Anda di halaman 1dari 18

KARAKTERISTIK TANAH

1. Warna

Sistem Pewarnaan Munsell

Merah, cokelat, kuning, merah kekuning-kuningan, cokelat keabu-abuan, dan merah


kusam adalah deskripsi yang cocok mengenai warna tanah, tetapi bukan yang sangat
tepat. Sama halnya dengan toko cat yang memiliki kumpulan chip warna yang
mengikuti system notasi pewarnaan Munsell . Sistem Munsell memenuhi kriteria
seluruh warna tanah di dunia. Sistem ini memiliki tiga komponen: corak warna yang
spesifik(hue), tingkat kegelapan dan keterangan(value), dan intensitas warna(chroma)
yang disusun dalam pedoman chip warna. Warna tanah ditempatkan di samping chip
dan ditempatkan bersesuaian dengan notasi Munsell. Sebagai contoh, tanah berwarna
cokelat akan dicatat sebagai hue value/chroma (10YR 5/3). Dengan pedoman notasi
Munsell, seorang siswa atau guru sains dapat menghubungkan warna tanah dengan
alam. Dan siswa mampu belajar untuk membaca dan mencatat warna tersebut secara
ilmiah. Warna tanah dengan notasi Munsell merupakan salah satu dari metode standard
untuk mendeskripsikan tanah untuk survey lapangan. Notasi warna Munsell dapat
digunakan untuk mendefinisikan situs arkeologi atau untuk membuat perbandingan
dalam suatu penyelidikan kasus criminal. Bahkan pabrik karpet menggunakan notasi
warna tanah Munsell untuk membandingkannya dengan warna tanah local agar bekas
kotoran(tanah) tidak mengotori karpet dalam rumah.

Komposisi dan Warna Tanah

Warna tanah dan karakteristik lainnya termasuk tekstur, struktur, dan konsistensi
digunakan untuk membedakan dan mengidentifikasi lapisan/horizon tanah dan untuk
mengklasifikasikan tanah berdasarkan klasifikasi tanah dalam taksoonomi tanah.
Perkembangan dan distribusi warna dalam profil tanah adalah bagian dari proses
pelapukan. Karena pelapkan batuan yang mengandung besi dan mangan, maka unsure
tanah teroksidasi. Besi mengubah Kristal kecil berwarna merah atau kuning dan bahan
organic yang membusuk menjadi tanah humus yang berwarna hitam, dan mangan
membentuk endapan mineral hitam. Pigmen ini memberikan warna pada tanah. Warna
juga dipengaruhi oleh lingkungan: lingkungan yang aerobic mempengaruhi perubahan
warna menjadi lebih rumit, dan lingkungan anaerobis , lingkungan lembab mengganggu
perubahan warna dengan kompleks.

Mineral Rumus Kimia Ukuran Munsell Warna


Geothite FeOOH (1-2 m m) 10YR 8/6 Kuning
Geothite FeOOH (~0.2 m 7.5YR 5/6 Cokelat tua
m)
Oksida Besi Fe2O3 (~0.4 m 5R 3/6 Merah
m)
Oksida Besi Fe2O3 (~0.1 m 10R 4/8 Merah
m)
Lepridocosite FeOOH (~0.5 m 5YR 6/8 Kuning
m) kemerahan
Lepridocosite FeOOH (~0.1 m 2.5YR 4/6 Merah
m)
Ferrihydrite Fe(OH)3 2.5YR 3/6 Merah gelap
Glauconite K(SixAl4-x) 5Y 5/1 Kelabu gelap
(Al,Fe,Mg)O10(OH)2
Sulfida Besi FeS 10YR 2/1 Hitam
Pirit FeS2 10YR 2/1 Hitam (Metalik)
Jarosite K Fe3 (OH)6 (SO4)2 5Y 6/4 Kuning kusam
Todorokite MnO4 10YR 2/1 Hitam
Humus 10YR 2/1 Hitam
Kalsit CaCO3 10YR 8/2 Putih
Dolomite CaMg (CO3)2 10YR 8/2 Putih
Gips CaSO4× 2H2O 10YR 8/3 Cokelat yg sgt
kusam
Kuarsa SiO2 10YR 6/1 Kelabu terang

Secara relative, kristal goethite dalam jumlah besar mmemberikan pigmen warna
kuning di mana-mana pada tanah aerobic. Kristal goethite dalam jumlah kecil
memberikan warna sedikit kecokelatan. Oksida besi memberikan warna merah. Oksida
besi dalam jumlah besar memberikan warna merah keungu-unguan pada lapisan tanah
sedimen dalam tanah, yang mungkin merupakan bawaan dari warna batuan induk.
Secara umum, pemberian warna tanah oleh goethite sering terjadi di daerah yang
beriklim subtropic, dan oksida besi secara merata pada daerah beriklim tropis dan
padang pasir yang panas.
Warna atau kekurangan warna pada tanah dapat memberitahu kita mengenai keadaan
lingkungan. Lingkungan yang anaerobis terbentuk ketika tanah dengan permukaan air di
bawah tanah menempati lapisan yang impermeable tinggi. Di beberapa tanah,
permukaan air di bawah tanah meningkat pada musim hujan. Ketika air menutupi tanah,
oksigen yang ada dalam air terpakai secara cepat, dan bakteri aerobic berdormansi.
Bakteri anaerobic menggunakan ferri besi(Fe3+) dari goethite dan oksida besi sebagai
penerima electron dalam metabolismenya. Dalam prosesnya, besi tereduksi menjadi
tidak berwarna sulfide besi yang dapat larut dalam air(Fe2+), yang dikembalikan ke
tanah. Bakteri anaerobic yang lainnya menggunakan Mn4+ sebagai penerima electron,
yang tereduksi menjadi tidak berwarna, Mn2+ yang larut dalam air. Kehilangan pigmen
ini meninggalkan warna abu-abu pada mineral lapisan bawah. Jka air tetap ada pada
waktu lama, seluruh zona menjadi warna abu-abu.

Ketika air mengering pada cuaca panas, oksigen akan masuk kembali. Besi yg larut
dalam air teroksidasi menjadi bintik-bintik warna orange yang merupakan karakteristik
dari lepridocosite pada retakan dalam tanah. Jika tanah terisi udara dengan cepat, bintik-
bintik merah terang dari ferrihydrate terbentuk dalam pori-pori dan retakan tanah.
Biasanya Ferrihydrate tidak stabil, dan sewaktu-waktu dapat berubah menjadi
lepridocosite.

Sepanjang pantai laut, air pasang memenuhi tanah dua kali setiap hari, yang membawa
anion sulfat yang larut dalam air. Bakteri anaerobic menggunakan anion sulfat sebagai
akseptor electron dan melepaskan sulfide(S2-) yang bergabung dengan sulfide besi untuk
mempercepat pengendapan sulfide besi hitam. Sedikit asam hidrokolik(HCl)

bercampur dengan pigmen hitam ini yang menghasilkan bau telur busuk dari gas
hydrogen sulfide(H2S). Tanah yang melepaskan gas H2S disebut tanah sulfide. Setelah
beberapa lama, sulfide besi berubah menjadi perit dan memberikan warna kebiru-
biruan. Jika tanah bersulfik ini kering dan terhembus angin , maka akan berubah
menjadi lebih asam (dari pH 2,5-3,5), dan pigmen kuning kusam yang khusus dari
jarosite terbentuk. Ini adalah tanda bahwa tanah yang berasam sulfide ini korosif dan
hanya sedikit tumbuhan yang dapat tumbuh.
Galuconitic pasir hijau terbentuk dari air samudra yang dangkal yang berada di
dekatnya. Galuconitic menjadi bagian dari tanah yang terbentuk saat ketinggian air
menurun. Warna putih yang tidak dilapisi oleh kalsit, dolomite, dan gips merupakan
sesuatu yang umum dalam lapisan material dan tanah pada iklim kering. Sedikit
karbonat tersebar dalam air, mengalir ke bawah, dan mengendap menjadi bagian yang
berwarna putih dan lunak atau nodula yang keras

Pengaruh materi organic terhadap warna tanah

Tanah memiliki organism hidup dan bahan organic yang mati, yang terurai menjadi
humus. Di padang rumput terdapat warna gelap yang merembes melalui lapisan atas
yang membawa nutrisi dan kesuburan yang tinggi bagi tanah. Di tanah yang lebih dalam
lagi, pigmen organic melapisi permukaan tanah, membuatnya menjadi lebih gelap
disbanding dengan di dalammnya. Warna humus menurun pada lapisan yang lebih
dalam lagi dan warna besi mulai kelihatan. Di area berpohon, bahan organic(daun, duri,
pucuk pohon, dan jasad hidup) terakaumulasi pada permukaan atas tanah. Karbon yang
larut dalam air terus menuju ke lapisan bawah, membawa sedikit humus dan besi yang
mengakumulasi lapisan bawah menjadi hitam, segerombolan humus di atas kumpulan
besi berwaarna kemerah-merahan. Biasanya, lapisan putih, hampir semuanya kuarsa
terbentuk di antara materi organic pada permukaan atas yang pigmennya hilang. Bahan
organic berperan penting tetapi secara tidak langsung dalam menghilangkan besi dan
mangan dari tanah lembab.

2. Struktur tanah
Struktur tanah ditentukan dari bagaimana butiran2 tanah bergumpal atau berikatan
menjadi satu dan berkumpul, dan oleh karena itu, penyusunan tanah berpori-pori.
Struktur tanah memiliki pengaruh primer terhadap air dan gerakan air, aktivitas biologi,
pertumbuhan akar, dan munculnya tunas.
Struktur tanah dipengaruhi oleh: dari apa tanah itu berkembang, kondisi lingkungan
dimana tanah itu terbentuk, adanya tanah liat, adanya material organic. Faktor lain yang
penting dalam mempengaruhi struktur tanah adalah kestabilan dari kumpulan tanah di
bawah pengaruh kondisi lembab dan kering, kestabilitas dari kumpulan partikel
terhaadap gangguan fisik, susunan dan sifat dasar dari kumpulan partikel, dan bentuk
profil.
Struktur sangat penting karena mempengaruhi kemampuan menyerap airnya. Struktur
yang tebal akan mereduksi air dalam jumlah besar dan air yang dapat bergerak bebas
melalui tanah. Selain itu, struktur tanah juga mempengaruhi kemampuan tanaman untuk
menyebarkan akarnya dalam tanah.

Terdapat lima pengelompokan struktur tanah:


1. Platy
Pada struktur platy, unit-unitnya datar dan seperti pelat. Struktur ini secara umum
diorentasikan secara horizontal. Bentuk special, struktur platy lentikular, dikenal
sebagai pelat yang tengahnya paling tebal dan tipis pada tepinya. Struktur platy
biasanya ditemukan pada subpermukaan tanah yang subjeknya luluh atau memadat
karena hewan atau mesin. Pelat ini dapat
dipisahkan dengan sedikit gaya dengan
mengumpil lapisan horizontal denan pisau silet.
Struktur platy cenderung menghalangi gerakan
air untuk turun ke bawah dan akar tanaman
menembus tanah.

2. Prismatic
Pada struktur prosmatic, unit-unit individual dibatasi
bidang vertical yang rata hingga bulat. Unit-unitnya
secara jelas memanjang vertical, dan bidangnya secara
khas terbuat atau terbenntuk dari unit yang berada di
antaranya. Puncaknya kaku; bagian atas prisma kadang-
kadang kurang jelas dan secara normal rata. Struktur
prismatic merupakan karakteristik pada horizon B atau subsoils. Retakan atau patahan
vertical dihasilkan dari pembekuan dan pencairan dan pembasahan dan pengeringan dari
gerakan air dan akar.

3. Columnar
Pada struktur columnar, unit-unitnya
sama dengan prisma dan dibatasi oleh
bidang vertical yang rata atau sedikit
bulat. Bagian atasnya, dibandingkan
dengan prisma, sangat jelas dan
biasanya melingkar. Struktur columnar
umumnya terdapat pada subtanah dari
sodium. Struktur columnar sangat tebal dan sangat sulit bagi akar tanaman untuk
menembusnya. Teknik seperti pembajakan membantu dalam perbaikan beberapa derajat
kesuburan tanah ini.

4. Blocky
Pada struktur blocky, unit structural seperti blok atau
polyhedral dan dibatasi permukaan yang rata atau
sedilit bulat yang terbuat dari permukaan sekitar
pedosfer. Secara khas, unit structural blocky ini
mendekati seimbang tetapi masih termasuk tingkatan
prisma dan pelat. Struktur ini digambarkan sebagai
angular jika permukaannya berpotongan pada sudut tajam secara relative, sebagai
subangular jika permukaannya merupakan campuran dari permukaan yang bulat dan
menanjak dan sudutnya hampir bulat. Struktur blocky biasanya berada pada subtanah
tetapi ada juga yang pada permukaan tanah yang memiliki kandungan liat yang tinggi.
Struktur blosky yang paling kuat terbentuk dari hasil pembengkakkan dan penyusutan
mineral tanah liat yang menghasilkan retakan. Kadang-kadang permukaan dari rawa dan
kolam kering menunjukkan karakteristik retak dan seharusnya mengelupas dari liat.

5. Granular
Pada struktur granular, unit structural
mendekati bentuk bola atau polyhedral dan
dibatasi oleh permukaan berliku-liku atau
sangat tidak beraturan yang tidak dibentuk dari
pedosfer yang berdampingan. Dengan kata lain,
bentuknya seperti cookie kering. Struktur granular biasanya terdapat pada permukaan
tanah yang berumput banyak dan dapat dikembangkan menjadi tanah perkebunan yang
kaya akan bahan organic. Partikel mineral tanah dipisahkan oleh produk bahan organic
yang rusak; dan biota tanah membuat tanah mudah untuk bekerja. Pengolahan tanah,
cacing tanah, pembekuan dan hewan pengerat mencampurkan tanah dan menurunnkan
ukuran dari pedosfer. Struktur ini memiliki sifat menyerap yang bagus dan dengan
mudah dapat dilalui udara dan air. Struktur ini baik untuk bercocok tanam dan
perkecambahan.

1. Tekstur tanah
Tanah terdiri dari butir – butir tanah berbagai ukuran. Bagian tanah yang berukuran
lebih dari 2 mm sampai lebih kecil dari pedon disebut fragmen batuan atau bahan kasar.
Bahan-bahan tanah yang lebih halus (<2mm) disebut fraksi tanah halus dan dapat
dibedakan menjadi:
Pasir : 2mm - 50µm
Debu : 50µm - 2µm
Liat : kurang dari 2µm
Tekstur tanah menunjukkan kasar halusnya tanah dari fraksi tanah halus
(<2mm). Berdasar atas perbandingan banyaknya butir – butir pasir, debu dan liat maka
tanah dikelompokkan ke dalam beberapa macam kelas struktur.
1. Kasar, berupa pasir dan pasir berlempung.
2. Agak kasar, berupa lempung berpasir dan lempung berpasir halus.
3. Sedang, berupa lempung berpasir sangat halus, lempung, lempung berdebu,
dan debu.
4. Agak halus, berupa lempung liat, lempung liat berpasir, dan lempung liat
berdebu.
5. Halus, berupa liat berpasir

Soil Texture Triangle

Dalam klasifikasi tanah (taksonomi tanah) tingkat family, kasar halusnya tanah
ditunjukkan dalam kelas sebaran besar butir (particle size distribution) yang
mencangkup seluruh tanah (fragmen batuan dan fraksi tanah halus). Kelas besar butir
merupakan penyederhanaan dari kelas tekstur tanah tetapi dengan memperhatikan pula
banyaknya fragmen batuan atau fraksi tanah yang lebih banyak dari pasir (≥ 2mm).
kelas besar butir untuk fraksi kurang dari 2 mm (fraksi tanah halus) meliputi : berpasir,
berlempung kasar, berlempung halus, berdebu kasar, berdebu halus, (berliat) halus,
(berliat) sangat halus. Bila fraksi tanah halus (kurang dari 2mm) sedikit sekali (<10%)
dan tanah terdiri dari kerikil, batu-batu dan lain-lain (≥ 90% volume) disebut
fragmental. Bila tanah halus termasuk kelas berpasir, berlempung atau berliat, tetapi
mengandung 35%-90% (volume) fragmen batuan (kerikil, batu-batu) maka kelas
sebaran besar butirnya disebut berpasir skeletal, berlempung skeletal, dan berliat
skeletal.

Diagram segitiga tekstur tanah dan sebaran butir

Horizon tanah
Profil tanah
Formasi tanah dimulai pertama kali dengan
pelapukan batuan menjadi regolith. Disambung
dengan iklim dan proses perkembangan horizon
tanah mengarah ke pembentukan perkembangan
profil tanah.
Solum
Solum dalam ilmu tanah terdiri dari lapisan permukaan dan sub tanah yang mengalami
kondisi pembentukan tanah yang sama. Dasar dari solum secara relative bahan induk
yang tidak terpengaruh iklim, dan memasuki lapisan bawah.
Solum dan tanah tidaklah sama. Beberapa tanah termasuk lapisan yang tidak
dipengaruhi oleh pembentukan tanah. Lapisan ini bukanlah bagian dari solum. Jumlah
dari horizon genetic berkisar dari satu hingga beberapa. Lapisan permukaan yang 10cm
tebalnya berada di atas lapisan tanah keras dapat disebut sebagai solum. Tanah yang
terdiri dari hanya alluvium yang baru tersimpan atau baru diarahkan ke pembentukan
sedimen lunak tidak memiliki solum. Solum terdiri dari horizon A, E, dan B dan
horizon transisi dan beberapa horizon O, termasuk horizon dengan akumulasi dari
carbonate atau lebih garam terlarut.
Distribusi Tanah dan Air Tanah
1. Soil Moisture Belt
Soil moisture belt adalah subdivisi dari zona aeration. Daerah dimana airnya dapat
digunakan oleh tanaman atau diambil kembali karena evaporasi tanah. Beberapa air
menuju ke tengah daerah tersebut , dimana mungkin dapat diikat oleh ikatan molekul
terhadap pengaruh gravitasi.

2. Unsaturated Zone
Unsaturated Zone(zona
kering) merupakan zone yang
berada di antara permukaan tanah atas
dengan permukaan air di bawah tanah.
Zona unsaturated termasuk capillary
fringe( pinngir kapiler) dan mungkin
juga termasuk tempat air tanah
setempat(terlokasi). Tekanan lubang air dalam zona unsaturated lebih kecil
dibandingkan tekanan di atmosfir, kecuali air tanah setempat atau terlokasi(perched
ground water). Pengecualian untuk capillary fringe dan perched ground water, pori-pori
atau lubang di zona unsaturated ini terdiri dari air dan udara. Unsaturated zone berbeda
dengan saturated zona(zona basah), yang pori2nya terdiri dari air dalam jumlah besar
dibandingkan dengan tekanan atmosfir dan hampir selalu dipenuhi oleh air dengan
kadar penuh. Unsaturated zone ini disebut juga vadose zone atau aeration zone.

3. Water Table
Dalam terhadap gravitasi, air merembes menembus ke dalam tanah dan bergerak ke
bawah hingga bagian batuan yang tidak dapat dilalui air. Zona subpermukaan yang
semua pori-pori batuannya terisi air disebut saturated zone. Permukaan atas dari
saturated zone disebut water table. Zona yang berada diantara water table dan
permukaan tanah disebut aeration zone. Lebih jelasnya, sumur seharusnya dibor hingga
mencapai saturated zone. Kecepatan pada aliran air di bawah tanah bergantung pada
permeabilitas dari batuan atau seberapa besar sumur dihubungkan dengan pori2 atau
lubang tanah.
Mata air terbentuk
dari aliran air yang
secara alami dari
batuan hingga ke
permukaan daratan.
Mata air mungkin
dapat merembes
menembus tempat
dimana water table
berpotongan dengan
permukaan daratan. Air bisa juga mengalir keluar dari tanah sepanjang patahan.

4. Saturated Zone
Saturated zone meliputi area bawah tanah yang semua pori-porinya saling berhubungan
dalam media lapisan tanah adalah terpenuhi oleh air dengan sepenuhnya. Banyak ahli
hydrogeology memisahkan zona ini menjadi dua subzone: phreatic zone dan capillary
fringe.

Phreatic zone adalah area yang pori2 airnya akan mengalir secara bebas dari pori2 ke
lapisan material tanah. Air dalam pori2 phreatic zone berada pada tekanan yang lebih
besaar dibandingkan dengan tekanan atmosfir. Lapisan atas, yang dipisahkan dari
phreatic zone oleh permukaan air bawah tanah adalah capillary fringe. Gerak kapiler
dalam media lapisan tanah kosong menyebabkan air turun dari atas phreatic zone. Tidak
seperti phreatic zone, gerak ckapiler menyebabkan tekanan air dalam pori2 lebih rendah
dibandingkan tekanan atmosfir. Saat pori2 kedua zona terpenuhi air, perbedaan tekanan
di masing-masing pori2 menyebabkan air bereaksi secara berbeda. Air dalam phreatic
zone akan bersiap untuk mengalir keluar dari lubang saat tekanan negative dalan
capillary fringe dengan kuat menahan air setempat. Itu adalah air dari phreatic zone
yang dikumpulkan dan dipompa dari sumur dan mengalir ke sungai kecil dan sumber
mata air.

Air dalam phreatic, bagian dari saturated zone bergerak melalui pori2 yang saling
berhubungan dari material lapisan tanah dalam respon untuk mempengaruhi gravitasi
dan tekanan dari lapisan atas. Rata-rata gerakan air tanah dalam saturated zone berkisar
dari sedikit kaki per tahun sampai beberapa kaki per hari tergantung dengan kondisi
tempat. Hanya dalam patahan besar atau system karst yang kecepatannya mendekati
aliran permukaan.

Saturated zone memanjang ke bawah daari capillary fringe hingga kedalaman dimana
kepadatan batuan meningkat hingga ujung yang migrasi airnya tidak mungkin terjadi
lagi. Dalam lembah sungai yang dalam, ini mungkin terjadi pada kedalaman sekitar
50.000 kaki. Pada kedalaman yang ekstrim ini, pori2 yang kosong tersebut tidak akan
saling berhubungan lagi.

Horiso – Horison Tanah:

1. Horison O: Lapisan tanah atas, merupakan lapisan tanah yang subur karena
mengandung bahan organic(decomposite oraganic matter).
2. Horizon A: lapisan tanah atas, lapisan ni ditemukan di bawah horizon O dan di
atas harozon E. benih-benih tanaman dan akar-akarnya tumbuh pada lapisan ini.
Lapisan ini warnaya gelap, terdiri dari humus da campuran partikel mineral.

3. Horizon E: lapisan eluviasi yang berwarna terang. Lapisan tanah ini berpasir,
sedikit mengandung mineral dan tanah liat karena tetesan air menembus masuk
ke tanah.

4. Horizon B: lapisan tanah yang paling bawah. Lapisan ini mengandung sedikit
tanah liat dan mineral yang didapati dari lapisan di ajtasnya ketika proses
perembesan air ke bawah tanah dari lapisan di atasnya

5. Horizon C: lapisan regolith. Terdiri dari sedikit pelapukan dari batuan induk.
Akar tanaman tidak dapat menembus lapisan tanah ini dan lapisan ini hanya
mengandung sedikit bahan organic.

6. Horizon R: lapisan batuan induk yang berada pada lapisan paling bawah dari
tanah.

KLASIFIKASI TANAH

Sifat tanah berbeda-beda, ada yang berwarna hitam, kelabu, bertekstur pasir,
debu, liat,dsb. Untuk membedakan tanah tersebut diperlukan klasifikasi tanah meskipun
dengan cara yang sangat sederhana. Klasifikasi tanah itu sendiri berarti usaha untuk
membeda-bedakan tanah berdasarkan atas sifat-sifat yang dimilikinya. Tujuan dari
klasifikasi tanah yaitu:

1. Mengorganisasi atau menata tanah


2. Mengetahui hubungan individu tanah
3. Memudahkan mengingat sifat-sifat tanah
4. Mengelompokkan tanah untuk :
• Menaksir sifat-sifatnya
• Mengetahui lahan-lahan terbaik
• Menaksir produktivitas
• Penelitian eksplorasi
1. Mempelajari hubungan-hubungan dan sifat-sifat tanah yang baru
Tanah dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu klasifikasi alami dan klasifikasi
teknis. Klasifikasi alami adalah klasifikasi tanah yang didasarkan atas sifat tanah yang
dimilikinya tanpa menghubungkan dengan tujuan penggunaan tanah tersebut.
Klasifikasi ini memberikan gambaran dasar terhadap sifat fisik,kimia, dan mineralogy
tanah yang dimiliki masing-masing kelas yang selanjutnya dapat digunakan sebagai
dasar untuk pengelolaan berbagai penggunaan tanah.

Sedangkan klasifikasi teknis adalah klasifikasi tanah yang didasarkan sifat-sifat


tanah yang mempengaruh kemampuan tanah untuk penggunaan-penggunaan tertentu.
Misalnya klasifikasi kesesuaian lahan untuk tanaman perkebunan, maka tanah akan
diklasifikasikan atas dasar sifat-sifatr tanah yang mempengaruhi tanaman perkebunan
tersebut seperti keadaan drainase tanah, lereng, tekstur tanah, dan lainnya.

Dalam pengertian sehari-hari pengklasifikasian tanah sering diartikan sebagai


klasifikasi alami. Banyak negara yang menggunakan sistem klasifikasi tanah secara
alami bahkan di Indonesia dikenal tiga sistem pengklasifikasian tanah yang
dikembangkan oleh Pusat Penelitian Tanah Bogor, FAO/UNESCO, dan USDA
(Amerika Serikat).

Seperti halnya sistem klasifikasi hewan atau tanaman, klasifikasi tanah juga
mengenal berbagai kategori klasifikasi. Sifat-sifat tanah yang digunakan untuk
membedakan tanah pada kategori tinggi juga merupakan pembeda pada kategori rendah,
sehingga jumlah faktor pembeda semakin meningkat dengan semakin rendahnya
kategori.

Taksonomi Tanah (USDA)

Sistem ini menggunakan enam kategori yaitu ordo, subordo, great group, subgroup,
family, dan seri. Sistem ini merupakan sistem yang benar-benar baru baik mengenai
cara-cara penamaan (tata nama) maupun definisi-definisi mengenai horison-horison
penciri ataupun sifat-sifat penciri lain yang digunakan untuk menentukan jenis-jenis
tanah (seperti horison penciri, horison bawah penciri, horison penciri untuk tanah
organik, penciri khusus, regim temperatur ataupun regim kelembapan). Contohnya
seperti dibawah ini :

EPIPEDON

Epipedon adalah horison permukaan tetapi tidak sinonim dengan horison A karena
dapat juga mencangkup sebagian atau seluruh horison B. Hal ini juga dapat terjadi bila
horison B berwarna gelap karena pengaruh bahan organic seperti horison A dan tidak
massif, sehingga memenuhi syarat sebagai epipedon molik atau umbrik.

Epipedon histik

Horison permukaan tebalnya 20-40 cm yang mengandung bahan organic tinggi (untuk
tanah pasir harus lebih tinggi dari 20% bahan organic atau atau 12% C-organik; untuk
tanah liat harus lebih dari 30% bahan organic)

Epipedon mollik

Mengandung bahan organic lebih 1 % (0.6 % C-organik), warna lembab dengan value ≤
3, tebal 18 cm atau lebih, kejenuhan basa (NH4 OAc) lebih dari 50%.

Epipedon umbrik

Seperti mollik tetapi kejenuhan basa (NH4 OAc) kurang dari 50%.

Epipedon ochrik

Horison berwarna terang (value lembab lebih dari 3), bahan organic kurang dari 1 %
atau keras-sangat keras dan masih massif bila kering.

Epipedon plaggen

Tebal lebih dari 50 cm, hitam, terbentuk karena pemupukan organic (pupuk kandang
secara terus menerus.
HORISON BAWAH PENCIRI

Horison argilik

Horison penimbunan liat, adalah horison B yang paling sedikit mengandung 1.2 kali liat
lebih banyak daripada liat diatasnya.

Horison spodik

Horison iluviasi seskuiosida bebas (Fe dan Al oksida) dan bahan organic.

Horison kambik

Horison bawah yang telah terbentuk struktur tanah atau warna sudah lebih merah dari
bahan induk atau ada indikasi lemah adanya argilik dan spodik, tetapi tidak memenuhi
syarat keduanya.

Horison oksik

Tebal 30 cm atau lebih, KTK (NH4OAc) < 16 cmol (+)/kg liat, dan KTK efektif (jumlah
basa dan Aldd) <12 cmol/kg liat.

\horison petrokalsik

Horison kalsik yang mengeras.

Horison albik

Horison berwarna pucat (horison E), warna dengan value lembab lebih dari 5.

Dalam sistem USDA nama-nama tanah selalu mempunyai arti, yang umumnya
menunjukkan sifat utama dari tanah tersebut. Dalam kategori ordo nama tanah selalu
diberi akhiran sol ( solum = tanah ), sedangkan suku kata sebelumnya menunjukkan
sifat utama dari tanah tersebut. Nama pada kategori subordo terdiri dari dua suku kata.
Sedangkan great group terdiri dari tiga suku kata yang masing-masing menunjukkan
sifat-sifat utama dari tanah tersebut. Suku kata terakhir menunjukkan nama dari ordo
tanah.
Untuk nama subgroup digunakan dua patah kata dimana kata kedua merupakan
nama great group dan kata pertama menunjukkan sifat utama dari subgroup tersebut
pada tingkat family, tanah diberi nama secara deskriptif yang umumnya menerangkan
susunan besar butir, susunan mineral liat, regim suhu tanah atau sifat-sifat lain yang
spesifik dan mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Pada tingkat seri, tanah diberi nama
menurut nama tempat dimana tanah tersebut pertama kali ditemukan.

Arti nama-nama tanah dalam tingkat ordo dan akhiran untuk kategori yang lebih rendah

Akhiran Untuk Kategori


Nama Ordo Arti Asal Kata
Lain

Alfisol ALF Dari Al-Fe


Andisol AND Ando, tanah hitam
Aridisol ID Aridus, sangat kering
Entisol ENT Dari Recent
Gelisol EL Gelare, membeku
Histosol IST Histos, jaringan
Inceptisol EPT Inceptum, permulaan
Mollisol OLL Mollis, lunak
Oxisol OX Oxide, oksida
Spodosol OD Spodos, abu
Ultisol ULT Ultimus, akhir
Vertisol ERT Verto, berubah

Dibawah ini adalah sebuah contoh:


• Ordo : Ultisol ( ultus = akhir, perkembangan tanah pada tingkat akhir )
• Subordo : Udult ( udus = humida, lembab, tidak pernah kering )
• Great group : Fragiudult ( fragipan = padas rapuh, ditemukan fragipan )
• Subgroup : Aquic Fragiudult ( aqua = air, kadang-kadang jenuh air )
• Family : Aquic Fragiudult, halus, kaolinitik, isohipertermik ( halus =
besar butir tanah halus atau berliat halus ; kaolinitik = mineral
liat yang dominan ; adalah kaolinit ; isohipertermik = suhu tanah
lebih dari 22oC, perbedaan suhu musim panas dan musim dingin
kurang dari 5oC )
• Seri : Granada ( pertama kali ditemukan di daerah Granada )

Berdasarkan atas horison-horison penciri dan sifat-sifat penciri lain maka tanah
di dunia ini dapat dikelompokkan ke dalam dua belas ordo seperti tertera pada tabel
dibawah ini.

Ordo Tanah dan Penciri Utama Menurut Sistem Taksonomi Tanah

Penciri Utama
Ordo
Horison penciri Sifat-sifat penciri lain
Kejenuhan basa ( jumlah
kation ) tinggi ( lebih dari
Alfisol Horison argilik
35% ), pada kedalaman 180
cm.
Mempunyai sifat tanah
Andisol -
andik
Regim kelembaban tanah
Aridisol Horison oksik
aridik (sangat kering )
Hanya ada epipedon
Entisol -
ochrik, albik atau histik
Gelisol - Mempunyai sifat gelik
(membeku sepanjang tahun)
Epipedon histik tebalnya
Histosol -
lebih dari 40 cm
Inceptisol Horison kambik -
Kejenuhan basah (NH4OAC
Mollisol Epipedoin mollik H 7) seluruh solum lebih
P

dari 50%
Oxisol Horison oksik -
Spodosol Horison spodik -
Kejenuhan basa ( jumlah
kation ) rendah (kurang dari
Ultisol Horison argillik
35%), pada kedalaman 180
cm
Bersifat vertik ( musim
kering mengerut, tanah
Vertisol - pecah-pecah; musim hujan
tanah mengembang sangat
lekat) lebih dari 30% liat.