Anda di halaman 1dari 10

TUGAS INDIVIDU

BLOK 24
UNIT PEMBELAJARAN 1
FRAKTUR DAN KLASIFIKASI FRAKTUR

ANABELLA PURNAMA FIRDAUSYIA


10/296818/KH/6476

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014

I.

LEARNING OBJECTIVE
1) Mengetahui struktur tulang secara makroskopik dan mikroskopik
2) Mengetahui pengertian fraktur dan jenis-jenis fraktur
3) Mengetahui proses kesembuhan fraktur tulang
4) Mengetahui bagaimana diagnosa fraktur
5) Mengetahui penanganan fraktur berdasarkan jenis fraktur yang dialami
6) Mengetahui penanganan pasca penanganan fraktur

II.

PEMBAHASAN
1) MAKROANATOMI TULANG

MIKROANATOMI TULANG
Tulang dibungkus oleh periosteum (di bagian luar) dan endosteum
(bagian dalam). Periosteum tersusun atas 2 lapisan, lapisan fibrosa dan lapisan
seluler. Endosteum terdiri dari 3 bagian, yaotu endosteum korteks yang
melapisi perifer cavum sumsum, endosteum trabekula yang melapisi trabekula
cavum sumsum, endosteum osteon yang melapisi kanal osteon.
Tulang memiliki matriks yang tersusun dari hydroxyapatites dan
kolagen. Tulang yang dewasa memiliki lebih sedikit osteosit di dalam
matriksnya dibandingkan dengan tulang yang masih muda. Matriks tulang
muda tercat lebih asidofil (pucat) dibandingkan matriks tulang tua.

Dalam tulang, terdapat 2 jenis tulang yaitu tulang kompak dan tulang
rawan. Tulang kompak membentuk bungkus terluar dari epifisis dan diafisis,
sedangkan tulang rawan bekerja di bagian interior epifisis dan endosteal dari
diafisis. Pada diafisis tulang kompak, matriks membentuk dan termasuk
dalam sistem haversi, sistem interstitial, dan lamela sirkumferensial.
Walaupun osteosit terjebak dalam matriks, sel ini tetap dapat
berkomunikasi melalui kanalikuli yang merupakan penghubung antar lakuna.
Osteoblas dan osteoklas tersebar di permukaan/fascia eksternal dari matriks
tulang (Junquiera, 2005).

2) PENGERTIAN FRAKTUR
Fraktur ialah terputusnya keutuhan/ kontinuitas tulang, dapat berupa retak atau
patah pada tulang yang utuh (Brunner, 2002).
JENIS-JENIS FRAKTUR
Menurut Apley (1995), fraktur dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1.

Berdasarkan tempat (Fraktur humerus, tibia, clavicula, dan cruris dst).

2.

Berdasarkan luas dan garis fraktur terdiri dari :


a.

Fraktur komplit (garis patah melalui seluruh penampang tulang


atau melalui kedua korteks tulang).

b.

Fraktur tidak komplit (bila garis patah tidak melalui seluruh garis
penampang tulang).

3.

Berdasarkan bentuk dan jumlah garis patah :


a.

Fraktur kominit (garis patah lebih dari satu dan saling


berhubungan).

b.

Fraktur segmental (garis patah lebih dari satu tapi tidak


berhubungan).

c.

Fraktur Multipel ( garis patah lebih dari satu tapi pada tulang yang
berlainan tempatnya, misalnya fraktur humerus, fraktur femur dan
sebagainya).

4.

Berdasarkan posisi fragmen :


a.

Undisplaced (tidak bergeser)/garis patah komplit tetapi kedua


fragmen tidak bergeser.

b.
5.

6.

7.

8.

Displaced (bergeser) / terjadi pergeseran fragmen fraktur

Berdasarkan hubungan fraktur dengan dunia luar :


a.

Tertutup

b.

Terbuka (adanya perlukaan dikulit).

Berdasar bentuk garis fraktur dan hubungan dengan mekanisme trauma


a.

Garis patah melintang.

b.

Oblik / miring.

c.

Spiral / melingkari tulang.

Berdasarkan kedudukan tulangnya :


a.

Tidak adanya dislokasi.

b.

Adanya dislokasi

Berdasarkan mekanisme terjadinya fraktur :


a.

Tipe

Ekstensi,

Trauma

terjadi

ketika

siku

dalam

posisi

hiperekstensi, lengan bawah dalam posisi supinasi.


b.

Tipe Fleksi, Trauma terjadi ketika siku dalam posisi fleksi, sedang
lengan dalam posisi pronasi.

3) PROSES KESEMBUHAN TULANG


Kesembuhan Sekunder
1. Fase radang
Saat terjadi fraktur, periosteum akan rusak dan pembuluh darah di medulla
akan putus/robek sehingga menyebabkan perdarahan. Perdarahan lama
kemudian akan menjendal membentuk hematum dan menyebabkan
terbentuk daerah nekrosis akibat kekurangan darah, ditandai dengan
lakuna yang tidak berisi osteosit. Banyaknya daerah nekrosis ini akan
memacu respon radang dengan ditemukannya eksudat plasma, makrofag,
dan leukosit polimorfonuklear (Basset, 1962). Hematum yang terjadi
menginisiasi fase perbaikan dengan mengeluarkan growth factor dan
menstimuli angiogenesis (Johnson, dkk, 2005).
2. Fase perbaikan
Pembentukan benang-benang fibrin pada daerah hematum membuat
strukturnya berubah menjadi jaringan granuler. Sel-sl mesenkim di dalam
periosteum, endosteum dan sumsum tulang mengalami proliferasi dan
diferensiasi menjadi kondrosit/osteoblast. Periosteum yang mengelilingi
daerah fraktur mengalami penebalan membentuk callus eksternal dengan
vaskularisasi ekstraoseal. Callus internal/callus medular terbentuk dari
penebalan endosteum. Callus eksternal dan internal disebut jembatan
callus, berupa jaringan fibrokartilago.
3. Fase remodelling
Merupakan fase akhir dari proses kesembuhan fraktur dimana tulang
beradaptasi secara morfologik untuk mengembalikan kekuatan dan fungsi
optimal. Diperlukan aksi berimbang antara resorpsi osteoklas dan deposisi
osteoblas

Kesembuhan Primer
Fase pertama dalam gap healing ialah trisinya celah fraktur oleh tulang
primer (bukan jaringan penghubung ataupun fibrokartilago) dan terjadinya
nekrosis.
Fase kedua ditandai dngan terjadinya remodelling kanalis haversi.
Remodelling haversi dimulai dengan terbentuknya ruang resorpsi (terdiri dari
kumpulan osteoklas), yang terbentuk dari cutting cone osteoklas yang
bergerak ke arah celah patahan dan area nekrosis. Ruang resorpsi dilengkapi
dengan pembuluh kapiler yang di dalamnya terdapat sel sel mesenkimal dan
pre osteoblas. Osteoblas yang terbentuk dari pre-osteoblas akan mengisi ruang
resorpsi kemudian memproduksi osteoid, dan akhirnya menjadi osteon
(Newton, 2010)

4) DIAGNOSA FRAKTUR
Berdasarkan gejala klinis, anamnesa, inspeksi (perubahan simetrisitas,
deformitas, jejas, bengkak) dan pemeriksaan fisik secara palpasi ( nyeri tekan,
krepitasi), pengukuran panjang kaki harus dilakukan untuk memperoleh
diagnosa yang akurat.

Laboratorium :
Pada fraktur, test laboratorium yang perlu diketahui : Hb, hematokrit sering
rendah akibat perdarahan, laju endap darah (LED) meningkat bila kerusakan
jaringan lunak sangat luas. Pada masa penyembuhan Ca dan P meengikat di
dalam darah.
Radiologi :
Dengan X-Ray dapat dilihat gambaran fraktur, deformitas dan metalikment.
Venogram/anterogram menggambarkan arus vascularisasi. CT scan untuk
mendeteksi struktur fraktur yang kompleks.

5) PENANGANAN FRAKTUR
Prinsip penanganan fraktur ada 4, yaitu: rekognisi, reduksi, retensi dan
rehabilitasi.
1. Rekognisi, mengenal jenis fraktur, lokasi dan keadaan secara umum;
riwayat kecelakaan, parah tidaknya luka, diskripsi kejadian oleh pasien,
menentukan kemungkinan tulang yang patah dan adanya krepitus.
2. Reduksi, mengembalikan fragmen tulang ke posisi anatomis normal untuk
mencegah jaringan lunak kehilangan elastisitasnya akibat infiltrasi karena
edema dan perdarahan. Reduksi ada 3 (tiga), yaitu:
a. Reduksi tertutup (close reduction), dengan cara manual/ manipulasi,
dengan tarikan untuk menggerakan fragmen tulang/ mengembalikan
fragmen tulang ke posisinya (ujung-ujungnya saling berhubungan)
b. Traksi, digunakan untuk mendapatkan efek reduksi dan imobilisasi,
dimana beratnya traksi di sesuaikan dengan spasme otot. Sinar X
digunakan untuk memantau reduksi fraktur dan aproksimasi fragmen
tulang
c. Reduksi terbuka, dengan memasang alat untuk mempertahankan
pergerakan, yaitu fiksasi internal (kawat, sekrup, plat, nail dan batang
dan implant logam) dan fiksasi ekterna (pembalutan, gips, bidai, traksi
kontinue, pin dan tehnik gips

3. Reposisi, setelah fraktur di reduksi, fragmen tulang harus di imobilisasi


atau dipertahankan dalam posisi penyatuan yang tepat. Imobilisasi dapat
dilakukan dengan cara fiksasi internal dan eksternal.
4. Rehabilitasi, mempertahankan dan mengembalikan fungsi tulang secara
sempurna, dengan cara:
a. Mempertahankan reduksi dan imobilisasi
b. Meninggikan ekstremitas untuk meminimalkan pembengkakan
c. Memantau status neorovaskular
d. Mengontrol kecemasan dan nyeri
e. Latihan isometrik dan setting otot
f. Berpartisipasi dalam aktivitas hidup sehari-hari
g. Kembali keaktivitas secara bertahap

6) PENANGANAN PASCA OPERASI


Hewan dibebat dengan perban khusus yang memiliki tekstur empuk untuk
meningkatkan kenyamanan dan mengurangi rasa nyeri. Plat dan sekrup juga
memerlukan perawatan khusus. Untuk mengurangi nyeri yang hebat, dapat
diberikan analgetika. Pemberian nutrisi tambahan berupa tablet kalsium,
magnesium dan Vit.D juga perlu diberikan. Setiap 3-6 minggu sekali hewan
harus dirontgen untuk memantau kondisi tulang, apakah ada pergeseran/mal
union/non union. Apabila fraktur sudah mencapai tahap kesembuhan,
pin/plat/sekrup yang dipasang segera dilepas.

III. DAFTAR PUSTAKA


Apley, A. Graham. 1995. Buku Ajar Ortopedi dan Fraktur. Jakarta: Widya Medik.
Basset, CD. 1962. Current concepts of bone formation. J Bone Joint Surg 44A
1217.
Brunner, Suddarth. 2002. Buku Ajar Medikal Bedah.
Fubini, S and Norm.D. 2004. Farm Animal Surgery. Elsevier. USA
Johnson, A.L., Houlton, J.E., Vanini, N. 2005. AO Principles of Fracture
Management in Dog and Cat. Thieme.
Junquierra, C. 2005. Basic Histology Text and Atlas 11th Edition. McGraw Hills.
Newton,

D.

2010.

http://cal.vet.upenn.edu/projects/saortho/chapter_03/03mast.htm#REFS. Diakses
tanggal 20 Mei 2014.