Anda di halaman 1dari 17

Teras | BebasBanjir2015

1 of 19

https://bebasbanjir2025.wordpress.com/teknologi-pengendalian-banjir/teras-2/

BebasBanjir2015

Teras

TERAS

Pengertian, Manfaat dan Fungsi Teras


Teras adalah bangunan konservasi tanah dan air yang dibuat dengan penggalian dan pengurugan tanah, membentuk bangunan utama berupa bidang olah, guludan,
dan saluran air yang mengikuti kontur serta dapat pula dilengkapi dengan bangunan pelengkapnya seperti saluran pembuangan air (SPA) dan terjunan air yang tegak
lurus kontur. (Yuliarta et al., 2002).
Sedangkan menurut Sukartaatmadja (2004), teras adalah bangunan konservasi tanah dan air secara mekanis yang dibuat untuk memperpendek panjang lereng dan
atau memperkecil kemiringan lereng dengan jalan penggalian dan pengurugan tanah melintang lereng. Tujuan pembuatan teras adalah untuk mengurangi kecepatan
aliran permukaan (run o) dan memperbesar peresapan air, sehingga kehilangan tanah berkurang.
Teras berfungsi mengurangi panjang lereng dan menahan air, sehingga mengurangi kecepatan dan jumlah aliran permukaan, dan memungkinkan penyerapan air oleh
tanah. Dengan demikian erosi berkurang. (Arsyad, 1989).
Menurut Yuliarta et al (2002), manfaat teras adalah mengurangi kecepatan aliran permukaan sehingga daya kikis terhadap tanah dan erosi diperkecil, memperbesar
peresapan air ke dalam tanah dan menampung dan mengendalikan kecepatan dan arah aliran permukaan menuju ke tempat yang lebih rendah secara aman.

Klasifikasi dan Disain Teras


Foto 1.Teras,mengurangi panjang lereng
Teras dapat diklasikasikan dengan berbagai cara. Sukartaatmadja (2004) mengklasikasikan teras berdasarkan fungsi dan berdasarkan bentuk.. Berdasarkan fungsi,
teras diklasikan lagi dalam dua jenis yaitu: (a) teras intersepsi (interception terrace) dan (b) teras diversi (diversion terrace). Pada teras intersepsi aliran permukaan
ditahan oleh saluran yang memotong lereng. Sedangkan teras diversi berfungsi untuk mengubah arah aliran sehingga tersebar ke seluruh lahan dan tidak terkonsentrasi pada satu tempat. Berdasarkan bentuk, teras
dibedakan ke dalam beberapa bentuk diantaranya teras kredit, teras guludan, teras datar, teras bangku, teras kebun dan teras individu.
Schwab et. al. (1966) dan Arsyad (1989) mengklasikasikan teras dalam dua tipe utama, yaitu teras bangku (bench terrace) untuk mengurangi kemiringan lereng dan teras berdasar lebar (broadbase terrace) yang ditujukan
untuk mengurangi atau menahan air pada lahan miring. Teras berdasar lebar ini dibagi lagi dalam bentuk teras berlereng, teras datar, dan teras berdasar sempit.
Utomo (1989) membagi teras berdasarkan bentuk dan fungsinya ke dalam 3 macam teras, yaitu (a) teras saluran (channel terrace), (b) teras bangku atau teras tangga (bench terrace), dan (c) teras irigasi pengairan (irrigation
terrace). Teras saluran terutama dibangun untuk mengumpulkan air aliran permukaan pada saluran yang telah disiapkan untuk kemudian disalurkan pada saluran induk jalannya air, sehingga aliran permukaan tersebut
tidak menyebabkan erosi. Teras bangku dibangun terutama untuk mengurangi panjang lereng. Lalu, teras pengairan dibangun untuk menampung air hujan sehingga dapat digunakan oleh tanaman, seperti pada
petak-petak sawah tadah hujan.

12/17/2014 5:21 PM

Teras | BebasBanjir2015

2 of 19

https://bebasbanjir2025.wordpress.com/teknologi-pengendalian-banjir/teras-2/

Sedangkan Morgan (1986) membagi teras ke dalam 3 tipe utama, yaitu (a) teras diversi (diversion terrace), (b) teras retensi (retention terrace), dan teras bangku (bench terrace). Tujuan utama teras diversi adalah untuk
menahan aliran di permukaan dan menyalurkannya melalui lereng ke saluran outlet yang aman. Teras retensi digunakan jika dibutuhkan konservasi air dengan menahannya di lereng bukit. Sedangkan teras bangku dibuat
jika lahan sampai kemiringan 30 % akan digunakan untuk kegiatan budidaya pertanian.
Teras Datar
Teras datar atau teras sawah (level terrace) adalah bangunan konservasi tanah berupa tanggul sejajar kontur, dengan kelerengan lahan tidak lebih dari 3 % dilengkapi saluran di atas dan di bawah tanggul (Yuliarta, 2002).
Menurut Arsyad (1989), teras datar dibuat tepat menurut arah garis kontur dan pada tanah-tanah yang permeabilitasnya cukup besar sehingga tidak
terjadi penggenangan dan tidak terjadi aliran air melalui tebing teras. Teras datar pada dasarnya berfungsi menahan dan menyerap air, dan juga sangat
efektif dalam konservasi air di daerah beriklim agak kering pada lereng sekitar dua persen.
Dalam Sukartaatmadja (2004) delaskan bahwa tujuan pembuatan teras datar adalah untuk memperbaiki pengaliran air dan pembasahan tanah, yaitu
dengan pembuatan selokan menurut garis kontur. Tanah galian ditimbun di tepi luar sehingga air dapat tertahan dan terkumpul. Di atas pematang
sebaiknya ditanami tanaman penguat teras berupa rumput makanan ternak.
Menurut Schwab et al (1966), tujuan utama dari teras datar ini adalah konservasi air / kelembaban tanah, sedangkan pengendalian erosi adalah tujuan
sekunder. Karena itu teras tipe ini dibangun di daerah dengan curah hujan rendah sampai sedang untuk menahan dan meresapkan air ke lapisan tanah.
Di daerah yang permeabilitasnya tinggi, teras tipe ini dapat digunakan untuk tujuan yang sama di daerah dengan curah hujannya tinggi.

Gambar 1. Penampang Melintang Teras Datar (Sumber Panduan Kehutanan Indonesia, 1999 dalam Priyono et al., 2002).
Cara pembuatan teras datar adalah: (a) tanah digali menurut garis kontur dan tanah galiannya ditimbunkan ke tepi luar, (b) teras dibuat sejajar dengan garis kontur, (c) lebar guludan atas 0,37 0,5 m, lebar dasar guludan
bawah menyesuaikan kemiringan guludan, (e) jarak tepi bawah saluran di bawah guludan terhadap tengah guludan 2,5 3,5 m, sedang jarak tepi atas saluran di atas guludan terhadap tengah guludan 3 6 m, (f) guludan
ditanami rumput makanan ternak (Priyono, et al, 2002)
Teras Kredit
Teras kredit merupakan bangunan konservasi tanah berupa guludan tanah atau batu sejajar kontur, bidang olah tidak diubah dari kelerengan tanah asli. Teras kredit merupakan gabungan antara saluran dan guludan
menjadi satu (Priyono, et al., 2002).
Teras kredit biasanya dibuat pada tempat dengan kemiringan lereng antara 3 sampai 10 persen, dengan cara membuat jalur tanaman penguat teras (lamtoro, kaliandra, gamal) yang ditanam mengikuti kontur. Jarak antara
larikan 5 sampai 12 meter. Tanaman pada larikan teras berfungsi untuk menahan butir-butir tanah akibat erosi dari sebelah atas larikan. Lama kelamaan permukaan tanah bagian atas akan menurun, sedangkan bagian
bawah yang mendekat dengan jalur tanaman akan semakin tinggi. Proses ini berlangsung terus-menerus sehingga bidang olah menjadi datar atau mendekati datar. (Sukartaatmadja, 2004).
Lebih lanjut delaskan, untuk mempercepat proses tersebut dapat ditempuh dengan beberapa jalan yaitu: (a) menarik tanah dari sebelah atas larikan ke arah larikan tanaman penguat teras, (b) pembuatan guludan
sepanjang tanaman sehingga sedimentasi diperbesar, (c) pemberian serasah atau limbah pertanian atau batu-batuan sepanjang tanaman dan sebagainya sehingga sedimentasi diperbesar.
Cara pembuatan teras kredit adalah: (a) persiapan lapangan dimulai dengan memancangkan patok-patok menurut garis kontur dengan menggunakan waterpas plastik. Jarak patok dalam garis kontur 5 m, dan jarak antar
barius 5 12 m, (b) pembuatan bangunan teras berupa guludan tanah atau guludan batu yang arahnya sejajar garis kontur, (c) penanaman tanaman penguat teras (kaliandra, lamtoro, gamal) secara rapat di sepanjang
guludan. Benih / bi jenis tanaman tahunan (legume tree crop) ditanam dengan secara merata. Bila digunakan stek atau stump, jarak tanamnya 0,5 m sepanjang guludan. (Anonim, 1993).

12/17/2014 5:21 PM

Teras | BebasBanjir2015

3 of 19

https://bebasbanjir2025.wordpress.com/teknologi-pengendalian-banjir/teras-2/
Informasi teknis lain berkaitan dengan teras kredit adalah: (a) pembuatan teras tipe ini
akan mengakibatkan pengurangan luas lahan sebesar 10 20 %, (b) teras kredit tidak
cocok diterapkan pada tanah-tanah yang peka longsor, (c) sedimen yang tertampung
pada saluran dapat dikembalikan pada bidang olah ataupun untuk meninggikan
guludan, (d) arah pengolahan tanah dimulai dari bagian lereng bawah (Priyono, 2002).
Teras Guludan

Teras
guludan
adalah suatu teras
yang
membentuk
guludan yang dibuat
melintang lereng dan
biasanya dibuat pada
lahan
dengan
Gambar 2. Penampang Teras Kredit
kemiringan lereng 10
15 %. Sepanjang
guludan sebelah dalam terbentuk saluran air yang landai sehingga dapat
menampung sedimen hasil erosi. Saluran tersebut juga berfungsi untuk mengalirkan
aliran permukaan dari bidang olah menuju saluran pembuang air. Kemiringan dasar
saluran 0,1%. Teras guludan hanya dibuat pada tanah yang bertekstur lepas dan
permeabilitas tinggi. Jarak antar teras guludan 10 meter tapi pada tahap berikutnya di
antara guludan dibuat guludan lain sebanyak 3 5 jalur dengan ukuran lebih kecil.
(Sukartaatmadja, 2004)
Sedangkan menurut Priyono et. al. (2002), teras guludan adalah bangunan konservasi
tanah berupa guludan tanah dan selokan / saluran air yang dibuat sejajar kontur,
dimana bidang olah tidak diubah dari kelerengan permukaan asli. Di antara dua guludan besar dibuat satu atau beberapa guludan kecil. Teras ini dilengkapi dengan SPA sebagai pengumpul limpasan dan drainase teras.
Pembuatan teras guludan adalah: (a) persiapan lapangan dengan pemancanganm patok-patok menurut garis kontur dengan menggunakan ondol-ondol dan atau
waterpass sederhana. Jarak patok dalam baris 5 m dan jarak antar baris rata-rata 10 m (sama dengan jarak antara dua guludan), (b) pembuatan selokan teras
dilakukan dengan menggali tanah mengikuti arah larikan patok. Ukuran selokan teras: dalam 30 cm, lebar bawah 20 cm, dan lebar atas 50 cm, (c) tanah hasil galian
pada pembuatan selokan teras ditimbunkan di tepi luar (bagian bawah saluran) sehingga membentuk guludan dengan ukuran: lebar atas 20 cm, lebar bawah 50 cm
dan tinggi 30 cm. Guludan dan selokan dibuat tegak lurus garis kontur. Pembuatan teras dimulai dari bagian atas lereng, (d) penenaman tanaman penguat teras
pada guludan, dapat berupa jenis kayu-kayuan yang ditanam dengan jarak 50 cm bila menggunakan stek / stump, atau ditabur jika menggunakan benih/bi, dan
jarak tanam 30 50 cm jika menggunakan jenis rumput.
Pemeliharaan yang harus dilakukan terhadap teras guludan yang dibuat adalah: (a) mengeruk tanah akibat erosi yang menimbun selokan teras untuk digunakan
memperbaiki guludan, (b) memperbaiki guludan dan memelihara tanaman penguat teras.
Teras Bangku
Teras bangku adalah bangunan teras yang dibuat sedemikian rupa sehingga bidang olah miring ke belakang (reverse back slope) dan dilengkapi dengan bangunan
pelengkap lainnya untuk menampung dan mengalirkan air permukaan secara aman dan terkendali. (Sukartaatmadja, 2004).
Gambar 3. Penampang Teras Guludan

Teras bangku adalah serangkaian dataran yang dibangun sepanjang kontur pada interval yang sesuai. Bangunan ini dilengkapi dengan saluran pembuangan air
(SPA) dan ditanami dengan rumput untuk penguat teras. Jenis teras bangku ada yang miring ke luar dan miring ke dalam (Priyono, et al., 2002)

Teras bangku atau teras tangga dibuat dengan jalan memotong lereng dan meratakan tanah di bagian bawah sehingga terjadi suatu deretan bentuk tangga atau bangku. Teras jenis ini dapat datar atau miring ke dalam.
Teras bangku yang berlereng ke dalam dipergunakan untuk tanah-tanah yang permeabilitasnya rendah dengan tujuan agar air yang tidak segera terinltrasi tidak mengalir ke luar melalui talud. Teras bangku sulit dipakai
pada usaha pertanian yang menggunakan mesin-mesin pertanian yang besar dan memerlukan tenaga dan modal yang besar untuk membuatnya (Arsyad, 1989).
Persiapan di lapangan yang harus dilakukan dalam pembuatan teras bangku adalah: (a) memasang patok induk di sepanjang calon tempat saluran pembuangan air, dengan kode 1, 2, 3, dst sebagai batas galian dan
timbunan tanah. Jarak antara 2 patok yang berdekatan sama dengan lebar bidang olah teras yang direncanakan, jarak ini ditentukan oleh kemiringan lereng (Lihat tabel 1). Pemasangan dimulai dari bagian atas lereng, (b)

12/17/2014 5:21 PM

Teras | BebasBanjir2015

4 of 19

https://bebasbanjir2025.wordpress.com/teknologi-pengendalian-banjir/teras-2/
memasang patok pembantu
dengan kode 1a, 1b, 1c, dst
berderet menurut garis kontur
di kanan kiri patok induk kode
1 dengan kode 2a, 2b, 2c, dst
untuk patok induk 2 dan
seterusnya. Jarak antara patok
pembantu 5 meter.

Gambar 4. Penampang Melintang Teras Bangku (Sumber: Soil Conservation Handbook,1995 dlm Priyono, et al. 2002)

Deretan
patok
pembantu
merupakan garis batas galian
dan batas timbunan tanah.
Untuk menentukan letak patok
pembantu digunakan waterpas

sederhana sehingga mengikuti garis kontur, seperti pada gambar, (c) memasang patok as (pusat) di
antara 2 baris patok pembantu. Ukuran patok as lebih kecil dari patok pembantu. Jarak antar
patok as pada deretan yang sama 5 meter.
Lebar teras tergantung pada besarnya lereng, kedalaman tanah, tanaman dan pola tanamnya.
Rasio tampingan teras atas dengan lereng adalah 1:0,5 dan rasio tampingan bawah dengan lereng
adalah 1: 1 0,5. Penyesuaian harus dilakukan tergantung dari tipe tanah dan apakah tampingan
akan ditanami rumput atau akan ditutup dengan batu. Tampingan teras bangku miring ke luar
harus ditutup rumput secara rapat dan merata.
Interval tegak (VI) ditentukan dengan rumus; (Priyono, et al, 2002).

Hubungan kemiringan lereng, teras bangku dan HOK tertera pada Tabel 1.

12/17/2014 5:21 PM

Teras | BebasBanjir2015

5 of 19

https://bebasbanjir2025.wordpress.com/teknologi-pengendalian-banjir/teras-2/

Dalam Sukartaatmadja (20040 diuraikan rumus yang dapat digunakan, yaitu Rumus Hillman dan Rumus FAO Conservation Guide 1.
Rumus Hillman :
VI = 8.s + 60 cm untuk tanah peka terhadap erosi, dan
VI = 10.s + 60 cm untuk tanah kurang peka terhadap erosi.
dimana VI = vertical interval (cm)
s = kemiringan lereng (%).
Selanjutnya dilakukan pembuatan bangunan teras dengan cara: (a) membuat arah teras dengan menggali tanah sepanjang larikan patok pembantu, (b) memisahkan lapisan tanah
atas yang subur dengan mengeruk dan menimbunnya sementara di sebelah kiri / kanan di tempat tertentu, (c) menggali tanah yang lapisan olahnya sudah dikeruk mulai dari
deretan patok pembantu sebelah atas sampai kepada deretan patok as, dengan bentuk galian. Tanah galian ditimbun ke lereng sebelah bawah patok as sampai ke deretan patok
pembantu di sebelah bawah, (d) tanah timbunan dipadatkan dengan cara diinjak-injak. Permukaan bidang olah teras dibuat miring ke arah dalam sebesar sekitar 1 %, (e) tanah
lapisan olah yang semula ditempatkan di tempat tertentu, ditaburkan kembali secara merata di atas bidang olah yang telah terbentuk, (f) pada ujung teras bagian luar (bibir
teras)dibuat guludan setinggi 20 cm dan lebar 20 cm. Di bagian dalam teras dibuat selokan selebar 20 cm dan dalam 10 cm. Dasar selokan teras harus lebih tinggi 50 cm dari tinggi
dasar saluran pembuangan air, (g) talud teras dibuat dengan kemiringan 2:1 atau 1:1 tergantung pada kondisi tanah. Talud bagian atas (bagian urugan) ditanami rumput makanan ternak atau jenis tanaman penguat teras
yang lain (Yuliarta, 2002).
Pemeliharaan teras bangku dilakukan dengan: (a) mengeruk tanah yang menimbun (menutup) selokan teras, (b) memelihara guludan dan talud dengan cara memperbaiki
bagian yang longsor, (c) mengulam dan memangkas tanaman penguat teras dan tanaman talud.
Keuntungan teras bangku adalah: (a) efektif dalam mengendalikan erosi dan aliran permukaan, (b) menangkap tanah dalam parit-parit yang dibuat sepanjang teras dan
tanah yang terkumpul itu dapat dikembalikan ke bidang olah, (c) mengurangi panjang lereng, dimana setiap 2 3 meter panjang lereng dibuat rata menjadi teras sehingga
mengurangi kecepatan air mengalir menuruni lereng, (d) dalam jangka panjang akan meningkatkan kesuburan tanah, (e) bidang olah yang agak datar memudahkan petani
melakukan budidaya tanaman utama, (e) tanaman penguat teras dapat menjadi sumber pakan ternak, bahan organik untuk tanah dan kayu bakar.
Namun teras bangku ini juga memiliki kelemahan: (a) pada awalnya cukup menganggu keadaan tanah, mengurangi produksi selama 2 3 tahun pertama, (b) tenaga kerja
/ biaya untuk pembuatannya cukup tinggi, makin curam lahannya makin banyak tenaga kerja dan biaya yang diperlukan, (c) untuk membuat teras bangku yang baik
diperlukan ketrampilan khusus, (d) berkurangnya luas permukaan lahan efektif untuk budidaya tanaman utama lebih besar dibandingkan dengan teknik konservasi tanah
yang lain, makin curam lerengnya, makin besar berkurangnya luas tersebut, (e) bidang olah yang terbentuk pada bagian galian mempunyai tingkat kesuburan yang lebih
buruk daripada bidang olah yang terbentuk pada bagian timbunan.
Dalam penerapan teras bangku, setidaknya terdapat dua faktor yang mempengaruhi adopsi teknologi ini, yaitu faktor biosik dan faktor sosial ekonomi.
Foto 2. Penerapan teras bangku di lahan tegalan

Faktor biosik yang mempengaruhi adalah: (a) teras bangku tidak cocok digunakan pada tanah yang dangkal, pada tanah yang lapisan bawahnya (subsoil) mempunyai
kandungan alumunium yang tinggi, dan pada tanah yang mudah longsor seperti grumusol (vertisol), (b) untuk tanaman-tanaman yang peka terhadap drainase lambat
seperti tomat, kentang, cabe, perlu dibuat bedangan-bedengan tinggi pada bidang olah.

12/17/2014 5:21 PM

Teras | BebasBanjir2015

6 of 19

https://bebasbanjir2025.wordpress.com/teknologi-pengendalian-banjir/teras-2/
Sedangkan faktor sosial ekonomi yang mempengaruhi adalah: (a) di daerah-daerah tertentu,
keterbatasan jumlah tenaga kerja / modal menyulitkan petani untuk mengadopsi teras bangku, (b)
status lahan yang kurang pasti menyebabkan petani penyakap / penggarap lahan milik orang lain
enggan mengadopsi bangunan jangka panjang seperti teras bangku karena mereka belum tentu
menikmati keuntungan-keuntungan dalam jangka panjang, (c) tanaman penguat teras jenis semak /
pohon dapat menyaingi tanaman semusim, menyebabkan tanaman penguat tersebut dibongkar
petani, (d) petani yang tidak memiliki ternak pemakan rumput (ruminansia) enggan menanam
rumput pada bibir / tampingan teras, (e) pada lahan yang buruk keadaan tanahnya, keuntungan
pembuatan teras sangat kecil dibandingkan dengan investasinya.
Teras Kebun

Foto 3. Dalam jangka panjang, meningkatkan kesuburan tanah

Teras kebun dibuat pada lahan-lahan


dengan kemiringan lereng antara 30 50 %
yang direncanakan untuk areal penanaman
jenis tanaman perkebunan. Pembuatan teras hanya dilakukan pada jalur tanaman sehingga pada areal
tersebut terdapat lahan yang tidak diteras dan biasanya ditutup oleh vegetasi penutup tanah. Ukuran lebar
jalur teras dan jarak antar jalur teras disesuaikan dengan jenis komoditas. Dalam pembuatan teras kebun,
lahan yang terletak di antara dua teras yang berdampingan dibiarkan tidak diolah. (Sukartaatmadja, 2004).
Dalam Yuliarta, et. al., 2002, delaskan bahwa teras kebun merupakan bangunan konservasi tanah berupa
teras yang dibuat hanya pada bagian lahan yang akan ditanami tanaman tertentu, dibuat sejajar kontur dan
membiarkan bagian lainnya tetap seperti keadaan semula, biasanya ditanami tanaman penutup tanah. Teras
ini dibuat pada lahan dengan kemiringan 10 30 %, tetapi dapat dilakukan sampai kemiringan 50 % jika
tanah cukup stabil / tidak mudah longsor.

Gambar 7. Penampang Teras Kebun

Dalam pembuatan teras kebun,


persiapan di lapangan adalah: (a) patok induk dipasang mengikuti lereng dengan nomor
kode 1, 2, dan seterusnya. Jarak antara dua patok induk disesuaikan dengan rencana jarak
Gambar 6. Detail Penampang Teras Bangku
tanaman; pemasangan dimulai dari bagian atas lereng, (b) patok pembantu merupakan
patok batas galian tanah, dengan nomor kode 1A, 1B dan seterusnya; dipasang di kanan kiri
patok induk, demikian seterusnya. Untuk menentukan letak patok pembantu digunakan waterpass agar arahnya sejajar garis kontur. Jarak antara 2
patok sekitar 5 meter atau sesuai dengan rencana jarak tanam dalam lajur, (c) di bawah patok pembantu dipasang patok batas timbunan dengan
nomor kode 1a, 1b, 1c, dan seterusnya yang sejajar dengan patok pembantu nomor kode 1A, 1B, 1C dan seterusnya. Jarak antara patok pembantu
dan patok batas timbunan sekitar 1,5 meter dan jarak antara 2 batas timbunan 5 m.

Gambar 8. Lahan sebelum diteras dan teras kebun yang telah ditanami

Pelaksanaan pembuatan bangunan teras kebun adalah: (a) membuat batas galian dengan menghubungkan patok-patok pembantu melalui
pencangkulan tanah, (b) menggali tanah di bagian bawah batas galian dan timbunkan ke bagian bawah sampai patok batas timbunan, (c) tanah
urugan dipadatkan dan permukaan tanah dibuat miring ke arah dalam sekitar 1%, (d) di bawah talud dibuat selokan teras atau saluran buntu
dengan panjang 2 m, lebar 20 cm dan dalam 10 cm (Yuliarti, et. al., 2004).
Teras Individu

Teras individu dibuat pada lahan dengan kemiringan lereng antara 30 50 % yang direncanakan untuk areal penanaman tanaman perkebunan di daerah yang curah hujannya terbatas dan penutupan tanahnya cukup baik
sehingga memungkinkan pembuatan teras individu.
Teras dibuat berdiri sendiri untuk setiap tanaman (pohon) sebagai tempat pembuatan lobang tanaman. Ukuran teras individu disesuaikan dengan kebutuhan masing masing jenis komoditas. Cara dan teknik pembuatan
teras individu cukup sederhana yaitu dengan menggali tanah pada tempat rencana lubang tanaman dan menimbunnya ke lereng sebelah bawah sampai datar sehingga bentuknya seperti teras bangku yang terpisah. Tanah
di sekeliling teras individu tidak diolah (tetap berupa padang rumput) atau ditanami dengan rumput atau tanaman penutup tanah. (Sukartaatmadja, 2004).
Dalam pembuatan teras individu yang harus disiapkan adalah: (a) patok induk yang dipasang mengikuti lereng (tegak lurus kontur), dimana jarak antar patok disesuaikan dengan rencana jarak tanam, (b) patok pembantu
yang menghubungkan 2 patok induk yang berdampingan pada ketinggian yang sama, masing-masing dipasang di kanan dan kiri patok induk.
Sedangkan pembuatan teras individu ini dilakukan dengan: (a) membuat batas galian dengan mencangkul tanah mulai dari bagian bawah patok pembantu melalui pencangkulan tanah dengan panjang 2 meter, (b)

12/17/2014 5:21 PM

Teras | BebasBanjir2015

7 of 19

https://bebasbanjir2025.wordpress.com/teknologi-pengendalian-banjir/teras-2/
menggali tanah di bagian bawah batas galian dan timbunkan ke bagian bawahnya sehingga membuat
bidang datar dengan panjang 2 meter dan lebar sekitar 1 meter atau disesuaikan dengan keperluan tiap
jenis tanaman, (c) tanah urugan dipadatkan di bagian tepi khususnya di bawah lereng (bagian
timbunan) dan diberi patok-patok penguat (trucuk), (d) tanah di sekeliling teras individu tidak boleh
diolah, sebaiknya ditanami rumput.
Teras Saluran (Parit Buntu / Rorak).
Teras saluran atau lebih dikenal dengan rorak atau parit buntu
adalah teknik konservasi tanah dan air berupa pembuatan lubanglubang buntu yang dibuat untuk meresapkan air ke dalam tanah
serta menampung sedimen-sedimen dari bidang olah. (Priyono, et
al., 2002).

Gambar 9. Penampang Teras Individu

Tujuan pembuatan teras saluran ini adalah meningkatkan jumlah


persediaan air tanah, menahan tanah yang tererosi (sedimen) dari
bidang olah dan mengendalikan sedimen yang terkumpul ke bidang
olah, serta dapat dikombinasikan dengan mulsa vertikal untuk
memperoleh kompos.

Foto 4. Rorak / Teras Saluran

Beberapa aspek teknis berkaitan dengan pembuatan parit buntu /


rorak / teras saluran ini adalah: (a) ukuran rorak umumnya
berukuran panjang 1 2 meter, lebar 25 50 cm dan dalam 20 30
cm, (b) rorak dapat diisi dengan mulsa slot untuk mengurangi
sedimentasi dan meningkatkan kesuburan tanah, (c) pembuatan
rorak mengakibatkan pengurangan lahan sebesar 3 10 %, (d) rorak
buntu dapat dibuat pada bagian lereng atas tanaman, (e) sedimen
yang tertampung dalam rorak buntu dapat digunakan untuk

membumbun tanaman.
Teras Batu.
Teras batu adalah penggunaan batu untuk membuat dinding dengan jarak yang sesuai di sepanjang garis kontur pada lahan miring. Tujuannya adalah: (a)
memanfaatkan batu-batu yang ada di permukaan tanah agar lahan dapat dimanfaatkan sebagai bidang olah, (b) mengurangi kehilangan tanah dan air serta untuk
menangkap tanah yang meluncur dari bagian atas sehingga secara bertahap dapat terbentuk teras bangku dan hillslide ditches, (c) mengurangi kemiringan lahan
untuk memberi bidang olah, konservasi tanah dan mekanisasi pertanian. (Priyono, et al, 2002).
Beberapa aspek teknis berkaitan dengan teras batu ini adalah: (a) ukuran penampang tergantung pada
ketersediaan batu. Perbandingan kemiringan (tinggi dan dasar) untuk permukaan luar dinding biasanya 1 : 0,3
sampai dengan 1 : 0,5 dan pada bagian dalam 1 : 0,25 sampai dengan 1 : 0,3. Bagian atas harus datar dengan
lebar minimal 30 cm, (b) bila selanjutnya akan dibangun teras maka dinding batu diletakkan di tampingan
teras, (c) bila selanjutnya akan dibangun hillside ditches maka dinding batu diletakkan sepanjang garis
ditches, (d) untuk mengurangi kelerengan, dinding batu dapat dibangun dengan jarak sesuai dengan lebar
baris tanaman.

Foto 5. Penerapan Teras Batu di Wonogiri

Cara pembuatan teras batu adalah: (a) buat gambar dasar dinding dan gali tanah sedalam 30 cm atau lebih, (b) pilih batu yang besar sebagai dinding, (c) dinding
jangan terlalu tinggi, bila akan digunakan untuk membangun teras bangku di waktu yang akan datang, (d) dalam membangun teras bangku, dinding dibangun dalam
beberapa tahap tergantung dari ketersediaan batu.
Sedangkan pemeliharaan yang harus dilakukan adalah: (a) penanaman searah kontur harus dilakukan pada lahan di antara dinding batu, (b) bila dinding diharapkan
akan menjadi teras bangku atau hillside ditches, tanah yang terkumpul di bagian atas dinding harus diratakan sesuai dengan spesikasi teras bangku dan hillside

ditches.

12/17/2014 5:21 PM

Teras | BebasBanjir2015

8 of 19

https://bebasbanjir2025.wordpress.com/teknologi-pengendalian-banjir/teras-2/

Dasar Perencanaan Teras


Pembuatan teras diusahakan mengikuti kontur dan harus direncanakan dengan matang sesuai dengan iklim, tebal solum tanah, topogra, jenis tanah dan luas areal. Dalam perencanannya diperlukan pertimbanganpertimbangan khusus yaitu: (a) keadaan tata guna tanah pada daerah yang bersangkutan, (b) pembuatan saluran pembuangan (outlet), (c) penentuan tata letak teras, dan (d) rencana pertanian yang akan diusahakan.

Pemeliharaan Teras.
Pemeliharaan semua jenis teras pada dasarnya dilakukan dengan: (a) memperbnaiki bangunan teras yang rusak / longsor, (b) mengeruk timbunan tanah di selokan teras atau rorak, dan (c) membersihkan jalur teras dari
tumbuhan pengganggu (Yuliarti, et al., 2002)
Sumber:

SIMULASI DISAIN TERAS BANGKU (Bench Terrace) METODE US-SCS (Simulation of Bench Terrace
Design with USSCS Method )
Oleh: Mustafril, F161030041; mustaf_stmsi@yahoo.com
2003 Mustafril Posted 10 December 2003
Makalah Pribadi Pengantar Ke Falsafah Sains (PPS702) Program Pasca Sarjana / S3 Institut Pertanian Bogor Desember 2003; Dosen: Prof. Dr. Ir. Rudy C. Tarumingkeng (Penanggung jawab), Prof. Dr. Ir. Zahrial
Coto
Abstract
Terracing is a method of erosion control accomplised by constructing broad
channel across the slope of rolling land. As technology has advanced, terrace design has been scientically adapted to the hydrologic and erosion control needs of the treated areas. The design of a terrace system involves the proper
spacing and location of terrace. The design of the channel with adequate capacity, and development of a farmable cross section. Spacing is expressed as the vertical distance between the channels of successive terraces. For the top terrace
spacing in the vertical distance from the top of the hill to the bo om of the channel. This vertical distance is commonly known as the vertical interval (VI). Vertical interval thus computed may be varied to allow for soil, climate and
tillage condition. Terrace design can computing by computer program within a program simulation of bench terrace design for US-SCS method. The result shows that US-SCS method gave higher VI if increase of the slope.
Key word : terrace, simulation
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Terjadinya erosi erat kaitannya dengan penggunaan lahan dan tindakan konservasi tanah di suatu kawasan, tidak kecuali di bagian hulu (upstream) suatu daerah aliran sungai (DAS). Untuk mencegah erosi masyarakat
harus memperbaiki pola dan praktek-praktek penggunaan lahan dan melakukan usaha-usaha konservasi tanah dan air.
Konservasi tanah merupakan suatu tindakan atau perlakuan untuk mencegah
kerusakan tanah atau memperbaiki lahan yang telah rusak. Metode konservasi tanah dibagi tiga teknik tindakan, yaitu : (a) metode vegetatif, (b) metode mekanik, dan (c) metode kimia. Konservasi tanah dengan metode
mekanik salah satunya adalah pembuatan teras. Jenis teras yang sering digunakan sebagai tindakan konservasi di Indonesia adalah teras bangku (bench terrace). Teras mempunyai fungsi mengurangi panjang lereng dan
menahan air sehingga dapat mengurangi kecepatan dan jumlah aliran permukaan (runo), serta meningkatkan inltrasi yang selanjutnya mengurangi laju erosi.

12/17/2014 5:21 PM

Teras | BebasBanjir2015

9 of 19

https://bebasbanjir2025.wordpress.com/teknologi-pengendalian-banjir/teras-2/

Perancangan teras pada lahan pertanian di Indonesia memerlukan berbagai pertimbangan yang dapat dibedakan antara pertimbangan sik teknis dan pertimbangan social ekonomi. Aspek sik teknis yang perlu
diperhatikan dalam pembangunan teras adalah : (a) besarnya erosi yang diperbolehkan, (b) kharakteristik tanah : erodibilitas, tingkat kesuburan, kedalaman tanah dan kelerengan lahan, (c) kharakteristik hujan, (d) rencana
penggunaan lahan, yaitu jenis tanaman yang akan diusahakan, (e) jenis teras, (f) vertical interval teras (VI), (g) lebar bidang olah teras, (h) penempatan lokasi saluran pembuang, dan (i) bahan dan konstruksinya.
Penentuan VI teras bangku untuk suatu negara berbeda dengan negara lain, sedangkan negara Indonesia lebih banyak mengadopsi system disain teras yang telah dikembangkan di beberapa negara berikut : Zimbabwe,
Afrika Selatan, Israel, Aljazair, Cina, Amerika Serikat (Schwab et al., 1981; Hudson, 1981; Arsyad, 1989; ASAE, 1998).
Untuk perancangan teras sebagai bangunan konservasi tanah dan air, perlu ditentukan jarak vertical interval teras yang tepat serta dimensi rancang bangun teras yang lainnya. Sehingga bangunan teras dapat
dimanfaatkan semaksimal mungkin sesuai dengan tujuannya. Nilai VI teras merupakan acuan untuk pembuatan teras di lahan pertanian.
Tujuan
Pembuatan suatu simulasi disain teras bangku dengan metode United States Soil Conservation Service (US-SCS), diharapkan berguna sebagai dasar kebaksanaan pengelolaan suatu lahan pertanian yang bertujuan
sebagai lahan konservasi tanah dan air.
METODE PENELITIAN
Lokasi studi kasus adalah di Kecamatan Banjarwangi Kabupaten Garut, Jawa Barat. Analisis sika tanah dilakukan di Laboratorium Fisika dan Mekanika Tanah, Jurusan Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian IPB.
Penelitian dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :
1) Pengukuran dan pengumpulan data :
Dimensi, kemiringan lahan, dan tataguna lahan
Sifat sik tanah : kadar air, densitas lapangan, permeabilitas, kedalaman tanah, distribusi ukuran partikel, konsistensi.
Curah hujan
2) Perancangan teras metode US-SCS :
Untuk menentukan dimensi teras bangku dan letak saluran teras di lapangan, terlebih dahulu tentukan jarak vertikal atau jarak horizontal. Jarak vertikal adalah jarak arah vertikal dari puncak lereng atau suatu tempat
yang ditentukan pada suatu lereng sampai dasar saluran pertama dan dari dasar saluran pertama sampai dasar saluran berikutnya. Jarak horizontal adalah jarak arah horizontal dari titik-titik yang sama seperti jarak
vertikal (Arsyad, 1989).
Untuk menentukan jarak vertikal (VI) dan jarak horizontal (HI) menurut disain teras metode US-SCS (ASAE, 1998; Schwab et al., 1981; PRC Engineering Consultants. Inc., 1980) adalah sebagai berikut :
VI = 0,3 (XS + Y) (1)
Dimana:
VI = jarak vertikal (m)
X = konstanta penyebaran curah hujan berkisar 0,4 untuk curah hujan sekitar 2000 mm/tahun sampai 0,8 untuk curah hujan sekitar 1000 mm/tahun.
Y = konstanta yang dipengaruhi oleh erodibilitas dan penutup tanah berkisar dari 1 untuk tanah yang berkapasitas inltrasi rendah dan sedikit tanaman sampai 4 untuk tanah yang erodibilitasnya rendah dengan diberi
mulsa paling sedikit 3 ton/ha.
S = kemiringan lereng (%).
Bentuk penguat talud (riser) teras bangku pada umumnya terdiri dari dua jenis, yaitu (1) tampingan rumput (vegetated) dan (2) tampingan batu (stone pitching) atau dinding penahan tegak (vertical retaining wall)
(Ma hee and Russell, 1997). Disain teras US-SCS hanya berlaku pada kemiringan lahan maksimal 30 % (Schwab et al., 1981).
3) Perancangan dimensi saluran drainase teras :
a. Perhitungan debit maksimum runo
Perhitungan debit maksimum runo dilakukan dengan metode rasional. Prinsip metode rasional bahwa laju runo maksimum akan terjadi bila lama hujan sama dengan waktu konsentrasi dari daerah tangkapan pada
suatu DAS. Runo puncak (Q) dinyatakan dalam persamaan berikut ini.
Q = CIA/360 .. (2)
Dimana :

12/17/2014 5:21 PM

Teras | BebasBanjir2015

https://bebasbanjir2025.wordpress.com/teknologi-pengendalian-banjir/teras-2/

Q = runo puncak (m3/dt)


C= konstanta runo yang tergantung pada vegetasi yang ada,
permeabilitas tanah, kelerengan lahan, dan pengolahan tanah.
I = Intensitas hujan maksimum (mm/jam).
A = Luas DAS (ha)
b. Perancangan saluran pembuang
Bentuk penampang saluran teras secara umum dibagi tiga, yaitu : triangular, trapezoidal, dan parabolik. Dari persamaan kontinuitas, yaitu : Q = A*V, dimana V adalah kecepatan aliran dan A adalah luas penampang
saluran. Besarnya kecepatan aliran dihitung dengan persamaan Manning berikut ini.
V = R2/3S1/2/n (3)
Dimana :
V= kecepatan izin saluran (m/dt)
R= jari-jari hidrolis (m)
S = kemiringan saluran (m/m).
n = koesien Manning.
4) Membangun program simulasi
Membangun program simulasi dengan mengunakan So ware Microso Visual Basic 6.0 (Dewobroto, 2003; Kusumo, 2002; Kurniadi 2001; Stephens, 2000):
Menyusun algoritma program simulasi berdasarkan teori yang tersedia di atas.
Membangun program simulasi.
Melakukan validasi program dengan melakukan pengecekan rancangan
berdasarkan perhitungan manual, bila hasil simulasi dan perhitungan manual valid maka program dapat digunakan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Program Simulasi Disain Teras Metode US-SCS
Setelah dilakukan perikasi lahan, pemeriksaan tanah, dan penentuan parameter simulasi dapat disusun suatu program simulasi yang dibangun dengan bahasa pemrograman Visual Basic 6.0.
Disain teras bangku metode US-SCS hanya berlaku sampai kemiringan lahan 30 %. Dalam program simulasi ini, untuk kemiringan lahan lebih dari 30 % teras dilakukan modikasi dengan ketentuan bila VI tidak boleh
lebih besar dari 3 m, karena teras dengan VI > 3 m dikhawatirkan rawan longsor. Pada penelitian ini juga dilakukan analisis longsor terhadap disain teras, namun tidak dibicarakan dalam makalah ini.
Simulasi disain teras US-SCS memerlukan input data kemiringan lahan, panjang lahan, erodibilitas, inltrasi, curah hujan, jenis tanah, penutup lahan, lapisan saluran, dan luas lahan yang akan direncanakan. Hasil simulasi
ini secara garis besar terdiri dari : dimensi teras menurut US-SCS dan hasil modikasi, dimensi saluran, dimensi tanggul teras, jumlah teras, luas bidang olah per ha, dan volume cut dan ll. Tampilan form program ini
dapat dilihat pada gambar berikut ini.

10 of 19

12/17/2014 5:21 PM

Teras | BebasBanjir2015

https://bebasbanjir2025.wordpress.com/teknologi-pengendalian-banjir/teras-2/

Gambar 1. Tampilan form gambar perencanaan teras pada lereng metode US-SCS
Hasil Simulasi Disain Teras Metode US-SCS
Hasil pemeriksaan sifat sika tanah rata-rata pada lokasi penelitian di Kecamatan Banjarwangi Kabupaten Garut sebagai berikut : kadar bahan organik 3 %, debu 48,079 %, pasir halus 15,204 %, liat 13,914 %, specic
gravity 2,690, angka pori 2,174, densitas tanah 1,439 t/m3, permeabilitas 1,192 mm/jam, erodibilitas, 0,47 t/ha/th, kedalaman tanah 0,9 m, dan inltrasi 10 mm/jam. Sedangkan curah hujan rata-rata 1742 mm/tahun dan
penutup lahan atau faktor CP sawah beririgasi 0,02 sehingga dapat dilakukan simulasi dengan hasil tertera pada Tabel berikut ini.

11 of 19

12/17/2014 5:21 PM

Teras | BebasBanjir2015

https://bebasbanjir2025.wordpress.com/teknologi-pengendalian-banjir/teras-2/

Dari tabel di atas hasil simulasi disain teras US-SCS (A) terlihat bahwa nilai VI
pada kemiringan lahan 14 % 30 % sangat tinggi yaitu berkisar dari 2,97 m 5,37 m, keadaan ini sangat rawan longsor pada talud teras (riser). Sehingga dilakukan modikasi (B) dengan nilai VI = 2 m sehingga terjadi
pengurangan lebar horizontal interval (HI) teras.
KESIMPULAN
Hasil dan pembahasan di atas dapat diambil beberapa kesimpulan antara lain :
Perancangan teras metode US-SCS dapat dilakukan dengan cara simulasi yang dibangun dengan bahasa pemrogramman Visual Basic 6.0.
Hasil disain teras sangat ditentukan oleh kemiringan lahan, sifat sik tanah, curah hujan, dan kondisi penutup lahan.
Hasil simulasi semakin besar kelerengan lahan akan meningkatkan jarak vertikal interval teras.
Jarak vertikal interval teras > 3 m perlu dilakukan modikasi, karena dikhawatirkan rawan longsor.
Pengambilan data lapangan untuk makalah ini dibiayai oleh proyek Identikasi Penyusunan Rencana Tindak Penanggulangan Daerah Rawan Bencana di Kabupaten Garut yang merupakan kerjasama Pemerintah
Daerah Tingkat II Kabupaten Garut dengan Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor, Oktober 2002.
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, S. 1989. Konservasi Tanah dan Air. IPB-Press. Bogor.
ASAE. 1998. Standard Engineering Practice Data. Ed. 45th, ASAE. St. Joseph..
Dewobroto, W. 2003. Aplikasi Sains dan Teknik dengan Visual Basic 6.0. PT. Elex Media Komputindo. Gramedia. Jakarta.
Hudson, N. 1981. Soil Conservation. Ed. 2nd. Cornell university Press. New York.

12 of 19

12/17/2014 5:21 PM

Teras | BebasBanjir2015

https://bebasbanjir2025.wordpress.com/teknologi-pengendalian-banjir/teras-2/

Kurniadi, A. 2001. Pemrograman Microso Visual Basic 6. PT. Elex Media Komputindo. Gramedia. Jakarta.
Kusumo, A. S. 2002. Microso Visual Basic 6.0. PT. Elex Media Komputindo.
Gramedia. Jakarta.
Ma hee, J.F.G. and W.B. Russell. 1997. Bench Terracing. In Conservation of Farmland in KwaZulu-Natal. KwaZulu-Natal Departement of Agriculture. Natal.
PRC Engineering Consultants, Inc. 1980. The Citanduy River Basin Development Project (Feasibility Report : Citanduy Upper Wathershed Management Project). Denver, Colorado, USA.
Schwab, G.O., R.K. Frevert, T.W. Edminster, K.K. Barnes. 1981. Soil and Water
Conservation Engineering.:John Wiley and Sons. New York
Stephens, R. 2000. Visual Basic Graphics Programming. Second Edition. John Wiley and Sons, Inc. Canada

TERAS GULUDAN SEBAGAI UPAYA KONSERVASI TANAH


LATAR BELAKANG
Pertambahan penduduk yang terus meningkat menuntut kebutuhan lahan yang terus meningkat pula.
Dengan keterbatasan lahan pemanfaatan lahan harus berazaskan kelestarian usaha tani yang dilakukan oleh masyarakat petani terutama didaerah hulu DAS/SUB DAS dalam kegiatan pertaniannya belum sepenuhnya
memperhatikan tindakan konservasi tanah, sehingga mengakibatkan turunnya kualitas sumber daya alam berupa penurunan produktivitas lahan karena erosi/sedimentasi, akibatnya semakin meluasnya lahan kritis.
Beberapa teknik konservasi tanah dengan teras sering adalah : teras bangku, teras kredit, individu. Dari teknik konservasi tersebut di atas salah satu teras guludan merupakan konservasi tanah yang relatif mudah dan
murah biayanya. Hal ini lebih dapat di laksanakan oleh petani dengan keterbatasan modal yang dimiliki oleh petani pada umumnya.
Konservasi tanah dengan teras guludan diharapkan dapat meningkatkan produktivitas lahan dapat dipertahankan secara lestari.
MAKSUD DAN TUJUAN
Teras guludan merupakan guludan tanah seperti pematang yang arahnya sejajar garis kontur.
Teras guludan dibuat tanpa mengubah kelerengan guludan dibuat untuk memperbesar resapan air ke dalam tanah karena akan memperlambat aliran permukaan. Tujuan pembuatan guludan adalah untuk meringankan
biaya pembuatannya, akan tetapi konservasi tanah dapat terlaksana, sehingga diharapkan lama kelamaan teras guludan akan berangsur menjadi teras bangku.
LOKASI
Lokasi yang cocok untuk pembuatan teras guludan adalah lokasi yang mempunyai kemiringan lahan antara 10-50% dan merupakan lahan pertanian yang potensial relatif masih subur. Hal ini dimaksudkan agar dapat
terjaga kesuburannya secara berkesinambungan untuk produksi.
TEHNIK PEMBUATAN
Pesiapan di lapangan dilakuan dengan melakuan pengukuran dengan alat sederhana seperti ondol-ondol, maksud ondol-ondol adalah untuk mengukur arah kontur yang sama tinggi dari awal sampai dengan teras
guludan. Setelah diukur ketinggian yang sama dilakukan pemancangan patok-patok sebagai tanda arah guludan yang akan dibuat. Lebih jelasnya ondol-ondol adalah merupakan waterpas sederhana. Jarak antar guludan
antara 5m 10m. Pembuatan patok dengan jarak 5m untuk memudahkan dalam pembuatan guludan.
Pembuatan guludan setelah selesai ukuran dan arah diukur yang dilengkapi dengan patok-patok, kita membuat saluran sekaligus menjadi pematang/guludan, ukuran saluran yang digali adalah:

13 of 19

Dalam : 30 Cm
Lebar bawah : 20 Cm
Lebar atas : 50 Cm

12/17/2014 5:21 PM

Teras | BebasBanjir2015

https://bebasbanjir2025.wordpress.com/teknologi-pengendalian-banjir/teras-2/

Tanah galian pada pembuatan saluran ditimbunkan di tepi luar (bagian bawah saluran) sehingga membentuk guludan dengan ukuran lebar 20 cm, lebar bawah 50 cm dan tinggi 30 cm guludan dan selokan teras gulud
dibuat tegak lurus garis kontur. Pembuatan teras guludan dimulai dari bagian atas lereng agar lebih mudah turun ke arah bawah.
Guludan sebaiknya ditanami tanaman penguat teras agar pematang/guludan agar tidak mudah longsor oleh serpihan air hujan maupun oleh aliran permukaan.
Jenis tanaman penguat teras berupa jenis tanaman tahan pangkas, di mana pemangkasan dilakukan untuk pencegahan ketinggian tanaman yang dapat mengganggu tanaman pokok disamping itu hasil pangkasan dapat
menjadi biomassa untuk kesuburan tanah. Kalau jenis kayu-kayuan diupayakan jenis yang daunnya mudah lapuk dan tahan pangkas. Jarak tanam dengan 50 cm apabila menggunakan steck dan dapat ditabur dengan bi
secara merata. Antara lain lamtoro, plaminghia, kaliandra. Jika penguat teras menggunakan rumput hendaknya dapat dipilih jenis rumput yang dapat bermanfaat ganda antara lain dapat menjadi makanan ternak. Jarak
tanam rata-rata adalah 30-50 cm.
Jenis rumput antara lain : Setaria (Setaria sphacelata), Rumput gajah (Pernisetum purpureum), Rumput Raja (Penisetum purporoides). Lihat: Tanaman Penutup Tanah.
Pemeliharaan
Pemeliharaan perlu dilakukan karena setiap turun hujan tanah akan terbawa oleh aliran permukaan dan akan menumpuk di sekolanh, untuk pemeliharaan, tanah yang menumpuk di selokan diangkat dan dikembalikan ke
atas, kalau ada guludan yang rusak tetap diperbaiki serta pemangkasan penguat teras.
[ Hutbun Propinsi Jambi)
Sumber: h p://www.dephut.go.id/informasi/propinsi/JAMBI/teras_guludan.html

Teras

Teras bangku atau teras tangga


Teras bangku atau teras tangga dibuat dengan cara memotong panjang lereng dan meratakan tanah di bagian bawahnya, sehingga terjadi deretan bangunan yang berbentuk seperti tangga. Pada usahatani lahan kering,
fungsi utama teras bangku adalah: (1) memperlambat aliran permukaan; (2) menampung dan menyalurkan aliran permukaan dengan kekuatan yang tidak sampai merusak; (3) meningkatkan laju inltrasi; dan (4)
mempermudah pengolahan tanah.
Teras bangku dapat dibuat datar (bidang olah datar, membentuk sudut 0o dengan bidang horizontal), miring ke dalam/goler kampak (bidang olah miring beberapa derajat ke arah yang berlawanan dengan lereng asli), dan
miring keluar (bidang olah miring ke arah lereng asli). Teras biasanya dibangun di ekosistem lahan sawah tadah hujan, lahan tegalan, dan berbagai sistem wanatani. Tipe teras bangku dapat dilihat dalam Gambar 1.
Teras bangku miring ke dalam (goler kampak) dibangun pada tanah yang permeabilitasnya rendah, dengan tujuan agar air yang tidak segera terinltrasi menggenangi bidang olah dan tidak mengalir ke luar melalui talud di
bibir teras. Teras bangku miring ke luar diterapkan di areal di mana aliran permukaan dan inltrasi dikendalikan secara bersamaan, misalnya di areal rawan longsor. Teras bangku goler kampak memerlukan biaya relatif
lebih mahal dibandingkan dengan teras bangku datar atau teras bangku miring ke luar, karena memerlukan lebih banyak penggalian bidang olah.
Efektivitas teras bangku sebagai pengendali erosi akan meningkat bila ditanami dengan tanaman penguat teras di bibir dan tampingan teras. Rumput dan legum pohon merupakan tanaman yang baik untuk digunakan
sebagai penguat teras. Tanaman murbei sebagai tanaman penguat teras banyak ditanam di daerah pengembangan ulat sutra. Teras bangku adakalanya dapat diperkuat dengan batu yang disusun, khususnya pada
tampingan. Model seperti ini banyak diterapkan di kawasan yang berbatu.
Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dalam pembuatan teras bangku adalah:
1. Dapat diterapkan pada lahan dengan kemiringan 10-40%, tidak dianjurkan pada lahan dengan kemiringan >40% karena bidang olah akan menjadi terlalu sempit.
2. Tidak cocok pada tanah dangkal (<40 cm)
3. Tidak cocok pada lahan usaha pertanian yang menggunakan mesin pertanian.
4. Tidak dianjurkan pada tanah dengan kandungan aluminium dan besi tinggi.
5. Tidak dianjurkan pada tanah-tanah yang mudah longsor.

14 of 19

12/17/2014 5:21 PM

Teras | BebasBanjir2015

https://bebasbanjir2025.wordpress.com/teknologi-pengendalian-banjir/teras-2/

Teras gulud
Teras gulud adalah barisan guludan yang dilengkapi dengan saluran air di bagian belakang gulud. Metode ini dikenal pula dengan istilah guludan bersaluran.
Bagian-bagian dari teras gulud terdiri atas guludan, saluran air, dan bidang olah (Gambar 2).

Gambar 2. Sketsa penampang samping teras gulud.


Fungsi dari teras gulud hampir sama dengan teras bangku, yaitu untuk menahan laju aliran permukaan dan meningkatkan penyerapan air ke dalam tanah.
Saluran air dibuat untuk mengalirkan aliran permukaan dari bidang olah ke saluran pembuangan air. Untuk meningkatkan efektivitas teras gulud dalam
menanggulangi erosi dan aliran permukaan, guludan diperkuat dengan tanaman penguat teras. Jenis tanaman yang dapat digunakan sebagai penguat teras
bangku juga dapat digunakan sebagai tanaman penguat teras gulud. Sebagai kompensasi dari kehilangan luas bidang olah, bidang teras gulud dapat pula
ditanami dengan tanaman bernilai ekonomi (cash crops), misalnya tanaman katuk, cabai rawit, dan sebagainya.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan teras gulud:
1. Teras gulud cocok diterapkan pada lahan dengan kemiringan 10-40%, dapat juga pada lahan dengan kemiringan 40-60% namun relatif kurang efektif.
2. Pada tanah yang permeabilitasnya tinggi, guludan dapat dibuat menurut arah kontur. Pada tanah yang permeabilitasnya rendah, guludan dibuat miring
terhadap kontur, tidak lebih dari 1% ke arah saluran pembuangan. Hal ini ditujukan agar air yang tidak segera terinltrasi ke dalam tanah dapat
tersalurkan ke luar ladang dengan kecepatan rendah.

Gambar 1. Sketsa empat tipe teras bangku.

Teras individu
Teras individu adalah teras yang dibuat pada setiap individu tanaman, terutama tanaman tahunan (Gambar 3). Jenis teras ini biasa dibangun di areal perkebunan atau pertanaman buah-buahan.

15 of 19

12/17/2014 5:21 PM

Teras | BebasBanjir2015

https://bebasbanjir2025.wordpress.com/teknologi-pengendalian-banjir/teras-2/

Gambar 3. Sketsa teras individu pada areal pertanaman tahunan.

Teras kebun
Teras kebun adalah jenis teras untuk tanaman tahunan, khususnya tanaman pekebunan dan buah-buahan. Teras dibuat dengan interval yang
bervariasi menurut jarak tanam (Gambar 4). Pembuatan teras bertujuan untuk: (1) meningkatkan esiensi penerapan teknik konservasi tanah, dan (2)
memfasilitasi pengelolaan lahan (land management facility), di antaranya untuk fasilitas jalan kebun, dan penghematan tenaga kerja dalam
pemeliharaan kebun.
Sumber: h p://www.litbang.deptan.go.id/regulasi/one/12/le/BAB-IV.pdf

Gambar 4. Teras kebun.

27 Komentar
1. Sangat bagus, dan mudah difahami. perlu dikomunikasikan sampai ke tingkat teknis (penyuluh) dalam bentuk leaet. sehingga dapat dibawa ke lahan untuk disuluhkan ke masyarakat. di samping itu juga kepada para
Perusahaan Pertambangan. Sehingga ada prosedur teknis dalam reklamasi lahan pertambangan
Nuwun.
Wassalam
nurch2003@yahoo.com
Komentar oleh M Nurcholis Tanah UPNVY Februari 26, 2009 @ 7:50 am
2. artikelx lengkap dan bagus

16 of 19

12/17/2014 5:21 PM

Teras | BebasBanjir2015

https://bebasbanjir2025.wordpress.com/teknologi-pengendalian-banjir/teras-2/

thanks
Komentar oleh Mansyur Lolo Tembu Maret 21, 2009 @ 4:20 pm
3. Terima kasih atas Informasi nya, syukur alhamdulilah sangat membantu saya dari segi penambahan ilmu pengetahuan dan keterampilan..
Komentar oleh Iman Dwi Paneguh Mei 20, 2009 @ 9:03 am
4. sangat ideal untuk pembelajaran siswa saya tentang konservasi lahan miring
Komentar oleh dewi Agustus 27, 2009 @ 11:40 am
5. thanks, karena dengan artikel ini tugas saya terselesaikan..
Komentar oleh aful Maret 24, 2010 @ 6:58 pm
6. great. informasi yang sangat complet dan mudah dipahamai. akan saya coba jadi bahn u/ dsain proyek saya agar lingkungan proyek saya td berubah
Komentar oleh RATNA April 8, 2010 @ 7:09 pm
7. makasih banget ya,,,, an butuh banget buat tugas kuliyah dan utuk perkebunan ana. sukron..
Komentar oleh syaiful edison April 12, 2010 @ 4:55 pm
8. mas, boleh tau literatur dalam tulisan ini?
trimakasih.
Komentar oleh stg Mei 9, 2010 @ 7:25 pm
9. Tulisan itu makalah tugas saya tahun 2006 untuk matakuliah Bangunan Pengendali Erosi dan lenya nggak ketemu lagi.
Komentar oleh Sahroel Polontalo Mei 10, 2010 @ 7:22 am
10. Thanks infonya bro. Semoga makin sukses!!
Komentar oleh Kabar Bisnis Mei 30, 2010 @ 9:58 am
11. wah,mantep nih. thanks bos for share :)
Komentar oleh Bukan Nama Sebenarx Agustus 6, 2010 @ 2:28 am
12. Ma kasih banyak artikelnya pak. izin copy paste untuk bahan penyuluhanke desa saya ya
Komentar oleh Penyu_luh Oktober 15, 2010 @ 10:04 am
13. Trm ksh artikelnya, mudah2an bermanfaat bagi kami.
Komentar oleh subari rustam Desember 31, 2010 @ 4:46 pm
14. terima kasih artikelnya, apalagi gambarnya. sangat membantu mahasiswa. :)
Komentar oleh hans_some257 Februari 11, 2011 @ 10:54 pm
15. terima kasih artikelnya, sangat membantu,
Komentar oleh yanuar Maret 26, 2011 @ 11:03 am
16. Baguus ! Teras Bebas Banjir 2015 Ya,semoga tercapai !

17 of 19

12/17/2014 5:21 PM