Anda di halaman 1dari 4

MEDAN ELEKTROMAGNETIK

A. TUJUAN
Tujuan dari praktikum medan elektromagnetik ini diharapkan mahasiswa dapat:
1.
2.
3.
4.

Mengetahui karakteristik Medan Elektromagnetik


Menggunakan efek medan magnet untuk Selenoid
Menggunakan efek medan magnet untuk Rele
Menggunakan efek medan magnet untuk Motor DC serta Cara Kerjanya

B. ALAT DAN BAHAN YANG DIGUNAKAN


1. Modul Medan Elektromagnetik
2. Modul Power Suplay
3. Multimeter Analog
4. Kabel Jumper
C. TEORI DASAR
Jika seutas tembaga diberi aliran listrik, maka disekeliling kawat tembaga akan
terbentuk medan listrik. Dengan atuara tangan kanan dapat diketahui arah medan listrik
terhadap arus listrik. Caranya sederhana yaitu dengan mengacungkan jari jempol tangan
kanan sedankan keempat jari lain menggenggam. Arah jempol adalah arah arus dan arah
keempat jari lain adalah arah medan listrik yang mengitarinya.

Tentu masih ingat juga percobaan dua utas kawat tembaga paralel yang keduanaya
diberi arus listrik. Jika arah arusnya berlawanan kedua kawat tembaga tersebut saling
menjauh. Tetapi jka arah arusnya sama ternyata keduanya berdekatan saling tarik-menarik.
Hal ini terjadi karena adanya induksi medan listrik. Dikenal medan listrik dengan simbol
B dan satunya tasla (T). Besar akumulasi medan listrik B pada suatu luas area A tentu
didefinisikan sebagai besar magnetic flux. Simbol yang digunaka n untuk magnetic flux
ini adalah F dan satunya Weber (Wb= T.m2) secara matematis besarnya adalah:
Lalu bagaiman jika kawat tembaga itu dililitkan membentuk coil atau kuparan. Jika
kumparan tersebut dialiri listrik maka tiap lilitan akan saling menginduksi satu dengan

yang lainnya. Medan listrik yang terbentuk akan segaris dan saling menguatkan.
Komponen yang seperti ini yang dikenal dengan induktor selenoid.
Dari buku fisika dan teori medan yang menjelimit, dibuktikan bahwa induktor adalah
komponen dan dapat menyimpan energi magnetik. Energi ini dipresentasikan dengan
adanya tegangan emf (electromotive force) jika induktor dialiri listrik. Secara matematis
tegangan emf ditulis :
Jika dibandingkan dengan rumus hukum Ohm V=IR, maka kelihatan ada persamaan
rumus. Jika R disebut resistansi dari resistor dan V adalah besar tegangan jepit jika resitor
dialiri listrik sebesar I. Maka L adalh induktansi dari induktor dan E adalah tegangan yang
timbul ujika induktor dialiri listrik. Tegangan emf disini adalah respon terhadap perubahan
arus fungsi dari waktu terlihat dari rumus di/dt. Sedangkan bilangan negatif sesuai degan
hukum Lenz yang mengatakan efek induksi cenderung melawan perubahan yang
menyebabkanya.
Hubungan antar emf dan arus inilah yang desebut dengan induktansi, dan satuan yang
dugunakan adalah (H) Henry.
Induktor disebut self induced
Tegangan emf akan menjadi penting saat perubahan arusnya fluktuatif. Efek emf
menjadi signifikan pada sebuah induktor, karena perubahan arus yang melewati tiap lilitan
akan saling menginduksi. Ini yang dimaksud dengan self induced. Secara matematis
induktansi pada suatu induktor dengan jumlah lilitan sebanyak N adalah akumulasi flux
magnet untuk tiap arus yang melewatinya :

Fungsi utama dari induktor didalam suatu rangkaian adalah untuk melawan fluktuasi
arus yang melewatinya.
Dari pemahaman fisika, elektron yang bergerak akan menimbulkan medan elektrik
disekitarnya. Berbagai bentuk kumparan, persegi empat, setengah lingkaran atau lingkaran
penuh, jika dialiri listrik akan menghasilkan medan listrik yang berbeda. Penampang
induktor biasanya berbentuk lingkaran, sehingga diketahui besar medan listrik di titik
tengah lingkaran adalah :

Jika dikembangkan, adalah jumlah lilitan N relatif terhadap panjang induktor I. Secara
matematis ditulis :

Lalu i adalah besar arus melewati induktor tersebut. Ada simbol m yang dinamakan
permeability dan mo yang disebut permeability udara vakum. Besar permeability m
tergantung dari bahan inti (core) dari induktor. Untuk induktor tanpa inti (air winding) m =
1
Jika rumus-rumus diatas disubtitusikan maka rumus induktansi (rumus 3) dapat ditulis
menjadi :

L : induktansi dalam H (Henry)


m : permeability inti (core)
mo: permeability udara vakum
mo: 4p x 10-7
N : jumlah lilitan induktor
A : luas penampang induktor (m2)
I : panjang induktor (m)

Inilah rumus untuk menghitung nilai induktansi dari sebuah induktor. tentu saja rumus
ini bisa dibolak-balik untuk menghitung jumlah lilitan induktor jika nilai induktansinya
sudah ditentukan.
Ferid dan permeability
Besi lunak banyak digunakan sebagai inti (core) dari induktor yang disebut ferit. Ada
bermacam macam jenis ferit yang disebut ferromagnetik. Bahan dasarya adalah bubuk
besi oksida yang disebut jga iron power. Ada juga ferit yang disebut dengan bahan bubuk
lain seperti nicle, manganase, zinc (seng) dan mangnesium. Melalui proses yang
dinamakan kalsinasi yaitu dengan pemanasan tinggi dan tekanan tinggi, bubuk campuran
tersebut dibuat menjadi omposisi yang padat . prosis pembuatannya sama seperti membuat
kramik. oleh sebab itu ferit ini sebenarnya adalah keramikk

Ferit yang sering dijumpai ada yang memiliki m = 1 sampai m = 15.000. dapat dipahami
penggunaan ferit dimaksudkan untuk mendapatkan nilai induktansi yang lebih besar relatif
terhadap jumlah lilitan yang lebih sedikit serta dimensi induktor yang lebih kecil.

D. LANGKAH KERJA
Gunakan modul Electromagnetik
1. Berikanlah tegangan 12 Volt dari power suplay ke solenoid
2. Sambung dan lepaskan tegangan tersebut dari sumber
3. Amati yang terjadi pada solenoid
4. Berikanlah tegangan 12 Volt dari power suplay ke relay
5. Sambung dan lepaskan tegangan tersebut dari sumber
6. Amati yang terjadi pada relay
7. Berikanlah tegangan 12 Volt dari power suplay ke motor DC
8. Sambung dan lepaskan tegangan tersebut dari sumber
9. Berikanlah tegangan 0-12 Volt dari power suplay ke motor DC
10. Amati yang terjadi pada motor (kecepatannya) saat perubaha tegangan