Anda di halaman 1dari 5

naskah drama: Ciung Wanara

CIUNG WANARA
Di Istana
Dewi Pangreyep (duduk berlutut sambil menyembah) : Wahai Paduka
Raja, saya mohon izin untuk membantu kelahiran Kakanda Pohaci
Naganingrum sebagai balas jasa hamba pada beliau.
Raja Wijaya (duduk di kursi Singgasana): Hmmm, baiklah, Adinda.
Kalau engkau mau membantu kelahiran Pohaci, silahkan. Asal tidak
mengganggu kegiatanmu.
Dewi Panreyep (masih duduk berlutut): Sama sekali tidak, Paduka Raja.
Tapi hamba hanya ingin membantu persalinan kakanda Pohaci
seorang diri. Hamba tidak ingin dibantu dayang-dayang, karena
mereka hanya akan membuat saya tidak konsentrasi sepenuhnya.
Baiklah, hamba undur diri dulu, Paduka.(mundur sambil tetap berlutut)
Di Tepi Sungai
Bayi Pohaci dimasukkannya dalam kandaga emas disertai telur ayam dan
dihanyutkannya ke sungai Citandui. Diam-diam kejadian ini diintip oleh Ki
Lengser.
Dewi Pangreyep (berdiri di pinggir sungai sambil berkacak pinggang) :
hahaha... Sekarang hanya anakku satu-satunya yang akan menjadi
raja. Enyahlah kau, bayi bodoh!! Hahaha....
Di Istana
Dewi Pangreyep (duduk berlutut menggendong bayi anjing, sambil
menangis) : Wahai, Paduka, hiks hiks hiks...Hamba tak menyangka
kalau kakanda Pohaci melahirkan seekor bayi anjing. Hamba sungguh
tak percaya dengan kejadian ini. Tapi hamba sendiri yang melihat dan
membantu kelahirannya, hiks..hiks..hiks... Apa yang harus hamba
lakukan?
Raja Wijaya (berdiri dengan mimik marah): Apa???? Sungguh terlalu si
Pohaci!! Cepat bunuh Pohaci dan anak anjing itu!! Ki Lengser....Ki
Lengser...... (Raja berteriak sambil jalan ke depan ke belakang).

(Dewi Pangreyep tersenyum puas di belakang raja)


Karena aib yang ditimbulkan Pohaci Naganingrum yang telah melahirkan
seekor anjing, raja sangat murka dan menyuruh Si Lengser (pegawai
istana) untuk membunuh Pohaci.
Ki Lengser (duduk menyembah) : Wahai, Paduka, Ada apa gerangan
Paduka memanggil hamba?
Raja ( berdiri, sambil menunjuk bayi anjing yang digendong dewi
Pangreyep) : Buang anjing itu dan si Pohaci di hutan sana!! Jangan
sampai ada seorangpun yang tahu.
Ki Lengser (menengok ke arah Dewi Pangreyep) : Te...tetapi....
Raja : Sudah, jangan membantah. Ini perintah!!

Ki Lengser tidak sampai hati melaksanakan perintah raja terhadap Pohaci,


permaisuri junjungannya. Pohaci diantarkannya ke desa tempat
kelahirannya, namun dilaporkannya telah dibunuh.

Di Sebuah Desa
Adalah seorang Aki bersama istrinya, Nini Balangantrang, tinggal di desa
Geger Sunten tanpa bertetangga. Sudah lama mereka menikah, tetapi
belum dikarunia anak. Suatu malam Nini bermimpi kejatuhan bulan
purnama.
Nini Balangantrang: Aki...Aki.... Tadi malam Nini mimpi kejatuhan
bulan, apa ya, makna mimpi nini itu?
Aki Balangantrang: Itu artinya kita akan mendapat rezeki yang besar ,
Ni. Doakan saja mudah-mudahan benar. Sekarang aki akan ke sungai
mencari ikan, kita berdoa semoga ikannya besar-besar.
Nini: Iya, Ki... mudah-mudahan mimpi tadi malam itu artinya aki akan
mendapat ikan yang banyak dan besar-besar.

Lalu Aki pergi ke sungai membawa jala untuk menangkap ikan.


Ketika sedang menunggu kailnya disanggut ikan, tiba-tiba aki
Balangantrang melihat sebuah kandaga emas sedang terombang-ambing
di sungai. Diambilnya segera kandaga itu.Betapa terkejut dan gembira ia
mendapatkan kandaga emas yang berisi bayi beserta telur ayam.

Aki (teriak sambil tergopoh-gopoh): Nini...nini... lihat ini... apa yang aki
bawa?
Nini keluar rumah (sambil membetulkan kain samping): Ada apa, Aki?
Teriak-teriak kayak kesetanan.
Aki: Lihat, Ni.. mimpi nini jadi kenyataan. Bayi inilah yang ada dalam
impian nini.
Nini (segera menggendong bayi laki-laki itu): Aduh, cakep sekali anak
ini. Siapa namanya, Ki?
Aki (Jari telunjuknya ditempelkan didahi kanan dan mengerutkan dahi:
Hmmmm...
(Jarinya dilepaskan dari dahi dan aki tersenyum lebar) : Oh... iya....
bagaimana kalau Ciung Wanara?
Mereka asuh bayi itu dengan sabar dan penuh kasih sayang. Telur ayam
itu pun mereka tetaskan, mereka memeliharanya hingga menjadi seekor
ayam jantan yang ajaib dan perkasa. Setelah besar bertanyalah Ciung
Wanara kepada ayah dan ibu angkatnya.

Ciung Wanara: Aki, Nini...Ciung ingin tahu orang tua Ciung. Masih
hidupkah mereka?
Terus terang Aki dan Nini menceritakan tentang asal-usul Ciung Wanara.
Setelah mendengar cerita ayah dan ibu angkatnya, tahulah Ciung Wanara
akan dirinya.
Suatu hari Ciung Wanara pamit untuk menyabung ayamnya dengan ayam
raja, karena didengarnya raja gemar menyabung ayam..

Ciung : Aki, Nini.... Ciung akan pergi menyabung ayam di kerajaan.


Izinkan anakmu ini pergi. Mohon doa restu dari kalian berdua.
Nini (mengusap kepala ciung wanara): Baiklah anakku, hiks....Nini
doakan kamu memenangkan pertandingan itu, hiks....
(Sebelum pergi Ciung mencium tangan kedua orang tua angkatnya).
Di Istana
Ciung Wanara mengajukan syarat taruhan. Taruhannya ialah, bila ayam
Ciung Wanara kalah ia rela mengorbankan nyawanya. Tetapi bila ayam
raja kalah, raja harus bersedia mengangkatnya menjadi putra mahkota.
Raja menerima dengan gembira tawaran tersebut.
Ciung: Wahai, Paduka... Sebelum bertanding, perkenankan hamba
mengajukan satu permohonan".
Raja: Silahkan, Kisanak, Apa maumu?
Ciung: Kalau Paduka raja menang, hamba bersedia mengorbankan
nyawa hamba, sebaliknya, kalau hamba menang, hamba ingin Paduka
jadikan sebagai putra mahkota.
Raja: Ha...ha...ha.... Baiklah kisanak, kalau itu keinginanmu, akan aku
penuhi. Sekarang, ayo suruh ayammu mengeluarkan semua
kekuatannya untuk melawan ayam kesayanganku, hahaha...
Sebelum ayam berlaga, ayam Ciung Wanara berkokok dengan anehnya,
melukiskan peristiwa bertahun-tahun yang lampau tentang permaisuri yang
dihukum mati dan kandaga emas yang berisi bayi yang dihanyutkan.
Raja tidak menyadari hal itu, tetapi sebaliknya Si Lengser sangat terkesan
akan hal itu.Bahkan ia menyadari sekarang Ciung Wanara yang ada di
hadapannya adalah putra raja sendiri.
Setelah persabungan, ayam baginda kalah dan ayam Ciung Wanara
menang. Raja menepati janji dan Ciung Wanara diangkat menjadi putra
mahkota.Raja: Hai, Ciung Wanara! Aku tepati janjiku kemarin. Kau
kuangkat jadi putra mahkota kerena Engkau memenangkan sabung
ayam ini. Dan aku akan membagi kerajaan ini menjadi dua, satu untuk
anakku, Hariang Banga dan satu lagi untukmu. Ciung wanara: Terima
kasih, Paduka Raja. Paduka memang benar raja yang bijaksana dan
jujur.

Dalam pesta pengangkatan putra mahkota, raja membagi 2 kerajaan


untuk Ciung Wanara dan Hariang Banga. Selesai pesta pengangkatan
putra mahkota Si Lengser bercerita kepada raja tentang hal yang
sesungguhnya mengenai permaisuri Pohaci Naganingrum dan Ciung
Wanara.
Ki Lengser: Paduka, izinkan hamba berterus terang akan suatu
kebenaran.
Raja: Kebenaran apakah yang kau maksud, Ki?
Ki Lengser: Mohon ampun sebelumnya. Sesungguhnya Ciung
Wanara adalah putra mahkota Paduka yang dibuang oleh Ratu Dewi
Pangreyep.
Raja: Benarkah itu, Aki? Hmmmm... ternyata istriku, Dewi Pangreyep
telah berbuat jahat. Aku benci orang yang mencelakakan orang lain
untuk kepentingannya.
ak menjadi raja.

(Raja berdiri dan berteriak): Pengawal...,tangkap Dewi Pangreyep dan


masukkan ke penjara!
Akhir cerita Dewi Pangreyep dipenjara, sedangkan Ciung Wanara dan
Hariang Banga menjadi raja di masing-masing kerajaan.

----------------selesai---------------