Anda di halaman 1dari 5

Petunjuk untuk mahasiswa

DISKUSI KELOMPOK #2
Tanggal

: 23 Desember 2010

Jam

: 13.00 15.50

Topik

: Perdarahan pada kehamilan muda

Tujuan Pembelajaran:
Setelah menyelesaikan diskusi kelompok ini, mahasiswa dapat membeda-bedakan sebabsebab perdarahan pada kehamilan muda, serta mengetahui cara-cara dan tindakan yang
diperlukan untuk menangani pasien dengan perdarahan pada kehamilan muda.

Skenario:
Ny. Ani, 30 tahun, pada tanggal 12 Desember 2010 datang ke RS Dustira (UGD) dibawa
oleh keluarga karena sakit perut yang tiba-tiba dan penderita sempat pingsan di rumah.
Pada anamnesis lebih lanjut, ternyata pasien telah terlambat haid delapan belas hari dan
sekarang keluar darah melalui jalan lahir. Penderita belum pernah hamil walaupun sudah
menikah 10 tahun. Penderita dibawa ke rumah sakit oleh saudaranya karena suami
penderita yang bekerja sebagai supir truk sedang ke Surabaya dua hari yang lalu.
Pada pemeriksaan, penderita tampak lemah dan pucat, tekanan darah 90/60 mmHg, nadi
100 x/menit, respirasi 28 x/menit, dan suhu tubuh 36,5 C. Paru-paru dan jantung tak ada
kelainan. Abdomen, pada palpasi tegang dan nyeri tekan terutama di sebelah kanan
bawah. Pekak pindah (shifting dullness) +.
Pada pemeriksaan inspekulo, serviks tidak ada kelainan, dan cavum Douglasi sedikit
menonjol. Pada touch vaginal ditemukan nyeri goyang serviks, uterus sukar ditentukan
besarnya, dan pada daerah parametrium kanan teraba massa.
Pertanyaan (untuk mahasiswa):
1. Kemungkinan-kemungkinan kelainan apakah yang anda pikirkan, dan diagnosis
apa yang paling mungkin untuk pasien ini? Di manakah lokalisasi kelainan pada
pasien ini?

2. Apa definisi dan bagaimana patofisiologi kelainan yang dialami oleh pasien
tersebut?
3. Pemeriksaan laboratorium apa saja yang diperlukan untuk menegakkan diagnosis
dan apa kegunaannya?
4. Pemeriksaan khusus yang diperlukan pada pasien ini?
5. Apa kemungkinan penyebab kelainan pada pasien ini?
6. Terapi apa yang dianjurkan pada pasien ini, dan bagaimana sikap anda bila pasien
ini datang di Puskesmas dan anda sebagai dokternya?
7. Sebenarnya keadaan pasien yang gawat seperti pasien di atas dapat dicegah bila
kita menemukan kelainan ini pada permulaan. Bagaimana caranya?

Jawaban untuk fasilitator


1. Bila kita menghadapi pasien yang mungkin hamil dan ada perdarahan, maka kita
harus memikirkan tiga kemungkinan:
a. abortus
b. mola hidatidosa
c. kehamilan ektopik yang terganggu (KET)
Pada abortus, perdarahan biasanya tidak disertai dengan rasa nyeri, tapi kadangkadang dirasakan sebagai mules-mules yang oleh penderita dikatakan sakit.
Pada mola, perdarahan tidak disertai nyeri dan biasanya perdarahan telah
berlangsung lama baru datang memeriksakan diri, dan pada pemeriksaan terlihat
rahim yang lebih besar dari umur kehamilan menurut HPHT.

Pada kehamilan ektopik terganggu (KET), perdarahan biasanya disertai rasa nyeri
yang hebat. Seringkali pasien mengalami pingsan. Dengan demikian kemungkinan pasien ini menderita KET.
Kehamilan ektopik dapat terjadi di:
a. Tuba Falopii (> 97% kasus)
1. Pars interstisialis
2. Isthmus
3. Ampulla
4. Infundibulum
5. Fimbriae
b. Uterus
1. Kanalis servikalis
2. Divertikulum
3. Kornu
4. Tanduk rudimenter.
c. Ovarium
d. Intra ligamenter
e. Abdominal
1. Primer
2. Sekunder
f. Kombinasi kehamilan di dalam dan di luar uterus

2. Kehamilan ektopik adalah bila sel telur yang dibuahi berimplantasi di luar cavum
uteri yang dilapisi oleh endometrium. Kebanyakan kehamilan ektopik terjadi di
tuba Falopii. Seperti diketahui, sel telur yang dikeluarkan oleh ovarium masuk ke
dalam tuba dan di sana akan bertemu dengan sperma sehingga terjadi
konsepsi/fertilisasi. Hasil konsepsi itu akan berjalan terus menuju cavum uteri.
Bila oleh suatu hal ada hambatan pada perjalanannya maka hasil konsepsi itu akan
berimplantasi di daerah tuba dan akan tumbuh membesar. Karena ruangan di tuba
sempit maka tuba akan pecah dan dengan demikian akan terjadi perdarahan intra
peritoneal yang mengakibatkan nyeri yang hebat dan kolaps. Kebanyakan
penyempitan pada tuba disebabkan oleh infeksi dari tuba dan kemudian pada
penyembuhan akan mengalami penyempitan. Karena itu, daerah yang paling
sempit dari tuba lebih cepat pecah seperti pada pars isthmica (kira-kira dua
minggu setelah fertilisasi).
3. Pemeriksaan laboratorium yang diperlukan adalah pemeriksaan Hb, leukosit, dan
Ht. Hb dan leukosit perlu diperiksa serial untuk menentukan adanya perdarahan
yang masih berlangsung. Selain itu diperlukan pemeriksaan hCG (untuk
membedakan kelainan di luar kehamilan seperti apendisitis).
4. Pemeriksaan khusus yang diperlukan:
a. Punksi cavum Douglasi: bila keluar darah yang berisi bekuan-bekuan dan
tidak

membeku

lagi

maka

dapat

dikatakan

terdapat

perdarahan

intraabdominal.
b. Laparaskopi: bila punksi cavum Douglasi belum dapat memastikan adanya
perdarahan intraabdominal dan kita masih tetap curiga adanya KET, maka

dapat dilakukan laparaskopi untuk memastikan diagnosis dan sekalian dapat


dipakai untuk melakukan terapi operatif.
c. USG: bila kita melihat kantong kehamilan dan mola di dalam uterus, maka
KET dapat disingkirkan. KET biasanya tidak dapat dilihat dengan USG.
5. Pada pasien ini kemungkinan besar disebabkan pernah mengalami salpingitis,
mengingat suami pasien supir truk yang jarang pulang karena perjalanan yang
jauh, dan karena itu cenderung untuk mendapat PMS yang kemudian ditularkan
kepada istrinya. Selain itu, penderita sudah menikah sepuluh tahun tetapi belum
pernah hamil.
6. Tindakan yang biasa dilakukan pada KET adalah laparatomi dan membuang
tempat implantasi dari ovum. Puskesmas perlu merujuk pasien ke rumah sakit
terdekat yang dapat melakukan laparatomi. Sebelum dikirim, pasien harus
distabilisasi, dan waktu pengiriman harus didampingi oleh bidan.
7. Untuk mencegah terjadinya KET maka diagnosis kehamilan ektopik harus
diketahui sebelum terganggu. Pada pasien-pasien yang mempunyai faktor risiko
untuk kehamilan ektopik dilakukan pemeriksaan USG dan pemeriksaan hCG
serum. Bila didapatkan hCG serum 1000 mIU sedangkan di dalam cavum uteri
tidak terlihat kantong kehamilan, maka dapat dipastikan bahwa kehamilan itu
adalah ektopik. Untuk mencegah supaya tidak terganggu, embrio dimatikan
dengan pemberian suntikan MTX dan setelah meninggal, embrio akan diserap.