Anda di halaman 1dari 18

A.

STEP 1 KLARIFIKASI ISTILAH


1. Edema ?(arina hidayati).
Jawaban
:pembengkakan yang disebabkan oleh penimbunan cairan di dalam
jaringan tubuh.(vilda)
Referensi
:pembengkakan yang dapat diamati dari akumulasi cairan yang berlebihan
dalam jaringan-jaringan dalam tubuh dan penimbunan cairan secara
berlebihan di antara sel-sel tubuh atau di dalam rongga tubuh.
(www.totalkesehatan nanda.com)
koleksi cairan yang biasanya dirongga paru-paru atau ekstremitas bawah
(sekitar pergelangan kaki) karena volume air yang berlebihan. (www.kamus
kesehatan.com/arti edema)
2. Plantar fleksi ?(refti lestari).
Jawaban
:gerakan menekuk kebawah dari telapak kaki pada pergelangan kaki
diarahkan kebelakang.(arina hidayati)
Referensi
: gerakan meluruskan telapak kaki pada pergelangan kaki.(dorland 2011).
3. Tes simmonds ?(shinta yudela)
Jawaban
:tes yang digunakan dalam pemeriksaan ektremitas bawah untuk menguji
pecahnya tendon achilles.(syaprizal)
Referensi
:Tes yang digunakan dalam pemeriksaan ekstremitas bawah untuk menguci
pecahnya tendon Achilles. (en.wikipedia.org).
4. Soleus ?(syaprizal)
Jawaban
:otot betis yang lebih kecil dan terletak dibawah otot gastronemius.(nur fitri
mardianingsih)
Referensi : Otot betis yang kecil terletah dibawah gastrocnemius (hinchliff, sue. 1999)
5. Nyeri ?(deri)
Jawaban
Referensi

:rasa sensasi yang tidak nyaman yang dirasakan seseorang.(refti lestari)


:Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosi yang tidak
menyenangkan dimana berhubungan dengan kerusakan jaringan atau
potensial terjadi kerusakan jaringan
(http://silvana-nina.blogspot.com/2013/03/definisi-nyeri-dan-mekanismeterjadinya.html)

6. Tendon ?(nurfitri mardianingsih)


Jawaban
: tali fibrosa jaringan ikat yang bersambungan dengan serabut otot dan
melekatkan otot ketulang rawan.(m.eko saputra)
Referensi
: Tendon tertebal dan terkuat pada tubuh manusia yang panjangnya 15 cm
dimulai dari pertengahan tungkai bawah (deltoidea.wordpress.com.2011)
7. Radiologi ?(Dasmaniar).
Radiologi
:digunakan untuk melihat irama tubuh menggunakan pancaran, radiasi
gelombang.(shinta yudela)

Referensi

:Ilmu kedokteran untuk melihat rama tubuh manusia menggunakan pancaran


atau radiasi gelombang, baikm gelombang elektromagnetik maupun
gelombang mekanik (id.wikipedia.org/wiki/radiologi).

8. Otot plantaris ?(vilda)


Jawaban
:Otot yang lebih kecil dan terletak dekat gastronemius.(sari aditia)
Referensi
:Otot telapak kaki yang kecil yang mungkin tidak ada.(
ml.scribd.com/doc/44756081/LTM-Anatomi-Otot-Ekstremitas-Bawah)12
Jun 2010.
9. Skala nyeri 8 ?(shinta yudela)
Jawaban
:merupakan skala untuk mengetahui tingkat nyeri, skala 8 sangat nyeri dan
tetapi dapat dikontrol oleh klien dengan aktivitas yang bisa
dilakukan.(dasmaniar)
Referensi
: Nyeri berat : secara obyektif klien terkadang tidak dapat mengikuti perintah
tapi masihrespon terhadap tindakan, dapat menunjukkan lokasi nyeri, tidak
dapat mendeskripsikannya,tidak dapat diatasi dengan alih posisi nafas
panjang dan distraksi.
http://www.scribd.com/doc/54952873/Skala-Nyeri
10. Vital sign ?(arina hidayati)
Jawaban
: tanda-tanda vital.(vita insani)
Referensi
:tanda-tanda vital merupakan suatu cara untuk mendeteksi adanya perubahan
sistem tubuh. Meliputi tekanan darah,suhu badan,respiratori rate, heart
rate.(anonim,2014)
11. Gastronemius ?
Jawaban
:Otot betis yang menonjol dan mudah diliat.(deri)
Referensi
: Otot betis yang besar dengan dua buah kaput. (hinchliff, sue. 1999)

B. STEP 2 IDENTIFIKASI ISTILAH


1. Kenapa nyeri hebat terjadi didaerah belakang pergelangan jari kaki kiri ?(sari aditia)
2. Kenapa pada kasus terdapat edema, nyeri bila ditekan dan terasa panas ?(arina hidayati)
3. Mengapa pada kasus disarankan menjalani operasi penyambungan kembali tendon yang
putus ?(shinta yudela)
4. Mengapa RR nya meningkat ?(vita insani)
5. Mengapa HR meningkat ?(refti lestari)
6. Tujuan dilakukannya pemeriksaan radiologi ?(m.eko saputra)
7. Mengapa tekanan darahnya 130/90 mmhg ?(syaprizal)
8. Mengapa pada Tn.X melompat untuk memasukan bola ke ring tiba-tiba kaki kirinya
berbunyi krek ?(deri)
9. Mengapa pada tes simmonds
tidak didapatkan diplantar fleksi kaki ?(nur fitri
mardianingsih).
10. Mengapa skala nyerinya 8 ?(dasmaniar)
11. Mengapa pasien tidak dapat beraktivitas secara normal ?(putri reno sari)

C. STEP 3 MENJAWAB PERTANYAAN DARI IDENTIFIKASI MASALAH


1. Kenapa nyeri hebat terjadi didaerah belakang pergelangan jari kaki kiri ?(sari aditia)
Jawaban : urat dibagian kaki terasa nyeri adalah achilles tendon dipergelangan kaki karena
Tn.x melebihi menggunakan achilles tendon akan menjadi iritasi dan meradang,
peradangan ini melebihi menggunakan otot dapat menyebabkan rasa sakit dan
pembengkakan. (deri)
Referensi : Karena telah terjadi kerusakan jaringan pada daerah pergelangan kaki,
sehingga mengakibatkan adanya kerusakan neurogenik yang menyebabkan
terjadinya komprensi saraf. (muttaqin, A. 2011)
2. Kenapa pada kasus terdapat edema, nyeri bila ditekan dan terasa panas ?(arina hidayati).
Jawaban : karena adanya penumpukan cairan dan perpindahan cairan dari eksternal
keintersial serta terjadi implamasi dan peradangan pada penyakit. (shinta
yudela).
Referensi:
Edema karena adanya penumpukan cairan dan perpindahan cairan dari
eksternal ke interstisial
Nyeri karena saraf sensorik teriritasi oleh implamasi penyakit.
Panas karena proses implamasi dan peradanga pada penyakit. (anonym,2013)
3. Mengapa pada kasus disarankan menjalani operasi penyambungan kembali tendon yang
putus ?(shinta yudela)
Jawaban : karena dikasus ini didapatkan hasil radiologi adanyatendon yang terputus yaitu
gastronemius, seleus, otot plantaris.(m. Eko saputra).
Referensi : Karena tendon Achilles tersebut berfungsi penting untuk menghubungkan atot
betis dengan tulang tumit. sehingga ketika otot betis berkontraksi, otot betis
menarik tendon Achilles. Kontraksi otot betis ini menarik tulang tumi, sehingga
terjadi pergerakan plantar fleksi, kontraksi otot betis yang dibantu tendon
Achilles ini berguna untuk beraktivitas sehari-hari. Sehiungga perlu dilakukan
operasi
penyambungan
kembali
tendon
yang
telah
putus.
(kesehatan.kompas.com).
4. Mengapa RR nya meningkat ?(vita insani)
Jawaban : RR meningkat karena saat terjadi pasien langsung dibawa ke RS dan menahan
nyeri yang sangat hebat. (putri reno sari).
Referensi: Karena respon dari nyeri yang dirasakan. (anonim,2010)
5. Mengapa HR meningkat ?(refti lestari)
Jawaban: mencukupi kebutuhan oksigen dan meningkat suplai darah ketempat yang
cidera. (m.eko saputra).
Referensi : Karena respon dari nyeri yang dirasakan. (anonim,2010)
6. Tujuan dilakukannya pemeriksaan radiologi ?(m.eko saputra)
Jawaban : untuk melihat apakah ada kerusakan pada bagian pergelangan kaki terutama
tendon dengan menggunakan pancaran untuk radiasi gelombang.(nurfitri
mardianingsih).
Referensi :untuk mengidentifikasi secara tidak langsung robekan tendon achilles dan
menganalisis titik cedera.(Pratama aditya,2009).

7. Mengapa tekanan darahnya 130/90 mmhg ?(syaprizal)


Jawaban : TD normal.(vita insani).
Referensi : Karena respon dari nyeri yang dirasakan. (anonim,2010)
8. Mengapa pada Tn.X melompat untuk memasukan bola ke ring tiba-tiba kaki kirinya
berbunyi krek ?(deri)
Jawaban : karena terputus otot gastronemius, soleus dan otot plantaris.(sari aditia).
Referensi : karena terputusnya tendon dan melemahnya selubung tendon sehingga kaki
tidak mampu lagi menopang tubuh. (www.zappons.com).
9. Mengapa pada tes simmonds
tidak didapatkan diplantar fleksi kaki ?(nur fitri
mardianingsih).
Jawaban : karena klien mengalami pecahnya tendon achilles sehingga pada test simmonds
kaki klien dapat digerakkan untuk melakukan gerakan mencolok kebawah dari
telapak kaki pada pergelangan kaki diarahkan kebelakang. (refti lestari).
Referensi : Karena telah pecah (rupture) tendon Achilles, sehingga pada test simmonds tidak
ditemukan plantar pleksi. (en.wikipedia.org)
10. Mengapa skala nyerinya 8 ?(dasmaniar)
Jawaban : karena terjadi kerusakan saraf yang sangat hebat yang terjadi pada Tn.X
sehingga skala nyeri yang dirasakan pasien mencapai 8.(arina hidayati).
Referensi : Karena terjadi kerusakan saraf atau komprensi saraf yang sangat hebat yang
terjadi pada Tn.k, sehingga skala nyeri yang dirasakan oleh Tn.k mencapai skala
8. (muttaqin, A. 2011).
11. Mengapa pasien tidak dapat beraktivitas secara normal ?(putri reno sari).
Jawaban : karena pecahnya tendon achilles dan melemahnya tendon sehingga kaki tidak
mampu lagi menopang tubuh dan tidak bisa melakukan aktivitas seperti
semula.(dasmaniar).
Referensi : Karena telah pecahnya tendon Achilles dan melemahnya selubung tendon
sehingga kaki tidak mampu lagi menopang tubuh dan tidak bisa melakukan
aktivitas seperti semula. (www.zappons.com)
D. STEP 4 HIPOTESA
Pada hipotesa yang kami angkat pada kasus skenario 4 sepakat menyimpulkan bahwa
pasien Tn. X menderita penyakit RUPTUR TENDON ACHILLES, di tandai dengan:
Tn. X adalah seorang pria yang mana pada saat kejadian Tn.x bermain bola basket dan tibatiba kaki kirinnya berbunyi krek dan langsung terjatuh dan meraung kesakitan yang sangat
hebat. Hal ini merupakan salah satu etiologi dari ruptur tendon achilles.
Pada tes simmond tidak didapatkan plantar fleksi.
Pada pemeriksaan radiologi pasien disarankan menjalani operasi penyambungan kembali
tendo yang terputus yaitu gastrocnemius,soleus, otot plantaris yang mana ketiga otot ini
melekat pada tendon achilles.

E. STEP 5 LEARNING OBJEKTIF


a. Defenisi ?
b. Epidemologi ?
c. Etiologi ?
d. Menifestasi klinis ?
e. Patofisiologi ?
f.

Penatalaksanaan ?

g. Pemeriksaan diagnostik ?
h. Komplikasi ?
i.

Asuhan keperawatan ?

j.

Diagnosa banding ?

F. STEP 7 BELAJAR MANDIR


F.1. KONSEP TEORI MEDIS
a.

Defenisi

Tendon Achilles berasal dari gabungan tiga otot yaitu gastrocnemius, soleus dan otot
plantaris. Pada manusia, terletak tepat di bagian pergelangan kaki. Tendon Achilles adalah tendon
tertebal dan terkuat pada tubuh manusia. Ruptur tendon Achilles adalah robek atau terputusnya
hubungan tendon( jaringan penyambung) yang disebabkan oleh suatu cedera dari perubahan posisi
kaki secara tiba-tiba atau mendadak dalam keadaan dorsofleksi pasif maksimal, atau akibat suatu
trauma benda tajam atau tumpul pada bawah betis. ( Zairin Noor Helmi 2012)
Tendon achilles adalah tendon yang paling kuat dan paling besar dalam tubuh manusia
yang panjangnya 15 cm yang dimulai dari pertengahan tungkai bawah.Kemudian stukturnya
mengumpul dan melekat pada bagian tengah belakang tulang calcaneus.. Terdiri dari stuktur
tendinous ( melekatnya otot ke tulang ) yang dibentuk oleh gabungan antara otot gastronemius dan
otot soleus yang terdapat di betis. Tendon ini melekat pada tulang tumit (calcaneus) dan
menyebabkan kaki berjinjit (plantar flexi) ketika otot-otot betis berkontraksi. Tendon ini sangat
penting untuk berjalan, berlari dan melompat secara normal. (Silvia,dkk. 2005)
Putusnya tendon Achilles itu adalah keadaan dimana tendon besar itu di belakang
pergelangan kaki itu pecah atau terputusnya tendon. Tendon merupakan jaringan fibrosa di bagian
belakang pergelangan kaki yang menghubungkan otot betis dengan tulang tumit. Rupture tendon
Achilles adalah roben atau putusnya hubungan tendon (jaringan penyambung) yang disebabkan oleh
cidera dari perubahan posisi kaki secara tiba-tiba atau mendadak dalam keadaan dorsifleksi pasif
maksimal. (muttaqin, A. 2011)

b.

Epidemologi

Dalam keseharian, sering didapatkan kejadian trauma tangan dengan berbagai macam
tingkatan keparahan, salah satunya adalah cedera pada tendon fleksor. Dari data yang dikemukakan
Azeta , cedera pada tendon fleksor merupakan cedera yang sering terjadi. Data epidemiologi dari
Norway mencatat insidensi terjadinya cedera pada tendon flexor sekitar 1 kasus tiap 7000 penduduk
di negara industri. Cedera ini lebih sering terjadi pada laki-laki dan terbanyak pada usia antara 15
sampai usia 30 tahun. (Azeta, 2010)

c. Etiologi
Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan rupture tendon patella, yaitu sebagai berikut
1. Trauma , bisa bersifat langsung dan suatu mekanisme kontraksi esentrik dari otot kuadiseps
pada atlit pelari
2. Iritasi tendon akibat berdiri lama
3. Degeneratif jaringan tendon
4. Pemberian kortikosteroid, pada pemberian injeksi articular pasien tendinitis patella
5. Penyakit sistemik, seperti SLE dan inflamasi sendi kronik
( Zairin Noor Helmi 2012)

d. Menifestasi klinis
a) Rasa sakit mendadak yang berat dirasakan pada bagian belakang pergelangan kaki atau betis
seperti adanya rasa sakit pada tendon achilles sekitar 1-3 inci di atas tulang tumit. daerah ini
paling sedikit menerima supplai darah dan mudah sekali mengalami cedera meskipun oleh
sebab yang sederhana, meskipun oleh sepatu yang menyebabkan iritasi.
b) Terlihat bengkak dan kaku serta tampak memar dan merasakan adanya kelemahan yang luas
pada serat-serat protein kolagen, yang mengakibatkan robeknya sebagian serat atau seluruh serat
tendon.
c) Terlihat depresi di tendon 3-5 cm diatas tulang tumit
d) Tumit tidak bisa digerakan turun naik
e) Sebuah kesenjangan atau depresi dapat dilihat di tendon sekitar 2 cm di atas tulang tumit
f) Biasanya, snap tiba-tiba atau pop dirasakan di bagian belakang pergelangan kaki.Pasien
mungkin menggambarkan sensasi ditendang di bagian belakang kaki.
g) Nyeri bisa berat. nyeri yang datang secara tiba-tiba selama melakukan kegiatan, khususnya saat
mengubah arah lari atau pada saat lari mendaki. Atlet mungkin merasakan adanya bagian yang
lembek bila meraba daerah sekitar tendon, hal ini dikarenakan adanya cairan peradangan yang
berkumpul dibawah selaput peritenon.
h) nyeri lokal, bengkak dengan gamblang kesenjangan sepanjang Achilles tendon dekat lokasi
penyisipan, dan kekuatan plantarflexion lemah aktif semua sangat menyarankan diagnosis.

e. Patofisiologi
Rupture traumatic tendon Achilles, biasanya terjadi dalam selubung tendo akibat perubahan
posisi kaki secara tiba-tiba atau mendadak dalam keadaan dorsifleksi pasif maksimal sehingga terjadi
kontraksi mendadak otot betis dengan kaki terfiksasi kuat kebawah dan diluar kemampuan tendon
Achilles untuk menerima suatu beban. Rupture tendon Achilles sering terjadi pada atlet atletik saat
melakukan lari atau melompat. Kondisi klinik rupture tendon Achilles menimbulkan berbagai
keluhan, meliputi nyeri tajam yang hebat, penurunan fungsi tungkai dalam mobilisasi dan
ketidakmampuan melakukan plantarfleksi, dan respons ansietas pada klien. (muttaqin, A. 2011)
Saat istirahat, tendon memiliki konfigurasi bergelombang akibat batasan di fibrilkolagen.
Stress tensil menyebabkan hilangnya konfigurasi bergelombang ini, hal ini yang menyebabkan pada
daerah jari kaki adanya kurva tegangan-regangan. Saat serat kolagen rusak, tendon merespons secara
linear untuk meningkatkan beban tendon. Jika renggangan yang ditempatkan pada tendon tetap
kurang dari 4 persen- yaitu batas beban fisiologi secara umum serat kembali ke konfigurasi asli
mereka pada penghapusan beban. Pada tingkat keteganganantara 4-8 persen, serat kolagen mulai
meluncur melewati 1 sama lain karena jalinan antar molekul rusak. Pada tingkat tegangan lebih besar
dari 8 persen terjadi rupture secara makroskopik karena kegagalan tarikan oleh karena kegagalan
pergeseran fibriller dan interfibriller.
Penyebab pasti pecah Achilles tendon dapat terjadi tiba-tiba, tanpa peringatan, atau akibat
tendinitis Achilles . Tampaknya otot betis yang lemah dapat menyebabkan masalah. Jika otot-otot
menjadi lemah dan lelah, mereka dapat mengencangkan dan mempersingkat kontraksi. Kontraksi
berlebihan juga dapat menjadi masalah dengan mengarah pada kelelahan otot. Semakin lelah otot
betis, maka semakin pendek dan akan menjadi lebih ketat. Keadaan sesak seperti ini dapat
meningkatkan tekanan pada tendon Achilles dan mengakibatkan kerobekan. Selain itu,
ketidakseimbangan kekuatan otot-otot kaki anterior bawah dan otot-otot kaki belakang yang lebih
rendah juga dapat mengakibatkan cedera pada tendon Achilles. Achilles tendon robek lebih mungkin
ketika gaya pada tendon lebih besar dari kekuatan tendon. Jika kaki yang dorsofleksi sedangkan kaki
bagian bawah bergerak maju dan betis kontrak otot, kerobekan dapat terjadi. Kerobekan banyak
terjadi selama peregangan kuat dari tendon sementara otot betis berkontraksi.
(Price, Sylvia Anderson. 1995.)

e.
a)

Penatalaksanaan

Stabilisasi awal

Setelah diagnosis dibuat, pergelangan kaki harus splinted dalam equinus dengan baik empuk
untuk membantu elevasi mengendalikan pembengkakan.
b)

Nonoperative
orthosis pergelangan kaki

indikasi treatment harus individual kepada pasien Selama 10 minggu berikutnya, pergelangan kaki
secara bertahap dibawa ke posisi plantigrade dengan perubahan cor kira-kira setiap 2 minggu. Berat
tubuh diperbolehkan setelah 6 minggu.Setelah casting, angkat tumit biasanya dipakai selama
beberapa bulan.

c)

Operative
perbaikan langsung

indikasi lebih sering terjadi pada cedera akut (<6 minggu)


rekonstruksi dengan interposisi EDL atau plantaris.
d)

Terapi Fisik

Banyak rehabilitasi tersedia. Umumnya, terapi awalnya melibatkan progresif, gerakan kaki aktif dan
berkembang menjadi berat tubuh dan memperkuat. Ada tiga hal yang perlu diingat saat
merehabilitasi sebuah Achilles pecah:
rentang gerak, Rentang gerak ini penting karena dibutuhkan ke dalam pikiran ketatnya
tendon diperbaiki. Ketika awal rehabilitasi pasien harus melakukan peregangan ringan dan
meningkatkan intensitas sebagai waktu mengizinkan dan nyeri.
kekuatan fungsional, tendon ini penting karena merangsang perbaikan jaringan ikat, yang
dapat dicapai saat melakukan "peregangan pelari," (menempatkan jari-jari kaki beberapa inci
sampai dinding sementara tumit Anda ada di tanah). Melakukan peregangan untuk
mendapatkan kekuatan fungsional juga penting karena meningkatkan penyembuhan pada
tendon, yang pada gilirannya akan menyebabkan kembali cepat untuk kegiatan. Peregangan
ini harus lebih intens dan harus melibatkan beberapa jenis berat bantalan, yang membantu
reorientasi dan memperkuat serat kolagen di pergelangan kaki terluka. Sebuah hamparan
populer digunakan untuk tahap rehabilitasi adalah menaikkan kaki pada permukaan yang
tinggi.
kadang-kadang dukungan orthotic. Ini tidak ada hubungannya dengan peregangan atau
memperkuat tendon, melainkan di tempat untuk menjaga pasien nyaman. Ini adalah
menyisipkan dibuat custom yang sesuai ke dalam sepatu pasien dan membantu dengan
pronasi tepat kaki, yang merupakan yang dapat menyebabkan masalah dengan Achilles.
e)

Operasi
Tindakan operasi dapat dilakukan, dimana ujung tendon yang terputus disambungkan
kembali dengan teknik penjahitan. Tindakan pembedahan dianggap paling efektif dalam
penatalaksanaan tendon yang terputus.
Tindakan non operasi dengan orthotics atau theraphi fisik. Tindakan tersebut biasanya
dilakukan untuk non atlit karena penyembuhanya lama atau pasienya menolak untuk
dilakukan tindakan operasi.

Ada dua jenis operasi, operasi terbuka dan operasi perkutan.


1. Operasi terbuka sayatan dibuat di bagian belakang kaki dan tendon Achilles dijahit bersamasama. Dalam pecah lengkap atau serius tendon plantaris atau otot vestigial lain dipanen dan
melilit tendon Achilles, meningkatkan kekuatan tendon diperbaiki. Jika kualitas jaringan
buruk, misalnya cedera telah diabaikan, ahli bedah mungkin menggunakan mesh penguatan (
kolagen , Artelon atau bahan lainnya degradable).
2. perkutan operasi, ahli bedah membuat beberapa sayatan kecil, bukan satu sayatan besar, dan
menjahit tendon kembali bersama-sama melalui sayatan. Pembedahan mungkin tertunda
selama sekitar satu minggu setelah pecah untuk membiarkan pembengkakan turun. Untuk
pasien menetap dan mereka yang memiliki vasculopathy atau risiko untuk penyembuhan

miskin, perkutan bedah perbaikan mungkin pilihan pengobatan yang lebih baik daripada
perbaikan bedah terbuka. (v.sammarco, MD, et al. 2009)

f.
a.

Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan fisik

Lakukan pemeriksaan umum kaki dan pergelangan kaki, berkonsentrasi pada area tertentu sebagai
berikut:
-

Periksa untuk kelembutan pergelangan kaki posterior, bengkak, atau jeda yang teraba di
tendon
Periksa kekuatan otot. Pasien masih mungkin dapat plantarflex pergelangan kaki dengan
kompensasi dengan otot lain, tetapi kekuatan akan lemah.
Single-ekstremitas meningkat tumit tidak akan mungkin.

Lutut fleksi test:


Periksa posisi istirahat pergelangan kaki dengan lutut tertekuk rawan dan pasien 90 . Kehilangan
tegangan normal soleus istirahat gastrocnemius akan memungkinkan pergelangan kaki untuk
menganggap posisi yang lebih dorsiflexed dari itu di sisi terluka.
b.

Thompson test (simmonds)

Posisi pasien rawan dengan jelas kaki meja. Meremas betis biasanya menghasilkan
plantarflexion pasif pergelangan kaki. jika Achilles tendon tidak dalam kontinuitas, pergelangan kaki
tidak akan pasif flex dengan kompresi otot betis. uji Simmonds ' (alias uji Thompson ) akan positif,
meremas otot betis dari sisi yang terkena sementara pasien berbaring rawan, menghadap ke bawah,
dengan nya kaki menggantung hasil longgar tidak ada gerakan (tidak ada plantarflexion pasif) kaki,
sementara gerakan diharapkan dengan tendon Achilles utuh dan harus diamati pada manipulasi betis
terlibat. Berjalan biasanya akan sangat terganggu, karena pasien akan mampu melangkah dari tanah
menggunakan kaki terluka. Pasien juga akan dapat berdiri di ujung kaki itu, dan menunjuk kaki ke
bawah ( plantarflexion ) akan terganggu. Nyeri bisa menjadi berat dan pembengkakan adalah umum.
c. Tes O'Brien
Tes Obrien juga dapat dilakukan yang memerlukan menempatkan jarum steril melalui kulit
dan masuk ke tendon. Jika hub jarum bergerak dalam arah yang berlawanan tendon dan arah yang
sama dengan jari-jari kaki ketika kaki bergerak naik dan turun maka tendon setidaknya sebagian
utuh.
d. Radiografi
untuk mengevaluasi struktur tulang jika bukti hadir dari patah tuberositas calcaneal dan
avulsion Achilles tendon, radiografi biasanya menggunakan sinar-X untuk menganalisis titik cedera.
Ini sangat tidak efektif untuk mengidentifikasi cedera jaringan lunak. Sinar-X dibuat ketika elektron
energi tinggi menghantam sumber logam. Gambar X-ray diperoleh dengan memanfaatkan
karakteristik redaman yang berbeda padat (misalnya kalsium dalam tulang) dan jaringan kurang
padat (misalnya otot) ketika sinar tersebut melewati jaringan dan terekam dalam film. Sinar-X
umumnya terkena mengoptimalkan visualisasi benda padat seperti tulang, sementara jaringan lunak
masih relatif undifferentiated di latar belakang. Radiografi memiliki sedikit peran dalam penilaian

cedera tendon Achilles dan lebih berguna untuk mengesampingkan luka lain seperti patah tulang
calcaneal.
e. USG
USG dapat digunakan untuk menentukan ketebalan tendon, karakter, dan kehadiran air mata.
Ia bekerja dengan mengirimkan frekuensi yang sangat tinggi suara melalui tubuh Anda. Beberapa
suara yang dipantulkan kembali dari ruang antara cairan interstisial dan jaringan lunak atau tulang.
Gambar-gambar ini tercermin dapat dianalisis dan dihitung ke dalam gambar. Gambar-gambar ini
diambil secara real time dan dapat sangat membantu dalam mendeteksi pergerakan tendon dan
memvisualisasikan luka atau mungkin air mata. Perangkat ini membuatnya sangat mudah untuk
menemukan kerusakan struktural untuk jaringan lunak, dan metode yang konsisten untuk mendeteksi
jenis cedera ini.
f. Magnetic resonance imaging (MRI)
MRI dapat digunakan untuk membedakan pecah lengkap dari degenerasi tendon Achilles,
dan MRI juga dapat membedakan antara paratenonitis, tendinosis, dan bursitis. Teknik ini
menggunakan medan magnet yang kuat untuk menyelaraskan seragam jutaan proton berjalan melalui
tubuh. proton ini kemudian dibombardir dengan gelombang radio yang mengetuk beberapa dari
mereka keluar dari keselarasan. Ketika proton ini kembali mereka memancarkan gelombang radio
sendiri yang unik yang dapat dianalisis oleh komputer 3D untuk membuat gambar penampang tajam
dari area of interest. MRI dapat memberikan kontras yang tak tertandingi dalam jaringan lunak untuk
foto kualitas yang sangat tinggi sehingga mudah bagi teknisi untuk melihat air mata dan cedera
lainnya.
g. Musculoskeletal ultrasonografi
Musculoskeletal ultrasonografi dapat digunakan untuk menentukan ketebalan tendon,
karakter, dan kehadiran air mata. Ia bekerja dengan mengirimkan frekuensi yang sangat tinggi dari
suara melalui tubuh Anda. Beberapa suara yang dipantulkan kembali dari ruang antara cairan
interstitial dan jaringan lunak atau tulang. Gambar-gambar tercermin dapat dianalisis dan dihitung ke
dalam gambar. Gambar-gambar diambil secara real time dan dapat sangat membantu dalam
mendeteksi gerakan tendon dan memvisualisasikan kemungkinan cedera atau air mata. Perangkat ini
membuatnya sangat mudah untuk melihat kerusakan struktural pada jaringan lunak, dan metode yang
konsisten untuk mendeteksi jenis cedera. Pencitraan ini modalitas murah, tidak melibatkan radiasi
pengion dan, di tangan ultrasonographers terampil, mungkin sangat handal.
h. Foto Rntgen
Foo rontgen digunakan untuk melihat tendon yang rusak pada bagian otot tubuh.
(muttaqin, A.2011)

g.

Komplikasi

Komplikasi rupture tendon Achilles yaitu infeksi. infeksi adalah adanya suatu organisme
pada jaringan atau cairan tubuh yang disertai dengan gejala klinis, masuk dan berkembang biaknya
bibit penyakit atau parasit, mikroorganisme kedalam tubuh manusia. Penyakit yang disebabkan oleh
suatu bibit penyakit seperti bakteri, virus, jamur dan lain-lainnya.. (Anonym. 2012)

F.2 ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS


A. PENGKAJIAN DATA DASAR KLIEN
1. Identitas
A.

Identitas klien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, suku/bangsa, agama, pendidikan, pekerjaan,

tanggal masuk, tanggal pengkajian, nomor register, diagnosa medik, alamat, semua data
mengenai identitaas klien tersebut untuk menentukan tindakan selanjutnya.
B.

Identitas penanggung jawab


Identitas penanggung jawab ini sangat perlu untuk memudahkan dan jadi

penanggung jawab klien selama perawatan, data yang terkumpul meliputi nama, umur,
pendidikan, pekerjaan, hubungan dengan klien dan alamat.
2.

Riwayat Kesehatan

A.

Keluhan utama
Merupakan keluhan yang paling utama yang dirasakan oleh klien saat pengkajian.

B.

Riwayat kesehatan sekarang


Merupakan pengembangan diri dari keluhan utama melalui metode PQRST, paliatif

atau provokatif (P) yaitu focus utama keluhan klien, quality atau kualitas (Q) yaitu
bagaimana nyeri/gatal dirasakan oleh klien, regional (R) yaitu nyeri/gatal menjalar kemana,
Safety (S) yaitu posisi yang bagaimana yang dapat mengurangi nyeri/gatal atau klien merasa
nyaman dan Time (T) yaitu sejak kapan klien merasakan nyeri/gatal tersebut.
C.

Riwayat kesehatan yang lalu


Perlu dikaji apakah

klien

pernah menderita penyakit sama atau pernah di

riwayatsebelumnya.
D.

Pemeriksaan fisik

Head to toe
1. Kepala dan wajah :pucat, bibirsianosis.
2. Leher :peninggian vena jugularis.
3. Dada :adajejas trauma tajam dan tumpul di daerah dada, tanda kusmaul, takipnea, bunyi
jantung melemah / redup dan pekak jantung melebar.
4. Abdomen dan pinggang :tidak ada tanda dan gejala.
5. Pelvis dan Perineum :tidak ada tanda dan gejala.
6. Ekstrimitas :pucat, kulit dingin, jaritangan dan kaki sianosis.

B. ANALISA DATA
No

Sympoms

Etiologi

Masalah
keperawatan

Ds:
-

melaporkan nyeri secara verbal

konfresi saraf,
kerusakan
neuromuskuloske
letal

Nyeri Akut

Do:
-

perubahan selera makan

perubahan tekanan darah

perubahan frekwensi pernapasan

laporan isyarat

diaforesisi

prilaku distraksi

mengekspresikan prilaku seperti: gelisah ,


merengek, menangis)

masker wajah( mata kurang bercahaya, tampak


kacau)

sikap melindungi area nyeri

focus menyempit

indikasi yang dapat diamati

perubahan posisi untuk menghindari nyeri

dilatasi pupil

gangguan tidur

internal:
kelemahan, penglihatan menurun, penurunan sensasi
taktil, penurunan koordinasi otot, tangan-mata,
kurangnya edukasi keamanan, keterbelakangan
mental,
Eksternal:
lingkungan.

ketidak

mampuan Resiko tinggi trauma

mengerakkan tungkai
bawah

dan

ketidaktahuan

cara

mobilisasi

yang

adekuat
3

Factor-faktor resiko:
port de entre luka Resiko infeksi
prosedur invasif,
pasca-bedah,
- kerusakan jaringan dan peningkatan paparan
lingkungan,
- malnutrisi,
- peningkatan
paparan lingkungan pathogen,
- Imunosupresi
- tidak adekuat pertahanan sekunder(penurunan
Hb, leucopenia, penekanan respon inflamasi)
- penyakit kronik
- malnutrisi

perubahan primer tidak adekuat( kerusakan kulit,


trauma jaringan, gangguan peristaltic).

Do:
- penurunan waktu reaksi
- kesulitan membolak balikan tubuh
- asyik dengan aktivitas lain sebagai pengganti
pergerakan
- disonea saat beraktivitas
- perubahan cara berjalan
- pergerakan menyentak
- keterbatasan kemampuan tuntuk melakukan
keterampilam motoric halus
- keterbatasan
kemampuan
melakukan
keterampilan motprik kasar
- keterbatasan rentang gerak sendi
- tremor yang diindikasi oleh pergerakan
- ketidakstabilan postur tubuh
- melambatnya pergerakan
- gerakan tidak teratur atau tidak terkoordinasi

Hambatan mobilitas
gangguan
fisik
metabolisme sel,
keterlambatan
perkembangan
pengobatan
kurang support
lingkungan
keterbatasan
ketahanan
kardiovaskuler
kehilangan
integritas struktur
tulang

(Buku saku diagnose keperawatan, 2011)

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan yang sering muncul pada klien rupture tendon Achilles.
1.

Nyeri Akut b.d konfresi saraf, kerusakan neuromuskuloskeletal d.d melaporkan nyeri
secara verbal, perubahan selera makan, perubahan tekanan darah, perubahan frekwensi
pernapasan, laporan isyarat, diaforesisi, prilaku distraksi, mengekspresikan prilaku seperti:
gelisah , merengek, menangis), masker wajah( mata kurang bercahaya, tampak kacau),
sikap melindungi area nyeri, focus menyempit, indikasi yang dapat diamati, perubahan
posisi untuk menghindari nyeri, dilatasi pupil , gangguan tidur, Resiko tinggi trauma b.d
ketidak mampuan mengerakkan tungkai bawah dan ketidaktahuan cara mobilisasi yang
adekua

2.

Resiko tinggi trauma b.d ketidak mampuan mengerakkan tungkai bawah dan ketidaktahuan
cara mobilisasi yang adekuat d.d internal: kelemahan, penglihatan menurun, penurunan
sensasi taktil, penurunan koordinasi otot, tangan-mata, kurangnya edukasi keamanan,
keterbelakangan mental, Eksternal:lingkungan.

3.

Resiko tinggi infeksi b.d port de entre luka pasca-bedah d.d Factor-faktor resiko,:
prosedur invasif,, kerusakan jaringan dan peningkatan paparan lingkungan, malnutrisi,
peningkatan , paparan lingkungan pathogen, Imunosupresi, tidak adekuat pertahanan
sekunder(penurunan Hb, leucopenia, penekanan respon inflamasi). penyakit kronik,

malnutrisi, perubahan primer tidak adekuat( kerusakan kulit, trauma jaringan, gangguan
peristaltic).
4.

Hambatan mobilitas fisik b.d gangguan metabolisme sel, keterlambatan perkembangan,


pengobatan, kurang support lingkungan, keterbatasan ketahanan kardiovaskuler, kehilangan
integritas struktur tulang d.d penurunan waktu reaksi, kesulitan membolak balikan tubuh,
asyik dengan aktivitas lain sebagai pengganti pergerakan, disonea saat beraktivitas,
perubahan cara berjalan, pergerakan menyentak, keterbatasan kemampuan tuntuk
melakukan keterampilam motoric halus, keterbatasan kemampuan melakukan keterampilan
motprik kasar, keterbatasan rentang gerak sendi, tremor yang diindikasi oleh pergerakan,
ketidakstabilan postur tubuh, melambatnya pergerakan, gerakan tidak teratur atau tidak
terkoordinasi

5.

Ansietas b.d rencana pembedahan, kondisi fisik, perubahan peran keluarga, kondisi status
sosioekonomi
(Buku saku diagnose keperawatan, 2011)

F.3 ASUHAN KEPERAWATAN KASUS


Kasus
Tn. X berusia 35 tahun datang ke UGD RSUP.Saiful jamil dengan keluhan nyeri hebat pada
daerah belakang pergelangan kaki kirinya. Sekitar 2 jam yang lalu pasien bermain basket, dan saat
merebut bpla dan melompat untuk memasukkan bola ke ring basket, tiba-tiba kaki kirinya berbunyi
krek, dan pasien langsung terjatuh dan meraung kesakitan yang sangat hebat. Pasien tidak mampu
merdiri sendiri dan akhirnya dibopong oleh teman-temannya keluar lapangan dan langsung dibawa
ke UGD RSUP.Saiful jamil. Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum baik, vital sign TD:
130/90 mmHg , RR : 28x/mnt, Hr = 105x/i. pada pergelangan kaki bagian belakang didapatkan
edema, nyeri bila ditekan terasa panas terbakar dan berdenyut, sewaktu ditanya nyeri yang sirasakan
termasuk kategori myeri berat dengan skala 8 (0-10 ). Dengan ekspresi wajah menahan nyeri
menyeringai. Pasien hanya terbaring lemah ditempat tidur, tidak melakukan aktifitas seperti semula,
aktifitas hanya dapt dilakukan ditempat tidur seperti membaca buku, makan dan minum, jika hendak
BAK kekamar mandi pasien dibantu keluarganya. Pada test Simmonds tidak didapatkan di plantar
fleksi kaki. Pada pemeriksaan radiologi pasien disarankan menjalani operasi penyambungan kembali
tendo yang terputus yaitu gastrocnemius, soleus dan otot plantaris.

A. PENGKAJIAN
1. Identitas Umum

Nama

: Tn. X

Umur

: 35 tahun

Pekerjaan

: -

Jenis kelamin

: Laki-laki

Tgl MRS

:-

2. Riwayat Kesehata
a. Keluhan Utama
Nyeri hebat pada daerah belakang pergelangan kaki kirinya
b. Riwayat Penyakit Sekarang (RPS)
-

Provocative/palliative:

Quality/quantity: nyeri Berat

Region/radiation: Pergelangan Kaki bagian belakang

Severitty scales : skala 8 (0-10)

Timing:

c. Riwayat penyakit terdahulu (RPD) : d. Riwayat keluarga : -

3. 11 pola fungsi :

Persepsi :

Nutrisi : -

Eliminasi : pasien jika hendak BAK kekamar mandi pasien dibantu keluarga

Aktivitas /istirahat : pasien hanya terbaring lemah di tempat tidur, tidak dapat melakukan
aktifitas sepertisemula, aktifitas hanya dilakukan ditempat tidur seperti membaca buku,
makan, dan minum.

Pola interaksi social :-

Pola peran/hubungan :-

Reproduksi /seksual : -

Toleransi stress/koping : -

Nilai /keyakinan : -

4. Pemeriksaan Fisik

Kepala dan wajah

Leher

: Tidak ada tanda dan gejala

Dada

: Tidak ada tanda dan gejala

Abdomen dan pinggang : Tidak ada tanda dan gejala.

Pelvis dan Perineum : Tidak ada tanda dan gejala.

Ekstrimitas

: Tidak ada tanda dan gejala

: pada pergelangan kaki kiri bagian belakang didapatkan

edema, nyeri bila ditekan terasa panas terbakar dan berdenyut.


5. Tanda-tanda vital
Tekanan Darah

:130/90 mmHg normal : 110/80 130/90 mmhg

Suhu

:-

normal :

Nadi

:105 x/i

normal :

Respirasi Rate

:28 x / mnt

normal : 16-24 x / menit

6. Data penunjang
Tes Simmonds tidak didapatkan di plantar fleksi kaki

7. Data Fokus
Data Subjektif

Data Objektif

1. klien mengatakan nyeri yang dirasakan 1. Didapatkan HR : 105 x/i


termasuk kategori berat dengan skala 8(0-10)

2. Didapatkan RR: 28 x /mnt


3. Ditemukan Edema
4. Ditemukan nyeri bila ditekan terasa panas
terbakar dan Berdenyut
5. Ditemukan ekspresi wajah klien menahan
nyeri menyeringai.
6. Didapatkan pasien hanya terbaring lemah di
tempat tidur, tidak dapat melakukan asktifitas
seperti semula.
7. Aktivitas hanya dapat dilakukan di tempat
tidur seperti membaca buku, makan dan minum.
8. Jika hendak BAK ke kamar mandi pasien
dibantu keluarganya.
9. Pada saat tes simmonds tidak didapatkan di
plantar fleksi kaki.

B. ANALISA DATA
NO

Symtoms

Etiologi

Masalah
Keperawatan

Ds:
- klien

mengatakan

nyeri

yang

konfresi saraf,
kerusakan
neuromuskuloskeletal

Nyeri Akut

dirasakan termasuk kategori berat


dengan skala 8(0-10)
Do:
- Didapatkan RR: 28 x /mnt
- Ditemukan nyeri bila ditekan terasa
panas terbakar dan Berdenyut
-

Ditemukan ekspresi wajah klien


menahan nyeri menyeringai

Ds:
Do:
- Didapatkan RR: 28 x /mnt
- Didapatkan HR : 105 x/i

Cedera vaskularisasi

Gangguan
jaringan

perfusi

Ditemukan Edema

Ds:

Gangguan muskuloskletas( Hambatan Mobilitas

Do:

rupture tendon Achilles)

Ditemukan Edema

Didapatkan pasien hanya terbaring

Fisik

lemah di tempat tidur, tidak dapat


melakukan

asktifitas

seperti

semula.
-

Aktivitas hanya dapat dilakukan di


tempat tidur seperti membaca
buku, makan dan minum.
Jika hendak BAK ke kamar mandi
pasien dibantu keluarganya.
Pada saat tes simmonds tidak
didapatkan di plantar fleksi kaki.

(Buku saku diagnose keperawatan, 2011)

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri Akut b.d konfresi saraf, kerusakan neuromuskuloskeletal d.d klien mengatakan
nyeri yang dirasakan termasuk kategori berat dengan skala 8(0-10), Didapatkan RR: 28 x
/mnt, Ditemukan nyeri bila ditekan terasa panas terbakar dan Berdenyut, Ditemukan
ekspresi wajah klien menahan nyeri menyeringai
2. Gangguan perfusi jaringan b.d Stress fisik akibat cidera d.d Didapatkan RR: 28 x /mnt,
Didapatkan HR : 105 x/I, Ditemukan Edema
3. Hambatan Mobilitas Fisik b.d Gangguan muskuloskletas( rupture tendon Achilles) d.d
Ditemukan Edema, Didapatkan pasien hanya terbaring lemah di tempat tidur, tidak dapat
melakukan asktifitas seperti semula. Aktivitas hanya dapat dilakukan di tempat tidur
seperti membaca buku, makan dan minum, Jika hendak BAK ke kamar mandi pasien
dibantu keluarganya., Pada saat tes simmonds tidak didapatkan di plantar fleksi kaki