Anda di halaman 1dari 27

Gangguan Pola

Pernapasan Dispnea
Levina Septembera
Co-Ass Penyakit Dalam
FK. UKRIDA Rs. Bhakti Yudha
Depok

Dispnea
Definisi :
Dispnea adalah gejala subjektif berupa
keinginan penderita untuk meningkatkan
upaya mendapatkan udara pernapasan.

Menurut Posisi Tubuh:


Ortopneu

Dispnea

dalam

keadaan

berbaring.
Platipneu : Dispnea pada keadaan tegak
atau membaik dalam keadaan berbaring.
Trepopneu : posisi bertumpu pada sebelah
sisi, penderita dispnea dapat bernapas lebih
enak.

Menurut Posisi Tubuh:


Paroxysmal nocturnal dyspnea (PND) :

sesak napas yang terjadi tiba-tiba pada saat


tengah malam setelah penderita tidur selama
beberapa jam.
Exertional dyspnea : dispnea yang
disebabkan karena melakukan aktivitas.

Etiologi
1. Peningkatan kebutuhan pernapasan : saat

latihan, demam, anemia berat, asidosis


metabolik
2. Penurunan kapasitas ventilasi : efusi
pleura, pneumothoraks, massa intrathoraks
3. Peningkatan resistensi saluran napas :
asma, PPOK
4. Penurunan compliance paru : edema pasru

Anamnesis
1. Awitan mendadak / perlahan-lahan, frekuensi,

durasi, faktor pencetus


2. Tanya yang mengarah pada gejala klinis :
a. Nyeri dada : emboli paru, iskemik miokard
b. Riwayat batuk : sekret purulen : proses primer
paru
Batuk kering : pasien jantung
BB turun / kering malam : kanker / infeksi paru
kronik jantung

ATS Dyspnea Index


3. Perubahan Posisi :
a. Platipnea : Berhub. dengan penyakit hati
kronik.
b. PND dan Ortopnea : kebanyakan terjadi pada
penyakit jantung
4. Riwayat merokok, obat-obatan yang digunakan,
hipertensi dan paparan kerja

Klasifikasi Dispnea :
Berdasarkan penyebabnya :
Organik x Fungsional.
Onset cepat x Onset lambat.

Paru x Ekstra paru.

Berdasarkan beratnya
Grade 1 s/d grade 5

ATS Dyspnea Index


Grade 1 : Normal

Grade 2 : Pasien dapat berjalan mengiringi orang

sehat di tempat datar tanpa sesak napas, tapi tidak


bisa jalan mendaki atau menaiki tangga tanpa
timbul sesak napas
Grade 3 : Pasien tidak dapat berjalan beriringan
dengan orang sehat di tempat datar tapi dapat
berjalan tanpa sesak dengan kecepatan jalannya
sendiri

ATS Dyspnea Index


Grade 4 : Pasien tidak dapat berjalan lebih dari

100 yard.
Grade 5 : pasien tidak dapat berjalan tanpa sesak
napas, bahkan sesak napas timbul saat mandi atau
berpakaian.

Ciri Khas Dispnea pada Penyakit


Penyakit Paru Parenkim Difus : Pasien terlihat

takpnea dengan PCO2 dan PO2 arterial dibawah


nilai normal. Volume paru menurun, dan paruparu menjadi lebih kaku.
Penyakit Oklusi Vaskuler Pulmoner : serangan
dispnea yang berulang-ulang pada waktu istirahat
sering ditemukan pada emboli paru yang rekuren.
Hasil analisa gas darah arterial hampir selalu
abnormal, tetapi volume paru seringkali normal
atau hanya memperlihatkan abnormalitas yang
ringan.

Ciri Khas Dispnea pada Penyakit


Penyakit pada dinding dada atau otot respirasi :

seperti kifoskoliosis yang berat, pektus


ekskavatum atau spondilitis.
Meskipun kapasitas vital, volume paru dan
kecepatan aliran udara tetap normal pada pektus
ekskavatum, kompresi jantung akibat sternum
yang bergeser ke posterior pada kasus-kasus yang
berat dapat mengganggu pengisian diastolik
ventrikel sewaktu pasien melakukan gerak badan.

Ciri Khas Dispnea pada Penyakit


Pada jantung penurunan kelenturan dan

peningkatan resistensi jalan napas


meningkatkan kerja pernapasan.
Pada penyakit jantung berat biasanya yang
mengenai elevasi tekanan vena sistemik dan
paru, dapat timbul hidrothoraks, selanjutnya
menganggu fungsi paru dan meningkatkan
dispnea

Ciri Khas Dispnea pada Penyakit


Dispnea kardiak biasanya dimulai sebagai

gejala sesak napas ketika melakukan


aktivitas jasmani yang agak berat dan dalam
waktu beberapa bulan atau beberapa tahun,
gejala ini terus berlanjut sampai pasien
merasa sesak sampai dalam keadaan
istirahat sekalipun

Membedakan Dispnea Kardiak


dan Pulmoner
Dispnea pada penyakit paru obstruktif

(PPOM) atau kronik cenderung timbul


secara lebih berangsur-angsur bila
dibandingkan dengan dispnea pada penyakit
jantung
Pada pasien dispnea kardiak, pasien
penyakit paru obstruktif menahun juga
dapat terbangun di malam hari karena sesak
napas, tetapi gejala ini biasanya disertai
dengan produksi sputum.

Membedakan Dispnea Kardiak


dan Pulmoner
Tes faal paru : Penyakit jantung, Penyakit

Paru, Dinding dada, Kecemasan


Pengukuran fraksi ejeksi : kiri kanan
Treadmil

Mekanisme terjadinya dispnea


Dispnea terjadi karena adanya ketidak seimbangan

antara respon motorik eferen dengan informasi


sensorik terintegrasi yang berasal dari
kemoreseptor, reseptor mekanik dan respon vagal.
Informasi sensorik merupakan mekanisme
feedback yang diperlukan untuk mengkaji respon
motorik yang efektif..
Derajat dispnea tergantung dari derajat ketidak
seimbangan antara aferen feedback dengan sinyal
eferen motorik.

Kontrol Pernapasan

Pernapasan di atur oleh sistem motorik


eferen dan sensorik aferen.
Rangsangan aktifitas motorik berada di
batang otak aktifasi otot-otot pernapsan.
Sensorik eferen berasal dari kemoreseptor
di medula oblongata, carotid dan aortic
bodies, reseptor vagal, reseptor mekanik di
paru, dinding dada dan diafrgma.
Informasi aferen ini akan di integrasikan
dengan pusat yang lebih tinggi.

Pengaturan ventilasi
Central pattern generator :
Pons Mengatur frekwensi dan amplitudo
pernapasan.
Medulla Oblongata Mengontrol fase inspirasi
dan ekspirasi.
Spontaneously discharging neuron membentuk
rhytmic pattern of breathing (involuntary breathing)
Higher brain centers & limbic system Voluntary
control.
Faktor kimiawi : pH, CO2 dan O2.

Sistem Respirasi
Dibagi dalam 2 proses :
1. Respirasi eksternal.
Terdiri dari 4 tahap :
Ventilasi : Inspirasi dan ekspirasi.

Difusi : Pertukaran O2 dan CO2 diantara


alveoli
dan kapiler.
Perfusi : Transport O2 dan CO2 dalam darah.
Pertukaran gas antara kapiler dan sel.
2. Respirasi sel : Reaksi O2 dengan molekul2 organik
didalam sel yang menghasilkan CO2, air dan energi
(ATP)

Respirasi Eksternal.
Fungsi Pernapasan Normal Memerlukan
Kerjasama Beberapa Sistem Organ :
- Sistem saraf (pusat dan perifer)
- Sistem muskuloskeletal ( otot-otot dinding
toraks, diafragma, vertebrae, kosta)
- Sistem traktus respiratorius (trakea,
bronkus/bronkiolus, paru)
- Sistem kardiovaskuler

Respirasi sel .
Berlangsung di mitokondria.
Rantai pernapasan.

Perlu O2 jaringan yang adekuat.

Kesimpulan

Dispnea adalah keluhan subyektif mulai


dari napas yang tidak nyaman sampai tidak
bisa bernapas / sampai sesak napas hebat
dan dipengaruhi oleh faktor biopsikososial.