Anda di halaman 1dari 8

PENYAKIT DAUN PADA PEMBIBITAN TANAMAN KARET

Tanaman karet adalah salah satu tanaman perkebunan yang memegang peranan penting
dalam perekonomian nasional. Perkebunan karet Indonesia diharapkan mampu bersaing dengan
negara produsen lain seperti Thailand, Malaysia, Vietnam, dan India. Oleh sebab itu upaya
peningkatan produkstifitas usahatani karet harus terus dilakukan terutama dalam bidang
teknologi budidayanya.
Beberapa permasalahan yang menyebabkan masih rendahnya produktifitas karet Indonesia
adalah kualitas bahan tanam yang rendah, pemanfaatan lahan perkebunan yang tidak optimal,
dan pemeliharaan tanaman yang buruk. Kualitas bahan tanam yang rendah menjadi masalah
utama untuk perkebunan karet yang ditunjukkan dengan rentang produktif tanaman karet yang
kurang dari 30 Tahun. Maka perbaikan utama yang dapat dilakukan adalah penanaman kembali
dengan bahan tanam berproduksivitas tinggi dan pengaturan jarak yang optimal.
Hal yang paling mendasar dalam budidaya karet adalah penggunaan bahan tanam yang
bermutu baik. Bahan tanam karet yang dianjurkan adalah bahan tanam klon yang diperbanyak
secara okulasi. Ada tiga komponen yang perlu disiapkan untuk pembuatan bahan tanam karet,
yaitu : batang bawah (root stoct), entres/batang atas (budwood), dan okulasi (grafting).
Bahan tanam bermutu baik ialah bahan tanam yang telah dianjurkan, berproduksi tinggi
sesuai dengan potensinya, pertumbuhan cepat dan seragam sehingga dapat mempersingkat masa
tanaman belum menghasilkan dan produksi yang tinggi pada awal penyadapan. Selain itu bahan
tanam juga memiliki sifat sekunder yang diinginkan, seperti relatif lebih tahan terhadap penyakit
tertentu, batang tegap dan volume kayu per pohon tinggi.
Dalam menghasilkan bahan tanam yang bermutu baik maka kualitas dan standar mutu benih
harus diperhatikan mulai dari biji untuk batang bawah sampai bahan tanam karet yang siap
ditanam dilapang. Untuk mendapatkan bibit yang terjamin mutunya adalah dengan menggunakan
bibit karet yang bersertifikat yang diperoleh dari proses sertifikasi. Dimana sertifikasi merupakan
rangkaian kegiatan menerbitkan sertifikat yang dikeluarkan oleh lembaga sertifikasi melalui
pemeriksaan lapangan, pengujian laboratorium dan pengawasan. Adapun tujuan sertifikasi bibit
karet adalah :
1

1. Menjaga kemurnian varietas melalui pemeriksaan lapangan dan pemeriksaan asal-usul


bibit.
2. Memelihara mutu benih melalui pemeriksaan kesehatan benih.
3. Memberikan jaminan kepada pengguna benih tentang kepastian mutu bibit dan varietas
yang akan digunakan.
4. Memberikan legalitas kepada produsen benih, bahwa benih yang dihasilkan terjamin
kemurnian, dan kualitasnya.
Salah satu syarat dalam sertifikasi benih karet adalah bebas OPT baik untuk batang bawah,
entres, stum mata tidur maupun bibit polibag yang siap salur. OPT yang banyak dijumpai
dipembibitan karet adalah adanya serangan beberapa penyakit gugur daun. Serangan penyakit
gugur daun di pembibitan dapat menyebabkan tanaman gundul dan pertumbuhannya terhambat
sehingga dapat menunda waktu okulasi ataupun penanaman.
Beberapa penyakit gugur daun yang banyak dijumpai di pembibitan antara lain; Penyakit
gugur daun oidium, colletotrichum, corynespora dan Helminthosporium.
a. Penyakit gugur daun Oidium
Gejala pada daun terdapat massa tepung berwarna putih melekat pada permukaan bawah
daun, kemudian berkembang menyebabkan bercak transparan sehingga pertumbuhan daun tidak
normal, agak berkeriput. Massa tepung jamur tersebut dapat juga menutupi permukaan atas daun.
Daun muda yang masih berwarna coklat tembaga jika terserang akan gugur, sedangkan daundaun yang lebih dewasa tidak gugur akan tetapi fungsi untuk berfotosintesis tidak maksimal.
Serangan pada pembibitan batang bawah menyebabkan tanaman gundul dan pertumbuhan
terhambat sehingga waktu okulasi tertunda.

Gambar 1. Gejala serangan penyakit gugur daun oidium pada pembibitan batang bawah. Massa
tepung berwarna putih melekat pada permukaan bawah daun (A) dan atas daun (B)
b. Penyakit gugur daun Corynespora
Jamur Corynespora cassiicola terutama menyerang daun, baik pada tanaman muda maupun
tanaman tua. Gejala diawali dengan adanya bercak hitam, terutama pada tulang-tulang daun.
Selanjutnya bercak berkembang dan meluas, berbentuk bulat atau tidak teratur. Bagian tepi
bercak berwarna coklat dengan bagian pusatnya mengering atau dapat berlubang. Disekitar
bercak biasanya terdapat daerah yang berwarna kuning (halo) yang agak lebar.
Pada daun muda, serangan Corynospora tidak menimbulkan bercak yang nyata, tetapi
tampak kuning merata di seluruh permukaan daun. Kejadian ini disebabkan karena toksin yang
dibentuk oleh jamur Corynospora, dimana dengan hanya bercak yang kecil pada tulang daun,
karena adanya toksin ini maka daun dapat menguning, menjadi coklat dan gugur.

Gambar 2. Gejala serangan penyakit gugur daun Corynespora pada pembibitan batang bawah
c. Penyakit gugur daun Colletotrichum
Colletotrichum gloeosporioides menyebabkan bercak bundar pada daun dengan diameter 2
mm dan mula-mula berwarna coklat, selanjutnya bagian pusat menjadi abu-abu sampai putih,
nekrotis dan sering membelah. Daun-daun muda menjadi kehitaman dan gugur, infeksi pada
daun yang lebih tua akan mengakibatkan defoliasi. Bercak dapat berkembang pada tangkai daun
dan menginfeksi pada daun muda menyebabkan daun berwarna hijau tua dan berakhir dengan
dieback. Sporulasi terjadi pada keadaan yang lembab yang ditandai dengan koloni spora yang
berwarna merah jambu atau pink.

Gambar 3. Gejala Serangan penyakit gugur daun Colletotrichum pada pembibitan karet

Pada daun-daun yang lebih dewasa infeksi Colletotrichum mengakibatkan tepi serta ujung
daun berkeriput dan pada permukaannya terbentuk bercak-bercak bulat berwarna coklat dengan
tepi kuning bergaris tengah 1-2 mm. Bila daun-daun bertambah umurnya maka bercak akan
berlubang ditengahnya dan bercak-bercak ini menonjol dari permukaan daun. Infeksi
Colletotrichum yang hebat dapat mengakibatkan matinya pucuk tanaman.
d. Penyakit gugur daun Helminthosporium
Gejala yang khas dari penyakit ini adalah bercak-bercak bulat, bergaris tengah 1-3 mm,
dengan pusat yang tembus cahaya dan tepi coklat sempit yang jelas, yang mirip dengan mata
burung. Gejala seperti ini terjadi bila infeksi berlangsung pada saat daun sudah mencapai
ukurannya yang penuh, tetapi masih tergantung lemas. Sering kali pada daun yang sama terdapat
tiga macam gejala yaitu; pucuk keriput, mata burung yang khas, dan bercak coklat tua. Ketiga
gejala tersebut menunjukkan bahwa daun ini mendapat infeksi berulang-ulang selama
perkembangannya. Di Pusat bercak yang tembus cahaya pada sisi bawah daun sering terlihat
tepung hitam yang terdiri dari konidium jamur.

Gambar 4. Gejala serangan penyakit gugur daun Helminthosporium pada pembibitan karet
Intensitas serangan patogen penyebab penyakit gugur daun karet sangat dipengaruhi oleh
kondisi dan sifat ketahanan tanaman serta keadaan lingkungan (cuaca/iklim). Untuk penyebaran
sporanya dibantu oleh angin dan hujan. Kondisi tanaman yang kekurangan unsur hara, kurang
pemeliharaan, kelembaban udara yang tinggi, serta adanya air pada permukaan daun sangat
memudahkan jamur untuk dapat berkembang cepat dan menginfeksi tumbuhan sehingga
menimbulkan penyakit yang kronis. Sebaliknya penyakit gugur daun kurang dijumpai pada
tanaman yang terawat serta lahan dengan drinase yang baik.
5

Beberapa tindakan pengendalian yang dapat dilakukan untuk mengendalikan penyakit gugur
daun adalah :
- Menanam klon-klon yang tahan terhadap penyakit gugur daun di daerah yang rawan serangan
penyakit gugur daun. Klon-klon tahan dan rentan terhadap beberapa penyakit gugur daun karet
dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Ketahanan klon karet anjuran terhadap penyakit utama dan angin
Klon

Ketahanan terhadap Penyakit

Ketahanan terhadapan angin

Colletotrichum

Corynespora

Oidium

BPM24

Peka

Moderat

Moderat

Moderat

BPM107

Toleran

Toleran

Toleran

Toleran

BPM109

Toleran

Toleran

Toleran

Moderat

IRR104

Moderat

Moderat

Moderat

PB217

Moderat

Toleran

Peka

Toleran

PB260

Toleran

Toleran

Toleran

Peka

PR255

Peka

Toleran

Moderat

Toleran

PR261

Peka

Toleran

Moderat

Toleran

BPM1

Moderat

Toleran

Toleran

Toleran

Peka

Toleran

Moderat

Toleran

PB330

Toleran

Toleran

Peka

Peka

RRIC100

Toleran

Toleran

Toleran

Toleran

IRR5

Toleran

Toleran

Moderat

Toleran

IRR21

Toleran

Toleran

Toleran

Toleran

IRR32

Toleran

Toleran

Toleran

Toleran

IRR39

Toleran

Toleran

Toleran

Toleran

IRR42

Toleran

Toleran

Toleran

Toleran

IRR118

Toleran

Toleran

Moderat

Toleran

AVROS2037

Sumber : Balit Sembawa (2003) dlm Boerhendhy & Amypalupy ( 2011).


6

- Memelihara tanaman seoptimal mungkin agar tanaman tetap tumbuh normal. Perlakuan kultur
teknis yang meliputi perbaikan saluran drainase, pemupukan, maupun penyiangan gulma perlu
dilakukan secara periodik
- Penyemprotan/pengabutan dengan fungisida dilakukan pada saat tanaman membentuk daun
muda.
Tabel 2. Fungisida untuk Pengendalian Penyakit Gugur Daun Karet
Bahan Aktif

Formulasi

Cara Aplikasi

Dosis/ph/

Interval

aplikasi

(bulan)

7-10 gr

5-7

Oidium
Sulfur

Tepung

Pendebuan
Colletotrichum

Mancozeb

Tepung

Penyemprotan

1-2 kg

5-7

Chlorotalonil

Tepung

Penyemprotan

1-2 kg

5-7

Prochloraz

Cairan

Penyemprotan

1-2 kg

5-7

Corynespora
Mancozeb

Tepung

Penyemprotan

1-2 kg

5-7

Chlorotalonis

Tepung

Penyemprotan

1-2 kg

5-7

Prochloraz

Tepung

Penyemprotan

1-2 kg

5-7

Sumber : Sujatno dkk. (2007)

DAFTAR PUSTAKA
Syamsafitri. 2008. Studi Virilensi Isolat Colletotrichum gloeosporioides Pens. Dan
Pemberian Pupuk Ekstra (N,K) pada
Klon Karet dan Ketahanan terhadap Penyakit Gugur Daun Colletotrichum. Tesis di
Sekolah Pasca Sarjana USU,
Medan.
Boerhendhy I & Amypalupy K. 2011. Optimalisasi Produktivitas Karet Melalui
Penggunaan Bahan Tanam, Pemeliharaan,
Sistem Eksploitasi, dan Peremajaan Tanaman. Jurnal Litbang Pertanian, 30(1) Hal
23-30
Pawirosoemardjo, S. dan S. Budi. 2005. Pengenalan dan Pengendalian Penyakit
Tanaman Karet. Balai Penelitian Getas,
Pusat Penelitian Karet Indonesia. Hal 25.
Sujatno, Serafina rahayu dan Soleh Suryaman, 2007. Pengenalan dan Pengendalian
Penyakit pada Tanaman Karet. Balai
Penelitian Sungei Putih Pusat Penelitian Karet.
Varghese, 1990. Disease Management of Estate Crops: A Final Assignment Report.
National Estate Crop Protection
Project. Directorate of Estate Crop Protection.
Ladja, L.K. 2006. Kualitas Standar Mutu dan Perlakuan Benih Karet, Kementerian
Pertanian. Badan Penyuluhan dan
Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian. http://cybex.deptan.go.id. 27
Maret 2014.
Lasminingsih, Mudji dan Sipayung, Hendra. 2012. Petunjuk Praktis Pembibitan Karet.
Agro Media Pustaka, Jakarta.