Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tingkat kesadaran masyarakat masih rendah mengenai betapa pentingnya
menyempurnakan penyusuan ASI selama dua tahun. Banyak para ibu yang
khawatir penampilannya terganggu akibat proses menyusui sehingga beralih pada
pemberian susu formula. Berdasarkan hasil survey Kesehatan Rumah Tangga
(SKRT) tahun 2004, ditemukan berbagai alasan ibu menghentikan pemberian ASI
kepada bayi diantaranya produksi ASI kurang (32%), ibu bekerja (16%), ingin
dianggap modern (4%), masalah puting susu(28%), pengaruh Iklan susu (16%)
dan pengaruh orang lain (4%). Berdasarkan hasil Survey Kesehatan Rumah
Tangga (SKRT) tahun 2007, masih tinggi prevalensi ibu yang tidak memberikan
ASI eksklusif kepada anaknya sebanyak (32%) dikarenakan oleh ibuibu banyak
memberikan tambahan susu formula karena ASI tidak keluar, menghetikan
pemberian ASI dikarenakan ibu atau bayi yang sakit, ibu harus bekerja, serta
keinginan ibu untuk mencoba susu formula.
ASI merupakan sebuah anugerah dari Allah SWT yang luar biasa, sumber
gizi yang paling sempurna baik kualitas maupun kuantitasnya, komposisi yang
seimbang dan sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan bayi. Pemberian ASI
ekslusif selama enam bulan pertama sampai dua tahun diakui sebagai standar
normatif pemberian makanan bagi bayi. Komposisi ASI dapat berubah sesuai
dengan kebutuhan nutrisi bayi pada setiap saat. Kandungan enzim dalam ASI
dapat membantu proses pencernaan berjalan dengan baik, kandungan zat imun
yang dapat mencegah bayi terinfeksi oleh bibit penyakit tertentu, yang tidak dapat
digantikan oleh susu formula.1,2
Asupan nutrisi yang tidak adekuat pada masa pertumbuhan dan
perkembangan

dapat

menimbulkan

gangguan

tumbuh

kembang

dentomaksilofasial. Gangguan perkembangan tersebut akan mengganggu asupan


nutrisi anak bahkan dapat menyebabkan kematian pada bayi. Gangguan tersebut
dapat berupa hipokalsifikasi, mandible developmental dissorders, gangguan
pembentukan sinus paranasal, serta keterlambatan waktu erupsi gigi-geligi. Pada
1

masa neonatal (0-4 minggu) hingga mencapai usia dua tahun, banyak terjadi
pertumbuhan dan perkembangan dentomaksilofasial, seperti pneumatisasi kedua
pembentukan sinus paranasal pada usia kelahiran sampai bayi berusia dua tahun,
terjadi pemisahan awal pada bagian sebelah kiri dan kanan corpus mandibula pada
midline simphysis menti selesai pada bulan ke-4 dan ke-12 setelah kelahiran, 3
dalam rentang masa neonatal sampai bayi mencapai usia dua tahun juga tejadi
proses erupsi gigi sulung serta kalsifikasi gigi Insisive sentral, insisive lateral,
molar pertama, caninus serta premolar satu dan dua permanen.4
Solusi terbaik adalah kembali pada anjuran Allah SWT dalam surah Al
Baqarah ayat 233 untuk menyempurnakan penyusuan selama dua tahun penuh.
Allah berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 233, Para ibu hendaklah
menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin
menyempurnakan penyusuan. Dan juga terdapat beberapa kisah shahih
Rasulullah SAW yang menggambarkan betapa pentingnya penyusuan bagi anak
yang telah dilahirkan. Secara medis, pergerakan menyusui dapat mengoptimalkan
pertumbuhan dan perkembangan rahang, kandungan mayor bioaktif dalam susu
seperti Immunoglobulin (Ig A, Ig G, dan Ig M) dan Mucins (MUC 1 dan 4)
mampu sebagai antimikrobial, blok infeksi virus dan aktivasi fagositosis.
Sedangkan komponen bioaktif lainnya seperti stem cell dapat memicu perbaikan
jaringan, serta growth factor (IGF, VEGF, EGF, dan Epo) dapat sebagai pemicu
proliferasi dan pematangan sel, serta pemicu perbaikan jaringan.5
Berdasarkan latar belakang di gatas, penulis ingin mengkaji peranan
anjuran penyempurnaan penyusuan selama dua tahun terhadap perkembangan
dentomaksilofasial dalam pandangan Al-Quran dan medis.
1.1 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, rumusan masalah yang akan
dibahas dalam tulisan ini adalah bagaimana peranan Anjuran penyempurnaan
penyusuan selama dua tahun terhadap perkembangan dentomaksilofasial
dalam pandangan Al-Quran dan medis ?

1.2 Tujuan Penulisan


2

Tujuan karya tulis ilmiah ini adalah untuk mengkaji anjuran peranan
penyempurnaan

penyusuan selama dua tahun terhadap perkembangan

dentomaksilofasial dalam pandangan Al-Quran dan medis.


1.4

Manfaat Penulisan
Manfaat yang dapat diperoleh dari karya tulis ilmiah ini adalah sebagai
berikut:
a. Memberikan

informasi

kepada

masyarakat

mengenai

pentingnya

penyempurnaan penyusuan selama dua tahun penuh bagi perkembangan


dentomaksilofasial bayi.
b. Memberikan informasi kepada paramedis mengenai peranan anjuran
penyempurnaan

penyusuan selama dua tahun terhadap perkembangan

dentomaksilofasial dalam pandangan Al-Quran dan medis.


1.3 Batasan Penulisan
Peranan anjuran penyempurnaan penyusuan selama dua tahun terhadap
perkembangan dentomaksilofasial dalam pandangan Al-Quran dan medis.
.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
3

2.1 ASI
Air Susu Ibu (ASI) merupakan emulsi lemak dalam larutan protein,
laktosa, dan garam-garam anorganik yang disekresikan oleh kedua belah
kelenjar payudara ibu yang berguna sebagai makanan utama bayi.6
ASI merupakan sumber gizi yang sangat ideal dengan komposisi yang
seimbang dan disesuaikan dengan kebutuhan pertumbuhan bayi. ASI adalah
makan bayi yang paling sempurna, baik kualitas maupun kuantitasnya.
Dengan tatalaksana menyusui yang benar. ASI sebagai makan tunggal akan
cukup memenuhi kebutuhan tumbuh bayi normal sampai usia 6 bulan.1
Berdasarkan waktu diproduksi, ASI dapat dibagi menjadi tiga yaitu :6
1. Kolostrum
a. Merupakan cairan yang pertama kali disekresi oleh kelenjar mamae
yang mengandung tissue debris dan residual material yang terdapat
dalam alveoli dan duktus dari kelenjar mamae sebelum dan segera
sesudah melahirkan anak.
b. Disekresi oleh kelenjar mamae dari hari pertama sampai hari ketiga
atau keempat, dari masa laktasi.
c. Komposisi kolostrum dari hari ke hari berubah.
d. Merupakan cairan kental yang ideal yang berwarna kekuningkuningan, lebih kuning dibandingkan ASI matur.
e. Merupakan suatu laxanif yang ideal untuk membersihkan
meconeum usus bayi yang baru lahir dan mempersiapkan saluran
pencernaan bayi untuk menerima makanan selanjutnya.
f. Lebih banyak mengandung protein dibandingkan ASI matur, tetapi
berlainan dengan ASI matur dimana protein yang utama adalah
kasein, pada kolostrum protein yang utama adalah globulin,
sehingga dapat memberikan daya perlindungan tubuh terhadap
infeksi.
g. Lebih banyak mengandung antibodi dibandingkan ASI matur yang
dapat memberikan perlindungan bagi bayi sampai 6 bulan pertama.
h. Lebih rendah kadar karbohidrat dan lemaknya dibandingkan
dengan ASI matur.
i. Total energi lebih rendah dibandingkan ASI mature yaitu 58
kalori/100 ml kolostrum.
4

j. Vitamin larut lemak lebih tinggi. Sedangkan vitamin larut dalam


air dapat lebih tinggi atau lebih rendah.
k. Bila dipanaskan menggumpal, ASI mature tidak.
l. PH lebih alkalis dibandingkan ASI mature.
m. Lemaknya lebih banyak mengandung kolestrol dan lesitin di
bandingkan ASI matur.
n. Terdapat trypsin inhibitor, sehingga hidrolisa protein di dalam usus
bayi menjadi krang sempurna, yangakan menambah kadar antobodi
pada bayi.
o. Volumenya berkisar 150-300 ml/24 jam.
2. Air Susu Masa Peralihan (Masa Transisi)
a. Merupakan ASI peralihan dari kolostrum menjadi ASI matur.
b. Disekresi dari hari ke 4 hari ke 10 dari masa laktasi, tetapi ada
pula yang berpendapat bahwa ASI mature baru akan terjadi pada
minggu ke 3 ke 5.
c. Kadar protein semakin rendah, sedangkan kadar lemak dan
karbohidrat semakin tinggi.
d. Volume semakin meningkat.
e. ASI yang disekresi pada hari ke 10 dan seterusnya, yang dikatakan
komposisinya relatif konstan, tetapi ada juga yang mengatakan
bahwa minggu ke 3 sampai ke 5 ASI komposisinya baru konstan.
3. Air Susu Matur
a. Merupakan makanan yang dianggap aman bagi bayi, bahkan ada
yang mengatakan pada ibu yang sehat ASI merupakan makanan
satu-satunya yang diberikan selama 6 bulan pertama bagi bayi.
b. ASI merupakan makanan yang mudah di dapat, selalu tersedia, siap
diberikan pada bayi tanpa persiapan yang khusus dengan
temperatur yang sesuai untuk bayi.
c. Merupakan cairan putih kekuning-kuningan, karena mengandung
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.

kasienat, riboflaum dan karotin.


Tidak menggumpal bila dipanaskan.
Volume: 300 850 ml/24 jam
Terdapat anti mikrobaterial faktor, yaitu:
Antibodi terhadap bakteri dan virus.
Sel (phagocyle, granulocyle, macrophag, lymhocycle type T)
Enzim (lysozime, lactoperoxidese)
Protein (lactoferrin, B12 Binding Protein)
Faktor resisten terhadap stapilokokus.
Komplement ( C3 dan C4)

2.1.1 Komposisi ASI


a. Protein
5

Protein dalam susu adalah kasein dan whey. Kadar protein ASI
sebesar 0,9% sampai 60% diantaranya adalah whey yang lebih mudah
dicerna dibanding kasein (protein utama susu sapi). Selain mudah dicerna,
dalam ASI terdapat dua macam asam amino yang tidak terdapat dalam
susu sapi yaitu sistin dan taurin. Sistin diperlukan untuk pertumbuhan
somatik, sedangkan taurin untuk pertumbuhan otak. Protein dalam sistem
biologi adalah sebagai transport dan penyimpanan. Contohnya transport
oksigen dalam eritrosit oleh hemoglobin dan rnioglobin yakni sejenis
protein yang mentransport oksigen dalam otot. Selain itu terdapat beberapa
jenis protein lainnya seperti filamen yang berfungsi dalam koordinasi
gerak; protein fibrosa yang berfungsi untuk menjaga ketegangan kulit dan
tulang; protein
Kolagen yang merupakan komponen serat utama dalam kulit,
tulang, tendon, tulang rawan dan gigi; antibodi merupakan protein yang
sangat spesifik dan dapat mengenal serta berkombinasi dengan benda
asing seperti virus, bakteri dan sel yang berasal dari organisme lain,
membangkitkan dan menghantar impuls saraf.7
b. Lemak
Kalori dari ASI 50% berasal dari lemak. Lemak ASI adalah komponen
yang paling berubah kadarnya. Lemak ASI terutama terdiri atas trigliserida
yang mudah diuraikan menjadi asam lemak bebas dan gliserol oleh enzim
lipase yang terdapat dalam usus bayi dan dalam ASI.2
Kadar kolesterol ASI lebih tinggi daripada susu tapi sehingga bayi yang
mendapat ASI seharusnya kadar kolesterol darah lebih tinggi, tetapi ternyata
penelitian Osborn membuktikan bahwa bayi yang tidak mendapatkan ASI
lebih banyak menderita jantung koroner pada usia muda. Diperkirakan
bahwa pada masa bayi diperlukan kolesterol pada kadar tertentu untuk
merangsang pembentukan enzim protektif yang membuat metabolisme
kolesterol menjadi efektif pada masa usia dewasa.1
c. Karbohidrat
Karbohidrat utama dalam ASI adalah laktose, yang kadarnya paling
tinggi dibanding susu mamalia lain (7%). Laktose mudah dipecah menjadi
glukose dan galaktose dengan bantuan enzim laktase yang sudah ada dalam
6

mukosa saluran pencernaan sejak lahir. Laktose mempunyai manfaat lain


yaitu mempertinggi absorbsi kalsium dan merangsang pertumbuhan
laktobasilus bifidus.1 Laktobasilus bifidus meningkatkan keasaman traktus
digestivus dan menghambat kuman patogen.2
d. Garam dan Mineral
Ginjal bayi belum dapat mengkonsentrasikan air kemih dengan baik,
sehingga diperlukan susu dengan kadar garam dari mineral yang rendah.
ASI mengandung garam dan mineral lebih rendah dibanding susu sapi. Bayi
yang mendapat susu sapi atau susu formula yang tidak dimodifikasi dapat
menderita tetani karena hipokalsemia.1 Bayi yang mendapat ASI menerima
cukup Natrium untuk kebutuhan pertumbuhan dan pengganti kehilangan
melalui kulit dan urin. Kadar Natrium dalam susu sapi adalah 3,6 kali dari
kadar dalam ASI sehingga bayi yang tidak mendapat ASI bila terjadi
dehidrasi mudah mengalami kejang karena hipernatremia. Walaupun kadar
besi dalam ASI rendah jarang bayi yang mendapat ASI mengalami
kekurangan zat besi dan dapat mempertahankan kadar ferrumnya sesuai
dengan susu formula yang mendapat tambahan besi. Fe dalam ASI diserap
50% (dibantu oleh laktosa dan vit C dalam ASI) sedangkan Fe dalam susu
formula hanya diserap 10%. Belum lagi kehilangan darah melalui traktus
digestivus yang diakibatkan oleh kerusakan mukosa pada bayi yang
mendapat susu formula. Selain itu ASI mengandung trace elements yang
memegang peran penting pada pertumbuhan dan perkembangan bayi.2
Tabel 2.1. Kadar mineral dalam ASI dan susu sapi (per 100 ml)10
Mineral

Kolostrum

ASI

Susu sapi

Natrium (mg)
Kalium (mg)
Magnesium

48.0
74.0
4.0

15.0
57.0
4.0

58.0
145.0
12.0

(mg)
Kalsium (mg)
Fosfor (mg)
Chlor (mg)
Ferrum (mcg)
Cuprum (mcg)

39.0
14.0
85.0
70.0
40.0

35.0
15.0
40.0
100.0
40.0

130.0
120.0
108.0
70.0
14.0

Total

200.0

700.0

e. Faktor anti infeksi


Dalam kandungan fetus mendapatkan antibodi yang berasal dari ibunya
melalui plasenta. Namun setelah lahir, neonatus belum mempunyai cukup
kemampuan untuk menghadapi dunia di luar uterus yang terkontaminasi
dengan kuman lain, oleh karena antara lain daya fagositosis yang belum
sempurna. SIgA yang terdapat dalam ASI memberikan proteksi lokal pada
mukosa traktus digestivus. Selain itu di dalam ASI terdapat zat penangkal
penyakit yang berupa faktor selular dan faktor humeral.

Tabel 2.2 Faktor Anti Infeksi dalam ASI1


Faktor Antibakteri
sIgA

Efektif terhadap
E. coli, C. tetani, C. diphteriae. K.
pneumoniae, Salmonella, Shigella,
Streptokokus, H. influenzae
Pilio, Rubella, CMV, Rotavirus,

IgD
Laktoferin
Laktoperoksidase

Influensa, RSV
G. lamblia, E.histolitika
V. cholerae, E. coli
Rubella, CMV, RSV
E. coli
E. coli
Streptokokus, Pseudomonas, E. coli,

Lysozyme
Makrofag,neutrofil,limfosit

S. Typhimurium
E. coli, Salmonella sp.
Dengan cara fogositosis, pembentukan

IgG, IgM

interferon,
sitokin dan limfokin
S. aureus
H. simplex
G. lamblia, E. histolytica T. vaginalis

Lipid
2.1.2 Manfaat ASI

Bagi ibu dan bayi, pemberian ASI eksklusif dapat mempermudah


tejalin ikatan kasih sayang yang mesra antara ibu dan bayi baru lahir. Hal ini
8

merupakan awal dari keuntungan menyusui secara eksklusif. Bagi bayi tidak
ada pemberian yang lebih berharga dari ASI. Hanya seorang ibu yang dapat
memberikan makanan terbaik bagi bayinya. Selain dapat meningkatkan
kesehatan dan kepandaian secara optimal, ASI juga membuat anak potensial
memiliki perkembangan sosial yang baik.
a. Bagi Bayi
1) ASI sebagai nutrisi.
Makanan "terlengkap" untuk bayi, terdiri dari proporsi yang seimbang dan
cukup mengandung zat gizi yang diperlukan untuk 6 bulan pertama.
2) Mengandung antibodi (terutama kolostrum) yang melindungi terhadap
penyakit terutarna diare dan gangguan pernapasan.
3) Menunjang perkembangan motorik sehingga bayi yang diberi ASI ekslusif
4)
5)
6)
7)

akan lebih cepat bisa jalan.


Meningkatkan jalinan kasih sayang
Selalu siap tersedia, dan dalam suhu yang sesuai.
Mudah dicerna dan zat gizi mudah diserap.
Melindungi terhadap alergi karena tidak mengandung zat yang dapat

menimbulkan alergi.
8) Mengandung cairan yang cukup untuk kebutuhan bayi dalam 6 bulan
pertama (87% ASI adalah air).
9) Mengandung asam lemak yang diperlukan untuk pertumbuhan otak
sehingga bayi ASI eksklusif potensial lebih pandai.
10) Menunjang perkembangan kepribadian, kecerdasan

emosional,

kematangan spiritual, dan hubungan sosial yang baik.


b. Bagi Ibu
1) Mengurangi Pendarahan Setelah Melahirkan
Apabila bayi disusukan segera setelah dilahirkan, maka kemungkinan
terjadinya pendarahan setelah melahirkan (post partum) akan berkurang.
Pada ibu menyusui terjadi peningkatan kadar oksitosin yang berguna juga
untuk kontraksi atau penutupan pembuluh darah sehingga pendarahan
akan lebih cepat berhenti.
2) Menjarangkan Kehamilan
Menyusui merupakan cara kontrasepsi yang aman, murah, dan cukup
berhasil. Selama ibu memberi ASI eksklusif dan belum haid, 98% tidak
akan hamil pada 6 bulan pertama setelah melahirkan dan 96% tidak akan
hamil sampai bayi berusia 12 bulan.
3) Menempelkan segera bayi pada payudara membantu pengeluaran plasenta
9

karena hisapan bayi merangsang kontraksi rahim, karena itu menurunkan


resiko pendarahan pasca persalinan.
4) Memberikan ASI segera (dalam

waktu

60

menit).,

membantu

meningkatkan produksi ASI dan proses laktasi.


5) Hisapan puting yang segera dan sering membantu mencegah payudara
bengkak.
6) Pemberian ASI membantu mengurangi beban kerja ibu karena ASI tersedia
kapan dan dimana saja. ASI selalu bersih sehat dan tersedia dalam suhu
yang cocok.
7) Pemberian ASI ekonomis/murah
8) Menurunkan resiko kanker payudara
9) Dapat menimbulkan efek kedekatan secara psikologis bagi ibu dan anak
2.2 Perkembangan Dentomaksilofasial

Gambar 2.1 : Sisi lateral cranium neonatus dan dewasa, menggambarkan


pertumbuhan relatif dari wajah dan neurocranium.11
Doyle L. W., Crowther C. A., Middleton P., Marret S. (2009).
Antenatal magnesium sulfate and neurologic outcome in preterm infants.
Obstet. Gynecol menyatakan bahwa perkembangan adalah peningkatan
fungsi dan kapabilitas seorang anak. Dalam mempelajari perkembangan
dapat dibagi atas beberapa kategori yang spesifik seperti gerakan motorik
kasar, gerakan motorik halus, perkembangan bahasa, sosial dan emosional.
Pada anak yang normal, proses perkembangan terjadi dalam kecepatan yang
berbeda misalnya ada anak yang berjalan dalam usia yang lebih cepat dari
sebagian anak lain namun lambat dalam perkembangan berbicaranya.

10

2.2.1 Perkembangan Rahang

Gambar 2.2 : Perubahan yang terjadi pada mandibula seiring dengan usia.9
Bentuk dan ukuran mandibula janin mengalami tranformasi yang
berarti selama pertumbuhan dan perkembangannya. Ramus asenden dari
mandibula neonatal rendah dan lebar, prosesus coronoideus relatif lebar.
Corpus mandibula sebagai pelindung benih gigi permanen, sebagian
mahkota gigi sulung dan canalis mandibula. Pemisahan awal bagian
sebelah kiri dan kanan corpus mandibula pada midline simphysis menti
selesai pada bulan ke-4 dan ke-12 setelah kelahiran. Walaupun mandibula
tampak sebagai tulang tunggal pada usia dewasa, ,mandibula masih
mengalami perkembangan fungsional sebagai sub unit skeletal. Tulang
basal dari corpus membentuk satu unit yang menjadi perlekatan tulang
alveolar, coronoid, angular dan prosesus condylus. Mandibula banyak
mengalami pertumbuhan pada post-natal, banyak terdapat variasi
morfologi.
2.2.2 Pembentukan Sinus Paranasal.
Sel udara ethmoid dari meatus tengah dan superior meatus
mendesak kapsul ectethmoid nasal pada fase pneumatisasi primer.
Pneumatisasi kedua terjadi diantara masa kelahiran sampai usia 2 tahun, 3
sampai 15 sel udara tumbuh secara tidak beraturan untuk membentuk
labirin ethmoid.

11

Gambar 2.3 Sinus Paranasal 11


2.2.3 Perkembangan Gigi
Tidak semua gigi berkembang dalam waktu yang sama, tanda-tanda
pertama perkembangan gigi pada embrio ditemukan di daerah anterior
mandibula waktu usia 5-6 minggu, sesudah terjadi tanda-tanda
perkembangan gigi di daerah anterior maksila kemudian berlanjut ke arah
posterior dari kedua rahang. Perkembangan dimulai dengan pembentukan
lamina gigi. Dental lamina adalah suatu pita pipih yang terjadi karena
penebalan jaringan epitel mulut (ektodermal) yang meluas sepanjang batas
oklusal dari mandibula dan maksila pada tempat mana gigi-gigi akan
muncul kemudian. Dental lamina tumbuh dari permukaan sampai dasar
mesenhim.12
2.2.3.1 Tahap Kalsifikasi
Tahap kalsifikasi adalah suatu tahap pengendapan matriks dan
garam-garam kalsium.13 Kalsifikasi akan dimulai di dalam matriks yang
sebelumnya telah mengalami deposisi dengan jalan presipitasi dari satu
bagian ke bagian lainnya dengan penambahan lapis demi lapis. Gangguan
pada tahap ini dapat menyebabkan kelainan pada kekerasan gigi seperti
hipokalsifikasi.14 Tahap ini tidak sama pada setiap individu, dipengaruhi
oleh faktor genetik atau keturunan. Faktor ini mempengaruhi pola
kalsifikasi, bentuk mahkota dan komposisi mineralisasi. Kalsifikasi gigi
permanen dimulai saat lahir, yaitu saat molar pertama permanen mulai
terkalsifikasi.13
2.2.3.2 Tahap Erupsi Gigi
Erupsi gigi adalah proses yang bervariasi pada setiap anak. Variasi
ini bisa terjadidalam setiap periode dalam proses pertumbuhan dan
12

perkembangan gigi, terutama padaperiode transisi pertama dan kedua.


Variasi ini masih dianggap sebagai suatu keadaan yang normal jika
lamanya perbedaan waktu erupsi gigi masih berkisar antara 2 tahun.15
Erupsi gigi dipengaruhi oleh faktor intrinsik, yaitu ras, genetik, dan jenis
kelamin dan ekstrinsik, serta faktor ekstrinsik yang meliputi nutrisi dan
tingkat ekonomi.
Erupsi gigi dimulai setelah pembentukan mahkota dilanjutkan
dengan pembentukan akar selama usia kehidupan dari gigi dan terus
berlangsung

walaupun

gigi

telah

mencapai

oklusi

dengan

gigi

antagonisnya.16, 17
Pertumbuhan dan perkembangan gigi dipengaruhi oleh faktor
lingkungan tetapi tidakbanyak mengubah sesuatu yang telah ditentukan
oleh faktor keturunan. Pengaruhfaktor lingkungan terhadap waktu erupsi
gigi adalah sekitar 20%.16 Faktor-faktor yang termasuk ke dalam faktor
lingkungan antara lain:
a. Sosial Ekonomi
Tingkat sosial ekonomi dapat mempengaruhi keadaan nutrisi,
kesehatan seseorangdan faktor lainnya yang berhubungan

18

Anak dengan

tingkatekonomi rendah cenderung menunjukkan waktu erupsi gigi yang


lebih lambatdibandingkan anak dengan tingkat ekonomi menengah.16
b. Nutrisi
Faktor pemenuhan gizi dapat mempengaruhi waktu erupsi gigi dan
perkembanganrahang.19 Nutrisi

sebagai

faktor

pertumbuhan

dapat

mempengaruhi erupsi dan proses kalsifikasi. Keterlambatan waktu erupsi


gigi dapat dipengaruhi olehfaktor kekurangan nutrisi, seperti vitamin D
dan gangguan kelenjar endokrin. Pengaruhfaktor nutrisi terhadap
perkembangan gigi adalah sekitar 1%.16 Meskipun data pengaruh gizi
terhadap pertumbuhan gigi permanen kurang, tetapi terdapat bukti bahwa
kekurangan gizi kronis pada anak-anak dalamwaktu yang lama dapat
menyebabkan erupsi gigi tertunda. Meskipun pada satupenelitian
melaporkan bahwa bahwa gigi molar dan insisivus permanen lebih
cepaterupsi pada kelompok anak usia 6 tahun yang mengalami kekurangan
13

proteinmalnutrisipada usia dini. tetapi kurangnya sampel dan tidak adanya


laporan statusgizi pada pemeriksaan.20
Peran protein dalam menunjang pertumbuhan tubuh dan berbagai
jaringan termasuk pertumbuhan jaringarn tulang seperti mandibula sangat
penting. Kekurangan protein atau yang biasa disebut defisiensi protein
juga dapat mempengaruhi dimensi panjang mandibul.21
c.

Faktor Penyakit
Gangguan pada erupsi gigi permanen dapat disebabkan oleh
penyakit sistemikdan beberapa sindroma, seperti Down syndrome,
Cleidocranial dysostosis, Hypothyroidism, Hypopituitarism, beberapa tipe
dari Craniofacial synostosis dan Hemifacial atrophy.18

Tabel 2.2 Perkembangan kronologis erupsi gigi permanen. Slightly modified by


McCall and Schour.

2.3 Kelainan Pertumbuhan dan Perkembangan Dentomaksilofasial


2.3.1 Mikrognasia
Istilah mikrognasia umumnya dipakai khusus untuk mandibula
meskipun dapat pula dipakai untuk menunjukkan pengecilan ukuran
mandibula dan maksila. Dagu dapat sangat retrusif atau absen sama sekali.
Hidung dan bibir atas menjadi menonjol sehingga muka seperti burung.
Keadaan ini dapat bersifat kongenital seperti yang ditemukan pada
berbagai sindrom, dapat pula terjadi sesudah lahir, misalnya akibat trauma,
atau infeksi seperti atritis rematoid juvenilis. Mikrognasia disebabkan oleh
kegagalan pusat pertumbuhan di kepala sendi. Penyebabnya adalah
14

kelainan perkembangan atau didapat. Cedera pada kepala sendi oleh


trauma pada saat lahir atau infeksi pada telinga dapat menyerang pusat
pertumbuhan kepala sendi. Kemungkinan lain adalah trauma atau infeksi
daerah kepala sendi yang umumnya unilateral dan menyebabkan
pengecilan ukuran rahang yang unilateral.
Mikrognasia rahang atas ditemukan pada disostosis kraniofasial
sindrom

akrosefalosindaktilia

yang

karakteristik

ditemukan

pada

oksisefalik, sindaktilia tangan dan kaki dan pada sindrom down.Keadaan


ini dapat dikoreksi dengan bedah. Bila perkembangan rahang tidak bagus,
gigi geligi menjadi berdesakan dan rahang gagal untuk menyesuaikan diri
sehingga gigi tidak dapat beroklusi dengan baik atau dalam posisi buruk
untuk berfungsi atau mengganngu estetik.11
2.3.2 Hipoplasi dan Hipokalsifikasi Enamel
Secara umum nutrisi penting untuk pertumbuhan struktur tubuh
termasuk struktur oral. Pembentukan gigi dipengaruhi oleh faktor nutrisi
yang optimal dan fungsi endokrin normal baik pada saat prenatal maupun
pascanatal menerangkan bahwa malnutrisi dapat mempengaruhi aktivasi
ameloblas dan mengakibatkan kerusakanemail yang menetap.13
2.4 Penyempurnaan Penyusuan Dalam Islam
Anjuran Penyempurnaan Penyusuan dalam Surat Al-Baqarah (2) ayat
233
Penyusuan oleh ibu sangat dianjurkan al-Quran, sebagaimana tersebut
dalam surat al-Baqarah (2) ayat 233:

Artinya : Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun


penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah
15

memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara maruf. Seseorang
tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang
ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya
dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih
(sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka
tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika ingin anakmu disusukan oleh orang lain,
maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut
yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha
Melihat apa yang kamu kerjakan (al-Baqarah (2) : 233)
Ayat diatas menunjukkan bahwa menyusui anak adalah anjuran, namun
bukan kewajiban. Itu berarti ibu boleh saja memilih untuk tidak menyusui
anaknya, meskipun hal tersebut berarti tidak melakukan yang lebih utama.
Meskipun terdapat perintah kepada para ibu untuk menyusui anak dalam surat alBaqarah 233, namun hokum bagi ibu untuk menyusui anak diperselisihkan para
ulama. Abu Bakar al-Jassas, berpendapat bahwa surat al-Baqarah ayat 233 berisi
dua kemungkinan :
1.

Jumlah khabariyah dalam surat al-Baqarah di atas bermakna amr


(perintah) yang menunjukkan kewajiban seorang ibu untuk menyusui

2.

anak.
Jumlah khabariyah tersebut menunjukkan kan hak seorang ibu untuk
menyusui. Konsekuensinya ayah wajib memberikan nafkah kepada ibu.
Seandainya ayah enggan untuk memberi nafkah ketika masa menyusui (2
tahun), ia bisa dipaksa untuk melakukannya. Sementara itu, ibu bisa
memilih untuk menyusui atau anak disusui oleh orang lain yang disewa
oleh ayah.22
Sementara itu, Abu Yala al-Farra berpendapat bahwa perintah di atas

mengacu kepada ayah untuk memberi nafkah dalam masa persusuan ibu.23
Muhammad bin Ali Al-Syawkani berpendapat bahwa ibu wajib menyusui ketika
anak tidak mau menerima susu dari orang lain. 24 Sementara itu, Ilkiya al-Harasy
berpendapat bahwa ayat di atas secara implisit menunjukkan hak hadlanah ibu
ketika anak belum mencapai usia 2 tahun. 25 Dapat disimpulkan bahwa hukum
menyusui anak oleh ibu kandung berada di antara hukum kewajiban dan hak.
16

Hukum dasar kewajiban adalah wajib, sedangkan hukum dasar hak adalah mubah.
Jadi, hukum persusuan oleh ibu adalah antara hukum wajib dan mubah, yaitu
sunnah. Sunnah bagi ibu untuk menyusui tersebut sangat ditekankan oleh nass.
Persusuan Surat Luqman (34) ayat 14
Persusuan oleh ibu sangat dianjurkan al-Quran, sebagaimana tersebut
dalam surat Luqman (34) ayat 14:

Artinya : Dan kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada
kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang
bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah
kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu
(Luqman (34) : 14)
Dari ayat di atas terlihat bahwa manusia diperintahkan untuk menyapih
anaknya dalam dua tahun. Ukuran dua tahun memberikan informasi bahwa
pemberian ASI hanya mampu memenuhi kebutuhan anak sampai usia dua tahun
dan selama dua tahun ini ASI mampu menjadi pemenuh kebutuhan utama pada
anak.26
Ayat ini turun berkenaan dengan serangkaian ayat yang membicarakan
tentang peraturan rumah tangga. Salah satunya mendiskusikan hukum-hukum
tentang perceraian yang bertujuan melindungi hak bayi di saat hubungan
pernikahan kedua orang tuanya dalam keadaan kritis dan berpotensi mengancam
kepentingan bayi. Karena itu, permulaan ayat ini disepakati berlaku secara umum,
baik orang tua bercerai atau tidak. Ayat tersebut menunjukkan bahwa masa
sempurna menyusui (laktasi) adalah 2 tahun penuh. Turunnya wahyu tentang
rentang waktu yang ideal untuk menyusui ini merupakan nikmat Allah yang tak
ternilai harganya. Allah SWT sudah memberikan petunjuk yang syari
17

berhubungan dengan periode menyusui. Tuntunan syariat ini sudah diturunkan


berabad-abad sebelum ada hasil penelitian yang membuktikan bahwa 2 tahun
pertama itu The golden Age, masa yang sangat penting dalam pertumbuhan dan
perkembangan anak.
Selain itu, Imam Ibnu Abi Hatim meriwayatkan:



:





:

{
}
Artinya : Menceritakan kepadaku Ayahku, telah menceritakan kepada kami
Farwah bin Abul Maghro, menceritakan kepada kami Ali bin Mushir, dari Daud
bin Abi Hind, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas dia berkata: Apabila seorang
wanita melahirkan pada usia 9 bulan, maka cukup bagi bayi itu disusui selama
21 bulan. Apabila dia melahirkannya pada usia 7 bulan, maka cukup bagi bayi
tersebut untuk disusui selama 23 bulan. Dan apabila dia melahirkannya pada
usia 9 bulan, maka bayi tersebut disusui selama dua tahun penuh( Tafsir Ibnu
Abi Hatim: no 18567).
2.5 Pengaruh Penyusuan ASI Terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan
Dentomaksilofasial.
Menyusui adalah suatu proses pemberian makanan berupa air susu
dari ibu kepada bayi. Bayi mempunyai refleks mengisap dan menelan air
susu. Ketepatan posisi mulut bayi pada payudara ibu, frenulum yang
normal, dan masuknya air susu merupakan faktor yang menentukan
keberhasilan dalam proses menyusui. Pada umumnya proses menyusui
pada bayi berlangsung mulai dari lahir sampai bayi berusia dua tahun.
Periode ini disebagai fase oral, dimana mulut merupakan organ yang
paling penting. Bayi menggunakan mulutnya untuk mengetahui hal baru,
18

dengan cara merasa, menggigit, dan menjilat untuk memberikan informasi


mengenai lingkungan sekitarnya. Selama periode ini, bayi belajar untuk
menerima dan menumbuhkan kepercayaan dirinya untuk mendapatkan apa
yang dibutuhkan.27
2.5 Pengaruh Gerakan Menyusui Terhadap Pertumbuhan Rahang
Menyusu memungkinkan rahang bayi yang masih dalam proses
perkembangan terbentuk menjadi lebih baik. ASI memberikan peran
khusus secara tidak langsung, yaitu pada saat aktif mengisap, bayi telah
melakukan gerakan mulut yang teratur dan berkesinambungan. Proses ini
membantu proses pemadatan sel-sel tulang rahang. Aktifitas bayi tersebut
merupakan proses dalam mencapai suatu oklusi normal.Berbeda dengan
bayi yang tidak menyusu ASI atau bayi yang menyusu botol, bayi sering
bersifat pasif dalam mengisap karena bergantung pada tetesan susu botol
yang dapat keluar tanpa harus diisap. Tekanan kedua payudara ketika
bersentuhan dengan pipi bayi seolah merupakan kompresor yang menekan
rahang kearah dalam mulut bayi. Berbeda pada bayi yang tidak mendapat
ASI, atau dengan kata lain bayi yang mendapat air susu dengan
menggunakan dot, bahan dot yang lebih keras dari puting susu dan areola
mammae sehingga dot ini tidak dapat dilipat oleh lidah dan rahang bayi.
Upaya bayi untuk mengatasi hal ini adalah dengan memasukkan seluruh
panjang dot ke dalam mulut agar bayi dapat menekan dot untuk
mendapatkan tetesan susu. Aktifitas seperti ini berarti memaksa mulut bayi
tertarik ke depan, sehingga menyebabkan bentuk rahang berubah menjadi
lebih maju.28
Maloklusi akibat tidak terpenuhinya nutrisi pada fase oral atau
dengan katalain maloklusi pada anak yang tidak mendapat ASI dapat
menjadi suatu responindividual dari suatu hubungan sebab akibat yang
spesifik. Kebiasaan mengisapdapat menyebabkan maloklusi, dan tipe dari
maloklusi ini tergantung dari intensitas,durasi, dan frekuensi dalam
melakukan kebiasaan mengisap. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa
semakin awal bayi menyusu dari botol dua kali lebih besar besar terkena
19

risiko maloklusi/kerusakan pada gigi dibandingkan bayi yang menyusu


langsung/tidak menyusu dari botol.28
2.6

Pengaruh Kandungan Bioaktif ASI Terhadap Pertumbuhan


Dentomaksilofasial
ASI mengandung semua zat gizi untuk membangun dan
penyediaan

energi

dalam

susunan

yang

diperlukan.

ASI

tidak

memberatkan fungsi traktus digestivus dan ginjal yang belum berfungsi


dengan baik pada bayi yang baru lahir, serta menghasilkan pertumbuhan
fisik yang optimum. Lagipula ASI memiliki berbagai zat anti infeksi, yang
dapat menigkatkan sistemimun bayi.29
a. Kalsium
Kalsium merupakan mineral yang paling banyak terdapat di dalam
tubuh, yaitu 1,5 2 % dari berat badan orang dewasa atau sekitar 1 kg, 99
% berada didalam jaringan keras, yaitu tulang dan gigi. Angka kecukupan
rata-rata sehari untuk kalsium bagi orang Indonesia yaitu untuk bayi 300400 mg, anak-anak 500 mg, remaja 600-700 mg, dewasa 500-800 mg
sedangkan untuk ibu hamil dan menyusui adalah angka kecukupan
kalsium orang dewasa ditambah 400 mg.30
Kadar Kalsium dalam ASI lebih rendah dari susu sapi tetapi
penyerapan Kalsium dari ASI adalah 67% dibandingkan dengan 25% dari
susu sapi.

BAB III
METODE PENULISAN
20

3.1 Pengumpulan Data dan Informasi


Pengumpulan data dan informasi karya tulis ilmiah ini dilaksanakan
pada tanggal 29 Oktober sampai 21 November 2014 dengan sumber referensi
dari buku teks, jurnal ilmiah, skripsi dan thesis yang berasal dari browsing
internet.
3.2 Pengolahan Data dan Informasi
Pengolahan data dan informasi karya tulis ilmiah inidilakukan dengan
menggunakan pendekatan teoritik dan kajian pustaka.
3.3 Analisis dan Sintesis
Literatur-literatur yang diperoleh dianalisis melalui analisis deskriptif
yaitu menguraikan data dan fakta dari hasil tinjauan pustaka. Analisis data
digunakan dalam menganalisis permasalahan yang akhirnya menentukan
sintesis berupa usulan alternatif pemecahan masalah melalui sebuah gagasan
kreatif.
Penulisan karya tulis ilmiah kajian pustaka ini dilakukan dengan cara
yang sistematis. Langkah-langkah dalam penulisan karya ilmiah ini meliputi:
(1) menentukan masalah; (2) mengumpulkan data dan informasi yang berasal
dari referensi

yang

sesuai dengan topik karya

tulis

ilmiah;

(3)

mengembangkan dan menganalisis permasalahan berdasarkan referensi yang


didapatkan; (4) mencari pemecahan masalah dan mencari alternatif usulan
berdasarkan analisis yang telah disusun; (5) membuat simpulan dan saran.

BAB IV
PEMBAHASAN

21

Pertumbuhan dan perkembangan dentomaksilofasial yang terjadi sejak


masa kelahiran sampai bayi berusia dua tahun adalah perkembangan transformasi
mandibula, kalsifikasi gigi-benih gigi molar pertama, Insisive sentral, lateral,
caninus, serta premolar satu permanen, pembentukan sinus paranasal, serta otototot mastikasi.11 Asupan nutrisi yang kurang pada masa pertumbuhan dan
perkembangan dapat menimbulkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan
dentomaksilofasial. Gangguan tersebut dapat berupa hipokalsifikasi gigi,
mandible developmental dissorders, gangguan pembentukan sinus paranasal,
gangguan perkembangan otot mastikasi serta keterlambatan waktu erupsi gigigeligi.16,19 Gangguan pertumbuhan dan perkembangan dentomaksilofasial akibat
asupan nutrisi yang tidak adekuat tersebut dalam angka panjang dapat berdampak
pada defisiensi asupan nutrisi pada anak, bahkan dapat mengakibatkan kematian.
Allah telah menganjurkan kepada hamba-Nya (para ibu) dalam firmanNya dalam surah Al-Baqarah Ayat 233 serta surah Luqman Ayat 14

untuk

menyempurnakan penyusuan selama dua tahun. Turunnya wahyu tentang rentang


waktu yang ideal untuk menyusui ini merupakan nikmat Allah yang tak ternilai
harganya. Allah SWT sudah memberikan petunjuk yang syari berhubungan
dengan periode menyusui.
Dalam surah luqman ayat 4 yang berbunyi, Dan kami perintahkan
kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah
mengandungnya

dalam

keadaan

lemah

yang

bertambah-tambah,

dan

menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua
orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu (Luqman (34) : 14) Dari ayat di
atas terlihat bahwa manusia diperintahkan untuk menyapih anaknya dalam dua
tahun. Ukuran dua tahun memberikan informasi bahwa pemberian Air Susu Ibu
mampu memenuhi kebutuhan utama anak sampai usia dua tahun. Tuntunan syariat
ini sudah diturunkan berabad-abad sebelum ada hasil penelitian yang
membuktikan bahwa 2 tahun pertama itu The golden Age, masa yang sangat
penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak.
Selain itu, terdapat kisah yang meriwayatkan seorang perempuan yang
hendak dihukum rajam karena telah berzina. Perempuan tersebut menyerahkan
dirinya kepada Rosulullah untuk dirajam sebagai penebus dosa yang telah dia
lakukan namun Rosulullah menolaknya karena dia sedang hamil. Rasulullah
22

memerintahkannya untuk melahirkan anak yang ada dalam kandungannya


kemudian menyusui dan menyapihnya, barulah kemudian menghadap Rasulullah
kembali untuk menerima hukum rajam. Pada riwayat lainnya berbunyi, Kalau
begitu kita tidak bisa merajamnya sedangkan kita biarkan anaknya yang masih
kecil tanpa ada yang menyusuinya. Lalu bangkit seorang dari Anshor, ia berkata :
aku yang akan menanggung persusuannya wahai Nabi Alloh. Buroidah berkata :
lalu wanita itu dirajam. (Hadits Riwayat Muslim Nomor 1695)
Dalam kisah yang telah diriwayatkan tersebut mengindikasikan bahwa
betapa pentingnya periode menyusui seorang ibu kepada anaknya sehingga
hukuman rajam yang diterima sang ibu ditunda oleh Rasulullah SAW. Dalam
berbagai penelitian telah membuktikan manfaat yang luar biasa dari komponen
bioaktif yang terkandung dalam Air Susu Ibu (ASI).
ASI mengandung makronutrien, mikronutrien, serta berbagai komponen
bioaktif yang bermanfat bagi pertumbuhan dan perkembangan dentomaksilofasial
bayi. Komposisi makronutrien rata-rata diperkirakan sekitar 0,9-1,2 g / dL untuk
protein, 3.2, 3,6 g / dL untuk lemak, dan 6,7-7,8 g / dL untuk laktosa. Protein
yang paling banyak adalah kasein, a laktalbumin, laktoferin, sekretorik IgA
(sIgA), lisozim, dan serum albumin.5
Kadar protein ASI sebesar 0,9% sampai 60% diantaranya adalah whey
yang lebih mudah dicerna dibanding kasein (protein utama dalam susu sapi).
Protein dibutuhkan untuk pertumbuhan sel dan fungsi otak serta perlindungan
anak dari infeksi (sistem imun). Protein sebagai zat pembangun pembentukan
jaringan, protein bermanfaat bagi pembentukan jaringan kolagen pada
optimalisasi perkembangan otot-otot maksilofasial serta sebagai bahan pembentuk
matriks organik tulang.
ASI mengandung asam lemak tak jenuh omega tiga Poly-unsaturated
Faty Acid (PUFA). Kandungan Docosahexaenoic Acid (DHA) dalam ASI dapat
meningkatkan pengendapan kalsium pada proses remineralisasi tulang.32 Selain itu
kandungan DHA dalam ASI juga berguna bagi peningkatan ekspresi Bone Sialo
protein (BSP) dalam meningatkan aktivitas osteoblas.
Kandungan garam-garam mineral dalam ASI berupa kalsium, fosfor,
kalium dan natrium berperan penting dala proses pembentukan tulang. Kadar
Kalsium dalam ASI lebih rendah dari susu sapi tetapi penyerapan Kalsium dari
23

ASI adalah 67% dibandingkan dengan 25% dari susu sapi. Hal tersebut terjadi
karena perbandingan kadar kalsium dan Fosfor dalam ASI adalah sebesar 1:3,
merupakan kadar yang sangat ideal bagi peningkatan absorbsi kalsium pada
proses remineralisasi tulang.
Kalsium dan fosfor saling berpengaruh erat dalam proses absorbsi
kalsium. Menurut Sediaoetama (2000) untuk absorbsi kalsium yang baik
diperlukan perbandingan Ca:P dalam rongga usus 1:1 sampai 1:3. Perbandingan
Ca:P yang lebih besar dari 1:3 akan menghambat penyerapan Kalsium, sehingga
hidangan yang demikian akan menimbulkan penyakit defisiensi Ca, yaitu
rakhitis.33
Absorbsi kalsium yang optimal dapat meningkatkan kalsifikasi gigigeligi yang sedang mengalami pembentukan gigi-geligi pada masa dua tahun
pertama setelah kelahiran. Selain itu, pertumbuhan dan perkembangan rahang
menjadi optimal karena terjadinya peningkatan osteoblas dalam proses
remineralisasi tulang.
Komponen bioaktif dalam ASI dapat berasal dari produksi dan sekresi
epitel kelenjar susu. Komponen mayor bioaktif ASI berupa sel-sel, sitokin, growth
factor, dan immunoglobulin. Komponen sel-sel berupa makrofag berfungsi
sebagai perlindungan terhadap infeksi dan aktivasi sel T dalam menghasilkan
antibodi, serta stem sel yang berfungsi sebagai pemicu raparasi jaringan.
Komponen growth factor berupa Insulin-like growth factor (IGF)-I,
Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF), Epidermal Growth Factor (EGF),
serta Erythropoietin (Epo) berperan sebagai penstimulasi perbaikan jaringan,
proliferasi dan pematangan sel, serta meningkatkan kadar hemoglobin. 5 Faktorfaktor pertumbuhan inilah yang turut mengoptimalkan pertumbuhan dan
perkembangan dentomaksilofasial. Kandungan Epo dan VEGF dalam ASI dapat
memicu terjadinya prolferasi sel serta pematangan sel. Sel-sel osteoblas sebagai
agen remineralisasi tulang, serta sel-sel fibroblas sebagai agen pembentuk kolagen
mampu mendapatkan suplai oksigen yang cukup oleh karena terjadi proses
angiogenesis yang optimal serta peningkatan kadar hemoglobin.

24

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Anjuran penyempurnaan penyusuan ASI selama dua tahun berperan
penting dalam perkembangan dentomaksilofasial. Banyak terjadi pertumbuhan
dan perkembangan dentomaksilofasial pada masa neonatal sampai bayi mencapai
usia dua tahun, sehingga seorang ibu harus dapat memenuhi asupan nutrisi yang
cukup bagi bayinya. Anjuran penyempurnaan ASI tercantum dalam firman Allah
25

SWT dalam sura Al-Baqarah ayat 233 serta surah Luqman ayat 14. Kandungan
macronutrien,

garam-garam

mineral

serta

bioactive

dalam

ASI

dapat

mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan dentomaksilofasial.


5.2 Saran
Perlu dikaji lebih lanjut mengenai kadar Docosahexanoic Acid (DHA) dalam
asam lemak omega tiga pada ASI di Indonesia, berkaitan dengan fungsinya
sebagai peningkatan aktivitas osteoblas dalam remineralisasi tulang.

DAFTAR PUSTAKA

1. Soetjiningsih, 1977. ASI Petunjuk Untuk Tenaga Kesehatan. Jakarta : EGC


2. Suradi, Rulina. 2001. Spesifitas Biologis Air Susu Ibu. Sari Pediatri, Vol. 3,
Desember 2001: 125-129
3. Geoffrey H. Sperber. 2001. Craniofacial development. Hamilton. London. Bc
decker Inc
4. Itjiningsih, WH. Anatomi gigi. Jakarta: EGC. 1991,pp.214-5; 219; 233-6

26

5. Ballard, Olivia, JD and Ardythe L. Morrow, PhD. MSc. 2013. Human Milk
Composition Nutriens and Bioactive Factors. Pediatr Clin N Am 60 (2013)
49-74
6. Roesli, Utami. (2000). Mengenal ASI Eksklusif, Jakarta: EGC
7. Arif, N. 2009. Panduan Ibu Cerdas ASI dan Tumbuh Kembang.
Yogyakarta: Media Pressindo
8. Sidik Katili, Abu Bakar..2009. Struktur Dan Fungsi Protein Kolagen. Jurnal
Pelangi Ilmu Volume 2 No. 5
9. James k avery. 2002. oral development and histology 3rd ed. Tieme. New
York
10. Modification of Food and Nutrition Board, National Academy of Sciences:
Recommended dietary allowances
11. Geoffrey H. Sperber. 2001. Craniofacial development. Hamilton. London.
Bc decker Inc
12. .Itjiningsih, WH. 1991. Anatomi gigi. Jakarta: EGC
13. McDonald, R.,E., dan Avery, D.R,2000, Dentistry for The Child and
Adolescent. Edisi ke-7, St.Louis,Mosby Inc
14. Rensburg, J. V. 1995. Oral Biology. Chicago: Quintessence Publishing Co,
inc.
15. Linden, V. D. 1985. Perkembangan Gigi Geligi. Jakarta: Bina Cipta
16. Moyers, R. E. 2001. Handbook of Orthodontics. Chicago: Year Book
Medical Publisher Inc
17. Dorland, W.A. Newman. 2002. Kamus Kedokteran. Jakarta: EGC
18. Stewart, R. E.; T. K. Barber.; et al. 1982. Pediatrics Dentistry. St. Louis : The
C.V.Mosby Company
19. Djoharnas, H. 2000. Rata-rata Umur Erupsi Gigi Geligi Permanen Anak di
Indonesia Dibandingkan Dengan Anak di Negara Maju. J. Ked. Gigi
Universitas Indonesia
20. Almonaitiene R, Balciuniene I, Tulkaviene J. Factors influencing permanent
tooth eruption. Stomatologija Baltic Dental and Maxillofacial Journal 2010;
(12):67-72
21. Puspitawati R, Amalia PY A, Kusmaryani TS, Suniarti DF, Gultom FP.
Pengaruh defisiensi protein paskanatal selama 4 minggu terhadap panjang
27

dan tinggi mandibula anak tikus. Indonesian Journal Of Dentistry 2009:


(1):41-45
22. Abu Bakar al-Jassas, Ahkam al-Quran, Juz I. Beirut : Dar al-Kutub alIlmiyyah, 1994), hlm 225-226
23. Abu al-Faraj Jamal al-Din al-Jawzi, Zad al-Masir fi Ilm al-Tafsir, Juz I.
(Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1994), hlm. 225-226
24. Muhammad bin Ali al-Syawkani, Fath al-Qadir, Juz I. (Beirut: Dar al-Kutub
al-Ilmiyyah, 1994), hlm. 306
25. Ilkiya al-Harasy (Imad al-Din ibn Muhammad al-Thabary), Ahkam alQuran., Jilid I, Juz I. (Beirut: Dar alKutub al-Ilmiyyah, 1983), hlm. 187
26. Quthb, S. 2010. Tafsir fii Dzilaliin Quran. Jakarta
27. Eriska Riyanti dan Risti Saptarini, 2010. Maloklusi pada anak akibat tidak
mendapatkan asi
28. Viggiano D. et al. Breast feeding, bottle feeding, and non-nutritive sucking;
effects on occlusion in deciduous dentition. Arch Dis Child 89:1121-1123,
2004
29. Pudjiadi Solihin, 2003. Ilmu Gizi Klinis pada Anak. Jakarta : Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia
30. Almatsier, S. 2001. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama
31. Guyton, Artur C. 2007. Buku Ajar fisiologi, alih bahasa, irawati, et al; editor
edisi bahasa indonesia, luqman Yanuar Rachman et al. Edisi 11. Jakarta :
EGC
32. Krugger MC, Poulsen R. Health benefits of salmon and omega 3 oil
supplementation. New Zealand: Massey University; 2008
33. Sediaoetama, A.D. 2000. Ilmu Gizi untuk Mahasiswa dan Profesi Jilid
I. Jakarta : Dian Rakyat. Hal 135-138

28

Anda mungkin juga menyukai