Anda di halaman 1dari 4

Petunjuk untuk mahasiswa

DISKUSI KELOMPOK #
Tanggal

Jam

: 13.00 15.50

Topik

: Kelainan masa nifas

Tujuan Pembelajaran:
Setelah menyelesaikan diskusi kelompok ini, mahasiswa mengetahui kelainan-kelainan
masa nifas dan cara penanganan serta pencegahan kelainan nifas.

Skenario:
Ny. Deti, 34 tahun, datang ke rumah sakit dengan keluhan keluar darah dari jalan lahir.
Delapan hari yang lalu, penderita melahirkan anak kelima ditolong oleh dukun beranak
(paraji). Dua hari sesudah melahirkan, pasien sering demam dan mengeluarkan darah
yang berbau. Karena itu dia memanggil bidan yang berada di dekat rumahnya, dan oleh
bidan diberikan obat penurun panas dan obat yang menurut bidan adalah ampisilin. Tetapi
pagi hari sebelum datang ke rumah sakit penderita mengeluarkan darah banyak sekali
sehingga sarung yang dipakainya basah semua.
Pada pemeriksaan, penderita tampak lemah dan pucat, tekanan darah 100/60 mmHg, nadi
100 x/menit, respirasi 20 x/menit, dan suhu tubuh 38,0 C. Paru-paru dan jantung tak ada
kelainan. Mammae tidak terlihat tanda-tanda infeksi. Abdomen, tinggi fundus uteri
sepusat dan kontraksi tidak begitu baik. Dari jalan lahir keluar lochia yang berbau.
Pada pemeriksaan obstetris dengan spekulum, vagina tidak tampak luka-luka, dan di
dalam osteum tampak gumpalan-gumpalan darah. Pada touch vaginal ditemukan kanalis
servikalis masih terbuka dan dapat dilalui oleh dua jari. Di dalam cavum uteri teraba
jaringan dan besar uterus sebesar kehamilan 20 minggu.
Pertanyaan (untuk mahasiswa):
1. Kelainan masa nifas manakah yang diderita pasien ini? Jelaskan pendapat anda.
2. Coba jelaskan patofisiologi terjadinya kelainan/kelainan-kelainan pada pasien
tersebut.

3. Pemeriksaan laboratorium apa yang diperlukan pada pasien ini?


4. Pemeriksaan khusus apa yang diperlukan untuk memastikan kelainan tersebut di
atas? Jelaskan.
5. Bagaimana cara penanganan pasien ini dan bagaimana cara pencegahannya?
6. Kemungkinan-kemungkinan kelainan lain apa yang dapat menyebabkan febris
puerperalis?

Jawaban untuk fasilitator


1. Adanya demam beberapa hari setelah melahirkan dengan suhu badan 38 C atau
lebih yang berlangsung lebih dari dua hari disebut sebagai febris puerperalis.
Febris puerperalis dapat disebabkan oleh infeksi puerperalis karena di sini ada
keluar lochia yang berbau yang menandakan adanya infeksi intrauterin. Penderita
ini ditolong oleh paraji yang kurang/tidak mengetahui cara-cara menolong
persalinan yang bersih dan aman, dan juga tidak memeriksa apakah plasenta telah
lahir lengkap. Ternyata pada pemeriksaan dalam teraba jaringan yang
kemungkinan besar adalah sisa plasenta. Akibatnya, terjadi perdarahan dalam
masa nifas (late post partum hemorrhage).
2. Persalinan ditolong oleh orang yang tidak mengetahui cara-cara persalinan yang
bersih dan aman, sehingga kemungkinan infeksi lebih besar. Selain itu, sisa
plasenta merupakan jaringan yang mati dan merupakan media yang sangat baik
untuk pertumbuhan bakteri. Dengan demikian, infeksi puerperal dapat terjadi.
Sisa plasenta mengakibatkan kontraksi uterus kurang sempurna, sehingga

pembuluh darah pada bekas plasenta tidak terjepit seluruhnya dan akibatnya tejadi
perdarahan.
3. Pemeriksaan yang diperlukan:
a. pemeriksaan darah: Hb, leukosit, Ht, dan golongan darah
b. urine lengkap
c. kultur dan resistensi kuman
4. Pemeriksaan khusus yang diperlukan adalah pemeriksaan USG untuk memastikan
apakah jaringan yang teraba di dalam cavum uteri adalah sisa plasenta.
5. Penanganan pasien di rumah sakit. Segera setelah pasien masuk ke rumah sakit,
diapsang infus. Setelah hasil Hb/Ht diketahui maka diberikan infus atau transfusi,
antibiotika broad spectrum, kalau mungkin diberikan secara intravena. Selain itu
diberikan uterostatika iv dan im. Rencanakan untuk kuretase setelah mendapat
kepastian bahwa adanya sisa plasenta dari hasil USG. Sangat dianjurkan untuk
memakai sendok kuret yang paling besar untuk mencegah terjadinya perforasi
uterus. Bila Hb 7,0 maka diberikan transfusi darah.
Untuk mencegah terjadinya kelainan seperti di atas diperlukan pendidikan
masyarakat supaya:
a. jumlah anak jangan sampai lima atau lebih (ikut KB)
b. memeriksakan kehamilan minimal pada bidan
6. Penyebab-penyebab febris puerperalis lainnya adalah abses pelvik, peritonitis,
bendungan pada mammae, mastitis, abses mammae, infeksi saluran kemih, dan
penyakit-penyakit umum seperti pneumonia, malaria, demam tifoid, serta
hepatitis.