Anda di halaman 1dari 9

PENINGKATAN MUTU BAJA PEGAS DAUN

DENGAN METODE PROSES HEAT TREATMENT


Margono Sugeng, Abim_2605@yahoo.com

Abstrak
Pegas daun digunakan sebagai suspensi kendaraan darat baik untuk kendaraan roda empat atau kendaraan
roda enam. Pegas daun adalah salah satu komponen utama yang digunakan untuk meredam getaran atau guncangan
yang ditimbulkan oleh eksitasi-eksitasi gaya luar saat kendaraan bergerak. Karena itu bila komponen pegas ini tidak
diperhitungkan dengan baik akan menimbulkan efek negatif terhadap kenyaman penumpangnya. Tulisan ini
membatasi pada analisis komposisi kimia, fasa penyusunan struktur mikro, nilai kekerasan dari raw material
maupun hasil perlakuan panas dengan variasi kecepatan pendinginan dari bahan baja pegas daun. Material uji yang
digunakan adalah pegas daun dengan pengujian meliputi uji komposisi kimia, kekerasan dan struktur mikro dengan
variasi kecepatan pendiningnan. Dari hasil uji komposisi kimia, bahan pegas daun termasuk baja karbon sedang (C =
0,3 %). Hasil struktur mikro material dasar didapatkan martensit temper, pada quenching air didapatkan fasa
martensit halus yang mengalami retak pada tepi dengan intergranular cracking, sedangkan pada quenching oli
didapatkan fasa martensit halus tetapi tidak terjadi keretakan pada benda uji. Berdasar hasil pengujian kekerasan
didapatkan kekerasan rata-rata tertinggi pada specimen quenching air (non temper) sebesar 826 HV dan berturutturut menuju posisi terendah yaitu: specimen quenching oli (non temper) sebesar 767 HV, specimen quenching airtemper sebesar 453 HV, specimen raw material sebesar 418 HV, specimen quenching oli-temper sebesar 394 HV,
specimen annealing sebesar 227 HV.
Kata Kunci: Pegas Daun, Perlakuan Panas, Kecepatan Pendinginan

Abstract
Leaf spring suspension is used as road vehicles are good for four-wheel vehicle or a six-wheeled vehicles.
Leaf spring is one of the main components that are used to dampen vibrations or shocks caused by
external force excitations while the vehicle is moving. Because it's spring when the component is not
accounted for properly will cause a negative effect on passenger comfort. This paper limits the analysis of
chemical composition, phase preparation of micro structure, hardness value of raw material and heat
treatment results with a variation rate of cooling of the steel leaf spring. Test material used is a leaf
spring with testing involves testing the chemical composition, hardness and micro structure with a
variable speed cooling. From the test results of chemical composition, material including carbon steel
leaf spring is (C=0.3%). The results of the micro structure of the base material obtained tempered
martensite, the martensite phase obtained water quenching finely fractured by intergranular cracking at
the edges, whereas the oil quenching martensite phase obtained subtle but no cracks in the test specimen.
Based on the results of hardness testing hardness obtained the highest average in the specimen water
quenching (non tempered) amounted to 826 HV and consecutive to the lowest position ie: specimen
quenching oil (non tempered) amounted to 767 HV, water quenching-tempered specimens at 453 HV,
specimens of 418 HV raw materials, oil quenching-tempered specimens of 394 HV, 227 HV for annealed
specimens.
Key word: Leaf spring, Heat Treatment, speed cooling

Bab 1: Pendahuluan
Pegas daun banyak digunakan sebagai suspensi kendaraan darat, khususnya untuk
313

Koleksi Perpustakaan UPN "Veteran" Jakarta

kendaraan roda empat atau lebih. Pegas daun adalah salah satu komponen utama yang digunakan
untuk meredam getaran atau guncangan yang ditimbulkan oleh gaya luar saat kendaraan
bergerak. Karena itu bila komponen pegas ini tidak diperhitungkan dengan baik akan
menimbulkan efek negatif terhadap kenyamanan penumpangnya. Bahan pegas daun termasuk ke
dalam golongan baja pegas, yang sebenarnya tidak mempunyai kekerasan yang tinggi. Baja ini
dapat dikeraskan dan ditingkatkan keuletannya dengan beberapa cara, antara lain melalui proses
perlakuan panas. Proses perlakuan panas dapat membentuk sifat baja dari yang mudah patah
menjadi lebih kuat dan ulet atau juga dapat mengubah sifat baja dari yang lunak menjadi sangat
keras dan sebagainya. Proses perlakuan panas merupakan salah satu bagian dari proses industri,
namun biasanya ini dipasang terpisah dari rangkaian produksi. Perlakuan panas merupakan
proses kombinasi antara pemanasan dan pendinginan terhadap logam atau baja dalam dalam
jangka waktu tertentu yang dimaksud untuk memperoleh sifat-sifat tertentu pada baja.
Pembentukan sifat-sifat inilah yang sangat diperlukan untuk memperoleh baja yang betul-betul
sesuai dengan kebutuhan dan fungsinya. Tulisan ini membahas perlakuan panas yang dilakukan
terhadap benda uji baja pegas daun dengan temperatur austenisasi 9500C, ditahan selama 15
menit, kemudian dilanjutkan pendinginan dengan kecepatan yang bervariasi, yaitu melalui
pencelupan ke dalam oli, air atau dilakukan pendinginan lambat yaitu dengan tetap mendiamkan
di dalam dapur.
Salah satu proses perlakuan panas pada baja adalah pengerasan (hardening) yaitu proses
pemanasan baja sampai suhu di daerah austenit disusul dengan pendinginan yang cepat
dinamakan quenching. Akibat proses hardening pada baja, maka timbul tegangan dalam
(internal stresses), dan rapuh (brittle), sehingga baja tersebut belum cocok untuk segera
digunakan. Oleh karena itu pada baja tersebut perlu dilakukan proses lanjut yaitu tempering
dengan suhu 480 0C ditahan 45 menit, kemudian dilanjutkan pendinginan lambat di udara.
Dengan proses tempering kegetasan dan kekerasan dapat diturunkan sampai memenuhi syarat
penggunaan, namun kekuatan tarik naik serta keuletan dan ketangguhan meningkat.
Untuk bahan baja pegas daun sudah ada standar baku dan berpedoman pada JIS (Japan Industrial
Standar). Dalam tulisan ini dilakukan kembali untuk menganalisa dan meningkatkan mutu bahan
pegas daun yang sudah berpedoman pada JIS melalui proses pemanasan. Bahan baja pegas daun
yang digunakan adalah baja karbon menengah SUP 9 dengan komposisi karbon (0,3-0,5) % yang
digunakan pada kendaraan roda empat, sehingga bisa didapatkan mutu baja pegas daun yang
baik dari pegas daun yang sudah ada. Oleh karena itu, tulisan ini bermaksud menganalisis
peningkatan mutu baja pegas daun, menganalisis struktur mikro dan permukaan material baja
pegas daun setelah proses perlakuan panas.
Bab 2: Tinjauan Pustaka
Pegas daun merupakan suatu komponen yang banyak digunakan pada kendaraan
bermotor sebagai bagian dari sistem suspensi. Komponen ini biasanya terdiri dari beberapa pelat
datar yang dijepit bersama untuk mendapatkan efisiensi dan daya lenting yang tinggi seperti
yang ditunjukkan pada gambar 1.

314

Koleksi Perpustakaan UPN "Veteran" Jakarta

Gambar 1: Pegas Daun


Tegangan pegas daun terjadi pada ujung
yang dijepit, pegas daun diharapkan
terdefleksi secara teratur pada saat menerima
beban. Adapun fungsi pegas adalah
memberikan gaya, melunakkan tumbukan
dengan memanfaatkan sifat elastisitas
bahannya, menyerap dan menyimpan energi
dalam
waktu
yang
singkat
dan
mengeluarkanya kembali dalam jangka waktu
yang lebih panjang, serta mengurangi getaran.
Cara kerja pegas adalah kemampuan
menerima kerja lewat perubahan bentuk
elastis
ketika
mengendur,
kemudian
menyerahkan kerja kembali ke dalam bentuk
semula, hal ini disebut cara kerja pegas.
Perlakuan panas pada baja merupakan
kombinasi proses pemanasan dan pendinginan
terhadap baja pada temperatur austenit,
ditahan beberapa lama, kemudian didinginkan
dengan kecepatan pendinginan tertentu, yang
secara diagram ditunjukkan pada gambar-2.

Gambar 2: Kurva siklus perlakuan panas


Dari diagram ini ditunjukkan bahwa baja
dipanaskan sampai temperatur tertentu,

kemudian ditahan beberapa lama, dengan


maksud akan berpengaruh terhadap struktur
baja yang dikeraskan. Selanjutnya baja
didinginkan pada kecepatan tertentu, dengan
menggunakan media pendingin tertentu.
Proses hardening (Pengerasan) diawali
dengan memanaskan baja sampai temperatur
austenite, kemudian ditahan beberapa lama,
selanjutnya didinginkan dengan cepat dengan
cara mencelupkan ke dalam air atau oli.
Proses Anil dilakukan dengan cara
memanaskan baja
sampai temperatur
austenite, ditahan beberapa lama kemudian
didinginkan secara lambat di dalam furnace.
Terhadap baja yang telah diproses hardening,
dapat dilakukan proses tempering, yaitu
dengan cara memanaskan kembali di bawah
temperatur transformasi, kemudian ditahan
beberapa lama, selanjutnya didinginkan
dengan kecepatan tertentu. Tujuan proses
tempering adalah untuk menghilangkan
tegangan dalam yang ada di dalam baja, dan
meningkatkan keuletan tanpa mengurangi
kekuatan dan kekerasan baja. Secara skematis
proses tempering ditunjukkan pada gambar-3.
Nilai kekerasan bisa diketahui dengan jalan
mengukur
ketahanan
baja
terhadap
penekanan, yaitu dengan jalan penekanan
bola baja yang dikeraskan atau suatu piramida
intan pada permukaan permukaan baja, lalu
ukuran bekasnya diukur berdasarkan beban
penekanan dan ukuran dari bola atau
piramida, sehingga luas dari bekasnya
memberikan suatu perbandingan nilai
kekerasan. Nilai kekerasan baja ini
315

Koleksi Perpustakaan UPN "Veteran" Jakarta

mempunyai implikasi terhadap (1) Kekuatan


bahan terhadap penetrasi, (2) Kekuatan bahan
terhadap goresan, (3) Kekuatan bahan

terhadap beban impak, (4) Ukuran daya tahan


bahan terhadap deformasi plastis, dan (5)
Ukuran ketahanan bahan terhadap lekukan.

Gambar-3: Diagram Proses Tempering


Pengamatan struktur mikro untuk mengetahui
susunan fasa benda uji. Struktur mikro dan
sifat paduannya dapat diamati dengan
berbagai cara bergantung pada sifat informasi
yang dibutuhkan. Salah satu cara dalam
mengamati struktur suatu bahan yaitu dengan
teknik metalografi (pengujian mikroskopik).
Pengujian komposisi kimia untuk
mengetahui kandungan unsur kimia yang
terdapat pada benda uji. Komposisi kimia
logam sangat penting untuk menghasilkan
sifat logam yang baik. Spectrometer adalah
alat yang mampu menganalisa unsur-unsur
logam induk dan campurannya dengan akurat,
cepat dan mudah dioperasikan. Prinsip dasar
dari diketahuinya kandungan unsur dan
komposisinya pada alat ini adalah apabila
suatu logam dikenakan energi listrik atau
panas maka kondisi atom-atomnya akan
menjadi tidak stabil. Elektron-elektron yang
bergerak pada orbital atomnya akan
melompat ke orbital yang lebih tinggi.

Apabila energi yang dikenakan dihilangkan


maka elektron tersebut akan kembali ke orbit
semula dan energi yang diterimanya akan
dipancarkan kembali dalam bentuk sinar.
Sinar yang terpancar memiliki panjang
gelombang tertentu sesuai dengan jenis atom
unsurnya,
sedangkan
intensitas
sinar
terpancar sebanding dengan kadar konsentrasi
unsur. Hal ini berarti bahwa jenis suatu unsur
dan kadarnya dapat diketahui melalui panjang
gelombang dan intensitas sinar yang
terpancar.
Bab-3: Metode Pengamatan
Untuk melakukan penelitian ini dilakukan
kegiatan pengamatan dan pengumpulan data
yang mengikuti diagram alir seperti
ditunjukkan pada gambar-1.

316

Koleksi Perpustakaan UPN "Veteran" Jakarta

Baja Pegas
Daun
Pembuatan
Benda uji
Pemanasan pada 950 0C
Selama 15 menit dan
Dilanjutkan pendinginan

Quench
air

Quench
Oli

Temper 480 0C
Selama 45 menit

Raw
Material
Uji komposisi
kimia

Dalam Dapur
(Anil)

Temper 480 0C
Selama 45 menit

Uji Struktur mikro


Dan kekerasan
Analisa Data
Kesimpulan

Gambar 3: Diagram alir pengamatan

Benda uji yang digunakan dalam penelitian


ini adalah baja pegas daun LJ410 berbentuk
pelat memanjang, yang dipotong dengan

panjang 5 cm, lebar 5 cm, dan tebal 5 mm,


dengan jumlah 6 buah, masing-masing 5 buah
untuk proses perlakuan panas dan 1 buah raw
317

Koleksi Perpustakaan UPN "Veteran" Jakarta

material
sekaligus
digunakan
untuk
pengamatan struktur mikro dan uji kekerasan.
Perlakuan panas menggunakan dapur
pemanas, pada temperatur pemanasan 950 0C
dan waktu tahan 15 menit kemudian dicelup
langsung 2 specimen ke dalam air, 2
specimen ke dalam oli, 1 specimen
didinginkan dalam dapur pemanas. Proses
selanjutnya
adalah
proses
tempering,
merupakan
pengulangan
dari
proses
quenching akan tetapi tempering di dinginkan
dengan secara perlahan. Specimen yang
dikenai tempering dimasukan ke dalam dapur
pemanas, lalu di panaskan sampai temperatur
480 0C kemudian ditahan selama 45 menit
dengan tujuan agar pemanasan benar-benar
merata pada seluruh lapisan specimen,
pendinginan dilakukan dalam udara bebas.
Pengamatan Struktur Mikro dilakukan di
bawah
mikroskop
optic
Metalloplan
Microscope
Leitz
Wetzlar,
dengan
pembesaran 500 x, sedangkan untuk
pemotretan dilakukan dengan tambahan alat
makro.
langkah
Peralatan
mikroskop
menyiapkan specimen untuk sifat fisis
(struktur mikro) dengan cara memotong salah
satu ujung specimen untuk sampel sepanjang

2 cm lalu meratakan dan menghaluskan


permukaannya sampai memenuhi syarat
specimen, dietsa (dibersihkan) dengan larutan
alcohol dan asam nitrat 2% kemudian dilihat
menggunakan mikroskop untuk mendapatkan
struktur mikronya.
Pengujian kekerasan menggunakan uji
kekerasan macro hardness Vickers. Alat yang
digunakan adalah Alat Uji kekerasan HV
Frank Finotest yang digunakan berupa
piramida intan dengan bermacam-macam
diameter. Diagonal-diagonal pyramid yang
digunakan adalah d1 (mm) dan d2 (mm),
sedangkan beban penekanan yaitu 5 kgf
dengan waktu pembebanan selama 15 detik
Bab-4: Hasil dan Pembahasan
Dari hasil uji komposisi, tabel-1
diketahui bahwa spesimen mempunyai
kandungan karbon sebesar 0,3 % sehingga
material tersebut tergolong dalam medium
carbon steel atau baja karbon sedang.
Presentase kandungan karbon tersebut
dijadikan sebagai dasar pengambilan suhu
dalam proses perlakuan panas.

Tabel-1: Hasil Pengujian Komposisi Kimia


Nama Unsur
Simbol

Presentase unsur (%)

Iron/Ferro

Fe

97,07

Silicon

Si

1,292

Manganese

Mn

0,735

Tungsten

0,040

Carbon

0,300

Chromium

Cr

0,220

Nikel

Ni

0,152

Copper

Cu

0,122

Molybdenum

Mo

0.031

Sulfur

0,013

314

Koleksi Perpustakaan UPN "Veteran" Jakarta

Niobium

Nb

0,010

Phosphorus

0,004

Dari hasil uji kekerasan yang


dilakukan dengan menggunakan metode
Vickers diperoleh hasil seperti tabel-2 dan
Tabel-2: Nilai kekerasan benda uji

No.
1
2
3
Rata-rata

Sampel 1
418
418
418
418

secara grafik yang ditunjukkan pada gambar4.

NILAI KEKERASAN, HV
Sampel 2
Sampel 3
Sampel 4
Sampel 5
223
826
767
447
236
826
767
460
223
826
767
454
227
453
826
767

Sampel 6
386
396
401
394

Gambar-4: Grafik Nilai Kekerasan

Berdasarkan gambar-4 dan hasil pengujian


mikro struktur menunjukkan bahwa nilai
kekerasan raw material sebesar 418 HV,
dengan struktur mikro cenderung martensit
temper, sedangkan setelah raw material
mengalami proses annealing mengalami
penurunan sebesar 227 HV, hal ini relevan
dengan struktur mikro yang dihasilkan dari
proses Annealing yaitu berupa matrik perlitik

dan austenite berwarna putih. Sedangkan


pada proses hardening dengan temperature
pemanasan
950 0C yang kemudian
diquenched ke dalam air didapat nilai
kekerasan 826 HV, lalu untuk proses
quenching oli didapat nilai kekerasan 767
HV, hal ini relevan dengan struktur mikro
yang dihasilkan yaitu berupa martensit halus
dan pada bagian tepi baja pegas daun terlihat
315

Koleksi Perpustakaan UPN "Veteran" Jakarta

adanya retak. Pada benda uji yang mengalami


proses quenching dengan media air yang
dilanjutkan dengan proses temper pada
temperatur 480 0C didapat nilai kekerasan 453
HV, dengan mikro struktur berupa martensit
halus dan austenite sisa, dan pada pada bagian
tepi benda uji juga terlihat adanya retak.
Selanjutnya nilai kekerasan yang didapat pada
proses quenching dengan media oli lalu
ditemper mengalami penurunan dengan nilai
394 HV, dengan mikro struktur berupa
martensit halus dan austenite sisa berwarna
putih.
Berdasarkan uraian tersebut diketahui
ada perbedaan karakteristik dari masingmasing benda uji antara raw materials
,annealing, proses quenching air, quenching
oli dengan suhu 950 0C ditahan selama 15
menit dan yang mengalami proses tempering
dengan temperatur pemanasan 480 0C yang
menggunakan waktu penahan 45 menit.
Struktur mikro proses annealing yang
tampak ini sesuai dengan kadar karbon yang
terkandung bahan yaitu 0,3 %C. bentuk
berupa matrik perlitik dan austenit (putih),
Hasil kekerasan yang dimiliki raw material
sebesar 418 HV.hasil kekerasan yang didapat
pada proses annealing sebesar 227 HV.
Proses perlakuan panas quenching air,
quenching oli,
quenching
air-temper,
quenching oli-temper dilakukan untuk
mengetahui seberapa perbedaan perubahan
kondisi bahan dan kekuatan kekerasan
sebagai treatment awal pada penelitian ini.
dengan media quenching air, oli, udara
struktur mikro yang dihasilkan menunjukkan
kekerasan menurun dengan adanya struktur
baru
ini
(martensit
halus),
tetapi
ketangguhannya meningkat terhadap raw
materials.
Struktur mikro pada quenching air
terlihat retak-retak pada sisinya yang
disebabkan karena temperatur yang terlalu
tinggi berupa martensit halus dengan
intergranular cracking sehingga mempunyai
kekerasan tinggi dan ketangguhannya rendah,

karena struktur yang telah terbentuk setelah di


celup adalah martensit.sedangkan pada proses
quenching oli tidak terjadi retakan pada
specimennya.Struktur
martensit
halus
mempunyai kelemahan yaitu getas, sehingga
harus di temper agar dapat dipakai dalam
peralatan maupun konstruksi mesin yang
mensyaratkan keuletan. Hasil kekerasan
quenching air (non temper) yang dimiliki
sebesar 826 HV sedangkan pada quenching
oli (non temper) nilai kekerasan yang dimiliki
sebesar 767 HV sehingga terlihat terjadinya
penurunan tingkat kekerasan.
Struktur mikro pada quenching airtemper terlihat juga keretakan pada sisi
tepinya yang disebabkan temperatur yang
terlalu tinggi berupa martensit halus dengan
intergranular cracking sehingga mempunyai
kekerasan yang tinggi dan ketangguhan yang
rendah dengan nilai kekerasan 453
HV,sedangkan pada quenching oli-temper
berupa martensit halus dan austenite sisa
(putih) pada specimen tidak mengalami
keratakan,mempunyai
kekerasan
394
HV.dapat dilihat dari proses quenching airtemper
dengan
quenching
oli-temper
mengalami penurunan nilai kekerasan dan
meningkat ketangguhannya.

Bab-5: Simpulan
Berdasarkan uraian tersebut diatas
dapat ditarik simpulan sebagai berikut :
1. Dari pengamatan komposisi kimia
pegas daun termasuk baja karbon
sedang (C = 0,3%) dengan unsur
penyusun utama adalah besi (Fe) =
97,07 %, silicon (Si) = 1.292%, dan
mangan (Mn) = 0,735 %.
2. Dari Hasil pengamatan struktur mikro
specimen raw material didapatkan
martensit temper, quenching air
314

Koleksi Perpustakaan UPN "Veteran" Jakarta

didapatkan fasa martensit halus yang


mengalami retak pada tepi dengan
intergranular cracking, quenching oli
didapatkan fasa martensit halus tetapi
tidak terjadi keretakan pada specimen,
quenching air-temper didapatkan fasa
martensit halus dan austenite sisa
terjadi keretakan juga pada tepi
dimana didaerah retak terdapat
oksidasi,
quenching
oli-temper
didapatkan fasa martensit halus dan
austenite sisa pada specimen tidak
terjadi keretakan yang terlihat,
annealing didapatkan fasa matrik
perlitik dan austenit.
3. Dari hasil pengujian kekerasan
didapatkan harga kekerasan rata-rata
tertinggi pada specimen quenching air
(non temper) sebesar 826 HV dan
berturut-turut menuju posisi terendah
yaitu: specimen quenching oli (non
temper) sebesar 767 HV, specimen
quenching air-temper sebesar 453 HV,
specimen raw material sebesar 418

HV, specimen quenching oli-temper


sebesar 394 HV, specimen annealing
sebesar 227 HV.
DAFTAR PUSTAKA
A TEXT BOOK OF MCHINE DESIGN,
R.S KURMI & GUPTA 1980.
ASM HANDBOOK VOLUME 4 HEAT
TREATING.
Elemen Mesin jilid 1, Penerbit Erlangga
1994.
GEORGE KRAUSS, STEELS: HEAT
TREATMENT
AND
PROCESSING
PRINCIPLES, ASM INTERNATIONAL,
1995.
SIDNEY H. AVNER, INTRODUCTION TO
PHYSICAL
METALLURGY,
Second
Edition, McGraw-Hill International Editions.
THOMAS H.COURTNEY, MECHANICAL
BEHAVIOR
OF
MATERIALS,
McGRAW.HILL
INTERNATIONAL
EDITIONS

315

Koleksi Perpustakaan UPN "Veteran" Jakarta