untuk SD

dilaksanakan

melalui

muatan

dan/atau

kegiatan

bahasa,

matematika,

IPA

(Ilmu

Pengetahuan Alam), dan IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial).

3. Batas Minimal Prestasi Belajar

Menurut Syah (2010), menetapkan batas minimum keberhasilan belajar siswa selalu

berkaitan dengan upaya pengungkapan hasil belajar. Ada beberapa alternatif norma

pengukuran

tingkat

keberhasilan

siswa

setelah

mengikuti

proses

Diantara norma-norma pengukuran tersebut ialah:

a. Norma skala angka dari 0 sampai 10

b. Norma skala angka dari 0 sampai 100

4. Evaluasi Prestasi

mengajar-belajar.

Prestasi belajar dapat diukur dengan evaluasi hasil belajar siswa (Syah, 2006).

Berikut merupakan macam-macam evaluasi prestasi:

a. Evaluasi Prestasi Kognitif

Berdasarkan

Syah

(2010),

mengukur

keberhasilan

siswa

yang

berdimensi

kognitif (ranah cipta) dapat dilakukan dengan berbagai cara, baik dengan tes tertulis

maupun tes lisan dan perbuatan. Karena semakin membengkaknya jumlah siswa di

sekolah-sekolah, tes lisan dan perbuatan hampir tak pernah digunakan lagi. Alasan

19

lain

mengapa

tes

lisan

khususnya

kurang

mendapat

perhatian

ialah

karena

pelaksanaannya yang face to face (berhadapan langsung). Dampak negatif yang tak

jarang muncul akibat tes yang face to face itu ialah sikap dan perlakuan yang

subjektif dan kurang adil, sehingga soal yang diajukan pun tingkat kesukarannya

berbeda antara satu dengan yang lainnya.

b. Evaluasi Prestasi Afektif

Berdasarkan Syah (2010), dalam merencanakan penyusunan instrumen tes

prestasi siswa yang berdimensi afektif (ranah rasa) jenis-jenis prestasi internalisasi

dan karakterisasi seyogianya mendapat perhatian khusus. Alasannya karena yang

lebih banyak mengendalikan sikap dan perbuatan siswa.

c. Evaluasi Prestasi Psikomotor

Menurut

Syah

(2010),

cara

yang

dipandang

tepat

untuk

mengevaluasi

keberhasilan

belajar

yang

berdimensi

ranah

psikomotor

(ranah

karsa)

adalah

observasi. Observasi dalam hal ini, dapat diartikan sebagai sejenis tes mengenai

peristiwa, tingkah laku, atau fenomena lain, dengan pengamatan langsung. Namun,

observasi harus dibedakan dari eksperimen, karena eksperimen pada umumnya

dipandang sebagai salah satu cara observasi.

C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar

Menurut Syah (2010), faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat dibedakan

menjadi 3 macam, yakni:

20

1. Faktor Internal (faktor dari dalam siswa)

Yakni keadaan/kondisi jasmani dan rohani siswa. Faktor yang berasal dari dalam diri

siswa sendiri meliputi dua aspek, yakni: 1) aspek fisiologis (yang bersifat jasmaniah); 2)

aspek psikologis (yang bersifat rohaniah).

a. Aspek Fisiologis

1)

Status gizi

Status gizi merupakan ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk

variabel tertentu, atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk variabel tertentu

(Supariasa, 2002). Menurut Jelliffe (1989) dalam Supariasa (2002), status gizi

adalah

tanda-tanda

atau

penampilan

fisik

yang

diakibatkan

karena

adanya

keseimbangan antara pemasukan gizi di satu pihak serta pengeluaran di lain pihak

yang terlihat melalui variabel-variabel tertentu yaitu melalui suatu indikator status

gizi.

Status

gizi

diartikan

sebagai

keadaan

kesehatan

fisik

seseorang

atau

sekelompok orang yang ditentukan dengan salah satu atau kombinasi dari ukuran-

ukuran gizi tertentu (Soekirman, 2000). Menurut Almatsier (2006), status gizi

adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat

gizi. Sedangkan zat gizi (nutrients) adalah ikatan kimia yang diperlukan tubuh

untuk

melakukan

fungsinya,

yaitu

menghasilkan

energi,

membangun

dan

memelihara jaringan, serta mengatur proses-proses kehidupan.

Menurut Almatsier (2006), status gizi dibedakan menjadi 4 yaitu status gizi

buruk, status gizi kurang, status gizi baik dan status gizi lebih. Berdasarkan

Kepmenkes RI (2010), baku antropometri anak 5-18 tahun dihitung nilai Z_Score

21

IMT/U. Berdasarkan indikator IMT/U, status gizi diklasifikasikan dalam beberapa

kelompok, yaitu:

a) Sangat kurus

: < -3 SD

b) Kurus

: -3 SD sampai dengan

< -2

c) Normal

: -2 SD sampai dengan

1

d) Gemuk

: > 1 SD

a) Status gizi buruk

Secara klinis, gizi buruk ditandai dengan asupan protein, energi dan

nutrisi mikro seperti vitamin yang tidak mencukupi sehingga menyebabkan

terjadinya gangguan kesehatan (Arundyna, 2011). Menurut Nency (2005),

status

gizi

buruk

dibagi

menjadi

tiga

bagian,

yakni gizi

buruk

karena

kekurangan protein (disebut kwashiorkor), karena kekurangan kalori (disebut

marasmus), dan kekurangan kedua-duanya.

Menurut

Soemantri (1978) apabila

makanan yang dikonsumsi tidak

cukup

mengandung

zat

zat

gizi

yang

dibutuhkan

dan

keadaan

ini

berlangsung lama, akan menyebabkan perubahan metabolisme dalam otak.

Hal ini akan mengakibatkan terjadinya ketidakmampuan otak untuk berfungsi

normal.

Pada

keadaan

yang

lebih

berat

dan

kronis,

kekurangan

gizi

menyebabkan pertumbuhan terganggu, badan lebih kecil, jumlah sel dalam

otak

berkurang

dan

organisasi

biokimia

terjadi

dalam

ketidakmatangan

otak.

Keadaan

perkembangan kecerdasan anak.

serta

ketidaksempurnaan

ini

berpengaruh

terhadap

22

Kelainan yang terjadi pada jaringan otak akibat gizi buruk itu membawa

dampak antara lain (Moehji, 2003):

(1) Turunnya fungsi otak yang berpengaruh terhadap kemampuan belajar.

Penelitian

yang

dilakukan

di

menunjukkan

bahwa

anak-anak

Amerika

Tengah

yang

pada

awal

Brazilia

dan

India

kehidupan

mereka

menderita

gizi

kurang

gizi

buruk,

20%-30%

tidak

naik

kelas

dan

mengulang pada tahun pertama paling sedikit satu kali, dan 17%-20%

mengulang pada tahun kedua pada waktu mereka mengikuti pendidikan di

Sekolah Dasar.

(2) Turunnya fungsi otak menyebabkan kemampuan anak bereaksi terhadap

rangsangan dari lingkungannya sangat rendah dan anak menjadi apatis.

(3) Turunnya fungsi otak membawa akibat terjadinya perubahan kepribadian

anak.

b) Status gizi kurang

Status gizi kurang terjadi bila tubuh mengalami kekurangan satu atau

lebih

zat-zat

gizi

esensial

(Almatsier,

2006).

Kekurangan

berat

yang

berlangsung pada anak yang sedang tumbuh merupakan masalah serius.

Kondisi ini mencerminkan kebiasaan makan yang buruk (Arisman, 2007).

Akibat dari status gizi kurang adalah perkembangan otak yang tidak sempurna

yang menyebabkan kognitif, perkembangan IQ terhambat dan kemampuan

belajar terganggu yang selanjutnya berpengaruh pada prestasi belajar siswa

(Soekirman,

2000).

Menurut

(Gibney,

2009),

keadaan

gizi

kurang

mengakibatkan perubahan struktural dan fungsional pada otak. Sejumlah

23

penelitian pada hewan memperlihatkan bahwa keadaan malnutrisi prenatal

dan pascanatal dini pada tikus menimbulkan banyak perubahan dalam struktur

otak hewan tersebut, kendati perubahan ini akan membaik pada saat tikus

diberi

makan

kembali.

Namun

demikian,

beberapa

perubahan

dianggap

permanen dan perubahan yang permanen tersebut meliputi penurunan jumlah

mielin dan jumlah dendrit kortikal dalam medulla spinalis serta peningkatan

jumlah mitokondria dalam sel-sel neuron saraf.

Bukti adanya perubahan pada struktur dan fungsi otak anak-anak sangat

terbatas, kendati anak-anak dengan malnutrisi berat mempunyai kepala yang

lebih kecil dan hasil pemeriksaan auditory-evoked potentials yang abnormal,

semua keadaan ini tetap abnormal sekalipun telah terjadi pemulihan dari

stadium akut (Gibney, 2009).

Akibat gizi kurang terhadap proses tubuh tergantung pada zat-zat gizi apa

yang kurang. Kekurangan gizi secara umum (makanan kurang dalam kuantitas

dan kualitas) menyebabkan gangguan pada proses: pertumbuhan, produksi

tenaga, pertahanan tubuh, struktur dan fungsi otak, serta perilaku (Muliadi,

2007).

(1) Pertumbuhan

Seorang yang sehat dan normal akan tumbuh sesuai dengan potensi

genetik yang dimilikinya. Tetapi pertumbuhan ini juga akan dipengaruhi

oleh intake zat gizi yang dikonsumsi dalam bentuk makanan. Kekurangan

atau kelebihan gizi akan dimanifestasikan dalam bentuk pertumbuhan

yang menyimpang dari pola standar (Muliadi, 2007).

24

(2) Produksi Tenaga

Kekurangan energi berasal dari makanan, menyebabkan seorang anak

kekurangan tenaga untuk

merasa

lelah,

cuek,

dan

menurun (Muliadi, 2007).

(3) Pertahanan Tubuh

melakukan aktivitas.

Anak

menjadi

malas,

tidak

bersemangat

serta produktivitas kerja

Daya tahan terhadap tekanan atau stres menurun, sistem imunitas dan

anti bodi berkurang, sehingga anak mudah tersinggung, mudah terserang

penyakit seperti: pilek, batuk, dan diare, dan bila anak/murid yang tidak

ditanggulangi dengan pemberian gizi baik, lambat laun pada anak dapat

membawa kematian (Muliadi, 2007).

(4) Struktur dan Fungsi Otak

Kemampuan

berfikir

otak

mencapai bentuk maksimal pada usia

sekolah dasar. Kekurangan gizi dapat berakibat terganggu fungsi otak

secara permanen (Muliadi, 2007).

(5) Perilaku

Baik anak-anak maupun orang dewasa yang kurang gizi menunjukkan

perilaku yang tidak normal (tidak tenang). Mereka mudah tersinggung,

cengeng, kurang rangsangan dan apatis (Muliadi, 2007).

Akibat dari status gizi kurang adalah perkembangan otak yang tidak

sempurna yang menyebabkan kognitif dan kemampuan belajar terganggu

(Soekirman, 2000).

25

Status gizi harus baik karena gizi kurang akan mempengaruhi kesehatan

jasmaninya yang bermanifestasi pada kelesuan, mengantuk, dan cepat lelah.

Kondisi organ tubuh yang lemah, apalagi jika disertai pusing-pusing kepala,

dapat

menurunkan

kemampuan

siswa

dalam

menyerap

informasi

dan

pengetahuan

sehingga

materi

yang

dipelajarinya

pun

kurang

atau

tidak

berbekas. Untuk mempertahankan kondisi jasmani agar tetap bugar, siswa

sangat dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan dan minuman yang bergizi

(Baliwati, 2004).

Menurut Suryabrata (2001), nutrisi harus cukup karena kekurangan kadar

makanan

ini

akan

mengakibatkan

kurangnya

tonus

jasmani,

yang

pengaruhnya dapat kelesuan, lekas mengantuk, lekas lelah, dan sebagainya.

Energi yang diperlukan untuk bahan bakar otak, untuk merawat kesehatan sel

saraf dan untuk neurotransmitter diperoleh dari makanan yang dikonsumsi,

nutrisi utama untuk meningkatkan fungsi otak adalah karbohidrat, protein,

lemak, vitamin dan mineral. Jika nutrisi yang dibutuhkan dapat terpenuhi akan

memberikan pengaruh baik dalam pertumbuhan yang dapat dilihat dari berat

badan dan tinggi badan yang sesuai serta fungsi otak yang optimal yang

tercermin dari performa akademik yang memuaskan (Perretta, 2004 dalam

Suryowati, 2010).

Kekurangan gizi sejak dini dapat mempengaruhi ketangkasan belajar,

waktu pendaftaran sekolah, konsentrasi dan perhatian (Pollit, 1990 dalam

Levinger, 1992).

26

Kekurangan energi terjadi bila konsumsi energi melalui makanan kurang

dari energi yang dikeluarkan. Tubuh akan mengalami keseimbangan energi

negatif. Akibatnya, berat badan kurang dari berat badan yang seharusnya

(ideal). Gejala yang ditimbulkan pada anak adalah kurang perhatian, gelisah,

lemah, cengeng, kurang bersemangat dan penurunan daya tahan terhadap

penyakit infeksi (Almatsier, 2006).

c) Status Gizi Baik

Status gizi baik atau optimal terjadi bila tubuh memperoleh cukup zat-zat

gizi yang digunakan secara efisien sehingga memungkinkan pertumbuhan

fisik, perkembangan otak, kemampuan kerja dan kesehatan secara umum

(Almatsier, 2006).

Penelitian Florencio (1990) di Filipina, prestasi akademik dan mental

siswa dengan status gizi yang baik secara signifikan lebih tinggi daripada

siswa dengan status gizi buruk, bahkan ketika pendapatan keluarga, kualitas

sekolah, kemampuan guru, atau kemampuan mental dikontrol (Levinger,

1992).

d) Status Gizi Lebih

Status gizi lebih terjadi bila tubuh memperoleh zat-zat gizi dalam jumlah

berlebihan (Supariasa, 2002). WHO (2000) secara sederhana mendefinisikan

obesitas sebagai kondisi abnormal atas akumulasi lemak yang ekstrim pada

jaringan adiposa. Obesitas dapat terjadi pada setiap umur dan gambaran klinis

obesitas pada anak dapat bervariasi dari yang ringan sampai dengan yang

berat sekali.

27

e) Penilaian Status Gizi

Menurut Supariasa (2002), penilaian status gizi dibagi menjadi 2 yaitu

secara langsung dan tak langsung. Penilaian status gizi secara langsung dapat

dibagi menjadi empat penilaian yaitu antropometri, klinis, biokimia, dan

biofisik sedangkan penilaian status gizi tidak langsung dapat dibagi tiga yaitu:

survey konsumsi makanan, statistik vital dan faktor ekologi.

(1) Penilaian Langsung

(a)

Antropometri

 

Secara

umum

antropometri

artinya

ukuran

tubuh

manusia.

Ditinjau dari sudut pandang gizi, maka antropometri gizi berhubungan

dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi

tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Antropometri secara

umum digunkan untuk melihat ketidakseimbangan asupan protein dan

energi. Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan fisik

dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot, dan jumlah air dalam

tubuh (Supariasa, 2002).

 

(b)

Klinis

Pemeriksaan klinis adalah metode yang sangat penting untuk

menilai status gizi masyarakat. Metode ini didasarkan atas perubahan-

perubahan yang terjadi yang dihubungkan dengan ketidakcukupan

gizi. Hal ini dapat dilihat pada jaringan epitel seperti kulit, mata,

rambut dan mukosa oral atau pada organ-organ yang dekat dengan

28

permukaan

tubuh

seperti kelenjar

tiroid.

Penggunaan

metode

ini

umumnya untuk survey klinis secara cepat (Supariasa, 2002).

(c)

Biokimia

Penilaian

status

gizi

dengan

biokimia

adalah

pemeriksaan

spesimen yang diuji secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai

macam jaringan tubuh. Jaringan tubuh yang digunakan antara lain:

darah, urin, tinja dan juga beberapa jaringan tubuh seperti hati dan

otot.

Metode

ini

digunakan

untuk

suatu

peringatan

bahwa

kemungkinan akan terjadi suatu keadaan malnutrisi yang lebih parah

lagi (Supariasa, 2002). Seperti pemeriksaan darah untuk mengetahui

terjadinya anemia defisiensi besi.

 

Anemia defisiensi besi yang mana gejalanya adalah anak akan

tampak lemas, sering berdebar-debar, lekas lelah, pucat, sakit kepala,

iritabel. Mereka tidak tampak sakit karena perjalanan penyakitnya

bersifat menahun. (Hassan dan Alatas, 2002 dalam Wijayanti, 2005),

pada kondisi anemia daya konsentrasi dalam belajar tampak menurun

(Djaeni,

2004).

Anwar

(2009)

menjelaskan

bahwa

penurunan

pemusatan perhatian (atensi), kecerdasan, dan prestasi belajar dapat

terjadi akibat anemia besi.

 

(d)

Biofisik

Penentuan status gizi secara biofisik adalah metode penentuan

status gizi dengan melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan)

dan

melihat

perubahan

struktur

dari

jaringan.

Umumnya

dapat

29

digunakan dalam situasi tertentu seperti kejadian buta senja epidemik

(Supariasa, 2002).

(2) Penilaian Tidak Langsung

 

(a)

Survei Konsumsi Makanan

 
 

Survei konsumsi makanan adalah metode penentuan status gizi

secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang

dikonsumsi (Supariasa, 2002).

 
 

(b)

Statistik Vital

 

Pengukuran

status

gizi

dengan

statistik

vital

adalah

dengan

menganalisis data beberapa statistik kesehatan seperti angka kematian

berdasarkan umur, angka kesakitan dan kematian akibat penyebab

tertentu dan data lainnya yang berhubungan dengan gizi (Supariasa,

2002).

 

(c)

Faktor Ekologi

2)

Kesehatan

Menurut Syah (2010), kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang

menandai

tingkat

kebugaran

organ-organ

tubuh

dan

sendi-sendinya,

dapat

mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran. Kondisi

organ tubuh yang lemah, apalagi jika disertai sakit kepala misalnya, dapat

menurunkan kualitas ranah cipta (kognitif) sehingga materi yang dipelajarinya

pun kurang atau tidak berbekas.

Kondisi

organ-organ

khusus

siswa,

seperti

tingkat

kesehatan

indera

pendengar dan indera penglihat, juga sangat mempengaruhi kemampuan siswa

30

dalam menyerap informasi dan pengetahuan, khususnya yang disajikan di kelas

(Syah, 2010).

Anak yang kurang sehat dapat mengalami kesulitan belajar, sebab ia mudah

capek, mengantuk, pusing, daya konsentrasinya hilang, kurang semangat, dan

pikirannya terganggu. Karena hal-hal tersebut, penerimaan dan respon terhadap

pelajaran berkurang, saraf otak tidak mampu bekerja secara optimal dalam

memproses, mengelola, menginterprestasi dan mengorganisasi materi pelajaran

melalui

inderanya

sehingga

ia

tidak

dapat

dipelajarinya (Mudzakir dan Sutrisno, 1997).

memahami

makna

materi

yang

Faktor kesehatan menurut Parsono dkk (1990) meliputi faktor kesehatan fisik

pada umumnya dan kesehatan indera pada khususnya. Sehat fisik artinya tidak

cacat tubuh (tuna daksa). Sehat indera artinya ia tidak tuna rungu, tuna netra dan

3)

sebagainya.

Kebiasaan sarapan pagi

Kebiasaan makan pagi termasuk ke dalam salah satu 13 pesan dasar gizi

seimbang. Bagi anak sekolah, makan pagi dapat meningkatkan konsentrasi belajar

dan memudahkan menyerap pelajaran sehingga meningkatkan prestasi belajar

(Depkes, 2002).

Sarapan pagi sangat penting dilakukan sebelum melakukan aktivitas yang

lain pada hari itu. Dengan sarapan pagi, tubuh akan memperoleh bekal zat tenaga

untuk menghadapi kerja, belajar, bermain dan aktivitas lain. Banyak studi yang

telah dilakukan membuktikan pentingnya sarapan pagi dan pengaruhnya terhadap

kondisi tubuh dan aktivitas seseorang, terutama anak-anak. Hasil penelitian

31

Yussen dan Santrock (1982) dalam Faridi (2002) menunjukkan bahwa anak yang

tidak selalu sarapan pagi dan tidak menggantinya di waktu yang lain pada pagi

hari itu, tidak dapat mengikuti pelajaran dengan baik, mereka lemah dan lelah.

Menurut Bobrof dkk (1996) dalam Himmah (2010), sarapan pagi dapat

memberikan sumbangan yang berarti bagi kebutuhan gizi harian anak sekolah

dasar. Selain itu, kebiasaan sarapan pagi juga dapat berpengaruh pada penampilan

fisik, kemampuan motorik dan juga fungsi kognitif pada anak sekolah.

Menurut Suryabrata (2001), nutrisi harus cukup karena kekurangan kadar

makanan ini akan mengakibatkan kurangnya tonus jasmani, yang pengaruhnya

dapat berupa kelesuan, lekas mengantuk, lekas lelah, dan sebagainya. Energi yang

diperlukan untuk bahan bakar otak, untuk merawat kesehatan sel saraf dan untuk

neurotransmitter diperoleh dari makanan yang dikonsumsi, nutrisi utama untuk

meningkatkan fungsi otak adalah karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral

(Perretta, 2004 dalam Suryowati, 2010).

Menurut Ells dkk (2008), ketika

kandungan energi pada sarapan pagi diperiksa, satu studi menunjukkan bahwa

sarapan pagi dengan energi rendah bersifat merugikan dalam hal suasana hati,

daya tahan fisik dan berfikir kreatif.

Para peneliti di Jamaika menemukan bahwa penyediaan sarapan pagi di

sekolah untuk siswa SD, memiliki dampak yang signifikan terhadap kehadiran

dan nilai aritmatika tetapi tidak pada berat badan atau skor ejaan (Powell dalam

Levinger, 1992). Perbedaan hasil yang diperoleh untuk ukuran yang berbeda

merupakan refleksi dari keterampilan pemecahan masalah yang berbeda yang

dibutuhkan

untuk

melakukan

tugas.

Ejaan

dilakukan

dengan

menghafal;

32

aritmatika

melibatkan

penerapan

aturan

untuk

situasi

baru.

Siswa

mudah

terganggu karena kelaparan sementara akan lebih rentan terhadap skor rendah

pada tes aritmatika daripada teman-teman mereka yang kurang lapar (Levinger,

1992).

Selain

itu,

empat

dari

enam

studi

menyelidiki

konsumsi

sarapan

dibandingkan

dengan

puasa

yang

mengidentifikasikan

beberapa

perbaikan

(p=0,05)

dalam

pemecahan

masalah,

perhatian

dan

memori

sesaat

setelah

mengkonsumsi sereal dan tampilan visual yang kompleks setelah mengkonsumsi

sarapan (Ells dkk, 2008). Perilaku adaptif kelaparan sementara akan kelihatan

dalam jangka waktu yang singkat secara alami dan biasanya akan hilang ketita

anak tidak lapar lagi (Pollite, 1990 dalam Levinger, 1992). Beberapa studi

menemukan bahwa pada populasi dengan gizi yang relatif baik di Amerika

Serikat, kelaparan sementara (sebagai lawan malnutrisi) dapat mempengaruhi

perhatian, minat, dan belajar (Levinger, 1992).

b. Aspek Psikologis

Banyak faktor yang termasuk aspek psikologis yang dapat mempengaruhi

kuantitas

dan

kualitas

perolehan

belajar

siswa.

Namun,

diantara

faktor-faktor

rohaniah siswa yang pada umumnya dipandang lebih esensial itu adalah sebagai

berikut (Syah, 2010):

1)

Inteligensi siswa

Inteligensi pada umumnya dapat diartikan sebagai kemampuan psikofisik

untuk mereaksi ransangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara

yang tepat (Reber, 1988 dalam Syah, 2010). Jadi, inteligensi sebenarnya bukan

33

persoalan kualitas otak saja, melainkan juga kualitas organ-organ tubuh lainnya.

Akan tetapi, memang harus diakui bahwa peran otak dalam hubungannya dengan

inteligensi manusia lebih menonjol daripada peran organ-organ tubuh lainnya,

lantaran otak merupakan “menara pengontrol” hampir seluruh aktivitas manusia

(Syah, 2010).

Menurut Khomsan (2004), ada tiga hal yang mempengaruhi perkembangan

kecerdasan

seseorang

yaitu

genetik,

lingkungan

dan

gizi.

Faktor

genetik

merupakan potensi dasar perkembangan kecerdasan. Tetapi, faktor genetik ini

bukan yang terpenting. Sampai saat ini belum ada penelitian yang menunjukkan

mana

diantara

ketiga

faktor

tersebut

yang

berperan

lebih

besar.

Sebagai

perbandingan, dalam ilmu peternakan misalnya, faktor genetik hanya berperan 30

persen menentukan produktivitas susu sapi perah.

Menurut

Chaplin

dalam

Syah

(2006),

intelegensi

adalah

kemampuan

menyesuaikan diri dengan situasi baru secara cepat dan efektif atau kemampuan

menggunakan konsep-konsep abstrak secara efektif. Seseorang yang memiliki

intelegensi baik (IQ-nya tinggi) umumnya mudah belajar dan hasilnya pun

cenderung

baik.

Sebaliknya

orang

yang

intelegensinya

rendah

cenderung

mengalami

kesukaran

dalam

belajar,

lambat

berpikir,

sehingga

prestasi

akademiknya

pun

rendah

Dalyono

(1997).

Menurut

Syah

(2006),

tingkat

kecerdasan atau intelegensi (IQ) siswa sangat menentukan tingkat keberhasilan

belajar siswa. Ini bermakna, semakin tinggi kemampuan intelegensi seorang

siswa, maka semakin besar peluangnya untuk meraih sukses, dan sebaliknya

34

semakin rendah kemampuan intelegensi seorang siswa maka semakin kecil

peluangnya untuk memperoleh sukses.

Anak dengan prestasi yang baik, saat diuji inteligensinya hanya 120 atau

biasa-biasa saja. Jadi IQ tinggi bukan jaminan untuk mencapai prestasi luar biasa

di sekolah (Khomsan, 2004).

2)

Sikap siswa

Sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif berupa kecenderungan

untuk mereaksi atau merespons (response tendency) dengan cara yang relatif tetap

terhadap objek orang, barang dan sebagainya, baik secara positif maupun negatif

(Syah,

2010).

Menurut

Notoatmodjo

(2010),

sikap

adalah

respon

tertutup

seseorang terhadap stimulus atau objek tertentu, yang sudah melibatkan faktor

pendapat dan emosi yang bersangkutan (senang-tidak senang, setuju-tidak setuju,

baik-tidak baik, dan sebagainya).

Sikap yang positif terhadap mata pelajaran tertentu merupakan pertanda awal

yang baik bagi proses belajar siswa. Sebaliknya, sikap yang negatif terhadap mata

pelajaran tertentu apalagi ditambah dengan timbulnya rasa kebencian terhadap

mata pelajaran tertentu, akan menimbulkan kesulitan belajar bagi siswa yang

bersangkutan (Tohirin, 2005). Sedangkan menurut Purwanto (1992), sikap adalah

suatu

kecenderungan

untuk

bereaksi

perangsang atau situasi yang dihadapi.

dengan

cara

tertentu

terhadap

suatu

Menurut Notoatmodjo (2010), sikap itu suatu sindroma atau kumpulan gejala

dalam merespons stimulus atau objek, sehingga sikap itu melibatkan pikiran,

perasaan, perhatian dan gejala kejiwaan lainnya. Menurut Abror (1993) bahwa

35

sikap dapat mempengaruhi keinginan akan pengetahuan, keinginan akan prestasi

dan peningkatan diri dalam jenis subject matter. Faktor-faktor ini mempengaruhi

kondisi-kondisi belajar yang relevan seperti kesiapan, penuh perhatian, tingkat

usaha, ketekunan dan konsentrasi. Selain itu, sikap negatif terhadap pekerjaan

sekolah dikaitkan dengan kebiasaan yang kurang baik, kegagalan menyelesaikan

tugas, kegagalan menguasai keterampilan dasar, kinerja tes yang kurang, mudah

teralihkan perhatian, dan fobia sekolah (Conny, 2010).

3)

Bakat siswa

 

Secara umum bakat

(aptitude) adalah kemampuan potensial yang dimiliki

seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang (Reber,

1988

dalam Syah,

2010).

Dengan

demikian,

sebetulnya

setiap

orang

pasti

memiliki bakat dalam arti berpotensi mencapai prestasi sampai ke tingkat tertentu

sesuai dengan kapasitas masing-masing. Jadi, secara umum bakat

itu mirip

dengan inteligensi. Itulah sebabnya seorang anak yang berinteligensi sangat

cerdas (superior) atau cerdas luar biasa (very superior) disebut juga sebagai

talented child, yakni anak berbakat (Syah, 2010).

 

4)

Minat siswa

 

Secara sederhana, minat (interest) berarti kecenderungan dan kegairahan

yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Menurut Reber (1988),

minat termasuk istilah popular dalam psikologi karena ketergantungannya yang

banyak

pada

faktor-faktor

internal

lainnya

seperti:

pemusatan

perhatian,

keingintahuan, motivasi, dan kebutuhan. Minat seperti yang dipahami dan dipakai

oleh orang selama ini dapat mempengaruhi kualitas pencapaian hasil belajar siswa

36

dalam bidang-bidang studi tertentu (Syah, 2010).

Minat adalah rasa lebih suka

dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas tapa ada yang menyuruh

(Slameto, 2003).

Menurut Hadis (2006) bahwa anak didik yang berminat terhadap sesuatu

cenderung untuk memberikan perhatian yang lebih besar terhadap sesuatu yang

diminati itu. Selain itu, minat dapat mempengaruhi kualitas pencapaian hasil

belajar siswa dalam bidang-bidang studi tertentu. Umpamanya, seorang siswa

yang menaruh minat besar terhadap matematika akan memusatkan perhatiannya

lebih banyak daripada siswa lainnya. Kemudian karena pemusatan perhatian yang

intensif terhadap materi itulah yang memungkinkan siswa tadi untuk belajar lebih

giat, akhirnya mencapai prestasi yang diinginkan (Syah, 2010).

Ada beberapa indikator siswa yang memiliki minat belajar yang tinggi hal ini

dapat dikenali melalui proses belajar di kelas maupun di rumah (Nurhidayati,

2006).

b) Perasaan Senang

Seorang

siswa

yang

pelajaran

SKI

misalnya,

memiliki

maka

ia

perasaan

senang

atau

suka

terhadap

harus

terus

mempelajari

ilmu

yang

berhubungan dengan SKI. Sama sekali tidak ada perasaan terpaksa untuk

mempelajari bidang tersebut.

c) Perhatian dalam Belajar

Adanya perhatian juga menjadi salah satu indikator minat. Perhatian

merupakan

konsentrasi

atau

aktifitas

jiwa

kita

terhadap

pengamatan,

pengertian, dan sebagainya dengan mengesampingkan yang lain dari pada itu.

37

Seseorang yang memiliki minat pada objek tertentu maka dengan sendirinya

dia akan memperhatikan objek

d) Bahan Pelajaran dan Sikap Guru yang Menarik

Tidak semua siswa menyukai suatu bidang studi pelajaran karena faktor

minatnya sendiri.

Ada