Anda di halaman 1dari 29

1.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


1.1.1 Penjelasan perlunya magang kerja
Pada era modern, perkembangan di dunia industri maupun intansi harus
mempunyai sumber daya manusia yang berkualitas, terintregritas, berkepribadian
mandiri dan mempunyai kemampuan intelektual yang baik. Hal ini juga berlaku
bagi mahasiswa yang merupakan penerus bangsa. Oleh sebab itu mahasiswa
perguruana tinggi harus bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan dunia
industri maupun instansi yang akan dihadapi.
Sementara itu, output dari perguruan tinggi juga belum sepenuhnya sesuai
dengan apa yang diperlukan pada dunia industri. Hal ini disebabkan karena
minimnya realisasi langsung di lapangan. Oleh karena itu kerjasama antara
perguruan tinggi dengan dunia industri harus dijalin, karena bagaimanapun juga
perguruan tinggi merupakan salah satu pemasok sumber daya manusia bagi dunia
industri maupun instansi.
Sehingga dalam hal ini alternatif kegiatan yang dapat dilakukan adalah
Program Magang Kerja yang merupakan langkah awal untuk mengetahui dan
memahami sistematika kerja di dunia industri maupun instansi. Program Magang
Kerja merupakan kurikulum wajib bagi mahasiswa Fakultas Pertanian S-1,
berbobot 4 sks, dengan tujuan dapat menerapkan ilmu dan keprofesionalan yang
didapat selama kuliah.
Selain itu juga, kegiatan magang kerja ini dijadikan suatu wadah yang
dapat dijadikan referensi untuk menambah pengalaman yang berharga yang
nantinya dapat dijadikan sebagai pijakan untuk siap terjun ke dunia kerja dan
melihat keselarasan antara ilmu yang sudah ditempuh di bangku kuliah dengan
aplikasi praktis di dunia kerja. Dengan begitu mahasiswa diharapkan agar mampu
bersaing dalam dunia kerja nantinya.

1.1.2 Alasan pemilihan tempat magang kerja

Balai Besar Karantina Pertanian memegang peranan yang sangat vital bagi
perlindungan tanaman di Indonesia terutama dalam mencegah masuknya OPTK
(Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina) dari luar wilayah domestik
maupun luar wilayah Indonesia, disamping itu juga mencegah keluarnya OPT
(Organisme Pengganggu Tumbuhan) ke luar wilayah domestik dan wilayah
Republik Indonesia.
1.1.3 Pentingnya topik magang
Bawang putih merupakan komoditi yang penting dalam memenuhi
logistik pangan di indonesia yaitu sebagai salah satu bahan rempah utama dalam
berbagai masakan, Akan tetapi bawang putih tidak hanya dikenal sebagai rempah
bumbu masak, namun juga mempunyai khasiat sebagai obat herbal dan juga
sebagai pestisida nabati beberapa jenis hama. Produktivitas bawang putih lokal
tidak mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, sehingga kebutuhan bawang
putih dalam negeri khususnya untuk konsumsi tergantung pada Impor dari negara
lain terutama dari china. Maka dari itu perlu upaya karantina dalam mencegah
OPTK ke Indonesia sangatlah penting agar produksi bawang putih lokal tidak
hancur oleh OPT dari wilayah pengimpor.
Dalam hal ini topik magang lebih intensif pada target OPTK cendawan
pada bawang putih, mengingat banyaknya OPTK yang tedapat pada komoditas
bawang putih sehingga laporan magang di harapkan lebih fokus dan terstruktur
dalam pengerjaannya.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan umum
Tujuan umum dari pelaksanaan Program Magang Kerja ini adalah :
-

Menerapkan ilmu pengetahuan yang didapat selama perkuliahan dalam


bentuk Program Magang Kerja,

Membandingkan ilmu pengetahuan yang didapat selama perkuliahan


dengan yang diterapkan di lapang dan menelaahnya apabila terjadi
perbedaan-perbedaan atau penyesuaian,

Memenuhi persyaratan Tugas Akhir Tingkat Sarjana (S-1) di Fakultas


Pertanian Universitas Brawijaya Malang,

Melatih mahasiswa untuk bekerja mandiri di lapang dan sekaligus


menyesuaikan diri dengan kondisi lapangan pekerjaan yang nantinya akan
ditekuni oleh para lulusan.

1.2.2

Tujuan Khusus

Belajar menjadi Pelaku pertanian/Usaha pertanian/Agribisnis

Berwiraswasta di bidang Agribisnis (perbenihan, pupuk, usaha industri


berbasis pangan, dll.)

Belajar menjadi planter di Perkebunan pemerintah/swasta Belajar bisnis


yang berhubungan dengan pertanian, perkebunan atau manajemen
lingkungan

Belajar bekerja professional di UPT Balai Besar Karantina Pertanian

1.3 Manfaat Magang Kerja


Manfaat yang di dapatkan dalam magang kerja ini adalah :
-

menambah pengetahuan dan pengalaman dalam memahami OPTK yang


terdapat dalam Permentan No. 93 Th. 2011

Mahasiswa

dapat

mengidentifikasi

secara

langsung

melalui

uji

laboratorium karantina tumbuhan


-

Menganalisa bagaimana OPTK

yang dapat berpotensi masuk atau

menyebar ke wilayah lain di Indonesia melalui prosedur kinerja di Balai


Besar Karantina Surabaya.
-

Mengetahui tindakan pencegahan maupun penaggulangan OPT/OPTK


yang menjadi bekal untuk praktik langsung dalam dunia kerja.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Morfologi Tanaman Bawang Putih


Tanaman bawang putih adalah tanaman terna berbentuk rumput. Daunnya

panjang berbentuk pipih (tidak berlubang). Helai daun seperti pita dan melipat ke
arah panjang dengan membuat sudut pada permukaan bawahnya, kelopak daun
kuat, tipis, dan membungkus kelopak daun yang lebih muda sehingga membentuk
batang semu yang tersembul keluar. Bunganya hanya sebagian keluar atau sama
sekali tidak keluar karena sudah gagal tumbuh pada waktu berupa tunas bunga.
( J.Sugito dan Murhanto 1999).
Klasifikasi Bawang putih adalah sebagai berikut:
Kingdom

: Plantae

Divisio

:Spermatophyta

Subdivisio

: Angiospermae

Kelas

: Monicotyledonae

Ordo

: Liliales

Famili

: Liliaceae

Genus

: Allium

Spesies

: Allium sativum L.

(Rosmahani, Luki. 2006)

Umbi bawang terdapat pada pangkal tanaman, tepat di atas pokok


rudimeternya dan berada di dalam tanah. Tiap umbi terdiri dari siung-siung kecil,
siung ini terbentuk dari tunas-tunas diantaraa daun-daun muda dekat pusat
tajuk. Pada waktu tanaman bawang putih tumbuh, dari tunas-tunas tersebut akan
terbentuk siung.
Siung ini terdiri dari dua bagian yaitu dua helai daun dewasa dan sebuah
tunas vegetattif. Salah satu dari dari dua helai daun tersebut, yaitu daun dewasa
yang terletak disebelah luar, berfungsi sebagai daun pelindung berbentuk silindris
dan berlubang kecil di pucuknya. Daun pelindung ini menjadi tipis, kering, kuat

dan berfungsi sebagai pelindung bagi sehelai daun dan tunas vegetatif sebelah
dalamnya, kemudian siung-siung tersebut dilapisi selaput tipis yang kuat dan
kering sehingga membentuk umbi yang lebih besar, yang merupakan gabungan
dari banyak siung. Siung-siung yang membentuk umbi ini berkisar 13-13 buah.
(Singgih, W.,2008).

2.2 Cendawan yang termasuk Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina


Pada bawang Putih
Menurut Peraturan Menteri Pertanian No. 93/Permentan/Ot.140/12/2011
Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina di kategorikan menjadi OPTK
kategori A1 dan A2. OPTK A1 merupakan Organisme Pengganggu Tumbuhan
Karantina yang belum terdapat di indonesia. Sedangkan OPTK kategori A2
merupakan OPTK yang sudah terdapat di indonesia, namun masih terbatas dan
sedang dikendalikan.
Kemudian Berdasarkan hasil tindakan karantina tumbuhan melalui
perlakuan, OPTK digolongkan menjadi organisme pengganggu tumbuhan
karantina golongan I dan organisme pengganggu tumbuhan karantina golongan II.
OPTK golongan I tidak dapat dibebaskan dari media pembawa organisme
pengganggu tumbuhan karantina. Sedangkan OPTK golongan II sebagaimana
masih dapat dibebaskan dari media pembawa organisme pengganggu tumbuhan
karantina.
OPTK Cendawan Golongan I yang menyerang bawang putih asal cina yaitu :
2.2.1

Botryotinia squamosa

Vienn.-Bourg.= Sclerotinia squamosa (Vienn.-Bourg.) Dennis = Botrytis


squamosa. J.C. Walker [anamorph]; leaf blight of onion; neck rot of onion; small
sclerotial neck rot; onion leaf blight; onion neck rot.
2.2.2 Botrytis aclada Fresen.
Botrytis allii Munn = Botrytis septospora El-Helaly et al.; grey mould of onion;
neck rot of onion; leaf rot of onion; small sclerotial neck rot fungus; neck rot
fungus; grey mould neck rot of onion; small sclerotial onion neck rot .

2.2.3

Pythium irregulare

(Buisman);Oomycetes: Saprolegniales;dieback: carrot; cavity spot: carrot; rootlet


disease: alfalfa root-forking disease: alfalfa replant disease: apple; seedling death:
damping-off; root rot
2.2.4 Sclerotium cepivorum
Berk. [anamorph] = Stromatinia cepivorum (Berk.) Whetzel [teleomorph]; white
rot of onion and garlic; onion white root rot; bulb rot of onion; Allium white rot;
onion white rot
2.2.5 Stemphylium vesicarium
(Wallr.) E.G. Simmons = Pleospora allii (Rabenh.) Ces. & De Not.
[teleomorph];Anamorphic fungi; onion leaf blight; garlic leaf blight; purple spot
of asparagus; brown spot of pear; garlic leaf spot; onion leaf spot; asparagus leaf
spot; Stemphylium blight of onion; leaf blight: onion; purple spot: Asparagus
spp.
2.2.6 Urocystis cepulae
Frost.; (=Tuburcinia cepulae = Urocystis colchici var. cepulae =Urocystis magica
=Urocystes cepulae); Basidiomycetes; leek smut, onion smut

2.3

Identifikasi Patogen
Dalam kamus pertanian umum yang di cetak penebar swadaya Jakarta,

Identifikasi adalah usaha pengenalan terhadap suatu hal dengan mengamati sifat
sifat khasnya. Sedangkan menurut Nurhayati, (2012) Pengertian identifikasi
(penyakit) secara umum adalah membuat kepastian terhadap suatu penyakit
berdasarkan gejala yang tampak, atau suatu proses untuk mengenali suatu
penyakit tanaman melalui gejala dan tanda penyakit yang khas termasuk faktorfaktor lain yang berhubungan dengan proses penyakit tersebut.
Metode Identifikasi patogen Tanaman dapat menggunakan beberapa teknik yaitu:
a. Mikroskop

Menggunakan mikroskop elektron payar Scanning Electron Microscope


(SEM) untuk menghasilkan gambar. Metode ini terbilang paling sederhana
diantara metode yang lain, prosedur kerjanya dapat dilakukan secara langsung
dengan cara pengamatan terhadap sampel patogen yang telah diisolasi dan
ditumbuhkan pada media buatan. Teknik ini lebih mudah apabila digunakan untuk
mengidentifikasi patogen yang dapat dibiakkan pada media buatan misalnya
jamur.setelah diletakkan diatas preparat lalu lakukan pengamatan dengan
mikroskop kemudian hasil identifikasinya diambil gambarnya.
b. Postulat koch
Dalam Postulat Koch dijelaskan bahwa mikroorganisme dikatakan sebagai
penyebab penyakit bila memenuhi kriteria berikut:
1. Mikroorganisme penyebab penyakit selalu berasosiasi dengan gejala
penyakit yang bersangkutan.
2. Mikroorganisme penyebab penyakit harus dapat diisolasi pada media
buatan secar murni.
3. Mikroorganisme penyebab penyakit hasil isolasi harus dapatmenimbulkan
gejala yang sama dengan gejala penyakitnya, apabila diinokulasikan, dan
4. Mikroorganisme penyebab penyakit harus dapat direisolasi dari gejala
yang timbul hasil lnokulasi.
Postulat Koch ini oleh Smith (1906) dimodifikasi, untuk parasit obligat,
tidak perlu pada media buatan, tetapi harus dapat dibiakkan secara murni
sekalipun pada inang.
c.

Teknik Molekuler
Identifikasi patogen penyebab penyakit dilakukan dalam rangka

menentukan spesies penyebab penyakit yang terbawa oleh media pembawa.


Pengelolaan sampel kerja (Media Pembawa) dalam identifikasi penyebab
menggunakan

metode

molekuler

akan memudahkan

Petugas

Karantina

melakukan tindakan pengujian di laboratorium.


d. Polymerase Chain Reaction (PCR)
Polymerase chain reaction (PCR) merupakan sebuah metode yang
digunakan untuk memperbanyak suatu fragmen DNA yang spesifik secara invitro.
Posisi fragmen DNA yang spesifik tersebut ditentukan oleh sepasang primer yang
7

akan menjadi cetakan awal untuk proses perbanyakan fragmen DNA selanjutnya
dengan bantuan enzim polimerase dan deoxyribonucleotide triposphate (dNTPs)
yang dikondisikan pada suhu tertentu. Fragmen DNA, yang pada awalnya
terdapat dalam konsentrasi yang sangat rendah akan diperbanyak menjadi cetakan
fragmen DNA baru yang cukup untuk dapat divisualisasi pada gel agarosa .
Secara prinsip, PCR merupakan proses yang diulang-ulang antara 2030
kali. Setiap siklus terdiri dari tiga tahap. Berikut adalah tiga tahap bekerjanya
PCR dalam satu siklus:
1. Tahap peleburan (melting) atau denaturasi. Pada tahap ini (berlangsung pada
suhu tinggi, 9496C) ikatan hidrogen DNA terputus (denaturasi) dan DNA
menjadi berberkas tunggal. Biasanya pada tahap awal PCR tahap ini dilakukan
agak lama (sampai 5 menit) untuk memastikan semua berkas DNA terpisah.
Pemisahan ini menyebabkan DNA tidak stabil dan siap menjadi templat
("patokan") bagi primer. Durasi tahap ini 12 menit.
2. Tahap penempelan atau annealing. Primer menempel pada bagian DNA
templat yang komplementer urutan basanya. Ini dilakukan pada suhu antara
4560C. Penempelan ini bersifat spesifik. Suhu yang tidak tepat
menyebabkan tidak terjadinya penempelan atau primer menempel di
sembarang tempat. Durasi tahap ini 12 menit.
3. Tahap pemanjangan atau elongasi. Suhu untuk proses ini tergantung dari jenis
DNApolimerase

yang

dipakai.

Dengan

Taq-polimerase,

proses

ini

biasanyadilakukan pada suhu 76C. Durasi tahap ini biasanya 1 menit. Pada
denaturasi awal (1) Dna akan dipisah menjadi untai tunggal. Kemudian primer
melekat pada posisi target dari masing-masing untai DNA (2) pada saat
annealing. Setelah itu taq polimerase melakukan ekstensi DNA dari ujung 3
primer pada tahap ekstensi. Lepas tahap 3, siklus diulang kembali mulai tahap
1. Tahap 4 pada gambar menunjukkan perkembangan yang terjadi pada siklussiklus selanjutnya. Akibat denaturasi dan renaturasi, beberapa berkas baru
(berwarna hijau) menjadi templat bagi primer lain. Akhirnya terdapat berkas
DNA yang panjangnya dibatasi oleh primer yang dipakai dalam jumlah yang
melimpah karena penambahan terjadi secara eksponensial.
e.

Teknik Serologi

Prinsip kerja serologi didasarkan pada reaksi spesifik antara antigen dan
antibodi (antiserum) sehingga terbentuk reaksi conjugate antibody-enzyme.Salah
satu metode pengujian serologi adalah Enzyme Linked Immunosorbent Assay
(ELISA) Metode pengujian ini mulai berkembang sejak tahun 1971.
ELISA merupakan suatu metode pengujian serologi yang melekatkan
kompleks ikatan antara antibodi dengan antigen di dalam sumuran plate ELISA
yang terbuat dari bahan plastik (Dijkstra et al. 1998). Jika terjadi reaksi
kompatibel antara antibodi dengan antigen akan ditunjukkan dengan adanya
perubahan warna yang terjadi.
Keunggulan metode ini (Dijkstra et al. 1998):
1. Dapat mendeteksi virus padakonsentrasi rendah (1-10 ng/ml).
2. Penggunaan antibodi dalam jumlah sedikit.
3. Hasil pengujian pada sap tanaman sama baiknya dengan pengujian pada
suspensi virus yang dimurnikan.
4. Pengujian dapat diaplikasi pada sampel pengujian dalam jumlah besar.
5. Pengujian dapat distandarkan dengan menggunakan kit bahan pengujian.
6. Memungkinkan

untuk

mendapatkan

hasil

secara

kuantitatif

(nilai

absorbansi) disamping hasil kualitatif (perubahan warna).


Dalam perkembangannya, metode ini mengalami modifikasi dalam
prosedur pelaksanaan pengujian, diantaranya adalah pengujian standar (direct)
DAS ELISA dan indirect ELISA. Perbedaan kedua metode ini adalah pada tempat
enzim terikat. Bila konjugasi enzim dilakukan pada imunoglobulin antivirus maka
metode itu termasuk DAS ELISA, tetapi bila konjugasi enzim dilakukan pada
imunoglobulin dari serum darah hewan maka metode tersebut diklasifikasikan
sebagai Indirect ELISA.
2.4 Profil Laboratorium Uji Karantina Tumbuhan BBKP Surabaya
2.4.1 Sejarah
Laboratorium uji BBKP Surabaya merupakan salah satu sarana
pendukung kegiatan tindakan karantina hewan dan tumbuhan. Dalam pelaksanaan
kegiatan laboratorium, laboratorium uji BBKP Surabaya telah menerapkan

standar Sistem Manajemen mutu Laboratorium dengan standar ISO/IEC


17025:2008.Untuk mensinergiskan dan meningkatkan mutu laboratorium BBKP
Surabaya pasca integrasi, maka menerapkan sistem manajemen mutu pada bidang
karantina tumbuhan. Pada tanggal 25 Juni 2010 BBKP Surabaya mendapatkan
Keputusan akreditasi dari KAN sebagai laboritorium penguji pasca integrasi di
Lingkup Badan Karantina Pertanian dengan nomor LP 461 IDN. Kemudian
pada 10 Maret 2014 Laboratorium Uji Karantina Tumbuhanm BBKP Surabaya
telah mendapatkan re-sertifikasi dari KAN.

2.4.2 Lokasi dan tata letak


Laboratorium Karantina Tumbuhan terletak di Jl.Letjen Suprapto 67
Surabaya. Kabupaten Sidoarjo terletak antara 112 5 dan 112 9 Bujur Timur dan
antara 7 3 dan 7 5 Lintang Selatan. Batas sebelah utara adalah Kotamadya
Surabaya dan Kabupaten Gresik, sebelah selatan adalah Kabupaten Pasuruan,
sebelah timur adalah Selat Madura dan sebelah barat adalah Kabupaten
Mojokerto.

2.4.3 Ruang lingkup


Laboratorium uji karantina tumbuhan BBKP Surabaya merupakan
laboratorium uji yang telah memiliki sertifikat akreditasi SNI ISO/IEC
17025:2008 dari KAN (Komite Akreditasi Nasional) sejak tahun 2010 dengan
Nomor: LP-461-IDN. Laboratorium melakukan aktivitas pengujian komoditi
pertanian untuk mendeteksi ada tidaknya OPTK (Organisme Pengganggu
Tumbuhan Karantina) yang kemungkinan terbawa media terbawa masuk
kewilayah Jawa Timur baik ekspor, impor, maupun domestik. Terdapat 8 Jenis
OPTK yang harus ditangkal masuk dan keluarnya dari wilayah Negara Republik
Indonesia, diantaranya bakteri, virus, cendawan, serangga, nematoda, gulma,
moluska, dan tungau.
Ruang Lingkup pengujian di laboratorium uji karantina tumbuhan yang
telah terakreditasi oleh KAN (Komite Akreditasi Nasional) mencakup cendawan
yaitu Drechslera maydis pada benih jagung dan Alternaria padwickii pada benih
10

padi, sedangkan ruang lingkup golongan nematoda yang terakreditasi yaitu:


Radopholus similis pada rhizome, umbi, dan akar serta Globodera rostochiensis
pada tanah pertanaman kentang.

Saat ini

Lab KT BBKP Surabaya sedang

berupaya mempersiapkan untuk penambahan ruang lingkup akreditasi, khususnya


untuk golongan patogen virus dan bakteri dengan teknik uji serologi.
TELAH BERTAMBAH.. SEJAK 10 MARET 2014 (NANTI KOREKSI
BARENG)

2.4.4 Standar pelayanan


Berdasarkan keputusan kepala Balai Besar Karantina Pertanian (BBKP
Surabaya) nomor : 101.a/ot.210/l.6.a/1/ 2013 menyatakan bahwa, seiring
komitmen

BBKP

Surabaya

terus

berupaya

meningkatkan

kompetensi

Laboratorium yang berstandar internasional. Pada saat ini Laboratorium BBKP


Surabaya telah menyandang Sertifikat Akreditasi SNI ISO/IEC 17025:2008 dari
Komite Akreditasi Nasional (KAN) melalui keputusan LP-461-IDN sebagai
Laboratorium Penguji (Testing Laboratory) sehingga keberadaannya sejajar
dengan lembaga laboratorium lain yang tergabung dalam keanggotaan ILAC
(Internasional Laboratory Accreditation Commission).
Ruang lingkup Laboratorium tersebut terbatas pada pengujian tertentu
untuk media pembawa organisme pengganggu tanaman karantina (OPTK) atau
agen-agen yang diketahui tidak menyebabkan bahaya potensial bagi pekerja
laboratorium dan lingkungannya. Untuk Laboratorium yang berhubungan dengan
agen-agen eksotik dan patogenik yang dapat mengakibatkan potensi terkena
penyakit berbahaya, maka diperlukan fasilitas laboratorium dengan tingkat
keamanan tinggi.
Akreditasi laboratorium dengan menerapkan standar SNI ISO/IEC
17025:2008 merupakan salah satu program Badan Karantina Pertanian yang telah
dicanangkan di seluruh Unit Pelayanan Teknis. Akreditasi laboratorium
dipandang karena akreditasi memastikan kompetensi dan meningkatkan
kepercayaan laboratoroim kita. Dengan akreditasi pula jaminan terhadap keluaran
atau output yang laboratorium akan mendapatkan pengakuan dari dunia

11

internasional.

Sejalan

dengan

adanya

jaminan

mutu

pelayanan

laboratorimdiharapkan proses pengambilan keputusan hasil tindak karantina 8P


(pemeriksaan, pengasingan, pengamatan, perlakuan, penahanan, penolakan,
pemusnahan dan pembebasan) yaitu berupa Health Certificate atau Phytosanitary
Certificate dapat dipertanggungjawabkan dengan obyektif. Hasil laboratorium ini
merupakan data dukung yang sangat penting karena hasil pengujian dari
laboratorium akan digunakan sebagai data penunjang dalam pengambilan
keputusan

terhadap

komoditi

karantina

hewan

dan

tumbuhan

yang

dilalulintaskan.
Melalui akreditasi laboratorium secara organisasi dan teknis kualitas
pelayanan laboratorium akan dapat dimonitor secara berkala, sistematis dan
sesuai dengan standar SNI ISO/IEC 17025:2008. Monitioring manajerial
organisasi dan teknis akan menghasilkan evaluasi yang diharapkan mampu
menjadi sumber informasi akan kekurangan dan tindakan perbaikan yang perlu
segera diaksanakan demi penemenuhan service atau pelayanan yang berorintasi
pada kepuasan customer. Untuk mencapai hal tersebut diperlukan komitmen yang
tinggi dari manajemen dan manajer puncak untuk mengimplementasikan SNI
ISO/IEC 17025:2008 dan melaksakan sistem yang telah dibuat sesuai dengan
dokumen sistem mutu yang telah disusun.
Sasaran yang diharapkan dapat dicapai dengan pelaksanaan kegiatan
Akreditasi

laboratorium

SNI

ISO/IEC

17025:2008

tersebut

yaitu

mempertahankan kompetensi sebagai laboratorium penguji yang terakreditasi,


memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh lembaga akreditasi sebagai
laboratorium yang telah terakreditasi utamanya dalam menjaga jaminan mutu dan
kompetensinya sesuai kaidah SNI ISO/IEC 17025:2008, memberikan arahan
dalam melaksanakan ,mengevaluasi, memperbaiki dan menyempurnaan aplikasi
sistem manajemen mutu dan informasi diagnostik yang telah dilaksanakan di
laboratorium Uji Balai Besar Karantian Pertanian Surabaya. Selian itu juga
mengimplementasikan dokumen sistem mutu digunakan sebagai acuan untuk
melaksanakan pengujian sesuai dengan ruang lingkup yang sesuai dengan SNI
ISO/IEC 17025:2008 setelah integrasi dan mengevaluasi kinerja personel dan

12

pelaksanaan sistem manajemen mutu laboratorium dalam hal manajerial dan


teknis.

2.4.5 Struktur organisasi


Laboratorium uji BBKP Surabaya mempunyai struktur organisasi yang
terdiri dari Manajer puncak, Manajer Administrasi KT (Karantina Tumbuhan) dan
Manajer Administrasi KH(Karantina Hewan). Dalam bidang karantina hewan dan
tumbuhan terdiri dari Manajer Teknis dan Manajer Mutu membawahi Deputi dan
Penyelia. Pada penyelia karantina tumbuhan membawahi penanggung jawab
bahan, penguji virologi, penguji nemotologi, penguji mikologi, penguji
bakteriologi, penguji entomologi, penguji gulma dan penanggung jawab alat.
Sedangkan pada penyelia karantina hewan membawahi penanggung jawab
alat/bahan, penguji virologi, penguji bakteriologi, penguji serologi, penguji
patologi.

Gambar.
2.5 Tindakan Karantina Tumbuhan

13

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2002 tentang Karantina


Tumbuhan, tindakan karantina tumbuhan meliputi :
- Pemeriksaan
Pemeriksaan yang di lakukan berupa Pemeriksaan administratif untuk mengetahui
kelengkapan, kebenaran isi dan keabsahan dokumen persyaratan dan pemeriksaan
kesehatan untuk mendeteksi kemungkinan adanya Organisme Pengganggu
Tumbuhan Karantina (OPTK).
- Pengasingan
Pengasingan adalah tindakan menempatkan media pembawa khususnya benih
tanaman yang berasal dari Negara tertentu di suatu lokasi yang terisolasi selama
waktu tertentu untuk mendeteksi OPTK yang sifatnya sesuai dengan ketentuan
persyaratan yang berlaku.
- Pengamatan
Pengamatan adalah tindakan yang bertujuan mendeteksi OPTK tertentu yang
sifatnya menumbuhkan benih tanaman tertentu dari Negara tertentu dan dalam
waktu tertentu.
- Perlakuan
Perlakuan merupakan tindakan karantina tumbuhan yang bertujuan untuk
membebaskan media pembawa dari OPT dan OPTK, orang, alat angkut,
peralatan, pembungkus dan media pembawa lain (sampah) dari infestasi OPT.
Tindakan perlakuan dapat berupa perlakuan secara fisik misalnya pencelupan
dalam air panas, perlakuan uap panas dan pendingin. Perlakuan juga dapat di
lakukan secara kimiawi seperti fumigasi, perendaman dalam larutan pestisida dan
penyemprotan dengan pestisida.
-

Penahanan

Penahanan adalah tindakan untuk mengamankan media pembawa dengan cara


menempatkannya di bawah penguasaan dan pengawasan petugas karantina
tumbuhan dalam waktu tertentu karena persyaratan karantina belum sepenuhnya
terpenuhi.
- Penolakan
Tindakan yang tidak memperbolehkan masuknya suatu media pembawa di
wilayah Republik Indonesia atau ke area yang akan dimasuki untuk menghindari
kemungkinan

terjadinya

penyebaran

Organisme

Pengganggu

Tumbuhan

Karantina dari media pembawa tersebut ke lingkungan sekitarnya.


- Pemusnahan

14

Pemusnahan yaitu tindakan pemusnahan media pembawa dengan metode dan


teknik tertentu dengan cara membakar, menghancurkan, mengubur dan cara-cara
pemusnahan lainnya.
- Pembebasan
Merupakan tindakan melepaskan atau memperbolehkan pemasukan media
pembawa di dalam wilayah Negara Republik Indonesia karena bebas dari
Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina.Semua persyaratan yang ditetapkan
bagi pemasukan atau pengeluaran media pembawa tersebut telah dipenuhi.

15

III. METODE PELAKSANAAN

3.1 Waktu dan Tempat


Kegiatan magang kerja ini akan dilaksanakan pada bulan Agustus sampai
dengan bulan Oktober 2014. Pelaksanaan magang kerja bertempat di
Laboratorium Karantina Tumbuhan Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya.

3.2 Metode Magang Kerja


Kegiatan yang dilakukan secara umum selama magang kerja di
Laboratorium Karantina Tumbuhan Balai Besar Karantina Surabaya, meliputi:
1. Observasi
Kegiatan observasi berlangsung selama tiga hari pada minggu
pertama.Dalam kegiatan ini, mahasiswa dikenalkan tentang laboratorium, system
administrasi, struktur organisasi di Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya dan
penempatan laboratorium.
2. Praktik
Uji coba praktikum secara langsung disertai dengan metode dan teknologi
pada instansi yang sedang berlangsung. Pengamatan lapang dilakukan dengan
mengamati pekerjaan atau kegiatan yang berhubungan dengan studi penyakit
pada komoditas bawang putih impor di Balai Besar Karantina Pertanian
Surabaya.
3.

Wawancara dan Diskusi


Metode pengambilan data primer secara lisan, melalui diskusi dan dialog

secara langsung dengan narasumber yang kompeten atau pihak-pihak terkait.


Pengambilan data sekunder yaitu pengumpulan data dari departemen terkait yang
berhubungan dengan aspek yang sedang dikaji sebagai data penunjang dalam
pembahasan laporan magang kerja.
4.

Studi Pustaka

16

Mencari literatur yang terkait dengan kegiatan yang akan menjadi data
pelengkap dan pembanding dengan data yang ada. Teori yang dipelajari berkaitan
dengan studi penyakit pada komoditas bawang putih impor yang diperoleh
melalui buku serta dokumen-dokumen yang dimiliki Balai Besar Karantina
Pertanian Surabaya.
5.

Penyusunan Laporan
Perumusan dan penulisan laporan dilaporkan dengan data yang diperoleh,

dianalisis lalu dirumuskan, kemudian dituangkan ke dalam bentuk laporan.


Pelaporan disusun berdasarkan sumber informasi yang diperoleh selama kegiatan
magang kerja.

3.3 Jadwal kegiatan


Kegiatan magang kerja menyesuaikan dan mengikuti seluruh kegiatan
yang diselenggarakan Balai Besar Karantina Pertanian dengan jadwal kegiatan
magang kerja disajikan pada lampiran 5.
3.4 Metode Pengujian OPTK BPKP Surabaya
3.4.1 Metode Direct inspection (Pemeriksaan langsung)
Alat dan Bahan
1. Alat
- Mikroskop Stereo
- Mikroskop Kompon/Majemuk
- Objek glass dan Cover glass
- Jarum
- Kamera
2. Bahan
- Aquades
- Alkohol
- Lactophenol biru
- Biakan murni patogen : spesimen yang diamati

Instruksi kerja
- Letakkan Biji/bagian tanaman yang bergejala di dalm cawan petri

17

- amati biji/bagian tanaman tersebut dengan menggunakan Mikroskop Stereo,


pengamatan di tujukan pada adanya propagul cendawan
- bila di temukan propagul, maka amati dengan menggunakan mikroskop
majemuk
- ambil propagul yang di temukan dengan jarum, kemudian latakkan pada kaca
obyek yang telah di tetesi aquades steril atau laktophenol biru, kemudian di
tutup dengan kaca penutup
- lakukan identifikasi terhadap cendawan yang di temukan menggunakan
ilustrasi genus dan spesies dari kingdom fungi
- lakukan pencatatan hasil identifikasi dan dokumentasi dalam bentuk foto
mikrograf
3.4.2 Metode Washing Test
Prinsip Kerja : menjamin deteksi dan identifikasi cendawan permukaan
secara tepat dan benar berdasarkan bahan acuan
Instruksi kerja :
1. Metode Washing Test
- Siapkan sampel uji ( Sebanyak 400 biji) jika sampel yang di periksa adalah
sampel yang bergejala, tempatkan sampel uji dalam kantong plastik dan
tumbuk biji yang bergejala tersebut hingga pecah dan teliospora keluar.
-

pindahkan biji kedalam tabung erlenmeyer dan tambahkan aquades


hingga biji terendm (10-100 ml) serta tambahkan 1-2 tetes tween 20.
Kocok dengan shaker selama 15 menit.

- Tuangkan larutan dari erlenmeyer ke dalam beaker glass menggunakan


saringan.
- Pindahkan larutan ke dalam tabung sentrifuge, sentrifuge pada kecepatan
3000 rpm selama 15 menit
- Buang supernatan dengan pipet pasteur dan bersihkan bagian pinggir
tabung menggunakan kertas towel untuk menyerap sisa air
- Tambahakan 1 ml aquades atau 1 ml larutan shear solution pada
endapan/pelet pada setiap tabung sentrifuge hingga homogen
-

Pelet siap di amati

18

2. Pengamatan
- Ambil suspensi dalam tabung sentrifuge dengan pipet tetes sebanyak 2-3
tetes di atas obyek glass
- Tutup dengan cover glass secara tepat dan benar (jangan sampai terjadi
gelembung udara) untuk di amati di bawah mikroskop kompon
- Setelah teridentifikasi, beri label keterangan pada obyek glass dan awetkan
dengan preparat dengan mengguanakan pipet bening
3.4.3 Metode Blotter Test
Prinsip kerja : Menjamin hasil uji deteksi dan identifikasi cendawan Alternaria
padwickii secara tepat dan benar dengan metode Blotter test
Instruksi kerja
1. Persiapan
cuci tangan dengan sabun dan bersihkan menggunakan alkohol 70%
- Bersihkan bagian dalam dan luar LAF dengan alkohol 70%
- Masukkan perlengkapan yang di perlukan (cawan petri, pinset, kertas
blotter dan air steril) ke dalam LAF
- Nyalakan lamou UV pada LAF -+ 15 menit sebelum bekerja
2. Pelaksanaan
- 400 butir sampel uji (benih padi) di rendam dengan sodium hypocloryte
1% selama 10 menit dalam LAF
- Cuci dan bilas benih padi menggunakan air steril kemudian benih di
tiriskan selama 10 menit di dalam LAF
- Blower dan lampu LAF di nyalakan
- Ambil kertas Blotter sebanyak 3 lembar, celupkan dalam aquades steril
kemudian letakkan (plating) benih dalam cawan petri (jumlah per
cawan = 25 butir)
- Inkubasi cawan petri dalam ruang inkubasi benih pada suhu 220 C
dengan penyinaran lampu near UV selama 7 hari dengan oengaturan 12
jam terang dan 12 jam gelap
3. Pengamatan

19

- Keluarkan semua cawan petri dari ruang inkubasi dan letakkan di meja
pengamatan
- Buka cawan petri dan letakkan pada piringan mikroskop stereo
- Nyalakan power siwtch dan amati pada perrbesaran terkecil hingga
terbesar
- Apabila menemukan OPT target, ambil dengan mengguanakan jarum
dan letakkan pada obyek glass yang telah di tetesi dengan lactophenol
clar/blue.
- Tutup dengan cover galss secara tepat dan benar (jangan sampai terjadi
gelembung udara).
- Letakkan obyek glass pada piringan mikroskop compound, nyalakan
power swtch dan amati mulai dari perbearan kecil sampai perbesaran
terbesar, fandingkan dengan morfologi cendawan acuan

20

IV HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1
Hasil
4.1.1 Standar Pelayanan Publik Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya
Balai Besar Karantina Pertanian (BBKP Surabaya) merupakan unit
pelaksana teknis (UPT) di lingkungan Kementrian Pertanian yang berada
dibawah dan bertanggungjawab kepada Kepala Badan Karantina Pertanian.
Dalam rangka meningkatkan upaya pencegahan masuk dan tersebarnya Hama
Penyakit Hewan Karantina (HPHK) dan Organisme Penggangu Tumbuhan
Karantina (OPTK) dari luar negeri dan dari suatu area ke area lainnya di dalam
serta keluarnya dari wilayah Republik Indonesia, BBKP Surabaya memerlukan
Standar Pelayanan Publik (SPP) dalam memberikan pelayanan

kepada

pengguna jasa agar memperoleh informasi dan pelayanan yang jelas.


Pelayanan yang diberikan oleh BBKP Surabaya berupa tindakan
karantina terhadap hewan, tindakan karantina
tindakan karantina

terhadap produk hewan,

terhadap benih/bibit tumbuhan dan tindakan terhadap

hasil tumbuhan.
Untuk lebih meningkatkan pelayanan operasional Karantina Pertanian,
maka perlu untuk menentukan jam Layanan Unit Pelayanan I, II dan III pada
Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya. Bahwa penunjukan Jam Layanan ini
berfungsi memberikan pelayanan kepada pengguna jasa terhadap kegiatan
pelayanan operasional karantina sebagai berikut:
Nama Unit Pelayanan

Alamat

Kantor Utama

Jl. Raya Bandara Ir. H. Senin - Kamis


Juanda Sidoarjo
Istirahat
Jumat
Istirahat
Jl. Prapat Kurung utara Shift 1
6, Tanjung Perak
Istirahat
Surabaya
Shift 2
Istirahat
Jl. Kalimas Baru
Shift 1
88 D, Tanjung
Istirahat
Perak Surabaya
Shift 2
Istirahat

Unit Pelayanan I

Unit Pelayanan 2

Jadual Kerja

Waktu
: Pukul 07.30 16.00
: Pukul 12.00 13.00
: Pukul 07.30 16.30
: Pukul 11.30 13.00
: Pukul 07.30 16.00
: Pukul 12.00 13.00
: Pukul 14.30 23.00
: Pukul 18.00 19.00
: Pukul 07.30 16.00
: Pukul 12.00 13.00
: Pukul 14.30 23.00
: Pukul 18.00 19.00

21

Unit Pelayanan 3

Wilker Pelabuhan
Laut Gresik
Wilker Pelabuhan
Sedayu Lawas

Wilker Kalibuntu,
Jangkar Probolinggo,
Kalbut Situbondo
Wilker Pelabuhan
Tanjung Wangi,
Banyuwangi
Wilker Pelabuhan
Laut Sangkapura
Wilker Pelabuhan
Ketapang

Wilker Bandara
Abdurahman Saleh
Malang

Cargo Bandar Udara


Juanda, Sidoarjo

Shift 1
Istirahat
Shift 2
Istirahat
Shift 3
Istirahat
Jl. Yos Sudarso 39,
Shift 1
Gresik
Istirahat
Shift 2
Istirahat
Pelabuhan
Shift 1
Brondong, Sedayu
Istirahat
Lawas, Lamongan
Shift 2
Istirahat
Jl. Pelabuhan Laut
Shift 1
Kalibuntu Kraksaan, Istirahat
Probolinggo
Shift 2
Istirahat
Jl. Gatot Subroto
Shift 1
12, Banyuwangi
Istirahat
Shift 2
Istirahat
Pelabuhan Laut
Shift 1
Sangkapura
Istirahat
Bawean
Shift 2
Istirahat
Jl. Gatot Subroto
Shift 1
Pelabuhan
Istirahat
Penyebranan Ketapang Shift 2
Banyuwangi
Istirahat
Shift 3
Istirahat
Kompleks Bandar
Shift 1
Udara Abdurahman
Istirahat
Saleh, Malang
Shift 2
Istirahat

: Pukul 07.30 16.00


: Pukul 12.00 13.00
: Pukul 15.30 24.00
: Pukul 18.00 19.00
: Pukul 23.30 08.00
: Pukul 05.00 06.00
: Pukul 07.30 16.00
: Pukul 12.00 13.00
: Pukul 14.30 23.00
: Pukul 18.00 19.00
: Pukul 07.30 16.00
: Pukul 12.00 13.00
: Pukul 14.30 23.00
: Pukul 18.00 19.00
: Pukul 07.30 16.00
: Pukul 12.00 13.00
: Pukul 14.30 23.00
: Pukul 18.00 19.00
: Pukul 07.30 16.00
: Pukul 12.00 13.00
: Pukul 14.30 23.00
: Pukul 18.00 19.00
: Pukul 07.30 16.00
: Pukul 12.00 13.00
: Pukul 14.30 23.00
: Pukul 18.00 19.00
: Pukul 07.30 16.00
: Pukul 12.00 13.00
: Pukul 15.30 24.00
: Pukul 18.00 19.00
: Pukul 23.30 08.00
: Pukul 05.00 06.00
: Pukul 07.30 16.00
: Pukul 12.00 13.00
: Pukul 14.30 23.00
: Pukul 18.00 19.00

4.1.1.1 Persyaratan Dan Jenis Pelayanan


1. Persyaratan

22

Dalam

rangka

pelayanan

tindakan

karantina,

BBKP

Surabaya

mempersyaratkan hal-hal sebagai berikut :


- Terhadap

benih/bibit

tumbuhan dan produk tumbuhan yang dimasukan ke

dalam wilayah Negara Republik Indonesia dan yang dibawa atau dikirim dari
suatu area ke area lain di dalam wilayah Negara Republik Indonesia wajib
memenuhi persyaratan Seperti : Sertifikat kesehatan dari negara asal dan
negara transit bagi benih/bibit tumbuhan dan produk tumbuhan, melalui
tempat-tempat pemasukan dan pengeluaran kecuali benda cair yang telah
ditetapkan kemudian dilaporkan dan diserahkan kepada petugas karantina di
tempat-tempat

pemasukan

dan

pengeluaran

untuk keperluan tindakan

karantina.
- Terhadap benih/bibit tumbuhan dan produk tumbuhan yang dikeluarkan dari
dalam wilayah Negara Republik Indonesia, wajib memenuhi persyaratan
Seperti:

Sertifikat kesehatan bagi tumbuhan, dan produk tumbuhan dari

daerah asal kecuali benda cair, melalui

tempat-tempat

pemasukan

dan

pengeluaran kecuali benda cair yang telah ditetapkan kemudian dilaporkan


dan diserahkan kepada petugas karantina di tempat-tempat pemasukan dan
pengeluaran untuk keperluan tindakan karantina.
- Disamping persyaratan tersebut diatas, dalam hal-hal tertentu dapat dikenakan
kewajiban tambahan berupa persyaratan teknis dan juga persyaratan
kelengkapan dokumen.
2. Jenis Pelayanan
Jenis pelayanan Balai Besar Karantina Pertanian (BBKP) Surabaya
terdiri dari:
- Tindakan karantina terhadap benih/bibit tumbuhan
Pelayanan

tindakan

karantina

terhadap

benih/bibit

tumbuhan meliputi

benih/bibit tumbuhan yang dimasukan kedalam, dibawa atau dikirim dari suatu
area lain didalam dan / atau dikeluarkan dari wilayah negara Republik Indonesia
- Tindakan karantina terhadap hasil tumbuhan
Pelayanan tindakan karantina terhadap hasil tumbuhan meliputi hasil tumbuhan

23

yang dimasukan kedalam, dibawa datau dikirim dari suatu area lain didalam
dan / atau dikeluarkan dari wilayah negara Republik Indonesia.

4.1.1.2 Sistem, Mekanisme Dan Prosedur Pelayanan


1. Prosedur Pelayanan Dokumen Karantina Tumbuhan ( Phytosanitary certificate)
- Prosedur

tindakan dokumen masuk ( Impor dan Masuk Domestik)

- Pengguna jasa mengajukan permohonan pemeriksaan karantina (SP-1) atau


lembar aju secara online atau manual beserta dokumen kelengkapannya ditujukan
kepada Kepala Balai melalui petugas penerimaan dokumen (pendok)
- Petugas pendok menyerahkan SP-1 beserta dokumen kelengkapannya kepada
kelapa Bidang Karantina Tumbuhan
- Kepala Bidang karantina Tumbuhan atas nama Kepala Balai menerbitkan
Surat Tugas (DP-1)
- Kepala Bidang Tumbuhan menyerahkan surat tugas (DP-1) kepada Pejabat
Fungsional

Pengendali

Organisme Penggangu Tumbuhan (POPT) untuk

melakukan pemeriksaan administratif (Kelengkapan, Kebenaran isi dan keabsahan


dokumen Persyaratan)
- Pejabat fungsional POPT melaksanakan Pemeriksaan Administratif dan
menerbitkan Laporan Hasil Pemeriksaan Administratif (DP-5) dan menyampaikan
kepada Kepala Bidang
- Berdasarkan

Rekomendasi

DP-5,

Pejabat

Fungsional menerbitkan Surat

Persetujuan Pelaksanaan Tindakan Karantina Tumbuhan (KT-2)


- Pejabat fungsional POPT melaksanakan tindakan karantina berdasarkan surat
tugas (DP-1)
- Pejabat fungsional POPT melakukan Pemeriksaan Kesehatan terhadap MPOPT/OPTK/OPTP tingkat Lapang dan Laboratorium serta menerbitkan Laporan
Hasil pelaksanaan /Pengawasan Pemeriksaan Fisik /Kesehatan (DP-7)
- Pejabat fungsional menyampaikan hasil tindakan karantina kepada Kepala
Bidang;

24

- Kepala Bidang menerima laporan hasil tindakan karantina dan disposisi untuk
dilakukan tindakan karantina selanjutnya;
- Berdasarkan rekomendasi pada DP-7 Pejabat Fungsioal Pengendali Organisme
Pengganggu Tumbuhan (POPT) menerbitkan Sertifikat Pelepasan Karantina
Tumbuhan (KT-9) dan menyerahkan kepada seksi pelayanan operasional;
- Berdasarkan

sertifikat

KT-9

bendahara

penerima menerbitakan kuitansi

sebagai bukti pengguna jasa membayar Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP)
dalam proses pengambilan sertifikat Pelepasan karantina (KT-9);
- Kepala seksi pelayanan operasional menyerahkan sertifikat Pelepasan karantina
(KT-9) kepada pengguna jasa setelah pengguna jasa menunjukan bukti
pembayaran PNBP.

2. Prosedur tindakan dokumen keluar ( Ekspor dan Keluar Domestik)


- Pengguna jasa mengajukan permohonan pemeriksaan karantina (SP-1) atau
lembar aju secara online atau manual beserta dokumen kelengkapannya ditujukan
kepada Kepala Balai melalui petugas penerimaan dokumen (pendok).
- Petugas

pendok menyerahkan

SP-1

beserta

dokumen kelengkapannya

kepada kelapa Bidang Karantina Tumbuhan.


-. Kepala Bidang karantina Tumbuhan atas nama KepalaBalai menerbitakan
Surat Tugas (DP-1).
- Kepala Bidang menyerahkan surat tugas (DP-1) kepada Pejabat Fungsional
Pengendali Organisme Penggangu Tumbuhan (POPT) untuk melakukan
pemeriksaan administratif (Kelengkapan, Kebenaran isi dan keabsahan dokumen
Persyaratan).
- Pejabat fungsional POPT melaksanakan tindakan karantina berdasarkan surat
tugas (DP-1).
- Pejabat

fungsional

POPT

melakukan

Pemeriksaan Kesehatan terhadap

MP-OPT/OPTK/OPTP tingkat Lapang dan Laboratorium serta menerbitkan


Laporan Hasil pelaksanaan /Pengawasan Pemeriksaan Fisik /Kesehatan (DP-7).
- Pejabat fungsional menyampaikan hasil tindakan karantina kepada Kepala
25

Bidang.
- Kepala Bidang menerima laporan hasil tindakan karantina dan disposisi untuk
dilakukan tindakan karantina selanjutnya.
- Pejabat

fungsional

POPT menerbitkan

Phytosanitary certificate (KT.10)

dan Sertifikat Karantina Tumbuhan Antar Area (KT.12) dan menyerahkan kepada
seksi pelayanan operasional.
- Berdasarkan sertifikat KT-10/KT-12, bendahara penerima menerbitakan kuitansi
sebagai bukti pengguna jasa dalam proses pengambilan sertifikat karantina (KT10, KT-12).
- Kepala seksi pelayanan operasional menyerahkan sertifikat Phytosanitary
certificate (KT.10) dan Sertifikat Karantina Tumbuhan Antar Area (KT.12)
kepada pengguna jasa setelah pengguna jasa menunjukan bukti pembayaran
PNBPS. Prosedur penenganan pengaduan pelanggan tindakan karantina.
- Pengguna jasa karantina yang kurang puas terhadap kualitas pelayanan jasa
karantina dapat mengajukan pengaduan langsung dengan mengisi form
pengaduanpelanggan yang kemudian diserahkan kepada petugas penerima
dokumen.
- Pengguna jasa karantina dapat juga menyampaikan pengaduan melalui nomor
telepon, sms center dan e-mail yang telah disediakan, kemudian.
4.1.4 Alur Pengajuan permohonan Karantina
Entry Permohonan Pemeriksaan Karantina Tumbuhan On Line via WEB
PPK Online
Masuk ke website BBKP Surabaya : http://karantinapertaniansby.deptan.go.id/
Atau website Barantan

: http://karantina.deptan.go.id/

4.1.5 Hasil Pengujian di Laboratorium


Sampel No
No. Registrasi
Pemohon

449/08/2014.
2014.2.04.01.S01.I.016690
UD. WATTA TEGUH MANDIRI Jl. Kunir No. 12-14,

Komoditas
Asal

Surabaya, Indonesia.
Bawang Putih (Allium sativum L.)
Cina
26

Target OPTK

Delia antiqua, Ditylenchus destuctor, Ditylenchus dipsaci,


Aphelenchoides fragariae,

Hasil Uji

Urocystis cepulae, Botryotinia Squamosa.


OPTK SASARAN TIDAK DITEMUKAN

Laboratorium
Temuan lain

Plectus sp,
Drechslera sp, Culvularia sp, Alternaria brassicae,
Nigrospora sp, Stemphyllium sp.

4.2

Pembahasan

4.2.1 Cendawan yang di Temukan di bandingkan Literatur (beserta


AROPT)
Dalam hal ini Cendawan yang termasuk Target OPTK Tergantung pada
asal daerah produksi tanaman budidaya, sehingga setiap negara maupun wilayah
memiliki target yang berbeda-beda.
Drechslera sp
Culvularia sp
Alternaria brassicae
Nigrospora sp
Stemphyllium sp.
4.2.2 Prosedur Karantina Tumbuhan Pada Komoditas bawang Putih Impor
Di jelaskan alur bagaimana karantina memproses sampai pembebasan beserta
gambar
Pemilik media pembawa (MP) atau kuasanya menyampaikan laporan
pemasukan MP dengan mengisis formulir KT-11 kepada petugas karantina
tumbuhan melalui counter yang tersedia dengan melampirkan dokumen sebagai
berikut:

27

Lembar asli Phytosanitary certificate dari instansi Karantina Tumbuhan


negara asal,

Lembar asli Surat Izin Pemasukan dari menteri pertanian (Khusus untuk
pemasukan benih dan tanaman hidup)
Untuk MP yang berupa bibit tanaman, laporan pemasukan disampaikan

selambat-lambatnya 5 hari sebelum MP tiba di tempat pemasukan, sedangkan


untuk MP lainnya pelaporan dapat dilakukan pada saat tiba di tempat pemasukan.
Khusus untuk pemasukan buah-buahan dan sayuran buah segar hanya
boleh dilakukan di pintu pemasukan yang ditetapkan yaitu: Pelabuhan Laut
Tanjungpriok, Jakarta; Pelabuhan Laut Tanjungperak, Surabaya; Pelabuhan Laut
Belawan, Medan; Pelabuhan Laut Batu Ampar, Batam; Bandar Udara Soekarno
Hatta, Jakarta; Bandar Udara Ngurah Rai, Denpasar; dan Pelabuhan Laut
Makasar. Sementara untuk pemasukan umbi lapis segar dari famili allium
(bawang-bawangan) hanya boleh dilakukan di pintupemasukan yang ditetapkan
yaitu: Pelabuhan Laut Belawan, Medan; Pelabuhan Laut Tanjung Balai Asahan;
Pelabuhan Laut Dumai, Riau; Pelabuhan Laut Batam; Pelabuhan Sungai Boom
Baru, Palembang; Pelabuhan Laut Tanjung Priok, Jakarta; Pelabuhan Laut
Tanjung Emas, Semarang; Pelabuhan Laut Tanjung Perak, Surabaya; Pelabuhan
Laut Pontianak; Pelabuhan Laut Tarakan; Pelabuhan Laut Makasar; Pos Lintas
Batas Entikong; Bandar Udara Soekarno, Hatta, Jakarta; dan Bandar Udara
Ngurah Rai, Denpasar.
Pemasukan buah, sayuran buah segar dan umbi lapis segar ke dalam
wilayah negara Republik Indonesia selain melalui pintu pemasukan tersebut
termasuk melalui pelabuhan laut Tanjungpinang DILARANG.
Petugas counter membukukan laporan pemasukan ke dalam buku agenda
serta dilanjutkan dengan pemeriksaan kelengkapan, kebenaran, serta keabsyahan
dokumen sejak diterimanya surat penolakan MP tersebut tidak dikirim kembali ke
luar negeri (di re-eksport), maka terhadap MP tersebut dilakukan pemusnahan dan
kepada pemilik atau kuasanya akan diberikan Surat Perintah Pemusnahan (KT28).

28

Apabila semua dokumen persyaratan dapat dilengkapi maka petugas


karantina tumbuhan akan melakukan pemeriksaan fisik/kesehatan yang
dilanjutkan dengan tindakan karantina tumbuhan lain yang diperlukan. Adapun
alur tindak karantina tumbuhan untuk MP impor disajikan pada gambar
1.persyaratan oleh Petugas Karantina tumbuhan. Jika dokumen persyaratan tidak
lengkap maka terhadap MP tersebut dilakukan penahanan dan kepada pemilik MP
atau kuasanya akan diberikan surat penahanan (KT-24). Selama MP dalam
penahanan, pemilik MP atau kuasanya harus melengkapi semua dokumen yang
dipersyaratkan.
Apabila dokumen persyaratan tersebut tidak dapat dilengkapi dalam waktu
14 hari, maka terhadap MP tersebut akan dilakukan penolakan dan kepada
pemilik MP atau kuasanya diberikan surat penolakan (KT-26). Apabila setelah 14
hari
ALGORITMA TINDAK KARANTINA TUMBUHAN IMPOR
IMPOR
Apakah Termasuk

YA

KOMODITAS
TIDAK
TERLARANG?
Apakah Termasuk
KOMODITAS
BERSYARAT?

TIDAK

PERIKSA!

MUSNAHKAN
!

TOLAK/REEKSPOR/

TIDAK

MUSNAHKAN

YA

Apakah
memenuhi

YA

PERSYARATAN
TIDAK
ADMINISTRATIF
?

taha
n

Apakah
termasuk

YA MASUKKA
N KE

Kategori
harusTIDAK
di
KPM-kan?
Apakah bebas dari
Organisme
Pengganggu
Tuimbuhan
Karantina

TIDAK

(OPTK)?
YA
Apakah
dapat
diberikan
PERLAKUAN
?TIDAK

DALAM
KPM
YA

BERIKAN
PERLAKUAN
SESUAI
MANUAL

MUSNAHKA
N!

Apakah dapat
dibebaskan dari
Organisme
Pengganggu
Tuimbuhan
YA
Karantina
(OPTK)?

YA

BEBASKA
N
SETELAH
DIBERI
PERLAKUA
N

29