Anda di halaman 1dari 7

Ban dan Velg bagi sepeda motor bisa dibilang salah satu komponen

terpenting. Kalo nggak pakai ban, bagaimana mungkin motor kesayangan


kita bisa jalan ... ya nggak?
Untuk mengenal lebih jauh mengenai ban dan velg.
I. STRUKTUR BAN
1. Tread adalah bagian telapak ban yang berfungsi untuk melindungi ban
dari
benturan, tusukan obyek dari luar yang dapat merusak ban. Tread
merupakan
bagian ban yang menggunakan bahan karet paling banyak. Ketebalannya
sekitar
6 mm. Bahan karet untuk tread merupakan kombinasi antara karet alam
dan
sintesis. Natural Rubber memberikan daya lengket ke aspal, sedang
Synthesis
Rubber berguna menambah daya tahan ban karena gesekan. Tread dibuat
banyak
pola (kembangan) yang disebut Pattern.
2. Breaker dan Belt adalah bagian lapisan benang (pada ban biasa terdiri
dari 4 lapis) yang diletakkan diantara tread dan Casing. Berfungsi untuk
melindungi serta meredam benturan yang terjadi pada Tread agar tidak
langsung diserap oleh Casing.
3. Casing adalah lapisan benang pembentuk ban dan merupakan rangka
dari ban
yang menampung udara bertekanan tinggi agar dapat menyangga ban.
4. Sidewall adalah sisi samping kiri dan kanan ban. Berfungsi sebagai
penopang / dinding ban.
5. Bead adalah bundelan kawat yang disatukan oleh karet yang keras dan
berfungsi seperti angkur yang melekat pada Pelek (velg).
6. Rimline adalah garis yang menandakan posisi bibir pelek. Dapat juga
dipakai sebagai pedoman lurusnya ban mendekap pelek.
II. SIMBOL / KODE BAN
Selain terdapat Merk dan Type Ban, kalau kita perhatikan disekujur
permukaan
ban tertera banyak symbol / kode. Mungkin diantara kita masih ada yang
bingung dengan banyaknya simbol / kode yang ada pada ban. Apa sih
maksudnya...?
Berikut ini akan dibahas beberapa simbol yang paling sering ada pada
permukaan ban.
a) Ukuran Ban

Biasanya akan ditandai dengan kode dengan angka-angka seperti 3.00-18


atau
70/90-17 dll. Lantas, apa bedanya ukuran ini? Agar tidak salah kaprah,
ingat dulu teori
dasarnya. Misal 70/90-17. Maka angka pertama 70, menunjukkan lebar
ban dalam
satuan milimeter, dan 90 persentase rasionya (persentase lebar ban dari
tingginya). Sedang angka ketiga, 17, artinya diameter pelek dalam satuan
inci. Jadi, ban 70/90-17 punya makna; lebar tapak ban 70 mm, dengan
tinggi 90% x
70 mm = 63 mm. Dan diameter ban 17 inci.
Contoh lain, 3,00-18 inci. Orang awam biasa menyebutnya 'tiga ratus
delapan
belas'. Angka 3.00 menunjukkan lebar ban 3 inci, sedang 18 berarti
diameter
pelek, juga dalam satuan inci.
Lalu berapa tinggi ban ukuran 3.00-18?
Sebenarnya, cara membacanya sama. Angka pertama itu lebar, kedua
rasionya
dan ketiga diameter. Tapi kalau angka ke dua tidak ada, dianggap rasionya
100%. Jadi ban belakang GL-Pro tebalnya 100% x 3 = 3 inci.
Ada pertanyaan menarik: Samakah ban ukuran 70/90-17 dengan 2.5017?
Yang ini menghitungnya gampang. Ingat saja, 1 inci = 2,54 cm atau 25,4
mm.
Berarti lebar tapak dan tinggi ban, 2,5 x 25,4 mm = 63,4 mm. Artinya,
ban
70/90-17 lebih lebar dan lebih tipis dikit (0,4 mm) dari ban 2.50-17 .
b) Batas TWI
Thread Wear Indication (TWI) alias indikator batas pemakaian. Pada ban
ditandai segitiga. Kode ini menunjukkan batas paling minim alur ban.
Batas
ketebalan alur ban yang ditunjukkan segitiga berupa tonjolan yang ada di
dasar ban. Jika ketebalan pola ban sama dengan tonjolan tersebut, berarti
ban mesti diganti.
c) Usia Produksi
Di tunjukkan empat angka yang terdapat di sisi ban. Misalnya, 2103
Angka
tersebut menyiratkan periode produksi ban. Dua angka pertama
menunjukan
minggu, dua angka terakhir berarti tahun pembuatan. Jadi kalau dibaca,
kode
di atas berarti, ban diproduksi pada minggu ke-21 tahun 2003. Kode
angka ini
penting, mengingat semakin lama ban tersimpan, semakin rentan
terhadap
kerusakan akibat kekerasan kompon ban.

d) Simbol Kecepatan
Simbol kecepatan adalah simbol (huruf alfabet) yang menunjukan batas
maksimum kecepatan sebuah ban yang dipacu dengan membawa beban
yang sesuai
dengan spesifikasi yang telah ditetapkan dalam standar, selama 1 (satu)
jam
terus menerus.
SIMBOL
KECEPATAN

A1
A2
A3
A4
A5
A6
A7
A8
B
C
D
E
F
G

KECEPATAN(KM/JA
M)
5
10
15
20
25
30
35
40
50
60
65
70
80
90

SIMBOL
KECEPATAN
K
L
M
N
P
Q
R
S
T
U
H
V
W
Y

KECEPATAN(KM/JA
M)
110
120
130
140
150
160
170
180
190
200
210
240
270
300

J 100 Z DI ATAS
240
Ambil contoh ban DURO tercantum 90 / 80 -17 46P. Huruf terakhir itulah
yang
menerangkan indeks kecepatan maksimalnya. Pada tabel huruf P artinya
ban
sanggup digeber hingga kecepatan 150 km/jam. Kode ini masih layak
dipakai
pada Motor Satria F 150. Beda lagi jika buat kebutuhan balap. Hurufnya
lebih
tinggi lagi. Misalnya Bridgestone Battlax tertulis S sanggup melayani
kecepatan 180 km/jam.
e) Arah Perputaran Ban
Ditandai dengan kode berupa anak panah. Tanda ini digunakan sebagai
patokan
posisi pemasangan ban yang benar. Arah berputarnya roda harus searah
dengan
tanda anak panah tersebut. Karena jika posisi pemasangannya terbalik
maka
Pattern ban (pola kembangan ban) tidak berfungsi dengan baik.

f) Simbol Ban Depan atau Belakang


Pada ban merk tertentu, biasanya akan ada simbol tambahan (huruf
alphabet)
yang membedakan antara ban untuk roda depan dengan ban untuk roda
belakang.
Biasanya digunakan simbol F atau R.
Simbol F kepanjangan dari "Front" yang berarti ban tersebut special
didesain untuk ban depan. Sedangkan R kepanjangan dari "Rear" yang
berarti ban tersebut special didesain untuk ban belakang. Pembedaan ini
biasanya dikarenakan adanya perbedaan fungsi antara
ban depan dengan ban belakang. Ban depan lebih berfungsi sebagai
Steering
atau penentu arah gerak. Sedang ban belakang sebagai penerus
perpindahan
daya ke gerak, jadi traksi sangat dibutuhkan. Makanya pattern didesain
lebih
bisa menggigit. Selain itu, biasanya berat dan jenis kembangan ban depan
dan
belakang biasanya akan sedikit berbeda.
g) Petunjuk Beban Maksimum
Biasanya pada ban juga terdapat petunjuk yang menerangkan beban
maksimum
yang dapat ditahan oleh ban tersebut. Seperti MAX. LOAD 375 LBS AT 32
P.S.I.
COLD yang artinya ban tersebut mampu menahan berat maksimal sampai
375 Lbs
atau sekitar 170 Kg ( 1 Lbs = + 450 gr ) pada tekanan angin 32 psi
dengan
kondisi ban dingin (tidak dipakai).
h) Simbol-simbol Lain
Selain simbol-simbol yang diatas, masih ada juga beberapa simbol,
seperti :
- Tulisan Tubeless atau Tube Type. Untuk ban dengan tulisan Tube Type,
sangat dianjurkan penggunaan ban dalam. Meskipun sekarang banyak
yang
menawarkan ban tipe ini bisa dirubah menjadi type Tubeless. Hal ini
dikarenakan susunan bahan pembuat ban Tubeless dan ban Tube Type
berbeda.
- Garis berwarna pada Kembangan Ban. Warna garis ini bisa berbeda pada
tiap
pabrikan, bisa Merah, Biru, Hijau, Kuning, Putih. Menandakan ban tersebut
masih baru atau belum dipakai.
3. KOMBINASI PELEK DAN BAN IDEAL
Gara-gara pengen dibilang gaul, pemakai motor harian ikut-ikutan
mengganti
ban ukuran kurus ala drag atau gendut ala road race tanpa
memperhatikan

ukuran peleknya. Ingat, buat aplikasi sehari-hari nggak boleh


sembarangan
karena pada pemakaian sehari-hari jalanan yang dilewati bervariasi (
berlubang, becek, berlumpur, tanjakan, tikungan, berpasir, hujan, dll.) ga
seperti track road race yang aspalnya mulus atau track lurus drag race
yang
cuma 402 meter.
Kombinasi ban dan pelek tak sesuai berakibat ban meninggi atau melebar
dari
ukuran standar. Bila tapak ban terlalu besar ketimbang tapak pelek, ban
cenderung meninggi dan jadi lancip. Sehingga rawan melejit dari jepitan
pinggir pelek yang kelewat sempit. Biasanya terjadi bila memaksa pakai
ban
ukuran besar tanpa diikuti ganti pelek lebar. Jika tapak ban lebih kecil
daripada tapak pelek, ban akan melebar dan jadi kotak. Akibatnya bibir
ban
ditarik paksa melewati batas agar menempel ke pinggir pelek. Belum lagi
suspensi motor terasa lebih keras karena fungsi ban meredam beban
menurun.
Contohnya, aplikasi ban drag di motor harian. Ban lancip atau kotak sama
ruginya. Jika lancip, saat jalan tegak, gigitan karet bundar ke aspal gak
maksimal. Bahayanya di jalan gak rata, motor oleng. Saat menikung pun
ban lancip tidak lantas lebih baik. Sebab, tapak
sampingnya yang besar bisa menipu kita. Rasanya ban masih menapak.
Padahal,
motor udah terlalu rebah. Kalo tidak disadari, tau-tau ngegelosor. Ban
kotak pun tak kurang ruginya.
Kalau saat jalan tegak sih enak bener. Tapi, Giliran mau nikung,
permukaan ban yang menempel di aspal minim. Jika maksa rebah, pasti
langsung mencium tanah. Sebaiknya naik turun lebar tapak ban jangan
melebihi 1 tingkat. Misalkan pelek depan 1,60x17 inci dengan ban
standarnya 70/90-17 dapat diganti dengan ukuran ban 80/90-17 atau
pelek belakang 1,85x17inci dengan ban standarnya 80/90-17 dapat
diganti dengan ban 90/90-17.
4. KEMBANGAN / PATTERN BAN
Perhatikan baik-baik ban motor sekarang. Masing-masing tampil dengan
pola
kembangan alias pattern beragam. Umumnya desain kembangan bergaya
semi
balap. Jelas itu bukan sekadar pemanis, pola kembangan memiliki
beberapa
fungsi. Pertama, Aqua Planning Phenomenon (APP) alias fenomena ban
mengapung. Sehingga, kembangan berguna untuk jalur membelah air.
Kedua,
melepas panas.Terakhir, sebagai fashion. Nah, APP itu dipengaruhi oleh
pola

kembangan.
Setiap pabrikan ban mendesain kembangan yang berbeda, sesuai
kebutuhan
kendaraan. Misalnya, untuk jalan basah, kering, bergelombang dan
kecepatan
tinggi.
Penentuan jenis pattern pada kendaraan, didasari riset masing-masing
pabrikan. Hal yang mendasari antara lain bobot, desain dan power, juga
karakter kendaraan.
Beberapa produsen berbeda di soal penamaan pola kembangan.
Pabrikan Ban Federal membagi dua. Pertama, jenis konvensional atau
campuran
alias ngeblok. Kedua, jenis sporty yang ulir kembangnya lebih halus
menyerupai ban balap road race. Karet bundar standar lebih bernuansa
campuran. Pola ini untuk segala medan. Bisa kering, licin, bergelombang,
dan kecepatan tinggi. Sedang Pabrikan Ban IRC membagi dengan slick
(kering) dan wet (basah).
Pola kering ditandai dengan kembangan garis lurus tidak terlalu banyak.
Sedangkan
basah dengan pola kembangan lebih rapat.
Gimana jika ingin ganti ban baru?
Idealnya ikuti pattern orsinal pabrik. Tapi kalau mau beda, perhatikan jalan
yang dilaluinya. Lebih dominan becek, pilih kembangan campuran.
Seandainya
jalan yang dilewati mulus, lebih enak pakai pattern sporty.
5. HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN SAAT GANTI BAN
1. Jangan gengsi membawa ban ketukang tambal ban langganan meski
jauh
lokasinya. Karena jika kita asal pilih tukang tambal ban terdekat yang kita
belum kenal, biasanya tukang tambal ban tidak hati-hati mengerjakannya.
Akibatnya, bisa lecet bibir pelek kena alat congkelnya. Pilih tukang tambal
ban yang mempunyai alat pelindung bibir pelek.
2. Air sabun dapat digunakan sebagai alat bantu memasukkan ban ke
pelek dan
membantu gerakan mengembangnya ban pada saat diisi angin, sehingga
ban
mendekap rata dan sempurna pada bibir pelek.
3. Tekanan Angin. Isi angin sesuai anjuran pabrikan. Untuk Satria F 150
tertera pada swing arm sebelah kiri, dekat rantai. Yaitu sekitar 32 psi
untuk ban depan dan 36 psi untuk ban belakang. Pada saat musim hujan,
tekanan ini dapat diturunkan sekitar 5 psi tujuannya agar cengkeraman
ban ke
aspal lebih maksimal. Tetapi apabila ban agak kempis terus dipakai di

jalanan kering, konsekuensinya bensin agak boros. Apalagi kalau dipakai


berboncengan efeknya cukup terasa. Paling enak sih tekanan normal saja.
tekanan ban depan 28 - 30 psi lalu belakangnya 32-34 psi.
4. Saat musim hujan disarankan memilih ban dengan kompon lembut.
Karena
karet yang soft memiliki daya cengkeram lebih maksimal. So, pas banget
buat
melibas jalanan basah. Tetapi konsekuensinya usia pakai tipe soft
compound
lebih pendek alias cepat habis. Kebalikan bila pilih kompon keras. Usia
pakainya lama namun saat hujan terasa licin. Ingat! Keras di sini
maksudnya
bukan karena usia pakai lo.
5. Jangan langsung tancap gas setelah kelar mengganti ban. Tekan
beberapa
kali rem agar tekanan minyak rem kembali normal. Karena biasanya
ketika
pasang kembali piringan ke kaliper, pelat kampas rem kena cungkil obeng
untuk memudahkan pemasangan kembali piringan di kaliper. Ini berakibat
tekanan minyak rem melemah saat kampas kena congkel.
[Sumber: Berbagai macam info, tips, dan trick mengenai ban]