Anda di halaman 1dari 60

PRINSIP-PRINSIP

RADIOTERAPI
OLEH:

DR. H. JASRIL JAHIDIN, Sp Rad(K) Onk Rad


BAGIAN RADIOLOGI RSMH / FK UNSRI
PALEMBANG
2009

Radioterapi adalah suatu cara pengobatan


penyakit-penyakit
keganasan
dengan
menggunakan sinar pengion.

Cara pengobatan dengan sinar pengion ini mulai


digunakan sejak ditemukannya sinar X oleh
W. C Rontgen tahun 1895, Radium oleh Pierre
dan Marrie Currie tahun 1896 serta sifat-sifat
radioaktifitas oleh Bacquerel tahun 1901.
Pada saat itu radioterapi banyak digunakan
untuk berbagai jenis kanker kulit serta tumortumor yang letaknya superficial.

Bahkan mereka juga menggunakannya


untuk berbagai kelainan yang tak ada
hubungannya sama sekali dengan
neoplastik, seperti: Acne, arthritis, Exzem,
atau Veruca.
Tetapi timbul permasalahan baru, karena
tumor-tumor yang tadinya hilang kambuh
kembali dan kerusakan-kerusakan pada
jaringan mulai tampak.

Selama lebih kurang 20 tahun radioterapi


mengalami masa kegelapan dan evolusinya.
Perkembangan baru timbul setelah Claude
Regaud, dkk (1920) berhasil menghentikan
spermatogenesis secara permanen pada hewan
percobaan dengan dosis radiasi secara fraksinasi.
Sedangkan
dengan
dosis
tunggal
gagal
memberikan efek biologis yang sama, bahkan
memberikan kerusakan jaringan sehat yang lebih
parah dibandingkan dengan dosis fraksinasi.
Serupa halnya dengan spermatogenesis secara
permanent pada hewan percobaan dengan dosis
radiasi secara fraksinasi.

Serupa halnya dengan spermatogenesis , pada


sel-sel kanker juga ditemukan tingkat mitosis
yang tinggi.
Dengan mengambil analog ini Claude Regaud dkk
menerapkan teknik fraksinasi. Serupa halnya
dengan spermatogenesis, pada sel-sel kanker
juga ditemukan tingkat mitosis yang tinggi.
Dengan mengambil analog ini Claude Regaud dkk
menerapkan teknik fraksinasi dosis ini pada
pengobatan kanker dan teknik ini digunakan oleh
orang sampai sekarang, walaupun demikian
pemberian dosis tunggal pada keadaan tertentu
masih digunakan orang.

Radioterapi adalah suatu terapi lokal.


Volume radiasi, yaitu besar jaringan yang
di radiasi sampai suatu dosis terapeutik,
harus
ditentukan
sedemikian
rupa
sehingga semua bagian tumor masuk ke
dalamnya.
Memilih volume yang lebih besar dengan
alasan demi amannya akan merusak
jaringan normal sekitarnya. Tetapi jika
volume radiasi terlalu kecil akan timbul
residif pinggiran.

RADIOBIOLOGI
Radiobiologi adalah ilmu yang mempelajari aspek
biologik yang ditimbulkan oleh radiasi.
Ilmu yang usianya relatif amat muda
berhubungan erat dengan ilmu radioterapi.

ini

Ilmu inilah yang menerangkan hubungan antara


dosis radiasi dengan survival dari sel yang
mendapat radiasi, faktor-faktor apa saja yang
mempengaruhi kepekaan sel tumor terhadap
radiasi (radiosensitifitas), pentingnya pemberian
dosis secara fraksinasi.

Radiosensitifitas yang
merupakan kepekaan dari sel atau
jaringan terhadap sinar pengion
tersebut dipengaruhi oleh
beberapa faktor, yaitu :
I. Intrasellular
II. Jaringan
III. Pengaruh luar

I. Intrasellular
Menurut Barganie Trebandeau; sensitifitas sel
berhubungan erat dengan:
1.Daya proliferasi sel
Radiosensitifitas meningkat bila daya
proliferasi sel tersebut meningkat, misalnya
sel-sel gonad.
2. Mitosis sel
Sel-selnya mitosisnya berlangsung lama,
maka sensitifitasnya juga meningkat.
3. Differensial sel
Sel-sel yang tinggi differensinya, maka sensitifitasnya
rendah, makin tinggi differensial sel tersebut, maka
makin rendah sensitifitasnya, sebaliknya makin
rendah atau makin jelek differensiasinya sel maka
makin tinggi sensitifitasnya.

Oleh karena itu gambaran Patologi


Anatomi/
Histopatologi
sangat
penting, sebab radiosensitifitas tinggi,
maka dosis radiasi yang diperlukan
lebih kecil.
Sedangkan pada sel yang mempunyai
radiosensitifitas
rendah
akan
diperlukan dosis radiasi yang lebih
besar.

II. Jaringan
Berbeda jaringan berbeda pula
sensitifitasnya. Dalam hal ini dibagi
dalam empat golongan, yaitu
1. Sangat sensitif, misalnya:
a. Gonad
b. Haemopoitik sistem
c. Limpoid sistem

2. Cukup sensitif
a. sel epitel mukosa, kulit, buli-buli,
cornea, lensa mata, mikrovaskuler
b. sel-sel syaraf otak pusat, otak sampai
medulla spinalis
c. tulang rawan yang sedang tumbuh,
kecuali mukosa vagina dan
endometrium yang dapat menahan
dosis radiasi 20.000-40.000 cGy.

3. Kurang sensitif
- otot, tulang,
rawan dewasa

dan

tulang

4. Resisten
- Jaringan ikat dan serabut
syaraf

Radiosensitifitas tumor lebih kurang


sebanding dengan jaringan asalnya,
kecuali pada beberapa jaringan yang
cukup sensitif:
Melanoma maligna walaupun
dari epitel tetapi sensitifitasnya
rendah
Adeno carcinoma sentifitasnya
rendah

Ginjal kalau dilihat isinya adalah


epitel yang termasuk golongan
cukup
sensitif,
tetapi
secara
fungsional sangat sensitif (toleransi
ginjal tidak lebih dari 2600 cGy),
tetapi:
Grawits tumor sensitifitasnya
rendah
Willms tumor sangat sensitif
(embryonal)

III. Pengaruh Luar


1.Oxygen:
Hyperbaric radiasi, penderita
menghisap oxygen sebanyakbanyaknya sehingga saturasi
meningkat
dan
akibatnya
sensitifitasnya meningkat pula.
Disini dapat menggunakan:
a.Tank saturated oxygen atau
b. Masker oxygen

2. Bahan-bahan kimia

a.Radiosensitizer
yaitu bahan- bahan yang
bersifat meningkatkan
sensitifitas tumor, misalnya:
- 5 FU
- MTX
- Actinomycine D
- Metrodinazole (Flagyl)

b. Radioprotektor
yaitu bahan-bahan yang
bersifat melindungi jaringan
yang sehat/ menurunkan
sensitifitas, misalnya:
- Cysteine
- Glutation

3. Temperatur
Konsep hyperthermia, berdiri sendiri
dalam
pengobatan
kanker
dan
termasuk
ke
dalam
radiology
(temperatur di atas 41 derajad celsius
sensitifitasnya meningkat).
Tetapi pada demam tinggi karena
infeksi tidak boleh di atas 41 derajad
Celsius sensitifitasnya meningkat).
Tetapi pada demam tinggi karena
infeksi tidak boleh diradioterapi karena
dapat menyebabkan septicemia.

Bila radiasi pengion mengenai


sel/ persenyawaan maka yang
mengalami efek terberat adalah
yang:
jumlahnya banyak
molekulnya besar
tak stabil

Radiasi pengion yang mengenai sel


dapat berpengaruh berupa:
a. Kematian sel langsung, hal ini
timbul sebagai akibat penyerapan
sejumlah partikel yang
menyebabkan kerusakan
bermacam-macam isi struktur sel.
b. Pertumbuhan yang dihambat,
karena disintegrasi sebagian
protoplasma.

c. Penekanan pembelahan sel, karena


pengaruh pada pusat motorik sel.
d. Penekanan pembelahan sel, karena
pengrusakan sentriole dari sel
e. Kelainan dalam pembelahan sel,
karena rusaknya khromatin dari inti
f. Malformasi herediter, karena
rusaknya khromosom.

RADIOTERAPI MENURUT CARA


PEMBERIANNYA

I. Radiasi eksterna/ Teleterapi


Sumber:
X-ray; 40-120 KVSuperfisial
120-230 KV--Orthovoltage
230-1 MeV Orthovoltage
Linec; MeV 60--Megavoltage
MeV 74-- Megavoltage
Co60, Cs 137-- Megavoltage

II. Radiasi interna


Disini menggunakan aplikator, dimana
aplikator
dipasang
terlebih
dahulu
kemudian baru dimasukkan radioaktif.

Saat ini cara tersebut lebih dikenal


dengan
teknik
Afterloading
dan
digunakan untuk pengobatan kanker
mulut rahim atau kanker nasofaring.
Sumber radiasi dapat: Co 60 atau Cs 137

III.Interstitial therapy
Disini source dari radioaktif
langsung diimplantasikan pada
tumor biasanya tumor-tumor yang
letaknya superficial.
Sumber radiasi dapat: Co 60, Cs
137 atau jarum radium.
IV.Systemic irradiation : I 131.

INDIKASI RADIOTERAPI
Radioterapi dapat diberikan pada:
1. Tumor-tumor paling sedikit
radioresponsif
2. Tumor-tumor yang tidak dapat
dilakukan operasi, misalnya:
- kanker nasofaring
- tumor mediastinum

3.tumor-tumor yang secara statistik


dengan radioterapi mempunyai rate
lebih rendah, tetapi:
- fungsi alat masih dapat dipertahankan
- bila terjadi residif fungsi alat masih dapat
dilakukan operasi , misalnya:
> kanker laring
> kanker buli-buli

4. Penyakit yang multifokal, misalnya


Lymphoma maligna.
5. Tumor-tumor yang cepat
bermetastase, misalnya:
- reticulum cell sarcoma
- oat cell carcinoma paru

RADIOTERAPI SEBAGAI
TINDAKAN KURATIF
Dengan
kemajuan
teknologi
dan
pengalaman serta dibantu dengan catatancatatan kasus yang teliti dalam jangka
panjang, sekarang seorang ahli radioterapi
dapat menggunakan terminologi CURE
dengan keyakinan yang sama dengan
seorang ahli bedah, sedangkan dahulu
orang beranggapan bahwa radioterapi
hanya dapat digunakan untuk pengobatan
paliatif penyakit kanker.

Sebenarnya yang menjadi masalah


dalam terapi kanker bukanlah tumor
dini, tetapi tumor yang lanjut (locally
advanced), sedangkan untuk tumor
yang dini terapinya dapat dikatakan
boleh pilih operasi saja atau
radioterapi saja

Kanker Larynx stadium I lebih dipilih


radioterapi karena dengan keuntungan
tanpa terganggunya fungsi pita suara,
demikian juga dengan kanker mulut
rahim stadium I.

Sebagaimana halnya dengan terapi


bedah, maka terapi radiasi juga
bersifat lokal, sehingga jika terjadi
adanya
metastase
jauh,
maka
tindakan utama umumnya bukanlah
radioterapi, kecuali pada keadaankeadaan tertentu yang tujuannya
bukan lagi kuratif, mungkin hanya
untuk paliatif.

Radioterapi kuratif ini harus memenuhi


beberapa syarat:
1. Jenis sel, bagaimana differensiasi dan
mitosisnya, sebab hal menentukan:
-dosis total
-lapangan radiasi
2. Stadium, bagaimana:
T (tumor primer)
N (metastasis regional)
M (Metastasis jauh)

3. Keadaan umum:
- gizi harus baik
- Hb harus baik, minimal untuk dapat
dilakukan radioterapi Hb > 10 gr
- leukosit > 3000/mm3
Dosis kuratif umumnya berkisar
antara 6000-7000 cGy, sedangkan
dosis paliatif 2/3 dosis kuratif.

HUBUNGAN RADIOTERAPI
DENGAN OPERASI
1. Radioterapi preoperasi, dapat
dilakukan pada:
a. keadaan dimana ahli bedah
ragu akan operabilitas tumor.
b. tumor yang operable tetapi
terlalu besar.

c. tumor dengan perdarahan yang


banyak, misalnya kanker kandung
kencing.
d. mencegah metastasis jauh akibat
manipulasi operasi.

2. Radiasi post operasi, dilakukan jika


ahli bedah menghadapi beberapa
hal, misalnya:
a. Tumor tidak bebas (melekat
jaringan sekitarnya).
b. Kelenjar regional secara klinis
positif.
c. Tepi sayatan tidak bebas tumor.
d. Ditemukan kelenjar positif
walaupun klinis negatif.

e.Tumor yang menginfiltrasi lebih


setengah muskularis mukosa.
f. Dari segi statistik tumor-tumor tertentu
memerlukan radiasi post operasi,misalnya
kanker payudara, seminoma testis.

3. Sandwich technic
Radiasi dulu kemudian operasi dan
dilanjutkan kembali radiasi.

HUBUNGAN RADIOTERAPI
DENGAN SITOSTATIKA
1. Preradiasi
2. Durante radiasi
3. Pasca radiasi

Sebagai pegangan umum:


Sebaliknya sitostatika dan radiasi tidak
diberikan bersama-sama, sebab efek samping
satu dengan lainnya dapat lebih berat.
Jika akan diberikan juga bersama-sama,
sitostatika
yang
diberikan
adalah
Radiosensitizer.
Sebaiknya sitostatika diberikan preradiasi atau
pascaradiasi yang tergantung pada tujuan
pemberian sitostatika tersebut apakah:
a. Untuk mengatasi sel-sel tumor atau
b. Hanya sekedar mengontrol mikrometastasis

Bila untuk mengatasi sel-sel tumor


primer di mana tumornya cukup
besar, maka kita berikan sitostatika
preradiasi, sebab jika diberikan
pascaradiasi vascular bed sudah
terganggu akibat radiasi sehingga
obat (khemoterapi) tidak dapat lagi
melalui darah dengan adequate.

Tetapi walaupun demikian masih


dapat juga diberikan radiasi jika
dosis hanya 3000-4000 cGy dimana
vascular bed belum mengalami
kerusakan yang berarti sehingga
sitostatika dapat memasuki vascular
bed tumor.

RADIOTERAPI CITO
Pada keadaan emergency ini
pemeriksaan patologi anatomi (PA)
dan staging dapat ditinggalkan dulu
dan kita utamakan pemberian
radioterapi.
Setelah keadaan gawat teratasi baru
kita lakukan pemeriksaanpemeriksaan yang perlu dilakukan.

Yang termasuk ke dalam indikasi Cito radiasi


adalah:
1. VCSS (Vena Cava Superior Syndrome), karena
penekanan tumor mediastinum yang menekan
vena cava superior.
2. Perdarahan yang tidak dapat dihentikan secara
konvensional, misalnya kanker mulut rahim.
3. Penyumbatan atau penekanan jalan nafas oleh
tumor.
4. Kerusakan tulang belakang yang secara
radiologis dan klinis karena tumor primer atau
metastase sehingga mengancam terjadinya
paraplegia.

5. Kerusakan tulang panjang yang secara


radiologis dan klinis karena tumor primer
atau metastase yang menyebabkan
terjadinya ancaman fraktur (fraktur
patologis), terutama pada tungkai bawah
mengancam mobilitas (pergerakan)
penderita.
6. Proses retrobulbar yang tumbuh dengan
cepat dan mengancam terjadinya
proptosis dan kebutaan.

Radiasi cito tidak ada pilihan paliatif


atau kuratif, tujuan:
Menghentikan gejala ancaman
terhadap kehidupan penderita
VCSS, perdarahan dan obstruksi
jalan nafas.
Mencegah terjadinya immobilisasi
penderita (mencegah fraktur dan
paraplegia).

EFEK SAMPING RADIOTERAPI


I. UMUM
Efek samping radioterapi yang
bersifat umum ini adalah akibat
kematian sel-sel tumor oleh
radiasi, misalnya mual, muntah,
berdebar-debar.
Dalam hal ini sebenarnya tidak
perlu terapi khusus.

Efek samping umum tidak


tergantung lokalisasi penyinaran
tetapi tergantung volume
penyinaran.
Bila volume penyinaran sama,
maka berat ringan efek sampingnya
pun sama.

II. LOKAL
1. Kulit
a. Akut; timbul terjadi karena volume
dan dosis yang berlebihan atau
karena toleransi penderita. Dapat
berupa:
- dermatitis akut eritematosa
- bulosa
- bulla yang pecah atau eskoriatika

b. Kronis; timbul karena penyinaran


dengan dosis kecil dalam waktu
lama, akibatnya berupa:

atropi
depigmentasi
telangiektasis
keganasan (biasanya Carcinoma
planocellulare)

2. Selaput lendir (mukosa)


Tahap perubahan pada selaput
lendir sama dengan kulit, tetapi di
sini lebih sensitif.
Bila terjadi fibrin-fibrin pada
mukosa, maka pada keadaan ini
terapi radiasi dihentikan.

3. Organ-organ
Efek samping pada organ-organ tubuh
tergantung dari jumlah dosis dan
toleransi serta luasnya organ tersebut
yang terkena radiasi.
Dapat berupa:

a. Jaringan saraf pusat (CNS):


termasuk resisten, maksimal 6000 cGy
dapat terjadi edema cerebri, gejalagejala kerusakan

b. Jaringan tulang:
termasuk resisten
jika lebih dari 6000 cGy dapat
terjadi nekrosis/porosis
c. Myelum:
dosis 3000 cGy dapat terjadi
transient myelitis (Lermitte sign),
misalnya radiasi Ca nasofaring
Critical dose 6000 cGy

d. Tulang rawan:
lebih sensitif dari tulang
terjadi kerusakan yang irreversible
bila lebih dari 5000 cGy
e. Mata:
1500-3000 cGy terjadi katarak
lentis
lebih dari 3000 cGy terjadi keratitis
lebih 5000 cGy terjadi retinitis

f. Gigi-geligi:
bila ada caries diangkat dulu karena
dapat menyebabkan osteoradionecrosis
kadang-kadang gigi terasa ngilu yang
reversible
g. Paru:
pada radiasi Ca mammae dapat terjadi
Pneumonitis radiation (batuk-batuk
tanpa infiltrat paru)
fibrosis paru terjadi bila lebih dari 5000
cGy

h. Hepar:
bila terkena 1/3 hepar dapat sampai
4000 cGy, tetapi jika lebih dari 1/3
bagian hepar tidak boleh lebih dari 3000
cGy
bila terjadi radiasi pada hepar yang
melebihi batas toleransi, mula-mula
terjadi hepatitis radiation, kemudian
fibrosis dan cirhosis
i. Ginjal:
- tidak boleh lebih dari 2600 cGy

j. Traktus gastrointerstinal:
diare, bila symptomatis
bila gejala agak berat split setelah 4000
cGy
bila diare beserta darah, radiasi stop
k. Pendengaran:
- berkurangnya pendengaran karena
edema tuba

l. Vesica urinaria:
- sakit kencing, cystitis setelah 4000 cGy

m. Rambut:
epilasi, dapat reversible jika sampai
4000 cGy
n. Gonad:
sangat sensitif, dosis kecil dapat
menyebabkan mutasi gene (lebih kurang
500 cGy)
dosis radiasi lebih dari 1200 cGy dapat
menimbulkan kastrasi (hal ini sering
digunakan pada Ca mammae sebagai
hormonal terapi) yang fungsinya identik
dengan operasi kastrasi.

Foetus jika berumur:


- kurang 3 minggu : mati
- 3-6 minggu
: kongenital
anomali
- lebih 6 minggu
: gangguan
pertumbuhan