Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN
Evaluasi merupakan salah satu dari proses ataupun siklus kebijakan publik
setelah perumusan masalah kebijakan, implementasi kebijakan, dan monitoring
atau pengawasan terhadap implementasi kebijakan (William N Dunn, 1998).
Pada dasarnya, evaluasi kebijakan bertujuan untuk menilai apakah tujuan dari
kebijakan yang dibuat dan dilaksanakan tersebut telah tercapai atau tidak. Tetapi
evaluasi tidak hanya sekedar mengahasilkan sebuah kesimpulan mengenai
tercapai atau tidaknya sebuah kebijakan atau masalah telah terselesaikan, tetapi
evaluasi juga berfungsi sebagai klarifikasi dan kritik terhadap nilai-nilai yang
mendasari kebijakan, membantu dalam penyesuaian dan perumusan masalah pada
proses kebijakan selanjutnya.
Setiap entitas publik mempunyai tanggungjawab terhadap stakeholder,
terutama adalah masyarakat yang merupakan customer dari setiap kebijakan yang
ditawarkan. Suatu program akan lebih mudah disusun melalui upaya penyusunan
perencanaan secara detail dan komprehensif. Akan tetapi, seringkali ditemukan
kesulitan bagaimana cara mengaplikasikan, dan bagaimana cara memonitornya.
Setiap langkah dalam mencapai tujuan kebijakan publik, selalu kita temukan
pelaksanaan tugas monitoring yang melekat dalam sistem, atau dalam bentuk
kerangka acuan tugas, yang pada titik tertentu merupakan langkah dari
pelaksanaan fungsi evaluasi.

BAB II
ISI
2.1

Pengertian Kebijakan Publik


Menurut Thomas R Dye dalam Understanding Public Policy, kebijakan

publik adalah whatever governments choose to do or not to do (apapun pilihan


pemerintah untuk

melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Atau menurut

Anderson yang dikutip melalui situs Badan Kepegawaian Nasional (BKN),


kebijakan publik adalah those policies developed by governmental bodies and
officials (kebijakan-kebijakan yang dikembangkan

oleh

badan-badan

dan

pejabat-pejabat pemerintah). Sedangkan menurut Easton yang dikutip pada situs


yang sama, menyebutkan bahwa kebijakan publik adalah the autoritative
allocation of values for the whole society (pengalokasian nilai-nilai secara
sah kepada seluruh anggota masyarakat).
Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa kebijakan publik
adalah:
a. Kebijakan publik dibuat oleh pemerintah yang berupa tindakan-tindakan
pemerintah
b. Kebijakan publik baik untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu itu
mempunyai tujuan tertentu
c. Kebijakan publik ditujukan untuk kepentingan masyarakat.
Kebijakan publik adalah keputusan-keputusan yang mengikat bagi orang
banyak pada tataran strategis atau bersifat garis besar yang dibuat oleh pemegang
otoritas publik.
Sebagai keputusan yang mengikat publik maka kebijakan publik haruslah
dibuat oleh otoritas politik, yakni mereka yang menerima mandat dari publik atau
orang banyak, umumnya melalui suatu proses pemilihan untuk bertindak atas
nama rakyat banyak. Selanjutnya, kebijakan publik akan dilaksanakan oleh
administrasi negara yang dijalankan oleh birokrasi pemerintah. Fokus utama
kebijakan publik dalam negara modern adalah pelayanan publik, yang merupakan

segala sesuatu yang bisa dilakukan oleh negara untuk mempertahankan atau
meningkatkan kualitas kehidupan orang banyak.
2.2

Evaluasi
Seperti telah dikemukakan pada bagian pendahuluan bahwa evaluasi

merupakan salah satu dari prosedur dalam analisis kebijakan publik. Metodologi
analisis kebijakan publik pada hakikatnya menggabungkan lima prosedur umum
yang lazim dipakai dalam pemecahan masalah manusia yaitu definisi (perumusan
masalah), prediksi (peramalan), preskripsi (rekomendasi), dan evaluasi yang
berfungsi menyediakan informasi mengenai nilai atau kegunaan dari konsekuensi
pemecahan masalah atau pengatasan masalah. Kelima prosedur tersebut dapat
dilihat pada gambar 1.

Evaluasi adalah upaya yang berkenaan dengan produksi informasi mengenai


nilai atau manfaat hasil kebijakan. Sehingga tujuan evaluasi adalah untuk menilai
secara keseluruhan pengaruh dan dampak pada akhir program, yang akan menjadi
landasan untuk meningkatkan atau menyempurnakan kebijakan berkenaan

dengan program/kebijakan berikutnya (Riyadi, 2003: 268). Jadi, evaluasi


dilakukan pada akhir pelaksanaan suatu program. Oleh karena itu kita perlu
membedakan antara monitoring dan evaluasi. Siagian dalam bukunya Filsafat
Administrasi mengemukakan bahwa monitoring ialah proses pengamatan dari
pelaksanaan seluruh kebijakan untuk menjamin agar pelaksanaannya berjalan
sesuai dengan rencana atau tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Sedangkan
evaluasi didefinisikan sebagai proses pengukuran dan pembandingan dari hasilhasil pekerjaan yang nyatanya dicapai dengan hasil-hasil yang seharusnya dicapai.
Baik pengawasan maupun evaluasi dilaksanakan sebagai upaya untuk melakukan
perbaikan atas segala kegiatan. Atau menurut Said Zainal Abidin dalam Kebijakan
Publik (2004), monitoring ditujukan untuk menjawab pertanyaan tentang apaa
yang terjadi dalam proses pelaksanaan, bagaimana terjadinya dan mengapa terjadi.
Sedangkan evaluasi akhir menjawab persoalan tentang perubahan-perubahan apa
yang terjadi. Sehingga konsekuensi dari perbedaan fungsi ini terdapat perbedaan
pada informasi yang dihasilkan. Monitoring menghasilkan informasi yang
sifatnya empiris, sedangkan evaluasi menghasilkan informasi yang bersifat
penilaian

dalam

memenuhi

kebutuhan,

peluang

dan/atau

memecahkan

permasalahan.
Secara konseptual ada pandangan yang menyatakan bahwa evaluasi dapat
dilakukan pada seluruh periode kegiatan; artinya dapat dilakukan pada saat
kegiatan belum dilaksanakan, evaluasi pada saat kegiatan berjalan, dan setelah
kegiatan dilaksanakan (Riyadi, 2003:268). Oleh karena itu berdasarkan pandangan
tersebut, evaluasi dapat dibedakan menjadi:
1. Pra Evaluasi, yakni evaluasi yang dilakukan pada saat program belum
berjalan/beroperasi pada tahap perencanaan. Evaluasi pada periode ini
biasanya difokuskan pada masalah-masalah persiapan dari suatu kegiatan.
Dapat pula evaluasi itu didasarkan pada hasil-hasil pelaksanaan kegiatan
sebelumnya yang secara substansial memiliki keterkaitan dengan kegiatan
yang akan dilaksanakan. Atau dapat pula merupakan sebuah studi kelayakan
(feasibility) dari sebuah program untuk dilaksanakan. Evaluasi pada periode

ini biasanya meliputi aspek keuangan dan analisis ekonomis dari suatu
kegiatan (cost and benefit analysis).
2. Evaluasi pada saat program tengah berjalan, yang dikenal dengan on going
evaluation atau in operation evaluation, atau oleh Bintoro (1988) disebut juga
dengan mid term evaluation. Evaluasi pada periode ini biasanya difokuskan
pada penilaian dari setiap tahap kegiatan yang sudah dilaksanakan, walaupun
belum bisa dilakukan penilaian terhadap keseluruhan proses program. Dalam
prakteknya, evaluasi seperti ini berbentuk seperti laporan triwulan, semester,
atau tahunan (untuk kegiatan jangka menengah). Pada saat program atau
kegiatan tengah berjalan analisis evaluasi bersumber pada hasil pemantauan
yang dilaksanakan pada tahapan-tahapan kegiatan secara berkelanjutan dan
akan memberikan umpan balik untuk perencana dan pelaksana pembangunan.
3. Evaluasi setelah program selesai atau setelah program berakhir. Evaluasi ini
biasa disebut
terhadap

ex post evaluation. Pada evaluasi ini dilakukan penilaian

seluruh

tahapan

program

yang

dikaitkan

dengan

tingkat

keberhasilannya, sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan dalam


rumusan sasarn atau tujuan program.
2.3

Sifat Evaluasi
Gambaran utama evaluasi adalah bahwa evaluasi menghasilkan tuntutan-

tuntutan yang bersifat evaluatif. Di sini pertanyaan utamanya bukan mengenai


fakta (apa yang terjadi?), proses (bagaimana terjadinya?), atau penyebab
(mengapa terjadi?) melainkan mengenai nilai (berapa nilainya?). Karena itu
evaluasi mempunyai sejumlah karakteristik yang membedakannya dari metodemetode analisis kebijakan lainnya :
1. Fokus nilai, evaluasi ditujukan kepada pemberian nilai terhadap manfaat atau
kegunaan dari suatu kegiatan, program atau kebijakan. Evaluasi terutama
merupakan usaha untuk menentukan manfaat atau kegunaan sosial kebijakan
atau program, dan bukan sekedar usaha untuk mengumpulkan informasi
mengenai hasil aksi kebijaksanaan. Karena ketepatan tujuan dan sasaran

kebijakan dapat selalu dipertanyakan, evaluasi mencakup prosedur untuk


mengevaluasi tujuan dan sasaran itu sendiri.
2. Interdependensi Fakta-Nilai, hasil evaluasi tidak hanya tergantung pada buktibukti (fakta) tetapi juga terhadap nilai. Tuntutan evaluasi tergantung baik
fakta maupun nilai. Untuk menyatakan bahwa kebijakan atau program
tertentu telah mencapai tingkat kinerja yang tertinggi (atau rendah)
diperlukan

tidak

hanya

bahwa

hasil-hasil

kebijakan

berharga

bagi

sejumlah individu, kelompok atau seluruh masyarakat; untuk menyatakan


demikian, harus didukung oleh bukti bahwa hasil-hasil kebijakan secara
aktual merupakan konsekuensi dari aksi-aksi yang dilakukan untuk
memecahkan masalah tertentu. Oleh karena itu, pemantauan merupakan
prasyarat bagi evaluasi.
3. Orientasi masa kini dan masa lalu, evaluasi mempersoalkan hasil sekarang dan
masa

lalu.

Tuntutan

evaluatif,

berbeda

dengan

tuntutan-tuntutan

advokatif, diarahkan pada hasil sekarang dan masa lalu, ketimbang hasil di
masa depan. Evaluasi bersifat retrospektif dan setelah aksi-aksi dilakukan
(ex post). Rekomendasi yang juga mencakup premis-preinis nilai, bersifat
prospektif dan dibuat sebelum aksi-aksi dilakukan (ex ante).
4. Dualitas nilai. Nilai-nilai yang mendasari tuntutan evaluasi mempunyai
kualitas ganda, karena mereka dipandang sebagai tujuan dan sekaligus cara.
Evaluasi sama dengan rekomendasi sejauh berkenaan dengan nilai yang
ada (misalnya, kesehatan) dapat dianggap sebagai intrinsik (diperlukan bagi
dirinya) ataupun ekstrinsik (diperlukan karena hal itu mempengaruhi
pencapaian tujuan-tujuan lain). Nilai-nilai sering ditata di dalam suatu hirarki
yang merefleksikan kepentingan relatif dan saling ketergantungan antar tujuan
dan sasaran.
Berbeda dengan Dunn, Hogwood dalam Said Zainal Abidin (2004) melihat
evaluasi dalam hubungan dengan masyarakat yang diharapkan terjadi sebagai
dampak atau outcomes dari suatu kebijakan. Dampak dari kebijakan tidak selalu
sama seperti yang direncanakan semula. Ini berhubungan dengan ketidakpastiaan

lingkungan dan kemampuan administrasi dalam melaksanakan suatu kebijakan.


Dalam praktek selalu ada keterbatasan untuk memahami sesuatu isu secara utuh.
Sementara itu juga perlu disadari bahwa kebijakan pemerintah bukanlah satusatunya kekuatan, melainkan hanya salah satu dari sekian banyak kekuatan yang
mempengaruhi perubahan dalam masyarakat. Sebab itu suatu kebijakan tidak
boleh merasa cukup sekedar berakhir hanya pada selesainya pelaksanaan saja,
sebelum ada evaluasi akhir atas dampak yang dihasilkan. Hal ini dapat dipahami
mengingat ada perbedaan antara hasil langsung berupa target yang dihasilkan
suatu kebijakan (policy outputs) dengan dampak yang diharapkan terjadi dalam
masyarakat (policy impact). Karena itu, sekalipun evaluasi mencakup keseluruhan
proses kebijakan, fokusnya adalah penilaian atas dampak atau kinerja (outcomes)
dari suatu kebijakan. Sejalan dengan pendapat Hogwood, Thomas R Dye
mengelompokkan dampak atas lima komponen berikut:
1. Dampak atas kelompok sasaran atau lingkungan
2. Dampak atas kelompok lain (spillover effects)
3. Dampak atas masa depan
4. Dampak atas biaya langsung
5. Dampak atas biaya tidak langusung.
2.4

Fungsi Evaluasi
Di dalam analisis kebijakan, evaluasi memiliki beberapa arti penting.

Menurut William N Dunn (1998) fungsi utama dari evaluasi dalama analisis
kebijakan adalah:
1.

Hal yang paling penting dari fungsi evaluasi adalah memberikan informasi
yang valid dan dapat dipercaya mengenai kinerja kebijakan. Yang
dimaksudkan dalam hal ini adalah mengungkapkan seberapa jauh tujuantujuan dan sasaran-sasaran telah dicapai yang berkaitan seberapa jauh

2.

kebutuhan, nilai dan kesempatan telah dapat dicapai melalui tindakan publik.
Memberi sumbangan pada klarifikasi dan kritik terhadap nilai-nilai yang
mendasari pemilihan tujuan dan sasaran. Nilai-nilai yang digunakan sebagai
dasar pemilihan tujuan dan sasaran tersebut dapat diperjelas dengan

mendefinisikan dan mengoperasikan tujuan dan target serta dikritik dengan


menanyakan secara sistematis kepantasan tujuan dan sasaran dalam hubungan
dengan masalah yang dituju. Dalam menanyakan kepantasan tujuan dan
sasaran, analis dapat menguji alternatif sumber nilai dari berbagai
kepentingan kelompok maupun landasan mereka dalam berbagai bentuk
rasionalitas seperti aspek teknis, ekonomis, legal, sosial, dan substantif.
Evaluasi memberi sumbangan pada aplikasi metode-metode analisis

3.

kebijakan lainnya, termasuk perumusan masalah dan rekomendasi. Informasi


tentang tidak memadainya kinerja kebijakan dapat memberi sumbangan pada
perumusan ulang masalah kebijakan. Evaluasi dapat pula menyumbang pada
definisi alternatif kebijakan yang baru atau revisi kebijakan dengan
menunjukkan bahwa alternatif kebijakan yang diunggulkan sebelumnya perlu
dihapus dan diganti dengan yang lain.
2.5

Kriteria Evaluasi
Untuk menyatakan sebuah kebijakan publik berhasil atau tidak berhasil,

mungkin saja banyak memiliki perbedaan pendapat. Hal ini karena untuk
menyatakan sebuah kebijakan tersebut berhasil atau tidak berhasil dapat dilihat
dari berbagai banyak sisi atau sudut pandang. Oleh karena itu dalam
menghasilkan informasi mengenai kinerja kebijakan, maka digunakan beberapa
kriteria yang berbeda untuk mengevaluasi hasil kebijakan. Menurut William N
Dunn (1998) terdapat enam kriteria yang dapat digunakan untuk menilai sebuah
kinerja berhasil atau tidak berhasil, yaitu:
1. Effectiveness atau keefektifan, yaitu berkenaan dengan apakah suatu alternatif
mencapai hasil (akibat) yang diharapkan, atau mencapai tujuan dari
diadakannya tindakan. Efektivitas selalu diukur dari kualitas hasil sebuah
kebijakan.
2. Efficiency atau efisiensi, yaitu berkenaan dengan jumlah usaha yang
diperlukan

untuk

menghasilkan

tingkat

efektivitas

tertentu.

Efisiensi

merupakan hubungan antara efektivitas dan usaha, dan pada akhirnya diukur

berdasarkan biaya yang dikeluarkan per unit kebijakan. Kebijakan yang


mencapai efektivitas tertinggi dengan biaya terkecil dinamakan efisien.
3. Adequacy atau kecukupan, yaitu yang berkenaan dengan seberapa jauh suatu
tingkat efektivitas memuaskan kebutuhan, nilai, atau kesempatan yang
menumbuhkan adanya masalah atau dengan kata lain apakah tingkat
pencapaian hasil tepat menyelesaikan masalah yang dimaksud.
4. Equity atau kesamaan, yaitu erat berhubungan dengan rasionalitas legal dan
sosial dan menunjuk pada distribusi akibat dan usaha antara kelompokkelompok yang berbeda dalam masyarakat. Kebijakan yang dirancang untuk
mendistribusikan pendapatan, kesejahteraan, kesempatan pendidikan, atau
pelayanan publik kadang-kadang direkomendasikan atas dasar kriteria ini.
5. Responsiveness atau ketanggapan, yaitu berkenaan dengan seberapa jauh suatu
kebijakan dapat memuaskan kebutuhan, preferensi, atau nilai masyarakat.
Pentingya kriteria ini adalah karena analis yang dapat memuaskan semua
kriteria lainnya masih gagal jika belum menanggapi kebutuhan aktual dari
kelompok yang semestinya diuntungka dari adanya suatu kebijakan.
6. Appropriatness atau

ketepatgunaan,

yaitu

yang

berhubungan

dengan

rasionalitas substantif, karena pertanyaan tentang hal ini tidak berkenaan


dengan satuan kriteria individu tetapi dua atau lebih kriteria secara bersamasama. Kriteria ini merujuk pada nilai atau harga dari tujuan program dan
kepada kuatnya asumsi yang melandasi tujuan-tujuan tersebut atau dengan kata
lain adalah apakah hasil yang diinginkan benar-benar layak atau berharga.
2.6

Pendekatan Evaluasi
Evaluasi mempunyai dua aspek yang saling berhubungan. Aspek pertama

adalah penggunaan berbagai metoda untuk memantau hasil kebijakan publik dan
aspek kedua adalah aplikasi serangkaian nilai yang digunakan untuk menentukan
kegunaan hasil kebijakan publik terhadap beberapa orang, kelompok atau
masyarakat secara keseluruhan. Selanjutnya kedua aspek tersebut menunjukkan
adanya fakta dan premis nilai dalam setiap tuntutan evaluatif. Namun banyak
aktivitas yang dikatakan sebagai evaluasi dalam analisis kebijakan, tetapi

sebenarnya bukan evaluasi karena tidak memperhatikan tuntutan evaluatif dan


hanya sebagai tuntutan faktual. Mengingat kurang jelasnya arti evaluasi di dalam
analisis kebijakan, maka menjadi sangat penting untuk membedakan beberapa
pendekatan dalam evaluasi kebijakan, yaitu evaluasi semu, evaluasi formal, dan
decision theory evaluation (DTE).
1. Evaluasi Semu (psuedo evaluation)
Merupakan pendekatan yang menggunakan metode-metode deskriptif untuk
menghasilkan informasi yang valid dan dapat dipercaya mengenai hasil
kebijakan, tanpa berusaha untuk menanyakan tentang manfaat atau nilai dari
hasil-hasil tersebut terhadap individu atau kelompok masyarakat secara
keseluruhan. Asumsi utama dari pendekatan ini adalah bahwa ukuran manfaat
atau nilai merupakan sesuatu yang dapat terbukti sendiri (self evident) atau
tidak kontroversial.
2. Evaluasi Formal (formal evaluation)
Merupakan

pendekatan

yang

menggunakan

metode

deskriptif

untuk

menghasilkan informasi yang valid dan dapat dipercaya mengenai hasil


kebijakan tetapi mengevaluasi hasil tersebut atas dasar tujuan program
kebijakan yang telah diumumkan secara formal oleh pembuat kebijakan dan
admininistrator program. Asumsi utama dari pendekatan ini adalah bahwa
tujuan dan target diumumkan secara formal adalah merupakan ukuran yang
tepat untuk manfaat atau nilai kebijakan program. Dalam evaluasi formal
digunakan berbagai macam metode yang sama seperti yang dipakai dalam
evaluasi semu dan tujuannya adalah identik yaitu untuk menghasilkan
informasi yang valid dan dapat dipercaya mengenai variasi-variasi hasil
kebijakan dan dampak yang dapat dilacak dari masukan dan proses kebijakan.
Meskipun demikian perbedaanya adalah bahwa evaluasi formal menggunakan
undang-undang,
pembuat

dokumen-dokumen

kebijakan

dan

program,

administrator

dan wawancara

dengan

untuk mengidentifikasikan,

mendefinisikan dan menspesifikasikan tujuan dan target kebijakan. Kelayakan


dari tujuan dan target yang diumumkan secara formal tersebut tidak ditanyakan.
Salah satu tipe utama evaluasi formal adalah evaluasi sumatif yang meliputi

10

usah untuk memantau pencapaian tujuan dan sasaran formal setelah suatu
kebijakan atau program diterapkan untuk jangka waktu tertentu. Evaluasi
sumatif diciptakan

untuk menilai produk-produk kebijakan

dan program

publik yang stabil dan mantap. Lalu selain evaluasi sumatif ada juga evaluasi
formatif. Evaluasi formatif merupakan evaluasi yang meliputi usaha-usaha
untuk secara terus menerus memantau pencapaian tujuan-tujuan dan sasaran
formal. Jadi perbedaan keduanya adalah persolan derajat.
Evaluasi formal dapat bersifat sumatif atau formatif, tetapi juga dapat
meliputi kontrol langsung maupun tidak langsung terhadap masukan kebijakan
dan proses-proses. Dalam evaluasi langsung evaluator dapat memanipulasi
secara langsung tingkat pengeluaran, campuran program, atau karakteristik
kelompok sasaran. Artinya evaluasi dapat mempunyai satu atau lebih
karakteristikeksperimentasi sosial sebagai pendekatan terhadap monitoring.
Sedangkan dalam kasus evalausi tidak langsung, masukan dan proses kebijakan
tidak dapat secara langsung dimanipulasi. Masukan dan proses tersebut harus
dianalisis secara retrospektif berdasarkan pada aksi-aksi yang telah dilakukan.
Terdapat beberapa variasi dari evaluasi formal yaitu:
a.

Evaluasi Perkembangan
Evaluasi

perkembangan

menunjuk

pada

kegiatan-kegiatan/aktivitas

evaluasi yang secara eksplisit diciptakan untuk melayani kebutuhan sehari-hari


staf program. Evaluasi perkembangan berguna untuk mengalihkan staf dari
kelemahan yang baru dimulai atau kegagalan yang tidak diharapkan dari
program dan untuk meyakinkan layak tidaknya operasi yang dilakukan mereka
yang bertanggung jawab terhadap operasinya. Evaluasi perkembangan, karena
bersifat formatif dan meliputi kontrol secara langsung, dapat digunakan
untuk mengadaptasi secara langsung pengalaman baru yang diperoleh
melalui manipulasi yang sistematis terhadap variabel masukan dan proses.
b.

Evaluasi Proses Retrospektif


Evaluasi proses retrospektif, yang cenderung dipusatkan pada masalah-

masalah dan kendala-kendala yang terjadi selama implementasi kebijakan

11

dan program, tidak memperkenankan dilakukannya manipulasi langsung


terhadap masukan (misalnya pengeluaran) dan proses (misalnya sistem
pelayanan alternatif). Evaluasi proses retrospektif mensyaratkan adanya sistem
pelaporan internal yang mantap yang memungkinkan pemunculan yang
berkelanjutan informasi yang berhubungan dengan program. Evaluasi proses
retrospektif

mensyaratkan

sistem

informasi

yang

valid

dan

dapat

dipertanggungjawabkan, yang sering sulit untuk diciptakan.


c. Evaluasi Eksperimental
Evaluasi eksperimental harus memenuhi persyaratan yang agak berat
sebelum rancangan tersebut dapat diterapkan: (1) serangkaian variabelvariabel "treatment" yang dimanipulasi secara langsung dan terdefinisikan
secara jelas dan yang dirumuskan secara operasional; (2) strategi evaluasi yang
memungkinkan dirumuskannya kesimpulan yang dapat

digeneralisasikan

secara maksimum menyangkut kinerja terhadap kelompok target atau


sasaran yang sejenis (validitas eksternal); (3) strategi avaluasi yang dapat
mengurangi kesalan sekecil mungkin dalam menginterpretasikan kineria
kebijakan sebagai hasil masukan dan proses kebijakan yang dimanipulasi
(validitas internal); (4) sistem pemantauan yang menghasilkan data yang
reliable tentang hubungan timbal balik antar kondisi awal yang kompleks,
kejadian-kejadian yang tidak tampak, masukan, proses, keluaran dan efek
samping dan efek ganda. Karena persyaratan metodologis yang diharapkan ini
jarang terpenuhi evaluasi eksperimental biasanya tidak mencapai

tingkat

eksperimen murni, dan ditujukan sebagai "eksperimental semu".


d. Evaluasi Hasil Retrospektif
Evaluasi hasil retrospektif juga meliputi pemantauan dan evalusi hasil
tetapi tidak disertai dengan kontrol langsung terhadap masukan-masukan
dan proses kebijakan yang dapat dimanipulasi. Paling jauh adalah kontrol
secara tidak langsung atau kontrol statistik yaitu evaluator berusaha

12

mengisolasi pengaruh dari banyak faktor lainnya dengan menggunakan metode


kuantitatif.
3. Decision Theoritic Evaluation
Decision-Theoretic Evaluation adalah pendekatan yang menggunakan
metode-metode

diskriptif

untuk

menghasilkan

informasi

yang

dapat

dipertanggung-jawabkan dan valid mengenai hasil-hasil kebijakan yang secara


eksplisit dinilai oleh berbagai macam pelaku kebijakan. Perbedaan pokok
antara

Decision-Theoretic Evaluation di satu sisi, dan evaluasi semu dan

evaluasi formal di sisi lainnya, adalah bahwa Decision-Theoretic Evaluation


berusaha untuk memunculkan dan membuat eksplisit tujuan dan target
daripelaku kebijakan baik yang tersembunyi atau dinyatakan. Ini berarti bahwa
tujuan dan target dari para pembuat kebijakan dan administrator merupakan
salah satu sumber nilai, karena semua pihak yang mempunyai andil dalam
memformulasikan dan mengimplementasikan kebijakan (sebagai contoh, staf
tingkat menengah dan bawah, pegawai pada badan-badan lainnya, kelompok
klien) dilibatkan dalam merumuskan tujuan dan target di mana kinerja nantinya
akan diukur.
Decision-Theoretic Evaluation merupakan cara untuk mengatasi beberapa
kekurangan dari evaluasi semu dan evaluasi formal, yaitu :
a. Kurang dan tidak dimanfaatkannya informasi kinerja.
Sebagian besar informasi yang dihasilkan melalui evaluasi kurang
digunakan atau tidak pernah digunakan untuk memperbaiki pembuatan
kebijakan. Untuk sebagian hal ini karena evaluasi tidak cukup responsif
terhadap tujuan dan target dari pihak-pihak yang mempunyai andil dalam
perumusan dan implementasi kebijakan dan program.
b. Ambiguitas kinerja tujuan.
Banyak tujuan dan program publik yang kabur. Ini berarti bahwa tujuan
umum yang sama misalnya untuk meningkatkan kesehatan

dan

mendorong konservasi energi yang lebih baik dapat menghasilkan


tujuan spesifik yang saling bertentangan satu terhadap lainnya. Ini dapat
terjadi jika diingat bahwa tujuan yang sama (misalnya, perbaikan

13

kesehatan) dapat dioperasionalkan ke dalam paling sedikit enam macam


kriteria

evaluasi:

efektivitas,

efisiensi,

kecukupan,

kesamaan,

responsivitas dan kelayakan. Salah satu tujuan dari evaluasi keputusan


teoritis adalah mtuk mengurangi kekaburan tujuan dan menciptakan
konflik antar tujuan spesifik atau target.
c. Tujuan-tujuan yang saling bertentangan.
Tujuan dan target kebijakan dan program-program publik tidak dapat
secara memuaskan diciptakan dengan memusatkan pada nilai-nilai salah
satu atau beberapa pihak (misalnya kongres, kelompok klien yang
dominan atau kepala administrator). Dalam kenyataan, berbagai pelaku
kebijakan dengan tujuandan target yang saling berlawanan
dalamk

hampir

semua

kondisi/situasi

yang memerlukan

nampak
evaluasi.

Decision-Theoretic Evaluation berusaha untuk mengidentifikasi berbagai


pelaku kebijakan ini dan menampakkan tujuan-tujuan mereka. Salah satu
tujuan

utama

dari

Decision-Theoretic

Evaluation

adalah

untuk

menghubungkan informasi mengenai basil-hasil kebijakan dengan nilainilai dari berbagai pelaku kebijakan. Asumsi dari Decision-Theoretic
Evaluation adalah bahwa tujuan dan sasaran dari pelaku kebijakan baik
yang dinyatakan secara formal maupun secara tersembunyi merupakan
ukuran yang layak terhadap manfaat atau nilai kebijakan dan program.
Dua bentuk utama dari Decision-Theoretic Evaluation adalah penaksiran
evaluabilitas dan analisis utilitas multiatribut, keduanya berusaha mengubungkan
informasi mengenai hasil kebijakan dengan nilai dari berbagai pelaku kebijakan.
Penaksiran evaluabilitas

(evaluability assessment) merupakan serangkaian

prosedur yang dibuat untuk menganalisis sistem pembuatan keputusan yang


diharapkan dapat diiperoleh dari informasi kinerja dan dapat memperjelas tujuan,
sasaran dan asumsi-asumsi dengan mana kinerja akan diukur. Pertanyaan
mendasar dalam penaksiran evaluabilitas adalah apakah suatu kebijakan atau
program dapat sama sekali dievaluasi. Suatu kebijakan atau program agar dapat
dievaluasi paling tidak tiga kondisi harus ada: satu kebijakan atau program yang
diartikulasikan secara jelas; tujuan atau konsekuensi yang dirumuskan secara
14

jelas; dan serangkaian asumsi yang eksplisit yang menghubungkan aksi atau
konsekuensi. Dalam melakukan penaksiran evaluabilitas, analisis mengikuti
serangkaian langkah yang memperjelas suatu kebijakan atau program dari sudut
pandang pemakai informasi kinerja yang dituju dan evaluator itu sendiri.
1. Spesifikasi program-kebijakan. Apakah kegiatan-kegiatan federal, negara
bagian atau lokal dan apakah tujuan dan sasaran yang melandasi
program?
2. Koleksi

informasi

program-kebijakan.

Informasi apa

yang

harus

dikumpulkan untuk mengidentifikasikan tujuan-tujuan program kebijakan,


kegiatan-kegiatan, dan asumsi-asumsi yang mendasarinya?
3. Modeling program-kebijakan. Model apa yang paling baik menerangkan
program dan tujuan suatu kegiatan yang berhubungan, dari sudut pandang
pemakai informasi kinerja yang dituju? Asumsi-asumsi kausal apa yang
menghubungkan aksi dengan hasil?
4. Penaksiran evaluabilitas program-kebijakan. Apakah model program kebijakan
secara mencukupi tidak ambigu untuk membuat evaluasi bermanfaat? Tipe
studi evaluasi apakah yang paling berguna?
5. Umpan balik penaksiran evaluabilitas untuk pemakai. Setelah menyajikan
kesimpulan mengenai evaluabilitas program-kebijakan bagi pemakai yang
diinginkan, apakah yang mungkin menjadi langkah berikutnya yang harus
(atau tidak harus) diambil untuk mengevaluasi kinerja kebijakan?
2.7

Evaluasi Kebijakan Publik


Evaluasi kebijakan dilakukan

setelah

kebijakan

publik

itu

diimplementasikan dalam rangka untuk menguji tingkat kegagalan dan


keberhasilan, keefektifan dan keefisienannya. Dilakukan secara serius, jujur
dan professional. Evaluasi kebijakan publik ini antara lain bertujuan:
a. Untuk menguji apakah kebijakan yang diimplementasikan telah
mencapai tujuannya.
b. Untuk menunjukan akuntabilitas pelaksana publik terhadap kebijakan
yang telah diimplementasikan.

15

c. Untuk memberikan masukan pada kebijakan-kebijakan publik yang akan


dating
2.8

Pelaku Evaluasi Kebijakan Publik


Sejalan dengan asas demokrasi dalam penyelenggaraan urusan publik semua

orang berhak untuk melakukan kajian dan evaluasi terhadap sebuah kebijakan
publik, Indonesian Corruption Watch, Local Government Watch, Legislative
Watch contohnya. BPK, BKPP, DPR, DPRD merupakan elamen evaluasi
kebijakan publik utama yang mempunyai legitimasi formal untuk menentukan
kegagalan, keberhasilan atau penyelewengan kebijakan publik.
2.9

Metode Evaluasi Kebijakan Publik


Menurut William N Dunn (1998) terdapat 16 metode dalam mengevaluasi

kebijakan publik, yakni sebagai berikut.


1. Sajian Grafik
Banyak informasi tentang hasil kebijakan disajikan dalam bentuk grafik,
yaitu gambar yang mewakili nilai dari satu atau lebih variabel tindakan atau
hasil. Sajian grafik dapat digunakan untuk melukiskan sebuah variabel pada
satu titik waktu atau lebih, atau untuk merangkum hubungan antara dua
variabel. Kesulitan yang biasa dijumpai dalam menggunakan grafik adalah
intepretasi palsu, yaitu suatu situasi di mana dua variabel tampak berkorelasi
tapi sebenarnya keduanya berkorelasi dengan variabel lain.
2. Tampilan tabel
Cara lain yang berguna untuk mengevaluasi hasil kebijakan adalah dengan
tampilan tabel. Teknik penggunaannya hampir mirip dengan pelaksanaan
monitoring. Sebuah tabel dimaksudkan untuk merangkum gambaran penting
dari sebuah variabel atau lebih sehingga dapat diketahui hubungan antar
variabel.
3. Indeks

16

Angka indeks adalah alat yang mengukur seberapa besar nilai suatu
indikator atau seperangkat indikator berubah antarwaktu secara relatif
dihadapkan pada waktu tertentu. Angka indeks banyak digunakan dalam
analisis

kebijakan

publik, meliputi angka-angka indeks untuk memantau

perubahan dalam harga barang konsumen, produksi industri, peningkatan


kejahatan, polusi, pelayanan kesehatan, kualitas hidup, dan lain-lain.
4. Interrupted time series analysis
Merupakan suatu prosedur untuk menunjukkan akibat dari tindakan
kebijakan terhadap hasil kebijakan dalam bentuk grafik. Metode ini sudah
memadai untuk masalah-masalah di mana sebuah badan memulai suatu
tindakan yang menimbulkan akibat pada seluruh kelompok sasaran. Karena
tindakan kebijakan terbatas pada kelompok sasaran, maka tidak ada peluang
untuk membandingkan hasil kebijakan dengan kelompok sasaran lain atau di
antara kategori yang berbeda dari kelompok sasaran. Dalam situasi ini satusatunya dasar komparasi adalah catatan tentang hasil kebijakan pada tahuntahun sebelumnya. Grafik yang dibuat dari metode ini merupakan alat yang
ampuh untuk menguji akibat dari intervensi kebijakan terhadap beberapa segi
dari suatu hasil kebijakan.
5. Control-Series Analysis
Metode atau teknik ini memanfaatkan satu atau lebih kelompok kontrol
bagi suatu desain seri waktu yang terinterupsi. Hal ini untuk menentukan
apakah karakteristik

dari

kelompok

menimbulkan

akibat

independen

terhadap hasil kebijakan, terpisah dari tindakan kebijakannya sendiri. Logika


dari analisis ini sama dengan sebelumnya. Perbedaannya adalah bahwa sebuah
atau beberapa kelompok yang tidak tersentuh oleh tindakan kebijakan
ditampilkan pula dalam grafik. Analisis ini lebih membantu secara cermat
menentukan validitas kesimpulan tentang akibat tindakan kebijakan terhadap
hasilnya karena didukung oleh data berkala yang terkontrol.

17

6. Regression-Discontinuity Analysis
Metode yang digunakan merupakan suatu grafik dan prosedur statistik
yang digunakan untuk menghitung dan membandingkan berbagai ramalan
tentang hasil-hasil tindakan kebijakan di antara dua kelompok atau lebih, yang
salah satunya memperoleh sentuhan kebijakan sedangkan yang lain tidak.
Kelebihan dari analisis ini adalah bahwa analisis ini memungkinkan kita untuk
memantau akibat dari penyediaan suatu sumberdaya yang terbatas bagi anggota
populasi target yang paling membutuhkan.
7. Pemetaan Sasaran
Pemetaan sasaran merupakan metode yang digunakan dalam membuat
rekomendasi. Teknik ini digunakan untuk menyusun tujuan dan sasaran dan
hubungannya dengan alternatif kebijakan. Dengan melakukan pemetaaan
sasaran maka dapat diketahui kegiatan mana saja yang telah mencapai sasaran
untuk selanjutnya menilai apakah tujuan utama kebijakan tersebut sudah
dipenuhi atau tidak.
8. Klarifikasi Nilai
Merupakan prosedur untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasikan
premis nilai atas dasar seleksi terhadap sasaran kebijakan. Kebutuhan untuk
memperjelas nilai dalam mengevaluasi kebijakan sering dibuktikan ketika kita
membandingkannya dengan berbagai kriteria. Dengan adanya klarifikasi nilai
maka cara ini akan memungkinkan kita untuk keluar dari analisis tujuan jika
ternyata tujuan-tujuantersebut tidak lebih dari pencerminan dari keinginan
dan selera beberapa kelompok atau individu.
9. Kritik Nilai
Kritik nilai adalah serangkaian prosedur untuk menguji mana yang
lebih meyakinkan antara argumen-argumen yang saling berlawanan dalam
suatu debat mengenai tujuan kebijakan. Kritik nilai memungkinkan kita untuk
menguji peran dari nilai dalam debat tentang argumen kebijakan dan

18

memusatkan perhatian pada konflik mengenai tujuan dan nilai-nilai yang


mendasari setiap pelaku kebijakan dan pada perubahan nilai yang dihasilkan
oleh debat yang argumentatif.
10. Pemetaan Hambatan
Pemetaan hambatan adalah suatu prosedur untuk mengidentifikasi
keterbatasan dan hambatan yang menghadang jalan untuk mencapai sasaran
kebijakan dan program. Hambatan tersebut bisa berupa hambatan fisik, hukum,
organisasional, politik, distributif dan anggaran. Cara yang efektif untuk
mengidentifikasikan hambatan adalah dengan membuat pohon hambatan
(constraints tree) yaitu merupakan tampilan grafis tentang keterbatasan dan
hambatan yang menghalangi pencapaian tujuan.
11. Cross Impact Analysis
Cross-impact analysis adalah suatu teknik yang menghasilkan penilaian
atas dasar informasi tentang probabilitas kejadian dari peristiwa masa depan
dengan berbasis pada terjadi atau tidak terjadinya peristiwa-peristiwa yang
terkait. Tujuan dari analisis ini adalah untuk mengidentifikasi peristiwa yang
akan mendukung berlangsungnya suatu peristiwa terkait.
12. Discounting
Merupakan prosedur untuk memperkirakan nilai saat ini dari biaya dan
manfaat yang
merupakan

akan

cara

diperoleh

pada

untuk menghitung

masa
dampak

mendatang.
waktu

Discounting

ketika

membuat

rekomendasi suatu kebijakan. Banyak kebijakan dan program menghasilkan


berbagai perbedaan dalam tingkatan biaya dan manfaat sesuai dengan
perjalanan waktu. Dalam konteks evaluasi, metode ini sangat cocok untuk
digunakan pada ex ante evaluation.

13. Brainstorming

19

Brainstorming adalah metode untuk menghasilkan ide-ide, tujuan-tujuan


jangka pendek, dan strategi-strategi yang membantu mengidentifikasi dan
mengkonseptualisasikan

kondisi-kondisi

permasalahan.

Kegiatan

brainstorming mencakup aktivitas-aktivitas baik terstruktur atau tidak


terstruktur tergantung pada tujuan-tujuan analis dan hambatan-hambatan
praktis terhadap praktisi.
14. Analisis Argumentasi
Analisis argumentasi adalah suatu teknik yang digunakan dalam
hubungannya dengan analisis asumsi untuk menyatakan suatu urgensi dari
pembenaran, dukungan dan bantahan. Analisis ini difokuskan pada kelompok,
individu atau keduanya untuk menyatakan suatu argumennya terhadap suatu
kebijakan dengan mensintesiskannya secara kreatif.
15. Policy Delphi
Teknik Delphi adalah prosedur peramalan pendapat untuk memperoleh,
menukar, dan membuat opini tentang peristiwa di masa depan. Penerapannya
pada awalnya didorong oleh kepedulian terhadap tidak efektifnya kerja panitia,
panel ahli, dan proses kelompok yang lain. Teknik ini dirancang untuk
menghindari berbagai sumber distrorsi komunikasi pada kelompok-kelompok
itu seperti dominasi terhadap kelompok oleh satu atau beberapa orang. Untuk
menghindari masalah ini, penerapan awal teknik ini memperkenalkan lima
prinsip dasar yaitu anonimitas, iterasi, tanggapan balik yang terkontrol,
jawaban statistik, dan konsensus.
16. User-Survey Analysis
Analisis

survei-pemakai

adalah

serangkaian

prosedur

untuk

mengumpulkan informasi mengenai evaluabilitas suatu kebijakan atau


program

dari

calon pengguna

dan

pelaku-pelaku

kebijakan

lainnya.

Instrumen utama untuk mengumpulkan informasi adalah melalui wawancara


formal dengan sejumlah pertanyaan terbuka. Tanggapan terhadap pertanyaan

20

tersebut memberi informasi yang diperlukan untuk melengkapi beberapa tahap


dalam penaksiran evaluabilitas.
2.10 Teknik Evaluasi Kebijakan Publik
Menurut Dye, terdapat beberapa teknik dalam melakukan evaluasi
kebijakan publik, yaitu:
1. Hearing and Reports
Hal ini merupakan jenis paling umum yang dilakukan untuk program review.
Teknisnya kebanyakan dijalankan dengan cara adiministrator pemerintahan
ditanya oleh kepala eksekutif atau legislatif untuk memberikan keterangan baik
secara formal maupun informal mengenai pencapaian program mereka. Tetapi
keterangan dan laporan dari administrator tersebut adakalanya tidak objektif
dan mereka sering membesarkan keuntungan dan meminimalkan biaya dari
program.
2. Site Visit
Dengan melakukan kunjungan ke lapangan atau lokasi di mana sebuah program
dijalankan, maka dapat diambil kesan mengenai bagaimana program
dijalankan, apakah program tersebut mengikuti petunjuk yang telah dibuat,
apakah mereka mempunya staf yang kompeten, dan apakah target grup yang
dimaksud puas dengan pelayanan yang diberikan.
3. Program Measures
Yang dimaksud dengan program measures adalah bahwa kadangkala ukuran
yang dibuat oleh pelaksana program atau secara umum adalah pemerintah
jarang mengindikasikan dampak yang sebenarnya dimiliki oleh masyarakat.
Oleh karena itu dibutuhkan pengukuran terhadap dampak dari program yang
dirasakan oleh masyarakat.
4. Comparison with Professional Standar

21

Seperti kita ketahui bahwa ada beberapa asosiasi keprofesian yang telah
mempunyai standar terhadap profesi yang biasanya mereka lakukan. Standar
tersebut menggambarkan tingkatan output yang sebenarnya diinginkan yaitu
merupakan sebuah ukuran untuk menciptakan kondisi yang ideal. Oleh karena
itu, pemerintah dapat menggunakan standar yang telah ada tersebut untuk
menilai apakah output program atau kebijakan yang sudah dilaksanakan telah
mendekati kondisi yang ideal tersebut.
5. Evaluation of Citizen Complaint
Metode ini adalah dengan melakukan analisis terhadap komplain dari
masyarakat. Karena adanya komplain tersebut dapat diasumsikan bahwa
program yang sudah dilaksanakan belum merata. Tetapi kendala yang dihadapi
dalam metode ini adalah adakalanya komplain yang disampaikan oleh
masyarakat bukan untuk mewakili seluruh elemen masyarakat secara
menyeluruh.
Berikut matriks mengenai keuntungan dan kerugian setiap teknik di atas.
Matriks Tehnik Evaluasi Kebijakan Publik Menurut Dye
Tehnik evaluasi
Hearing and
reports

Site Visit

Program
measures

Comparison

Keuntungan
Kerugian
1. Paling umum dilakukan untuk 1. Hasil keterangan biasanya
program review
tidak objektif.
2. Hanya menanyakan satu subyek 2. Laporan administrator
(administrator pemerintahan)
sering membesarkan
3. Tidak perlu repot terjun langsung
keuntungan dan
untuk menilai masyarakat banyak.
meminimalkan biaya dari
program.
1. Langsung terjun ke lapangan
1. Lebih repot karena
untuk menilai pelaksanaan
penilaian terhadap
program.
masyarakat banyak
2. Hasil pengevaluasian bersifat
membutuhkan banyak
objektif dan dapat diterima karena
tenaga dan waktu.
sesuai dengan kenyataan lapangan
1. Pengukuran terhadap dampak dari 1. Alat pengukuran baku
program yang dirasakan oleh
belum ada
masyarakat.
2. Alat ukur hanya
berdasarkan pelaksana
program atau pemerintah.
1. Terdapat standar profesi sebagai
1. Proses pembuatan standar

22

with
Professional
Standar
Evaluation of
citizen
Complaint

pedoman penilaian

profesi sulit dilakukan

1. Analisis terhadap complain dari


masyarakat.
2. Dapat menilai program yang
dilaksanakan sudah merata/belum

1. Komplain yang
disampaikan oleh
masyarakat bukan untuk
mewakili seluruh elemen
masyarakatsecara
menyeluruh
2. Tidak dapat menilai
kebaikan/keuntungan dari
suatu program
2.11 Langkah-langkah dalam Evaluasi Kebijakan Publik
Berikut ini adalah langkah-langkah dalam evaluasi kebijakan publik.
1.

Penentuan pendekatan
Penetapan pendekatan.

2.

Pengkajian policy formulation


proses penyusunan
aktor yang terlibat
proses sosialisasi

3.

Pengkajian dampak positif dan negatif


pengkajian masalah yang timbul
pengkajian resistensi (resistensi adalah adalah perilaku yang
disadari ataupun tak disadari yang secara langsung maupun
tidak

langsung, menolak sebagian

isi

kebijakan

atau

keseluruhan materi kebijakan, dapat berupa pemikiran, niat,


sikap, maupun tindakan, disengaja maupun tak disengaja
menentang terhadap kebijakan).
pengkajian perilaku yang muncul
4.

Menilai hasil yang sudah tercapai


Tata nilai dan perilaku.

5.

Penilaian dan prediksi keberhasilan kebijakan

23

2.12 Format Evaluasi Kebijakan Publik


Format evaluasi kebijakan publik terdiri dari 4 bab yaitu:
BAB 1. KAJIAN KEBIJAKAN
1.1 Masalah dasar dan isu publik (tertulis dan tersirat)
Meliputi macam, nilai, karakteristik, aktor, dan isu publik.
1.2 Tujuan yang ingin dicapai (tertulis dan tersirat)
1.3 Ciri kebijakan
Yaitu kategori kebijakan.
1.4 Kajian substansi (isi utama)
Yakni mengkaji pasal yg bermasalah.
BAB 2. KONSEKUENSI DAN RESISTENSI
2.1 Perilaku yang muncul akibat adanya kebijakan
(positif dan negatif)
2.2 Resistensi
- bentuk
- aktor
- sumber
- intensitas
2.3 Masalah baru yang timbul
BAB 3. PREDIKSI
3.1 Prediksi Trade-off
Keuntungan dan kerugian
Jangka panjang dan jangka pendek
BAB 4. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
4.1 Kesimpulan
Kesimpulan kajian bab 1 s/d bab 3
Menyimpulkan efektivitas kebijakan
4.2 Rekomendasi
Bentuk nyata saran perbaikan

24

2.13 Critical Review terhadap Evaluasi Kinerja Kebijakan Publik dan


Penerapannya di Indonesia
Seperti telah dijelaskan di atas bahwa evaluasi bertujuan untuk menilai
apakah tujuan dari kebijakan yang dibuat dan dilaksanakan tersebut telah tercapai
atau tidak. Evaluasi muncul karena adanya kebutuhan untuk melakukan klarifikasi
dan kritik terhadap nilai-nilai yang mendasari kebijakan. Namun dalam
melaksanakan evaluasi menggunakan pendekatan, metode, dan teknik seperti
yang telah dijelaskan di atas sering terdapat kendala-kendala sehingga evaluasi
yang dilakukan menjadi tidak maksimal. Kendala-kendala tersebut antara lain:
1. Keterbatasan wewenang untuk melakukan evaluasi
Kegiatan evaluasi sangat berkaitan dengan kedudukan dan wewenang dari
pejabat atau instansi yang melakukan evaluasi. Artinya, evaluasi dapat berjalan
dengan baik kalau dilakukan oleh atasan kepada bawahan. Tetapi begitu
kedudukan yang dievaluasi secara hirarkis tidak berada di bawah pihak yang
mengevaluasi, persoalan kemudian menjadi berbeda. Di sini letak kesulitan
dalam pengembangan kebijakan publik. Pengawasan intern sesungguhnya
adalah evaluasi dengan tujuan untuk mengembangkan kebijakan. Berkaitan
dengan wewenang evaluasi ini, dewasa ini sering ada keluhan karena kinerja
pemerintahan daerah tidak dapat dilakukan lagi secara mudah oleh aparat
pengawasan internal pemerintah pusat. Ada batasan-batasan yang harus
diindahkan dan perlu diatur secara jelas. Sebab itu perlu dikembangkan
evaluasi non struktural dari masyarakat daerah agar evaluasi kinerja pemerintah
daerah tidak semata-mata bersifat lokal internal dan tertutup.
2. Tumpang tindih fungsi antar instansi
Tumpang tindih antar instansi terjadi bila suatu fungsi ditangani atau berada
dalam wewenang dua atau lebih instansi. Sebagai contoh paling mudah adalah
masalah penataan ruang. Semua instansi merasa berhak untuk melakukan
evaluasi terhadap penataan ruang, sebagai konsekuensinya timbul kesulitan
dalam merekomendasikan perbaikan dan pengembangan kebijakan.
3. Adanya unsur politis

25

Hampir semua instansi di berbagai negara, program evaluasi tidak mendapat


prioritas yang sama dengan program lain dalam fungsi pelaksanaan. Di satu
pihak karena evaluasi memberi kemungkinan adanya penilaian yang negatif
atas kinerja pemerintah. Bagi pemerintah yang sedang berkuasa, penilaian yang
demikian tentu saja tidak dapat menguntungkan. Di lain pihak, karena orang
lebih senang melihat ke depan, daripada memandang ke belakang. Artinya,
kebanyakan orang masih menganggap evaluasi itu tidak penting, atau
bahkan hanya sebagai formalitas saja tanpa melihat sisi baik dari evaluasi.
Atau evaluasi dianggap sebagai ancaman, di mana orang mudah melihat
evaluasi sebagai sarana mengkritik orang lain atau mengungguli kekuasan
orang lain.
4. Biaya
Evaluasi yang baik tentu saja merupakan hal yang mahal dalam segi waktu
maupun biaya. Selain itu, adanya anggapan bahwa evaluasi merupakan sebuah
hal yang tidak penting, maka dana yang tersedia untuk evaluasi relatif terbatas
di bandingkan dengan dan untuk program-program pelaksanaan.
5. Tidak adanya proses lanjutan atau follow up
Hal ini menjadikan evaluasi sebagai suatu hal yang sia-sia jika kita melihat
tujuan evaluasi

yaitu

memberikan

rekomendasi

perbaikan

terhadap

pelaksanaan kebijakan dalam proses berikutnya. Tidak adanya proses lanjutan


atau follow up ini merupakan salah satu dampak adanya anggapan bahwa
evaluasi adalah sebuah hal yang tidak penting, seperti apa yang telah dijelaskan
pada bagian di atas.
Dari pembahasan di atas, maka untuk mewujudkan kebijakan yang baik,
sebenarnya selain melakukan evaluasi yang baik juga diperlukan beberapa hal
yang sangat penting dan mendasar. Beberapa hal yang diperlukan adalah:
pertama, adanya perangkat

hukum berupa peraturan perundang-undangan

sehingga dapat diketahui publik apa yang telah diputuskan; kedua, kebijakan ini
juga harus jelas struktur pelaksana dan pembiayaannya; ketiga, diperlukan adanya
kontrol publik, yakni mekanisme yang memungkinkan publik mengetahui apakah
kebijakan ini dalam pelaksanaannya mengalami penyimpangan atau tidak.

26

Dalam masyarakat otoriter kebijakan publik adalah keinginan penguasa


semata, sehingga penjabaran di atas tidak berjalan. Tetapi dalam masyarakat
demokratis, yang kerap menjadi persoalan adalah bagaimana menyerap opini
publik dan membangun suatu kebijakan yang mendapat dukungan publik.
Kemampuan para pemimpin politik untuk berkomunikasi dengan masyarakat
untuk menampung keinginan mereka adalah satu hal, tetapi sama pentingnya
adalah kemampuan para pemimpin untuk menjelaskan pada masyarakat kenapa
suatu keinginan tidak bisa dipenuhi. Adalah naif untuk mengharapkan bahwa ada
pemerintahan yang bisa memuaskan seluruh masyarakat setiap saat, tetapi adalah
otoriter suatu pemerintahan yang tidak memperhatikan dengan sungguh-sungguh
aspirasi dan berusaha mengkomunikasikan kebijakan yang berjalan maupun yang
akan dijalankannya.
Bergulirnya reformasi pada tahun 1998, maka kebutuhan akan evaluasi
kinerja kebijakan menjadi semakin penting. Bergulirnya reformasi mengakibatkan
semakin banyak tuntutan akan adanya transparansi mengenai kebijakan yang
dibuat. Hal ini berkaitan dengan tuntutan terwujudnya good governance, yaitu
suatu

penyelenggaraan

manajemen

pembangunan

yang

solid

dan

bertanggungjawab yang sejalan dengan prinsip demokrasi dan pasar yang efisien,
penghindaran salah alokasi dana investasi, dan pencegahan korupsi baik secara
politik maupun administrasi, menjalankan disiplin anggaran serta penciptaan legal
dan political framework bagi tumbuhnya aktivitas usaha (World Bank) atau secara
umum diartikan sebagai pengelolaan pemerintahan yang baik sesuai dengan
prinsip-prinsip good governance. Adapun prinsip good governance yang
dimaksud antara lain adalah partisipasi masyarakat, kesetaraan, dan keefektifan
serta keefisienan. Partisipasi masyarakat adalah semua warga masyarakat
mempunyai suara dalam pengambilan keputusan, baik secara langsung maupun
melalui lembaga-lembaga perwakilan sah yang mewakili kepentingan mereka.
Partisipasi menyeluruh tersebut dibangun berdasarkan kebebasan berkumpul dan
mengungkapkan pendapat, serta kapasitas untuk berpartisipasi secara konstruktif.
Sedangkan yang dimaksud dengan kesetaraan adalah semua warga
masyarakat

mempunyai

kesempatan

27

memperbaiki

atau

mempertahankan

kesejahteraan mereka. Dan efektifitas dan efisiensi adalah proses-proses


pemerintahan dan lembaga-lembaga membuahkan hasil sesuai kebutuhan warga
masyarakat dan dengan menggunakan sumber-sumber daya yang ada seoptimal
mungkin. Hal ini sejalan dengan kriteria evaluasi menurut William N Dunn,
sehingga dapat disimpulkan bahwa jika ingin mengetahui mengenai keberjalanan
kinerja pemerintah sebagaimana yang dimaksud dalam prinsip good governance,
maka penilaian terhadap kinerja melalui evaluasi kinerja kebijakan adalah
merupakan sebuah proses yang harus untuk dilaksanakan.

28

BAB III
PENUTUP
3.1

Kesimpulan
Evaluasi merupakan salah satu dari proses ataupun siklus kebijakan publik

setelah perumusan masalah kebijakan, implementasi kebijakan, dan monitoring


atau pengawasan terhadap implementasi kebijakan. Sedangkan kebijakan publik
adalah keputusan-keputusan yang mengikat bagi orang banyak pada tataran
strategis atau bersifat garis besar yang dibuat oleh pemegang otoritas publik
evaluasi kebijakan bertujuan untuk menilai apakah tujuan dari kebijakan yang
dibuat dan dilaksanakan tersebut telah tercapai atau tidak.
William N Dunn (1998) mengemukakan terdapat enam belas metode dalam
mengevaluasi kinerja kebijakan dengan menggunakan tiga pendekatan, yaitu
evaluasi semu, evaluasi formal, dan decision-theoretic evaluation. Sedangkan
menurut Dye, terdapat lima teknik dalam melakukan evaluasi kebijakan publik,
yaitu hearing and reports, site visit, program measures, comparison with
professional standar, dan evaluation of citizen complaint.
Format evaluasi kebijakan publik terdiri dari 4 bab, yaitu kajian kebijakan,
konsekuensi dan resistensi, prediksi, serta kesimpulan dan rekomendasi.
Evaluasi diakui sebagai suatu hal yang penting dalam mengembangkan
manajemen yang berorientasi kepada hasil karena evaluasi memberikan umpan
balik kepada efisiensi, efektivitas, dan kinerja kebijakan publik. Evaluasi memiliki
peran yang kritikal kepada penciptaan inovasi dan perbaikan kebijakan. Tetapi
evaluasi tidak hanya sekedar mengahasilkan sebuah kesimpulan mengenai
tercapai atau tidaknya sebuah kebijakan atau masalah telah terselesaikan, tetapi
evaluasi juga berfungsi sebagai klarifikasi dan kritik terhadap nilai-nilai yang
mendasari kebijakan, membantu dalam penyesuaian dan perumusan masalah pada
proses kebijakan selanjutnya.

29

DAFTAR PUSTAKA
Dunn WN., 2003. Analisis Kebijaksanaan Publik., Kerangka Analisis dan
Prosedur Perumusan Masalah. Yogyakarta, PT. Hanindita Graha Widya.
Islamy MI., 2004. Prinsip-prinsip Perumusan Kebijaksanaan Negara. Jakarta.,
Penerbit Bumi Aksara.
Moekijat., 1995. Analisis Kebijaksanaan Publik. Bandung., Penerbit Mandar Maju
Pujiraharjo WJ., 2006. Bahan Kuliah Program S3 Ilmu Kedokteran; Analisis
Kebijakan Kesehatan. Surabaya, FK.UNAIR.
Suharto E., 2005. Analisis Kebijakan Publik; Panduan Praktis Mengkaji Masalah
dan Kebijakan Sosial. Bandung; Penerbit Alfabeta.
Undang-undang Republik Indonesia nomor 29 tahun 2004. Tentang Praktik
Kedokteran. Jakarta., Lembaran Negara RI.
Dunn, William N. 1998. Pengantar Analisis Kebijakan Publik. Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta.
Dye, Thomas R. 1992. Understanding Public Policy. Prentice Hall, New Jersey.
Abidin, Zainal Said. 2004. Kebijakan Publik. Yayasan Pancur Siwah, Jakarta.
Riyadi. 2003. Perencanaan Pembangunan Daerah. Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta.
Kartasasmita, Ginandjar. 1997. Administrasi Pembangunan dan Praktiknya di
Indonesia. LP3ES, Jakarta.

30