Anda di halaman 1dari 3

SEPSIS

Sepsis
Sepsis adalah suatu kondisi dimana terjadi reaksi peradangan sistemik (inflammatory sytemic
rection) yang dapat disebabkan oleh invansi bakteri, virus, jamur atau parasit. Selain itu,
sepsis dapat juga disebabkan oleh adanya kuman-kuman yang berproliferasi dalam darah dan
osteomyelitis yang menahun. Efek yang sangat berbahaya dari sepsis adalah terjadinya
kerusakan organ dan dalam fase lanjut akan melibatkan lebih dari satu organ.
Pada sepsis, sistem organ yang terkena kerusakan antara lain system cardiovascular.
Terjadinya kerusakan pada system cardiovascular akan mengakibatkan penurunan atau
peningkatan dari cardiac output, penurunan resistensi vascular sistemik, peningkatan
permeabilitas pembuluh darah sehingga mengacu terjadinya hipotensi pembuluh darah yang
mengakibatkan kegagalan multi organ dan menyebabkan kematian. Pada sepsis juga dapat
berkembang endocartidis. Endocartidis dapat disebabkan karena infeksi agen infeksius seperti
bakteri ataupun adanya ulcer pada endocardium yang menarik collagen sehingga terbentuk
adanya agregasi dari platelet.
Organ yang pertama kali merespon terhadap adanya agen infeksius pada keadaan sepsis
adalah limpa dan hati. Organ hati dan limpa akan berusaha untuk mengeleminasi agen
infeksius dengan mengeluarkan sel mononukler fagosit. Aktivasi tersebut akan menarik
cytokin. Adanya aktivasi terus-menerus mengakibatkan limpa dan hati bekerja keras melebihi
kapasitasnya sehingga terjadi splenitis dan hepatitis. Hepatitis ditandai dengan terbentuknya
multifokal nekrosa milier.
Sistem organ lain yang mengalami kerusakan pada keadaan sepsis antara lain system
lympatic atau sistem immune, yang mengakibatkan terjadinya kegagalan koagulasi dan
thromboembolism. Namun tidak semua kelainan akibat sepsis dapat di tampakkan.
Dengan demikian, secara umum ciri-ciri sepsis dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Sepsis komplit
Patologi anatominya meliputi : splenitis, limfadenitis, degenerasi organ parenkim (hati,
ginjal, jantung dan limpa), diare provus, perdarahan semua organ.
2. Sepsis inkomplit
Apabila tanda sepsis yang ditemukan tidak menunjukan semua tanda sepsis complet, maka
kejadian sepsis yang terjadi merupakan sepsis incomplete.

Peradangan
Peradangan atau inflamasi (inflammation) adalah respon jaringan protektif terhadap cidera
atau kerusakan jaringan, yang berfungsi menghancurkan, mengurangi atau mengurung, baik
agen yang menyebabkan cidera maupun jaringan yang cidera itu.
Pada kondisi peradangan akut, agen/bahan penyebab radang dan jaringan rusak akan
dilokalisasi dan disingkirkan dengan berbagai cara diantaranya melalui fagositosi oleh
makrofag. Adapun tanda-tanda radang akut dikenal dengan panca radang, yakni nyeri/sakit
(dolor), panas (kalor), kemerahan (rubor), bengkak (tumor) dan hilangnya fungsi (functio
laesa).
Uremia
Uremia adalah tingginya kadar ureum dalam darah diatas ambang normal. Uremia dapat
terjadi karena konsumsi protein yang berlebihan, gangguan pada ginjal untuk ekskresi ureum,
atau bisa juga karena retensi urin. Gangguan pada ginjal dapat terjadi akibat gangguan
prerenal, renal dan postrenal. Gangguan prerenal biasanya terjadi akibat penurunan aliran
darah dalam sirkulasi akibat suatu hambatan. Pada kasus renal biasanya terjadi akibat adanya
peradangan pada ginjal itu sendiri. Sedangkan pada postrenal terjadi karena adanya gangguan
pada saluran pembuangan ,baik karena peradangan pada ureter, vesika urinaria maupun
uretra.
Tidak terjadinya ekskresi ureum dikarenakan glomerulus dan tubuli mengalami kerusakan,
akibatnya konsentrasi unsur-unsur cairan yang berada dalam tubuh dan yang seharusnya
terbuang jadi tidak terbuang.
Uremia dapat menyebabkan rasa lelah, anoreksia, mual, muntah, diare, dan kelainan
neurologis (gangguan syaraf) dan rasa gatal hebat (pruritus) Uremia juga dapat ditunjukkan
dari gejala sebagai berikut:
a. Oedema pulmonum
Kejadian ini berhubungan dengan gangguan sirkulasi darah yang melalui paru-paru, terutama
dari jantung kanan.
b. Anemia
Kejadian ini berkaitan dengan produksi erythropoitin oleh ginjal. Apabila terjadi kerusakan
ginjal maka produksi eythropoitin akan berkurang atau bahkan terhenti sama sekali, pada hal

erythropoitin 90% diproduksi di ginjal dan sisanya di hati 10% sehingga proses erythropoesis
akan terhambat.
c. Ulkus pada mukosa
Ulkus terjadi apabila tubuh mengalami acidosis sehingga mengiritasi mukosa. Ulkus biasanya
terjadi pada selaput mukosa organ pencernaan, urogenitalis dan respiratorius.
d. Kalsifikasi dan osteodistrofi
Kedua hal ini sangat erat hubungannya pada kejadian kerusakan ginjal (uremia). Gangguan
fungsi ginjal mengakibatkan gangguan dalam penyerapan kalsium, karena ginjal tidak
mampu memproduksi kalsiferol yang berfungsi untuk mengaktifkan pro vitamin D menjadi
vitamin D. Vitamin D berfungsi membantu menyerap kalsium dalam saluran pencernaan.
Apabila tubuh tidak mapu menyerap kalsium dari makanan, maka syaraf parasimpatis
menggertak parathiroid untuk mengaktifkan hormon parathiroid yang berfungsi mengambil
kalsium dari tulang sehingga terjadi osteodistrofi.
Jika kadar ureum dalam darah terus meningkat maka dapat menyebabkan kematian akibat
asidosis metabolik yang menyebabkan hewan sukar untuk bernafas. Kematian dapat juga
terjadi akibat akibat gangguan pada fungsi otak sampai nekrose otak akibat hipoksia.
Mekanisme :
Ureum sebenarnya adalah zat yang tidak toksik, tetapi apabila konsentrasinya sangat tinggi
akan menimbulkan bekuan ureum dan menimbulkan bau nafas yang mengandung amonia
(NH4). Efek ureum yang tinggi dalam darah adalah terhadap trombosit, trombosit tidak dapat
lagi membentuk bekuan sehingga tidak terjadi agregasi trombosit. Akibatnya akan timbul
perdarahan dari hidung, diare berdarah, atau bisa juga perdarahan di bawah kulit. Penyebab
perdarahan adalah Trombopatia uremika. Jika kadar ureum dalam darah sangat tinggi maka
tekanan osmotik darah juga akan meningkat. Konsentrasi ureum dan tekanan osmotik yang
ditimbulkan oleh ureum, di dalam dan di luar sel adalah sama. Ada satu pengecualian yang
penting, yaitu kalau kadar ureum dalam darah kadarnya dengan cepat diturunkan misalnya
dengan hemodialisis, maka ureum didalam sel otak masih tetap tinggi dan akan mencapai
keseimbangan dengan kadar dalam darah secara perlahan-lahan.