Anda di halaman 1dari 31

I.

jNOMOR PERCOBAAN
II. NAMA PERCOBAAN
III. TUJUAN PERCOBAAN

: II
: REAKSI UJI PROTEIN
: Untuk menguji kandungan yang terdapat di dalam protein

IV. LANDASAN TEORI


Fungsi Biologi Protein
Enzim
Protein yang paling bervariasi dan mempunyai kekhususan tinggi adalah protein yang
mempunyai aktivitas katalisa, yakni enzim. Hampr semua reaksi kimia biomolekul organic di
dalam sel dikatalisa oleh enzim. Lebih dari 2000 jenis enzim, masing-masing dapat
mengkatalisa reaksi kimia yang berbeda, telah ditemukan di dalam berbagai bentuk
kehidupan.
Protein Transport
Protein transport di dalam plasma darah mengikat dan membawa molekul atau ion
spesifik dari satu organ ke organ lain Disini oksigen dilepaskan untuk melangsungkan oksidasi
nutrient yang menghasilkan energi. Plasma darah mengandung lipoprotein, yang membawa
lipid dari hati ke organ yang lain. Protein transport lain terdapat di dalam membrane sel dan
menyesuaikan strukturnya untuk mengikat dan membawa glukosa, asam amino, dan nutrient
lain membrane menuju ke dalam sel.
Protein Nutrien dan Penyimpan
Biji berbagai tumbuhan menyimpan protein nutrient yang dibutuhkan untuk
pertumbuhan embrio tanaman. Terutama, contoh yang telah dikenal adalah protein biji dari
gandum, jagung, dan beras. Ovalbumin protein utama putih telur, dan kasein protein utama
susu merupakan contoh lain dari protein nutrient. Ferritin jaringan hewan merupakan protein
penyimpan besi.
Protein Kontraktil atau Motil
Beberapa protein memberikan kemampuan kepada sel dan organisme untuk
berkontraksi, mengubah bentuk, atau bergerak. Aktin dan miosin adalah protein filamen yang
berfungsi di dalam sistem kontraktil otot kerangka dan juga di dalam banyak sel bukan otot.

Contoh lain adalah tubulin, protein pembentuk mikrotubul. Mikrotubul merupakan komponen
penting dari flagella dan silia yang dapat menggerakkan sel.
Protein Struktural
Banyak protein yang berperan sebagai filamen, kabel, atau lembaran penyanggah
untuk memberikan struktur biologi kekuatan atau proteksi. Komponen utama dari urat dan
tulang rawan adalah protein serabut kolagen, yang mempunyai daya tenggang yang amat
tinggi.
Protein Pertahanan
Banyak protein mempertahankan organisme dalam melawan serangan oleh spesies lain
atau melindungi organisme tersebut dari luka. Immunoglobulin atau anti-body pada vertebrata
adalah protein khusus yang dibuat oleh limposit yang dapat m,engenali dan mengendapakan
atau menetralkan serangan bakteri, virus, atau protein asing dari spesies lain. Fibrinogen dan
trombin, merupakan protein penggumpal darah yang menjaga kehilangan darah jika sistem
pembuluh terluka. Bisa ular, toksin bakteri, dan protein tumbuhan beracun, seperti risin, juga
berfungsi di dalam pertahanan tubuh.
Protein Pengatur
Beberapa protein membantu aktivitas seluler. Diantara jenis ini terdapat sejumlah
hormone seperti insulin, yang mengatur metabolisme gula dan kekurangannya menyebabkan
penyakit diabetes. Hormone pertumbuhan dari pituary dan hormone paratiroid, yang mengatur
transport Cu2+ dan fosfat. Protein pengatur lain, yang disebut repressor mengatur biosintesa
enzim oleh sel bakteri.
Protein lain
Terdapat banyak protein yang fungsinya

agak eksotik dan tidak mudah

diklasifikasikan. Monelin, suatu protein tanaman dari afrika yang mempunyai rasa yang amat
manis.
Protein dapat dibagi menjadi dua golongan utama berdasarkan bentuk dan sifat-sifat
fisik tertentu; protein globular dan protein serabut. Pada protein globular rantai atau rantairantai polipeptida berlipat rapat-rapat menjadi bentuk globular atau bulat yang padat. Protein
globular biasanya larut di dalam system larutan (air) dan segera berdifusi ; hamper semua

mempunyai fungsi gerak atau dinamik. Hampir semua enzim merupakan protein globular,
seperti protein transport pada darah, anti-bodi, dan protein penyimpan nutrient. Protein serabut
bersifat tidak larut di dalam air, merupakan molekul serabut panjang, dengan rantai polipeptida
yang memanjang pada satu sumbu, dan tidak berlipat menjadi bentuk globular. Hamper semua
protein serabut memberikan peranan structural atau pelindung. Protein serabut yang khas
adalah -keratin pada rambut dan wol, fibroin dari sutera dan kolagen dari urat.
Ciri protein
1. Berat moleklnya besar, ribuan sampai jutaan, sehingga merupakan suatu makromolekul.
2. Umumnya terdiri atas 20 asam amino
3. Terdapatnya ikatan kimia lain, yang menyebabkan terbentuknya lengkungan-lengkungan
rantai polipeptida menjadi stuktur tiga dimensi protein
4. Stukturnya tidak stabil terhadap beberapa faktor seperti pH, radiasi , temperatur, medium
pelarut organik, dan detergen.
5. Umumnya reaktif dan sangat spesifik, disebabkan terdapatnya gugus samping yang reaktif
dan susunan khas stuktural makromolekul.
Sifat Larutan Protein
1 Sifat Asam Basa
Sifat larutan asam basa suatu protein dalam larutan, sebagian besar ditentukan oleh
gugus R asam aminonya yang dapat berionisasi. Gugus NH 2 dan COOH yang terdapat pada
kedua ujung rantai polipeptida sedikit sekali menunjang sifat asam-basa protein tersebut.
Karena perbedaan macam protein ditentukan oleh urutan asam amino dan konformasi
polipeptidanya, maka kemungkinan ionisasi gugus R itu dipengaruhi oleh gugus tetangganya.
Seperti pada asam amoni bebas, protein juga mempunyai titik isoelektrik, yaitu pada
pH yang menunjukkan jumlah muatan positif dan negatif sama dalam protein itu, sehingga
pada keadaan ini daya larut protein minimum. Pada pH ini protein tidak akan bergerak bila
diletakkan dalam medan listrik, pH isoelektriknya ditentukan oleh jumlah dan pK gugus R
yang berionisasi. Dalam larutan yang pH nya diatas pH isoelektrik. Protein bermuatan negatif
dan kanan bergerak ke anoda, pada pH sebaliknya protein bergerak ke katoda.

Pemisahan Protein
Pemisahan protein dari campuran yang terdiri dari atas berbagai macam sifat asambasa, umuran dan bentuk protein, dapat dilakukan dengan cara eletroforesis, kromatografi,
pengendapan dan perbedaan kelarutannya.
Elektroforesis
Cara ini didasarkan pada kecepatan bergerak yang berbeda-beda dari protein dalam
medan listrik, pada pH tertentu. Cara in pertama kali dilakukan oleh Arne Tiselius pada tahun
1973.
Kromatografi
Penentuan dan pemisahan campuran protein dengan cara kromatografi dilakukan
berdasarkan prinsip yang sama seperti untuk pemisahan dan analisa asam amino.
Pengendapan protein sebagai garam
Sebagian besar protein dapat diendapkan dari larutan air dengan penambahan asam
tertentu, seperti misalnya, asam triklorasetat dan asam perklorat. Penambahan asam ini
menyebabkan terbentuknya garam protein yang tidak larut. Zat pengendap lainnya adalah
asam tungstat, fototungstat, dan metafosat. Protein juga dapat diendapkan dengan kation
tertentu seperti Zn2+ dan Pb2+.
Pengendapan dengan cara perbedaan kelrutan
Berbagai protein globular mempunyai daya kelarutan yang berbeda di dalam air.
Variabel yang mempengaruhi kelarutan ini adalah pH, kekuatan ion, sifat dielketrik pelarut
dan temperatur.
Pemisahan protein dari campuran dengan pengaturan pH didasarkan pada harga pH
isoelektrik yang berbeda-beda untuk tiap macam protein. Pada umumnya molekul protein
mempunyai daya kelarutan minimum pada pH isoelektriknya. Pada Ph isoelektriknya bebrapa
protein akan mengendap dari larutan, sehingga dengan cara pengaturan pH larutan, masingmasing protein dalam campuran dapat dipisahkan satu dari yang lainnya dengan teknik yang
disebut pengendapan isoelektrik.

Denaturasi protein
Denaturasi suatu protein adalah hilangnya sifat-sifat struktur lebih tinggi oleh
terkacaunya ikatan hidrogen dan gaya-gaya sekunder lain yang mengutuhkan molekul itu.
Akibat suatu denaturasi adalah hilangnya banyak sifat biologis protein itu. Salah satu faktor
yang menyebabkan denaturasi suatu protein ialah perubahan temperatur. Memasak putih telur
merupakan contoh denaturasi yang tak reversibel. Suatu putih telur adalah cairan tak berwarna
yang mengandung albumin, yakni protein globular yang larut. Pemanasan putih telur akan
mengakibatkan albumin itu membuka lipatan dan mengendap; dihasilkan suatu zat padat
putih.
Perubahan pH juga dapat menyebabkan denaturasi. Bila susu menjadi asam,
perubahan pH yang disebabkan oleh pembentukan asam laktat akan menyebabkan
penggumpalan susu (curdling), atau pengendapan protein yang semula larut. Faktor-faktor lain
yang dapat menyebabkan denaturasi adalah detergen, radiasi, zat pengoksidasi atau pereduksi
(yang dapat mengubah hubungan S S), dan perubahan tipe pelarut.
Beberapa protein (kulit dan dinding-dalam saluran pencernaan, misalnya) sangat tahan
terhadap denaturasi, sedangkan protein-protein lain sangat peka. Denaturasi dapat bersifat
reversibel jika suatu protein hanya dikenai kondisi denaturasi yang lembut, seperti sedikit
perubahan pH. Jika protein ini dikembalikan ke lingkungan alamnya, protein ini dapat
memperoleh kembali struktur lebih tingginya yang alamiah dalam suatu proses yang disebut
renaturasi. Sayang renaturasi umumnya sangat lambat atau tidak terjadi sama sekali. Salah
satu permasalahan dalam penelitian protein ialah bagaimana mempelajari protein tanpa
merusakkan struktur lebih tingginya (struktur protein tersebut).
V. ALAT DAN BAHAN
Alat :
-

Beker Gelas
Gelas ukur
Tabung reaksi
Pipet tetes
Labu ukur

Bahan :

Rak tabung reaksi


Bunsen
Penjepit tabung

Batang pengaduk

Larutan NaOH 2,5 M

Larutan Protein
Larutan CuSO4 0,01 M
Larutan HgCl2 0,2 M
Larutan Timbal asetat 0,2 M
Larutan (NH4)2SO4
Reagen Millon

Reagen untuk uji biuret


Larutan asam asetat 1 M
Aquadest
Larutan albumin
Larutan HCl 0,1 M
Larutan NaOH 0,1 M
Bufer asetat pH 4,7 (1M)
Etil alkohol 95 %

VI. PROSEDUR PERCOBAAN


-

Uji Biuret

Tambahkan 1 ml NaOH 2,5 N ke dalam 3 ml larutan protein dan aduk. Tambahkan


setetes CuSO4 0,01 M. Aduk, jika tidak timbul warna, tambahkan lagi setetes atau 2
tetes CuSO4.

Pengendapan dengan logam

Ke dalam 3 ml larutan protein tambahkan 5 tetes HgCl2 0,2 M. Ulangi percobaan


dengan menggunakan Pb asetat 0,2 M.

Pengendapan dengan Garam

Jenuhkan 10 ml larutan protein dengan ammonium sulfat. Untuk pekerjaan ini


dilakukan pertama tambahkan jumlah sedikit dari garam tersebut, aduk hingga
melarut. Tambahkan lagi sedikit ammonium sulfat dan aduk lagi, kontinu sehingga
sedikit garam tertinggal tidak terlarut. Apabila larutan jenuh, kemudian disaring.
Uji kelarutan dari endapan di dalam air. Uji endapan dengan reagen millon dan
filtrat dengan uji Biuret.

Uji Koagulasi

Tambahkan 2 tetes HOAc 1 M ke dalam 5 ml larutan protein. Letakkan tabung


dalam air mendidih selama 5 menit. Ambil endapan dengan batang pengaduk. Uji
kelarutan endapan di dalam air. Uji endapan dengan reagen Millon.

Pengendapan dengan Alkohol

Tabu

-1

ng
-

Larut

-5

an Albumin
-

HCl

0,1 M
-

NaO

m
m

-1

H 0,1 M
-

Bufer

asetat,

pH

4,7
-

Alkohol

95

--

--

Etil

-6

m
l

m
l

%
m
l
-

Denaturasi Protein
-

Tabung

-3

Larutan

1
-

2
-

-9

albumin
-

Buffet Asetat

pH 4,7 (1 M)

HCl 0,1 M

-1

NaOh 0,1 M

--

--

m
l

l
Tempatkan ketiga tabung dalam air mendidih selama 15 menit dan dinginkan pada
temperature kamar. Dalam tabung mana yang kelihatan mengendap. Untuk tabungtabung (1) dan (2) tambahkan 10 ml buffer asetat pH 4,7. Tulis hasilnya.

VII. HASIL PENGAMATAN


-

Uji

rlakuan

- - Uji Biuret
a.
Putih telur

b.Ku
ning
telur

Pe

3m
l putih telur
+ 1 ml
NaOH 2,5
N ; aduk; +
1-2
tetes
CuSO4 0,01
M.

3m
l
kuning
telur + 1 ml
NaOH 2,5
N ; aduk; +
1-2
tetes
CuSO4 0,01
M.

Hasil Pengamatan

Keter

Putih telur 1% (tidak berwarna) + NaOH


(tak berwarna) larutan tak berwarna +
CuSO4 (kebiruan) lautan keunguan.
Putih telur 2% (tidak berwarna) + NaOH
(tak berwarna) larutan tak berwarna +
CuSO4 (kebiruan) lautan keunguan.
Putih telur 3% (tidak berwarna) + NaOH
(tak berwarna) larutan tak berwarna +
CuSO4 (kebiruan) lautan keunguan.
Putih telur 4% (tidak berwarna) + NaOH
(tak berwarna) larutan tak berwarna +
CuSO4 (kebiruan) lautan keunguan.
Putih telur 5% (tidak berwarna) +
NaOH (tak berwarna) larutan tak
berwarna + CuSO4 (kebiruan) lautan
keunguan.
Putih telur 1% (tidak berwarna) +
NaOH (tak berwarna) larutan
berwarna
putih
+
CuSO4
(kebiruan) lautan keunguan.
Putih telur 2% (tidak berwarna) +
NaOH (tak berwarna) larutan
berwarna
putih
+
CuSO4
(kebiruan) lautan keunguan.
-

angan
Putih
telur
bereak
si
positif
denga
n ion
Cu2+
mengh
asilka
n
endap
an
ungu

Kunin
g telur
bereak
si
positif
denga
n ion
Cu2+
mengh
asilka

c.
Susu
bubu
k

3m
l
susu
bubuk + 1
ml NaOH
2,5 N ;
aduk; + 1-2
tetes
CuSO4 0,01
M.

d.
Susu
cair

3m
l susu cair
+ 1 ml
NaOH 2,5

Putih telur 3% (tidak berwarna) +


NaOH (tak berwarna) larutan
berwarna
putih
+
CuSO4
(kebiruan) lautan keunguan.
Putih telur 4% (tidak berwarna) +
NaOH (tak berwarna) larutan
berwarna
putih
+
CuSO4
(kebiruan) lautan keunguan.
Putih telur 5% (tidak berwarna) +
NaOH (tak berwarna) larutan
berwarna
putih
+
CuSO4
(kebiruan) lautan keunguan.
Susu Bubuk 1% (putih) +
NaOH(bening) Larutan Putih +
CuSO4 (biru) Larutan Ungu
muda
Susu Bubuk 2% (putih) +
NaOH(bening) Larutan Putih +
CuSO4 (biru) Larutan Ungu
muda
Susu Bubuk 3% (putih) +
NaOH(bening) Larutan Putih +
CuSO4 (biru) Larutan Ungu
muda
Susu Bubuk 4% (putih) +
NaOH(bening) Larutan Putih +
CuSO4 (biru) Larutan Ungu
muda
Susu Bubuk 5% (putih) +
NaOH(bening) Larutan Putih +
CuSO4 (biru) Larutan Ungu
muda

n
endap
an
ungu

Susu Cair 1% (putih) + NaOH(bening)


Larutan Putih + CuSO4 (biru) Larutan
Ungu muda

Susu
Cair
bereak

Susu
Bubuk
bereak
si
positif
denga
n ion
Cu2+
mengh
asilka
n
larutan
ungu

N ; aduk; +
1-2
tetes
CuSO4 0,01
M.

- - Pengendapa
n
dengan
Logam
Susu
bubuk

3m
l
susu
bubuk + 5
tetes HgCl2
0,2 M
3m
l
susu
bubuk + 5
tetes
Pb
asetat 0,2
M

Susu Cair 2% (putih) + NaOH(bening)


Larutan Putih + CuSO4 (biru) Larutan
Ungu muda
Susu Cair 3% (putih) + NaOH(bening)
Larutan Putih + CuSO4 (biru) Larutan
Ungu muda
Susu Cair 4% (putih) + NaOH(bening)
Larutan Putih + CuSO4 (biru) Larutan
Ungu muda
Susu
Cair
5%
(putih)
+
NaOH(bening) Larutan Putih + CuSO4
(biru) Larutan Ungu muda
susu bubuk 1% (putih) + HgCl2 larutan
tak berwarna terdapat endapan
susu bubuk 2% (putih) + HgCl2 larutan
tak berwarna terdapat endapan
susu bubuk 3% (putih) + HgCl2 larutan
tak berwarna terdapat endapan
susu bubuk 4% (putih) + HgCl2 larutan
tak berwarna terdapat endapan
susu bubuk 5% (putih) + HgCl2 larutan
tak berwarna terdapat endapan
susu bubuk 1% (putih) + Pb asetat
larutan berwarna putih
susu bubuk 2% (putih) + Pb asetat
larutan berwarna keruh
susu bubuk 3% (putih) + Pb asetat
larutan berwarna keruh

si
positif
denga
n ion
Cu2+
mengh
asilka
n
larutan
ungu

Susu
bubuk bereaksi
positif dengan
HgCl2
-

susu bubuk 4% (putih) + Pb asetat


larutan berwarna keruh
-

Peng
enda
pan
deng
an
Gar
am
-

10 ml putih
telur
5%
+
amonium
sulfat
(sampai jenuh)
Endapan
disaring

Putih

Filtrat
+
reagen biuret
Endapan +
reagen millon
Endapan +

telur

air

a.

b.
Kuni
ng
telur

susu bubuk 5% (putih) + Pb asetat

larutan berwarna keruh


Putih telur 5%(tak berwarna) + CH 3COOH
(tak
berwarna)
larutan
putih
larutan putih terdapat koagulan
Millon (tak berwarna) + koagulan (putih)
larutan tak berwarna + ` coklat
Air
(tak
berwarna)
+
koagulan(putih)

lautan keruh

Putih
Telur
Berea
ksi
positif

coklat

10
ml kuning
telur 5% +
amonium
sulfat
(sampai
jenuh)
En

Filtrat (tak berwarna) + reagen


biuret (tak berwarna) larutan biru bening
-

Tidak dilakukan

susu

bubuk

dapan
disaring
En
dapan
+
reagen
biuret
En
dapan
+
reagen
millon
En
-

dapan + air
- 10 ml susu bubuk

5%

(putih)

c.
5% + amonium
Susu sulfat (sampai jenuh)
bubu Endapan
k
disaring
-

ammonium suslfat (putih) Larutan jenuh


garam (putih) ada endapan
-

Filtrat (tak berwarna) + reagen biuret (tak


berwarna) larutan biru bening
- Filtrat + reagen
- Endapan (putih)
+ reagen millon (tak
biuret
berwarna) larutan tak berwarna, ada
- Endapan + reagen
endapan (merah)
millon
Endapan
(putih)
+ air (tak berwarna)
larutan tak berwarna
- Endapan + air
10 ml Susu Cair Susu Cair 5% + (NH4)2SO4 endapan
d.
5%
+
9gr putih dan filtratnya
Susu
(NH4)2SO4 hingga cair
jenuh larutan disaring
1. Endapan putih 1. Endapan putih + H2O (tak berwarna)
+ H2O
Larut dalam air
2. Endapan Putih
- Larut dalam air
+
Reagen 2. Endapan
putih + R.Millon
(tak
Millon
berwarna) Larut dengan endapan
3. Filtrat + reagen
putih
Endapan Merah
biuret
3. Filtrat (tak bewarna) + CuSO4 (biru) +
NaOH Larutan Biru
5 ml putih telur 5% Putih telur 5%(keruh) + CH3COOH (tak
Uji
+
2
tetes berwarna) larutan putih
larutan
Koa
CH3COOH
putih terdapat koagulan
gula panaskan 5 menit, saring
koagulan si
lalu:
Reaksikan endapan a.
kedalam millon 1 Millon (tak berwarna) + koagulan (putih)
larutan tak berwarna + ` coklat
Putih ml
Air
(tak
berwarna)
+
Reaksikan endapan telur
kedalam air 1 ml
koagulan(putih)
lautan keruh
+

Berea
ksi
positif

Berea
ksi
positif

Putih
Telur
Berea
ksi
positif

coklat
-

- 5 ml Kuning Telur
5% + 2 tetes
b.
CH3COOH
Kuni
panaskan 5 menit,
ng
saring
koagulan
lalu:
telur

Tidak Dilakukan

c.
Susu
bubu
k

Reaksikan endapan
kedalam millon 1
ml
Reaksikan endapan
kedalam air 1 ml
5 ml susu bubuk
5% + 2 tetes
CH3COOH
panaskan 5 menit,
saring
koagulan
lalu:
Reaksikan endapan
kedalam millon 1
ml
Reaksikan endapan
kedalam air 1 ml

Susu
bubuk
5%(putih)
+
CH3COOH (tak berwarna)
larutan putih
larutan putih
terdapat koagulan
-

Susu
Bubuk
Berea
ksi
positif

Millon (tak berwarna) + koagulan


(putih) larutan tak berwarna + `
coklat
Air
(tak
berwarna)
+
koagulan(putih) lautan keruh +
coklat

d.
Susu
cair

Peng
enda
pan
deng
an
Alko
hol
a.

- 5 ml susu Cair 5%
+ 2 tetes CH3COOH
panaskan 5 menit,
saring koagulan lalu:
Reaksikan endapan
kedalam millon 1
ml
Reaksikan endapan
kedalam air 1 ml
Tabung 1
5ml putih
telur 2% +
1 ml HCl
0,1 M +
6ml
etil
alcohol
95%

Tidak Dilakukan

Putih telur 2%(lautan keruh) + HCl


(tak berwarna) larutan keruh +
etil alcohol 95% (tak berwarna)
larutan keruh
Putih telur 2%(lautan keruh) +

Putih
telur

b.
Kuni
ng
telur

Tabung 2
5ml putih
telur 2% +
1 ml NaOH
0,1 M +
6ml
etil
alcohol
95%
Tabung 3
5m
l putih telur
2% + 1 ml
buffer
asetat, pH
4,7 + 6ml
etil alcohol
95%
Tabung 1
5ml kuning
telur 4% +
1 ml HCl
0,1 M +
6ml
etil
alcohol
95%
Tabung 2
5ml kuning
telur 4% +
1 ml NaOH
0,1 M +
6ml
etil
alcohol
95%
Tabung 3
5m

NaOH(tak berwarna) larutan


keruh + etil alcohol 95% (tak
berwarna) larutan keruh
Putih
telur
2%(lautan
keruh) + buffer asetat (tak
berwarna) larutan keruh + etil
alcohol 95% (tak berwarna)
larutan keruh terdapat endapan

Kuning
telur
4%(tak
berwarna) + HCl (tak berwarna)
larutan tak berwarna + etil alcohol
95% (tak berwarna) larutan
berwarna putih seperti susu
Kuning telur 4%(tak berwarna) +
NaOH(tak berwarna) larutan tak
berwarna + etil alcohol 95% (tak
berwarna) larutan berwarna
putih seperti susu
Kuning
telur
4%(tak
berwarna) + buffer asetat (tak
berwarna) larutan tak berwarna +
etil alcohol 95% (tak berwarna)
larutan berwarna putih susu

l
kuning
telur 4% +
1 ml buffer
asetat, pH
4,7 + 6ml
etil alcohol
95%
Ta
bung
1
:
c.
5
Susu
ml
susu
bubu
bubuk 2%
+ 1 ml HCl
k
0,1 M + 6
ml
etil
lkohol 95%
Ta
bung 2 :
5
ml
susu
bubuk 2%
+ 1 ml
NaOH 0,1
M + 6 ml
etil lkohol
95%
Ta
bung 3 :
5
ml
susu
bubuk 2%
+ 1 ml
buffer
asetat pH
4,70 + 6 ml
etil lkohol
95%
- Tabung 1 :
- 5 ml susu cair 2% +
d.
1 ml HCl 0,1 M + 6
Susu
ml etil lkohol 95%
cair - Tabung 2 :

Tabung 1 :
Larutan susu bubuk 2%
(putih) + HCl 0,1 M (tidak
berwarna) + etil alcohol (tidak
berwarna) larutan (tidak
berwarna) + koagulan (putih)
Tabung 2 :
Larutan susu bubuk 2%
(putih) + NaOH 0,1 M (tidak
berwarna)+ etil alcohol (tidak
berwarna) larutan (putih keruh)
Tabung 3 :
Larutan susu bubuk 2%
(putih) + buffer asetat pH 4,7 (tidak
berwarna) + etil alcohol (tidak
berwarna

larutan
(tidak
berwarna + koagulan (putih)

Tidak dilakukan

Den
atur
asi
Prot
ein
a.
Putih
telur

- 5 ml susu cair 2% +
1 ml NaOH 0,1 M +
6 ml etil lkohol 95%
- Tabung 3 :
- 5 ml susu
cair 2% + 1 ml
buffer asetat pH 4,70
+ 6 ml etil lkohol
95%
Tabung 1

9ml putih
telur + 1ml HCl
0,1M; didihkan; +
larutan buffer asetat
Tabung 2
9ml putih

Tidak dilakukan

telur + 1ml NaOH


0,1M; didihkan; +
larutan

buffer

asetat
-

Tabung 3

9ml

putih

telur + 1ml buffer


asetat; didihkan
b.
Kuni
ng
telur

Tabung 1
9ml kuning
telur + 1ml HCl
0,1M; didihkan; +
larutan
buffer
asetat
Tabung 2
9ml kuning
telur + 1ml NaOH
0,1M; didihkan; +
larutan buffer asetat
Tabung 3
9ml kuning
telur + 1ml buffer

Tidak dilakukan

c.
Susu
bubu
k

asetat; didihkan
- 9ml susu
bubuk
+
1ml
HCl
0,1M;
didihkan; +
larutan
buffer
asetat
- 9ml susu
bubuk
+
1ml NaOH
0,1M;
didihkan; +
larutan
buffer
asetat
- 9ml susu
bubuk
+
1ml buffer
asetat;
didihkan

d.
Susu
cair

9ml susu
cair + 1ml
HCl 0,1M;
didihkan; +
larutan
buffer
asetat
9ml susu
cair + 1ml
NaOH
0,1M;
didihkan; +
larutan
buffer
asetat
9ml susu
cair + 1ml
buffer
asetat;
didihkan

Susu bubuk 5% (putih) + HCl (tak


berwarna)Larutan
putih
Larutan putih + larutan buffer
asetat (tak berwarna) larutan
putih ada endapan
Susu bubuk 5% (putih) +
NaOH(tak berwarna)
larutan
putih + larutan buffer asetat
larutan putih, ada endapan
-

Susu cair 5% (putih) + buffer asetat


Larutan keruh endapan putih
Susu cair 4% (putih) + HCl
Larutan
keruh
menghasilkan
endapan putih + larutan buffer
asetat sedikit endapan
Susu cair 4% (putih) + HCl
Larutan
keruh
menghasilkan
endapan putih + larutan buffer
asetat sedikit endapan
Susu cair 4% (putih) + NaOH
larutan berwarna kuning + larutan
buffer asetat tidak menghasilkan
endapan
Susu cair 4% (putih) + buffer asetat
Endapan putih

VIII. PERSAMAAN REAKSI


-

Uji Biuret
R
O

CH C
C

CH

CH

2 Cu 2

N CH
H R

larutan protein

Pengendapan dengan Logam

reagen biuret

OH-

Pengendapan dengan Garam

H2O,H

[ - NHCHC NHCHC - ]n

NH2Cl + COOH + NH2CH2COOH

kalor

Uji Koagulasi

Endapan + Reagen Millon


Uji MILLON
HO

O
OH
H

Hg

H
mercuri

tyrosin
O
OH
HgO

HO
+

H
berwarna merah bata

NO 2

Filtrat + Air (H2O)


-

H2O
-

H
[ R C COO- ]n

H+

(suasana asam)
NH2

- Atau
H2O

H
[ R C COOH]n

(suasana

basa)
-

NH 2

Pengendapan dengan Alkohol


-

Denaturasi Protein

Reaksi protein dengan HCl yang di lanjutkan dengan pemanasan selama


15 menit membuat protein terdenaturasi

COO -

COOH

[ H3N+ - C H ]n + H+

[ H3N+ - C H]n

asam

COO -

COO -

[ H3N+ - C H]n + OH-

basa

[ H2N C H ]n + H2O
R

IX. PEMBAHASAN
-

Uji Biuret

Pada uji biuret, uji positif akan menghasilkan warna violet. Hal ini disebakan

penambahan CuSO4 sehingga terbentuk kompleks antar Cu2+dengan gugus amino dari protein.
Makin kuat intensitas warna ungu yang dihasilkan ini menunjukan makin panjang ikatan
peptidanya.
-

Pengendapan dengan Logam


Pada uji pengendapan logam dihasilkan endapan berwarna putih dan larutan

keruh. Endapan yang terbentuk merupakan endapan yang berasal dari protein yang diuji,

endapan ini terjadi karena adanya reaksi logam Pb dngan protein. Logam Pb ini merupakan
logam yang mengandung ion positif. Dimana salah satu sifat dari logam yang mengandung ion
positif dapat menghasilkan endapan jika direaksikan dengan protein. Sama halnya dengan Hg
yang juga merupakan logam yang mengandung ion positif yang juga dapat menghasilkan
endapan jika direaksikan dengan protrein dasar reaksi pengendapan oleh logam berat adalah
penetralan muatan. Dimana pengendapan akan terjadi bila protein berada dalam bentuk
isoelektrik yang bermuatan negatif, dengan adanya muatan positif dari logam berat akan
terjadi reaksi netralisasi dari protein dan dihasilakan garam proitein yang mengendap.
Endapan ini akan melarut kembali dengan penambahan alkali yang sifat pengendapan ini
adalah reversibel.
-

Pengendapan dengan Garam


Pada pengendapan garam jika protein ditambahkan dengan (NH4)2SO4 maka

akan terbentuk endapan, hal ini karena kemampuan garam mengikat molekul air yang
menyebabkan garam berkompetisi dengan molekul protein untuk mengikat air. Endapan ini
menunjukkan atau merupakan hasil dari garam-garam organic dalam persentase tinggi yang
dapat mempengaruhi sifat kelarutan protein. Pengendapan yang dikarenakan penambahan
ammonium sulfat menyebabkan terjadi dehidrasi protein atau sering dikenal dengan
kehilangan air, sehingga proses dehidratasi ini molekul protein yang mempunyai kelarutan
paling kecil akan mudah mengendap.
-

Hasil pencampuran antara serbuk ammonium sulfat dengan protein

menghasilkan endapan dan filtrate. Pada endapan yang dihasilkan ditambah reagen milon dan
dipanaskan menghasilkan warna merah bata yang diakibatkan adanya garam-garam organic
dalam persentase yang tinggi dalam larutan protein. Hal ini dikarenakan karena pereaksi
millon adalah larutan merkuro dan merkuri nitrat dalam asam nitrit. Sedangkan pada filtartnya
diuji dengan buret dan dihasilkan warna ungu.
-

Uji Koagulasi
Pada percobaan uji koagulasi, jika protein ditambahkan dengan larutan asam

atau basa, maka akan terdenaturasi atau terjadi penggumpalan. Penggumpalan ini dapat juga
terjadi karena pemanasan yang dilakukan, dengan proses pemanasan struktur protein akan

menjadi rusak, untuk itulah pada percobaan ini diperoleh endapan, setelah endapan diperoleh
ditambahkan dengan reagen millon dan menghasilkan larutan bening dan endapan merah. Hal
ini menunjukkan bahwa uji koagulasi menghasilkan positif terhadap uji millon. Pada
pemanasan 50 derajat protein sudah mengalami koagulasi. Koagulasi ini terjadi bila larutan
protein berada pada titik isoelektriknya. Ion-ion logam berat yang masuk ke dalam tubuh akan
bereaksi

dengan

sebagian

protein,

sehingga

menyebabkan

terjadinya

koagulasi

(penggumpalan).
-

Pengendapan dengan Alkohol


Pada percobaan pengendapan dengan alkohol hasil yang diperoleh untuk

tabung I dan II tidak terdapat endapan, sedangkan tabung III terdapat cincin, hal ini
menunjukkan bahwa tabung III positif terhadap uji ini. Dimana masing-masing mendapatkan
perlakuan yang berbeda-beda, untuk tabung 1 protein yang ditambahakan HCl menghasilkan
protein yang larut dalam air, begitu juga dengan tabung II yaitu dengan penambahan NaOH.
Sedangkan untuk tabung III protein yang terdapat dalam tabung tersebut tidak dapat larut, hal
ini dikarenakan penambahan larutan buffer asetat berfungsi untuk permunian protein, sehingga
protein yang terdapat dalam tabung III dapat larut.
-

Denaturasi Protein
Percobaan denaturasi protein menunjukkan perubahan sifat fisik dari protein,

perubahan ini dapat disebabkan oleh beberapa hal diantaranya yaitu perubahan suhu (akibat
adanya pemanasan) dan adanya reagen yang digunakan. Denaturasi dilakukan dengan
penambahan asam yang menyebabkan susunan tiga dimensi khas dari rantai polipeptida
terganggu dan molekul ini terbuka menjadi struktur acak yang kita lihat seperti berbentuk tali,
namun tidak menyebabkan kerusakan pada struktur kovalennya. Denaturasi protein
menyebabkan terjadinya pemutusan ikatan-ikatan hidrogen pada struktur protein dan kacaunya
gaya-gaya sekunder lain karena pengaruh pemanasan serta penambahan larutan lain
kedalamnya yang dapat membuat perubahan pH pada protein tersebut. Penambahan asam pada
larutan percobaan ini sangat mendukung terjadinya denaturasi pada protein.
-

Penambahan HCl pada larutan protein ini akan membuat kesetimbangan asam-

basa bergeser sedemikian rupa sehingga muatan netto negatif pada asam amino berkurang dan
pH larutan menjadi lebih rendah. Namun, protein yang telah ditambahkan HCl lalu

dipanaskan, tidak menunjukkan pengendapan. Setelah ditambahkan buffer asetat berlebih,


protein lalu mengendap pada titik isolistriknya. Dan protein mengalami denaturasi atau
mengendap pada titik isolistriknya, yaitu pH dimana jumlah muatan positif sama dengan
jumlah muatan negatifnya. Endapan yang dihasilkan berupa endapan putih.
-

Dalam percobaan ini hanya tabung III yang menghasilkan endapan, ini

merupakan protein yang terkoagulasi akibat adanya pemanasan. Protein sangat peka terhadap
lingkungan apalagi adanya perubahan suhu, hal ini menyebabkan larutan menjadi keruh dan
adanya gumpalan-gumpalan dari protein yang terdenaturasi. Perubahan kimia yang
berhubungan dengan denaturasi protein adalah protein dapat dipengaruhi bukan hanya oleh
adanya pemanasan, tetapi juga pH dan juga pelarut organiknya.
X. KESIMPULAN
-

Adapun kesimpulan dari hasil percobaan mengenai reaksi uji terhadap protein

ini antara lain :


1. Makin kuat intensitas warna ungu yang dihasilkan pada uji biuret menunjukan makin
panjang ikatran peptidanya
2. Koagulasi dapat terjadi bila larutan protein berada pada titik isoelektriknya. Ion-ion
logam berat yang masuk ke dalam tubuh akan bereaksi dengan sebagian protein,
sehingga menyebabkan terjadinya koagulasi (penggumpalan).
3. Dalam uji denaturasi protein, hanya tabung tiga yang terdapat endapan, ini merupakan
protein yang terkoagulasi, akibat adanya pemanasan karena protein sangat peka
terhadap lingkungan apalagi adanya perubahan suhu, hal ini menyebabkan larutan
menjadi keruh dan adanya gumpalan-gumpalan dari protein yang terdenaturasi
4. Endapan yang bewarna merah pada uji pengendapan merupakan hasil dari garamgaram organik dalam persentase tinggi yang dapat mempengaruhi sifat kelarutan
protein.
5. Pada uji pengendapan, endapan yang dihasilkan bewarna putih dan larutan yang keruh,
endapan yang dihasilkan tersebut berasal dari protein yang diuji, endapan ini terjadi
karena adanya reaksi logam Pb dengan protein
XI. JAWABAN PERTANYAAN

Uji Biuret

1. Warna apa yang terjadi ?


-

Jawab : Warna ungu/violet

2. Mengapa harus dihindarkan kelebihan CuSO4 ?


-

Jawab : Karena akan menghasilkan warna larutan yang lebih pekat atau akan
terbentuk garam amonium.

3. Mengapa garam amonium mengganggu ?


-

Jawab : Karena garam amonium akan mengganggu pengamatan terhadap warna larutan.

4. Sebutkan dua macam zat lain selain protein yang memberikan uji biuret positif ?
-

Jawab : Zat lain yang memberikan uji biuret positif yaitu histidin dan serin, juga urea.
-

Pengendapan dengan Logam

1. Apa hasilnya ?
- Jawab : Hasilnya adalah terbentuknya endapan putih.
2. Terangkan mengapa putih telur digunakan sebagai antidote pada keracunan Pb dan Hg !
-

Jawab : Putih telur digunakan sebagai antidote pada keracunan Pb dan Hg karena
protein atau putih telur dapat mengikat Pb dan Hg.

Pengendapan dengan Garam

Terangkan hasil-hasilnya !

Jawab : Larutan protein setelah ditambah garam amonium sulfat akan membentuk
endapan, yang positif terhadap uji biuret membentuk warna ungu dan positif terhadap
uji Millon membentuk endapan merah bata.
-

Uji Koagulasi

1. Mengapa ditambahkan asam ?


- Jawab : Ditambahkan asam bertujuan untuk mengkoagulasikan protein.
2. Protein apa yang menggumpal pada pendidihan ?
- Jawab : Semua protein menggumpal pada pendidihan kecuali glisin.
-

Pengendapan dengan Alkohol

Tabung-tabung mana yang menunjukkan protein yang tidak larut ? Apakah


kelarutan albumin dalam air pada titik isoelektriknya ?

Jawab : Semua tabung menunjukkan protein tidak larut, namun pada tabung 3 paling
jelas terlihat. Kelarutan albumin dalam air berada pada titik isoelektriknya.
-

Denaturasi Protein

1. Sifat fisik apa dari protein yang mempengaruhi kelarutan dari protein dalam percobaan ini ?
-

Jawab : Sifat protein yang sangat peka terhadap perubahan lingkungan, misalnya
perubahan suhu, pH, pengendapan protein yang semula larut atau perubahan tipe
pelarut.

2. Metoda lain apakah yang digunakan untuk denaturasi protein ?


- Jawab : Penambahan zat pengoksidasi atau pereduksi dan perubahan tipe pelarut.
3. Perubahan kimia apa yang berhubungan dengan denaturasi telur ?
- Jawab : Perubahan ikatan dan struktur molekulnya.
-

Uji Sulfur dalam Protein

1. Mengapa protein memberikan uji positif untuk sulfur ?


-

Jawab : Karena dalam protein terdapat asam amino sistein yang memiliki gugus tiol
yang mengandung unsur S (sulfur).

2. Unsur-unsur apa yang biasa ada dalam protein tetapi tidak ada dalam lipid dan karbohidrat?
- Jawab : Unsur N (Nitrogen)
XII. DAFTAR PUSTAKA
-

Fessenden, JR & Fessenden, JS. 1986. Kimia Organik Jilid 2 Edisi Ketiga. Jakarta:
Erlangga.

Lehninger, Albert L. 1982. Dasar-dasar Biokimia Jilid 1. Jakarta: Erlangga.

Poedjiadi, A. (1994). Dasar-dasar Biokimia. Jakarta: UI-Press.

GAMBAR ALAT

Gelas ukur

Beker gelas
-

Tabung reaksi

Rak tabung reaksi

Penjepit kayu

Labu ukur

Pipet tetes

Pemanas Bunsen

Batang pengaduk

- LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA 1


- REAKSI UJI PROTEIN
-

OLEH :

NAMA : Dewi Purnama Sari


-

NIM : 06101010034
-

DOSEN PENGASUH :

Drs. Made Sukaryawan, M.Si


-

Desi, S.Pd, MT
-

- PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA


- FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
- UNIVERSITAS SRIWIJAYA
-

SEMESTER GANJIL 2012/ 2013