Anda di halaman 1dari 30

1.

KONSEP DASAR ETIKA UMUM


a. Pengertian etika
Etika (Yunani Kuno: "ethikos", berarti "timbul dari kebiasaan") adalah cabang utama
filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan
penilaian moral. Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah,
baik, buruk, dan tanggung jawab.
Etika dimulai bila manusia merefleksikan unsur-unsur etis dalam pendapat-pendapat
spontan kita. Kebutuhan akan refleksi itu akan kita rasakan, antara lain karena pendapat
etis kita tidak jarang berbeda dengan pendapat orang lain. Untuk itulah diperlukan etika,
yaitu untuk mencari tahu apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia.
Secara metodologis, tidak setiap hal menilai perbuatan dapat dikatakan sebagai etika.
Etika memerlukan sikap kritis, metodis, dan sistematis dalam melakukan refleksi. Karena
itulah etika merupakan suatu ilmu. Sebagai suatu ilmu, objek dari etika adalah tingkah
laku manusia. Akan tetapi berbeda dengan ilmu-ilmu lain yang meneliti juga tingkah laku
manusia, etika memiliki sudut pandang normatif. Maksudnya etika melihat dari sudut
baik dan buruk terhadap perbuatan manusia.
Filsuf Aristoteles, dalam bukunya Etika Nikomacheia, menjelaskan tentang pembahasan
Etika, sebagai berikut:

Terminius Techicus, Pengertian etika dalam hal ini adalah, etika dipelajari untuk ilmu
pengetahuan yang mempelajari masalah perbuatan atau tindakan manusia.

Manner dan Custom, Membahas etika yang berkaitan dengan tata cara dan kebiasaan
(adat) yang melekat dalam kodrat manusia (In herent in human nature) yang terikat
dengan pengertian baik dan buruk suatu tingkah laku atau perbuatan manusia.

Pengertian dan definisi Etika dari para filsuf atau ahli berbeda dalam pokok perhatiannya;
antara lain:
1. Merupakan prinsip-prinsip moral yang termasuk ilmu tentang kebaikan dan sifat dari
hak (The principles of morality, including the science of good and the nature of the right)

2. Pedoman perilaku, yang diakui berkaitan dengan memperhatikan bagian utama dari
kegiatan manusia. (The rules of conduct, recognize in respect to a particular class of
human actions)
3. Ilmu watak manusia yang ideal, dan prinsip-prinsip moral sebagai individual. (The
science of human character in its ideal state, and moral principles as of an individual)
4. Merupakan ilmu mengenai suatu kewajiban (The science of duty)

Macam-macam Etika
Dalam membahas Etika sebagai ilmu yang menyelidiki tentang tanggapan kesusilaan atau
etis, yaitu sama halnya dengan berbicara moral (mores). Manusia disebut etis, ialah
manusia secara utuh dan menyeluruh mampu memenuhi hajat hidupnya dalam rangka asas
keseimbangan antara kepentingan pribadi dengan pihak yang lainnya, antara rohani dengan
jasmaninya, dan antara sebagai makhluk berdiri sendiri dengan penciptanya. Termasuk di
dalamnya membahas nilai-nilai atau norma-norma yang dikaitkan dengan etika, terdapat
dua macam etika (Keraf: 1991: 23), sebagai berikut:
Etika Deskriptif
Etika yang menelaah secara kritis dan rasional tentang sikap dan perilaku manusia, serta
apa yang dikejar oleh setiap orang dalam hidupnya sebagai sesuatu yang bernilai. Artinya
Etika deskriptif tersebut berbicara mengenai fakta secara apa adanya, yakni mengenai nilai
dan perilaku manusia sebagai suatu fakta yang terkait dengan situasi dan realitas yang
membudaya. Da-pat disimpulkan bahwa tentang kenyataan dalam penghayatan nilai atau
tanpa nilai dalam suatu masyarakat yang dikaitkan dengan kondisi tertentu
memungkinkan manusia dapat bertindak secara etis.
Etika Normatif
Etika yang menetapkan berbagai sikap dan perilaku yang ideal dan seharusnya dimiliki
oleh manusia atau apa yang seharusnya dijalankan oleh manusia dan tindakan apa yang

bernilai dalam hidup ini. Jadi Etika Normatif merupakan norma-norma yang dapat
menuntun agar manusia bertindak secara baik dan menghindarkan hal-hal yang buruk,
sesuai dengan kaidah atau norma yang disepakati dan berlaku di masyarakat.
Dari berbagai pembahasan definisi tentang etika tersebut di atas dapat diklasifikasikan
menjadi tiga (3) jenis definisi, yaitu sebagai berikut:

Jenis pertama, etika dipandang sebagai cabang filsafat yang khusus membicarakan
tentang nilai baik dan buruk dari perilaku manusia.

Jenis kedua, etika dipandang sebagai ilmu pengetahuan yang membicarakan baik
buruknya perilaku manusia dalam kehidupan bersama. Definisi tersebut tidak melihat
kenyataan bahwa ada keragaman norma, karena adanya ketidaksamaan waktu dan
tempat, akhirnya etika menjadi ilmu yang deskriptif dan lebih bersifat sosiologik.

Jenis ketiga, etika dipandang sebagai ilmu pengetahuan yang bersifat normatif, dan
evaluatif yang hanya memberikan nilai baik buruknya terhadap perilaku manusia. Dalam
hal ini tidak perlu menunjukkan adanya fakta, cukup informasi, menganjurkan dan
merefleksikan. Definisi etika ini lebih bersifat informatif, direktif dan reflektif.

Norma dan Kaidah


Di dalam kehidupan sehari-hari sering dikenal dengan istilah norma-norma atau kaidah,
yaitu biasanya suatu nilai yang mengatur dan memberikan pedoman atau patokan tertentu
bagi setiap orang atau masyarakat untuk bersikap tindak, dan berperilaku sesuai dengan
peraturan-peraturan yang telah disepakati bersama. Patokan atau pedoman tersebut sebagai
norma (norm) atau kaidah yang merupakan standar yang harus ditaati atau dipatuhi
(Soekanto: 1989:7).
Kehidupan masyarakat terdapat berbagai golongan dan aliran yang beraneka ragam,
masing-masing mempunyai kepentingan sendiri, akan tetapi kepentingan bersama itu
mengharuskan adanya ketertiban dan keamanan dalam kehidupan sehari-hari dalam bentuk
peraturan yang disepakati bersama, yang mengatur tingkah laku dalam masyarakat, yang
disebut peraturan hidup.Untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan kehidupan dengan
aman, tertib dan damai tanpa gangguan tersebut, maka diperlukan suatu tata

(orde=ordnung), dan tata itu diwujudkan dalam aturan main yang menjadi pedoman bagi
segala pergaulan kehidupan sehari-hari, sehingga kepentingan masing-masing anggota
masyarakat terpelihara dan terjamin. Setiap anggota masyarakat mengetahui hak dan
kewajibannya masing-masing sesuai dengan tata peraturan, dan tata itu lazim disebut
kaedah (bahasa Arab), dan norma (bahasa Latin) atau ukuran-ukuran yang menjadi
pedoman, norma-norma tersebut mempunyai dua macam menurut isinya, yaitu:
1. Perintah, yang merupakan keharusan bagi seseorang untuk berbuat sesuatu oleh karena
akibatnya dipandang baik.
2. Larangan, yang merupakan keharusan bagi seseorang untuk tidak berbuat sesuatu oleh
karena akibatnya dipandang tidak baik.Artinya norma adalah untuk memberikan
petunjuk kepada manusia bagaimana seseorang hams bertindak dalam masyarakat serta
perbuatan-perbuatan mana yang harus dijalankannya, dan perbuatan-perbuatan mana
yang harus dihindari (Kansil, 1989:81).
Norma-norma itu dapat dipertahankan melalui sanksi-sanksi, yaitu berupa ancaman
hukuman terhadap siapa yang telah melanggarnya. Tetapi dalam kehidupan masyarakat
yang terikat oleh peraturan hidup yang disebut norma, tanpa atau dikenakan sanksi atas
pelanggaran, bila seseorang melanggar suatu norma, maka akan dikenakan sanksi sesuai
dengan tingkat dan sifatnya suatu pelanggaran yang terjadi, misalnya sebagai berikut:

Semestinya tahu aturan tidak akan berbicara sambil menghisap rokok di hadapan
tamu atau orang yang dihormatinya, dan sanksinya hanya berupa celaan karena
dianggap tidak sopan walaupun merokok itu tidak dilarang.Seseorang tamu yang
hendak pulang, menurut tata krama harus diantar sampai di muka pintu rumah atau
kantor, bila tidak maka sanksinya hanya berupa celaan karena dianggap sombong dan
tidak menghormati tamunya.

Mengangkat gagang telepon setelah di ujung bunyi ke tiga kalinya serta mengucapkan
salam, dan jika mengangkat telepon sedang berdering dengan kasar, maka sanksinya
dianggap intrupsi adalah menunjukkan ketidaksenangan yang tidak sopan dan tidak
menghormati si penelepon atau orang yang ada disekitarnya.

Orang yang mencuri barang milik orang lain tanpa sepengetahuan pemiliknya, maka
sanksinya cukup berat dan bersangkutan dikenakan sanksi hukuman, baik hukuman
pidana penjara maupun perdata (ganti rugi).

Kemudian norma tersebut dalam pergaulan hidup terdapat empat (4) kaedah atau norma,
yaitu norma agama, kesusilaan, kesopanan dan hukum . Dalam pelaksanaannya, terbagi
lagi menjadi norma-norma umum (non hukum) dan norma hukum, pemberlakuan normanorma itu dalam aspek kehidupan dapat digolongkan ke dalam dua macam kaidah,
sebagai berikut:
1. Aspek kehidupan pribadi (individual) meliputi:

Kaidah kepercayaan untuk mencapai kesucian hidup pribadi atau kehidupan yang
beriman.

Kehidupan kesusilaan, nilai moral, dan etika yang tertuju pada kebaikan hidup
pribadi demi tercapainya kesucian hati nu-rani yang berakhlak berbudi luhur
(akhlakul kharimah).

2. Aspek kehidupan antar pribadi (bermasyarakat) meliputi:

Kaidah atau norma-norma sopan-santun, tata krama dan etiketdalam pergaulan


sehari-hari dalam bermasyarakat (pleasantliving together).

Kaidah-kaidah hukum yang tertuju kepada terciptanya ketertiban, kedamaian dan


keadilan dalam kehidupan bersama atau bermasyarakat yang penuh dengan kepastian
atau ketenteraman (peaceful living together).Sedangkan masalah norma non hukum
adalah masalah yang cukup penting dan selanjutnya akan dibahas secara lebih luas
mengenai kode perilaku dan kode profesi Humas/PR, yaitu seperti nilai-nilai moral,
etika, etis, etiket, tata krama dalam pergaulan sosial atau bermasyarakat, sebagai nilai
aturan yang telah disepakati bersama, dihormati, wajib dipatuhi dan ditaati.

Norma moral tersebut tidak akan dipakai untuk menilai seorang dokter ketika mengobati
pasiennya, atau dosen dalam menyampaikan materi kuliah terhadap para mahasiswanya,
melainkan untuk menilai bagaimana sebagai profesional tersebut menjalankan tugas dan

kewajibannya dengan baik sebagai manusia yang berbudi luhur, juiur, bermoral, penuh
integritas dan bertanggung jawab.Terlepas dari mereka sebagai profesional tersebut jitu
atau tidak dalam memberikan obat sebagai penyembuhnya, atau metodologi dan
keterampilan dalam memberikan bahan kuliah dengan tepat. Dalam hal ini yang
ditekankan adalah sikap atau perilaku mereka dalam menjalankan tugas dan fungsi
sebagai profesional yang diembannya untuk saling menghargai sesama atau kehidupan
manusia.
Pada akhirnya nilai moral, etika, kode perilaku dan kode etik standard profesi adalah
memberikan jalan, pedoman, tolok ukur dan acuan untuk mengambil keputusan tentang
tindakan apa yang akan dilakukan dalam berbagai situasi dan kondisi tertentu dalam
memberikan pelayanan profesi atau keahliannya masing-masing. Pengambilan
keputusan etis atau etik, merupakan aspek kompetensi dari perilaku moral sebagai
seorang profesional yang telah memperhitungkan konsekuensinya, secara matang baikburuknya akibat yang ditimbulkan dari tindakannya itu secara obyektif, dan sekaligus
memiliki tanggung jawab atau integritas yang tinggi. Kode etik profesi dibentuk dan
disepakati oleh para profesional tersebut bukanlah ditujukan untuk melindungi
kepentingan individual (subyektif), tetapi lebih ditekankan kepada kepentingan yang
lebih luas (obyektif).

Etiket
Pengertian etiket dan etika sering dicampuradukkan, padahal kedua istilah tersebut terdapat
arti yang berbeda, walaupun ada persamaannya. Istilah etika sebagaimana dijelaskan
sebelumnya adalah berkaitan dengan moral (mores), sedangkan kata etiket adalah berkaitan
dengan nilai sopan santun, tata krama dalam pergaulan formal. Persamaannya adalah
mengenai perilaku manusia secara normatif yang etis. Artinya memberikan pedoman atau
norma-norma tertentu yaitu bagaimana seharusnya seseorang itu melakukan perbuatan dan
tidak melakukan sesuatu perbuatan.Istilah etiket berasal dari Etiquette (Perancis) yang
berarti dari awal suatu kartu undangan yang biasanya dipergunakan semasa raja-raja di

Perancis mengadakan pertemuan resmi, pesta dan resepsi untuk kalangan para elite
kerajaan atau bangsawan.
Dalam pertemuan tersebut telah ditentukan atau disepakati berbagai peraturan atau tata
krama yang harus dipatuhi, seperti cara berpakaian (tata busana), cara duduk, cara
bersalaman, cara berbicara, dan cara bertamu dengan si kap serta perilaku yang penuh
sopan santun dalam pergaulan formal atau resmi.Definisi etiket, menurut para pakar ada
beberapa pengertian, yaitu merupakan kumpulan tata cara dan sikap baik dalam pergaulan
antar manusia yang beradab.
Pendapat lain mengatakan bahwa etiket adalah tata aturan sopan santun yang disetujui oleh
masyarakat tertentu dan menjadi norma serta panutan dalam bertingkah lake sebagai anggota
masyarakat yang baik dan menyenangkan.Menurut K. Bertens, dalam buku berjudul Etika,
1994. yaitu selain ada persamaannya, dan juga ada empat perbedaan antara etika dan etiket,
yaitu secara umumnya sebagai berikut:
1. Etika adalah niat, apakah perbuatan itu boleh dilakukan atau tidak sesuai pertimbangan
niat baik atau buruk sebagai akibatnya. Etiket adalah menetapkan cara, untuk
melakukan perbuatan benar sesuai dengan yang diharapkan.
2. Etika adalah nurani (bathiniah), bagaimana harus bersikap etis dan baik yang
sesungguhnya timbul dari kesadaran dirinya. Etiket adalah formalitas (lahiriah), tampak
dari sikap luarnya penuh dengan sopan santun dan kebaikan.
3. Etika bersifat absolut, artinya tidak dapat ditawar-tawar lagi, kalau perbuatan baik
mendapat pujian dan yang salah harus mendapat sanksi.Etiket bersifat relatif, yaitu yang
dianggap tidak sopan dalam suatu kebudayaan daerah tertentu, tetapi belum tentu di
tempat daerah lainnya.
4. Etika berlakunya, tidak tergantung pada ada atau tidaknya orang lain yang hadir.Etiket
hanya berlaku, jika ada orang lain yang hadir, dan jika tidak ada orang lain maka etiket
itu tidak berlaku.

2. KONSEP DASAR ETIKA KEPERAWATAN


1. Pengertian
Etika berasal dari bahasa yunani, yaitu Ethos, yang menurut Araskar dan David (1978)
berarti kebiasaaan . model prilaku atau standar yang diharapkan dan kriteria tertentu
untuk suatu tindakan. Penggunaan istilah etika sekarang ini banyak diartikan sebagai motif
atau dorongan yang mempengaruhi prilaku. (Dra. Hj. Mimin Emi Suhaemi. 2002. 7)
Etika adalah kode prilaku yang memperlihatkan perbuatan yang baik bagi kelompok
tertentu. Etika juga merupakan peraturan dan prinsip bagi perbuatan yang benar. Etika
berhubungan dengan hal yang baik dan hal yang tidak baik dan dengan kewajiban moral.
Etika berhubungan dengan peraturan untuk perbuatan atau tidakan yang mempunyai prinsip
benar dan salah, serta prinsip moralitas karena etika mempunyai tanggung jawab moral,
menyimpang dari kode etik berarti tidak memiliki prilaku yang baik dan tidak memiliki
moral yang baik.
Etika merupakan aplikasi atau penerapan teori tentang filosofi moral kedalam situasi
nyata dan berfokus pada prinsip-prinsip dan konsep yang membimbing manusia berpikir dan
bertindak dalam kehidupannya yang dilandasi oleh nilai-nilai yang dianutnya. Banyak pihak
yang menggunakan istilah etik untuk mengambarkan etika suatu profesi dalam hubungannya
dengan kode etik profesional seperti Kode Etik PPNI atau IBI.
Tujuan etika keperawatan
1. Menciptakan dan mempertahankan kepercayaan klien kepada perawat, kepercayaan diantara
sesama perawat dan kepercayaan masyarakat kepada profesi keperawatan
2. Menurut American Ethich Commision Bureau On Teaching, tujuan etika profesi
keperawatan adalah mampu :

Mengenal dan mengedintisifikasi unsur moral dalam praktek keperawatan

Membentuk strategi atau cara menganalisis masalah moral yang terjadi dalam
praktek keperawatan

Menghubungkan praktek moral / pelajaran yang baik dan

dipertanggung

jawabkan pada diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan kepada tuhan, sesuai dengan
kepercayaannya.
3. Menurut Natonal League For Nursing (NLN) pusat pendidikan keperawatan milik
perhimpunan perawat amerika, pendidikan etika keperawatan bertujuan :

Meningkatkan pengertian peserta didik tentang hubungan antar profesi kesehatan


lain dan mengerti tentang peran dan fungsi anggota tim

Mengembangkan potensi pengambilan keputusan yang bersifat moralitas,


keputusan tentang baik dan buruk yang akan dipertanggung jawabkan kepda tuhan
sesuai dengan kepercayaannya.

Mengembangkan sifat pribadi dan sikap professional peserta didik

Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang penting untuk dasar praktek


keperawatan professional

Memberi kesempatan kepada peserta didik menerapkan ilmu dan prinsip etika
keperawatandalam praktek dan dalam situasi nyata.

A. Beberapa pengertian yang berkaitan dengan dilema etik


1. Etik
Etik adalah norma-norma yang menentukan baik-buruknya tingkah laku manusia, baik
secara sendirian maupun bersama-sama dan mengatur hidup ke arah tujuannya ( Pastur
scalia, 1971 )
2. Etik Keperawatan
Etik keperawatan adalah norma-norma yang di anut oleh perawat dalam bertingkah laku
dengan pasien, keluarga, kolega, atau tenaga kesehatan lainnya di suatu pelayanan
keperawatan yang bersifat professional. Prilaku etik akan dibentuk oleh nilai-nilai dari
pasien, perawat dan interaksi sosial dalam lingkungan.
3. Kode Etik Keperawatan
Kode etik adalah suatu tatanan tentang prinsip-prinsip imum yang telah diterima oleh
suatu profesi. Kode etik keperawatan merupakan suatu pernyataan komprehensif dari

profesi yang memberikan tuntutan bagi anggotanya dalam melaksanakan praktek


keperawatan, baik yang berhubungan dengan pasien, keluarga masyarakat, teman
sejawat, diri sendiri dan tim kesehatan lain, yang berfungsi untuk

Memberikan dasar dalam mengatur hubungan antara perawat, pasien, tenaga


kesehatan lain, masyarakat dan profesi keperawatan.

Memberikan dasar dalam menilai tindakan keperawatan

Membantu masyarakat untuk mengetahui pedoman dalam melaksanakan praktek


keperawatan.

Menjadi dasar dalam membuat kurikulum pendidikan keperawatan( Kozier &


Erb, 1989 )

3. KONSEP TENTANG NILAI


Nilai-nilai (values) adalah suatu keyakinan seseorang tentang penghargaan terhadap suatu
standar atau pegangan yang mengarah pada sikap/perilaku seseorang. Sistem nilai dalam
suatu organisasi adalah rentang nilai-nilai yang dianggap penting dan sering diartikan sebagai
perilaku personal
Moral hampir sama dengan etika, biasanya merujuk pada standar personal tentang benar
atau salah. Hal ini sangat penting untuk mengenal antara etika dalam agama, hukum, adat
dan praktek professional. Pendekatan berdasarkan prinsip, sering dilakukan dalam bio etika
untuk menawarkan bimbingan untuk tindakan khusus. Beauchamp Childress (1994)
menyatakan empat pendekatan prinsip dalam etika biomedik antara lain:
1. Sebaiknya mengarah langsung untuk bertindak sebagai penghargaan terhadap kapasitas
otonomi setiap orang
2. Menghindarkan berbuat suatu kesalahan
3. Bersedia dengan murah hati memberikan sesuatu yang bermanfaat dengan segala
konsekuensinya
4. Keadilan menjelaskan tentang manfaat dan resiko yang dihadapi

4. KONSEP TENTANG HAK PASIEN


Hak adalah tuntutan seseorang terhadap sesuatu yang merupakan kebutuhan pribadinya
sesuai dengan keadilan, moralitas dan legalitas. Setiap manusia mempunyai hak asasi untuk
berbuat, menyatakan pendapat, memberikan sesuatu kepada orang lain dan menrima sesuatu
dari orang lain atau lembaga tertentu. Hak tersebut dapat dimiliki oleh setiap orang. Dalam
menuntut suatu hak, tanggung jawab moral sangat diperlukan agar dapat terjalin suatu ikatan
yangmerupakan kontrak sosial, baik tesurat maupun yang tersirat, sehingga segala sesuatunya
dapat memberikan dampak positif.
Menurut sifatnya hak asasi manusia dibagi dalam beberapa jenis :
1. Personal Rights (hak-hak asasi pribadi)
Meliputi kemerdekaan menyatakan pendapat dan memeluk agama, kebebasan bergerak,
dsb.
2. Property Rights (Hak untuk memiliki sesuatu)
Meliputi hak untuk membeli, menjual barang miliknya tanpa dicampuri secara berlebihan
oleh pemerintah termasuk hak untuk mengadakan suatu perjanjian dengan bebas.
3. Rights of legal aquality
Yaitu hak untuk mendapatkan perlakuan yang sama dan sederajat dalam hukum dan
pemerintahan.
4. Political Rights (hak asasi politik)
Yaitu hak untuk ikut serta dalam pemerintahan dengan ikut memilih atau dipilih,
mendirikan partai politik, mengadakan petisi, dll.
5. Social and Cultural Rights (hak asasi sosial dan kebudayaan), diantaranya hak untuk
memilih pendidikan serta mengembangkan kebudayaan yang disukai.
6. Procedural Rights, yaitu hak untuk memperoleh tata cara peradilan dan jaminan
perlindungan misalnya dalam hal penggeledahan dan peradilan.

Peranan hak-hak.

1. Hak dapat digunakan sebagai pengekspresian kekuasaan dalam konflik antara seseorang
dengan kelompok
Contoh :
Seorang dokter mengatakan pada perawat bahwa ia mempunyai hak untuk menginstruksikan
pengobatan yang ia inginkan untuk pasiennya. Disini terlihat bahwa dokter tersebut
mengekspresikan kekuasaannnya untuk menginstruksikan pengobatan terhadap pasien, hal ini
mmerupakan haknya selaku penanggung jawab medis.
2. Hak dapat digunakan untuk memberikan pembenaran pada suatu tindakan.
Contoh :
Seorang perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatannya mendapat kritikan karena terlalu
lama menghabiskan waktunya bersama pasien. Perawat tersebut dapat mengatakan bahwa ia
mempunyai hak untuk memberikan asuhan keperawatan yang terbaik untuk pasien sesuai dengan
pengetahuan yang dimilikinya. Dalam hal ini, perawat tersebut mempunayi hak melakukan
asuhan keperawatan sesuai denga kondisi dan kebutuhan pasien.
3. Hak dapat digunakan untuk menyelesaikan perselisihan. Seseorang seringkali dapat
menyelesaikan suatu perselisihan dengan menuntut hak yang juga dapat diakui oleh orang lain.
Contoh :
Seorang perawat menyarankan pada pasien agar tidak keluar ruangan selama dihospitalisasi.
Pada situasi tersebut pasien marah karena tidak setuju dengan saran perawat dan pasien tersebut
mengatakan pada perawat bahwa ia juga mempunyai hak untuk keluar dari ruanagan bilamana ia
mau. Dalam hal ini, perawat dapat menerima tindakan pasien sepanjang tidak merugikan
kesehatan pasien. Bila tidak tercapai kesepakatan karena membatasi pasien, berarti ia
mengingkari kebebasan pasien.
Jenis-jenis hak :
1.Hak untuk memilih/kebebasan

Yaitu hak orang-orang untuk hidup sesuai dengan pilihannya dalam batas-batas yang telah
ditentukan.
Contoh :
Seorang perawat wanita yang bekerja dirumah sakit dapat mempergunakan seragam yang
diiginkan (haknya) asalkan berwarna putih bersih dan sopan sesuai dengan batas-batas. Batasbatas ini merupakan kebijakan RS dan suatu norma yang ditetapkan perawat.
2. Hak kesejahteraan
Yaitu hak-hak yang diberikan secara hukum untuk untuk hal-hal yang merupakan standar
keselamatan spesifik dalam suatu bangunan atau wilayah tertentu.
Contoh :
Hak pasien untuk memperoleh asuhan keperawatan, hak penduduk memperoleh air bersih, dan
lain-lain.
3. Hal legislatif
Yaitu hak yang diterapkan oleh hukum berdasarkan konsep keadilan.
Contoh :
Seorang wanita mempunyai hak legal untuk tidak diperlakukan semena-mena oleh suaminya.
Bandman dan Bandman (1986) menyatakan bahwa hak legislatif mempunyai 4 peranan
dimasyarakat yaitu membuat peraturan, mengubah peraturan, membatasi moral terhadap
peraturan yang tidak adil, memberikan keputusan pengadilan atau menyelesaikan perselisihan.
Ada 4 hak dasar yang dikemukakan oleh John F. Kennedy (1962) yaitu :
a) Hak mendapatkan perlindungan keamanan
b) Hak mendapat informasi
c) Hak memilih
d) Hak mendengar

Beberapa hak pasien yang dibahas disini adalah :


1.Hak memberikan consent (persetujuan)
Consent mengandung arti suatru tindakan atau aksi beralasan yang diberikan tanpa paksaan oleh
seseorang yang memiliki pemgetahuan yang cukup tentang keputusan yang ia berikan, dimana
secara hukum orang tersebut secara hukum mampu memberikan consent. Consent diterapkan
pada prinsip bahwa setiap manusia dewasa mempunyai hak untuk menentukan apa yang harus
dilakukan terhadapnya. Kriteria consent yang sah :
a) Tertulis
b) Ditandatangani oleh pasien atau orang yang bertanggung jawab terhadapnya
c) Hanya ada salah satu prosedur yang tepat dilakukan
d) Memenuhi beberapa elemen penting : penjelasan kondisi, prosedur dan konsekuensinya,
penanganan atau prosedur alternative, manfaat yang diharapkan, Tawaran diberikan oleh
pasien dewasa yang secara fisik dan mental mampu membuat keputusan
2. Hak untuk memilih mati
Keputusan tentang kematian dibuat berdasarkan standar medis oleh dokter, salah satu kriteria
kematian adalah mati otak atau brain death. Hak untuk memilih mati sering bertolak belakang
dengan hak untuk tetap mempertahankan hidup.
Permasalahan muncul pada saat pasien dalam keadaan kritis dan tidak mamapu membuat
keputusan sendiri tentang hidup dan matinya misal dalam keadaan koma. Dalam situasi inipasien
hanya mampu mempertahankan hidup jika dibantu dengan pemasangan peralatan mekanik.
3. Hak perlindungan bagi orang yang tidak berdaya
Yang dimaksudkan dengan golongan orang yang tidakberdaya disini adalah orang dengan
gangguan mental dan anak-anak dibawah umur serta remaja dimana secara hukum mereka tidak
dapat membuat keputusan tentang nasibnya sendiri, serta golongan usia lanjut yang sudah
mengalami gangguan pola berpikir maupun kelemahan fisik.
4. Hak pasien dalam penelitian

Penelitian sering dilakukan dengan melibatkan pasien. Setiap penelitian misalnya penggunaan
obat atau cara penanganan baru yang melibakan pasien harus memperhatikan aspek hak pasien.
Sebelum pasien terlibat, kepada mereka harus diberikan informasi secara jelas tentang percobaan
yang dilakukan, bahaya yang timbul dan kebebasan pasien untuk menolak atau menerima untuk
berpartisipasi. Apabila perawat berpartisipasi dalam penelitian yang melibatkan pasien, maka
perawat harus yakin bahwa hak pasien tidak dilanggar baik secara etik maupun hukum. Untuk itu
perawat harus memahami hak-hak pasien : membuat keputusan sendiri untuk berpartisipasi,
mendapat informasi yang lengkap, menghentikan partisipasi tanpa sangsi, mendapat privasi,
bebas dari bahaya atau resiko cidera, percakapan tentang sumber-sumber pribadi dan hak
terhindar dari pelayanan orang yang tidak kompeten.
Hak-hak yang dinyatakan dalam fasilitas asuhan keperawatan (Annas dan Healey, 1974), terdiri
dari 4 katagori yanitu :

1.Hak kebenaran secara menyeluruh

2. Hak privasi dan martabat pribadi (kerahasiaan dan keamanannya)

3.Hak untuk memelihara pengambilan keputusan untuk diri sendiri sehubungan dengan
kesehatan

4.Hak untuk memperoleh catatan medis baik selama dan sesudah dirawat di rumah sakit

PERNYATAAN HAK-HAK PASIEN


Pernyataan hak-hak pasien (Patient;s Bill of Rights) dikeluarkan oleh The American Hospital
Association (AHA) pada tahun 1973 dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang
pentingnya pemahaman hak-hak pasien yang akan dirawat di RS.
a) Pasien

mempunyai

hak

untuk

mempertimbangkan

dan

menghargai

asuhan

keperawatan/keperawatan yang akan diterimanya.


b) Pasien berhak memperoleh informasi lengkap dari dokter yang memeriksanya berkaitan
dengan diagnosis, pengobatan dan prognosis dalam arti pasien layak untuk mengerti masalah
yang dihadapinya.

c) Pasien berhak untuk menerima informasi penting dan memberikan suatu persetujuan tentang
dimulainya suatu prosedur pengobatan, serta resiko penting yang kemungkinan akan
dialaminya, kecuali dalam situasi darurat.
d) Pasien berhak untuk menolak pengobatan sejauh diizinkan oleh hukum dan diinformasikan
tentang konsekuensi tindakan yang akan diterimanya.
e) Pasien berhak mengetahui setiap pertimbangan dari privasinya yang menyangkut program
asuhan medis, konsultasi dan pengobatan yang dilakukan dengan cermat dan dirahasiakan
f) Pasien berhak atas kerahasiaan semua bentuk komunikasi dan catatan tentang asuhan
kesehatan yang diberikan kepadanya.
g) Pasien berhak untuk mengerti bila diperlukan rujukan ketempat lain yang lebih lengkap dan
memperoleh informasi yang lengkap tentang alasan rujukan tersebut, dan RS yang ditunjuk
dapat menerimanya.
h) Pasien berhak untuk memperoleh informasi tentang hubungan RS dengan instansi lain,
seperti instansi pendidikan atau instansi terkait lainnya sehubungan dengan asuhan yang
diterimanya.
i) Pasein berhak untuk memberi pendapat atau menolak bila diikutsertakan sebagai suatu
eksperimen yang berhubungan dengan asuhan atau pengobatannya.
j) Pasien berhak untuk memperoleh informasi tentang pemberian delegasi dari dokternya ke
dokter lainnya, bila dibutuhkan dalam rangka asuhannya.
k) Pasien berhak untuk mengetahui dan menerima penjelasan tentang biaya yang diperlukan
untuk asuhan keehatannya.
l) Pasien berhak untuk mengetahui peraturan atau ketentuan RS yang harus dipatuhinya sebagai
pasien dirawat.
Faktor-faktor yang mempengaruhi hak pasien :
a. Meningkatnya kesadaran para konsumen terhadap asuhan kesehatan dan lebih besarnya
partisipasi mereka dalam perencanaan asuhan
b. Meningkatnya jumlah malpraktik yang terjadi dimasyarakat
c. Adanya legislasi (pengesahan) yang diterapkan untuk melindungi hak-hak asasi pasien

d. Konsumen menyadari tentang peningkatan jumlah pendidikan dalam bidang kesehatan dan
penggunaan pasien sebagai objek atau tujuan pendidikan dan bila pasien tidak berpartisipai
apakah akan mempengaruhi mutu asuhan kesehatan atau tidak.
Kewajiban Pasien :
Kewajiban adalah seperangkat tanggung jawab seseorang untuk melakukan sesuatu yang
memang harus dilakukan, agar dapat dipertanggungjawabkan sesuai sesuai dengan haknya.
a. Pasien atau keluarganya wajib menaati segala peraturan dan tata tertib yang ada
diinstitusi kesehatan dan keperawatan yang memberikan pelayanan kepadanya.
b. Pasien wajib mematuhi segala kebijakan yanga da, baik dari dokter ataupun perawat
yang memberikan asuhan.
c. Pasien atau keluarga wajib untuk memberikan informasi yang lengkap dan jujur
tentang penyakit yang dideritanya kepada dokter atau perawat yang merawatnya.
d. Pasien atau keluarga yang bertanggungjawab terhadapnya berkewajiban untuk
menyelesaikan biaya pengobatan, perawatan dan pemeriksaan yang diperlukan
selama perawatan.
e. Pasien atau keluarga wajib untuk memenuhi segala sesuatu yang diperlukan sesuai
dengan perjanjian atau kesepakatan yang telah disetujuinya.

5. Kode Etik Profesi Keperawatan


a. Pengertian Kode Etik Keperawatan
Kode Etik Keperawatan merupakan bagian dari etika kesehatan yang menerapkan nilai
etika terhadap bidang pemeliharaan atau pelayanan kesehatan masyarakat.
Kode etik merupakan salah satu ciri/persyaratan profesi, yang memberikan arti penting
dalam penentuan, pemertahanan dan peningkatan standar profesi. Kode etik
menunjukkan bahwa tanggung jawab dan kepercayaan dari masyarakat telah diterima
oleh profesi.
1. Kode etik keperawatan menurut ICN

a) Tanggung jawab utama perawat


Tanggung jawab utama perawat adalah meningkatkan kesehatan, mencegah timbulnya
penyakit, memelihara kesehatan, dan mengurangi penderitaan. Untuk melaksanakan
tanggung jawab utama tersebut perawat harus meyakini bahwa :

Kebutuhan terhadap pelayanan keperawatan diberbagai tempat adalah sama

Pelaksanaan praktek keperawatan dititik beratkan pada penghargaan terhadap


kehidupan yang bermartabat dan menjunjung tinggi hak asasi manusia;

Dalam melaksanakan pelayanan dan atau keperawatan kepada individu, keluarga,


kelompok, dan masyarakat, perawat mengikut sertakan kelompok dan instansi terkait.

b) Perawat, Individu, dan Anggota Kelompok Masyarakat


Tanggung jawab utama perawat adalah melaksanakan asuhan keperawatan sesuai dengan
kebutuhan masyarakat.
c) Perawat dan Pelaksanaan Praktek Keperawatan
Perawat memegan peranan penting dalam menentukan dan melaksanakan standar
praktek keperawatan untuk mencapai kemampuan yang sesuai dengan standar
pendidikan keperawatan.
d) Perawat dan Lingkungan Masyarakat
Perawat dapat memprakarsasi pembaharuan, tanggap, mempunyai inisiatif, dan dapat
berperan serta secara aktif dalam menemukan masalah kesehatan dan masalah sosial yang
terjadi dimasyarakat.
e) Perawat dan Sejawat
Perawat dapat menopang hubungan kerja sama dengan teman sekerja. Baik tenaga
keperawatan maupun tenaga profesi lain diluar keperawatan. Perawat dapat melindungi
dan menjamin seseorang, bila pada masa perawatannya merasa terancam.
f)

Perawat dan Profesi keperawatan


Perawat memainkan peran yang besar dalam menentukan pelaksanaan standar praktek
keperawatan dan pindidikan keperawatan. Perawat diharapkan ikut aktif dalam

mengembangkan

pengetahuandalam

menopang

pelaksanaan

perawatan

secara

profesional.
2.

Kode etik keperawatan menurut ANA


Kode etik keperawatan menurut American Nurses Association adalah sebagai berikut :
a) Perawat memberikan pelayanan dengan penuh hormat bagi martabat kemanusiaan dan
keunikan klien yang tidak dibatasi oleh pertimbangan-pertimbangan status sosial atau
ekonomi, atribut personal, atau corak masalah kesehatan.
b) Perawat melingdungi hak klien akan privasi dengan memegang teguh informasi yang
bersifat rahasia.
c) Perawat melindungi klien dan publik bila kesehatan dan keselamatannya terancam oleh
praktek seseorang yang tidak berkompeten, tidak etis atau illegal.
d) Perawat memikul tanggung jawab atas pertimbangan dan tindakan perawatan yang
dijalankan masing-masing individu.
e) Perawat memelihara kompetensi keperawatan.
f) Perawat melaksanakan pertimbangan ayng beralasan dan menggunakan kompetensi dan
kualitafikasi individu sebagai kriteria dalam mengusahakan konsultasi, menerima
tanggung jawab, dan melimpahkan kegiatan keperawatan kepada orang lain.
g) Perawat turut serta bertivitas dalam membantu pengembngan pengetahuan profesi
h) Perawat turut serta dalam upaya-upaya profesi untuk melaksanakan dan meningkatkan
standar keperawatan.
i) Perawat turut serta dalam upaya-upaya profesi untuk membentuk dan membina kondisi
kerja yang mendukun pelayanan keperawatn yang berkualis.
j) Perawat turut serta dalam upaya-upaya profesi untuk melindungi publik terhadap
informasi dan gambaran yang salah serta mempertahankan integritas perawat.
k) Perawat bekerjasama dengan anggota profesi kesehatan atau warga masyarakat lainnya
dalam meningkatkan upaya-upaya masyarakat dan nasional untuk memenuhi kebutuhan
kesehatan publik.

3.

Kode etik keperawatan menurut PPNI

Kode etik keperawatan di indonesia telah disusun oleh dewan pimpinan pusat PPNI melalui
Musyawara Nasional PPNI di Jakarta pada tanggal 29 November 1989.
BAB I
Tanggung jawab perawat terhadap masyarakat kelurga dan penderita

Perawat dalam rangka pengabdiannya senantiasa berpedoman kepada tanggung jawab yang
pangkal tolaknya bersumber dari adanya kebutuhan akan perawat untuk orang seorang,
keluarga dan masyarakat.

Perawat dalam melaksanakan pengabdiannya dalam bidang perawat senantiasa memelihara


suasana lingkungan yang menghomati nilai-nilai budaya, adat istiadat dan kelangsungan
hidup beragama dari orang seorang, keluarga atau penderita, keluarganya dan masyarakat.

BAB II
Tanggung jawab perawat tehadap tugas

Perawat senantiasa memelihara mutu pelayanan keperawatan yang tinggi disetai kejujuran
profesional dalam menerapkan pengetahuan serta keterampilan perawatan sesuai dengan
kebutuhan orang seorang atau penderita, keluarga dan masyarakat.

Perawat wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya sehubungan dengan tugas
yang dipercayakan kepadanya.

Perawat tidak akan menggunakan pengetahuan dan ketermpilan perawatan untuk tujuan
yang bertentangan dengan norma-norma kemanusiaan.

Perawat dalam menunaikan tugas dan kewajibannya senantiasa berusaha dengan penuh
kesadaran agar tidak terpengaruh oleh pertimbangan kebangsaan, kesukuan, keagamaan,
warna kulit, umur, jenis kelamin, aliran politik yang dianut serta kedudukan sosial.

Perawat senantiasa mengutamakan perlindunagan-perlindungan dan keselamatan penderita


dalam melaksanakan tugas keperawatan, serta dengan matang mempetimbangkan
kemampuan jika menerima dan mengalihtugaskan tanggung jawab yang ada hubungannya
dengan perawatan

BAB III

Tanggung jawab perawat terhadap sesama perawat dan profesional kesehatan lain

Perawat senantiasa memelihara hubungan baik antara sesama perawat dengan tenaga
kesehatan lainnya baik dalam memelihara keserasian suasana lingkungan kerja maupun
dalam mencapai tujuan pelayanan kesehatan secara keseluruhan.

Perawat senantiasa menyebar luaskan pengetahuan, keterampilan dan pengalamanya


kepada sesama perawat serta menerima pengetahuan dan pengalamanya kepada sesama
perawat serta menerima pengetahuan dan pengalaman dari profesi bidang perawatan.

BAB 1V
Tanggung jawab perawat terhadap profesi perawatan

Perawat selalu berusaha meningkatkan pengetahuan profesional secara sendiri-

sendiri

dan

atau

bersama-bersama

dengan

jalan

menambah

ilmu

pengetahuan,keterapilan dan pengalam yang bermanfaat bagi pengembangan perawatan.

Perawat selalu menjunjung tinggi nama baik profesi perawatan dengan menunjukkan
peri/tingka laku dan sifat-sifat pribadi yang tinggi.

Perawat senantiasa berperan dalam menentukan pembakuan pendidikan dan

pelanyanan perawat an serta menerapkanya dalam kegiatan-kegiatan pelayanan


danpendidikan perawatan.

Perawatan secara bersama-sama membina dan memelihara mutu organisasi profesi


perawatan sebagai sarana pengabdian.

BAB V
Tanggung jawab perawat terhadap pemerintah,banggsa dan tanah air

Perawat senantiasa melaksanakan ketentuan-ketentuan sebagai kebijaksanaan yang


di gariskan oleh perintah dalam bidang kesehatan dan perawatan.

Perawat senantiasa berperan secara aktif dalam menyumbangkan pikiran kepada


pemerintah dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan dan perawatan kepada
masyarakat.

6. MODEL PENGAMBILAN KEPUTUSAN DILEMA ETIK


Dilema etik adalah suatu masalah yang melibatkan dua ( atau lebih ) landasan moral
suatu tindakan tetapi tidak dapat dilakukan keduanya. Ini merupakan suatu kondisi dimana
setiap alternatif memiliki landasan moral atau prinsip. Pada dilema etik ini sukar untuk
menentukan yang benara atau salah dan dapat menimbulkan stress pada perawat karena dia
tahu apa yang harus dilakukan, tetapi banyak rintangan untuk melakukannya.
Dilema etik biasa timbul akibat nilai-nilai perawat, klien atau lingkungan tidak lagi
menjadi kohesif sehingga timbul pertentangan dalam mengambil keputusan. Menurut
Thompson & Thompson (1985 ) dilema etik merupakan suatu masalah yang sulit dimana
tidak ada alternatif yang memuaskan atau situasi dimana alternatif yang memuaskan atau
tidak memuaskan sebanding. Dalam dilema etik tidak ada yang benar atau yang salah. Untuk
membuat keputusan yang etis, seorang perawat tergantung pada pemikiran yang rasional dan
bukan emosional.

Prinsip-Prinsip Moral Dalam Praktek Keperawatan


Prinsip moral merupakan masalah umum dalam melakukan sesuatu sehingga membentuk
suatu sistem etik. Prinsip moral berfungsi untuk membuat secara spesifik apakah suatu
tindakan dilarang, diperlukan atau diizinkan dalam situasi tertentu. ( John Stone, 1989).
1. Autonomi
Autonomi berarti kemampuan untuk menentukan sendiri atau mengatur diri sendiri,
berarti menghargai manusia sehingga memperlakukan mereka sebagai seseorang yang
mempunyai harga diri dan martabat serta mampu menentukan sesuatu bagi dirinya.
2. Benefesience
Merupakan prinsip untuk melakukan yang baik dan tidak merugikan pasien atau tidak
menimbulkan bahaya bagi pasien.
3. Justice

Merupakan prinsip moral untuk bertindak adil bagi semua individu, setiap individu
mendapat pperlakuan dan tindakan yang sama. Tindakan yang sama tidak selalu identik
tetapi dalam hal ini persamaan berarti mempunyai kontribusi yang relatif sama untuk
kebaikan hidup seseorang
4. Veracity
Merupakan prinsip moral dimana kita mempunyai suatu kewajiban untuk mengatakan
yang sebenarnya atau tidak membohongi orang lain / pasien. Kebenaran merupakan hal
yang fundamental dalam membangun suatu hubungan denganorang lain. Kewajiban
untuk mengatakan yang sebenarnya didasarkan atau penghargaan terhadap otonomi
seseorang dan mereka berhak untuk diberi tahu tentang hal yang sebenarnya.
5. Avoiding Killing
Merupakan prinsip yang menekankan kewajiban perawat untuk menghargai kehidupan.
Bila perawat berkewajiban melakukan hal-hal yang menguntungkan (Benefisience )
haruskah perawat membantu pasien mengatasi penderitaannya ( misalnya akibat kanker )
dengan mempercepat kematian ? Kewajiban perawat untuk menghargai eksistensi
kemanusiaan yang mempunyai konsekuensi untuk melindungi dan mempertahankan
kehidupan dengan berbagai cara.
6. Fedelity
Merupakan prinsip moral yang menjelaskan kewajiban perawat untuk tetap setia pada
komitmennya, yaitu kewajiban mempertahankan hubungan saling percaya antara perawat
dan pasien. Kewajiban ini meliputi meenepati janji, menyimpan rahasia dan caring

Kerangka Proses Pemecahan Masalah Dilema Etik


Kerangka pemecahan dilema etik banyak diutarakan oleh para ahli dan pada dasarnya
menggunakan kerangka proses keperawatan / Pemecahan masalah secara ilmiah, antara
lain :

1. Model Pemecahan masalah ( Megan, 1989 )


Ada lima langkah-langkah dalam pemecahan masalah dalam dilema etik.
a. Mengkaji situasi
b. Mendiagnosa masalah etik moral
c. Membuat tujuan dan rencana pemecahan
d. Melaksanakan rencana
e. Mengevaluasi hasil
2. Kerangka pemecahan dilema etik (kozier & erb, 1989 )
a. Mengembangkan data dasar.
Untuk melakukan ini perawat memerukan pengumpulan informasi sebanyak mungkin
meliputi :

Siapa yang terlibat dalam situasi tersebut dan bagaimana keterlibatannya

Apa tindakan yang diusulkan

Apa maksud dari tindakan yang diusulkan

Apa konsekuensi-konsekuensi yang mungkin timbul dari tindakan yang diusulkan.

b. Mengidentifikasi konflik yang terjadi berdasarkan situasi tersebut


c. Membuat tindakan alternatif tentang rangkaian tindakan yang direncanakan dan
mempertimbangkan hasil akhir atau konsekuensi tindakan tersebut
d. Menentukan siapa yang terlibat dalam masalah tersebut dan siapa pengambil keputusan
yang tepat
e. Mengidentifikasi kewajiban perawat
f. Membuat keputusan

3. Model Murphy dan Murphy


a. Mengidentifikasi masalah kesehatan

b. Mengidentifikasi masalah etik


c. Siapa yang terlibat dalam pengambilan keputusan
d. Mengidentifikasi peran perawat
e. Mempertimbangkan berbagai alternatif-alternatif yang mungkin dilaksanakan
f. Mempertimbangkan besar kecilnya konsekuensi untuk setiap alternatif keputusan
g. Memberi keputusan
h. Mempertimbangkan bagaimanan keputusan tersebut hingga sesuai dengan falsafah umum
untuk perawatan klien
i. Analisa situasi hingga hasil aktual dari keputusan telah tampak dan menggunakan
informasi tersebut untuk membantu membuat keputusan berikutnya.
4. Model Curtin
a. Mengumpulkan berbagai latar belakang informasi yang menyebabkan masalah
b. Identifikasi bagian-bagian etik dari masalah pengambilan keputusan.
c. Identifikasi orang-orang yang terlibat dalam pengambilan keputusan.
d. Identifikasi semua kemungkinan pilihan dan hasil dari pilihan itu.
e. Aplikasi teori, prinsip dan peran etik yang relevan.
f. Memecahkan dilema
g. Melaksanakan keputusan
5. Model Levine Ariff dan Gron
a. Mendefinisikan dilema
b. Identifikasi faktor-faktor pemberi pelayanan.
c. Identifikasi faktor-faktor bukan pemberi pelayana

Pasien dan keluarga

Faktor-faktor eksternal

d. Pikirkan faktor-faktor tersebut satu persatu


e. Identifikasi item-item kebutuhan sesuai klasifikasi
f. Identifikasi pengambil keputusan
g. Kaji ulang pokok-pokok dari prinsip-prinsip etik
h. Tentukan alternatif-alternatif

i. Menindaklanjuti
6. Langkah-langkah menurut Purtilo dan Cassel ( 1981)
Purtilo dan cassel menyarankan 4 langkah dalam membuat keputusan etik
a. Mengumpulkan data yang relevan
b. Mengidentifikasi dilema
c. Memutuskan apa yang harus dilakukan
d. Melengkapi tindakan
7. Langkah-langkah menurut Thompson & Thompson ( 1981) mengusulkan 10 langkah model
keputusan bioetis
a. Meninjau situasi untuk menentukan masalah kesehatan, keputusan yang diperlukan,
komponen etis dan petunjuk individual.
b. Mengumpulkan informasi tambahan untuk mengklasifikasi situasi
c. Mengidentifikasi Issue etik
d. Menentukan posisi moral pribadi dan professional
e. Mengidentifikasi posisi moral dari petunjuk individual yang terkait.
f. Mengidentifikasi konflik nilai yang ada

Strategi Penyelesaian Masalah Etik


Dalam menghadapi dan mengatasi permasalahan etis, antara perawat dan dokter tidak menutup
kemungkinan terjadi perbedaan pendapat. Bila ini berlanjut dapat menyebabkan masalah
komunikasi dan kerjasama, sehingga menghambat perawatan pada pasien dan kenyamanan kerja.
(Mac Phail, 1988)
Salah satu cara menyelesaikan permasalahan etis adalah dengan melakukan rounde ( Bioetics
Rounds ) yang melibatkan perawat dengan dokter. Rounde ini tidak difokuskan untuk
menyelesaikan masalah etis tetapi untuk melakukan diskusi secara terbuka tentang kemungkinan
terdapat permasalahan etis.

7. HUBUNGAN PERAWAT DENGAN PERAWAT


Tim keperawatan terdiri dari semua individu yang terlibat dalam pemberian asuhan
keperawatan kepada pasien. Komposisi anggota tim kesehatan bervariasi, tergantung
pada tenaga keperawatan yang ada, sensus pasien, jenis unit keperawatan, dan program
pendidikan keperawatan yang berafiliasi/ bekerjasama

(Grippando, 1977 ).

Dalam bekerja sama dengan sesama tim, semua perawat harus berprinsip dan ingat
bahwa focus dan semua upaya yang dilakukan adalah mengutamakan kepentingan pasien
serta kualitas asuhan keperawatan. Untuk itu, semua perawat harus mampu mengadakan
komunikasi secara efektif.
Karena latar belakang pendidikan, jenis pekerjaan maupun kemampuan perawat cukup
bervariasi, maka dalam pemberian tugas asuhan keperawatan, perawat dibagi dalam
beberapa katagori, misalnya perawat pelaksana, kepala bangsal, kepala unui perawatan,
kepala

seksi

keparawatan

(supervisor),

dan

kepala

bidang

keparawatan

(director/president of nursing). Dalam memberikan asuhan keperawatan, setiap anggota


harus mampu mengkomunikasikan dengan perawat anggota lain, dimana permasalahan
etis dapat didiskusikan dengan sesama perawat atau atasannya.

8. HUBUNGAN PERAWAT DENGAN PASIEN


Perawat sebagai salah satu tenaga kepewaratan, dalam menjalin hubungan dengan pasien
merupakan yang pertama dan terlama. Dengan demikian utlak membutuhkan kemampuan
merkomunikasi interpersonal dalam membina hubungan tersebut.

Dalam menjalankan fungsi dan perannya

adalah sebagai berikut: sebagai pemberi

pelayanan, pendidikan, pengelola,dan peneliti. Sebagai seorang yang professional berada


dalam posisi yang menentukan untuk melindungi hak-hak pasien untuk mendapatkan:

Pelayanan asuhan keperawatan yang aman dan bermutu.

Informasi yang diperlukan keluasan pribadi (privacy).

Menolak terapi/ perawatan.

Dan kerahasiaan akan keberadaan data diri pasien.

Semua ini dapat dilakukan perawat jika perawat mempunyai kemampuan berkomunikasi
interpersonal yang memadai. Dalam memberikan asuhan keparawatan kepada pasien, perawat
juga harus selalu menjagakaedah- kaedah atas mutu asuhan kepaerawatan, mengingat tuntutan
pasien tidak hanya sekedar sembuh, dan murahnya tariff jasa pelayanan keperawatan, tetapi
lebih dari itu pasien mengharapkanpelayanan asuhan keperawatan yang professional.

9. HUBUNGAN PERAWAT, PASIEN DAN DOKTER


Perawat, pasien, dan dokter adalah tiga unsure manusia yang saling berhubungan selama
mereka terkait dalam hubungan timbal balik pelayanan kesehatan. Hubungan perawat dengan
dokter telah terjalin seiring perkembangan kedua kedua profesi ini, tidak terlepas dari sejarah,
sifat ilmu/ pendidikan, latar belakang personal dan lain- lain.
Kedokteran dan keperawatan, walaupun kedua disiplin ilmu ini sama- sama berfokus pada
manusia, mempunyai beberapa perbedaan. Kedokteran lebih pesifat pathernalistic, yang
mencerminkan figur seorang seorang bapak, pemimpin dan pembuat keputusan(judgment).
Sedangkan keperawatan lebih bersifatmothernalistic, yang mencerminkan figur ibu(mother

instict) dalam memberikan

asuhan keperawatan, kasih sayang, dan bantuan ( helping

relationship) .
Berbagai model hubungan antara perawat, dokter dan pasien telah dikembangkan, berikut ini
model hubungan perawat, dokter, dan pasien yang dikembangkan oleh: Szasz dan Hollander
mengembangkan tiga model hubungan dokter, perawat, dimana model ini terjadi pada semua
hubungan antar manusia, termasuk hubungan antar perawat dan dokter. Model mereka
kembangkan meliputi :
a. Model aktivitas- pasivitas
Suatu model dimana perawat dan dokter berperan aktif dan pasien berperan pasif. Model
ini tepat untuk bayi, pasien koma, pasien dibius, dan pasien dalam keadaan darurat. Dokter
berada pada posisi mengatur semuanya, merasa mempunyai kekuasaan, dan identitas
pasien kurang diperhatikan. Model ini bersifat otoriter dan paternalistic.
b. Model hubungan membantu
Merupakan dasar untuk sebagian besar dari praktik keperawatan atau praktik kedokteran.
Model ini terdiri dari pasien yang mempunyai gejala mencari bantuan dan perawat atau
dokter yang mempunyai pengetahuan terkait dengan kebutuhan pasien. Perawat dan dokter
memberi bantuan dalam bentuk perlakuan/ perawatan atau pengobatan. Timbal baliknya
pasien diharapkan bekerja sama dengan mentaati anjuran perawat atau dokter. Dalam
model ini, parawat dan dokter mengetahui apa yang terbaik bagi pasien, memegang apa
yang diminati pasien dan bebas dari prioritas yang lain. Model ini bersifat paternalistic walau
sedikit lebih rendah.
c. Model partisipasi mutual

Model ini berdasarkan pada anggapan bahwa hak yang sama/ kesejahteraan antara umat
manusia merupakan nilai yang tinggi, Model ini mencerminkan asumsi dasar dari proses
demokrasi. Interaksi, menurut model ini, menyebutkan kekuasaan yang sama, saling
membutuhkan, dan aktivitas yang dilakukan akan memberikan kepuasan kedua pihak.
Model ini mempunyai ciri bahwa setiap pasien mempunyai kemampuan untuk menolong
dirinya sendiri yang merupakan aspek penting pada layanan kesehatan saat ini. Peran
dokter dalama model ini adalah membantu pasien menolong dirinya sendiri.
Dari perspektif keperawatan, model partisipasi mutual ini penting untuk mengenal dari
pasien dan kemampuan diri pasien. Model ini menjelaskan bahwa manusia mempunyai
kemampuan untuk tumbuh dan berkembang. Keperawatan bersifat menghargai martabat
individu yang unik, berbeda satu sama lain dan membantu kemampuan dalam menentukan
dan mengatur diri sendiri ( Bandman and Bandman,1999. dikutip dari dari American Nurses
Assocication, Nursing: Asocial Policy. Kansas City. MO: 1980. hal:6 ).