Anda di halaman 1dari 4

1.

Kontrol Diri (self-control)


1.1 Defenisi Kontrol Diri
Calhoun dan Acocella (1990 dalam Ghufron, 2003 ) mendefenisikan kontrol diri sebagai
pengaturan proses-proses fisik, psikologis, dan perilaku seseorang dengan kata lain kontrol
diri merupakan serangkaian proses yang membentuk dirinya sendiri. Goldfried dan Merbaum
dalam (Lazarus, 1976) mendefenisikan kontrol diri sebagai suatu kemampuan untuk
menyusun, membimbing, mengatur dan mengarahkan bentuk perilaku yang dapat membawa
individu kearah konsekuensi positif. Kontrol diri juga menggambarkan keputusan individu
yang melalui pertimbangan kognitif untuk menyatukan perilaku yang telah disusun untuk
meningkatkan hasil dan tujuan tertentu seperti yang diinginkan (Lazarus, 1976).
Kontrol diri berkaitan dengan bagaimana individu mengendalikan emosi serta dorongandorongan dari dalam dirinya (Hurlock, 1984). Mengontrol emosi berarti mendekati suatu
situasi dengan menggunakan sikap yang rasional untuk merespon situasi tersebut dan
mencegah munculnya reaksi yang berlebihan (Elfrida, 1995 dalam Ghufron, 2003).
Chaplin (2002) menyatakan bahwa kontrol diri adalah kemampuan untuk membimbing
tingkah laku sendiri, kemampuan untuk menekan atau merintangi impuls-impuls dan tingkah
laku impulsive.
1.2 Jenis dan Aspek Kontrol Diri
Averill (1977 dalam Ghufron, 2003) menyebut kontrol diri dengan sebutan kontrol
personal, yaitu kontrol perilaku (behavior control), kontrol kognitif (cognitive control), dan
mengontrol keputusan (decisional control).
1.2.1 Kontrol Perilaku (behavior control )
Kontrol perilaku merupakan kesiapan tersedianya suatu respons yang dapat secara
langsung mempengaruhi atau memodifikasi suatu keadaan yang tidak menyenangkan.
Kemampuan mengontrol perilaku ini diperinci menjadi dua komponen, yaitu mengatur
pelaksanaan (regulated adminisration), dan kemampuan memodifikasi stimulus (stimulus
modifiability). Kemampuan mengatur pelaksanaan merupakan kemampuan individu untuk

menentukan siapa yang mengendalikan situasi atau keadaan. Apakah dirinya sendiri (aturan
perilaku dengan menggunakan kemampuan dirinya) dan bila tidak mampu individu akan
menggunakan sumber eksternal. Kemampuan mengatur stimulus merupakan kemampuan
untuk mengetahui bagaimana dan kapan suatu stimulus yang tidak dikehendaki dihadapi. Ada
beberapa cara yang dapat digunakan, yaitu mencegah atau menjauhi stimulus, menempatkan
tenggang waktu di antara rangkaian stimulus yang sedang berlangsung, menghentikan
stimulus sebelum waktunya berakhir, dan membatasi intensitasnya (Averill, 1977 dalam
Ghufron, 2003).
1.2.2 Kontrol Kognitif (Cognitive Control)
Kontrol kognitif merupakan kemampuan individu dalam mengolah informasi yang tidak
diinginkan dengan cara menginterpretasi, menilai atau menghubungkan suatu kejadian dalam
suatu kerangka yang kognitif sebagai adaptasi psikologis atau mengurangi tekanan. Aspek ini
terdiri atas dua komponen, yaitu memperoleh informasi (information gain) dan melalukan
penilaian (appraisal). Dengan informasi yang dimiliki individu mengenai suatu keadaan
yang tidak menyenangkan, individu dapat mengantisipasi keadaan tersebut dengan berbagai
pertimbangan. Melakukan penilaian berarti individu berusaha menilai dan menafsirkan suatu
keadaan

atau peristiwa dengan cara memperhatikan segi-segi positif secara subjektif

(Averill, 1977 dalam Ghufron, 2003).


1.2.3 Mengontrol Keputusan (Decicional Control)
Mengontrol keputusan merupakan kemampuan seseorang untuk memilih hasil atau suatu
tindakan berdasarkan pada sesuatu yang diyakini atau disetujuinya. Kontrol diri dalam
menentukan pilihan akan berfungsi, baik dengan adanya suatu kesempatan. Kebebasan, atau
kemungkinan pada diri individu untuk memilih berbagai kemungkinan tindakan. Menurut
Block dan Block (dalam Ghufron, 2010) ada tiga jenis kualitas kontrol diri, yaitu over
control, under control, dan appropriate control. Over control merupakan kontrol diri yang

dilakukan oleh individu secara berlebihan yang menyebabkan individu banyak menahan diri
dalam bereaksi terhadap stimulus. Under control merupakan suatu kecenderungan individu
untuk melepaskan impulsivitas dengan bebas tanpa perhitungan yang masak. Sementara
Appropriate control merupakan kontrol individu dalam upaya mengendalikan impuls secara
tepat (Averill dalam Ghufron, 2003).

1.3 Indikator kontrol diri (self control)


Berdasarkan tinjauan di atas didapati beberapa indicator kontrol diri (dalam Ghufron,
2010) diantaranya sebagai berikut:
1.3.1 Kemampuan mengontrol perilaku
Kemampuan untuk memodifikasi suatu keadaan yang tidak menyenangkan dimana
terdapat keteraturan untuk menetukan siapa yang mengendalikan situasi atau keadaan,
apakah oleh dirinya sendiri atau orang lain. Individu yang mampu menontrol dirinya dengan
baik akan mampu mengatur perilakunya sesuai dengan kemampuan dirinya dan bila tidak
maka individu akan menggunakan sumber eksternal.
1.3.2 Kemampuan mengontrol stimulus
Kemampuan untuk mengetahui bagaimana atau kapan suatu stimulus yang tidak
dikehendaki muncul. Ada beberapa cara yang dapat digunakan yaitu mencegah atau menjauhi
stimulus, menghentikan stimulus sebelum berakhir, dan melakukan kegiatan yang dapat
mengalihkan perhatian dari stimulus.
1.3.3 Keampuan mengantisipasi peristiwa
Kemampuan individu dalam mengolah informasi dengan cara menginterpretasi, menilai,
atau menggabungkan suatu kejadian dalam suatu kerangka kognitif. Informasi yang dimiliki
individu mengenai suatu keadaan yang tidak menyenangkan akan membuat individu mampu
mengantisipasi keadaan melalui pertimbangan secara objektif.

1.3.4

Kemampuan menafsirkan peristiwa

Penilaian yang dilakukan seorang individu merupakan suatu usaha untuk menilai dan
menafsirkan suatu keadaan dengan memperhatikan segi-segi positif secara subjektif.
1.3.5 Kemampuan mengambil keputusan
Kemampuan seseorang untuk memilih suatu tindakan berdasarkan sesuatu yang diakini
atau disetujuinya. Kemampuan dalam mengontrol keputusan akan berfungsi dengan baik
apabila terdapat kesempatan dan kebebasan dalam diri individu untuk memilih berbagai
kemungkinan.
1.4 Pengukuran Kontrol diri (Self Control)
Kontrol diri dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan Self Control Scale (SCS)
yang di desain oleh Tangney, Baumeister dan Boone pada tahun 2004. Skala ini terdiri atas
34 pernyataan yang mengindikasikan self control rendah (contohnya, saya berharap diri
saya lebih disiplin) dan self-control tinggi (contohnya, saya tidak pernah membiarkan diri
saya kehilangan kendali). Responden mengindikasikan tingkat persetujuan mereka pada
setiap pernyataan dalam kuesioner apakah sesuai atau tidak sesuai dengan diri responden.
Penilaian setiap pernyataan dalam kuesioner menggunakan skala 5 poin (1= tidak
menggambarkan diri saya sama sekali; 5= sangat menggambarkan diri saya).