Anda di halaman 1dari 2

Pengendalian Biaya pada

Proyek Pembangunan Gedung Rektorat


Universitas Negeri Malang Tahap III
Dalam pelaksanaan suatu proyek, apabila terjadi sebuah penyimpangan pada
suatu proyek tersebut dari yang sudah direncanakan harus dilakukan pengendalian
proyek dengan pengawasan yang ketat. Pengendalian proyek dimaksudkan agar sesuatu
yang menghambat tercapainya tujuan proyek akan dapat segera diselesaikan untuk
tercapainya tujuan proyek tersebut. Pada Proyek Pembangunan Gedung Rektorat
Universitas Negeri Malang Tahap III Adapun uraiannya pengendalian biaya pada
proyek tersebut sebagai berikut :
Pengendalian Biaya biasa juga disebut Cost Control. Pengendalian biaya sangat
diperlukan pada setiap proyek agar biaya proyek tidak melebihi anggaran yang sudah
direncanakan sehingga proyek bisa berjalan dengan lancar. Karena ujung tombak dari
sebuah proyek adalah biaya dimana biaya tersendat proyekpun akan tersendat untuk
mengantisipasi

kemungkinan-kemungkinan

terburuk

yang

akan

terjadi

maka

pengendalian yang dilakukan pada Proyek Pembangunan Gedung Rektorat Universitas


Negeri Malang Tahap III antara lain :
1. Permasalahan :
Proyek mengalami keterlambatan sedangkan biaya yang dipakai menipis untuk
pengadaan material. Progress penjualan proyek tidak bisa mengalami peningkatan
karena material yang ada tidak bisa dihitung sebagai progress. Akibatnya
penagihan thermyn terhambat sedangkan keuangan menipis.
Pengendalian :

Proyek meminjam uang dari devisi untuk digunakan sebagai biaya


operasional pelaksanaan proyek.

Item pekerjaan yang dikerjakan dialihkan kepada item pekerjaan memiliki


nilai prosentase bobot yang besar tetapi dengan kuantitas yang sedikit tetapi
dengan pengerjaan yang cepat.

Perusahaan melakukan pencairan thermyn kemudian mengembalikan uang


pinjaman dari divisi dan melanjutkan proses operasional proyek dengan
mengandalkan pencairan thermyn dan sisa kas.

2. Permasalahan :
Proyek mengalami keuntungan yang menipis yang dihitung dari kemajuan atau
progress prestasi yang telah tercapai.
Pengendalian :
Pada setiap minggu dilakukan pemeriksaan apakah biaya yang sudah dikeluarkan
sesuai dengan kemajuan atau progress prestasi yang telah tercapai. Cara
menghitungnya yaitu, nilai kontrak yang tercantum yaitu Rp. 30.790.000.000,progress prestasi yang dicapai minggu ini adalah 56% berarti batas dari total biaya
yang dikeluarkan dari proyek 0% samapi 56% adalah Rp. 30.790.000.000,- x 56%
yaitu sama dengan Rp. 17.242.400.000,-. Apabila kurang dari itu kontraktor bisa
dikatakan untung tetapi apabila lebih dari itu kontraktor bisa dikatakan rugi.
3. Permasalahan :
Proyek mengalami keterlambatan.
Pengendalian :
Harus selalu melakukan pengawasan pada waktu juga. Dimana proyek bisa selesai
tepat waktu berarti disitu melakukan penghematan biaya karena apabila terlambat
dari pihak kontraktor harus mempersiapkan dana ekstra untuk membayar denda
perharinya. Dimana nominal denda tersebut yaitu 1/1000 dari nilai kontraknya.
Jadi apabila nilai kontrak Rp. 30.790.000.000,- x (1/1000) denda yang harus
dibayarkan perharinya adalah Rp. 30.790.000,- jika keterlambatan 1 hari saja Rp.
30.790.000,- apabila sampai lama bisa saja kontraktor mengalami kerugian.
4. Permasalahan :
Time Schedule berantakan.
Pengendalian :
Schedule rencana harus dirancang dengan baik dengan memperhatikan efisien
waktu untuk pekerjaan setiap item pekerjaan di proyek tersebut. Karena schedule
rencana merupakan patokan dari schedule actual dalam proyek.
5. Permasalahan :
Pencairan thermyn terlambat.
Pengendalian :
Selalu memperhatikan administrasi teknik untuk keperluan pencairan agar
thermyn cair tepat waktu sehingga tidak menghambat keuangan proyek tersebut.

Anda mungkin juga menyukai