Anda di halaman 1dari 21

Judul buku: Syarah Arkanul Bai’ah (1)

Rukun Al-Fahmu (Faham)

RUKUN PERTAMA AL-FAHM


Rukun Pertama Ini Sekaligus Menjadi Nama Kitab Ini

Dalam hal ini Imam Mu’assis mengatakan:

“Yang saya maksud dengan al-fahm adalah anda meyakini bahwa fikrah kami adalah
fikrah islamiyah yang bersih dan anda memahami islam sebagaimana yang kami pahami dalam
batas-batas dua puluh landasan (ushulul ‘isyrin) yang sangat singkat”

Mukadimah ini mencakup dua hal pokok, yaitu:

Pertama, keyakinan bahwa fikrah jama’ah Ikhwanul Muslimin adalah islami dan murni
dari desain islam, tidak lebih dan tidak kurang. Fikrah tersebut merupakan fikrah ittiba’i
(mengikuti yang sudah ada) bukan bid’ah, sejalan dengan fikrah pemikiran Ahlussunnah
Waljamaah dan ulama Salaf semua. Keyakinan demikian menjadi sebuah keharusan.

Kedua, keharusan memahami islam dengan benar sebagaimana yang telah dipahami
Ahlussunnah waljamaah dan ulama Salaf dalam batas-batas dua puluh prinsip (ushulul ‘isyrin)
yang telah ditetapkan oleh Imam Mu’assis. Di dalamnya beliau telah mengumpulkan hal-hal
yang wajib dipahami oleh seseorang muslim tentang agamanya tanpa kecerobohan dan tanpa
berlebihan sedikit pun. Demikianlah Ahlussunnah waljamaah dan ulama Salaf memahami agama
ini.

Mari kita membahas kedua puluh prinsip ini dengan memohon taufiq kepada Allah swt.

Penulis buku: Dr. Ali Abdul Halim Mahmud


Judul buku: Syarah Arkanul Bai’ah (1)

Rukun Al-Fahmu (Faham)

PRINSIP PERTAMA
Sesungguhnya Islam adalah sistem yang komprehensif

dan menyentuh seluruh aspek kehidupan. Maka Islam adalah:

Negara dan tanah air, atau pemerintahan dan umat.

Islam adalah akhlak dan kekuatan, atau kasih sayang dan keadilan.

Islam adalah peradaban dan undang-undang, atau ilmu dan hukum

Islam adalah materi dan harta, atau usaha dan kekayaan.

Islam adalah jihad dan dakwah, atau tentara dan fikrah.

Islam adalah aqidah yang lurus dan ibadah yang benar, tidak kurang dan tidak lebih

Penulis buku: Dr. Ali Abdul Halim Mahmud


Judul buku: Syarah Arkanul Bai’ah (1)

Rukun Al-Fahmu (Faham)

Inilah pernyataan Imam Mu’assis tentang prinsip pertama dari prinsip-prinsip al-fahm.
Kami akan menyampaikan sebagian argumentasi untuk menolak pernyataan-pernyataan jahat
yang digembar-gemborkan oleh kaum sekuler dan non-agamis yang menuduh islam hanyalah
nubuwah, bukan pemerintahan; islam mengandung kekerasan dan sadism karena menegakkan
hukuman; islam turun untuk kaum, lingkungan, dan zaman tertentu; islam memisahkan manusia
dari kehidupan; dan islam melakukan invasi terhadap wilayah orang lain.

Pernyataan singkat di atas dijadikan Imam Mu’assis sebagai penangkal tuduhan dan
kebohongan tersebut dengan menjelaskan makna Islam yang orisinil dan benar sebagaimana
dipahami dari kedua sumber utamanya, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah.

Kami akan menjelaskan pernyataan itu sebagai berikut

1. Islam adalah Negara dan tanah air atau pemerintahan dan umat

a. Islam adalah Negara dan tanah air

Makna daulah (Negara) secara politis adalah masyarakat yang teratur yang menempati
negeri tertentu, tunduk kepada penguasa yang memerintah, serta memiliki wewenang khusus
yang membedakannya dari masyarakat-masyarakat lain yang sejenis.

Negara dan individu dihubungkan oleh sebuah ikatan yang mengharuskan setiap individu
mencintai Negara tersebut dan tunduk kepada undang-undangnya. Begitu juga sebaliknya,
Negara diwajibkan untuk menjaga jiwa, harta dan hak-hak mereka yang ditetapkan oleh hokum
alam dan undang-undang positif.

Inilah definisi Negara menurut para pakar politik dan masyarakat modern pada akhir abad
ke 20 M. atau di penghujung dasawarsa pertama abad ke 15 H.

Apabila definisi ini diaplikasikan pada islam maka islam merupakan Negara karena telah
memenuhi unsur-unsur yang kami sebutkan di atas. Perlu ditambahkan bahwa hak-hak individu
yang harus dijaga atau dijamin oleh Negara, yakni yang ditetapkan oleh hokum alam dan
ditetapkan pula oeh perilaku sosial, kemudian diakui agama dan bukan oleh undang-undang
positif, itu semua menjadi hak-hak manusia secara alami.

Kemudian kami menambahkan bahwa hak-hak yang ditetapkan oleh syariat islam yang
ditegaskan dalam Al-Qur’an dan Sunnah, tidak dalam undang-undang positif, merupakan
justifikasi terhadap keterangan yang kami sampaikan dalam masalah ini.

Maka islam, dengan makna ini, merupakan konstruksi Negara yang sempurna yang akan
menjalankan hak-hak dan kewajibannya sebagaimana ditunjukkan oleh teks-teks agama dan

Penulis buku: Dr. Ali Abdul Halim Mahmud


Judul buku: Syarah Arkanul Bai’ah (1)

Rukun Al-Fahmu (Faham)

aplikasinya dapat dilihat dalam kehidupan Rasulullah, para sahabat, dan para tabiin dalam
rentang waktu yang cukup lama.

Wathon (tanah air) adalah tempat yang dihuni sejumlah individu yang memiliki ikatan dan
rasa kebangsaan dengannya. Tanah air, dalam kaitannya dengan umat islam, adalah setiap
tempat yang di dalamnya terdapat orang-orang yang mengatakan: “tidak ada Tuhan selain Allah
dan Muhammad adalah utusan Allh”, karena aqidah islam merupakan tanah air seorang muslim,
bahkan juga menjadi kebangsaannya, sebagaiman sering diungkapkan oleh Imam Mu’assis.

b. Islam adalah pemerintahan dan umat

Hukumah (pemerintahan) adalah sistem manajemen Negara, penyelesaian berbagai


persoalan umat manusia, pengkonsentrasian dan sistematisasi perjuangan serta penentu perilaku
individu dan kelompok dalam Negara melalui undang-unang yang dibuat dan dilaksanakan oleh
pemegang pemerintahan dengan bantuan kekuatan material hokum.

Istilah “pemerintahan” dalam tema politik dalam kompilasi badan-badan hokum Negara,
mencakup tiga kekuasaan, yaitu:

1. At-Tasyri’iyyah (Badan Legislatif)

2. Al-Tanfidziyyah (Badan Eksekutif)

3. Al-Qadha’iyyah (Badan Yudikatif).

Dalam konteks ini, islam adalah pemerintahan, namun undang-undang di dalamnya bukan
buatan penguasa, melainkan wahyu dari Allah melalui Al-Qur’an dan Sunnah.

Tasyri’ (pembuatan undang-undang) dalam pemerintahan islam hanya terbatas pada hal-hal
yang belum ada dalam teks-teks Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tasyri’ ini disebut ijtihad, sebuah
tema yang sebenarnya lebih tepat daripada tasri’ itu sendiri, karena pemegang tasyri’ hakiki
hanyalah Allah swt.

Ulama umat islam berhak melakukan ijtihad kapan pun dan di mana pun tentang hal-hal
baru yang terjadi di tengah kehidupan manusia ketika tidak ada teks (Al-Qur’an dan Sunnah)
yang menjelaskannya. Semua hasil ijtihad boleh mereka ambil selama ijtihad tersebut memenuhi
syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh syariat islam, ulama fiqih dan ushul-fiqih.

Ummah (umat) adalah kumpulan individu yang dihimpun oleh satu peradaban bersama
yang disandarkan pada asal usul, bahasa, atau agama. Mereka disatukan oleh perekat sejarah,

Penulis buku: Dr. Ali Abdul Halim Mahmud


Judul buku: Syarah Arkanul Bai’ah (1)

Rukun Al-Fahmu (Faham)

peninggalan historis, kemaslahatan bersama di bidang ekonomi, dan lainnya. Mereka hidup di
satu wilayah dan bekerja berdasarkan kelestarian hubungan politis dalam bingkai Negara.

Orang-orang islam, dalam konteks ini, merupakan umat mengingat kesamaan agama
menjadi perekat erkuat, kemudian masih ada perekat historis, peninggalan sosial, kemaslahatan
bersama di bidang ekonomi, dan sebagainya.

Adapun tentang kesatuan asal usul, islam memiliki paradigm yang lebih komprehensif dan
umum, yakni bahwa semua manusia berasal dari satu bapak, yaitu Nabi Adam dan Tuhan
mereka hanya satu, yaitu Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, Maha Penguasa dan Maha
Suci.

Adapun bahasa merupakan perekat local, sekalipun islam sendiri sangat menghargai
bahasa Al-Qur’an dan menjadikannya sebagai bahasa orang islam yang selalu digunakan dalam
berbicara, sebagaimana sabda Rasulullah: “… ingatlah, sesungguhnya bahasa Arab adalah
lisanku.”

Maka islam juga adalah pemerintahan dan umat dan dengan manhajnya akan mampu
mengendalikan pemerintahan dan membimbing umat untuk membuka jalannya menuju
kemajuan, peradaban, dan perkembangan.

2. Islam adalah akhlak dan kekuatan atau kasih saying dan keadilan

a. Islam adalah Akhlak dan Kekuatan

Akhlak, menurut terma para sosiolog, akan mengalami perubahan dan dinamika seiring
perubahan zaman, karena akhlak merupakan hasil pengalaman individu. Tetapi dalam islam,
akhlak bersifat permanen dan tidak akan berubah karena perubahan zaman dan tempat,
khususnya tentang keutamaan-keutamaan yang ditetapkan agama atau kejelekan-kejelekan yang
telah dihaaramkannya. Dari sudut ini, akhlak islam merupakan produk pengalaman seseorang,
akan tetapi ketetapan, nilai, dan etika dari agama.

Islam adalah Akhlaq

Akhlaq dalam islam adalah sekumpulan prinsip dan nilai yang mengatur prilaku seorang
muslim dan dibatasi oleh wahyu untuk mengatur kehidupan manusia. Maka ditetapkanlah
batasan-batasan agar tujuan diciptakannya umat manusia di muka bumi ini dapat tercapai, yaitu
beribadah kepada Allah yang akan menghantarkan kepada kebahagiaan di dunia dan akhirat.1

1
Ali Abdul-Halim, Ma’al-Aqidah wa Al-Harakah wa Al-Manhaj, Dar al-Wafa’, 1992 M

Penulis buku: Dr. Ali Abdul Halim Mahmud


Judul buku: Syarah Arkanul Bai’ah (1)

Rukun Al-Fahmu (Faham)

Akhlak Rasulullah, beliau adalah figur bagi seluruh umat islam, adalah Al-Qur’an,
sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan melalui lisan Ummul
Mukminin, Siti Aisyah, ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah, kemudian dia menjawab,
“Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an.”

Akhlak islam secara keseluruhan terdiri atas tiga pilar:

Pertama, tanggung jawab pribadi yang tercermin dalam firman Allah,

“Setiap diri tergadaikan dengan perbuatannya.” (QS. Al-Mudatstsir [74]: 38)

Kedua, keadilan da ihsan yang tergambarkan dalam firman Allah,

“Sesungguhnya Allah memerintahkan berbuat adil dan ihsan.” (QS. An-Nahl [16]: 90)

Ketiga, melarang dari yang keji, mungkar, dan permusuhan, seperti disebut dalam firman
Allah,

“… Mencegah perbuatan keji, kemungkaran, danpermusuhan.” (QS. An-Nahl [16]: 90)

Ketiga pilar inilah yang telah menghantarkan umat islam menjadi sebaik-baik umat yang
dilahirkan untuk manusia dan yang telah melahirkan, melalui manhaj mereka, solusi bagi
berbagai problem kehidupan manusia.

Islam adalah Kekuatan

Kekuatan yang dimaksud adalah kemampuan yang berdaya guna, yaitu kekuatan material.
Terkadang kekuatan bermakna kekuatan hati yang memotivasi perbuatan tertentu. Motivasi
tersebut bisa berupa motivasi instrinsik maupun motivasi ekstrinsik, sebagaimana firman Allah,

“Seandainya saya mempunyai kekuatan untuk menolakmu…” (QS. Hud [15]: 80)

Dan firman Allah,

“Maka bantukah aku dengan kekuatan…” (QS. Al-Kahfi [18]: 95)

Terkadang kekuatan tersebut berupa kekuatan individu berdasarkan pengalaman yang


melingkupinya dan pengalaman social yang mendorong pada perbuatan social.

Islam adalah kekuatan dengan berbagai maknanya.

Maka islam adalah kekuatan metafisik yang tercermin dalam keimanan yang mendorong
perbuatan. Islam juga kekuatan material yang tergambar dalam perjuangan di jalan Allah. Islam
juga kekuatan individu sebagai buah dari berbagai eksperimen yang menyebabkan seorang
muslim berpegang pada akhlak islam dalam segala persoalan. Islam juga kekuatan social yang

Penulis buku: Dr. Ali Abdul Halim Mahmud


Judul buku: Syarah Arkanul Bai’ah (1)

Rukun Al-Fahmu (Faham)

mendorong seluruh individu untuk melakukan kebaikan, mengapresiasi dan


mentransformasikannya kepada seluruh umat manusia.

Apabila islam adalah akhlak, sebagaimana dijelaskan di depan, maka islam membutuhkan
kekuatan yang menopang dan mendukung akhlak tersebut dalam kehidupan manusia. Akhlak
Al-Qur’an, sebagai akhlak seorang muslim, juga membutuhkan kekuatan yang menopang,
memperkuat, dan mengangkat nilai-nilainya serta mewajibkan seluruh manusia untuk
memeluknya, karena islam merupakan kebenaran yang berasal dari Allah untuk kebaikan umat
manusia di dunia dan akhirat. Ini semua termasuk makna kesempurnaan islam.

Jadi, akhlak dan kekuatan merupakan keharusan adanya hingga kehidupan manusia
sejahtera.

b. Islam adalah Rahmat (kasih Sayang) dan Keadilan

Islam adalah Rahmat (Kasih Sayang)

Islam adalah rahmat, dalam arti islam mengandung kelemah-lembutan yang mendorong
perbuatan ihsan (berlaku baik) kepada orang yang membutuhkan kasih saying. Rahmat Allah
adalah ihsan, tetapi tidak bisa disifati dengan riqah (lemah lmbut). Allah telah memfokuskan
sikap lemah lembut pada watak manusia dan mengistimewakannya dengan ihsan. Dalam sebuah
riwayat disebutkan:

“Sesungguhnya rahmat dari Allah berarti pemberian nikmat dan berlakuan baik, sedangkan
rahmat dari manusia berupa sikap lemah-lembut.”

Islam adalah rahmat, dalam arti islam merupakan agama yang memerintahkan
danmewajibkan sikap lemah-lembut kepada para pemeluknya. Yakni bersikap lemah lembut
dalam memperlakukan sesama manusia serta berlaku baik kepada yang berhak mendapatkannya.
Rahmat yang dimaksudkan adalah kasih sayang yang bertujuan untuk membawa umat manusia
pada hal-hal yang bermanfaat di dunia dan akhirat dengan kelemahlembutan itu. Apabila dia
menyimpang dari kebenaran, kita seharusnya melindunginya dengan memberikan semangat dan
menjelaskan akibat-akibat perbuatannya dengan sikap lemah-lembut. Apabila dia menentang,
seharusnya kita melindunginya dengan menjelaskan efek penentangan dan akibatnya yang besar.
Sesunguhnya seseorang yang menentang kebenaran pada dasarnya telah menentang sifat
kemanusiaannya sendiri, masyarakatnya, masa kini, dan masa depan serta apa yang terkandung
di dalamnya. Dia, dengan penentangannya, juga akan mengundang bahaya, baik bagi dirinya
maupun bagi orang lain dan begitu juga orang lain akan berbuat sesuatu yang
membahayakannya.

Apabila dia sudah berada dalam kebenaran, akan tetapi tidak bersabar dalam menetapinya
dan dalam berpegang kepada kebenaran tersebut maka kita harus menjelaskan kepadanya bahwa

Penulis buku: Dr. Ali Abdul Halim Mahmud


Judul buku: Syarah Arkanul Bai’ah (1)

Rukun Al-Fahmu (Faham)

berpegang pada kebenaran akan disempurnakan dengan sikap saling berwasiat agar menetapi
kebenaran dan bersabar memeganginya, karena kekuatan seorang mukmin pada dasarnya adalah
beramal saleh, saling berwasiat tentang kebenaran dan kesabaran. Demikianlah, sehingga umat
manusia akan konsisten apada kebenaran dan bersikap sabar untuk melaksanakannya.

Dengan makna di atas, kita menemukan islam sebagai agama kasih saying, lemah lembut,
dan ihsan kepada manusia dengan cara menunjuki manusia kepada itu semua.

Islam dalah Keadilan yang Disertai Kasih Sayang

Keadilan bermakna persamaan antara sesame manusia dalam segala urusan, dengan cara
memperlakukan sama antara mereka.

Adil ada dua macam

1. Adil secara mutlak, yang mendorong kebaikan akal, seperti berbuat baik kepada
orang yang telah berbuat baik kepadamu dan menghindari menyakiti orang yang juga
telah menghindari dari menyakitimu.

2. Keadilan yang ditetapkan oleh Syara’, seperti qishash dan urusyul jinayat.2

Maksud pernyataan ‘Islam merupakan eadilan’ adalah bahwa islam memperlakukan sama
(antara sesame manusia) dalam hal kebaikan dibalas dengan kebaikan dan kejahatan dibalas
kejahatan. Maka seorang yang berbuat baik, menurut keadilan, harus mendapatkan kebaikan dan
orang yang berbuat jahat harus mendapat perlakuan jahat.

Seandainya islam hanya rahmat saja tanpa keadilan, hal itu akan menimbulkan keinginan
orang jahat (untuk melakukan kejahatan lagi) dan kemalasan orang yang berbuat baik (untuk
berbuat baik) dan kehidupan manusia tidak akan dinamis dalam memperbaiki kehidupan dunia
dan akhirat mereka.

Inilah indicator komprehensivitas islam dan eksistensinya sebagai system yang menyentuh
seluruh kehidupan manusia. Dia adalah rahmat sekaligus keadilan dan dengan keduanyalah
kehidupan manusia akan tegak. Ini juga termasuk makna integralitas islam, dalam arti sebagian
tidak bisa mengganti yang sebagian, atau islam tidak lagi memerlukan system dan teori-teori
lain, karena dia sendiri telah bersifat komprehensif dan integral.

Karena sifat-sifatnya yang komprehensif seperti inilah, Allah menjadikan Islam sebagai
agama paripurna dan sempurna serta meridhainya sebagai agama seluruh umat manusia.
Berpegang pada manhaj islam akan benar-benar menjadi solusi berbagai masalah masyarakat
manusia.
2
Kata urusy adalah jamak dari kata ursy, yaitu diat (denda) akibat melukai (melakukan
tindakan criminal), lihat bab Qishash dalam kitab-kitab Fiqih

Penulis buku: Dr. Ali Abdul Halim Mahmud


Judul buku: Syarah Arkanul Bai’ah (1)

Rukun Al-Fahmu (Faham)

3. Islam adalah Peradaban dan Undang-Undang atau Ilmu dan Hukum

a. Islam adalah Peradaban dan Undang-Undang

Islam adalah Peradaban

Artinya ia merupakan prinsip-prinsip, system, dan manhaj yang ditemukan oleh seorang
muslim dengan kejeliannya dan dijumpai oleh bashirah-nya ketika hatinya terbuka oleh hidayah
Allah.

Apabila sebuah peradaban, sebagaimana pandangan para sosiolog, adalah lingkungan


dengan segala produk material dan immaterial-nya mengandung berbagai perilaku lahir dan
batin yang didapatkan dengan cara-cara tertentu dan terdiri dari berbagai ilmu, keyakinan, seni,
norma, nilai, undang-undang, dan adat-istiadat yang bersifat turun temurun dari generasi ke
generasi, maka islam berdsarkan makna ersebut, merupakan peradaban yang mengandung
semuanya. Lebih dari itu, kepercayaan-kepercayaan yang ada dalam islam benar-benar steril dari
khurafat dan prasangka, semua tata nilainya pasti baik dan undang-undangnya bukan produk
manusia, melainkan syariat, manhaj, dan tatanan Allah.

Sesungguhnya islam sangat kaya dengan unsur-unsur peradaban yan dimaksud oleh para
sosiolog, bahkan memiliki kelebihan dalam setiap unsurnya, yaitu setiap unsurnya tidak dapat
dimanipulasi oleh manusia, tidak ada ruang untuk bisikan setan, juga bukan dihasilkan oleh
inovasidan konfrontasi. Sebaliknya, unsur-unsur tersebut pasti akan menciptakan stabilitas social
dan membuka berbagai kebaikan serta menghapus segala debu kekejian, kefasikan, dan
kriminalitas.

Islam adalah undang-undang

Berarti islam merupakan kumpulan prinsip-prinsip yang menetapkan dan membimbing


perilaku sosial. Apabila undang-undang, menurut para pakar politik dan sosial, menjadi puncak
tatanan sosial untuk perilaku manusia, dalam arti membatasi dengan jelas apa yang harus
dilakukan dan dihindari oleh individu dan menentukan dengan jelas berbagai hukuman yang
akan dijatuhkan atas orang yang melanggarnya, maka islam dapat dianggap sebagai undang-
undang yang paling utama dari sisi kemampuan menetapkan dan membimbing perilaku sosial,
karena islam memberikan batasan dan bimbingan tidak hanya karena takut hukuman bagi orang
yang melanggarnya, akan tetapi menyempurnakannya dengan kesadaran akan tanggung jawab
dan dengan keyakinan bahwa Allah Maha Mengawasi dan Menghitung amal. Juga dengan
menanamkan keyakinan bahwa apabila seseorang bisa mengabaikan undang-undang maka
sesungguhnya dia tidak bisa lepas dari pengawasan Tuhan semesta alam dalam kondisi apapun.

Penulis buku: Dr. Ali Abdul Halim Mahmud


Judul buku: Syarah Arkanul Bai’ah (1)

Rukun Al-Fahmu (Faham)

Sesungguhnya undang-undang dalam islam member peluang terbentuknya sebuah


peradaban sebagaimana memberi pengarahan kepada masyarakat dan dengan itu terciptalah
kehidupan islami.

Peradaban saja belum cukup, ia masih membutuhkan undang-undang yang mengaturnya.


Begitu juga, undang-undang saja belum cukup, ia perlu didukung oleh back ground peradaban
yang menopangnya.

Demikianlah saya menjelaskan bahwa islam adalah peradaban, sekaligus undang-undang.

b. Islam adalah Ilmu dan Peradilan

Islam adalah Ilmu

Ilmu ada dua, teoritis dan praktis. Ilmu teoritis apabila sudah diketahui maka sudah
dianggap sempurna, seperti ilmu tentang alam semesta. Sedang ilmu praktis tidak akan sempurna
sebelum diamalkan, seperti ilmu tentang ibadah.

Dari segi lainnya, ilmu juga dibagi menjadi dua macam, yaitu ilmu aqli dan ilmu sam’i.
ilmu aqli adalah ilmu yang didapatkan dengan akal, sedangkan ilmu sam’i didapat melalui
wahyu. Islam adalah ilmu dengan keseluruhan maknanya.

Apabila ilmu, menurut para sosiolog, merupakan sekumpulan pengetahuan, prinsip, dan
generalisasi yang berhubungan dengan realitas lahir dan berdiri berdasarkN observasi dan
eksperimentasi serta tidak ditambah dengan tendensi individu atau pendapat-pendapat pribad.
Apabila ssatuan-satuan ilmu memiliki urutan vertical: ilmu logika, matematika, ilmu gerak, ilmu
mekanika, ilmu-ilmu pasti, ilmu falak, geologi, kimia, psikologi, dan sosiologi. Apabila makna
ilmu dan satuan-satuannya seperti itu, maka islam adalah ilmu, dalam arti islam merupakan
sekumpulan pengetahuan dan prinsip-prinsip umum yang berhubungan dengan kehidupan. Islam
menyeru untuk belajar, mendalami seluruh ilmu dan memandang ilmu sebagai alat untuk
memberdayakan manusia dalam mengambil manfaat dari apa saja yang telah ditundukkna Allah
untuknya dalam hidup ini. Islam juga menuntut seorang muslim untuk mempelajari ilmu seraya
menunjukkan media yang disyariatkan menuju ilmu tersebut. Islam justru melarang setiap
Muslim meninggalkan mencari ilmu sampai bertemu Allah.

Islam, jelas merupakan ilmu menurut makna ini, yakni ilmu tentang sesuatu yang
memperbaiki manusia dan yang merusak mereka, sesuatu yang memperbaiki kehidupan dunia
dan yang merusaknya serta ilmu tentang prinsip-prinsip dan teori-teori yang dianggap paling
utama dalam kehidupan manusia.

Demikianlah kita menemukan islam sebagai ilmu pengetahuan dengan keseluruhan makna
tersebut.

Penulis buku: Dr. Ali Abdul Halim Mahmud


Judul buku: Syarah Arkanul Bai’ah (1)

Rukun Al-Fahmu (Faham)

Islam sebagai Hukum (Qadha)

Hukum adalah pemutus perkara, baik secara verbal maupun perbuatan.

Kedua hokum tersebut masing-masing dibagi menjadi dua:

1. Qadha’ Ilahi (hokum ilahi), yaitu perintah Tuhan, sebagaimana tertuang dalam
firman-Nya: “Tuhanmu memerintahkan agar kamu tidak menyembah kecuali kepada-
Nya.” (QS. AL-Isra’ [17]: 23)

2. Qadha Basyari (Hukum manusia), seperti keputusan hokum

Islam adalah hokum, dalam arti islam dan prinsip-prinsip serta tata nilai yang
dikandungnya mampu memutuskan berbagai perkara, baik perkara sosial, politis, ekonomi,
pemikiran, maupun peradaban, bahkan segala perkara yang berkaitan dengan kehidupan manusia
dengan segala aspeknya.

Islam adalah hukum yang terbangun atas dasar ilmu pengetahuan.

Islam adalah ilmu dan hukum dan masing-masing dari keduanya tidak terpisahkan dari
yang lain, sebagaimana telah kami jelaskan. Maka tak ada keputusan hukum tanpa ilmu dan
tidak ada ilmu tanpa didukung hukum sehingga semua perkara dapat diputuskan secara tematis
dan tanggung jawab.

Hal ini juga mendukung sistematisasi dan komprehensivitas islam dalam segala sesuatu
yang berhubungan dengan manusia. Ini menegaskan pernyataan Imam Mu’assis:
“Sesungguhnya islam adalah sistem komprehensif yang menyentuh seluruh aspek kehidupan.”

4. Islam adalah Materi dan Harta atau Usaha dan Kekayaan

a. Islam adalah Materi dan Harta

Islam adalah Materi

Materi adalah segala sesuatu yang menjadi bahan bagi sesuatu yang lain dan segala zat
yang memiliki masa dan volume serta membutuhkan ruang.

Materi sesuatu berarti pokok-pokok dan unsur-unsur sesuatu tersrbut, baik yang bersifat
indriawi maupun maknawi, seperti materi kayu dan materi pembahasan ilmiah.

Materi perundang-undangan berarti perangkat yang memuat berbagai hokum.

Kemudian yang dimaksud dengan islam sebagai materi adalah bahwa islam bukan hanya
memuat makna-makna yang maknawi saja, akan tetapi juga memuat hal-hal material, karena

Penulis buku: Dr. Ali Abdul Halim Mahmud


Judul buku: Syarah Arkanul Bai’ah (1)

Rukun Al-Fahmu (Faham)

kehidupan manusia tidak akan baik dan stabil tanpa keduanya, bahkan kehidupan tidak aka nada
tanpa keduanya dan islammerupakan agama kehidupan.

Apabila materi berupa wujud, bukan bersifat aqli, maka islam mengandung hal-hal yang
bersifat matrial dan aqliah sekaligus. Hal itu karena kehidupan manusia tidak akan tegak tanpa
keduanya dan islam sendiri merupakan agama kehidupan, sebagaimana telah kami jelaskan atau
bahkan menjadi manhaj hidup paling utama.

Apabila materi berupa pokok-pokok dan unsur-unsur sesuatu, baik yan indriawi maupun
maknawi, maka islam secara global terdiri dari unsur-unsur kehidupan manusia dan pokok-
pokoknya. Dalam arti bahwa kehidupan tidak terlepas dari islam sehingga kehidupan ini
memberi manfaat kepada manusia, berada di atas rel yang benar hinga diridhai Allah dan
manusia mendapat balasan yang terbaik.

Apabila kehidupan manusia berdiri atas materi dan jiwa maka islam tidak hanya bersifat
spiritual saja, akan tetapi juga memiliki makna kehidupan material manusia serta
mengarahkannya dengan sebaik-baiknya.

Islam sebagai Harta (Tsarwah)

Tsarwah, secara etimologis bermakna harta atau manusia yang banyak. Makna ini terdapat
dalam sebuah hadits: “Allah tidak mengutus seorang nabi setelah Luth kecuali dari kalangan
kaumnyayang memiliki banyak harta (kaya).”

Tsarwah, dalam ilmu ekonomi, adalah harta yang menerima kepemilikannya (bisa dimiliki)
dan mempunyai nilai yang terbatas kuantitasnya.

Apabila dikatakan tsarwah qaumiyyah, maka terma tersebut bermakna sejumlah kekuatan
yang dihasilkan dalam Negara tersebut. Makna ini sebaaimana dijelaskan oleh Majma Lughah
Al-Arabiyyah (Lembaga Bahasa Arab di Mesir).

Dalam ilmu ekonomi disebutkan bahwa harta terbagi menjadi dua:

1. Harta personal, yaitu berbagai fasilitas untuk memenuhi kebutuhan, baik berupa
mata uang maupun hak-hak atas orang lain

2. Harta sosial, yaitu berbagai sumber daya alam dan nilai uang yang dimiliki
bersama, seperti fasilitas umum, jalan, dan sebagainya.

Dalam sebagian makna, harta terkadang bersifat material, seperti modal, namun harta
tersebut bias dimiliki untuk memenuhi kebutuhan ketika dialokasikan pada daya produktivitas
sesuatu yang memilki nilai ekonomis.

Penulis buku: Dr. Ali Abdul Halim Mahmud


Judul buku: Syarah Arkanul Bai’ah (1)

Rukun Al-Fahmu (Faham)

Islam adalah harta, berarti islam adalah agama yang mampu mewujudkan pemenuhan
kebutuhan individu dan sosial, baik yang bersifat material, maknawiyah, jasadiyah, spiritual,
maupun intelektual. Maka islam merupakan harta yang tidak tertandingi oleh harta manapun dan
islam mewajibkan memelihara, mengembangkan, dan mengalokasikan harta material tersebut
untuk pelayanan individu dan sosial, baik berasal dari harta individu maupun sosial.

Barangkali dalam teori harta yang komprehensif ini terdapat sesuatu yang mampu
menjawab tuduhan bahwa agama-agama pada umumnya dan khususnya Islam berdiri atas dasar
isolasi dari hal-hal yang bersifat material. Pemikiran tersebut jelas keliru. Meskipun misalnya
bisa mengenai satu agama atau mazhab tertentu, maka tidak akan bisa mengenai Islam, karena
Islam adalah sistem yang menyentuh seluruh aspek kehidupan. Tidak diragukan lagi bahwa
termasuk aspek kehidupan adalah hal-hal yang bersifat material, harta, sumber daya alam, dan
energi. Maka Islam harus mencakup semuanya serta mengatur dan mengarahkan pada tujuan dan
media pencapaiannya.

Saya tidak menganggap prasangka terhadap sebagian agama dengan sikap menjauhkan diri
dari kenikmatan dunia melebihi prasangka yang tidak memiliki dalil. Hal ini karena agama-
agama samawi yang datang dari Allah tidak melalaikan sisi material kehidupan. Bagaimana dia
melalaikan, sedang kehidupan sendiri tidak akan berdiri tanpanya. Selanjutnya tidak mungkin
bisa dibayangkan bahwa suatu agama menyia-nyiakan harta.

Islam adalah materi dan harta, dalam arti Islam menghargai timbangan yang benar bagi
segala sesuatu yang bersifat material dalam hidup manusia dan memberdayakan harta dengan
sebaik-baiknya untuk kebaikan kehidupan manusia.

b. Islam adalah Usaha dan Kekayaan

Islam adalah Usaha

Usaha adalah sesuatu yang ditekuni oleh manusia, menarik kemanfaatan dan menghasilkan
bagian, seperti usaha untuk memperoleh harta. Sesekali ada usaha yang dianggap orang menarik
kemanfaatan, tetapi kemudian dapat menarik bahaya juga. Di dalam hadits, ketika Rasulullah
ditanya,

“Pekerjaan apakah yang paling baik?” Beliau menjawab, “Pekerjaan seseorang dengan
tangannya sendiri.”

Dalam riwayat yang lain beliau mengatakan,

“Sesungguhnya sebaik-baiknya yang dimakan seseorang datang dari hasil pekerjaannya


sendiri dan sesungguhnya anaknya adalah dari pekerjaannya juga.”

Penulis buku: Dr. Ali Abdul Halim Mahmud


Judul buku: Syarah Arkanul Bai’ah (1)

Rukun Al-Fahmu (Faham)

Usaha di sini mencakup usaha ukhrawi yang ditekuni oleh manusia. Para pakar ekonomi
juga memiliki definisi tentang usaha, yaitu harta yang diperoleh seseorang melalui bekerja tanpa
bantuan modal.

Islam adalah usaha, berarti islam memerintahkan manusia untuk bekerja dan berusaha dan
menekankan agar tidak hidup menjadi beban orang lain. Hal itu karena islam menghormati
pekerjaan dan mengangkat nilainya dan nilai orang yang melakukannya, juga menegaskan
bahwa para nabi pun adalah para pekerja yang memiliki usaha.

Islam adalah usaha, berarti bahwa dalam memeluk dan menekuni manhaj dan sistem islam,
sama dengan menggali kemanfaatan bagi umat manusia di dunia dan akhirat. Islam tidak
memberi toleransi kepada seseorang untuk berpangku tangan dari pekerjaan dan usaha dengan
menunggu hujan emas dan perak dari langit, sebagaimana terdapat dalam kata mutiara dari Umar
bin Kaththab. Menurut islam, setiap manusia diwajibkan bekerja, bertaqwa kepada Allah sesuai
ilmunya, memperbaiki pekerjaannya, mencari bekal yang memberikan manfaat kepadanya di
dunia dan akhirat. Hal ini juga menegaskan bahwa islam merupakan sistem yang menyentuh
seluruh aspek kehidupan.

Islam adalah Kekayaan

Adapun islam disebut kekayaan, sebab kekayaan memiliki tiga makna, yaitu.

1) Kaya, tidak membutuhkan segala sesuatu. Sifat ini hanya milik Allah. Dia Maha Kaya
dengan makni ini, bahkan hanya Dia sendiri yang memiliki sifat kaya seperti ini.

2) Kaya, tidak membutuhkan sebagiannya, sebagaiman yang ditunjuk dalam firman-Nya,

“Dan Dia menemukan dirimu (Muhammad) papa, kemudian Dia membuatmu kaya.” (QS.
Dhuha[93]: 8”

Termasuk juga sabda Rasulullah,

“Kekayaan yang sesungguhnya adalah kaya hati,” yakni tidak membutuhkan sebagian
kebutuhan

3) Kaya dalam arti banyaknya teknik (cara) yang dimiliki manusia.

Menurut makna di atas, islam adalah kekayaan, baik dalam arti konteks usaha sebagaiman
penjelasan terdahulu maupun dala mkonteks materi dan harta. Semuanya tercakup dalam
komprehensivitas islam, bahkan dapat ditegaskan bahwa islam secara detail mencakup seluruh
aspek kehidupan manusia.

Penulis buku: Dr. Ali Abdul Halim Mahmud


Judul buku: Syarah Arkanul Bai’ah (1)

Rukun Al-Fahmu (Faham)

Segala tuduhan yang ditujukan kepada islam yang menyelisihi makna itu semua, hanyalah
tuduhan yang dilakukan oleh orang-orang yang iri, yang hendak mengaburkan manhaj dan
system islam, tuduhan yang tidak didasari dalil, baik dalil aqli maupun dalil naqli, dan tidak ada
sandaran historis tentang perilaku kehidupan islami dalam kurun waktu yang relative anjang,
yang islam menghidupkan seluruh aspek kehidupan dengan manhaj dan sistem Allah.

Termasuk kelemahan tuduhan-tuduhan keji ini adalah dia hanyalah tuduhan semata,
mengingat hal ini selamanya memerlukan dalil yang belum pernah ada di masa lalu dan tidak
akan mungkin ada, baik di masa sekarang, maupun akan dating, selama islam masih tetap islam.

5. Islam adalah Jihad dan Dakwah atau Tentara dan Fikrah

a. Islam adalah Jihad dan Dakwah

Jihad dan mujahadah adalah mengerahkan segenap kemampuan untuk menahan musuh.
Jihad dibagi menjadi 3 macam:

1. Memerangi musuh yang tanpak

2. Memerangi musuh yan tidak tampak, yaitu setan

3. Memerangi hawa nafsu

Semua bentuk jihad di atas tercakup dalam firman Allah,

“Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan sebenar-benarnya.” (QS. Al-Hajj [22]: 78)

Dalam firmannya,

“Dan berjihadlah kamu dengan hartamu dan jiwamu di jalan Allah.” (QS. At-Taubah [9]: 41)

Rasulullah juga pernah bersabda,

“Perangilah hawa nafsumu sebagaimana kamu memerangi musuhmu.”

Islam adalah jihad

Berarti islam memerangi setan dan hawa nafsu yang senantiasa menyuruh pada kejelekan,
juga memerangi semua musuh islam.

Jihad, dengan ketiga makna di atas, berlangsung sampai hari kiamat. Artinya tidak akan
pernah gugur selamanya sampai terjadinya kiamat, karena Allah telah memerintahkannya
sebagaimana dijelaskan oleh ayat-ayat di atas dan karena islam merupakan agama kebenaran dan
pasti selalu berhadapan dengan musuh-musuh kebenaran kapan pun dan di mana pun. Tidak ada
cara lain menahan musuh-musuh ini kecuali dengan jihad. Kmai telah menjelaskan panjang lebar

Penulis buku: Dr. Ali Abdul Halim Mahmud


Judul buku: Syarah Arkanul Bai’ah (1)

Rukun Al-Fahmu (Faham)

tentang jihad dalam buku kami Fiqhud-Da’wah ila Allah. Maka mereka yang ingin mendalami
item-itemnya hendaklah membaca buku tersebut.

Apabila umat islam berpangku tangan dari jihad dengan ketiga pola di atas maka mereka
semua telah berdosa dan berbuat maksiat kepada Allah, karena Dia telah memerintahkan jihad.
Mereka telah lemah dan kerdil, sementara musuh telah berobsesi umtuk menyambar mereka dari
berbagai arah, sebagaimana fenomena sekarang. Kelumpuhan yang dialami dunia islam tidak
memiliki sebab yang lebih penting daripada meninggalkan jihad di jalan Allah dan menyia-
nyiakan kewajiban tersebut, yang sebenarnya member motivasi pada ilmu, amal, dan kesabaran.

Islam adalah Dakwah

Artinya, islam adalah ajakan kepada Allah atau ke jalan yang haq dan ibadah kepada Allah
satu-satu-Nya sesuai dengan apa yang telah disyariatkan. Islam juga merupakan seruan kepada
kebaikan dan hidayah, melakukan yang ma’ruf dan menghentikan segala kemungkaran.

Islam mempekerjakan setiap muslim, putra dan putrid untuk menyeru kepada Allah.
Selama seorang da’i memiliki pengetahuan terhadap apa yang diserukannya maka dakwah
hukumnya wajib baginya. Hal ini dapat dipahami melalui firman Allah yang ditujukan kepada
nabi-Nya,

“katakanlah, ‘Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku, yaitu menyeru pada
(agama) Allah berdasarkan ilmu (bashirah).” (QS. Yusuf [12]: 108).

Ayat ini mewajibkan kepada para pengikut Nabi Muhammad, baik laki-laki maupun
perempuan, untuk menyeru kepada Allah. Apabila dia tidak melakukannya maka dia tidak
mengambil jalan Rasulullah sebagai jalannya.

Jihad itu sendiri, dengan ketiga pengertiannya, adalah aktivitas dakwah. Jihadun nafsi
untuk membersihkan diri dari keinginan hawa nafsu. Bersikap konsisten pada kebenaran dan
perintah Allah adalah dakwah (seruan) ke jalan Allah. Allah berfirman,

“Adapun orang-orang yang takut akan kebesaran Tuhannya dan mencegah dirinya dari hawa
nafsu, maka surgaah tempatnya.” (QS. An-Nasi’at [79]: 40)

Sedangkan jihad melawan setan, yan menjadi musuh setiap manusia, merupakan dakwah
yang pokok, Allah berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam islam secara kaffah dan janganlah
kamu mengikuti langkah-langkah setan, sesungguhnya di bagimu adalah musuh yang nyata.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 208)

Penulis buku: Dr. Ali Abdul Halim Mahmud


Judul buku: Syarah Arkanul Bai’ah (1)

Rukun Al-Fahmu (Faham)

Kemudian jihad menghadapi musuh juga merupakan seruan ke jalan Allah, karena musuh
di sini adalah musuh kebenaran, musuh Allah, musuh islam, dan kaum muslimin. Allah
berfirman,

“sesungguhnya orang-orang mukmin yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian
tidak ragu lagi dan mau berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah, mereka adalah
orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujurat [49]: 15)

Jihad melawan musuh mengandung makna dakwah kepada Islam, karena dia memiliki apa
yang dimiliki umat islam dan berkewajiban apa yang diwajibkan atas umat islam. Barangsiapa
menolak, apabila ia dari kalangan ahli kitab mka ia dibiarkan dan tidak dipaksa memeluk agama
(islam) dengan kewajiban membayar jizyah (upeti) bila dia hidup di bawah naungan Negara
islam. Apabila dia membangkang maka diperangi setelah diberi peringatan terlebih dahulu.
Apabila dia bukan dari golongan ahli kitab maka diberi peringatan terlebih dahulu, jika
membangkang, diperangi. Pemberian peringatan, dalam kedua kondisi tersebut, tiada lain karena
islam tidak akan menipu seseorang, tidak akan menikam dari belakang dan mengkhianati serta
tidak akan memaksa seseorang untuk masuk ke dalamnya.

b. Islam adalah Tentara dan Fikrah


Islam adalah Tentara
Tentara, menurut bahasa modern, bermakna kekuatan darat yang dipersenjatai yang tunduk
kepada peraturan. Kemudian “tentara” mencakup kekuatan udara dan laut.
Umar bin Kaththab adalah orang pertama yang mendirikan kantor dan peraturan bagi
tentara di dunia islam. Sedangkan di masa Nabi, tentara mencakup setiap orang islam yang
mampu berperang di jalan Allah. Oleh karena itu, islam dan seluruh individu yang memeluknya,
berperan sebagai tentara yang memiliki semua fasilitas tentara dan spesialisasinya serta
menghimpun seluruh individu yang mampu berperang namun islam melewatkan orang-orang
yang memang mempunyai uzur.
Hal itu berarti bahwa islam adalah kekuatan, karena tentara adalah kkuatan. Akan tetapi
islam menjadikan kekuatan tersebut sebagai kekuatan bekerja untuk kebenaran dan bukan
kekuatan permusuhan atau dominasi atau ekspansi wilayah atas orang lan. Islam adalah kekuatan
yang menjaga manusia dari dirinya dan setan, dan musuhnya yang berbuat aniaya kepadanya.
Di dalam islam, rekruitmen anggota tentara tidak dilakukan dengan paksaan kecuali dalam
kondisi darurat, karena jihad di jalan Allah merupakan ibadah untuk mendekatkan manusia
kepada Tuhannya dan agar kalimat Allah tetap menjadi yang tertinggi dengan berorientasi pada

Penulis buku: Dr. Ali Abdul Halim Mahmud


Judul buku: Syarah Arkanul Bai’ah (1)

Rukun Al-Fahmu (Faham)

pahala di sisi-Nya. Kecuali bila kondisi darurat, islam memaksa seluruh orang yang mampu
untuk berperang dengan perintah seorang penguasa muslim.
Sesungguhnya islam, dengan makna ini, adalah tentara yang kuat yang akan mampu
menjaga prinip dan nilai-nilai akhlak utama yang dibawa islam, menyebarluaskannya kepada
seluruh umat manusia, memrangi kejahatan, kebatilan, dan kemungkaran, karena semua itu
adalah bencana yang membahayakan dan merendahkan masyarakat.
Tentara islam berdiri dengannya, dan dengan itu memberi peluang kepada manusia untuk
mendapatkan kehidupan mulia yang sesuai dengan martabatnya dengan mengikuti cara yang
telah dirancangkan oleh islam untuk segala urusan kehidupan dan di dunia dan akhirat.
Tentara Islam juga membentengi umat Islam dari musuh-musuhnya yang serakah dan
berbuat aniaya, baik musuh tersebut bersifat fisik yang menjelajahi bumi atau bersifat nonfisik
yang mencakup manhaj dan sistem, karena semua musuh ini harus ditahan oleh tentara Islam.
Islam adalah Fikrah

Al-fikr dan al-fikrah menurut bahasa berarti menggunakan daya nalar dalam suatu perkara.

Al-fikrah juga berarti kekautan menggerakkan pengetahuan untuk sampai kepada yang
diketahui.

Al-fikr adalah fenomena rasional yang dihasilkan dari aktivitas berfikir berdasarkan usaha,
analisis, dan generalisasi. Pemikiran berbeda dari perasaan, karena berpikir merupakan aktivitas.
Berpikir juga tidak sama dengan ‘berkehendak’ yang cenderung menguatkan sesuatu
berdasarkan hukum-hukum penilaian.

Islam adalah fikrah yang tegak di atas tauhid, yakni pengesaan Allah swt. sebagai –satu-
satunya Tuhan. Ia juga tegak di atas keimanan kepada-Nya, kepada para malaikat, kitab-kitab,
para rasul, hari akhir, dan kepada qadar-Nya yang baik dan buruk.

Islam adalah fikrah yang mewajibkan pemeluknya untuk bersaksi bahwa tiada ilah selain
Allah saja dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, menegakkan shalat, mengeluarkan zakat,
berpuasa Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah jika mampu.

Islam adalah fikrah yang mewajibkan pemeluknya berlaku adil, ihsan, menyurh yang
makruf, dan mencegah dari yang munkar, jihad fi sabilillah agar kalimat Allah tinggi, dan
mengambil manhaj Islam dalam segala perkara kehidupannya.

Islam adalah fikrah, dalam arti ia merupakan manhaj yang mencakup segala aspek
kehidupan manusia –seperti telah kami jelaskan. Fikrah ini wajib disampaikan kepada segenap

Penulis buku: Dr. Ali Abdul Halim Mahmud


Judul buku: Syarah Arkanul Bai’ah (1)

Rukun Al-Fahmu (Faham)

manusia di setiap waktu dan tempat. Untuk bisa menyampaikannya maka merupakan keharusan
adanya dakwah, amal, aturan, dan jihad dengan macamnya yang tiga, seperti telah dijelaskan
pula.

Artinya, setiap potensi individu harus difungsikan, demikian pula kekuatan “tentara”
pengawal fikrah ini. Dengan satu tujuan yaitu menyeru manusia agar menghamba kepada Allah
saja dan tidak menyekutukan-Nya, yang sesuai dengan syariat wakyu yang disampaikan kepada
penutup para nabi, Muhammad saw.

6. Islam adalah Aqidah yang Lurus dan Ibadah yang Benar

a. Islam adalah Aqidah yang Lurus

Aqidah adalah keyakinan, yaitu prinsip yang dipegangi oleh manusia dan diimani
kebenarannya.

Islam adalah aqidah, dalam arti Islam merupakan prinsip yang mencakup unit-unit pokok
yang menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia. Seorang muslim wajib mengimaminya,
meyakini kebenarannya, dan mati di jalan-Nya.

Fondasi aqidah islamiah adalah keyakinan akan adanya Allah, menyifati-Nya dengan sifat-
sifat-Nya, menyebut-Nya dengan asma-asma-Nya, dan mengesakan-Nya sebagai ilah an rabb.
Tauhid ini akhirnya bercabang menjadi beberapa bagian, yaitu:

- Beriman kepada para malaikat, kitab-kitab, dan rasul-rasul. Artinya meyakini eksistensi
mereka dan bahwa mereka dari sisi Allah serta mengemban berbagai tugas yang telah dan
akan mereka lakukan, juga dengan meyakini akan kebenaran dan amanah mereka. Serta
meyakini pula bahwa mereka diutus oleh Allah untuk kebaikan manusia dalam hidup di
dunia dan akhirat.

- Beriman kepada hari akhir dan segala peristiwa di dalamnya.

- Beriman kepada qadha’ dan qadar, yang baik maupun yang buruk.

- Mengucapkan dua kalimat syahadah: ‘Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah
utusan Allah” dan mengamalkan kandungannya serta keharusan mengamalkan rukun-rukun
islam lain, seperti shalat, puasa, dan sebagainya.

- Melaksanakan keadilan dan ihsan.

- Melaksanakan amar ma’ruf dan nahi munkar.

- Melaksanakan jihad fi sabilillah.

Penulis buku: Dr. Ali Abdul Halim Mahmud


Judul buku: Syarah Arkanul Bai’ah (1)

Rukun Al-Fahmu (Faham)

- Konsisten pada manhaj dan sistem islam dalam kehidupan.

Islam adalah aqidah yang mengandung itu semua, yaitu keyakinan yang benar semua
isinya. Tanda kebenaran aqidah ini adalah bahwa dia datang dari Allah dan relevan untuk segala
masa dan tempat, tidak ada kebatilan datang dari depan dan belakangnya, dan bahwa orang yang
berpegang kepadanya berarti telah mewujudkan kebaikan hidupnya di dunia dan akhirat,
sekalipun zaman berlalu lama, tempat telah berbeda, dan perubahan-perubahan telah terjadi.

Islam adalah aqidah yang benar yang telah teruji kebenarannya dalam sejarah. Sekiranya
umat islam beriman kepadanya, mengamalkan kandungannya dalam berbagai perkembangan
sejarah tanpa melalaikan atau merusak sedikitpun unsur-unsurnya maka mereka telah menjadi
besar, mendapat kemenangan, dan memenuhi dunia dengan keadilan dan kesentosaan.

b. Islam adalah Ibadah yang Benar

Islam adalah ibadah, berarti islam berdiri atas dasar ibadah kepada Allah yang tidak ada
sekutu bagi-Nya sesuai dengan apa yang telah disyariatkan kepada Rasul-Nya Muhammad saw.

Ibadah adalah berbagai bentuk perbautan dan perilaku, baik mengerjakan maupun
meninggalkan. Pada dasarnya, ibadah merupakan ungkapan keyakinan yang ada di hati seorang
muslim. Ibadah dengan maknanya yang umum, di samping berupa kewajiban-kewajiban, juga
mencakup berbagai perbuatan keseharian ketika diniatkan untuk mencari ridha Allah. Ia
bermakna pula berbagai perbuatan yang tercakup dalam ibadah yang diwajibkan oleh islam
untuk dilaksanakan, yaitu ibadah yang benar, terbebas dari cacat dan penyimpangan, dan tidak
menerima berbagai kebatilan.

Demikianlah ibadah menurut islam karena ibadah itu dari Allah dan telah diperinci dengan
detail dalam syari’at islam yang menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia, juga meliputi
seluruh kewajiban yang harus dilaksanakan atau hak-hak yang harus dipenuhinya.

Oleh karena sebagian orang terkadang memisahkan antara aqidah dan ibadah yang benar
maka mereka memandang bahwa aqidah adalah sesuatu yang berdiri sendiri yang tidak berkaitan
dengan ibadah atau amal. Sebab itu, Imam Mu’assis ingin menghilangkan pemahaman keliru ini
dan mengingatkan mereka dan orang-orang lalai yang lain, kemudian beliau menegaskan bahwa
islam, di samping berupa aqidah yang lurus, juga merupakan ibadah yang timbul dari aqidah
yang lurus tersebut.

Makna yang dikehendaki oleh Imam adalah menegaskan bahwa aqidah, sekalipun lurus,
tidak akan bermakna bila tidak diungkapkan dengan ibadah yang benar, sesuai dengan syariat
Allah.

Penulis buku: Dr. Ali Abdul Halim Mahmud


Judul buku: Syarah Arkanul Bai’ah (1)

Rukun Al-Fahmu (Faham)

Begitu juga ibadah, sekalipun sudah dilakukna oleh hamba-hamba dengan serius, bila tidak
tumbuh dari aqidah yang lurus maka ia hanya fatamorgana yang tidak bermakna apa-apa.

Inilah makna sawa-un bi sawa-in (tidak kurang tidak lebih). Wallahu ‘alam.

Penulis buku: Dr. Ali Abdul Halim Mahmud