Anda di halaman 1dari 5

Frankenstein (Seputar Dependensi dan

Otonomi Manusia)
September 6, 2008 by aliflukmanulhakim
3
Frankenstein (Seputar Dependensi dan Otonomi Manusia) : Filsafat dan Makna Kehidupan
Alif Lukmanul Hakim, S. Fil
Semuanya berawal dari sebuah ambisi tentang usaha untuk menjawab misteri kematian yang
dialami manusia dan mahluk hidup lainnya. Victor Frankenstein berkeyakinan bahwa tragedi
kematian yang dialami manusia dan mahluk hidup lainnya yang menjadikan manusia takut
tidak hidup lagi alias mati dapat diatasi dengan kemampuan sains untuk menghidupkan
kembali mereka yang telah mati agar berkesempatan untuk hidup lagi. Pada dasarnya hal ini
berkaitan erat dengan problem absurditas dan makna kehidupan bagi manusia. Masalah
indeterminisme atau kebebasan manusia (free will) bertabrakan dengan determinisme (takdir)
yang telah digariskan oleh Tuhan. Victor merasa bahwa manusia memiliki wilayah kebebasan
yang sangat mutlak ketika ia mampu berkolaborasi dengan kemajuan sains. Alhasil, ia mulai
melakukan eksperimen untuk membuktikan keyakinannya itu. Bahwa yang telah mati dapat
menjadi hidup lagi melalui kolaborasi kepintaran atau intelektualitas manusia dan kemajuan
sains.
FRANKENSTEIN si Monster, pada dasarnya adalah tubuh bekas. Tubuh ini dirakit secara
sembarangan oleh Victor Frankenstein, yang bahkan lebih buruk dari Betsy Ross, dari berbagai
tubuh pencuri, pembunuh, para pencundang. Sebagai hasil dari sejumlah tubuh bekas ini si
monster mendapati bahwa dirinya memiliki penampilan yang sebenarnya tidak diinginkan serta
kecenderungan dan kecondongan yang tidak dapat dia jelaskan. Selain berbagai warisan yang
kurang memuaskan ini, si monster dengan cepat mendapati dirinya terperangkap dalam
lingkungan yang kejam dan tidak ramah. Paling untung dihindari orang, atau paling sial menjadi
bulan-bulanan dan dicerca. Semata-mata karena sosoknya (tampilan luarnya). Padahal jauh di
dalam hatinya dia sama sekali bukan sosok kejam, pada tahap ini: dia justru lembut dan baik hati,
meskipun sosoknya jelek.
Frankenstein adalah sosok monster yang peka, yang tentu saja akan kesal saat tiba di sebuah
pedesaan dan disitu dia berusaha sebaik-baiknya membantu keluarga petani yang memiliki
kakek tua yang buta dan seorang anak perempuan yang manis, namun sebagai konsekuensi logis
dari wajah buruknya petani malah mengambil kapak dan berusaha menghajarnya habishabisan. Disamping peka, Frankenstein juga sangat cerdas. Terbukti dari upayanya untuk
memahami mengenai perincian asal-usulnya dan mulai menghubung-hubungkan semuanya.
Percakapan antara anak perempuan dan ibu petani mengenai kelahiran begitu mengusiknya.
Frankenstein berusaha membuka-buka buku yang ada di kantung jas panjangnya. Sampai di sini
dia berhadapan dengan sebuah The Journal of Victor Frankenstein, yang pada akhirnya sedikit
menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mulai berkembang di benaknya. Namaku adalah

Frankenstein dan ayahku bernama Victor. Lalu, muncullah ketidakjelasan-ketidakjelasan akan


makna kehidupan (dan juga kematian) serta problematika baru yang diakibatkan oleh lahirnya
seorang manusia monster Frankenstein.
Berbicara mengenai manusia adalah berbicara mengenai berbagai bentuk pertanyaan yang abadi.
Manusia merupakan mahluk yang dilengkapi dengan akal dan pikiran, yang membedakan dirinya
dengan mahluk yang lain. Manusia dapat menggunakan kemampuan pikirnya untuk memikirkan
segala sesuatu yang ada. Hal ini dapat dilihat dari tulisan Harold H. Titus,dkk. Dalam buku
Persoalan-persoalan Filsafat :
Hampir seluruh persolan penting dalam filsafat, psikologi, agama dan urusan sehari-hari,
mengandung persoalan watak manusia. Kebanyakan ahli pikir Yunani purba dan ahli pikir Abad
Pertengahan sampai periode Pencerahan pada abad ke-18, mempunyai asumsi bahwa memang
ada sesuatu yang dinamakan watak manusia , sesuatu, yang dalam pembicaraan filsafat,
membentuk essensi manusia. Memang terdapat perbedaan jawaban : essensi manusia seperti
apa akan tetapi terdapat kesepakatan bahwa memang ada sesuatu yang menjadikan manusia
berbeda dengan yang bukan manusia. (1984:29).
Pada awalnya manusia enggan untuk memikirkan segala sesuatu yang berhubungan dengan diri
manusia sendiri. Pemikiran manusia pada awalnya hanya tertuju pada bentuk pemikiran di
bidang kosmologis, dimana dari pemikiran kosmologis tersebut telah melahirkan berbagai
bentuk pengetahuan mengenai alam semesta. Pemikiran mengenai pengetahuan kealaman
tersebut pada awalnya hanya didasarkan pada suatu bentuk mitos, sebagaimana kita ketahui
bersama, fase ini terjadi dalam rentang waktu peradaban Yunani kuno sekitar abad ke-6 sebelum
Masehi.
Pemikiran manusia yang belum berani mempertanyakan dirinya sendiri, merupakan tantangan
tersendiri. Manusia-manusia Yunani kuno pra-Socrates sampai kepada penemuan unsur-unsur
kosmologis sebagai prinsip induk (arche) atau unsur pembentuk utama alam semesta. Dalam
perjalanan selanjutnya, manusia-manusia pasca Yunani kuno telah mulai meletakkan manusia
sebagai objek bahkan subjek dalam filsafat. Telah adanya kesadaran dalam diri manusia
yang membuat manusia mampu untuk mengoptimalkan pemikirannya. Bentuk kesadaran yang
ada dalam diri manusia ini adalah kemampuannya untuk mampu mempertanyakan diri dan
segala sesuatu yang ada (Tuhan, manusia dan alam semesta) dalam bingkai kesadaran reflektif,
dimana manusia telah mencapai kesadaran penuh sebagai struktur dasar dari realitas.
Pada dasarnya, secara umum, manusia menghadapi tiga persoalan yang bersifat universal,
dikatakan demikian karena persoalan tersebut tidak tergantung pada kurun waktu tertentu
ataupun latar belakang kesejarahan dan kultural tertentu. Persoalan ini menyangkut tata
hubungan antara dirinya sebagai mahluk pribadi yang otonom dengan realitas lain, diluar dirinya,
yang menunjukkan bahwa manusia merupakan mahluk yang bersifat dependen atau memiliki
ketergantungan. Persoalan lain yang mengemuka adalah menyangkut realitas bahwa manusia
merupakan mahluk dengan kebutuhan jasmani yang nyaris tidak memiliki perbedaan secara
signifikan dengan mahluk lain binatang dan tumbuhan seperti makan dan minum, kebutuhan
biologis-seksual, ingin diperhatikan dan sebagainya. Manusia juga memerlukan kebutuhan
jasmaniah yang secara inheren melekat didalamnya kebutuhan ruhaniah, yakni rasa aman, cinta
dan kasih sayang serta sifat-sifat kemanusiaan lainnya, yang pada sisi ini membedakan manusia
dengan mahluk lainnya. Manusia juga menghadapi persoalan yang menyangkut kepentingan
(interest) diri; rahasi diri (secret), kepentingan pribadi bahkan kebutuhan untuk sendiri atau

berada dalam kesendirian, namun tidak dapat dinafikan pula bahwa manusia tidak dapat hidup
meminjam terminologi salah seorang dosen Fakultas Filsafat UGM; Heri Santoso secara
soliter melainkan harus solider, yang merupakan bukti bahwa manusia hidup dan menjalani
kehidupannya mutlak harus bersanding dengan sesamanya.
Muncul setidak-tidaknya dua kutub ekstrim dalam menjawab permasalahan yang pertama, yakni
antara akan adanya otonomi atau kebebasan mutlak yang dimiliki manusia, sebagai implikasi
logis dari paham indeterminisme atau Free Will. Faktisitas-faktisitas yang muncul dalam
kehidupan manusia, seperti faktor genetika, skill-kemampuan, habitat-lingkungan dan lainnya
menurut pandangan kaum eksistensialis bukanlah merupakan komponen perusak eksistensi
manusia sebagai mahluk yang otonom, melainkan malah menjadi faktor penentu dari
kebebasan manusia. Pada kutub yang lain muncul aliran determinisme, yang sangat bersifat
fatalistik, yang menganggap seluruh hidup dan kehidupan manusia bersifat given dan sudah
ditentukan semuanya oleh Tuhan, dengan kata lain seluruh nasib dan takdir kita sudah diatur oleh
Tuhan, yang suka maupun tak suka kita harus menjalaninya. Keduanya, indeterminisme dan
determinisme, ternyata tidak mampu memberi solusi dan pemecahan yang ideal bagi
permasalahan-permasalahan yang telah dipaparkan diatas, karena keduanya memiliki kelemahan
yang sangat mendasar bagi ditemukannya misteri jawaban akan dependensi dan kebebasan
manusia dengan otonominya. Pada satu sisi manusia manusia merupakan mahluk dengan
segenap keterbatasan dalam dirinya, disisi lain ia harus memepertanggungjawabkan segala
keputusan dan tindakan yang diambilnya. Sebuah tanggung jawab tak dapat dituntut apabila tak
ada pengandaian akan adanya kebebasan dalam menentukan keputusan tindakan yang diambil
tersebut bukan?
Persoalan kedua bernasib sama ketika manusia memilih menghadapkan secara vis a vis antara
menempatkan jasmani sebagai ukuran, sehingga manusia mengejar kenikmatan an sich, dalm hal
ini memunculkan hedonisme. Argumentasi lainnya menganggap jasmani adalah kotor dan
buruk bahkan hina sehingga ia tak memiliki makna apapun (meaningless) bagi kehidupan
manusia. Sedangkan persolan ketiga berada pada dua kutub individualisme dan altruisme.
Keduanya individualisme dan altruisme menjadi kajian yang signifikan bagi problem
keadilan, dimana hak dan kewajiban sebagai inti problem keadilan dan hubungan kemanusiaan
menemukan akar permasalahnnya.
Jawaban yang dirasakan cukup memadahi bagi problem-problem diatas adalah adanya proses
transendensi manusia. Proses transendensi merupakan pengejawantahan dua kutub diatas ;
Dependensi merupakan faktor yang tak dapat dielak dan ditolak, karena manusia merupakan
mahluk ciptaan Tuhan juga, sama dengan ciptaan-Nya yang lain. Namun harus dipahami bahwa
dependensi manusia harus disertai dengan kesadaran aktif , untuk terus berusaha dan berikhtiar.
Sedangkan otonomi atau kebebasan manusia merupakn faktor pembeda yang bersifat
signifikan antara manusia dengan mahluk lainnya. Jadi dependensi manusia harus terangakat
ke dalam otonominya, dependensinya bukanlah sebuah keterbatasan mutlak melainkan bingkai
referensi dari keluasan otonomi dan kebebasannya. Puncak dari transendensi bukan kebebasan
yang tak berbatas, melainkan keterbatasan akan dirinya dan penemuan akan kebenaran Ilahiah.
Manusia berkewajiban mengangkat dimensi jasmaniahnya menuju tingkat rohani, guna
menemukan makna terdalam dalam hidupnya. Martabatnya sebagai mahluk Tuhan yang paling
mulia menjadi menemukan arti dan makna ketika ia mengembangkan keterbatasan
jasmaniahnya ke tingkat ikhtiari atau refleksi rohaninya.

Penulis: Dosen MKU pada Fakultas Psikologi dan D3 ekonomi UII serta Akademi Manajemen
Putra Jaya Yogyakarta. Mahasiswa Program Magister S2 Filsafat UGM. Kolumnis dan Peneliti
Komunitas Muda Madju Setapak Indonesia (KOMMPAK).
DAFTAR PUSTAKA
Bakker, Anton. 2000. Antropologi Metafisik. Yogyakarta: Kanisius.
Hadi, P. Hardono. 1996. Jati Diri Manusia : Berdasar Filsafat Organisme Whitehead. Yogyakarta:
Kanisius.
Kenny, Anthony. 2003.Bertuhan Ala Filsuf. (Terj.) Penerjemah: Fakhruddin Faiz. Yogyakarta:
Qalam.
Rowlands, Mark. 2004. Menikmati Filsafat Melalui Film Science-Fiction. Bandung: Mizan.
Siswanto, Joko. 1998. Sistem-sistem Metafisika Barat : dari Aristoteles sampai
Derrida.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Titus, Dkk. 1984. Living Issues in Pholosophy.(terj.) H.M. Rasjidi. Jakarta: Bulan Bintang.
http://aliflukmanulhakim.wordpress.com/2008/09/06/frankenstein-seputardependensi-dan-otonomi-manusia/

ABSTRACT
The aims of this research are to describe the characterization of Byronic Hero, to
find the representations concerning the problematic of social, political, and cultural
contexts occured in certain communities described in Mary Shelley Frankenstein
novel, to explain how Mary Shelley (1797-1851)revealed the occurance of these
social facts in her novel, and to explain the Gothic Romances influences toward the
changes of civilization, based on theories and approaches of Post-structuralism. The
research method used is Qualitative Descriptive.
The research data are Mary Shelley Frankenstein novel by Mary Shelley and a
number of reference books. The Data Collection Technique was conducted by using
document review (reading, observing, and taking notes) based on the Philosophy of
Phenomenology. The Data Analysis Technique was conducted with the method of
Content Analysis, using the theory of Derridas Deconstruction, Archetypal
Approach, Post-structural Approach, and Hermeneutics Method to reveal the hidden
meaning contained in the text.
The results based on the analysis of Byronic Hero characterization, show that the
characters of Victor Frankenstein, Robert Walton and The Monster in Mary Shelley
Frankenstein novel by Mary Shelley manifest mental instability and excessive inner
conflicts. In addition, Byronic Hero is also regarded as the representation of various
problematic concerning the social, political, and cultural contexts for which have
had occurred in the social life of 19th-century western societies (known as the social
constructions). Mary Shelley was intended to disclose the negativities of these
social constructions through plots which contains satirical dialogues and
monologues done by the characters of her novel. By understanding these social
constructions negativities, hence it is known that Mary Shelley Frankenstein by
Mary Shelley is trying to inspire her readers in performing a social reconstruction.
Moreover, by using a picture of terror and horror as the discourse of Gothic
Romance, Shelley was trying to make people aware of their social situation, as well
as providing public education, for which is emancipatory concerning the human life.
Keywords : Archetypal, Byronic He
ro, deconstruction, disc
ourse, emancipatory,
Gothic Romance, public education, post-structuralism, representation, satirical, social construction, social realities, social reconstruction.