Anda di halaman 1dari 10

Theory of Aging

Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Pilihan Geriatric Nutrition

Oleh :
Sarah Edwina

115070313111004

Asria R. Lino

115070307111016

Ollyvia Barzelina

115070300111041

Diana Mareta

115070300111034

Octi Novita

135070309111001

Yuznia Sari

135070309111007

Arindra Nirbaya

135070309111003

Harnindya Redhita

135070309111012

Fajriah

135070309111028

Sri Mulyani

135070309111042

PROGRAM STUDI ILMU GIZI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014

1. Teori biologi
Teori biologi fokus pada proses fisiologi individu dari lahir sampai meninggal. Perubahan
pada tubuh secara independen atau dapat dipengaruhi oleh faktor luar yang bersifat
patologis. Berikut ini merupakan teori biologis, diantaranya:
a. Teori Imunitas
Teori imun menganggap proses penuaan merupakan proses autoimun, yaitu
system imun tubuh tidak dapat lagi mengenali sel selnya sendiri. Respon autoimun
meusak sel, termasuk tidak dapat lagi mengenali mengenali sel selny sendiri.
Respon autoimun merusak sel, termasuk sel sel imuno-kompeten. Akibatnya
kekebalan tubuh menurun, sehingga mudah terkena berbagai infeksi, kanker,
penyakit degenerative, penyakit autoimun, dan lain lain.
Teori ini menyatakan bahwa semakin tua umur seseorang maka kemampuan
sistem imun menurun baik secara kuantitatif maupun kualitatif sehingga kemampuan
untuk membedakan sel tubuh dan benda asing mengalami penurunan, sehingga
banyak terjadi penyakit autoimun. Pada lansia umumnya terjadi gangguan
kemampuan pengaturan sel B dan sel T, sehingga sel normal atau sel yang sudah
menua dianggap sebagai benda asing.
b. Teori Riwayat lingkungan
Teori riwayat lingkungan, faktor yang ada dalam lingkungan dapat membawa
perubahan dalam proses penuaan. Faktor-faktor tersebut merupakan karsinogen dari
industri, cahaya matahari, trauma dan infeksi.
c. Teori Radikal bebas
Radikal bebas merupakan molekul atau bagian molekul yang tidak utuh lagi
karena sebagian telah pecah atau melepaskan diri. Bagian yang pecah/melepaskan
diri melekat pada molekul lain dan merusak atau mengubah struktur/fungsi molekul
yang bersangkutan.
Kegiatan radikal bebas juga dipengaruhi oleh lingkungan, seperti produk
samping dari industry plastic, ozon atmosfer, asap knalpot kendaraan dan lain-lain.
Jadi tubuh manusia diserang dari luar dan dalam oleh radikal bebas. Pada proses
penuaan pun kecepatan unsur radikal akan bertambah melebihi kecepatan
perbaikan/ pemulihannya. Molekul radikal bebas sebenarnya ada di dalam tubuh dan
menjadi bertambah seiring dengan bertambahnya umur.

d. Teori Neuroendokrin

Teori neuroendokrin merupakan teori yang menjelaskan tentang terjadinya


proses penuaan melalui hormon. Hormon diproduksi dari hasil kerjasama sistem
yang kompleks antara otak dan sistem saraf serta kelenjar hormon. Produksi hormon
diatur oleh Hypotalamus, yang menstimulasi dan menghambat kerja kelenjar pituitari
atau master gland yang berfungsi mengatur regulasi hormon ke seluruh organ dalam
tubuh. Hormon dalam tubuh berperan dalam mengorganisasi organ-organ tubuh
melaksanakan tugasnya dam menyeimbangkan fungsi tubuh apabila terjadi
gangguan dalam tubuh.
Seiring dengan bertambahnya usia maka akan terjadi perubahan fungsi
hormonal termasuk regulasi sekresi hormonal. Pada usia lanjut, kemampuan
hipotalamus sebagai pengatur sekresi hormon menurun sehingga berakibat menurun
pula kemampuan reseptor pendeteksi hormon pada organ. Oleh karena itu, pada
lansia banyak hormon yang tidak dapat dapat disekresi sehingga organ mengalami
penurunan keefektivitasan.
Jadi dapat disimpulkan bahwa menurut teori neuroendokrin, penuaan terjadi
karena perubahan pada sistem saraf dan hormonal yang memiliki fungsi penting
pada koordinasi komunikasi dan kepekaan seluruh sistem tubuh terhadap lingkungan
sekitar, dan pemrograman respon fisiologi terhadap stimulasi dari lingkungan, serta
pemeliharaan fungsi yang optiomal untuk bereproduksi dan bertahan hidup bersama
kepekaan untuk merespon pada kondisi lingkungan.
e. Teori Genetik Clock
Menurut teori ini menua telah terprogram secara genetic untuk spesies-spesies
tertentu. Tiap spesies mempunyai di dalam inti selnya suatu jam genetic yang telah
diputar menurut suatu replikasi tertentu. Jam ini akan menghitung mitosis dan
menghentikan replikasi tertentu. Jadi menurut konsep ini bila jam kita ini berhenti kita
akan meninggal dunia, meskipun tanpa disertai kecelakaan lingkungan atau
penyakit. Secara teoritis dapat dimungkinkan memutar jam ini lagi meski hanya
beberapa waktu dengan pengaruh-pengaruh dari luar, berupa peningkatan
kesehatan, pencegahan penyakit dengan obat-obatan tindakan tertentu.
f.

Teori Error Catastrophe (Teori Mutasi Somatik)


Menurut teori ini, menua disebabkan kesalahan yang beruntun dalam jangka
waktu yang lama dalam transkripsi dan translasi. Kesalahan tersebut menyebabkan
terbentuknya enzim yang salah dan berakibat metabolism yang salah sehingga
mengurangi fungsional sel, walaupun dalam batas-batas tertentu kesalahan dalam
pembentukan RNA dapat diperbaiki, namun kemampuan memperbaiki diri terbatas

pada transkripsi yang tentu akan menyebabkan kesalahan sintesis protein atau
enzim yang dapat menimbulkan metabolit berbahaya. Bila juga terjadi kesalahan
pada tranlasi maka kesalahan yang terjadi juga semakin banyak.
g. Teori Umur Panjang dan Penuaan (Longevity and Senescence Theories)
Palmore (1987) mengemukakan dari beberapa hasil studi, terdapat faktorfaktor tambahan berikut yang dianggap berkontribusi untuk umur panjang: tertawa;
ambisi rendah, rutin setiap hari, percaya pada Tuhan; hubungan keluarga baik,
kebebasan dan kemerdekaan; terorganisir, perilaku yang memiliki tujuan, dan
pandangan hidup positif.2
Wacana yang timbul dari teori ini adalah sindrom penuaan merupakan sesuatu yang
universal, progresif, dan berakhir dengan kematian.
h. Teori Medis (Medical Theories)
Teori medis geriatri mencoba menjelaskan bagaimana perubahan biologis yang
berhubungan dengan proses penuaan mempengaruhi fungsi fisiologis tubuh
manusia.

Biogerontologi

merupakan

subspesialisasi

terbaru

yang

bertujuan

menentukan hubungan antara penyakit tertentu dan proses penuaan. Metode


penelitian yang lebih canggih telah digunakan dan banyak data telah dikumpulkan
dari subjek sehat dalam studi longitudinal, beberapa kesimpulan menarik dari
penelitian tiap bagian berbeda.
i.

Teori Telomere
Pada ujung setiap kromosom, terdapat sekuen pendek DNA nontranskripsi
yang dapat diulang berkali-kali (TTAGGG), yang dikenal sebagai telomere. Sekuen
telomere ini tidak seluruhnya terkopi sepanjang sintesis DNA menuju ke mitosis.
Sebagai hasilnya, ekor untaian tunggal DNA ditinggal di ujung setiap kromosom; ini
akan dibuang dan, pada setiap pembelahan sel, telomere menjadi pendeksel . Pada
saat sel somatik bereplikasi, satu potongan kecil tiap susunan telomere tidak
berduplikasi, dan telomere memendek secara progresif. Akhirnya , setelah
pembelahan sel yang multiple, telomere yang terpotong parah diperkirakan
mensinyal proses penuaan sel. Namun demikian, pada sel germ dan sel stem
panjang telomere diperbaiki setelah pembelahan tiap sel oleh enzim khusus yang
disebuttelomerase.
Pemendekan telomere dapat menjelaskan batas replikasi (Hayflick) sel. Hal
ini didukung oleh penemuaan bahwa panjang telomer berkurang sesuai umur
individu darimana kromosom didapat. Dari pengamatan jangka panjang bahwa

fibroblast manusia dewasa normal pada kultur sel, memiliki rentang masa hidup
tertentu; fibroblast berhenti membelah dan menjadi menua setelah kira-kira 50 kali
penggandaan. Fibroblast neonatus mengalami sekitar 65 kali penggandaan sebelum
berhenti membelah, sementara itu fibroblast pada pasien dengan progeria, yang
berusia premature, hanya memperlihatkan 35 kali penggandaan atau lebih.
Menuanya fibroblas manusia dalam biakan dapat dihindari secara parsial dengan
melumpuhkan gen RB dan TP 53. Namun sel ini akhirnya juga mengalami suatu
krisis, yang ditandai dengan kematiaan sel masif.
j.

Teori Genetika
Setiap sel dalam tubuh memiliki pengaturan system kompleks yang
memungkinkan sel tersebut tetap tumbuh dan berkembang. Setiap informasi dan
mesin yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut dikode dalam asam nuklet
(DNA dan RNA) dan protein. Menurut teori genetika proses menua merupakan
dampak dari perubahan biokimia yang telah diprogram oleh molekul-molekul DNA
dan setiap sel pada saatnya akam mengalami mutasi. Pemrograman genetik ini (jam
biologis) merupakan program bawaan yang ada dalam genom dan akan diaktifkan
pada tahap tertentu dalam siklus hidup suatu organism serta menyebabkan kematian
sel melalui mekanisme peghancuran diri sendiri. Ada dua jalur utama mengenai teori
pemograman genetik ini yaitu batas hayflick dan kehilangan telomere.
Pada tahun 1962, Dr. Hayflick dan Dr. Moorehead yang merupakan ahli
dalam biologi sel menunjukkan proses penuaan pada kultur sel manusia. Hayflick
berteori bahwa proses penuaan dikontrol oleh jam biologis yang terkandung dalam
setiap sel hidup. Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa sel-sel
manusia memiliki waktu hidup yang terbatas. Perubahan paling nyata terjadi di
organel sel, membrane sel dan materi genetik. Penurunan fungsi sel dan rusaknya
sel dalam jaringan dan organ dapat menyebabkan penuaan. Kemudian pada tahun
1995 muncul teori telomere. Telomere merupakan urutan asam nukleat yang
memanjang dari ujung kromosom serta bertindak untuk mempertahankan integritas
kromosom. Setiap kali sel membelah, telomere menjadi lebih pendek dan
menyebabkan kerusakan sel dan kematian seluler yang terkait dengan penuaan.
k. Teori Wear and Tear
Teori wear and tear pertama kali diperkenalkan oleh Dr August Weismann,
seorang ahli biologi Jerman pada tahun 1882. Weismann menyatakan bahwa tubuh
dan sel-sel dapat rusak akibat penggunaan berlebihan. Organ dan kulit dapat pula
rusak akibat racun yang terdapat dalam lingkungan dan makanan. Degenerasi pada

tulang rawan dan penggerusan pada tulang merupakan contoh dari proses penuaan
pada sendi tubuh karena keausan yang terjadi melebihi kemampuan tubuh untuk
memperbaiki sendi.
l.

Teori Rantai Silang


Teori rantai silang pertama kali diusulkan pada tahun 1942 oleh Johan
Bjorksten. Ia menggunakan teori ini pada penyakit penuaan seperti sclerosis,
menurunnya sistem kekebalan tubuh, dan hilangnya elastisitas di kulit.Kolagen
adalah salah satu protein yang paling umum ditemukan pada kulit, tendon, ligamen,
tulang dan tulang rawan. Protein kolagen dapat diibaratkan seperti kaki dari tangga
yang memiliki sedikit anak tangga. Masing-masing protein terhubung dengan protein
lain melalui anak tangga membentuk rantai silang. Pada orang yang masih muda,
terdapat beberapa rantai silang dan tangga yang bebas untuk bergerak ke atas dan
ke bawah karena memiliki kolagen yang tetap lembut dan lentur. Kemudian
diperkirakan bahwa rantai silang ini mulai menghalangi jalur gizi dan pembuangan
antar sel. Hal ini terjadi pula ketika sistem kekebalan tubuh yang lebih tua tidak
mampu membersihkan molekul glukosa yang berlebih dalam darah. Molekul gula ini
bereaksi dengan protein yang menyebabkan pembentukan rantai silang dan radikal
bebas yang dapat merusak.

2. Teori Psikologi
Teori psikologis merupakan teori yang luas dalam berbagai lingkup karena
penuaan psikologis dipengaruhi oleh faktor biologis dan sosial, dan juga melibatkan
penggunaan kapasitas adaptif untuk melaksanakan kontrol perilaku atau regulasi diri.
Para Lansia merasa kurang mampu berinterksi dengan yang bukan
Lansia disebabkan oleh kondisi perubahan fisik yang cenderung menurun
sehingga aktivitas tidak bisa menyamai dengan yang berusia muda.
a) Teori kebutuhan Manusia
Banyak teori psikologis yang memberi konsep motivasi dan kebutuhan
manusia. Teori Maslow merupakan salah satu contoh yang diberikan pada lansia.
Setiap manusia yang berada pada level pertama akan mengambil prioritas untuk
mencapai level yang lebih tinggi; aktualisasi diri akan terjadi apabila seseorang
dengan yang lebih rendah tingkat kebutuhannya terpenuhi untuk beberapa
derajat, maka ia akan terus bergerak di antara tingkat, dan mereka selalu
berusaha menuju tingkat yang lebih
Kebutuhan manusia menurut Hirarki Maslow Menurut teori ini, setiap
individu memiliki hirarki dari dalam diri, kebutuhan yang memotivasi seluruh
perilaku manusia (Maslow 11111954). Kebutuhan ini memiliki urutan prioritas yang

berbeda. Ketika kebutuhan dasar manusia sidah terpenuhi, mereka berusaha


menemukannya pada tingkat selanjutnya sampai urutan yang paling tinggi.
b) Teori keberlangsungan hidup dan perkembangan kepribadian
Teori keberlangsungan hidup menjelaskan beberapa perkembangan melalui
berbagai tahapan dan menyarankan bahwa progresi sukses terkait dengan cara
meraih kesuksesan di tahap sebelumnya. ada empat pola dasar kepribadian
lansia:

terpadu,

keras-membela,

pasif-dependen,

dan

tidak

terintegrasi

(Neugarten et al.)
Teori yang dikemukakan Erik Erikson tentang delapan tahap hidup telah
digunakan secara luas dalam kaitannya dengan lansia. Ia mendefinisikan tahaptahap kehidupan sebagai kepercayaan vs ketidakpercayaan, otonomi vs rasa
malu dan keraguan, inisiatif vs rasa bersalah, industri vs rendah diri, identitas vs
difusi mengidentifikasi, keintiman vs penyerapan diri, generativitas vs stagnasi,
dan integritas ego vs putus asa. Masing-masing pada tahap ini menyajikan orang
dengan kecenderungan yang saling bertentangan dan harus seimbang sebelum
dapat berhasil dari tahap itu. Seperti dalam teori keberlangsungan hidup lain, satu
tahapan menentukan langkah menuju tahapan selanjutnya.
c) Recent dan Elvolving Theoris (Teori kepribadiaan genetik)
Teori kepribadian genetik berupaya menjelaskan mengapa beberapa lansia
lebih baik dibandingkan lainnya.; hal ini tidak berfokus pada perbedaan dari kedua
kelompok tersebut.
Meskipun didasarkan pada bukti empiris yang terbatas, teori ini merupakan
upaya yang menjanjikan untuk mengintegrasikan dan mengembangkan lebih
lanjut beberapa teori psikologi tradisional dan baru bagi lansia. Tema dasar dari
teori ini adalah perilaku bifurkasi atau percabangan dari seseorang di berbagai
aspek seperti biologis, sosial, atau tingkat fungsi psikososial. Menurut teori ini,
penuaan didefinisikan sebagai rangkaian transformasi terhadap meningkatnya
gangguan dan ketertiban dalam bentuk, pola, atau struktur.

3. Teori Sosiologi
Teori ini menjelaskan hubungan antara kondisi sosial terhadap efek penuaan.
Teori ini cenderung dipengaruhi oleh dampak dari luar tubuh .
a. Teori Kepribadian

Teori kepribadian menyebutkan aspek-aspek pertumbuhan psikologis


tanpa menggambarkan harapan atau tugas spesifik lansia. Teori pengembangan
kepribadian yang dikembangkan oleh Jung menyebutkan bahwa terdapat dua
tipe kepribadian yaitu introvert dan ekstrovert. Lansia akan cenderung menjadi
introvert kerenan penurunan tanggung jawab dan tuntutan dari keluarga dan
ikatan sosial.
b. Teori Tugas Perkembangan
Tugas perkembangan merupakan aktivitas dan tantangan yang harus
dipenuhi oleh seseorang pada tahap-tahap spesifik dalam hidupnya untuk
mencapai penuaan yang sukses. Pada kondisi tidak adanya pencapaian
perasaan bahwa ia telah menikmati kehidupan yang baik, maka lansia tersebut
berisiko untuk memiliki rasa penyesalan atau putus asa.
c. Teori Disengagement (Penarikan Diri)
Menurut teori penarikan diri (disengagement theory), penarikan timbal balik
antara lansia dan

masyarakat berlangsung dalam

mengantisipasi kematian.

Teori ini menggambarkan penarikan diri lansia dari peran masyarakat dan
tanggung jawabnya. Lansia akan dikatakan bahagia apabila kontak sosial telah
berkurang dan tanggungjawab telah diambil oleh generasi yang lebih muda.
Manfaat dari pengurangan kontak sosial bagi lansia adalah agar dapat
menyediakan waktu untuk merefleksikan kembali pencapaian yang telah dialami
dan untuk menghadapi harapan yang belum dicapai.
d. Teori Aktivitas
Lawan langsung dari teori disengagement adalah teori aktivitas penuaan,
yang berpendapat bahwa jalan menuju penuaan yang sukses adalah dengan
cara tetap aktif. Gagasan pemenuhan kebutuhan seseorang harus seimbang
dengan pentingnya perasaan dibutuhkan oleh orang lain. Kesempatan untuk
turut berperan dengan cara yang penuh arti bagi kehidupan seseorang yang
penting bagi dirinya adalah suatu komponen kesejahteraan yang penting bagi
lansia. Penelitian menunjukkan bahwa hilangnya fungsi peran pada lansia
secara negatif mempengaruhi kepuasan hidup. Selain itu, penelitian terbaru
menunjukkan pentingnya aktivitas mental dan fisik yang berkesinambungan
untuk mencegah kehilangan dan pemeliharaan kesehatan sepanjang masa
kehidupan manusia.
e. Teori Kontinuitas

Teori kontinuitas, juga di kenal sebagai suatu teori perkembangan,


merupakan suatu kelanjutan dari teori sebelumnya dan menjelaskan dampak
kepribadian pada kebutuhan untuk tetap aktif atau memisahkan diri agar
mencapai kebahagiaan dan terpenuhinya kebutuhan di usia tua. Teori ini
menekankan pada kemampuan individu sebelumnya dan kepribadian sebagai
dasar untuk memprediksi bagaimana seseorang akan dapat menyesuaikan diri
terhadap perubahan akibat penuaan. Ciri kepribadian dasar dikatakan tetap tidak
berubah walaupun usianya telah lanjut. Selanjutnya, ciri kepribadian secara khas
menjadi lebih jelas pada saat orang tersebut bertambah tua. Seseorang yang
menikmati bergabung dengan orang lain dan memiliki kehidupan sosial yang
aktif akan terus menikmati gaya hidupnya ini sampai usianya lanjut. Orang yang
menyukai kesendirian dan memiliki jumlah aktivitas yang terbatas mungkin akan
menemukan kepuasan dalam melanjutkan gaya hidupnya ini. Lansia yang
terbiasa memiliki kendali dalam membuat keputusan mereka sendiri tidak akan
dengan mudah menyerahkan peran ini hanya karena usia mereka yang telah
lanjut. Selain itu, individu yang telah melakukan manipulasi dalam interaksi
interpersonal selama masa mudanya tidak akan tiba-tiba mengembangkan suatu
pendekatan yang berbeda didalam masa akhir kehidupannya.
f.

Teori Subkultural
Lansia, sebagai suatu kelompok, memiliki norma mereka sendiri, harapan,
keyakinan, dan kebiasaan; karena itu, mereka telah memiliki subkultur mereka
sendiri. Teori ini juga menyatakan bahwa orang tua kurang terintegrasi secara
baik dalam masyarakat yang lebih luas dan berinteraksi lebih baik di antara
lansia lainnya bila dibandingkan dengan orang dari kelompok usia berbeda.
Salah satu hasil dari subkultur usia akan menjadi pengembangan "kesadaran
kelompok umur" yang akan berfungsi untuk meningkatkan citra diri orang tua
dan mengubah definisi budaya negatif dari penuaan.

DAFTAR PUSTAKA
American Federation of Aging Research. 2011. Theory of Aging. New York: AFAR.

Blackburn, James A & Dulmus, Catherine N. 2007. Handbook of Gerontology. US America.


Maryam, Siti., dkk. 2008. Mengeng al Usia Lanjut dan Perawatannya.Salemba Medika,
Jakarta
Mercado-Senz, Silvia., dkk. 2010. Cellular Aging: Theories and Technological Influence.
Braz. Arch. Biol. Technol. v.53 n. 6: pp. 1319-1332, Nov/Dec 2010.
Miller, Carol A.2004.Nursing Care of Older Adults: Theory and Practice.Philadepia: Lippincott
Physiopedia,
tanpa
tahun.
Theories
pedia.com/Theories_of_Aging.

of

Aging.

(Online)

http://www.physio-

Weinert, Brian, et al. 2008. Physiology of Aging Invited Review: Theories of Aging. Journal of
Appl Physiology.
Willson, Andrea E. The Sociology of Aging. University of Western Ontario.