Anda di halaman 1dari 6

Hukum II mendel ( hukum pengelompokan gen secara bebas atau asortasi).

Pada
pembentukan sel kelamin (gamet), alel mengadakan kombinasi secara bebas sehingga
sifat yang muncul dalam keturunannya beraneka ragam. Hukum ini berlaku untuk
persilangan dengan dua sifat beda ( dihibrid) atau lebih polihibrid).

gambar 4. Penggambaran Hukum Mendel, diambil dari


https://dittakris.files.wordpress.com/2011/06/image_thumb17.png

Berdasarkan hukum Mendel tersebut maka pemeriksaan guna menentukan ada


tidaknya pertalian darah antara seseorang dengan orang lain melalui pemeriksaan
genetic marker dari antigen eritrosit menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut :
1. seorang anak tidak mungkin mempunyai genetik marker yang tidak dipunyai
oleh kedua orang tuanya
2. seorang anak pasti mewarisi salah satu pasangan dari genetik marker dari
masing-masing orang tuanya.
3. Seorang anak tidak mungkin mempunyai sepasang genetik marker yang
identik ( misalnya aa), kecuali masing-masing dari kedua orang tuanya
memiliki genetic marker yang sama ( misalnya a)
4. Seorang anak pasti akan memiliki genetic marker a atau b apabila salah satu
dari orang tuanya memiliki genetik marker yang identik (aa) atau (bb)

Ada banyak tes yang dapat digunakan untuk menentukan paternitas, antara
lain :

1. Tes dengan Marker Genetik dari Antigen Eritrosit

Pada kumpulan tes ini sampel yang digunakan adalah darah :


a. Sistem ABO
Golongan darah adalah ciri khusus darah dari suatu individu karena adanya
perbedaam jenis karbohidrat dan protein pada permukaan membrane sel darah
merah. Golongan darah ABO ditemukan oleh Karl Landstein pada tahun 1900.
Locus system ABO terletak pada Chromosom 9, yang berisi 7 axon yang
merentang lebih dari 18 kb genom DNA. Dua jenin penggolongan darah yang
paling penting adalah penggolongan ABO dan Rhesus ( factor Rh). Di dunia
ini sebenarnya dikenal sekitar 46 jenis antigen selain antigen ABO dan Rh,
hanya saja lebih jarang dijumpai. Transfusi darah dari golongan yang tidak
kompatibel dapat menyebabkan reaksi transfusi imunologis yang berakibat
anemia hemolysis, gagal ginjal, syok, dan kematian.
Golongan darah ABO ditentukan berdasarkan jenis antigen (aglutinogen) dan
antibody (aglutinin) yang terkandung dalam darahnya, sebagai berikut :

Individu dengan golongan darah A memiliki sel darah merah dengan


antigen A di permukaan membran selnya dan menghasilkan antibody
terhadap antigen B dalam serum darahnya.

Individu dengan golongan darah B memiliki antigen B pada pernukaan


sel darah merahnya dan menghasilkan antibody terhadap antigen A
dalam serum darahnya.

Individu dengan golongan darah AB memiliki sel darah merah dengan


antigen A dan B serta tidak menghasilkan antibody terhadap antigen A
maupun B.

Individu dengan golongan darah O memiliki sel darah tanpa antigen,


tapi memproduksi antibody terhadap antigen A dan B

jadi golongan darah O, meskipun tidak mengandung aglutinogen, tetapi


mengandung agglutinin anti-A dan anti-B; golongan darah A mengandung
aglutinogen tipe A dan agglutinin anti-B; dan golongan darah B mengandung
aglutinogen tipe B dan agglutinin anti-A, golongan darah AB mengandung
kedua aglutinogen A dan B tetapi tidak mengandung aglutinin sama sekali.

Golongan darah dengan genotipnya dan unsur pokok aglutinogen serta


aglutininnya.
Genotip

Golongan
darah

Aglutinogen

OO

OA atau AA
OB atau BB
AB

A
B
A dan B

AB

Aglutinin
Anti-A dan
Anti-B
Anti-B
Anti-A
-

Table. Golongan darah dengan Genotipnya dan unsur pokok. Annisugiyarti, 2012 penentuan golongan
darah, Jakarta erlangga 2012

Tes paternitas dengan metode golongan darah ABO


Bahan yang digunakan :
-

sampel darah ibu

sampel darah anak / yang diduga anak

sampel darah ayah/ lelaki yang diduga sebagai ayah

reagen anti A dan reagen anti B

Cara / Metode :
A. cek golongan darah ibu, anak, dan ayah
dengan cara meneteskan reagen anti A dan anti B dimana hasilnya bila :
A : ditetesi anti A mengalami aglutinasi, ditetesi anti B tidak mengalami
aglutinasi
B : ditetesi anti A tidak mengalami aglutinasi, ditetesi anti B mengalami
aglutinasi AB : ditetesi anti A tidak mengalami aglutinasi, ditetesi anti B
tidak mengalami aglutinasi
O : ditetesi anti A mengalami aglutinasi, ditetesi anti B mengalami
aglutinasi

B setelah diketahui golongan darah masing-masing maka dari interprestasi


yang didapatkan kemudian dicocokan apakah mereka bisa dimungkinkan
mempunyai pertlian darah atau tidak.

Interpretasi :
Antigen A dan B diwariskan sebagai alelomorf Mendel, A dan B
adalah dominan. Misalnya, seseorang yang bergolongan darah B mendapatkan
turunan satu antigen B dari setiap ayah dan ibu atau satu antigen dari salah
satu orang tua dan satu O dari orang tua lain; jadi, seorang individu yang
berfenotip B dapat mempunyai genotip BB ( homozigot) atau BO
(heterozigot). Kalau golongan darah orang tua diketahui, kemungkinan
genotip pada anak-anak mereka dapat ditetapkan. Kalau kedua orangtuanya
bergolongan B maka mereka dapat mempunyai anak bergenotip BB ( antigen
B dari kedua orang tua), Bo ( antigen B dari salah tua orangtua, O dari orang
tua lain yang heterozigot).

mother

child

Man as father
impossible

possible

O,B

A,AB

O,A

B,AB

AB

O,A,B

AB

Mother excluded

--

A,B,AB,O

A,O

B,AB

AB

A,B,O

AB

O,A

B,AB

O,B

A,AB

--

A,B,AB,O

AB

A,B,O

AB

B,O

A,AB

AB

--

A,B,AB

AB

--

A,B,AB,O

AB

--

Mother excluded

AB

AB

--

A,B,AB

Tabel. Antigen Ayah, Ibu dan Anak. Pancak Ales. MENDELIAN GENETICS editan
terakhir maret 2007

Kalau

golongan

darah

seorang

ibu

dan

anaknya

diketahui,

penggolongan darah dapat untuk membuktikan bahwa seorang laki-laki adalah


ayahnya, namun tidak dapat membuktikan bahwa ia adalah ayahnya.
Manfaat predikitif semakin besar kalau penggolongan darah kelompok
orang yang bersangkutan ini meliputi pula identifikasi antigen lain selain
aglutinogen ABO. Dengan menggunakan sidik DNA, angka penyingkiran
paternal meningkat hamper mendekati 100%

O + O tak mungkin anaknya A,B atau AB

O + A tak mungkin anaknya B atau AB

O + B tak mungkin anaknya A atau AB

A + A tak mungkin anaknya B atau AB

A + B semua kemungkinan dapat terjadi

B + B tak mungkin anaknya A atau AB

O + AB tak mungkin anaknya O atau AB

A + AB tak mungkin anaknya O

B + AB tak mungkin anaknya O

AB + AB tak mungkin anaknya O

Untuk kepentingan pemeriksaan diperlukan darah secukupnya. Tidak boleh


dilakukan pemeriksaan pada orang yang baru saja menerima transfusi darah.
Sebaiknya pada bayi pemeriksaan ditunda sampai umur 1 tahun, sebab
sebelum umur tersebut belum terbentuk agglutinin ( Anti A dan anti B) yang
cukup. pada bayi tersebut darah diambil dari tumit.

b. Sistem MN
System MN ditemukan oleh Landsteiner dan Levine pada tahun 1927.
Pengelompokan imi didasar pada dua molekul glikoprotein spsifik yang terletak
pada permukaan sel darah merah.

Group system MN terdapat pada locus autosomal yang terdapat pada


chromosome 4 dan 23 dengan dua alel yang diberinama LM dan LN. orang
orang dengan golongan darah M mempunyai satu dari kedua tipe molekul ini dan
orang dengan golongan darah N mempunyai tipe yang lainnya. Golongan MN
dikarakterisasi oleh adanya kedua molekul pada sel darah merah. Sebuah lokus
gen tunggal, dimana dua variasi alel bisa berada, menetukan golongan golongan
darah ini. Individu M adalah homozigot untuk satu alel; individu N adalah
homozigot untuk alel yang lainnya. Kondisi heterozigot terdapat pada golongan
MN. Perlu diperhatikan bahwa fenotip MN bukanlah intermediet antara fenotip M
dan N, tetapi kedua fenotip tersebut secara sendiri- sendiri terekspresikan oleh
adanya kedua tipe molekul ini pada sel darah merah.

Genotype

agglutinogen

Blood group/ phenotype

MM

NN

MN

M+N

MN

Bahan :
Sampel darah ibu
sampel darah anak / yang diduga anak
sampel darah ayah / lelaki yang diduga sebagai ayah

Cara :
- ambil sel jaringan yang terlarut pada cairan amnion ( amniosintesis ) dengan cara
mengambil sedikit cairan amnion dari bayi menggunakan jarum yang dimasukan
kedalam perut ibu