Anda di halaman 1dari 10

1

BAB I
PENDAHULUAN

Retinopati hipertensi merupakan suatu keadaan yang ditandai dengan


kelainan pada vaskuler retina pada penderita dengan peningkatan tekanan darah.
Tanda-tanda pada retina yang diobservasi adalah penyempitan arteriolar secara
general dan fokal, perlengketan atau nicking arteriovenosa, perdarahan retina
dengan bentuk flame-shape dan blot-shape, cotton wool spots, dan edema
papilla.1,2
Preeklampsia merupakan salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas
ibu dan bayi yang tertinggi di Indonesia. Penyakit yang disebut sebagai disease
of theories ini, masih sulit untuk ditanggulangi. Preeklampsia dan eklampsia
dikenal dengan nama Toksemia Gravidarum merupakan suatu sindroma yang
berhubungan dengan vasospasme, peningkatan resistensi pembuluh darah perifer,
dan penurunan perfusi organ yang ditandai adanya hipertensi, edema dan
proteinuria yang timbul karena kehamilan. Adanya kejang dan koma lebih
mengarah pada kejadian eklampsia.3
Gejala gejala gangguan penglihatan pada preeklampsia termasuk
fotofobia, penyempitan lapangan pandang, penglihatan kabur, dan pada kasus
berat buta total. Tiga komplikasi yang paling sering terjadi pada mata untuk
pasien preeklampsia adalah retinopati hipertensi, retinal detachment, dan buta
kortikal.3,4

Berikut ini akan dilaporkan sebuah kasus tentang diagnosis retinopati


hipertensi pada preeklampsia berat yang ada di RSUP Prof. R. D. Kandou
Malalayang Manado.

BAB II
LAPORAN KASUS

Seorang penderita, perempuan, umur 28 tahun, Bangsa Indonesia, suku


Minahasa, agama Kristen Protestan, dikonsulkan dari Instalasi Ruang Darurat
Obsgin (IRDO) pada hari Selasa, 23 Desember 2014 dengan diagnosa G2P1A0,
28 tahun hamil 33-34 minggu dengan preeklampsia berat. Janin intrauterin
tunggal hidup letak kepala.
Penglihatan menurun secara tiba-tiba dialami penderita sejak 3 hari
sebelum masuk rumah sakit. Awalnya penderita merasa pusing dan sakit kepala
kemudian tiba-tiba penderita tidak bisa melihat secara jelas seperti sebelumnya.
Penderita kemudian berobat ke Balai Kesehatan Mata Masyarakat (BKMM) dan
disarankan untuk berobat ke RSUP Prof R. D. Kandou. Penderita kemudian
berobat ke IRDO dan dikonsulkan ke bagian Mata. Riwayat penggunaan kaca
mata disangkal, riwayat trauma disangkal, riwayat penyakit hipertensi dan
diabetes melitus disangkal. Di keluarga, hanya penderita yang sakit seperti ini.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum cukup, kesadaran
kompos mentis, tekanan darah 210/110 mmHg, nadi 90 x/menit, respirasi 24
x/menit, suhu badan (aksila) 36,90C, kepala tidak ada kelainan, jantung dan paru
dalam batas normal, tinggi fundus uteri 27 cm, bunyi jantung janin 140-148
x/menit, ekstremitas inferior terdapat udem di kedua kaki.
Dari pemeriksaan visus dengan menggunakan snellen chart didapatkan
visus mata kanan dan kiri 1/300. Pupillary distance 67/65. Pada inspeksi mata
kanan dan kiri palpebra normal, konjungtiva bulbi tidak ada kelainan, kornea

tidak ada kelainan, COA dalam, iris dan pupil dalam batas normal, terdapat refleks
cahaya, lensa jernih. Pada palpasi mata kanan dan kiri tidak ada nyeri, perabaan
lunak. Pada pemeriksaan tekanan intra okular dengan menggunakan tonometer
Schiotz, tekanan intra okular mata kanan 12,2 mmHg dan tekanan intra okular
mata kiri 14,6 mmHg. Pada pemeriksaan funduscopy didapatkan adanya refleks
fundus uniform; papil N.II batas tidak tegas, dan terdapat udem, retina terdapat
eksudat dan dot blot hemmorage; dan pada makula terdapat refleks fovea.
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan khusus status oftalmikus, pasien
ini didiagnosis menderita retinopati hipertensi grade IV.
Pada penderita ini diberikan anjuran kontrol tekanan darah, pemakaian
artificial tears 4 x 1 tetes pada mata kiri dan kanan. Diusulkan untuk dilakukan
partus per sectio cesarea. Jika keadaan memungkinkan kontrol poli mata subdivisi retina.

BAB III
DISKUSI

Pada pasien preeklampsia berat didapatkan tekanan darah 160/110 mmHg


atau lebih, proteinuria 5 gr/l dalam 24 jam atau secara kualitatif +3 atau +4,
oligouri yaitu jumlah urine kurang 500 cc/24jam, kenaikan kadar kreatinin
plasma, gangguan visus dan serebral, penurunan kesadaran, nyeri kepala, dan
pandangan kabur. Nyeri epigastrium atau nyeri pada kuadran kanan atas abdomen
(akibat teregangnya kapsula Glisson), edema paru dan sianosis, hemolisis
mikroangiopatik, trombositopenia berat <100.000 sel/mm3 atau penurunan
trombosit dengan cepat, gangguan fungsi hepar, pertumbuhan janin intrauterin
yang terhambat, sindrom HELLP.3,5
Gejala gejala gangguan penglihatan pada preeklampsia termasuk
fotofobia, penyempitan lapangan pandang, penglihatan kabur, dan pada kasus
berat buta total. Tiga komplikasi yang paling sering terjadi pada mata untuk
pasien preeklampsia adalah retinopati hipertensi, retinal detachment, dan buta
kortikal.4,5
Diagnosa retinopati hipertensi grade IV ditegakkan berdasarkan
anamnesa, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan oftalmologis.
Dari anamnesis didapatkan penglihatan menurun dialami penderita secara
tiba-tiba yang diawali dengan penderita merasa pusing dan sakit kepala. Hal ini
sesuai dengan kepustakaan yang menyatakan bahwa pada pasien dengan
preeklampsia berat dengan retinopati hipertensi biasanya akan mengeluhkan sakit
kepala dan nyeri pada mata. Penurunan penglihatan atau penglihatan kabur hanya

terjadi pada stadium III atau stadium IV peubahan vaskularisasi akibat


hipertensi.1,6
Dari pemeriksaan visus dengan menggunakan snellen chart didapatkan
visus mata kanan dan kiri 1/300. Pupillary distance 67/65. Hal ini menandakan
gangguan visus yang terjadi pada penderita, namun belum dilakukan koreksi pada
gangguan visus karena keadaan umum pasien yang tidak memungkinkan.
Pada pasien dengan preeklampsia berat mempunyai tekanan darah 160/110
mmHg atau lebih, mempunyai kemungkinan terjadi retinopati hipertensi. Pada
keadaan hipertensi, pembuluh darah retina akan mengalami beberapa seri
perubahan patofisiologis sebagai respon terhadap peningkatan tekanan darah.
Terdapat teori bahwa terjadi spasme arterioles dan kerusakan endotelial pada
tahap akut sementara pada tahap kronis terjadi hialinisasi pembuluh darah yang
menyebabkan berkurangnya elastisitas pembuluh darah.1,6 Pada tahap awal,
pembuluh darah retina akan mengalami vasokonstriksi secara generalisata. Ini
merupakan akibat dari peningkatan tonus arteriolus dari mekanisme autoregulasi
yang seharusnya berperan sebagai fungsi proteksi. Pada pemeriksaan funduskopi
akan kelihatan penyempitan arterioles retina secara generalisata. Peningkatan
tekanan darah secara persisten akan menyebabkan terjadinya penebalan intima
pembuluh darah, hiperplasia dinding tunika media dan degenerasi hyalin. Pada
tahap ini akan terjadi penyempitan arteriolar yang lebih berat dan perubahan pada
persilangan arteri-vena yang dikenal sebagai arteriovenous nicking. Terjadi juga
perubahan pada refleks cahaya arteriolar yaitu terjadi pelebaran dan aksentuasi
dari refleks cahaya sentral yang dikenal sebagai copper wiring. Setelah itu akan
terjadi tahap pembentukan eksudat, yang akan menimbulkan kerusakan pada

sawar darah-retina, nekrosis otot polos dan sel-sel endotel, eksudasi darah dan
lipid, dan iskemik retina. Perubahan-perubahan ini bermanifestasi pada retina
sebagai gambaran mikroaneurisma, hemoragik, hard exudate dan infark pada
lapisan serat saraf yang dikenal sebagai cotton-wool spot. Edema diskus optikus
dapat terlihat pada tahap ini, dan biasanya merupakan indikasi telah terjadi
peningkatan tekanan darah yang sangat berat.1,6,7 Kelainan-kelainan ini dapat
ditemukan dengan pemeriksaan funduscopy.
Klasifikasi retinopati hipertensi yang dibuat oleh Scheie pada tahun 1953
yang kemudian dimodifikasi oleh American Academy of Ophtalmology adalah:7
-

grade 0 : tidak ada perubahan

grade I : Penyempintan arteriolar yang hampir tidak terdeteksi

grade II: Penyempitan yang jelas dengan kelainan fokal

grade III: grade II + perdarahan retina dan/atau eksudat

grade IV: grade III + papil edema.

Pada penderita ini telah ditemukan melalui pemeriksaan funduscopy


adanya refleks fundus uniform; papil N.II batas tidak tegas, dan terdapat udem,
retina terdapat eksudat dan dot blot hemmorage; dan pada makula terdapat refleks
fovea. Menurut kepustakaan, pemeriksaan funduscopy akan membantu untuk
melihat derajat dari retinopati hipertensi. Sehingga, dari anamnesis, pemeriksaan
fisik dan pemeriksaan oftalmologi yang telah dilakukan dapat ditegakkan
diagnosis retinopati hipertensi grade IV.
Pada gangguan visus yang sering terjadi pada pasien dengan preeklampsia
berat, kebutaan permanen dapat terjadi namun sangat jarang. Umumnya, kebutaan
atau penurunan penglihatan akan berlangsung antara 4 jam sampai 1 minggu.

Apabila faktor penyebab dapat teratasi dan tekanan darah kembali menjadi
normal, maka prognosis dari kasus ini umumnya baik.7
Pada penderita dalam kasus ini, telah dilakukan kontrol tekanan darah dari
bagian Obsgin dengan pemberian nifedipin 10-20 mg per oral, diulangi setelah 30
menit; maksimum 120 mg dalam 24 jam. 8,9 Kemudian, dari bagian Mata
memberikan artificial tears 4 x 1 tetes untuk mata kiri dan kanan untuk mencegah
mata menjadi kering. Pasien diminta untuk kontrol ke poliklinik mata bila
keadaan sudah memungkinkan, namun, hingga saat ini pasien belum melakukan
kontrol di poliklinik mata.

BAB IV
PENUTUP

Retinopati hipertensi merupakan suatu keadaan yang

ditandai dengan

kelainan pada vaskuler retina pada penderita dengan peningkatan tekanan darah.
Pada pasien dengan preeklampsia berat salah satu komplikasi akut pada mata yang
sering terjadi adalah retinopati hipertensi.
Penegakkan diagnosis dari anamenesis, pemeriksaan fisik, hingga
pemeriksaan oftalmologis sangat penting untuk menentukan derajat dari
keparahan retinopati hipertensi tersebut. Sehingga, dapat dilakukan penanganan
yang tepat untuk menghindari dari komplikasi yang lebih lanjut yaitu kebutaan
permanen.
Prognosis

tergantung

kepada

kontrol

tekanan

darah.

Kerusakan

penglihatan yang serius biasanya tidak terjadi sebagai dampak langsung dari
proses hipertensi kecuali terdapat oklusi vena atau arteri lokal.
Demikian telah dilaporkan sebuah kasus tentang Diagnosis Retinopati
pada Preeklampsia Berat pada seorang penderita, perempuan umur 28 tahun yang
dikonsulkan dari Instalasi Ruang Darurat Obsgin RSUP Prof. R. D. Kandou
Malalayang.

10

DAFTAR PUSTAKA

1. Handor H, Daoudi R. Hypertensive Retinopathy Associated with Preeclampsia. The


New England Journal of Medicine;2014. h. 750-52.
2. Swende TZ, Abwa T. Reversible Blindness in Fulminating Preeclampsia. Annals of
African Medicine;2009. h. 189-91.
3. American College of Obstetrician and Gynecologists: Diagnosis dan Management of
Preeclampsia and Eclampsia. Practice bulletin No.33. Januari 2002.
4. Dharma R, Wibowo N, Raranta HPT. Disfungsi Endotel Pada Preeklampsia. Makara
Kesehatan;2005. h. 63-9.
5. Cheung A, Scott IU, Fekrat S. Ocular Changes During Pregnancy. Ophthalmic Pearls
Comprehensive;2009. h. 41-43.
6. Pavan PR, Burrows AF, Pavan LD. Manual of Ocular Diagnosis and Therapy:
Retina and Vitreous. In: Pavan LD, Azar DT, Azar N, Beyer J, Baruner SC, Burrows
A, editors.. 6th ed. Massachusetts. Lippincotts Williams and Wilkins; 2008. p. 21322.
7. Wong TY, Mitchell P. Current Concept Hypertensive Retinopathy. The New England
Journal of Medicine;2004. h. 2310-7.
8. Cunningham FG. Hypertensive Disoder In Pregnancy in Williams Obstetrics. 22nd ed.
McGraw-Hill. 2005.
9. DeCherney AH, Nathan L. Hypertensive States Of Pregnancy in Current Obstetrics
and Gynecologic Diagnosis and Treatment. McGraw Hill Companies. 2003.