Anda di halaman 1dari 22

www.ac-zzz .

tk

Mantan
Melody Muchransyah

Ical langsung melotot, Lebih baik gue dibantai dosen daripada ngerelain
cewek
gue
dibantai
sama
lo!

Pernah nggak kamu cemburu tanpa alasan yang jelas sama mantannya cowok
kamu? Bukannya parno, cuma... kok rasanya aneh aja ya, Ical mau jadian sama
gue setelah putus dari Ratih? Padahal, Ratih itu perfect abis! Putih, mulus,
tinggi, langsing... Wah, pokoknya tanpa cacat, deh! Duh, perasaan gue jadi gak
enak. Jangan-jangan gue cuma dijadiin pelariannya Ical? Jangan-jangan Ical
sebenernya
masih
sayang
sama
Ratih?
Jangan-jangan...
***
Kamu gila, Manda! Faisal berteriak geram,Aku sama Ratih tuh udah nggak
ada hubungan apa-apa lagi. Kami sudah putus! End of story!
Manda memasang tampang cemberut. Tapi, ia tak berani berkata-kata. Ia tau,
perbuatannya memang agak melewati batas. Tapi, cemburu kan bukan dosa
besar? Malahan, Ical harusnya senang, donk, karena Manda punya rasa
cemburu. Berarti, Manda kan bener-bener sayang sama Ical!?
Manda, aku kan udah bilang berkali-kali sama kamu, kamu tuh nggak perlu
cemburu sama Ratih. Ratih is my history, Sayang... Faisal meneruskan katakatanya,
seakan
dapat
membaca
pikiran
Manda.
Manda masih cemberut. Huh, menyebalkan, pikirnya. Kalau memang Ical gak
ada apa-apa lagi dengan Ratih, seharusnya dia fine-fine aja, dong kalau Manda
ngecek e-mail-e-mail yang Ratih kirim ke Ical? Atau, jangan-jangan memang
masih ada sesuatu di antara mereka berdua? Ah, Manda harus cari tau.
Pokoknya, Manda ngak rela kalau Ical masih sayang sama Ratih!.

www.ac-zzz .tk
Minggu siang, di kamarnya, Manda berkutat di depan komputer. Ia nampak
sibuk meneliti satu per satu e-mail yang ada di inbox Ical. Hah! Ada dua email baru dari Ratih. Duh, dasar ganjen, udah putus tetep aja cari perhatian!,
Manda
menggerutu
di
dalam
hati.
E-mail pertama. Nggak istimewa. Sebuah undangan reuni SMP. Manda
teringat, Ical dan Ratih memang teman satu SMP. Tapi mereka baru jadian
setelah lulus SMA. Itu pun karena mereka sama-sama satu kampus di Depok
dan harus pulang balik Depok-Bogor setiap hari naik kereta. Karena itu,
mereka dekat dan akhirnya jadian. Basi, cibir Manda. Gak elit. Jadian kok
gara-gara
kereta!
E-mail kedua. Sebuah surat berantai. Isinya membuat Manda naik pitam.
Judulnya sederhana: Juz wanna remind u that I luv u! Manda benar-benar
ngamuk.
Ia
pun
segera
menelepon
Ical.
***
Manda, honey, kamu masih di sana, kan? Halo... suara Faisal di telepon
membuyarkan
lamunan
Manda.
Iya!
Manda
menjawab,
masih
sambil
merengut.
Kamu coba baca isinya dulu deh, Sayang... Paling-paling itu cuma surat
berantai mengenai friendship. Kamu gak usah cemburu, oke?
***
Manda menatap bayangannya di cermin sambil tersenyum. Sempurna. Kemeja
pink yang manis dipadu dengan rok kotak-kotak berwarna ungu betul-betul
membuat
penampilan
Manda
terlihat
cute.
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan mama menengok ke dalam kamar. Man,
Ical udah dateng, tuh!.
Manda cepat-cepat memakai selop pink yang baru saja dibelinya minggu lalu,
menyambar tas selempangnya dan mencium tangan mama. Aku pergi dulu ya,
Ma!
Ati-ati,
ya,
sayang.
Manda melangkah ke arah teras. Dia melihat Volvo hitam Ical sudah
menunggunya di sana. Manda pun masuk dan duduk di samping Ical yang sudah
siap
di
belakang
kemudi.
Kami pergi dulu, Tante, Ical melambai ke arah mama Manda. Setelah itu, ia
melirik
Manda.
Tuan
putri
cantik
banget
hari
ini.
Manda tersenyum ditahan. Sambil pura-pura cemberut, ia berkata, Jadi,
cantiknya
cuma
hari
ini?
Kemarin-kemarin
gak
cantik,
gitu?

www.ac-zzz .tk
Ical tertawa. Setelah memindahkan perseneling, ia memandang Manda, Kamu
tuh
yang
paling
cantik,
sayang.
Gombal! maki Manda. Namun dalam hatinya, ia senang sekali mendapat
pujian
seperti
itu.
Mobil Ical melaju di jalan tol yang mulus, menuju Depok. Hari ini Ical
sebenarnya tak ada kuliah, namun ia harus mengumpulkan tugas. Kebetulan
Manda, yang sedang libur karena guru-gurunya sedang rapat, mau menemani
Ical
ke
kampus.
Sekalian
jalan-jalan.
Satu jam kemudian, Ical memarkir mobilnya di parkiran Fakultas Psikologi
Universitas
Indonesia.
Ikut turun? ia bertanya pada Manda yang mengangguk penuh semangat.
Ical pun berjalan ke arah Taman Akademos sambil membawa map berisi tugas
di tangan sebelah kiri, sementara tangan kanannya digenggam mesra oleh
Manda.
Kampus
kamu
besar,
ya?
Manda
memperhatikan
sekeliling.
Ical hanya tersenyum sambil terus menggandeng tangan Manda.
Mereka pun tiba di Taman Akademos, taman kebanggaan Fakultas Psikologi
Universitas Indonesia. Tempat itu, selain sebagai meeting-point, juga
merupakan
tempat
nongkrong
para
mahasiswa.
Suit... suit... seorang mahasiswa menggoda Ical dan Manda saat mereka
lewat,
Ical
gandeng-gandengan
sama
siapa
nih?
Ical menepuk pelan punggung mahasiswa tadi dengan map di tangan kirinya
sambil
tersenyum,
Di,
lo
udah
ngumpulin
tugas?
Mahasiswa bernama Adi tadi mengangguk bangga, Oh, udah, donk!
Kemudian, dengan tampang jahil, ia melirik Manda, Siapa tuh?
Ini Manda, cewek gue, jawab Ical, Manda, kenalin nih temenku, Adi.
Adi dan Manda berkenalan sambil menyebutkan nama masing-masing.
Udah ya, gue mau ke ruangan dosen dulu, Ical berpamitan sambil menarik
Manda
yang
masih
digandengnya.
Eh, entar dulu, cegah Adi. Lo mau ke tempat dosen bawa-bawa cewek? Bisa
dibantai lo! Mendingan cewek lo tinggal di sini aja, sama gue.
Enak aja! Ical langsung melotot, Lebih baik gue dibantai dosen daripada
ngerelain
cewek
gue
dibantai
sama
lo!
Ical segera mengajak Manda pergi secepatnya, meninggalkan Adi yang
cemberut.
Manda hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum geli.
***

www.ac-zzz .tk
Mau
pesen
apa,
sayang?
Saat itu Ical mengajak Manda makan siang di Takor alias Taman Korea, areal
kantin FISIP yang tersohor yang letaknya dekat dengan Fakultas Psikologi.
Hmm... Nasi alo tuh apa sih, say? tanya Manda sambil membaca menu yang
tertempel
di
salah
satu
stand
makanan.
Seperti nasi goreng tapi nggak pakai kecap, jawab Ical, Di atasnya
dicampur ayak telor dan baso, plus sambel ulek yang enak banget! Coba, deh!
Setelah memesan menu dan membayar di kasir, mereka membawa makanan
mereka ke lantai atas untuk mencari tempat duduk, sebab lantai bawah sudah
penuh
sesak
oleh
lautan
mahasiswa.
Namun, saat Manda sedang mencari tempat duduk di lantai atas, matanya
menangkap sosok itu. Dengan kemeja putih polos, celana jeans, kalung manik
yang oriental, dan tatanan rambut yang diikat tinggi dengan poni menyamping,
ia
duduk
dengan
begitu
sempurnanya.
Ratih.
***
Pokoknya,
aku
minta
putus!
Manda mengamuk. Apalagi setelah ia melihat Ratih berdiri dan menghampiri
Ical di Takor tadi. Lengkap dengan bonus cupika-cupiki tanpa memperdulikan
Manda
sama
sekali.
Aku sayang kamu, Ical bersikeras, Aku nggak akan lepaskan kamu!
Kamu
harus
putusin
aku!
kata
Manda
ngotot.
Kenapa?
Ical
tak
mengerti.
Biar fair. Kamu punya mantan, sedangkan aku nggak. Kalau kamu putusin aku,
aku bakal cari cowok lain dan mutusin dia dalam waktu singkat. Setelah itu,
kedudukan kita fair! Kamu bisa ngerasain cemburu yang aku rasain ke Ratih!
Kamu gila, Manda! Ical terdengar frustasi, sebelum akhirnya berkata, Oke,
fine.
Kita
putus!
***.
Seminggu
kemudian...
Ical memasang muka memelas, Aku mau kamu balik lagi sama aku, Manda. Aku
nggak bisa terus-terusan menderita karena rasa rindu yang gak terobati ini.
Kamu tuh bodoh banget, sih, Cal? Manda terlihat tak percaya, Ratih, si
wanita sempurna itu, masih sayang banget sama kamu! Kamu tau nggak?
Nggak! Ical menjawab cepat, Aku nggak tau dan aku nggak mau tau apa-apa
mengenai Ratih. Ical menatap mata Manda dalam-dalam dan berbisik lembut,
Aku
cuma
tau
bahwa
aku
sayang
kamu!

www.ac-zzz .tk
Seketika, Manda terdiam. Ia melihat kesungguhan di mata Ical.
Oke, aku mau balik sama kamu jawab Manda sambil tersenyum. Sambil
mengedipkan sebelah matanya ia berkata, Setidaknya aku udah pernah
ngerasain
rasanya
punya
mantan!
Hah? Ical langsung membelalak cemburu, Jadi selama seminggu kamu putus
sama
aku,
kamu
udah
bisa
punya
mantan
lagi?
Manda
tergelak,
Iya.
Siapa?
Manda terdiam dan memandang mata Ical sambil tersenyum simpul, Kamu...
Tamat

Cinta Diantara Mega


Olga
Sejak obrolannya dengan Anya yang tidak tuntas itu, Ren jadi penasaran.
Menghitung ketidaksetiaan Lufi tentu saja mustahil. Lufi rajin apel malam
minggu. Mereka juga sering ketemu di sanggar lukis. Jadi mana mungkin Lufi
sibuk
lagi
dengan
yang
lain
kecuali
di
kampus?
Segala maha karya Ilahi terbentang dalam penglihatan Ren dari jendela
pesawat yang lima belas menit lalu lepas landas dari bandara Sepinggan. Awan
putih berlapis-lapis, langit biru terkuak di sela-selanya, laut hijau membiru di
bawah sana. Dengan buih-buih ombak yang saling berbenturan. Kapal-kapal
lintas pulau, tongkang-tongkang pengangkut batu bara atau rig-rig perusahaan
minyak asing semakin mengecil dan mulai menghilang. Menyisakan titik-titik
hitam saat pesawat terus mendaki menuju ribuan kaki di atas permukaan laut.
Sayangnya segala keindahan yang terhampar itu, yang biasanya menggoda Ren
untuk menghasilkan coretan-coretan draft lukisnya, kali ini tak mampu
mengubah hati Ren yang tengah muram. Rasanya malas sekali untuk kembali
ke Jakarta setelah berlibur dengan luka hati. Huhhh, mengingat kembali apa
yang terjadi tiga minggu lalu membuat Ren kembali terpuruk, merasa kerdil,

www.ac-zzz .tk
dan
konyol.
Lufi jalan dengan cewek, itu biasa. Ia tidak mungkin mengubah sifat Lufi yang
friendly-easy going-helpful seperti membalikkan telapak tangan. Justru
itulah sifat-sifat Lufi yang membuatnya tertarik dulu. Tak mungkin
mengerangkeng Lufi untuk patuh mengikut ke mana pun Ren pergi atau
meminta Lufi untuk tidak menengok kiri kanan jika sedang jalan bersamanya.
Ah, setelah kejadian itu, masihkah ia menganggap Lufi sebagai pacar?
Setelah kebebasan demi kebebasan yang ia berikan untuk Lufi, apa balasan
yang diterima Ren?
Baru kali ini gue nemuin cewek yang berjiwa besar seperti kamu, Ren.
Cowokmu wara-wiri kesana kemari dengan WIL-WIL didiemin aja.
Apa maksudmu, Anya? Burung selalu punya insting untuk kembali ke kandang.
Kenapa harus kuatir? Cinta Lufi hanya untuk gue. Sudah terbukti setahun ini
bukan?
ujar
Ren
pada
Anya,
teman
satu
kosnya.
Kalo maksudmu itu si Lufi. Gue no comment-lah. Lufi kan bukan burung!
Nya, itu perumpamaan tau! Lufi itu udah bosen pacar-pacaran gak karuan. Ia
sudah
sepakat
untuk
serius
denganku
kali
ini."
Jaman gene, kamu masih percaya sama janji gombal? Yang tahunan married
aja bisa cerai apalagi yang whatever-lah. Yang ngejalanin kan kamu, gue gak
bisa terlalu ikut campur, soalnya. Anya hanya menggantung jawabannya
sambil
keluar
kamar.
Sejak obrolannya dengan Anya yang tidak tuntas itu, Ren jadi penasaran.
Menghitung ketidaksetiaan Lufi tentu saja mustahil. Lufi rajin apel malam
minggu. Mereka juga sering ketemu di sanggar lukis. Jadi mana mungkin Lufi
sibuk lagi dengan yang lain kecuali di kampus? Rasanya tidak juga. Bukankah
sesekali
mereka
pun
sering
makan
bareng
di
kantin.
Aku nih udah bosen plarak-plirik cewek, Ren. Yang kucari sekarang calon
istri, bukan cem-ceman. Cem-ceman itu cuma bisanya bikin bangkrut doang.
Beda sama calon istri yang pasti lebih care sama urusan perduitan. Ya gak?
Jangan gombal di siang bolong ah, cetus Ren, waktu itu.
Terserah kamu mau bilang apa. Ini bukan gombal, tapi ungkapan rasa yang
sebenarnya.
Nah, itulah deret kalimat Lufi yang makin membuat Ren yakin kalau Lufi tidak
bakal
aneh-aneh
saat
melangkah
bersamanya.
Kini
Mega putih di luar laksana kanvas yang siap dilukis. Oh, bahkan tak perlu
sibuk lagi untuk melukis karena kanvas itu tidak lagi kosong. Dengan jelas
terpampang pemandangan Lufi yang tengah berpelukan dengan Diandra.

www.ac-zzz .tk
Ren merasa matanya basah. Untunglah dua penumpang di sampingnya tengah
tidur pulas. Para pramugari juga sudah selesai membagikan air mineral dan
roti
barusan.
Setengah mati Ren merasa tubuhnya kejang dan aliran darahnya seperti
berhenti mengalir. Kelas kosong dengan puluhan kursi dan dinding bercat
krem itu seakan menjadi saksi bisu akan adanya sebuah dusta. Kebohongan
yang pada akhirnya terkuak karena keadaan, bukan karena berita yang
terbesit selalu di telinganya. Tiga jiwa seolah saling kait dan berkontroversi
dalam diam mereka. Ren shock. Diandra Pias terlihat. Ren merasa jiwanya
kering. Cinta yang selalu disiramnya dengan doa dan harapan tulus untuk
selalu setia bersama Lufi perlahan menguap. Menciptakan serpihan kabut
yang
menghilang
karena
terik
matahari.
Lufi? Cowok itu masih sempat tersenyum dan melambaikan tangan. Inikah
Lufi-nya yang selalu care? Masihkan ada perasaan malu, bersalah atau sadar
telah melukai hati Ren? Ren tidak melihat itu ada pada diri Lufi saat itu.
Hai,
Ren.
Diandra
ultah
hari
ini
jadi
aku.
Ren tidak sempat mendengarkan kelanjutan omongan cowok itu. Ia sudah
kadung melesat keluar kelas Lufi. Sepasang kaki yang letih membawanya ke
taman untuk merenung dan introspeksi. Seharusnya ia tidak perlu datang
mencari Lufi ke kelasnya hanya untuk sekedar memberi kejutan.
Seharusnya Lufi tidak perlu memeluk Diandra sedemikian mesra di kelas yang
kosong
kalau
cuma
ingin
mengucapkan
selamat
ulang
tahun.
Seharusnya mereka tidak perlu sampai setahun menapaki hari-hari yang
katanya
penuh
cinta.
Seharusnya ia percaya pada Anya yang selalu memberinya peringatan.
Sebongkah
bual
yang
amat
besar
terkuak!
Diremasnya kado yang terbungkus kertas bergambar hati. Isinya puisi.
Tentang keteguhan cintanya untuk Lufi meskipun banyak selentingan miring
yang
terdengar.
Pphuuh.
Goblok
sekali!
Untunglah Ren bisa segera melarikan diri pulang kampung. Rumah Bundanya di
Balikpapan terasa amat nyaman ketimbang kemarin-kemarin. Ia bisa tidur
sampai
puas
untuk
melupakan
hatinya
yang
retak-retak.
Patah hati itu biasa, Ren. Percaya sama Bunda, dua tiga minggu lagi, kamu
lupa sama Lufi. Apalagi kalau nanti kamu sibuk sama urusan kuliah dan lukis.
Justru kalau kamu sudah pernah ngalami patah hati, kamu jadi lebih selektif
memilih cowok. Jangan cuma lihat gantengnya saja. Lihat sikap sifatnya,
hatinya. Tapi juga jangan jelek-jelek amat ya, Ren. Ha ha ha.
Ah,
Bunda
ini

www.ac-zzz .tk
Lho, iya. Manusia itu diciptakan untuk berpasangan. Berarti sebenarnya
jodoh kamu itu sudah ada, cuma siapa? Itu yang kita belum tahu.
Cara Bunda mengupas masalahnya membuat Ren sedikit terobati. Paling tidak
selama menenangkan diri di sini, ia bisa kembali menikmati jalan-jalan ke
pantai Melawai. Makan coto makassar di Pandansari atau menikmati sup
singkong makanan khas disini. Sesekali ia mengunjungi teman-teman lamanya
yang memilih kuliah di Samarinda. Not bad. Paling tidak saat ia pulang nanti,
hatinya sudah lumayan pulih dari sebelumnya.
Lagipula Balikpapan cukup ramah kali ini, matahari beberapa kali tersembunyi
di balik naungan awan sehingga tidak menyengat bila bepergian.
Hujan pun turun beberapa hari belakangan ini, menciptakan suasana yang
teduh. Dan dalam dua minggu itu Ren merasa ia lebih kuat. Apalagi ia sempat
berjumpa Gema di mal. Saling kangen dalam jabat tangan yang erat.
Gema.
Mantan
pacarnya
sewaktu
SMU.
Kok ndak nunggu sampai selesai semesteran baru pulang, Ren? Mentangmentang tiket Jakarta-Balikpapan sudah murah ya? goda Gema.
Murah
mahal
kan
relatif,
Gem.
Kan
ada
yang
sponsorin.
Lantas,
dalam
rangka
apa
kamu
pulang
kampung?
Aku lagi patah hati nih. Dan entah mengapa, begitu mudahnya ia
melontarkan segala uneg-unegnya pada Gema di food court. Seakan ia
menemukan tempat yang paling tepat untuk memuntahkan segala
kekecewaannya. Gema mengelus pundaknya. Lalu tangannya. Berusaha
memberikan
spirit
yang
memang
amat
diperlukan
oleh
Ren.
Huh, aku kok jadi curhat begini sama kamu, Gem. Belum tentu kamu suka jadi
konsultan
orang
frustasi
kan?
Gema memamerkan deretan gigi putihnya. Tawanya masih sama seperti dulu.
Seandainya saja kamu percaya sama hubungan jarak jauh, Ren.
Maksudmu? Alis mata Ren bertaut dan tanpa diminta, ada rasa geletar tipis
yang
menyentuh
permukaan
hatinya.
Yaahh Kita putus karena lulus sekolah kan. Kamu berkeras hijrah ke
Jakarta, sementara aku lebih milih Malang untuk meneruskan kuliah. Kalaupun
itu terjadi, paling kita hanya bisa jumpa di libur semester.
Kembali Ren merasa geletar tadi. Sulit dihalau karena kali ini lebih terasa.
Apalagi Gema berbicara sambil menatap matanya. Tatap tulus itu tidak
pernah bisa ditolaknya. Ya, mereka putus tanpa sebab apa-apa. Semua
dikomunikasikan dengan baik. Hanya saja, pilihan Bunda yang realistis,
membuat Ren bertekad untuk kuliah di ibu kota. Mereka putus karena Ren

www.ac-zzz .tk
tidak menghendaki hubungan cinta jarak jauh yang banyak resikonya. Tapi
luka
ini.
Dua hari bersama Gema sebelum kepulangannya ke Jakarta membuat hidup
Ren lebih berwarna. Paling tidak, ia mulai bisa menghitung ulang segala
kebaikan Gema yang masih belum berubah sampai sekarang. Gema memang
tidak mengulang ucapan cintanya seperti dulu, namun dari genggaman
tangannya, Ren tahu kalau Gema ingin menguatkannya untuk menghadapi hari
esok di Jakarta. Ren biarkan itu mengalir seperti apa adanya.
Ren, ini nomer hp-ku di Malang. Aku ndak tau apakah setelah kau sampai di
Jakarta nanti kau akan ingat untuk mengontakku. Tapi siapa tahu, kau butuh
teman
untuk
curhat?
Aku
setia
untuk
mendengarnya
lho.
Ren membaca tulisan tangan Gema sekarang. Tidak pernah rapi, sama seperti
dulu.
Tapi
Ren
sudah
teramat
hafal
dengan
lekuk-lekuknya.
Ia mengalihkan pandang ke luar jendela kembali. Mega-mega masih berarak.
Masih berlapis-lapis tipis tebal. Namun kali ini Ren melihatnya dengan tatap
yang berbeda. Kumpulan mega itu seakan mencetak wajah Gema dengan
ketulusan hatinya. Semangat Gema seakan menular kepadanya. Ren tidak mau
berharap terlalu muluk, meskipun ia mulai berdoa, semoga masih ada cinta di
sana.
Dua puluh menit lagi, pesawat yang ditumpangi Ren akan mendarat di Bandara
Soekarno-Hatta. Ia lebih mantap untuk melangkah sekarang. Malah kalau
boleh, Ren ingin cepat-cepat landing agar bisa segera mengaktifkan
ponselnya. Mungkin Gema sudah siap untuk mendengar kisruh hatinya kali ini.
Bukan. Bukan karena Lufi. Tetapi karena Gema sendiri.
Tamat

www.ac-zzz .tk

Sweet Revenge
Donatus A Nugroho

De menjerit senang. Terbayang hadiah uang sebesar dua juta rupiah dan trofi
serta piagam. Terbayang kebanggaan yang disandangnya, lalu pujian dari
semua
orang.
KOK
kamu
tega
gitu
sih,
De?
De
cuma
mencibir,
tak
acuh.
Kenapa nggak bilang terus-terang aja? Kamu udah nyakitin hatinya.
Salah siapa, dengus De, masih tetap cuwek. Mustinya dia udah bisa ngebaca
situasi. Aku cuma ingin berteman sama dia, nggak lebih. Dia aja yang maunya
lebih.
Artinya ... Anggi berhenti sebentar, lalu: Kamu cuma mau manfaatin dia
aja?
Bukan! Suara De meninggi. Mungkin mulai tersinggung. Dia aja yang selalu
nyodor-nyodorin jasa baik. Biasa, cowok selalu berbaik-baik dan sok jadi
pahlawan
kalo
ada
maunya.
Dan
kamu
memanfaatkannya,
tandas
Anggi.
Anggi tahu jalan cerita di antara keduanya. Antara De dengan Reno. Reno
naksir De dan Reno mencoba mendapatkan si Cantik Manis itu dengan
berbagai cara. Tapi De mengaku hatinya tak bergeming. Sampai detik ini ia
menganggap Reno bukan apa-apa.
Hanya
teman,
bukan
kekasih
yang
telah
meluluhkan
hatinya.
Kasihan
Reno
...
desis
Anggi.
Anggi sudah menceritakan pada De betapa kecewanya Reno.
Tiga hari yang lalu Reno datang menjumpai Anggi dengan wajah berseri-seri.
Bilang bahwa akhirnya De mau diajak nge-date. De setuju diajak makan
malam.
Kamu tahu nggak? tanya Anggi. Reno udah nyiapin semuanya untuk kencan
kalian
itu.
O
ya?
De
tetap
asyik
dengan
komiknya.
Reno bela-belain beli baju baru, celana baru. Dia nggak mau setengahsetengah. Nggak mau terlihat culun. Dia ingin tampil keren abis buat kencan

www.ac-zzz .tk
kalian
itu.
Ya, aku tahu. De menyembunyikan tawa di balik komiknya.
De masih ingat betapa pucatnya wajah itu. Tapi Reno tidak bilang apa-apa. Ia
hanya mengangguk, seolah paham dan bisa menerima. Setelah itu Reno pulang.
Tanpa protes, tanpa marah-marah. De bilang bahwa acara makan malam di
Shake n Shake batal. De bilang bahwa mendadak mama mengajaknya pergi ke
rumah tante Erni. Alasan sederhana yang tidak diprotes oleh Reno.
Kamu bisa bayangin betapa kesalnya Reno? Mungkin ia juga malu. Merasa siasia. Bisakah kamu ngebayangin betapa repotnya dia? Sejam untuk sampai ke
rumahmu, mengatur rencana dan sebagainya. Dua hari dia memikirkannya.
Bisa jadi dia juga sengaja mengambil tabungannya demi menyenangkan hati
kamu.
Lalu?
De
terlihat
mulai
tertarik.
Apa
kata
Reno?
Tadi dia bilang bahwa dia amat kecewa dengan cara kamu. Andai kamu
memang nggak mau, kenapa nggak bilang dari dulu? Kalo kamu mendadak punya
acara lain dan ngebatalin kencan itu, kenapa nggak ngasih tahu? Bukankah
sebenarnya kamu bisa nge-SMS dia? Supaya dia nggak repot jauh-jauh
datang cuma untuk mendengar pembatalan kamu. Apa sih susahnya untuk
kirim SMS atau nelpon dia? Sebenarnya ... kamu emang sengaja, kan?
De menghela nafas berat. Aku nggak ada feeling sama Reno, Nggi. Aku nggak
bisa. Aku nggak bisa membohongi perasaanku. Reno bukan cowok tipeku.
Kenapa nggak bilang aja? Kenapa kamu tetap menerima kedatangannya?
Kenapa
selama
ini
kamu
tetap
menerima
kebaikannya?
De
terdiam.
DE lari ke meja telepon dan menyambar telepon itu dari tangan bibik.
Saudari Candra Dewanti? Terdengar suara pria di seberang sana. Suaranya
agak
aneh,
seperti
mulutnya
tengah
mengulum
sesuatu.
Yup!
jawab
De
riang.
Saya
Sony
Hutapea
dari
Yayasan
Cendikia
Muda.
Oh, ya? Mendengar nama yang disebut itu dada De langsung berdebardebar.
Saya salah satu panitia dari lomba karya tulis yang diselenggarakan oleh
Yayasan Cendikia Muda.
Saudari telah mengirim karya yang berjudul Menguak Potensi Kaum Muda
Lewat
Seni?
Betul,
saya
yang
menulis
dan
...
De
makin
berdebar.
Selamat, ya! Saudari telah memenangkan lomba itu. Saudari meraih juara
pertama dan berhak atas sejumlah hadiah dan penghargaan dari kami.

www.ac-zzz .tk
Tapi, De menukas. Bukankah pengumumannya masih besok? Tanggal
enambelas,
kan?
Betul, tapi sejak kemarin kami telah menentukan siapa-siapa pemenangnya
dan
baru
besok
diumumkan
melalui
surat
kabar.
De menjerit senang. Terbayang hadiah uang sebesar dua juta rupiah dan trofi
serta piagam. Terbayang kebanggaan yang disandangnya, lalu pujian dari
semua
orang.
Hari ini juga saudari Candra Dewanti kami undang datang ke kantor kami
untuk
...
Menerima
hadiah?
potong
De
tak
sabar.
Bukan, eh belum! Sore ini ada beberapa wartawan yang akan mewawancarai
saudari Dewanti. Kita adakan jumpa pers, besok pengumuman itu akan
berdampingan dengan profil Candra Dewanti yang meraih juara pertama.
De paham. Oh, ia makin melambung. Belum-belum sudah ada wawancara, lalu
besok foto dan kisahnya akan menghiasi halaman beberapa surat kabar.
Kami tunggu kedatangan Candra Dewanti di kantor kami jam lima sore.
Jangan
sampai
terlambat,
ya!
Ketika telepon telah ditutup De benar-benar melompat.
Ia menjerit-jerit dan bergulung-gulung di lantai karena gembira. Ia segera
menelpon mama, kemudian menelpon papa pula. Ia mengabarkan
keberhasilannya.
Seketika De ingat Reno pula. Haruskah ia mengkabarkan berita bahagia ini ke
Reno? Reno pasti ikut gembira. Ya, Reno sangat berjasa. Ia yang telah
membantu merevisi tulisannya. Ia pula yang telah memberikan andil cukup
besar sehingga tulisannya jauh lebih berisi. Reno yang mencarikan beberapa
buku untuk referensi menyusun karya tulis itu. Bahkan, Reno pulalah yang
membelikan perangko untuk mengirim karya itu ke panitia lomba.
De sudah tergelitik untuk menghubungi Reno, tapi hati kecilnya melarang. Ah,
nanti dia ge-er lagi. Nanti dia makin berpikir yang bukan-bukan. Nanti
harapannya
tumbuh
lagi
dan
itu
...
merepotkan!
De melirik jam dinding. Waktunya sudah mepet untuk segera hadir di kantor
Yayasan
Cendekia
Muda.
JAM
16.40,
De
sudah
tiba
di
kantor
itu.
Bisa bertemu dengan Pak Sony Hutapea? tanya De dengan santun pada
mbak
cantik
di
belakang
meja
penerima
tamu
itu.
Sony
siapa?
Sony
Hutapea,
ulang
De.

www.ac-zzz .tk
Maaf, disini nggak ada yang namanya Sony Hutapea. Ada perlu apa? tanya
mbak resepsionis itu cukup ramah.
De agak salah tingkah. Tadi saya ditelpon. Pemberitahuan bahwa saya
memenangkan
lomba
karya
tulis
itu.
Oh, lomba itu. Tapi? Bukankah pengumumannya baru besok? Lihat aja di
koran.
Tapi
saya
juaranya.
Tadi
saya
di
telpon.
Mbak itu membuka lacinya dan membuka-buka beberapa map. Hasilnya
memang sudah ditentukan dalam rapat kemarin, tapi baru diumumkan besok.
Sebenarnya ... kami belum bisa memberitahukannya sekarang. Tapi ... Dia
meneliti selembar kertas yang ada di tangannya. Nama kamu siapa, dik?
Candra
Dewanti.
De
makin
cemas.
Pemenangnya Ramayana, anak SMA satu. Disini nggak ada nama Candra ...
siapa? Candra Dewanti, ya? Mbak cantik itu menatap iba ke arah De. Sori ...
nggak
ada
nama
kamu.
Lima menit kemudian Candra keluar dari kantor itu. Matanya berair. Ia malu,
kesal, marah sekaligus putus asa. Seseorang telah mempermainkannya!
De melangkah gontai. Ia membayangkan dengan cara apa ia menjelaskan
semua ini pada papa dan mama. Lalu siapa manusia iseng yang telah
mempermainkannya?
Reno?
Seraut wajah hadir di pelupuk mata De yang basah. De mengatupkan bibirnya.
Wajahnya mengeras. De benar-benar marah. Inikah balasan atas semua
perlakuannya terhadap Reno? Pantaskah?
Tamat

Puisi Untuk Icha


Igoy El Fitra
Ah,apalah

arti

sebuah

nama,

yang

penting

isi

hatinya

dong!

www.ac-zzz .tk
Matahari sangat menyengat hari ini.Tidak seperti biasanya. Mungkin karena
aku pulang agak cepat dan merasakan keadaan ini. Panasnya sinar matahari itu
menusuk kulit sampai ke dalam dagingku,dan terus menghujaniku dengan
cahaya UV-nya yang merusak. Sementara itu, aku mencari tempat sejuk untuk
melepaskan lelah. Tapi ternyata, lautan sinar itu telah menjajah tempat ini.
Terpaksa
aku
harus
berpanas-panasan
ria.
Aku duduk termenung sambil meletakkan telapak tangan di atas
kepala,mencegah cahaya yang mulai mendidihkan otak. Sekalian menunggu
teman-teman tongkronganku yang belum datang.Tiba-tiba seorang gadis
cantik berdiri tepat di hadapanku dan sekaligus menghalangi panas yang
menyengat
itu.
Aku
berharap
agar
dia
tetap
di
sana.
Asyik, nih jadi adem deh dunia, kataku sambil menggoda, karena ia
kebetulan
satu
sekolah
denganku.
Eh,sorry,ngalangin,
ya?
Ah,
enggak
malahan
kamu
nolongin.
Bohong,ah! Jelas-jelas kamu lagi lihat cewek di seberang jalan itu! Sambil
menunjuk ke cewek yang ada di seberang jalan, menyangka kalau aku benarbenar terhalangi olehnya. Padahal aku pun tak tahu bahwa ada gadis lain di
seberang
jalan
itu.
Yah, nggak percaya! Kamu membendung panas matahari yang mengenaiku ini,
makanya
aku
bilang
kalau
kamu
itu
nolongin
aku.
Ooo... kalau begitu, aku minta maaf sekali lagi! Gadis itu menyodorkan
tangan
kecilnya
padaku.
Nggak usah begitu, dong, memangnya kamu salah apaan?
Aku menolak permintaan maafnya, karena memang ia tidak bersalah. Tapi
mendadak,
paras
wajahnya
berubah.
Kenalan
dong!
Kenalan
sama
siapa?
Ya
kenalan
sama
kamu,
masak
sama
sopir
angkot
Jangan marah begitu, dong. Namaku Marissa, panggil saja Icha. Sambil
tersenyum kecil ia menyebut namanya . Senyumannya membuatku mabuk.
Icha? Kayaknya aku pernah denger! Kamu kelas tiga kan? tanyaku
penasaran.
Iya , memangnya kenapa? Nada suaranya meninggi. kalau kamu satu sekolah
denganku,
baru
kamu
bingung.
Makanya aku mau kenalan sama kamu, kalau nggak satu sekolah, buat apa aku
tanya-tanya
terus!
Ooo... Jadi kamu anak SMU 100 juga! Tapi kenapa aku nggak pernah kenal

www.ac-zzz .tk
denganmu?
Aku kan anak baru. Baru pindah dari tempat nan jauh di mata.
Pantas saja aku nggak kenal sama kamu, ternyata anak baru, ya. Nama kamu
siapa?
Namku,
Eross
Sahputra,
panggil
saja
Eross.
Eross? Kayak pemain gitar Sheila on setan, eh salah, , maksudku Sheila On
Seven!
Ah, apalah arti sebuah nama, yang penting isi hatinya dong!
Gombal! Kalau begitu, aku pulang dulu ya, Ross! Sudah hampir sore, nih. Ia
memberi tangan pada mobil angkot yang kebetulan lewat depannya.
Buru-buru banget, sih, matahari saja belum berselang dengan rembulan , tapi
kamu
sudah
mau
pulang.
Dasar, kamu, anak bahasa! Simpan saja deh syair-syairmu, nanti kehabisan
lagi. Aku pulang dulu, ya! Ia melambaikan tangannya untukku. Aku mabuk lagi.
Dadah, Icha.... Aku membalas lambaiannya, waktu tak bisa diajak kompromi.
Tinggallah aku yang kembali sendiri lagi, duduk mereka-reka nasib.
Tak terasa cahaya matahari yang tebal itu telah minggat dari daerahku,
namun aku heran, dari tadi teman-temanku yang lain tak jua tiba. Ke mana, ya
mereka?
Kala pikiran ini kian terbang, teriakan yang tak asing lagi memekak di
telingaku.
Eross....!! Kau mau pulang bareng nggak? Ternyata si Anton, teman karib
yang juga tetanggaku. Ia mengajak pulang bersama motornya yang tinggal
kerangka itu. Kata Anton, teman-teman yang lain ada tanding sepak bola di
sekolah. Kami disuruh pulang duluan. Kami pun melesat pergi meluncur ke
istana
masing-masing.
Senja telah tiba, mulai menggoda malam yang telah leleh menunggu. Dan pagi
pun menjemput sang malam yang indah itu. Akhirnya aku kembali harus
menunaikan tugasku sebagai seorang pelajar yang terpelajar. Pergi ke sekolah
membosankan. Tapi kini dalam kebosanan itu ada secercah kebahagiaan yang
hinggap.
Hal ini terus terjadi padaku, yaitu menunggu angkot yang selalu sesak dengan
penumpang. Saking banyaknya orang-orang yang ingin menaiki angkot, aku
mesti rela berlari-lari mengejar mobilku. Berjayalah wahai sopir angkot.
Di sekolah, seperti biasanya hanya kesendirian yang bisa membuatku bahagia,
bukannya aku membenci keramaian, tetapi keramaian itu sendiri yang akan
membenciku
jika
aku
harus
terhanyut
di
dalamnya.

www.ac-zzz .tk
Eross!! Coba ulangi lagi penjelasan ibu tadi di papan tulis !
Sial, ibu guru menangkap basah aku yang sedang melamun. Bisa berabe, nih.
Penjelasan
apaan,
Bu?
Huuuu, dasar , bengong melulu sih ! teriak teman-teman sekelas
mengejekku.
Iya tuh bu, suruh nyanyi saja bu! cuapan temanku yang lain bersahutan.
Kalau kamu nggak bisa, ayo nyanyi didepan ,Ross! tandas ibu guru tergoda
ayuan
iblis-iblis
itu.
Enggak
mau
ah
bu!
jawabku
dengan
kesal.
Kamu
ngantuk
ya?
Kalau
begitu
cuci
muka
dulu
sana!
Sial teramat sial hari ini. Pagi-pagi sudah kena dampratan guru. Apalagi
tanggayang akan menimpaku? Huff, aku melangkah meninggalkan kamar
mandi menuju kelas, setelah sempat cuci muka.Baru selangkah berjalan,
terdengar suara hentakan sepatu yang begitu cepat dan sekejap melewatiku
seperti
angin.
Permisi...,
eh
Eross?
Eh,
kirain
angin
ribut
dari
mana.
Icha
mau
kemana?
Mau
ke
perpustakaan.
Lagi
pelajaran
apa
Ross?
Lagi
pelajaran
membosankan.
Memangnya
pelajaran
apa?
Sssst, jangan keras-keras ngomongnya, ini kan di depan kelasku! Nanti aku
kena
marah
lagi
sama
guru
bahasa
itu.
O..., pelajaran bahasa ya. Tapi kenapa kamu nggak masuk?
Tadi dari toilet, cuci muka, soalnya tadi kena marah sama ibu guru gara-gara
ngantuk.
Kamu sih pakai acara ngantuk segala. Oh iya,kamu nanti ada waktu nggak pas
jam
istirahat?
Yah
aku
nanti
mau
terusin
bacaan
di
perpustakaan.
Kebetulan, aku mau minta tolong bikinin puisi.Buatnya nanti di perpustakaan
saja
bisa
kan?
Bisa, tapi buat apaan... belum sempet kuteruskan pertanyaanku tiba-tiba
pundakku ditepuk oleh guru bahasa itu.
Mau jadi pilot Bu....!! serentak teman-teman didalam kelas berteriak.
Aku tertunduk kuyu. Kulihat Icha berlari kecil menuju kelasnya senyumnya
menusuk
hati.
Ada
kencankah
nanti?
Bel istirahat memekik ke seluruh penjuru sekolah. Mengiringi langkahku ke
tempat favorit: perpustakaan. Saat sedang asyik membaca buku teusan
kemaren,
sosok
wangi
itu
kembali
di
hadapanku

www.ac-zzz .tk
Cieileh,bacanya serius banget,sih. Sampai nggak tau kalau aku ada disini dari
tadi.
Eh, Icha ya, maaf, aku tadi lagi konsen.O iya tadi kamu bilang mau bikin puisi
buat
apa?
Mhh... buat tugas bahasa Indonesia, kok Tampaknya ia ragu mengatakannya.
Tentang
apa?
Tentang
cinta...
kalau
nggak
keberatan.
Ah
nggak
aku
tak
keberatan
sama
sekali.
Ya tak keberatan, tapi aku bingung apa iya tugas bahasa Indonesia disuruh
buat puisi cinta. Ah... aku tak peduli mau buat apa yang penting hatiku telah
jatuh
cinta
padanya.
Nih, puisinya, Cha. Jangan diejek ya kalau kata-katanya jelek.
Ya ampun segini bagusnya dibilang jelek?? Jangan merendah gitu dong, Ross,
ini kan puisi romantis. katanya dengan gaya manja. Padahal puisi itu kubuat
khusus untuknya. Aku terpesona ya sudah, terima kasih ya Ross. Aku mau
berikan
tugas
ini
dulu,
dadah....
Tersenyum dan terus tersenyum saat ia mengakhiri pertemuannya denganku.
Ia berselisih jalan dengan Anton, Tampaknya Anton heran ketika aku
melambaikan
tangan
pada
Icha.
Kau ada hubungan apa dengan anak IPS itu?
Kayaknya dari tadi lama sekali kau bicara dengan dia, tanya Anton sambil
mengambil
koran
otomotif
di
sampingnya.
Nggak
ada
apa-apa
kok,
aku
baru
kenal
sama
dia
Aku dengar-dengar anak itu baru PDKT sama anak IPA hati-hati saja kau
Ross,!
Jangan
sampai
dipermainkan
sama
tuh
cewek!
Ups, mendengar kata Anton tadi, aku tambah curiga, barangkali puisi untuk
Icha
tadi
bukan
tugas?
Barangkali
untuk
yang
lain....
Pulang sekolah, sebelum masuk rumah, Anton kembali menemuiku bersama
seseorang
yang
tak
aku
kenal.
Ross!!! Tunggu, woi! melihatku yang tergesa-gesa, Anton berteriak dan
berlari.
Lho tumben nggak bawa motor, memang kemana motormu, Nton?
Lagi di bengkel. Biasalah penyakit kambuhan. Oiya aku ada perlu denganmu
Ross.
Ada
apa?
Penting
banget?
siapa
yang
meninggal?
Busyet, nggak ada yang meninggal!! Sembarangan saja kau! Begini, ini ada
yang
mencarimu
namanya
Gyo,
kelas
IPA
tiga.
Ooo,
terus?

www.ac-zzz .tk
Si Gyo ini bertanya padaku, katanya siapa anak bahasa yang jago buat
puisi.Siapa lagi kalau bukan kau, Eross sang Pujangga. Puji Anton
cengegesan.
Hmmmm... mau dibuatkan puisi? kalau boleh tahu buat siapa ya Gyo?
Iya ,Ross aku mau minta tolong dibuatkan puisi buat temanku namanya Icha.
Soalnya tadi pagi dia kasih puisi untukku, isinya Romantis banget, aku nggak
sanggup balasnya, sayang kalo nggak dibalas,orangnya kan cantik, kalau aku
jadian sama dia, kalian berdua aku traktir,deh!Jawab Gyo panjang lebar.
Dan jantung ini pun tidak berdebar,barangkali sudah berhenti.
Tamat

Jaket
Donatus A Nugroho
Jadi akhirnya kamu rela memberikan jaket ini buatku? tanya Bun
dengan
amat
bernapsu.
Kita
bertukar
kado.
Kesepakatan telah diambil. Di hari Valentine nanti mereka akan saling
memberikan
kado.
Tentu
saja
kado
yang
spesial.
Aku nggak mau terima puisi cinta dari kamu. Udah kuno! canda Vanda.
Desta menyeringai. Tentu saja ia tidak akan memberikan puisi atau surat
cinta buat Vanda. Bukan soal sudah kuno atau norak, tapi rasanya kata-kata
cinta memang sudah tak perlu diobral lagi. Usia pacaran sudah setahun lebih,
masing-masing tak perlu lagi meragukan perasaan sang kekasih.
Kini Valentines Day makin dekat. Desta mulai pusing. Kado itulah yang bikin
Desta mumet. Desta yakin, Vanda akan memberinya sesuatu yang amat
berharga, setidaknya menurut Vanda. Ia sendiri sudah mengincar sesuatu
untuk dihadiahkan buat Valda. Sesuatu yang menurutnya amat pas
dihadiahkan pada Hari Kasih Sayang. Yang jadi masalah adalah: darimana ia
mendapatkan
uang
untuk
membeli
barang
tersebut?

www.ac-zzz .tk
Sebuah kotak musik berfungsi sebagai tempat perhiasan. Desta sudah
menelitinya di Funny Toys lebih dari sekali. Kotak berwarna merah jambu
yang ketika dibuka akan memperdengarkan lagu Love Story yang klasik.
Dengan kotak itu Valda bisa menyimpan blink-blink dan semua perhiasan yang
dimilikinya.
Sebuah
hadiah
Valentines
Day
yang
amat
pas.
Tapi darimana Desta memperoleh dua ratus ribu rupiah untuk membeli kotak
tersebut? Dua ratus ribu bukanlah jumlah yang sedikit bagi Desta. Papa dan
mamanya mungkin tidak terlalu berat untuk memberikan sejumlah itu buat
Desta. Jika uang itu hendak digunakan untuk membeli buku atau peralatan
sekolah. Tapi untuk membeli kado Valentine? Desta tak yakin. Desta lebih
yakin bahwa ia akan menerima teguran dan berondongan kalimat kurang
sedap. Di masa sulit begini amatlah mengada-ada jika mengeluarkan sejumlah
uang cukup besar hanya untuk sesuatu yang tidak penting. Desta yakin, bagi
kedua orang tuanya, membeli hadiah Valentine bukanlah sesuatu yang penting
apalagi
sebuah
keharusan.
Tak ada jalan lain kecuali harus mendapatkan sendiri sejumlah dua ratus ribu
rupiah
itu.
Tapi
darimana?
Bekerja? Siapa yang mau mempekerjakan seorang anak pelajar kelas 2 SMA
yang
tidak
punya
ketrampilan
apa-apa?
Mengumpulkan seluruh uang saku memang mungkin. Tapi waktunya kurang dari
sepekan lagi. Dan perkalian antara jumlah uang saku dengan jumlah hari yang
tersisa
masih
sangat
jauh
dari
angka
dua
ratus
ribu!
Meminjam uang teman memang bisa. Tapi Desta menghadapi resiko yang tidak
kecil jika nantinya papa atau mama mengetahuinya.
Orang
tuanya
mengharamkan
berhutang.
Desta
benar-benar
pusing.
Ketika semua jalan sudah buntu, harapan Desta tinggal tertumpu pada Bun.
Kamu masih suka pada jaketku? Desta melepas jaketnya dan
melemparkannya
pada
Bun.
Bun menerima jaket itu dengan sigap dan melonjak senang.
Jadi akhirnya kamu rela memberikan jaket ini buatku? tanya Bun dengan
amat
bernafsu
langsung
mengenakan
jaket
itu.
Aku
terpaksa
melepasnya
jika
kamu
mau
membelinya.
Wajah yang semula cerah itu meredup. Bun melepas jaket itu dan
melemparkannya
ke
sandaran
kursi.
Cuma
dua
ratus
ribu,
Bun.

www.ac-zzz .tk
Cuma dua ratus ribu? Untuk jaket bluwek ini?! Bun melotot.
Ah, kamu nggak perlu mengejek! Kamu tahu sendiri, nggak seorang anak pun
disini punya jaket seperti ini. Kamu tahu sejarahnya, kan?
Bun tentu saja amat tahu. Jaket itu kiriman dari Ferdi, abang Desta yang
hingga saat ini masih tinggal dan sekolah di Boston. Jaket Amerika! Sebuah
jaket jins dengan kerah dan manset kulit. Paduan jins dan kulit yang amat
kasual.
Tapi jaket ini udah belel. Kamu memakainya hampir setiap hari selama
setahun,
kan?
Justru
belel-nya
itu
yang
bikin
makin
unik,
kilah
Desta.
Tapi dua ratus ribu untuk jaket rombeng sungguh nggak masuk akal!
Ketika kuterima, labelnya masih utuh, Bun. Bang Ferdi membelinya seratus
dolar.
Belum lagi ongkos kirimnya yang pasti juga mahal. Desta meraih jaketnya dan
bermaksud mengenakannya kembali, tapi Bun lebih cepat merebut jaket itu.
Seratus
lima
puluh?
Dua ratus atau nggak sama sekali. Cepatlah, sebelum aku berubah pikiran.
Kamu tahu? Selain kamu masih banyak yang berniat memiliki jaket ini.
Kamu perlu uang untuk apa? Kamu mengincar sesuatu? Bun menatap curiga.
Kamu nggak perlu tahu! Kamu bayar dan jangan berpikir macam-macam. Mau
aku
apakan
uang
itu,
itu
hak
aku.
Bun mengeluarkan dompetnya dan menghitung sejumlah dua ratus ribu rupiah
dan
menyerahkannya
ke
Desta.
Makasih,
Bun.
Dua
ratusmu
ini
menyelamatkan
hidupku.
Bun memandang Desta dengan tatapan amat ingin tahu, tapi Desta segera
berlalu.
14
Februari.
Desta tiba di rumah Vanda menjelang pukul tujuh. Tak ada acara khusus
untuk melewati Valentines Day. Desta dan Vanda tak ingin datang ke pesta,
meski beberapa teman menawarkan undangan. Tak pula ada rencana untuk
pergi jalan-jalan lalu kemudian pergi ke restoran dan memilih sudut yang
romantis.
Desta dan Vanda sudah sepakat untuk berdua di rumah saja. Duduk di teras
rumah yang tidak hiruk-pikuk. Bertukar hadiah adalah rencana sederhana
yang
telah
disepakati.
Hai! Vanda menyapa riang. Ia tidak berdandan, tidak pula mengenakan gaun
ajaib yang mewakili dunia cinta.

www.ac-zzz .tk
Tapi nampaknya pita merah jambu yang lucu di rambutnya sengaja dikenakan
untuk
menampilkan
nuansa
Valentine.
Hai, sayang! Desta langsung suka pada pita merah jambu itu. Membuat
Vanda
nampak
makin
imut
dan
menggemaskan.
Keduanya duduk di teras, saling berhadapan. Lalu sama-sama tersenyum kaku.
Valentines
Day,
ya?
Iya,
jawab
Desta.
Lalu
kenapa?
Desta
tertawa.
Nggak
tahu!
Vanda juga tertawa kecil. Ia lalu menyorongkan pipinya. Desta mencium pipi
Vanda.
Aku
sayang
kamu,
Van.
Tetaplah
jadi
Valentine-ku.
Aku juga sayang kamu ... bisik Vanda yang pipinya kian bersemu merah
jambu,
warna
Valentine.
Semenit keduanya saling berdiam diri. Saling menatap dengan mesra. Tangan
keduanya
masih
saling
berpegangan.
Itu kadomu? Vanda memecah kebisuan. Diliriknya bungkusan berbentuk
kotak
berpita
merah
jambu
yang
ada
di
samping
Desta.
Desta
meraih
kadonya
dan
menyerahkannya
pada
Vanda.
Boleh
kubuka
sekarang?
Tanpa menunggu anggukan kepala Desta, Vanda segera membuka bungkus
kado itu dengan amat hati-hati. Ia tak ingin merobekkan kertas
pembungkusnya.
Vanda menjerit senang demi mengetahui hadiah dari Desta. Kotak musik itu
dibukanya dan seketika mengalunlah lagu Love Story yang lembut. Kamu
manis sekali, Des.
Oooh, aku akan mendengarkannya setiap kali menjelang tidur, membayangkan
kamu
membisikkannya
di
telingaku.
Desta tersenyum lega. Semua seperti yang ia harapkan. Vanda amat puas
dengan
hadiahnya.
Tunggu sebentar! Vanda beranjak dari duduknya dan berlari ke dalam
rumah.
Vanda muncul lagi dengan bungkusan kertas merah jambu yang cukup besar
ukurannya.
Kado kasih sayangku buatmu... Vanda menyerahkannya pada Desta.
Boleh
aku
membukanya
sekarang?
Vanda
mengangguk.
Desta membuka kado itu dengan cepat. Membuka kardus di balik bungkusan

www.ac-zzz .tk
itu dengan cepat pula. Desta menjerit tertahan ketika benda itu sudah ada di
tangannya.
Kuharap itu benda yang paling pas buatmu. Aku tahu kamu amat
memerlukannya sekarang. Udah lama aku ingin kamu membuang punyamu yang
itu. Kubilang juga apa? Jaket itu udah bluwek banget, tapi kamu mengaku
amat menyukainya. Kamu bilang itu jaket jaket unik dan langka karena kiriman
bang Ferdi dari Amrik. Syukurlah, akhirnya kamu memberikan jaket itu pada
Bun, karena kulihat siang tadi, kemarin dan kemarinnya lagi, Bun memakai
jaket itu pas pulang sekolah. Kamu memberikannya pada Bun, kan?
Desta masih terpaku pada benda di tangannya itu. Sebuah jaket berwarna
gelap.
Jaket
J-rock
yang
saat
ini
tengah
nge-tren.
Desta masih terpaku. Ia masih bingung harus berkata apa.
Tamat

Anda mungkin juga menyukai