Anda di halaman 1dari 12

51

BAB 5
HASIL DAN PEMBAHASAN

Berikut ini di sajikan hasil penelitian yang telah di laksanakan di posyandu 1


sampai posyandu 8 di wilayah kerja Puskesmas Kedungpring Lamongan. Mulai
tanggal 25 januari samapai tanggal 28 januari 2005,lokasi penelitian, karakteristik
demografi responden dan variabel yang di ukur meliputi : kinerja Bidan/ perawat,
kinerja kader, tingkat kepuasan ibu balita dan hubungan antara kinerja petugas
posyandu dengan tingkat kepuasan ibu-ibu balita.
Untuk mengetahui signifikasi atau hubungan antara varabel dilakukan uji
statistik korelasi ( sperman rank ) dengan fasilitas computer SPSS versi 11,5
dengan tingkat kepuasan < 0,05, ketentuan terhadap penerimaan atau penolakan
hipotesis apabila signifikasi < 0,05 maka Hi di terima dan Ho di tolak. Apabila
> 0,05 maka Hi di tolak dan Ho di terima (Sugiyono dan Eri, 2000).

5.1 Hasil
5.1.1

Gambaran umum lokasi penelitian


Puskesmas kedungpring terdapat di daerah Kabupaten Lamongan, yang

bekerja di bawah naungan dinas kesehatan Lamongan. Menurut data di puskesmas


Kedungpring Januari 2005, Tenaga kesehatan terdiri dari satu dokter, enam
perawat, dua Bidan dan tiga tata usaha. Puskesmas tersebut terdapat pelayanan
rawat inap dengan jumlah empat kamar rawat inap dan satu kamar persalinan.
Puskemas tersebut membawai beberapa Desa dan masing masing Desa terdapat
beberapa posyandu yang di kelola

oleh seorang Bidan Desa.Salah satu

51

52

diantaranya adalah Desa telanak yang terdiri dari 8 posyandu dengan jumlah balita
382 balita dari 3629 jiwa penduduk.
5.1.2

Karakteristik demografi responden

1. Jumlah anak

Gambar 5.1 Karakteristik responden berdasarkan jumlah anak di posyandu


Desa Tlanak wilayah kerja puskesmas Kedungpring Lamongan 25 28 Januari 2005.
Berdasarkan diagram di atas terlihat bahwa ibu-ibu yang mempunyai
anak dari masing masing posyandu yang terbanyak menjadi responden
adalah ibu dengan 1 anak, posyandu 1.(62,5%) 2. (52,7%) 3. (47,6%)

4.

(44,4 %) 5. (42,2 %) 6. (40,9%) 7. ( 62,9%) 8. (50,3%)


sedangkan yang paling sedikit adalah ibu dengan 3 anak, Posyandu 1
(16,7%) 2. (21,8%) 3. (19,04%) 4. (22,2%) 5. (19,2%) 6. (18%,2) 7.
(22,2%) 8. ( 18,2%).

53

2. Umur.

Tabel 5.2 Karakteristik responden berdasarkan umur anak di posyandu Desa


tlanak wilayah kerja puskesmas Kedungpring Lamongan 25- 28
Januari 2005
Berdasarkan diagram di atas terlihat bahwa ibu-ibu yang mempunyai
anak dari masing masing posyandu yang terbanyak menjadi responden
pada posyandu 1 adalah anak dengan umur 1-2 tahun dan 3-4 tahun (25%)
paling sedikit adalah 4-5 tahun (12,5).Sedangkan

posyandu 2 yang

terbanyak adalah umur 0-1 tahun (30,4%) paling sedikit umur 3-4 tahun
dan 4-5 tahun (13,04%). Posyandu 3 yang terbanyak adalah umur 0-1
tahun (42,8%) paling sedikit umur 3-4 tahun dan 4-5 tahun (9,52).
Posyandu 4 yang terbanyak adalah umur 1-2 tahun (25,9%) paling sedikit
umur 3-4 tahun (14,8%). Posyandu 5 yang terbanyak adalah umur 1-2
tahun (30,8%) paling sedikit umur 4-5 tahun (15,4%). Posyandu 6 yang
terbanyak adalah umur 0-1 tahun (31,8%) paling sedikit umur 4-5 tahun
(4,5%). Posyandu 7 yang terbanyak adalah umur 0-1 tahun (37,0%) paling

54

sedikit umur 4-5 tahun (7,4%). Posyandu 8 yang terbanyak adalah umur
0-1 tahun (27,3%) paling sedikit umur 4-5 tahun (4,4%).
2. Kunjungan ke posyandu
Tabel 5.3 Karakteristik responden berdasarkan jumlah kunjungan di posyandu
Desa tlanak wilayah kerja puskesmas Kedungpring Lamongan

Dari tabel di atas dapat di lihat bahwa kunjungan pada kelompok ini
adalah kunjungan 3 10 kali sebanyak 16,7 %, kunjungan 11-10 kali
sebanyak 25 %, kunjungan 21 30 sebanyak 11,46 %, kunjungan 31 40
sebanyak 33,8 %, kunjungan 41 - 51 kali sebanyak 13, 0 %.

3. Karakteristik responden berdasarkan latar belakang pendidikan.


Tabel 5.4 Karakteristik responden berdasarkan pendidikan di posyandu Desa
tlanak wilayah kerja puskesmas Kedungpring Lamongan

55

Dari tabel di atas dapat di lihat bahwa, pendidikan SMP sebanyak


42,7 %, pendidikan SMA sebanyak 38,5 % dan pendidikan SARJANA
sebanyak 18,7 %.

5.1.3 Variabel yang di ukur


Pada penelitian variable yang di ukur adalah kinerja perawat atau
Bidan,kinerja kader dan tingkat kepuasan ibu-ibu balita terhadap pelayanan
posyandu.berikut ini adalah uraian masing-masing variabel dalam bentuk tabel :
1.

Kinerja Perawat atau bidan


Tabel 5.5 Distribusi kinerja perawat atau bidan di posyandu wilayah kerja
Puskesmas Kedungpring Lamongan 2004

56

NO
1
2

Katagori
Cukup baik
Baik
Jumlah

Jumlah
4
4
8

Persentasi
50,0
50,0
100,0

Dari tabel 5.5 dapat di ketahui bahwa distribusi kinerja perawat atau
bidan sejumlah 4 (50,0 %) yaitu cukup baik dan baik
2. Data kinerja Kader
Tabel 5.6 Distribusi kinerja Kader di wilayah kerja Puskesmas Kedungpring
Lamongan 2004
N0
1
2

Katagori
Cukup baik
Baik
Jumlah

Jumlah
6
2
8

Persentasi
75,0
25,0
100,0

Dari tabel 5.6 dapat di ketahui bahwa distribusi kinerja Kader


sejumlah 6 (75,0%) adalah cukup baik dan sejumlah 2 (25,0%) adalah baik
3. Data tingkat kepuasan ibu-ibu balita
Tabel 5.7 Distribusi tingkat kepuasan ibu-ibu balita di wilayah kerja
Puskesmas Kedungpring Lamongan 2004
N0
1
2
3

Katagori
Kurang baik
Cukup baik
Baik
Jumlah

Jumlah
21
156
15
192

Presentasi
10,9
81,3
7,8

57

Dari tabel 5.7 dapat di ketahui bahwa distribusi tingkat kepuasan ibuibu balita terhadap pelayanan kesehatan posyandu di wilayah kerja Puskesmas
Kedungpring Lamongan sebagian besar adalah cukup baik yang berjumlah
156 responden (81,3%), sedangkan yang berjumlah 15 responden (7,8)
menyatakan baik dan 21 responden (10,9%) menyatakan kurang baik.
4. Data kinerja petugas kesehatan posyandu
Tabel 5.8 Distribusi Kinerja petugas kesehatan posyandu di wilayah kerja
Puskesmas Kedungpring Lamongan 2004
N0
1
2

Katagori
Cukup baik
Baik
Jumlah

Jumlah
6
2
8

Persentasi
75,0
25,0
100,0

Dari tabel 5.8 dapat di ketahui bahwa Kinerja petugas kesehatan


posyandu sejumlah 6 (75,0%) adalah cukup baik dan sejumlah 2 (25,0%)
adalah baik.
5.1.4

Distribusi hububungan antara kinerja Perawat/ Bidan terhadap tingkat


kepuasan ibu-ibu balita.
Hubungan antara variabel independen dan dependen akan di uraikan pada

tabel berikut di bawah ini, yaitu hubungan antara kinerja perawat / bidan terhadap
tingkat kepuasan ibu-ibu balita di wilayah kerja Puskesmas kedungpring
lamongan.
Tabel 5.9. Distribusi hububungan antara kinerja Perawat/ Bidan
tingkat kepuasan ibu-ibu balita.
Cukup %

terhadap

Kurang
1

Cukup
4

Baik
1

Total
6

12,0

50,0

12,0

75,0

58

Baik %

Total

0
1

0
4

25,0
3

25,0
8

12,5

50,0
=0,000
=0,988

37,5

100,0

Dari tabel 5,9 dapat di ketahui bahwa terdapat hubungan yang cukup baik
antara kinerja Perawat / Bidan terhadap kepuasan ibu-ibu balita di posyandu Desa
Telanak wilayah kerja puskesmas Kedungpring Lamongan. Responden yang
menyatakan cukup puas terhadap kinerja Perawat / bidan

adalah (75,0%).

Berdasarkan hasil analisa di dapatkan nilai = 0,000 dan =0,988.

5.2 Pembahasan
Berdasarkan data-data yang telah di sampaikan, maka berikut ini akan di
bahas tentang hubungan masing-masing variabel yang di teliti sesuai dengan
tujuan penelitian
5.2.1

Hubungan kinerja Bidan atau perawat terhadap tingkat kepuasan ibu-ibu


balita.
Dari hasil observasi di dapatkan bahwa perawat atau bidan dalam pelayanan

sistim lima meja di laksanakan dengan baik yaitu : penyuluhan pada meja ke IV
dan pelaksanaan imunisasi pada meja ke V. Data hasil uji Spearman rho di
dapatkan data hubungan antara kinerja Bidan atau Perawat terhadap kepuasan ibuibu balita di Desa telanak wilayah kerja Puskesmas Kedungpring Lamongan.
Yaitu nilai lebih kecil dari 0,05.Sehingga ada hubungan antara kinerja Perawat
atau Bidan dengan tingkat kepuasan ibu-ibu balita adalah baik untuk dimensi

59

tangibles, realibility, responsiveness, ansurance, empaty. karena Correlation


Coefficient () adalah 0,988, maka hubungan antara kinerja Bidan atau perawat
terhadap tingkat kepuasan ibu-ibu balita adalah sangat kuat.
Berdasarkan fakta diatas, maka ada hubungan antara kinerja Bidan atau
Perawat terhadap kepuasan ibu-ibu balita di Desa telanak wilayah kerja
Puskesmas Kedungpring Lamongan, artinya Hipotesa di terima. Berdasarkan hal
tersebut membuktikan bahwa Suatu pelayanan kesehatan di sebut pelayanan yang
bermutu apabila terdapat penerapan standart dapat memuaskan pasien (Azwar,
1996).Sedangkan terhadap mutu pelayanan yang berkaitan dengan kepuasan
pasien dapat di lihat dalam lima dimensi yang meliputi tangibles, realibility,
responsiveness, ansurance dan empaty (parasuraman 1998).
5.2.2

Hubungan kinerja kader terhadap tingkat kepuasan ibu-ibu balita.


Dari hasil observasi di dapatkan bahwa peran kader dalam pelayanan sistim

lima meja di laksanakan dengan baik yaitu pendaftaran pada meja I, penimbangan
balita pada meja II, pengisian KMS pada meja ke III. Data hasil uji Spearman rho
di dapatkan yaitu nilai lebih kecil dari 0,05 sehingga ada hubungan antara
kinerja kader terhadap kepuasan ibu-ibu balita di Desa telanak wilayah kerja
Puskesmas Kedungpring Lamongan. Karena data yang di dapatkan untuk
Correlation Coefficient () adalah 0,988, maka terdapat hubungan yang sangat
kuat antara kenerja kader dengan tingkat kepuasan ibu-ibu balita di Desa Telanak
wilayah kerja Puskesmas Kedungpring lamongan adalah.
Berdasarkan fakta diatas, maka ada hubungan

yang sangat kuat antara

kinerja kader terhadap kepuasan ibu-ibu balita di Desa telanak wilayah kerja
Puskesmas Kedungpring Lamongan, artinya Hipotesa di terima. Berdasarkan hal

60

tersebut membuktikan bahwa Suatu pelayanan kesehatan di sebut pelayanan yang


bermutu apabila terdapat penerapan standart dapat memuaskan pasien (Azwar,
1996).
5.2.3

Tingkat kepuasan ibu-ibu balita terhadap pelayanan posyandu.


Dari hasil kuisioner di dapatkan bahwa sebagian besar

responden

menyatakan cukup puas terhadap pelayanan posyandu yang ada di Desa Telanak
wilayah kerja Puskesmas Kedungpring Lamongan. Hal ini di buktikan dengan
adanya data Responden menyatakan cukup puas dengan prosentasi 50%, puas
37,5 %, dan yang menyatakan kurang puas adalah 12,5%. Untuk tangibles
sebagian besar responden menyatakan puas terhadap pelaksanaan kegiatan
posyandu yang di laksanakan secara rutin satu bulan sekali, sedangkan yang
menyatakan kurang puas yaitu pelayanan dalam pemberian oralit, penyulukan
kesehatan, pemberian vitamin A dosis tinggi. Realibility sebagian besar responden
menyatakan puas yaitu secara keseluruhan kegiatan posyandu dilaksanakan
dengan baik, sedangkan sebagian responden yang menyatakan kurang puas
terhadap petugas pelayanan posyandu di dalam mengupayakan kepuasan ibu-ibu
balita selama kegiatan posyandu. Responsiveness sebagian besar responden
menyatakan puas terhadap petugas posyandu membantu memberikan pelayanan
segera terhadap ibu-ibu balita yang datang ke posyandu,
menyatakan kurang puas yaitu terhadap

sedangkan yang

pemberian makanan tambahan.

Ansurance sebagian besar responden menyatakan puas bahwa petugas posyandu


memberikan pelayanan yang dapat membuat keluhan ibu-ibu balita berkurang,
sedangkan yang menyatakan kurang puas yaitu terhadap pelayanan yang kuramg
sesuai dengan standart sistim lima meja. Empaty sebagian besar responden

61

menyatakan puas bahwa petugas kesehatan posyandu memberikan kemudahan


dan perhatian terhadap penimbangan balita, sedangkan yang menyatakan kurang
puas yaitu kurangnya perhatian di dalam pemberian penyuluhan kesehatan.
Berdasarkan data di atas, maka sebagian responden menyatakan cukup puas
terhadap pelayanan posyandu yang meliputi lima dimensi tangibles, realibility,
responsineness, ansurance, empaty. Berdasarkan hal tersebut membuktikan bahwa
penilaian terhadap mutu pelayanan yang berkaitan dengan kepuasan pasien dapat
di lihat dalam lima dimensi yang meliputi tangibles, realibility, responsineness,
ansurance dan empaty (parasuraman 1998).
5.2.4 Hubungan kinerja petugas kesehatan terhadap tingkat kepuasan ibu-ibu
balita
Dari hasil observasi di dapatkan bahwa kinerja petugas kesehatan posyandu
dalam pelayanan sistim lima meja di laksanakan dengan baik yaitu pendaftaran
pada meja I, penimbangan balita pada meja II, pengisian KMS pada meja ke III,
penyuluhan pada meja ke IV dan pelaksanaan imunisasi pada meja ke V. Data
hasil uji Spearman rho di dapatkan data hubungan antara kinerja petugas
posyandu terhadap kepuasan ibu-ibu balita di Desa telanak wilayah kerja
Puskesmas Kedungpring Lamongan. Yaitu nilai lebih kecil dari 0,05, yang
berarti ada hubungan antara kinerja Perawat atau Bidan dengan tingkat kepuasan
ibu-ibu balita adalah baik untuk dimensi tangibles, realibility, responsineness,
ansurance, empaty. Karena Correlation Coefficient () adalah 0,988, maka
terdapat hubungan yang sangat kuat antara kenerja petugas kesehatan posyandu
dengan tingkat kepuasan ibu-ibu balita di Desa Telanak wilayah kerja Puskesmas
Kedungpring lamongan.

62

Berdasarkan fakta dia atas, maka ada hubungan yang sangat kuat antara
kinerja petugas kesehatan posyandu dengan tingkat kepuasan ibu-ibu balita di
Desa telanak wilayah kerja Puskesmas Kedungpring Lamongan, artinya Hipotesa
di terima. Berdasarkan hal tersebut membuktikan bahwa Suatu pelayanan
kesehatan di sebut pelayanan yang bermutu apabila terdapat penerapan standart
dapat memuaskan pasien

(Azwar, 1996). Sedangkan terhadap mutu pelayanan

yang berkaitan dengan kepuasan pasien dapat di lihat dalam lima dimensi yang
meliputi

tangibles,

(parasuraman 1998).

realibility,

responsineness,

ansurance

dan

empaty