Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

KEAMANAN PANGAN DAN TOKSIKOLOGI PADA


CANNED FOOD

Disusun oleh:
Hana Handayani

(115100100111022)

Risalia Nur Rahma A.

(115100401111014)

Ikrima Dzil H.

(115100401111020)

Crysse Zuliana

(115100401111032)

Nicha Bella Permana P.

(115100407111012)

Siti Aisyah

(115100800111012)

Della Rosalita

(115100813111002)
KELAS J

PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN


JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2012

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Makanan kaleng merupakan makanan produk sterilisasi yang dikemas dengan
menggunakan kaleng tertutup rapat. Berbagai produk seperti susu bubuk, susu kental
manis, sardine, biskuit, sayur, maupun buah kini telah banyak yang dikemas menggunakan
metode pengemasan kaleng tersebut. Namun tingkat pengetahuan masyarakat tentang
bahaya yang dapat ditimbulkan akibat mengkonsumsi makanan kaleng masih sangat
rendah. Meskipun secara visual kondisi makanan kaleng aman untuk dikonsumsi, tetapi
dari segi mikrobiologis ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu kehadiran
mikroorganisme patogen yang dapat menyebabkan keracunan pada makanan kaleng yaitu
Clostridium botulinum.
Dewasa ini seiring dengan meningkatnya tingkat kesibukan , masyarakat cenderung
kurang memperhatikan makanan yang mereka makan. Baik itu dari segi kebersihan,
kesehatan, atau kandungan gizi yang terkandung dalam makanan, kecenderungan orang
hanya memikirkan dari segi ekonomis dan kepraktisannya saja. Sehingga keracunan
makanan sangat mungkin terjadi karena makanan kaleng yang dikonsumsi. Kurangnya
pemahaman masyarakat tentang cara preservasi dan mencegah kerusakan pada makanan
kaleng memicu terjadinya tingkat keracunan makanan yang fatal. Mengingat C.botulinum
merupakan bakteri yang mampu menghasilkan toksin yang menyerang sistem syaraf
manusia, maka penting untuk mengetahui tanda-tanda kerusakan, gejala-gejala dan bahaya
sindrom botulisme pada manusia serta cara pencegaha dan penanganan yang tepat untuk
mengatasi masalah tersebut.
1.2 Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini yaitu untuk memperkenalkan makanan kaleng dan
produk-produk makanan yang biasa dikemas dengan metode pengalengan, bahaya
Clostridium botulinum pada makanan kaleng dan gejala-gejala yang timbul akibat botulisme
serta cara untuk menangani dan mencegah terjadinya keracunan pada makanan kaleng
sehingga diharapkan pengetahuan mahasiswa tentang keamanan pangan khususnya di
Indonesia semakin bertambah.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Makanan Kaleng
Makanan kaleng merupakan makanan yang dikemas dalam kaleng melalui proses dan
pengolahan tertentu. Makanan kaleng melewati beberapa proses yaitu pretreatment contohnya
blansing, setelah itu sterilisasi dan pengawetan dengan bahan tertentu. Pada makanan kaleng
proses sterilisasi yang digunakan adalah sterilisasi komersial. Canning (pengalengan)
merupakana metode yang penting dan aman untuk mengawetkan makanan. Makanan yang
dikalengkan seperti saus, produk daging dan ikan, beans, lentils, pasta, tuna, juga sayur dan
buah. Produk makanan kaleng memiliki daya simpan yang panjang .
Proses pengalengan merupakan salah satu cara mengawetkan makanan karena di
dalam kaleng diusahakan tidak terdapat oksigensehingga bakteri aerob tidak bisa tumbuh dan
merusak makanan. Akan tetapi,masih ada kemungkinan makanan tersebut mengandung
bakteri anaerob yangdapat tumbuh pada lingkungan tanpa oksigen seperti Clostridium
botulinum yang sering disebut bakteri makanan kaleng. Oleh sebab itu diperlukan pengujian
yangketat

terhadap

bakteri

ini

sebelum

makanan

dikemas

dalam

kaleng.

Penggunaan pengawet yang tepat (baik secara jenis dan jumlah) juga merupakan salah
satuusaha pencegahan kontaminasi mikroba ini.Jenis kaleng yang digunakan untuk
mengemas produk makanan juga harusdisesuaikan. Kaleng tersebut tidak boleh melepas
kandungan logam ke produk makanan, kuat dan menjamin tidak adanya kebocoran yang
dapat menjadi pintumasuk bakteri atau oksigen yang dapat menyebabkan kerusakan makanan
kaleng.Berikut ini adalah ciri-ciri kerusakan makanan kaleng adalah flat sour yaitu kaleng
tidak cembung namun isinya sangat asam, flipper yaitu kaleng kelihatan normal, namun jika
ditekan akan menjadi cembung. Springer salah satu ujung kaleng datar, namun ujung yang
lain cembungdan jika ditekan, cembung ke arah sebaliknya. Kaleng cembung karena terdapat
bakteri yang membentuk gas.
Prinsip sterilisasi adalah metode untuk mematikan mikroba yang tidak diinginkan
yang ada pada produk pangan. Sterilisasi termal merupakan unit pengolahan yaitu prosuk
pangan diberi perlakuan panas, menggunakan suhu tinggi dan waktu tertentu untuk
mendestruksi mikroba dan aktivitas enzim. Sterilisasi komersial merupakan proses sterilisasi

dengan tujuan membunuh mikroorganisme yang dapat tumbuh pada produk pangan pada
kondisi ruang, pada umumnya sekitar 121C dan menggunakan uap air selama waktu tertentu
dengan tujuan memusnahkan semua bakteri pathogen maupun pembusuk. Bakteri yang
menjadi concern adalah Clostridium botulinum .
Sterilisasi berarti membebaskan bahan dari semua jenis mikroba. Dilakukan pada suhu
tinggi 121C (merupakan proses termal atau dengan panas) selama 15 menit. Suatu produk
pangan dikatakan steril secara komersial apabila 1) produk mengalami proses pemanasan
lebih dari 100C, 2) bebas dari mikroba pathogen dan pembentuk racun, 3) bebas mikroba
yang dalam kondisi penyimpanan dan keadaan normal dapat menyebabkan kebusukan, dan 4)
awet (dapat disimpan pada kondisi normal tanpa refrigerasi) .
Proses pada makanan kaleng diawali dengan blanching, kemudian pengisian medium,
pengeluaran udara (exhausting), penutupan, sterilisasi, kemudian pendinginan. Dalam proses
pengalengan dilakukan proses sterilisasi komersial selama 15 menit 121C setelah itu
pendinginan dilakukan untuk memberi thermal shock pada mikroorganisme dalam kaleng,
untuk mencegah berkembangnya spora dalam produk. Pengisian medium menggunakan
larutan brine (gula, garam, atau saus) berfungsi mempertahankan jaringan agar tetap baik,
mencegah terjadinya kerusakan sel, membantu proses transfer panas, memperoleh derajat
keasaman tinggi, dan sebagai pengawet. Pengeluaran udara (exhausting) bertujuan
menghilangkan udara sehingga tekanan dalam kaleng setelah perlakuan panas dan
pendinginan lebih rendah daripada tekanan atmosfer. Pengurangan jumlah udara mengurangi
oksigen dan kesempatan oksidasi dari bahan selain itu mencegah pengkaratan dan kebocoran
kaleng .
Faktor-faktor yang mempengaruhi sterilisasi dibagi menjadi faktor intrinsik dan
ekstrinsik, factor intrinsik yaitu Aw bahan (bahan pangan dengan Aw tinggi diatas 0,9
umumnya lebih mudah ditumbuhi mikroorganisme), pH (bahan pangan dengan pH 3-8 lebih
aman dari bakteri yang tumbuh pada pH 5-8, namun khamir dan kapang tahan dengan kondisi
asam), potensial redoks, O2 dan zat-zat gizi pada makanan. Faktor ekstrinsik yaitu kondisi
lingkungan dari penanganan dan penyimpanan produk bahan pangan mempengaruhi spesies
mikroba yang mungkin berkembang dan menyebabkan kerusakan yang harus diperhatikan
adalah suhu, dalam keadaan beku atau di bawah -10C pertumbuhan mikroba terhenti dan
atau mati. Pada penyimpanan suhu 50-55C untuk waktu yang cukup lama mikroba-mikroba

termofilik berkembang secara selektif. Rh, jenis konsentrasi gas dan iradiasi juga
mempengaruhi.

2.2 Bahaya Makanan Kaleng


Kerusakan makanan kaleng dapat disebabkan oleh mikroba pembusuk atau mikroba
patogen. Kerusakan makanan kaleng yang diawetkan dengan pemanasan dapat disebabkan
oleh adanya sisa mikroorganisme yang masih bertahan hidup setelah proses pemanasan, atau
karena masuknya mikroba dari luar melalui bagian kaleng yang bocor setelah proses
pemanasan. Penyebab yang pertama menunjukkan bahwa makanan kaleng tersebut tidak
cukup proses pemanasannya (under process). Jenis mikroba yang mengkontaminasi produk
yang mengalami under process lebih mudah ditentukan berdasarkan pada informasi kondisi
proses termal yang dilakukan dan jenis produk pangan yang diproses, karena mikroba
memiliki sifat ketahanan panas dan aktivitas biologis tertentu. Sedangkan kerusakan makanan
kaleng yang disebabkan oleh kebocoran kaleng sulit ditentukan karena mikroba yang
mungkin mengkontaminasi dapat bervariasi.
Kerusakan yang lain dapat terjadi karena kurang sempurnanya pengolahan. Misalnya,
selama proses sterilisasi, terjadi kebocoran kecil pada sambungan kaleng yang
menggelembung, tetapi kemudian tertutup kembali setelah pendinginan. Bila dalam proses
pendinginannya digunakan air kurang bersih, dapat dipastikan mikroba pembusuk akan hadir
dalam kaleng melalui lobang kecil tersebut. Pada gilirannya, bila kondisi penyimpanan
mendukung maka bakteri tersebut akan tumbuh dan berkembang biak dan kelak
memproduksi racun.
Selain itu, bahaya utama pada makanan kaleng adalah tumbuhnya bakteri Clostridium
botulinum yang dapat menyebabkan keracunan. Bakteri yang berbahaya ini umumnya
menyukai tempat-tempat yang tidak ada udara (anaerobik) dan mampu melindungi diri dari
suhu yang agak tinggi (termofilik) dengan jalan membentuk spora. Cara hidup yang demikian
memungkinkan bakteri ini dapat hidup pada makanan kaleng, terutama pada jenis-jenis
makanan yang bahan bakunya daging, ikan, sayur yang pHnya di atas 4,6 alias nilai keasaman
relatif rendah. Bila kondisi pertumbuhannya sesuai, toksin botulinum yang sangat berbahaya

itu bisa dihasilkan. Jika dikonsumsi maka racun tersebut akan menyerang susunan saraf dan
dampaknya bisa melumpuhkan, menyulitkan pernapasan serta menyebabkan kematian.
Makanan kaleng juga mengandung zat adiktif seperti pewarna, penyedap dan
pengawet yang sangat berbahaya bagi tubuh bila dikonsumsi dalam jumlah yang banyka dan
dalam waktu yang panjang.
Diperkirakan organ pencernaan manusia semasa hidupnya mengolah makanan
sebanyak 100 ton (100.000kg). Jumlah tersebut tidak semuanya merupakan zat-zat yang
bermanfaat bagi tubuh akan tetapi juga ikut serta zat-zat berbahaya terutama Food Additive
atau Bahan Tambahan Makanan (BTM).BTM adalah semua yang bukan bagian dari bahan
makanan yang diolah seperti pemanis, penyedap rasa dan aroma, penguat rasa, pewarna,
pengawet, pengental/pengemulsi, anti bakteri, pemutih, pengeras, pengatur keasaman dan
lainnya. Saat ini hampir semua jenis makanan dan minuman yang diproses dari pabrik dan
juga yang tersedia di restoran-restoran menggunakan BTM untuk meningkatkan kepuasan
konsumen. Beberapa contoh BTM yang oleh riset dinyatakan berpeluang menyebabkan
kanker, tumor atau penyakit lainnya :

Sakarin

2
3

Siklamat
Nitrit/Nitrat

Soft Drink, Permen,


makan ringan lainnya
Minuman beralkohol
Makanan kalengan

Sulfit

Jus Buah, sosis, acar

BHA/BHT

Makanan Awetan

Benzoat

Minuman, Makanan

Sulfit
Pewarna
Merah/Amaranth

Makanan Kalengan

Dampak
(Jika Berlebihan/Pemakaian Jangka
Panjang)
Tumor kantong Kemih, beracun bagi janin,
kanker
Tumor
Kanker
Sesak nafas, Sesak dada, gatal-gatal dan
bengkak
Kelainan Kromosom Sel, menurunkan
antioksidan alami tubuh.
Pembesaran ginjal dan hati, menurunkan
berat badan
Menurunkan daya guna protein dan Lemak

Makanan, Minuman

kanker

NO

Bahan Tambahan
Makanan

Pemakaiaan
(Contoh)

2.3 Clostridium botulinum


Clostridium botulinum adalah bakteri anaerobik, gram positif, membentuk spora,
berbentuk batang dan relatif besar. Spora bakteri dapat terhirup atau termakan, atau dapat
menginfeksi luka terbuka. Walaupun demikian bakteri dan sporanya tidak berbahaya. Gejala
botulism disebabkan oleh toksin yang diproduksi oleh bakteri tersebut. Toksin botulism
merupakan toksin yang berbahaya, dengan dosis mematikan 200-300 pg/kg, yang berarti bila
melebihi 100 gram dapat membunuh setiap manusia didunia.
Terdapat tujuh strain botulism, masing masing memproduksi protein yang berpotensi
sebagai neurotoxin. Tipe A, B, E dan F menyebabkan botulism pada manusia. Tipe C-alpha
menyebabkan botulism pada unggas domestik dan liar. Tipe C-beta dan D menyebabkan
botulism pada ternak. Tipe ketujuh dari botulism, strain G, telah diisolasi dari contoh tanah,
tetapi jarang dan belum menunjukkan hubungan yang menyebabkan botulism manusia atau
binatang. Tipe A dan beberapa tipe B dan tipe F mendekomposisikan protein binatang dan
menyebabkan bau dari makanan yang membusuk, dan daging busuk. Tipe E dan beberapa
tipe B,C, D dan F tidak proteolytic (mereka tidak mencerna protein binatang). Ketika muncul,
tipe botulism ini tidak dapat terdeteksi dengan bau yang kuat.
Bakteri Clostridium merupakan bakteri yang heat resistant dan dapat bertahan dari
perebusan yang lama. Untuk menghancurkan spora yang ada, makanan harus dipanaskan
hingga temperatur 1200C atau lebih, seperti dalam penggunaan pressure cooker. Racun yang
diproduksi oleh bakteri dapat dihancurkan oleh panas.
Jika lingkungan di sekitarnya lembab, terdapat cukup makanan dan tidak terdapat
oksigen, spora akan mulai tumbuh

dan menghasilkan toksin. Beberapa toksin yang

dihasilkan C. botulinum memiliki kadar protein yang tinggi yang tahan terhadap pengrusakan
oleh enzim pelindung usus.
Jika makan makanan yang tercemar, racun masuk ke dalam tubuh melalui saluran
pencernaan, menyebabkan foodborne botulism. Sumber utama dari botulisme ini adalah
makanan kalengan. Sayuran, ikan, buah, dan rempah rempah juga merupakan sumber
penyakit ini. Demikian juga halnya dengan daging, produk susu, daging sapi, dan unggas.

Toksin (botulism) adalah racun yang sangat kuat dan dapat menyebabkan kerusakan
saraf dan otot yang berat. Karena menyebabkan kerusakan yang berat pada saraf, maka racun
ini disebut neurotoksin.
Terdapat 3 jenis botulisme, yaitu :

Food-borne botulism (botulism yang dilahirkan makanan) disebabkan oleh mamakan


makanan-makanan yang mengandung botulinum neurotoxin.

Wound botulism (botulism luka) disebabkan oleh neurotoxin yang dihasilkan dari luka
yang terinfeksi dengan bakteri Clostridium botulinum.

Infant botulism (botulism bayi) terjadi ketika bayi mengkonsumsi spores (spora-spora)
dari bakteri botulinum. Bakteri kemudian tumbuh didalam usus-usus dan melepaskan
neurotoxin.

2.4 Gejala Dan Kasus Botulism


Pada foodborne botulisme, diagnosis ditegakkan berdasarkan pola yang khas dari
gangguan saraf dan otot. Tetapi gejala ini sering dikelirukan dengan penyebab lain dari
kelumpuhan, misalnya stroke. Adanya makanan yang diduga sebagai sumber kelainan ini
juga merupakan petunjuk tambahan. Jika botulisme terjadi pada 2 orang atau lebih yang
memakan makanan yang sama dan di tempat yang sama, maka akan lebih mudah untuk
menegakkan diagnosis.
Untuk memperkuat diagnosis, dilakukan pemeriksaan darah untuk menemukan
adanya toksin atau biakan contoh tinja untuk menumbuhkan bakteri penyebabnya. Toksin
juga dapat diidentifikasi dalam makanan yang dicurigai.Elektromiografi (pemeriksaan untuk
menguji aktivitas listrik dari otot) menujukkan kontraksi otot yang abnormal setelah diberikan
rangsangan listrik. Tapi hal ini tidak ditemukan pada setiap kasus botulisme.
Diagnosis wound botulism diperkuat dengan ditemukannya toksin dalam darah atau
dengan membiakkan bakteri dalam contoh jaringan yang terluka. Ditemukannya bakteri atau
toksinnya dalam contoh tinja bayi, akan memperkuat diagnosis infant botulisme.

Pada beberapa penderita, gejala aawalnya adalah mual, muntah, kram perut dan diare.
Pada penderita lainnya gejala-gejala saluran pencernaan ini tidak muncul, terutama pada
penderita wound botulism.
Penderita mengalami kesulitan untuk berbicara dan menelan. Kesulitan menelan dapat
menyebabkan terhirupnya makanan ke dalam saluran pernafasan dan menimbulkan
pneumonia aspirasi. Otot lengan, tungkai dan otot-otot pernafasan akan melemah. Kegagalan
saraf terutama mempengaruhi kekuatan otot.
Pada 2/3 penderita infant botulism, konstipasi (sembelit) merupakan gejala awal.
Kemudian terjadi kelumpuhan pada saraf dan otot, yang dimulai dari wajah dan kepala,
akhirnya sampai ke lengan, tungkai dan otot-otot pernafasan. Kerusakan saraf bisa hanya
mengenai satu sisi tubuh. Masalah yang ditimbulkan bervariasi, mulai dari kelesuan yang
ringan dan kesulitan menelan, sampai pada kehilangan ketegangan otot yang berat dan
gangguan pernafasan.

2.5 Cara Penanganan Kasus Botulism


Cara untuk terhindar dari bakteri ini yaitu dengan melihat tanda-tanda kerusakan pada
makanan kaleng yang disebabkan oleh Clostridium botulinum diantaranya sebagai berikut:
-

Penampakan pada kaleng memperlihatkan bahwa kaleng menggembung, jika


dibiarkan terus menerus mungkin bisa meledak.

Produk mengalami fermentasi, apabila tercium bau asam, keju atau bau butirat
yang menusuk tak usah dibeli.

pH sedikit di atas normal dengan tekstur rusak.

Lainnya, kamu bisa menekan salah satu ujung permukaan kaleng yang terlihat
datar. Bila ujung yang lainnya cembung, berarti bakteri tersebut sudah ngendon di
dalam.

Sebaiknya juga, makanan kaleng selalu dipanaskan sampai mendidih selama 10


menit sampai 15 menit sebelum dikonsumsi.

Selalu memperhatikan Label Expired Date secara seksama, Apabila batas


kadaluarsa habis atau tekstur kaleng mengalami penggembungan jangan sekalikali mencoba untuk membelinya.

Perlu pula diingat apabila makanan kaleng sudah dibuka jangan pernah berlamalama menyimpannya, segera digunakan.

Agar terhindar dari bahaya keracunan makanan, tentu kita harus selalu waspada
terhadap setiap makanan yang kita konsumsi. Di dalam segala hal, baik yang ada kaitannya
dengan pengadaan, penyimpanan makanan sampai mengonsumsinya harus dilakukan secara
benar dan teratur sesuai dengan syarat sanitasi dan kesehatan. Tempat menyimpan, air untuk
mencuci, memasak harus terbebas dari kemungkinan adanya zat dan bahan sumber keracunan.
Khusus untuk buah-buahan dan sayuran sebaiknya direndam dulu beberapa saat, kalau bisa di air
mengalir supaya sisa residu dan pestisida dapat hilang.
Bahan makanan berupa ikan atau daging, meski sudah tersimpan dalam lemari
pendingin harus tetap diperhatikan, apakah sudah mengalami perubahan baik warna , bau atau
adanya lendir, misalkan daging yang masih segar akan tampak kemerah-merahan, sedang yang
sudah rusak akan tampak kehitaman. Setelah memasak daging, hendaknya jangan menaruh
daging tersebut di tempat yang sama dimana sebelumnya ditaruh daging mentah. Hal yang
penting diperhatikan adalah selalu mencuci tangan, perkakas dapur dan permukaan dapur (kalau
bisa dengan air panas), setelah memotong ayam atau daging mentah dan setelah memasak selesai.
Untuk mengetahui makanan sudah tercemar oleh mikrobia tertentu yang dapat membahayakan,
kita dapat melakukannya dengan pengamatan secara visual dan menggunakan indera kita (bau,
kenampakan) seperti perubahan warna misalnya pada ikan dan daging sudah mulai tercium bau
busuk, perubahan warna misalnya pada daging dan ikan, kehadiran bintik/noktah warna pada
makanan, baik oleh jamur atau bakteri, misalnya bintik warna hitam, coklat pada roti. Kehadiran
lendir, umumnya akibat pertumbuhan bakteri yang diiukuti dengan bau busuk, misalnya pada
daging dan ikan.
Dengan mengetahui sumber dan penyebab keracunan makanan diharapkan makanan
yang kita olah dan konsumsi sehari-hari menjadi makanan yang aman dan menyehatkan.
Karena kita tahu bahwa dari makanan yang aman dan sehat akan muncul pribadi-pribadi yang
sehat dan berkualitas. Apabila keracunan telah terjadi, beberapa bentuk pengobatan yang bisa

dilakukan adalah dengan pemberian antitoksin, terapi supportif dengan cara injeksi nutrisi,
serta menghilangkan toksin dengan merangsang muntah dan atau peningkatan peristaltik usus
untuk memudahkan buang air besar.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Makanan kaleng merupakan makanan yang dikemas dalam kaleng melalui proses dan
pengolahan tertentu . Makanan kaleng mengandung tiga unsur berbahaya bagi kesehatan yaitu
C.botulinum, Bisfenol A (BPA) dan BTM yang sangat berbahaya bagi tubuh sehingga penggunaan
makanan kaleng berlebihan idak dianjurkan.

Bahaya yang paling utama pada makanan kaleng adalah tumbuhnya bakteri
Clostridium botulinum yang dapat menyebabkan keracunan. Racun yang dihasilkan oleh
bakteri Clostridium botulinum adalah botulism. Toksin (botulism) adalah racun yang sangat
kuat dan dapat menyebabkan kerusakan saraf dan otot yang berat. Karena menyebabkan
kerusakan yang berat pada saraf, maka racun ini disebut neurotoksin.
Terdapat 3 jenis botulisme, yaitu :

Food-borne botulism (botulism yang dilahirkan makanan) disebabkan oleh mamakan


makanan-makanan yang mengandung botulinum neurotoxin.

Wound botulism (botulism luka) disebabkan oleh neurotoxin yang dihasilkan dari luka
yang terinfeksi dengan bakteri Clostridium botulinum.

Infant botulism (botulism bayi) terjadi ketika bayi mengkonsumsi spores (spora-spora)
dari bakteri botulinum. Bakteri kemudian tumbuh didalam usus-usus dan melepaskan
neurotoxin.

3.2 Saran
Pada awalnya makanan kaleng memang sangat mudah dikonsumsi dan tidak repot
serta murah namun, bahaya jangka panjang nya dapat menyebabkan kematian dan penyakitpenyakit berbahaya seperti kanker. Oleh sebab itu, leih bak hindari mengonsumsi makanan
kaleng maupun makanan instan agar dapat tehindar dari bahaya makanan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

D.Dagoon, Jesse. 2008. Applied Nutrition And Food Technology. Gueson City: Rex Printing
Company.
Evans, Judith. 2008. Thermal Processing Food Science And Technology. Oxford: Blackwell
Publishing Ltd.
Harsono (Ed.). 2003. Kapita Selekta Neurologi. Gajah Mada University Press, edisi 2 hal 189;192;224
Sidharta P, Mardjono M,. 2003 . Neurologi Klinis Dasar. Jakarta : Dian Rakyat