Anda di halaman 1dari 25

DIAGRAM ALIR TEKNOLOGI PROSES PENGOLAHAN BIJIH EMAS

Pertambangan emas pertama kali dilakukan di daerah alluvial, dengan metoda pengolahan cara
gravitasi atau cara amalgamasi dengan air raksa. Sejak tahun 1860 kegiatan pertambangan bawah
tanah dilakukan untuk endapan primer dengan metoda pengolahan emas cara sianidasi.
Perkembangan selanjutnya teknologi pengolahan emas dengan cara flotasi dilakukan pada
tahun 1930. Dan tahun 1960 metoda pengolahan heap leaching yang dasarnya seperti pengolahan
sianidasi diterapkan untuk pengolahan bijih emas kadar rendah.

Tehnologi proses pengolahan emas skala komersial yang umum digunakan terdiri dari tahap :
1. Comminution / Kominusi
Kominusi adalah proses reduksi ukuran dari ore agar mineral berharga yang mengandung
emas dengan tujuan untuk membebaskan ( meliberasi ) mineral emas dari mineralmineral lain yang terkandung dalam batuan induk.

Refractory ore processing

Crushing

Milling

2. Concentration / separation
Setelah ukuran bijih diperkecil, proses selanjutnya dilakukan proses konsentrasi dengan
memisahkan mineral emas dari mineral pengotornya. Pada endapan emas aluvial, bijih
hasil penggalian langsung memasuki tahap ini tanpa tahap kominusi terlebih dahulu.

Gravity Separation

Liquation Separation

Froth Flotation

3. Extraction

Amalgamasi

Sianidasi

4. Refinning / Pemurnian
Refining, yaitu melakukan pengolahan logam kotor melalui proses kimia agar diperoleh
tingkat kemurnian tinggi.

Smelting

Size Reduction

Parting

Aqua Regia

Comminution / Kominusi
Kominusi adalah proses reduksi ukuran dari ore agar mineral berharga yang mengandung emas
dengan tujuan untuk membebaskan ( meliberasi ) mineral emas dari mineral-mineral lain yang
terkandung dalam batuan induk.

Tujuan liberasi bijih ini antara lain agar :

Mengurangi kehilangan emas yang masih terperangkap dalam batuan induk

Kegiatan konsentrasi dilakukan tanpa kehilangan emas berlebihan

Meningkatkan kemampuan ekstraksi emas

Proses kominusi ini terutama diperlukan pada pengolahan bijih emas primer, sedangkan pada
bijih emas sekunder bijih emas merupakan emas yang terbebaskan dari batuan induk yang
kemudian terendapkan. Derajat liberasi yang diperlukan dari masing-masing bijih untuk
mendapatkan perolehan emas yang tinggi pada proses ekstraksinya berbeda-beda bergantung
pada ukuran mineral emas dan kondisi keterikatannya pada batuan induk.
Proses kominusi ini dilakukan bertahap bergantung pada ukuran bijih yang akan diolah, dengan
menggunakan :

Refractory ore processing, bijih dipanaskan pada suhu 100 - 110 0C, biasanya sekitar 10
jam sesuai dengan moisture. Proses ini sekaligus mereduksi sulfur pada batuan oksidis.

Crushing merupakan suatu proses peremukan ore ( bijih ) dari hasil penambangan
melalui perlakuan mekanis, dari ukuran batuan tambang <40 cm menjadi <12,5 mm,
misalnya dengan menggunakan Roll Crusher, Jaw Crusher, Cone Crusher, Stamp Mill,
dll.

Milling merupakan proses penggerusan lanjutan dari crushing,hingga mencapai ukuran


slurry dari hasil milling yang diharapkan yaitu minimal 80% adalah -200#, misalnya
dengan menggunakan Hammer Mill, Ball Mill, Rod Mill, Disc Mill , dll.

Concentration / Konsentrasi

Setelah ukuran bijih diperkecil, proses selanjutnya dilakukan proses konsentrasi / pemekatan
bijih (concentration of ore) dengan memisahkan mineral emas dari materi pengotornya
(ganggue / batureja), sehingga diperoleh kadar bijih tinggi. Pada endapan emas aluvial, bijih
hasil penggalian langsung memasuki tahap ini tanpa tahap kominusi terlebih dahulu.
Pemekatan dapat dilakukan melalui dua teknik pemisahan, yaitu pemisahan secara fisis dan
pemisahan secara kimia :
1. Gravity Separation / Pemisahan gaya berat.
Pemisahan gaya berat ( gravity separation ), adalah proses pemisahan mineral yang
didasarkan atas perbedaan massa jenis antara partikel bijih dan partikel pengotor.
2. Liquation Separation / Pemisahan pencairan
3. Magnetic Separation/ Pemisahan magnetis
4. Froth Flotation / Pemisahan pengapungan.
Pengapungan buih ( froth flotation ) adalah proses pemisahan mineral menjadi bijihdari
pengotor dengan cara mengapungkan bijih ke permukaan melalui pengikatandengan buih.
Hasil pemekatan bijih dari teknik tersebut dibagi dalam 2 (dua) kategori, yaitu :
1. First Concentrate / Total Concentrate,
2. Second Concentrate / Final Concentrate
1. Gravity separation / Pemisahan gaya berat
Konsentrasi / separasi dengan metode gravitasi memanfaatkan perbedaan massa jenis emas
( 19.3 ton/m3 ) dengan massa jenis mineral lain dalam batuan ( yang umumnya berkisar 2.8
ton/m3 ). Mineral pembawa emas biasanya berasosiasi dengan mineral ikutan (gangue
minerals). Mineral ikutan tersebut umumnya kuarsa, karbonat, turmalin, flourpar, dan sejumlah
kecil mineral non logam. Mineral pembawa emas juga berasosiasi dengan endapan sulfida yang
telah teroksidasi. Mineral pembawa emas terdiri dari emas nativ, elektrum, emas telurida,
sejumlah paduan dan senyawa emas dengan unsur-unsur belerang, antimon, dan selenium. Emas
asli mengandungi antara 8% dan 10% perak, tetapi biasanya kandungan tersebut lebih tinggi.
Elektrum sebenarnya jenis lain dari emas nativ, hanya kandungan perak di dalamnya >20%.
Apabila jumlah perak bertambah, warnanya menjadi lebih putih.
Metode gravitasi akan efektif bila dilakukan pada material dengan diameter yang sama/seragam,
karena pada perbedaan diameter yang besar perilaku material ringan (massa jenis kecil) akan

sama dengan material berat ( massa jenis besar ) dengan diameter kecil. Oleh karena itu
dibutuhkan proses Screening and Classifying :

Grizzlies, non moved screens

Vibrating screens

Spiral classifier

Pada proses ini menjadi sangat penting untuk dilakukan dengan baik, sebab dengan memilah
ukuran bijih hasil kominusi akan menyeragamkan besaran umpan (feeding size) ke proses
konsentrasi. Sedangkan bijih yang masih belum seragam (lebih besar) hasil pemilahan
dikembalikan ke proses sebelumnya yaitu kominusi.

Peralatan konsentrasi yang menggunakan prinsip gravitasi yang umum digunakan pada
pertambangan emas skala kecil antara lain adalah :

Panning ( Jawa=Dulang, Jambi=Erai, Jabar=Deplang, Banjar=Lenggang ), adalah alat


konsentrat emas yang menggunakan prinisp gravitasi paling sederhana.

Sluice Box ( Banjar=Palong, Bombana=Kasbok, Aceh=Talang ) lebih banyak digunakan


karena mempunyai effisiensi yang sama dengan peralatan konsentrasi yang lain namun
mempunyai konstruksi yang lebih sedarhana daripada spiral konsentrator, meja goyang
dan jig, serta dapat memproses lebih banyak bijih per hari daripada dulang.

Spiral Concentrator mampu memisahkan logam berat pada kisaran ukuran 3 mm


hingga 75 micron ( 6 - 200 mesh ).

Meja goyang ( shaking table ) efektif memisahkan emas dari batuan oksida pada 200
micron, batuan sulfida 400 micron, dan silika 1.000 micron.

Jigs, merupakan alternatif konsentrator yang mudah dioperasionalkan, Secara umum


dapat berjalan efektif pada ukuran terbesar 2 cm dan yang terkecil 10 mesh.

Hasil dari proses ini berupa konsentrat yang mengandung bijih emas dengan kandungan yang
besar, dan lumpur pencucian yang terdiri atas mineral-mineral pengotor pada bijih emas.
Konsentrat emas selanjutnya diolah dengan proses ekstraksi.
2. Liquation Separation / Pemisahan pencairan
Pemisahan pencairan (liquation separation), adalah proses pemisahan yang dilakukan dengan
cara memanaskan mineral di atas titik leleh logam, sehingga cairan logam akan terpisahkan dari
pengotor.
Yang menjadi dasar untuk proses pemisahan metode ini, yaitu :

Density ( berat jenis )

Melting point ( titik cair )

Contoh : memisahkan emas dan perak

Titik cair emas pada suhu 1064.18 oC, sedangkan titik cair perak pada suhu 961.78 oC. Ini artinya
perak akan mencair lebih dulu dari pada emas. Namun untuk benar-benar terpisah, maka perak
harus menunggu emas mencair 100%.
Kemudian bila dilihat dari berat jenisnya, maka berat jenis emas cair sebesar 17.31 gram per cm3
sedangkan berat jenis perak sebesar 9.32 gram per cm3. Hal ini berarti berat jenis emas lebih
besar dari pada berat jenis perak.
Dari hukum alam fisika, maka bila ada dua jenis zat cair yang berbeda dan memiliki berat jenis
yang berbeda pula, maka zat cair yang memiliki berat jenis lebih kecil dari zat satunya, ia akan
mengapung. Dengan demikian, cairan perak akan terapung diatas lapisan cairan emas, seperti
halnya cairan minyak mengambang diatas lapisan air. Dari sana, perak dipisahkan dari emas,
sampai tidak ada lagi perak yang terapung. Dengan metode akan dihasilkan Au bullion dan Ag
bullion.
3. Magnetic Separation / Pemisahan magnetik
Pemisahan magnetik (magnetic separation), adalah proses pemisahan dengan dasar apabila
mineral memiliki sifat feromagnetik. Teknik pengejerjaannya adalah dengan mengalirkan serbuk
mineral secara vertikal terhadap medan magnet yang bergeraksecara horizontal. Dengan
demikian materi yang tidak tertarik magnet akan terpisahkan dari materi yang memiliki sifat
feromagnetik.
Metode ini dalam proses pengolahan emas biasanya dilakukan pada primary concentrate / first
concentrate / total concentrate yang banyak mengandung mineral sulfida utamanya pyrite (FeS2).
Setelah dioksidasi dengan metode roasting, pyrite akan berubah menjadi FeO3 yang bersifat
feromagnetik. Dengan perubahan sifat FeO3 yang bersifat feromagnetik, total concentrate dapat
direduksi kuantitasnya dengan menggunakan MAGNETIC Separator sehingga mempermudah
proses metallurgy selanjutnya.
4. Froth Flotation / Pemisahan pengapungan
Pemisahan pengapungan (Froth Flotation) yaitu proses pemisahan mineral menjadi bijih dari
pengotor dengan cara mengapungkan bijih ke permukaan melalui pengikatan dengan buih
dengan menggunakan bahan kimia tertentu dan udara. Selain pemisahan bijih emas, prosess ini
banyak dipakai untuk beberapa bijih seperti Cu, Pb, Zn, Ag, dan Ni.

Teknik pengerjaannya dilakukan dengan cara menghembuskan udara ke dalam butiran mineral
halus (telah mengalami proses crushing) yang dicampur dengan air dan zat pembuih. Butiran
mineral halus akan terbawa gelembung udara ke permukaan, sehingga terpisahkan dengan materi
pengotor (gangue) yang tinggal dalam air (tertinggal pada bagian bawah tank penampung).
Pengikatan butiran bijih akan semakin efektif apabila ditambahkan suatu zat collector.
Prinsip dasar pengikatan butiran bijih oleh gelembung udara berbuih melalui molekul collector
adalah :

Butiran zat yang mempunyai permukaan hidrofilik akan terikat air sehingga akan tinggal
pada dasar tank penampung.

Butiran zat yang mempunyai permukaan non-polar atau hidrofob akan ditolak air, jika
ukuran butirannya tidak besar, maka akan naik ke permukaan dan terikat gelembung
udara.

Kebanyakan mineral terdiri dari ion yang mempunyai permukaan hidrofil, sehinga partikel
tersebut dapat diikat air. Dengan penambahan zat collector, permukaan mineral yang terikat
molekul air akan terlepas dan akan berubah menjadi hidrofob. Dengan demikian ujung molekul
hidrofob dari collector akan terikat molekul hidrofob dari gelembung, sehingga mineral ( bijih )
dapat diapungkan. Molekul collector mempunyai struktur yang mirip dengan detergen.
Metoda ini digunakan di beberapa industri pertambangan dengan menggunakan reagen utama
Xanthate sebagai Collector (misalnya : potassium amyl xanthate, C5H11OCS2K), Pine Oil
sebagai Frother dan campuran bahan kimia organik lainnya sebagai pH Modifiers. Reagents yang
digunakan untuk pengapungan pada umumnya tidak beracun, yang berarti bahwa biaya
pembuangan limbah / tailing menjadi rendah.

Keuntungan lain dari proses pengapungan adalah pada umumnya cukup efektif pada bijih dengan
ukuran yang cukup kasar (28 mesh) yang berarti bahwa biaya penggilingan bijih dapat
diminimalkan. Froth Flotation sering digunakan mengkonsentrasi emas bersama-sama dengan
logam lain seperti tembaga, timah, atau seng. Partikel emas dari batuan oksida biasanya tidak
merespon dengan baik namun efektif terutama bila dikaitkan dengan emas sulfida seperti pyrite.
Extraction / Ekstraksi

Ekstraksi adalah proses pemisahan berdasarkan pada distribusi zat terlarut dengan perbandingan
tertentu antara dua pelarut yang tidak saling bercampur. Terdapat dua metoda pilihan yang dapat
diterapkan dalam ekstraksi emas yaitu sianidasi dan amalgamasi. Dalam mengekstraksi logam
dari bijihnya, tidak semua tahapan proses harus dilakukan. Apabila suatu bijih secara teknologi
dapat diolah langsung dengan proses hidrometalurgi, maka faktor selanjutnya yang
mempengaruhi pemilihan proses adalah faktor ekonomis.
Dalam skala industri, pelindian sianidasi merupakan suatu proses hidrometalurgi yang paling
ekonomis dan hingga kini telah diterapkan pada berbagai pabrik pengolahan emas di dunia.
Istilah proses pelindian yang selekt if dipakai dengan tujuan agar dapat memilih pelarut tertentu
yang dapat melarutkan logam berharga tanpa melarutkan pengotornya. Logam emas sangat
mudah larut dalam KCN, NaCN, dan Hg, sehingga emas dapat diambil dari mineral pengikatnya
melalui amalgamasi (Hg) atau dengan menggunakan larutan sianida (biasanya NaCN). Selain itu
emas dapat larut pada aquaregia, dengan persamaan reaksi :

Au(s) + 4HCl(aq) + HNO3(aq) HAuCl4(aq) + NO (g) + 2H2O(l)


Extraksi emas dalam skala industri yang paling umum dilakukan yaitu :

Amalgamasi

Sianidasi

1. AMALGAMASI
Amalgamasi merupakan proses ekstraksi emas dengan cara mencampur bijih emas dengan
merkuri ( Hg ). Produk yang terbentuk adalah ikatan antara emas-perak dan merkuri yang
dikenal sebagai amalgam ( Au Hg ). Amalgam adalah sebuah kombinasi atau campuran air
raksa dengan logam lain atau dengan alloy. Merkuri akan membentuk amalgam dengan semua
logam kecuali besi dan platina.

Penggunaan raksa alloy atau amalgam pertama kali pada 1828, meskipun penggunaan secara
luas teknik baru ini dicegah karena sifat air raksa yang beracun. Sekitar 1895 eksperimen yang
dilakukan oleh GV Black menunjukkan bahwa amalgam aman digunakan, meskipun 100 tahun
kemudian ilmuwan masih diperdebatkannya.
Amalgam masih merupakan proses ekstraksi emas yang paling sederhana dan murah, namun
demikian amalgamasi akan efektif pada emas yang terliberasi sepenuhnya maupun sebagian pada
ukuran partikel yang lebih besar dari 200 mesh ( 0.074 mm ) dan dalam membentuk emas murni

yang bebas ( free native gold ). Tiga bentuk utama dari amalgam adalah AuHg2, Au2Hg and
Au3Hg.
Proses amalgamasi merupakan proses kimia fisika, apabila amalgamnya dipanaskan, maka akan
terurai menjadi elemen-elemen yaitu air raksa dan bullion emas. Amalgam dapat terurai dengan
pemanasan di dalam sebuah retort, air raksanya akan menguap dan dapat diperoleh kembali dari
kondensasi uap air raksa tersebut. Sementara Au-Ag tetap tertinggal di dalam retort sebagai
logam.

Selain sederhana cara pengolahannya dan murah biaya operasionalnya, pengolahan bijih emas
dengan metoda amalgamasi ini juga mudah dalam pemasaran produknya karena baik dalam
bentuk amalgam, bullion maupun berupa logam emas sudah bisa dipasarkan dengan harga
standar berdasarkan kualitas produk dan harga pasar logam emas murni internasional yang
berlaku saat itu. Oleh sebab itu, metoda ini menjadi pilihan utama bagi pertambangan rakyat
pada umumnya.

Metode pembentukan amalgam secara umum ada 2, yaitu :


1. Seluruh bijih di amalgamasi pada proses menerus : merkuri dicampur dengan seluruh
bijih dalam kotak pompa, dituangkan ke dalam sluice box selama proses konsentrasi,
ditambahkan dalam sistem penggerusan (glundung) atau seluruh bijih di amalgamasi
dalam papan tembaga.
2. Amalgamasi pada konsentrasi gravitasi hanya pada proses tidak menerus: merkuri
dicampur dengan konsentrat dalam pengaduk, dulang maupun drum sehingga diperlukan
pemisahan amalgam dari mineral berat
2. SIANIDASI
Leaching Sianida adalah proses pelindian selektif oleh sianida dimana hanya logam-logam
tertentu yang dapat larut, misalnya Au, Ag, Cu, Zn, Cd, Co dan lain-lain.

Setelah menemukan garam sianida, Carl Wilhelm Scheele membuktikan bahwa emas dapat
terlarut dalam larutan sianida pada tahun 1783. Melalui karya Bagration (1844), Elsner (1846),
dan Faraday (1847), dipastikan bahwa setiap atom emas membutuhkan dua sianida, yaitu
stoikiometri senyawa larut.
Namun ekstraksi emas dengan menggunakan leaching sianida diterapkan pertama kali oleh
John Stewart Mac Arthur yang didanai dua bersaudara Dr Robert dan Dr William Forrest, di
Glasgow, Scotland tahun 1887. Metode ekstraksi bijih emas dengan sianida yang dikenal sebagai
proses MacArthur-Forrest merupakan proses hidrometalurgi yang paling ekonomis dan hingga
kini telah diterapkan pada berbagai industri pengolahan emas di dunia. Walau sesungguhnya
banyak lixiviants (leaching agen) lainnya yang dapat digunakan, antara lain :

Bromides ( Acid and Alkaline )

Chlorides

Iodium-Iodida

Thiourrea / Thiocarbamide ( CH4N2S )

Thiosulphate ( Na2S2O3 )

Untuk keperluan ekstraksi dari bijihnya, proses dengan melibatkan senyawa sianida dapat
diterapkan pada ekstraksi logam emas. Emas membentuk berbagai senyawa kompleks. Emas (I)

oksida, Au2O adalah salah satu senyawa yang stabil dengan tingkat oksidasi +1, seperti halnya
tembaga, tingkat oksidasi +1 ini hanya stabil dalam senyawa padatan, karena semua larutan
garam emas (I) mengalami disproporsionasi menjadi logam emas dan ion emas (III) menurut
persamaan reaksi :
3Au+(aq) 2Au (s) + Au3+(aq)

(Bertrand, 1895).

Pada pelindian sianidasi para peneliti sepakat bahwa sebelum membentuk senyawa kompleks
dengan ion sianida, logam emas harus teroksidasi dahulu menjadi ion emas. Prosesnya
merupakan proses redoks (reduksi-oksidasi) dimana ion sianida membentuk senyawa kompleks
kuat dengan ion Au+ dan diiringi dengan reduksi oksigen di permukaan logam menjadi hidrogen
peroksida atau menjadi hidroksil seperti reaksi berikut ini :
Oksidasi

: Au Au+ + e

Pembentukan kompleks

: Au+ + 2CN- [Au(CN)2]-

Reduksi

: O2 + 2H2O + 2e H2O2 + 2OHO2 + 2H2O + 4e 4OH-

Ada banyak teori tentang pelarutan emas mulai dari Teori Oksigen Elsner, Teori Hidrogen Janin,
Teori Hidrogen Peroksida Bodlanders, Teori korosi Boonstra, sampai Teori Pembuktian Kinetika
dari Habashi. Teori yang paling banyak dipakai adalah Teori Oksigen Elsner dan Pembuktian
Kinetika Habashi.
Teori Oksigen Elsner, reaksi pelarutan Au dan Ag dengan sianida adalah sebagai berikut :
4Au + 8CN- + O2 + 2 H2O 4Au(CN)2- + 4NaOH4Ag + 8CN- + O2 + 2 H2O 4Ag(CN)2- + 4NaOHTeori Pembuktian Kinetika ( Habashi. 1970 ), reaksi pelarutan Au dan Ag adalah sebagai berikut
:
2Au + 4CN- + O2 + 2 H2O 2Au(CN)2- + 2OH- + H2O2
2Ag + 4CN- + O2 + 2 H2O 2Ag(CN)2- + 2OH- + H2O2
Mekanisme reaksi ini adalah mekanisme elektrokimia. Hidrogen peroksida telah dideteksi dalam
larutan sianida dimana emas telah terpisah secara cepat, dan observasi ini menunjukkan bahwa
beberapa emas kemungkinan terpisah melalui sepasang reaksi yang melibatkan pembentukan
pertama hidrogen peroksida (Chirstie, 1986).
2Au + 4CN- + O2 + H2O 2(Au(CN)2- + 2OH- + H2O2
Lalu hidrogen peroksida bereaksi dengan beberapa emas dan sianida.

2Au + 4CN- + H2O2 2(Au(CN)2- + 2OHProses pengolahan emas dengan sianida terdiri dari dua tahap penting, yaitu proses pelarutan /
pelindian ( leaching ) dan proses pemisahan emas ( recovery ) dari larutan kaya. Pelarut yang
biasa digunakan dalam proses cyanidasi adalah Sodium Cyanide ( NaCN ), Potassium Cyanide
( KCN ) , Calcium Cyanide [ Ca(CN)2 ], atau Ammonium Cyanide ( NH4CN ). Pelarut yang
paling sering digunakan adalah NaCN, karena mampu melarutkan emas lebih baik dari pelarut
lainnya.
Walaupun penggunaan metode ini sama halnya dengan metode ekstraksi yang lain yang masih
memiliki potensi dampak berupa efek beracunnya bagi pekerja dan lingkungan, ekstraksi emas
dengan menggunakan metode leaching sianida saat ini telah menjadi proses utama ekstraksi
emas dalam skala industri, karena metode ini menawarkan tehnologi yang lebih efektif dan
efisien, antara lain adalah :
a. Heap leaching ( pelindian tumpukan ) : pelindian emas dengan cara menyiramkan
larutan sianida pada tumpukan bijih emas ( diameter bijih < 10 cm ) yang sudah dicampur
dengan batu kapur. Air lindian yang mengalir di dasar tumpukkan yang kedap kemudian
di kumpulkan untuk kemudian dilakukan proses berikutnya. Efektifitas ekstraksi emas
berkisar 35 65 %

REFINING / Pemurnian Emas

Refining, yaitu melakukan pengolahan logam kotor melalui proses kimia agar diperoleh tingkat
kemurnian tinggi dengan tahapan sebagai berikut :
1. SMELTING ( peleburan ) adalah proses reduksi bijih ( abu hasil roasting atau cake hasil
electrowinning ) pada suhu tinggi ( 1.200 oC ) hingga mendapatkan material lelehan.

Dengan menambahkan Flux formula, salah satunya Borax - Sodium Borate ( Na2B4O7.
10H2O ) sebagai bahan kimia tambahan untuk proses smelting. Fungsi borax dalam proses
smelting yaitu mengikat kotoran penggangu selain logam ( slag / terak ). Sehingga ketika
mencair, matte ( logam lelehan ) akan berada di bawah sedangkan bagian atas disebut slag /
terak yang ditangkap oleh silika berupa semacam kaca yang mudah untuk dipecahkan. Produk
reduksi selama proses pelelehan disebut Dore bullion (Au-Ag alloy).

2. SIZE REDUCTION ( Pengecilan ukuran ) yaitu mereduksi dore bullion (Au-Ag alloy) yang
masih berukuran besar menjadi butiran-butiran kecil, sebelum diproses ke tahap parting.
Idealnya besaran butiran sekitar diameter 2-3 mm dengan kadar emas 25% atau kurang. Bila
perlu dilakukan Quartering, yaitu menurunkan kadar emas dengan penambahan yang tepat dari
tembaga atau perak agar tercapai kadar emas 25%.

Proses ini dilakukan berdasarkan proses perlakuan kimia untuk bahan fase padat yang umumnya
sangat dipengaruhi oleh luas permukaan dari bahan padat tersebut. Semakin luas permukaannya,
maka perlakuan kimia akan semakin baik. Dimana luas permukaan dari suatu bahan padat
berhubungan erat dengan ukuran dari bahan tersebut, artinya semakin kecil ukuran dari bahan
padat, maka permukaannya akan semakin luas.

3. PARTING, yaitu proses untuk memisahkan emas dengan perak dan logam dasar dari dore
bullion ( Au-Ag alloy ) dengan larutan asam nitrat ( HNO3 ). Dipasaran kita dapat temukan asam
nitrat kadar 68%.

Hasil setelah perebusan terakhir, endapan yang ada sudah halus dan berwarna coklat seperti
bubuk kopi. Endapan ini merupakan bullion emas ( High Au Bullion ) dengan kadar emas
mencapai 98%, untuk hasil lebih baik dapat diproses dengan Aqua Regia agar dapat diperoleh
kadar hingga 99.6%.
Sedangkan air hasil bilasan yang ditampung diember dilanjutkan pada proses hydrometalurgi
untuk diambil peraknya.

4. MELTING. Untuk mendapatkan logam emas, endapan bullion emas ( High Au Bullion )
selanjutnya dilebur dengan penambahan borax ( Na2B4O710H2O ). Tujuan pemakaian borax di
sini adalah selain untuk mengikat kotoran yang masih ada, juga untuk menahan bullion agar
tidak beterbangan saat terkena hembusan dari blander nantinya.

Setelah bullion dilebur akan tampak menggumpal seperti gumpalan di dasar kowi. Biarkan
dingin dahulu beberapa detik hingga membeku sebelum dicongkel.

Bila menginginkan emas berwarna kuning mengkilat, caranya : dimasak dalam panci yang
dipanaskan hingga dua kali proses pemasakan dengan larutan yang terdiri dari :

Salpeter / sendawa sebanyak 2 %

Tawas sebanyak 1 %,

NaCl sebanyak 1 %,

Air

Sendawa / Salpeter disebut juga niter, ada tiga mineral yang mendukung nama ini, salpeter
biasanya adalah kalium nitrat ( KNO3 ), salpeter Norwegia / salpeter kapur / kalsium nitrat
( Ca(NO3)2 ), salpeter natrium / natrium nitrat ( NaNO3 ).