Anda di halaman 1dari 5

Secara makro zona kendeng merupakan antiklinorium yang terletak

diantara Zona Rembang dan Pegunungan Selatan.

Antiklinorium adalah

kumpulan antiklin-antiklin dalam suatu lipatan.Daerah yang berstrukutur lipatan


pada dasarnya disebabkan oleh tenaga endogen.Pergerakan pada zona kendeng
merupakan gerak orogenesis . Gerak Orogenesis adalah gerak atau pergeseran
kulit bumi dengan arah mendatar baik berupa tekanan maupun tarikan yang relatif
lebih cepat dan meliputi daerah yang sempit.

Pada analisis streografis pada analisis kekar Pada singkapan kali ini, jenis
struktur yang di temui yaitu kekar gerus, sesar dan struktur pembawa sesar yaitu
dragfold.

Kemudian dari analisis lapangan untuk analisis kekar didapatkan

arah tegasan utama kekar yaitu 50, N95 E, arah tegasan dua 48 , N280 E, dan
arah tegasan tiga 10, 20E yang memiliki arah gaya utama berasal dari tenggara
barat laut.Sedangkan arah tegasan utama sesar yaitu 76 , N121E. arah tegasan
dua 60, N270E, dan arah tegasan tiga 35 , N125E yang memiliki arah gaya
berasal dari tenggara barat laut.Hasil analisa stereografis menunjukkan bahwa
gaya utama (1) yang membentuk struktur kekar tersebut berarah tenggara barat
laut dengan jenis kekar gerus. Sesar dan kekar gerus merupakan struktur yang

terbentuk akibat gaya compressional kemudian ketika perlapisan batuan melewati


batas brittle akibat kompress akan menjadi patah dan membawa struktur pembawa
berupa dragfold, yaitu struktur penyerta yang kenampakannya relatif seperti
lipatan yang terbentuk akibat gaya kompres. Jenis sesar di perkirakan adalah sesar
geser sinistral, melihat dari arah cembung dragfold dan arah tegasan utama
terhada[ bidang sesar pada analisis stereografis.
Selanjutnya untuk lipatan Proses pengambilan data pertama kali dengan
mengukur strike dip dari sayap kanan dan sayap kiri lipatan. Pengukuran
menggunakan kompas geologi dengan pengukuran sebanyak lima kali untuk
setiap sayap. Kemudian setelah mengukur sayap, dilakukan pengukuran strike dip
dar axial plane. Axial plane merupakan bidang khayal yang memotong lipatan
secara simetri dan melewati titik puncak ataupun rendahan dari lipatan itu sendiri.
Pengambilan data axial plane harus tepat oleh karena itu harus dicari batas bagian
tengah dengan bidang khayal yang nantinya akan diukur strike dipnya.Lipatan
antiklin ini sendiri merupakan lipatan yang terbentuk pada perselingan batulanau
dan batupasir. Lipatan sendiri memang sering terbentuk pada batuan sedimen
karena sifat batuan sedimen yang berlapis dan banyak persebarannya di bumi,
sehingga apabila terlipat bentukan yang ada akan sangat terlihat.
Setelah pengukuran strike dip dari sayap kanan, sayap kiri dan axial plane
maka langkah selanjutnya adalah pengolahan data dengan melakukan metode
stereografis yang nantinya hasil dari pengolahan dapat menunjukkan arah dari
tegasan utama ataupun tegasan lain yang menyertai.Pertama siapkan polar-equal
area net beserta kertas mika. Lalu dimulai dari titik west yang merupakan titik nol
derajat, lakukan pemlotan data dari sayap kanan dan sayap kiri. Arah sesuai
dengan sudut pada lingkaran yakni hingga 3600, yang kemudian untuk dip dimulai
dari titik pusat menuju luar lingkaran dengan setiap garis pertambahan sebesar 20.
Setelah semua data dari sayap kanan dan sayap kiri diplot langkah selanjutnya
menggunakan lingkaran stereonet. Hasil plot data tadi putar hingga titik-titik
tersebut bertemu pada satu great circle yang sama, cari keadaan dimana pada great
circle terdapat titik paling banyak, lalu lakukan penggambaran sesuai great
circlenya. Setelah itu lakukan plotting data untuk axial plane namun untuk

stereonet berbeda dengan polar-equal area net, yakni dimana sudut untuk dip
dimulai dari luar lingkaran. Kemudian buat great circle dari titik tersebut. Setelah
itu akan terlihat titik perpotongan dari great circle data sayap dan great circle axial
plane, itu lah thow 3. Kemudian lakukan penarikan titik sebesar 900 dari thow 3
yang masih di dalam lingkaran. Titik tersebut adalah thow 1 yang merupakan
tegasan utama. Kemudian letakkan titik thow 1 di N, S, E atau W. Lakukan pole
yakni penarik titik sebesar 900 yang masih segaris dengan titik thow 1. Titik hasil
pole merupakan thow 2 yang nantinya akan terletak pada great circle data sayap.
Setelah itu lakukan penarikan garis secara tegak lurus dari titik untuk mencari
arah dari tegasan tersebut. Sehingga akan diperoleh arah tegasan utaman
pembentuk lipatan yakni N 1150 E dengan tegasan yang menyertai yakni thow 2
N 3150 E serta thow 3 N 700 E. Kemudian untuk mencari plunge dan pitch dari
lipatan itu sendiri, great circle dari sayap dengan perpotongan great circle axial
plane, dimana great circle sayap yang kurang dari 900 merupakan pitch, hitung
sudut pitch tersebut. Lalu dari titik perpotong tadi lakukan penarik tegak lurus,
hitung sudutnya, itulah plunge. Sehingga diperoleh plunge 810 dengan pitch 800.
Maka dengan melakukan metode stereografis dapat diperoleh arah dari setiap
tegasan serta nilai dari pitch dan plunge pada lipatan tersebut.
Pada daerah pemetaan ini berlokasi di daerah wonosegoro ,kabupaten
boyololai.tepatnya berada di sebelah bagian barat zona kendeng. Struktur geologi
yang berkembang pada daerah penelitian terdiri dari sesar naik dan lipatan dan
sesar mendatar berarah baratlaut - tenggara serta sesar turun dengan arah relatif
baratlaut tenggara dengan tegasan utama berarah berarah utara baratlaut selatan tenggara yang berlangsung pada kala Plio-Plistosen.
Struktur geologi yang berkembang di daerah ini adalah lipatan dan sesar.
Beberapa lipatan kecil berkembang dengan arah sumbu lipatan timurlautbaratdaya dan utara-selatan. Sesar utama yang terdapat di daerah ini adalah sesar
geser berarah barat-timur yang memotong sepanjang daerah pemetaan. Sesar
geser

yang berarah hampir baratlaut-tenggara dan timurlaut-baratdaya

berkembang dan memotong struktur lipatan dan sesar naik.Struktur geologi yang
berkembang di daerah penyelidikan adalah lipatan dan sesar. Struktur ini

terbentuk pada batuan sedimen berumur Tersier. Struktur lipatan terdiri dari
sinklin dan antiklin dengan sumbu lipatan yang berarah relatif barat timur.
Diantaranya antiklin yang melalui daerah Repaking..Berikut ini merupakan
contoh struktur lipatan yang juga berkembang sesar.
Struktur sesar, berupa sesar geser . Sesar geser diantaranya di temukan di
Kali berupa sesar geser kiri (sinistral fault) berarah hampir utaraselatan, terlihat
dengan adanya offset sepanjang 30 cm dan perubahan dari kedudukan lapisan.
Sesar geser ini diperkirakan memotong struktur antiklin BotoRepaking, dimana
blok bagian barat bergerak relatif ke selatan..Berikut ini contoh kenampakan sesar
di lapangan .
Sejarah perkembangan tektonik pulau jawa pada zona kendeng hingga saat
ini

yaitu

Pengaktifan

kembali

sepanjang

sesar

tersebut

menghasilkan

mekanisme transtension dan transpression yang berasosiasi dengan sedimentasi


turbidit dibagian yang mengalami penurunan. Namun demikian, di bagian paling
timur Jawa Timur, bagian basement dominan berarah timur-barat, sebagaimana
secara khusus dapat diamati dengan baik mengontrol Dalaman Kendeng dan juga
Dalaman Madura. Bagian basement berarah Timur Barat merupakan bagian
dari fragmen benua yang mengalasi dan
dan

sebelumnya tertransport dari selatan

bertubrukan dengan Sundaland sepanjang Suture Meratus (NE-SW

struktur). Tektonik kompresi karena subduksi ke arah utara telah mengubah


sesar basement Barat Timur menjadi pergerakan sesar mendatar, dalam perioda
yang tidak terlalu lama (Manur dan Barraclough, 1994). Kenaikan muka air
laut selama periode ini, menghasilkan

pengendapan

sedimen klastik di daerah

rendahan, dan sembulan karbonat (carbonate buildup) pada

tinggian yang

membatasi.
Deformasi pada batuan adalah perubahan bentuk, dimensi dan posisi dari
suatu materi baik merupakan bagian dari alam ataupun buatan manusia dalam
skala waktu dan ruang. Deformasi disebabkan oleh gaya atau tekanan yang
bekerja pada materi tersebut. Adapun faktor-faktor yang mengontrol terjadinya
deformasi suatu materi adalah

Temperatur dan tekanan ke semua arah; pada

temperatur dan tekanan yang rendah akan lebih cepat terjadi patahan, pada

temperatur dan tekanan yang tinggi akan terjadi lenturan atau bahkan
lelehan.,Kecepatan gerakan yang disebabkan oleh gaya yang diberikan; gerakan
yang cepat dapat menyebabkan patahan, sedangkan gerakan yang lambat dapat
menimbulkan lenturan, tergantung dari bahan yang bersangkutan dan dari
keadaan-keadaan lain. Sifat material, yang bisa lebih rapuh atau lebih lentur.
Tahapan Deformasi Ketika suatu batuan dikenakan tekanan dengan besar
tertentu, maka batuan itu akan mengalami tiga tahap deformasi, yaitu :Elastic
deformation.Elastic deformation adalah deformasi batuan yang bersifat sementara
atau tidak permanen. jadi ketika tekanan yang diberikan pada batuan tersebut
dihilangkan, maka bentuk batuan tersebut akan kembali seperti semula. Elastisitas
ini memiliki batas yang disebut elastic limit. Apabila batas elastisitas ini
dilampaui, maka bentuk batuan tidak akan kembali seperti semula. Ductile
deformation merupakan tahapan deformasi setelah elastic limit dilampaui dan
perubahan

bentuk

dan

volume

batuan

tidak

kembali.Fracture

deformation merupakan tahapan deformasi yang tejadi setelah batas atau


limit elastic deformationdan ductile deformation dilampaui.