Anda di halaman 1dari 14

Adalah akses ke Mahkamah Internasional yang hanya terbuka untuk

negara Individu, dan organisasi-organisasi Internasional tidak dapat


menjadi pihak dari suatu sengketa didepan Mahkamah Internasional. Pada
prinsipnya, Mahkamah Internasional hanya terbuka bagi negara-negarea
anggota dari statuta.
Keputusan Mahkamah adalah keputusan organ hukum tertinggi didunia.
Penolakan suatu negara terhadap keputusan lembaga tersebut, akan
dapat merusak citra negara tersebut dalam pergaulan antar bangsa.
Oleh karena itu, dengan mengadakan pengcualian terhadap ketentuan
tersebut, juga diberikan kemungkinan kepada negara-negara lain yang
bukan pihak pada statuta untuk dapat mengajukan suatu perkara ke
Mahkamah

Internasional

(pasal

35

ayat

statuta:

dimungkinkan

mengenakan persyaratan persyaratan terhadap negara itu, yaitu bahwa


negara negara tersebut harus mematuhi keputusan keputusan
Mahkamah dan menerima syarat syarat dalam pasal 94 Piagam PBB).
Dalam hal ini, dewan keamanan dapat menentukan syarat-syaratnya.

Anggota Mahkamah Internasional:


Semua anggota PBB ipso facto yang berarti oleh faktanya sendiri,
adalah peserta statuta, akan tetapi negara yang bukan anggota PBB
dapat juga menjadi peserta, berdasarkan syarat syarat yang ditetapkan
dalam setiap perkara oleh Majelis Umum PBB atas rekomendasi dari
dewan Keamanan (pasal 93 Piagam PBB). Syarat syarat itu adalah
penerimaan negara yang bukan anggota atas Statuta, penerimaan
kewajiban kewajiban (pasal 94 Piagam PBB) dan melaksanakan suatu
pemberian sumbangan anggaran Mahkamah seperti yang dimuat dalam
resolusi majelis Umum tanggal 11 Desember 1946.

Kewenangannya :
Yuridiksi Mahkamah terbagi dua macam[35], yaitu :

a. Untuk memutuskan perkara-perkara perdebatan (contentious case)


b. Untuk memberi opini-opini nasihat (advisory juridiction)
c. Memerikasa perselisihan/sengketa antara negara-negara anggota
PBB yang diserahkan kepada Mahkamah Internasional.
Menurut mahkamah, ada beberapa pembatasan penting atas
pelaksanaan fungsi fungsi yudisialnya dalam kaitan yuridiksi pedebatan
dan terhadap hak hak dari negara untuk mengajukan klaim dalam
lingkup yuridiksi ini, yaitu:[43]
a. Mahkamah
memberikan

tidak

boleh

suatu

memberikan

dasar

bagi

putusan

keputusan

abstrak,
politis,

untuk
apabila

keyakinannya tidak berhubungan dengan hubungan hubungan


hukum yang aktual. Sebaliknya Mahkamah boleh benar benar
bertindak sebagai suatu Mahkamah yang didebat. Aspek yang erat
kaitannya yaitu bahwa para pihak tidak dapat diperlakukan sebagai
pihak yang dirugikan satu sama lain dalam suatu sengketa apabila
hanya ada ketidaksesuaian kongkret atas masalah masalah yang
secara substansif mempengaruhi hak hak dan kepentingan
kepentingan hukum mereka.
b. Yang banyak menimbulkan kontroversi, Mahkamah memutuskan
dengan suara mayoritas dalam South West Africa Case, Second
Phase bahwa negara negara yang mengajukan klaim, yaitu
Ethiopia dan Liberia, telah gagal untuk menetapkan hak hukum
mereka atau kepentingan yang berkaitan dengan mereka di dalam
pokok sengketa dari klaim klaimnya sehingga menyebabkan klaim
itu harus ditolak. Persoalan ini telah dianggap sebagai salah satu
dari persoalan permulaan, meski demikian ada kaitannya dengan
materi perkara.

Peranan Mahkamah Internasional

Peran Mahkamah Internasional sangat menentukan kepada kedua


negara yang sedang bersengketa. Dalam hal ini, Mahkamah Internasional
mempunyai kewenangan, dimana Mahkamah Internasional berwenang
untuk

memeriksa,

menyelesaikan

sengketa

hingga

memberikan

keputusan atas dasar sengketa tersebut. Hal ini dinyatakan dalam pasal
94 ayat (1) Piagam PBB, yaitu :
Setiap

anggota

PBB

berusaha

mematuhi

keputusan

Mahkamah

Internasional dalam perkara apapun dimana anggota tersebut menjadi


suatu pihak.
Sedangkan pada ayat (2) dinyatakan sebagai berikut
Apabila sesuatu pihak dalam suatu perkara tidak memenuhi kewajiban
kewajiban yang dibebankan kepadanya oleh suatu keputusan Mahkamah,
pihak yang lain dapat meminta perhatian Dewan Keamanan, yang jika
perlu, dapat memberikan rekomendasi atau menentukan tindakan
tindakan yang akan diambil untuk terlaksananya keputusan itu.

ngah Hati
untuk Timor Timur
MEMASUKI tahun ketiga setelah penghancuran (bumi hangus) oleh militer Indonesia dan
milisi pro-integrasi, belum diketahui secara pasti berapa jumlah korban tewas, hilang, korban
perkosaan, dan kejahatan lainnya di Timor Timur. Hal ini masih menjadi misteri. Kini, para
pelaku kejahatan itu masih bebas, sementara para korban dan keluarga korban terus menuntut
keadilan. Kapan kita akan mendapatkan keadilan?
Menanggapi tuntutan ini, United Nations Transitional
Administration for East Timor (UNTAET) membentuk Special
Panel (Regulasi 2000/15) yang memiliki kewenangan mengusut
kejahatan-kejahatan serius. Pertanyaannya, seberapa efektif
panel ini mengusut kejahatan-kejatahan serius itu?
Serious Crimes Unit (SCU) dibentuk menyusul hasil
penyelidikan pasukan multinasional untuk Timor Timur
(Interfet), yang kasus-kasusnya kemudian ditangani polisi sipil
UNTAET (Civilian Police) pada Desember 1999. Pada Juni

2000, Special Panel dibentuk untuk melanjutkan kerja SCU menangani kejahatan berat ini,
sesuai Regulasi UNTAET 2000/15.
Regulasi ini memberi harapan kepada pada korban untuk mencari keadilan. Teorinya, regulasi
ini menyatakan bahwa kejahatan-kejahatan yang terjadi sebelum dan sesudah referendum
dikategorikan sebagai kejahatan melawan kemanusiaan, genosida dan dan kejahatan perang.
Semua kategori kejahatan itu terdapat pada Statuta Roma 1998 dan pengadilan ad hoc untuk
Yugoslavia dan Rwanda.
Banyak pihak menaruh pesimisme pada SCU dan Special Panel. Masalah yang dihadapi dua
institusi ini adalah kurang sumber dana manusia (staf profesional, pengacara, interpreter) dan
sumber-sumber lainnya, seperti dana yang kurang dan sebagainya yang bisa menjadikan
lembaga ini berdaya guna. Sejak didirikan, Special Panel sudah kekurangan dana. Hal ini
berbeda dengan hal serupa di Kamboja, di mana Sekretaris Jendral PBB segera mengirim
dana segera setelah panel seperti ini didirikan. Belum lagi, para penyelidik ahli asing yang
bekerja di SCU hanya dikontrak UNTAET selama enam bulan.
Waktu sependek itu jelas tidak memadai. Kontrak yang pendek dengan para ahli hukum asing
ini membuat para penegak hukum Timor Timur frustasi. Satu-satunya hakim pribumi di
Special Panel mengatakan Situasi semacam ini sangat menyulitkan karena setiap kali saya
harus menghadapi situasi dan rekan kerja baru. Pada banyak kasus, hakim-hakim asing itu
tidak memahami konteks kasus-kasus yang ditangani atau mereka tidak memahami Timor
Timur.
Situasi yang lebih sulit dihadapi para pengacara publik. Hanya ada tiga pengacara publik
pribumi yang menangani kasus-kasus kejahatan serius. Mereka bergabung dengan tiga
pengacara publik asing. Pada saat yang sama, karena kekurangan sumber daya ini, mereka
harus merangkap tugas menangani kasus kejahatan serius dan perkara biasa. Para mengacara
publik ini kekurangan fasilitas, tidak memiliki mobil, dan tidak ada perpustakaan untuk riset.
Para pengacara publik di Timor Timur kebanyakan kurang pengetahuan dan pengalaman
menangani kasus-kasus kejahatan berat. Sejumlah pengacara asing yang berpraktek di Timor
Timur juga tak memiliki pengalaman serupa.
Para pengacara publik ini tidak diberi pelatihan khusus sebelum mereka membela kasuskasus kejahatan serius. Mereka sebelumnya membela kasus-kasus kejahatan biasa, kemudian
pindah ke Special Panel segera setelah panel ini didirikan. Kesulitan lain adalah hambatan
bahasa dengan para pengacara publik asing. Kantor pengacara publik tidak menyediakan
penterjemah untuk tugas-tugas ini. Masalah bahasa juga terjadi di ruang sidang. Seorang
pengacara publik mengatakan: Seorang pengacara publik membuat pernyataan penutup
dengan Bahasa Indonesia, sementara para lawyer asing di sedang pengadilan itu menulisnya
dengan Bahasa Inggris. Mereka bahkan tidak mengerti isi pernyataan penutup satu sama lain
karena tidak pernah diterjemahkan. Baik para pengacara publik maupun para hakim Timor
Timur di Special Panel merasa frustasi dengan masalah-masalah seperti ini.
Masalah lain, yang sudah disebut di muka, adalah sulitnya melakukan verifikasi dan problem
impunity. Hingga sekarang Special Panel hanya menangani ikan-ikan kecil sementara
para pelaku kakapnya masih bebas berkeliaran. Para saksi mata menyatakan para pelaku
kelas kakap, para komandan tentara Indonesia terlibat dalam kejahatan-kejahatan serius ini.
Special Panel tidak memiliki jusrisdiksi untuk membawa para pemimpin militer Indonesia
dan para eks milisi yang kini berada di Indonesia ke pengadilan mereka.

Hingga kini, Memorandum of Under Standing (MUO) 6 April 2000 antara Jaksa Agung
Indonesia dengan UNTAET tak berfungsi. Dalam MUO itu jelas disebutkan kemungkinan
adanya deportasi yang dirumuskan sebagai transfer persons. Kurangnya political
will dari pemerintah Indonesia dan kurangnya tekanan internasional terhadap Indonesia
membuat Special Panel kesulitan memecahkan masalah impunity dalam kasus pelanggaran
hak asasi manusia di Timor Timur.
Tuntutan agar pengadilan internasional untuk kejahatan-kejahatan terhadap kemanusiaan di
Timor Timur didirikan datang dari berbagai pihak. Special Rapporter PBB melakukan
penyelidikan di Timor Timur. Pada 10 Desember 1999, Special Rapporter mengumumkan
hasil penyelidikannya. Kutipannya sebagai berikut: TNI dan milisi terlibat kejahatan
seperti pembunuhan, penyiksaan, serangan seksual, pemindahan penduduk, dan tindakantindakan tak berperikemanusiaan, termasuk penghancuran gedung-gedung. Berdasarkan
laporan ini Komisi Penyelidik PBB untuk Timor Timur merekomendasikan agar Dewan
Keamanan PBB mendirikan pengadilan internasional kecuali Jakarta melakukan tindakan
hukum yang kredibel untuk menyelesaikannya.
Special Rapporter PBB menyimpulkan bahwa pengadilan internasional harus memiliki
kewenangan terhadap semua kejahatan di bawah hukum internasional yang terjadi sejak
kehadiran Portugal di wilayah itu. Pada 31 Januari 2000, International Commision of Inquiry
on East Timor (ICET) meluncurkan laporan mereka dan menyerukan agar PBB membuat
pengadilan internasional untuk Timor Timur.
Permintaan lainnya datang dari berbagai kelompok masyarakat internasional, seperti IFET
(yang bersama-sama 80 organisasi internasional mengirim surat ke Sekretaris Jendral PBB,
agar dibentuk pengadilan internasional), ETAN, organisasi-organisasi yang bernaung di
bawah Gereja Katolik dan sebuah organisasi solidaritas Timor Timur di Jepang, APCET.
Menurut pendapat mereka, performa Special Panel dan kurangnya political will pemerintah
Indonesia membuat rakyat Timor Timur tidak percaya bahwa keadilan akan ditegakan. Maka,
hanya dengan pengadilan internasional para pelaku kejahatan ini yang sekarang menikmati
impunity bisa dibawa ke pengadilan.
Di level nasional, sejumlah lembaga swadaya (NGO) masyarakat Timor Timur terus
menuntut didirikannnya pengadilan internasional. Dalam sebuah konferensi baru-baru ini,
sejumlah NGO Timor Timur bersama-sama keluarga para korban menyusun strategi
bagaimana agar PBB membentuk pengadilan internasional. Mereka pesimistis dengan kerja
Spesial Panel dan kesungguhan pemerintah Indonesia.
Dewan Nasional Timor Timur juga mengeluarkan resolusi tentang pembentukan mahkamah
internasional untuk Timor Timur. Kendati, dukungan dari para politisi Timor Timur
mengendur sejak kemenangan pro kemerdekaan di referendum karena alasan-alasan
diplomasi dengan Indonesia, namun pada 30 Agustus 2001, sebagian besar politisi
menyatakan tuntutan mereka agar mahkamah internasional dibentuk.
Uskup Dili, Carlos Filipe Ximenes Belo juga terus menuntut agar mahkamah internasional
didirikan. Belo tidak percaya dengan pengadilan Indonesia yang mengadili para komandan
militer Indonesia. Pengadilan Indonesia, menurut Belo, miskin kepercayaan dan sulit
dibayangkan bahwa para pemimpin militer Indonesia yang terlibat dalam kejahatan berat di
Timor Timur dibawa ke pengadilan Indonesia sendiri.

Tuntutan dibentuknya pengadilan internasional mengasumsikan bahwa masalah impunity dan


keadilan akan dipecahkan. Asumsi demikian terlalu sederhana, karena pembentukan
pengadilan internasional itu sendiri tidak akan lepas dari kendala. Salah satunya, Dewan
Keamanan PBB tidak didukung oleh negara-negara besar. Mahkamah internasional akan
menghadapi masalah yang sama seperti dialami MOU untuk mendeportasi para tersangka.
Pembentukan Special Panel seharusnya dibarengi dengan pelaksanaan MOU April 2000 di
mana para tersangka kejahatan kemanusiaan di Timor Timur yang sekarang berada di
Indonesia, bisa ditangani Special Panel. Dibentuknya mahkamah internasional memiliki
kekuatan dan kelemahan masing-masing. Namun, hal penting yang paling mendasar sekarang
untuk keadilan rakyat Timor Timur adalah tekanan internasional untuk Indonesia. Jika
kejahatan ini tidak diungkap dan pelakunya tidak diadili, maka ribuan korban jiwa orang
Timor Timur akan terkubur dalam sejarah kemanusiaan yang hitam.
Aderito de Jesus Soares. Diterjemahkan dari paper berjudul Special Panel for Serious
Crimes, A Half-Hearted International Tribunal fos East Timor (Aderito de Jesus Soares) oleh
Irawan Saptono. Peper ini dipresentasikan di konferensi internasional bertopik:
International Criminal Court: Practise and Prospects, Amsterdam, 15-16 Januari 2002.
Aderito de Jesus Soares adalah anggota Dewan Konstitusi Timor Timur, seorang ahli hukum
yang pernah bekerja di ELSAM, Jakarta.

LATAR BELAKANG
Dari waktu ke waktu, sejarah sepertinya sengaja memunculkan tokoh-tokoh yang
bertentangan dengan pikiran waras. Slobodan Milosevic melengkapi petak terbaru mozaik
sejarah, yang sebelum ini dihiasi tokoh-tokoh macam Hitler, Franco, Idi Amin, Ceaucescu,
atau Pol Pot. Kalau antipati itu dalam dunia komunikasi modern boleh diwakili oleh media
massa, Milosevic memang telah mendapat rapor merah dari Committee to Protect Journalist
(CPJ). Ini organisasi internasional perlindungan wartawan yang bermarkas di New York.
Nama Milosevic disejajarkan dengan Mahathir Mohamad, Jiang Zemin, dan Presiden
Republik Demokrasi Kongo Laurent Kabila. Sekadar catatan, pada 1996 Presiden Soeharto
pun pernah dinobatkan oleh CPJ sebagai salah satu tokoh paling dibenci karena
memperlakukan media secara buruk.
Milosevic dituduh melakukan pemusnahan etnis. Keinginan merdeka Kosovo dan Metohija
(serta Vojvodina) ditanggapinya dengan penyerbuan tentara. Perang menjadi amat rasialis
karena kehendak untuk merdeka warga di kedua wilayah itu didorong oleh perbedaan etnis
dan agama. Suku Albania - yang mayoritas beragama Islam dan sebagian kecil Katolik - ingin
memisahkan diri karena merasa berbeda dengan etnis Serbia yang mayoritas di Yugoslavia.
Apa mau dikata, kehendak ini ditentang Milosevic. Ia yakin, separatisme itu hanya ulah
segelintir gerombolan kriminal yang didukung Barat. Publikasi telah direkayasa sehingga
menimbulkan kesan pemerintah pusat Yugoslavia berniat melakukan pembersihan etnik.
LANDASAN BERPIKIR

Literatur tentang permasalahan pelanggaran hak azasi manusia dapat dikatakan terbatas,
walaupun sejarah mencatat permasalahan ini merupakan salah satu permasalahan tertua
sepanjang sejarah umat manusia.
Namun saya mencatat beberapa prinsip dan dasar pemikiran dari pemikir-pemikir HAM dan
dasar norma hukum internasional yang menurut saya dapat dijadikan landasan ketika
menganalisa permasalahan pelanggaran HAM oleh Milosevic.
Definisi Korban HAM
Dengan merujuk pada Deklarasi Prinsip Prinsip Dasar Keadilan bagi Korban kejahatan dan
Penyalahgunaan Kekuasaan (Declaration of Basic Principles of Justice for Victims of Crime
and Abuse of Power) definisi korban disebut seperti berikut; Orang yang secara individual
maupun kelompok telah menderita kerugian termasuk cedera fisik maupun mental,
penderitaan emosional, kerugian ekonomi, atau perampasan yang nyata terhadap hak hak
dasarnya, baik karena tindakan (by act) atau kelalaian (by omission). Apabila perlu, istilah
korban dapat mencakup keluarga langsung atauorang yang secara langsung menjadi
tanggungan korban, dan orang orang yang menderita kerugian ketika membantu korban
yang sedang menderita atau dalam usaha mencegah agar orang orang tidak menjadi korban.
Prinsip Van Boven
Profesor Theo van Boven adalah seorang pelapor khusus PBB. Van Boven mengajukan
prinsip prinsip dasar yang harus dipenuhi ketika suatu Negara ingin merumuskan kebijakan
atau hukum yang berkaitan dengan pemenuhan hak-hak korban (restitusi).
Prinsip tersebut kemudian dikenal sebagai van Boven Principles yang terdiri dari enam
prinsip;
1. Pemulihan dapat dituntut secara individual atau kolektif
2. Negara berkewajiban menerapkan langkah langkah khusus yang memungkinkan
dilakukannya restitusi, kompensasi, rehabilitasi, kepuasan dan jaminan agar kejadian serupa
tidak terulang.
3. Setiap Negara harus mempublikasikan tentang tersedianya prosedur prosedur pemulihan
4. Ketentuan pembatasan tidak boleh diterapkan selama masa dimana tidak ada penyelesaian
efektif atas pelanggaran HAM dan hukum humaniter.
5. Setiap Negara harus memungkinkan tersedianya secara cepat informasi yang berkenaan
dgn persyaratan persyaratan tuntutan pemulihan
6. Keputusan keputusan mengenai pemulihan atas korban pelanggaran HAM dan hukum
humaniter harus dilaksanakan secara cepat dan cermat
Dasar Dasar Hukum Internasional
Dalam kaidah hak azasi manusia dijelaskan adalah menjadi tanggungjawab Negara jika
Negara tersebut melanggar hak azasi warga negara suatu Negara lain, dalam hal ini Negara
tersebut dapat segera mengajukan tuntutan pemulihan kepada Negara pelanggar, namun para
korban tidak mempunyai hak untuk mengajukan klaim atau tuntutan internasional.
Walaupun demikian harus diperhatikan bahwa komisi Hukum Internasional mengajukan
konsep bahwa Negara yang dirugikan tidak terbatas pada hak dan kepentingan Negara yang
dilanggar saja, tetapi juga memakai konsep tersebut untuk pelanggaran hak berdasarkan
perjanjian multiteral atau peraturan hukum kebiasaan internasional yang telah diciptakan
untuk perlindungan hak azasi manusia dan kebebasan yang mendasar. Ini artinya kepentingan
yang akan dilindungi oleh ketentuan hak azasi manusia bukanlah kepentingan suatu Negara.

Kejahatan perang dapat dikategorikan sebagai tindak pidana, namun apabila penanganan
kasusnya didalam negeri mengalami hambatan hambatan prosedural maka mahkamah
internasional dapat menjerat pelaku dengan menggunakan norma- norma hukum humaniter
atau mengeluarkan resolusi.
Selain dari resolusi resolusi yang dikeluarkan PBB yang lebih bersifat reaksioner tercatat
beberapa landasan hukum internasional permanen yang dapat digunakan menjerat penjahat
perang seperti Milosevic.
Norma norma hukum humaniter tersebut diantaranya; Pasal 41 Peraturan Den Haag yang
dicakup dalam konvensi yang sama untuk menuntut restitusi karena kerugian-kerugian yang
dialami akibat pelanggaran terhadap klausula gencatan senjata oleh perorangan, Pasal 68
Konvensi Jenewa tentang perlakuan terhadap tawanan perang yang mengandung ketentuan
ketentuan khusus mengenai tuntutan kompensasi bagi tawanan perang, Protokol I Konvensi
Jenewa pasal 91 mengenai pihak yang melanggar konvensi dalam konflik bersenjata wajib
membayar kompensasi.
PERMASALAHAN
Logika dunia memang acap bertolak belakang dengan logika Milosevic. Persoalan dalam
predikat dengan awalan me-, bagi Milosevic bisa berubah menjadi di-, demikian pula
sebaliknya. Ia yang delapan tahun lalu gagal membendung aspirasi warga Slovenia, Kroasia,
Bosnia-Hersegovina, dan Macedonia, kali ini menempuh segala cara untuk tetap
mempertahankan Kosovo-Metohija.
Langkah yang ditempuh Milosevic sama dengan Hitler saat berekspansi atas nama ideologi
dan nasionalisme. Milosevic terobsesi mewujudkan Serbia Raya, walau dengan memunguti
puing-puing kehancuran Yugoslavia. Maka tanpa mempedulikan PBB ia mendefinisikan
wilayah kekuasaannya: Republik Federal Yugoslavia, yang mencakup kawasan SerbiaMontenegro, dan Kosovo-Metohija. Inilah dua republik yang tersisa dari enam buah sebelum
Juni 1991, yang dulu tergabung dalam Republik Federal Sosialis Yugoslavia. Sementara PBB
menganggap, dengan wilayah yang sekarang sangat berbeda, tak ada satu pihak pun yang
layak mengaku jadi penerus Republik Federal Sosialis Yugoslavia.
Jelas, banyak orang mencibir Milosevic. Gagasan itu tak lebih dari impian semu dan buah
dendam tak kesampaian. McGeary menambahkan, jiwa sakit seperti yang sedang diidap
Milosevic tak usahlah ditanggapi. Diktator yang dalam sepuluh tahun terakhir telah
memprakarsai 4 peperangan namun 3 di antaranya berakhir dengan kekakalahan, akan
menempuh seribu cara untuk memenangkan perang ini. Seribu cara termaksud, seperti
dijelaskan oleh Dusan Stojanovic, berwujud pelanggaran serius hak asasi manusia serta
pendobrakan prinsip-prinsip demokrasi.
Begitulah, ketika berkuasa, Milosevic tak segan-segan menggunakan segenap kekuatannya
untuk bertahan. Seberapa jauh ia masih akan tegar, barangkali sampai dunia bosan sendiri.
Milosevic tak merasa berdosa menggunakan warganya sebagai perisai diri dari gempuran
peluru NATO dan Amerika, sementara di dunia setiap hari terdengar teriakan tentang hak
asasi manusia.
PEMBAHASAN
Tentang Milosevic
Lahir pada 20 Agustus 1941 di Pozarevac, salah satu kota miskin berpenduduk 20.000 orang

di Serbia, Slobodan terbilang anak biasa-biasa saja. Ia dikenal tertib, tak suka olahraga karena
akan merusak dandanannya yang selalu kuno dan rapi. Teman-temannya menduga Slobodan
akan jadi juru tulis atau petugas administrasi pemerintah.
Bagi pikiran normal, kiprah Milosevic dengan gagasan yang sudah ketinggalan zaman itu
menjadi unik. Majalah Newsweek 5 April 1999 yang menjulukinya Penggertak dari Balkan
menuliskan, sesudah PD II Slobodan (kata ini berarti kebebasan/kemerdekaan) ditinggal pergi
ayahnya, seorang guru mata pelajaran teologi ortodoks Timur. Slobodan yang masih berusia 5
tahun hanya tinggal bersama ibunya. Mereka terpisah sangat lama, tahu-tahu, ketika
Slobodan telah berusia 21 tahun, ada kabar bahwa ayahnya tewas bunuh diri. Bagaikan
tragedi berantai, ibunya, juga guru sekaligus aktivis komunis, gantung diri pada tahun 1974.
Sewaktu muda Slobodan tak banyak bergaul. Satu-satunya teman dekat di sekolah menengah
ya cuma Mirjana Markovic, gadis yang juga punya riwayat kekerasan, karena ibunya, aktivis
komunis, menjadi martir bagi Serbia dalam PD II.
Keduanya menikah dan masuk ke Universitas Beograd. Slobodan belajar hukum, sedangkan
Mirjana memperdalam politik hingga lulus doktor dan jadi profesor dalam bidang ideologi
marxisme. Belakangan Mirjana memimpin partai Yugoslav United Left (JUL). Di Fakultas
Hukum, Slobodan berteman dengan Ivan Stambolic yang saat itu tengah merintis jalan politik
di satu-satunya jalur kaderisasi, yakni Partai Komunis. Selulus kuliah, 1964, Slobodan terus
mengikuti Stambolic dan jadi pendukung potensial bagi kesuksesannya.
Dalam beberapa hal Milosevic bahkan lebih keras dari atasannya. Ia, misalnya, memaksa
Stambolic yang tahun 1985 terpilih jadi Presiden Serbia, membentuk Komite Sentral Partai
Komunis dengan Slobodan ketuanya. Begitu terpilih, Slobodan menempuh jalan kebijakan
sendiri yang berbeda dengan Partai Komunis Uni Soviet. Rupanya, Stambolic setuju dengan
kiprah Slobodan. Orang kepercayaannya itu diutus ke Kosovo untuk membereskan konflik
antaretnis. Lagi-lagi caranya radikal, yakni menyemangati minoritas Serbia dengan ucapan,
Mulai sekarang, tak ada lagi ancaman bagi Anda, karena saya ada di sini! Karuan saja,
orang mengelu-elukannya, Slobo, Slobo!
Slobodan tak selamanya terlibat dalam kegiatan politik. Setelah jadi penasihat ekonomi
walikota Beograd, tahun 1973 ia ditunjuk untuk memimpin perusahaan negara Tehnogas.
Lima tahun kemudian, 1978, ia memimpin Beobank, kependekan dari The United Bank of
Belgrade, juga selama 5 tahun.
Selama menjadi pengusaha, wawasan internasionalnya maju pesat karena sering melancong
ke banyak negara. Begitu pun halnya dengan Mirjana, serta anak laki-laki dan perempuan
mereka. Sesuatu yang menimbulkan rasa iri di kalangan teman-teman sekolah mereka.
Namun dalam ideologi Milosevic tak berubah. Tahun 1984 ia memimpin Partai Komunis
Beograd, dan tiga tahun kemudian menjadi ketua Partai Komunis seluruh Serbia. Ambisinya
terus menggunung. Diramu dengan kecerdikan, jabatan Presiden Serbia pun beralih dari
bekas atasannya, Stambolic, kepada dirinya pada 1989.
Tahun 1991, pemisahan diri bekas republik dalam Federasi Yugoslavia, dihadapi Milosevic
dengan senjata. Ia, yang menurut Dennison Rusinow dalam Microsoft Encarta 1997, terobsesi
oleh keperkasaan ekspansi Nazi, melakukan segala cara untuk mempertahankan bekas
wilayah Yugoslavia. Apa mau dikata, kemerdekaan Kroasia tak terbendung. Demikian pula
Bosnia-Herzegovina. Ada dendam yang tersimpan atas kekalahan ini, sekalipun dalam

penampakan luar tak terlihat. Yang paling merasakan akibatnya adalah warga di wilayah
kekuasaannya. Di dalam negeri jumlah musuhnya makin bertambah. Tetap saja, itu diolahnya
menjadi kartu-kartu permainannya.
Tokoh di balik kekuasaan dia adalah istrinya. Slobodan tak pernah seratus persen
mempercayai orang lain, kecuali istrinya sendiri, komentar penulis biografi Slavoljub
Djukic. Dia paham betul karakter serta mental orang Serbia dan Kosovo, sehingga dalam
setiap kebijakannya selalu ada pertimbangan psikologis yang sangat matang, ujar Veran
Matic, direktur radio independen B-92 yang dimusuhi Milosevic. Sedangkan seorang
peninjau internasional berkebangsaan Rusia mengomentari, Milosevic selalu mengambil
keputusan yang lurus. Ia tak peduli kepada saran dan usul, tak pernah bertele-tele dalam
menilai, sehingga tak ada rencana jangka panjang bagi Yugoslavia selain ambisinya untuk
terus duduk di kursi tertinggi.
Milosevic kalah di Kroasia maupun Bosnia, tetapi mengkompensasikan kekalahan itu dengan
mewujudkan kembali negara Yugoslavia (sejak 11 April 1992) yang kini tinggal Serbia
(jumlah penduduk 10,5 juta orang) dan Montenegro (680.000 orang). Kosovo-Metohija yang
berpopulasi hampir 2 juta hampir pasti tak terbendung memerdekakan diri.
Mengherankan, posisi Milosevic justru menanjak kendati negaranya terpuruk dalam pelbagai
kesulitan. Krisis ekonomi berbuntut menjadi hiperinflasi, sehingga pada Juni 1993 Serbia
terpaksa mengganti mata uang - untuk tidak menyebutnya devaluasi. Setiap AS $1 bernilai
antara 5 - 8 Yugoslav New Dinars.
Sejak 23 Juli 1997 Milosevic dikukuhkan menjadi Presiden Republik Federal Yugoslavia.
Namun orang percaya, jabatan itu diraih dengan kecurangan luar biasa. Selain memanipulasi
suara, proses kampanyenya pun dia mainkan. Dean E. Murphy, dalam artikel Yugoslav
Opposition Laments Invisibilty di Los Angeles Times 31 Oktober 1996 mencatat, kontrol
yang sangat ketat pada media menyebabkan partai Milosevic, Partai Sosialis Serbia (ini
sekadar nama jelmaan dari Partai Komunis), memperoleh peliputan 15 kali lebih banyak
daripada partai-partai lain. Temuan hampir sama juga didapat Paul Wood dalam artikel An
Election Waiting for Disaster di Macleans Magazine 16 September 1996. Menurut Wood,
sekalipun di luar Milosevic meneriakkan demokrasi, ketika pemilihan umum ia
mengharuskan partai-partai oposisi membayar AS $20.000 untuk setiap menit peliputan
televisi.
Isu Separatisme dan Pembersihan Etnis
Hampir sama pula dengan Timor Timur, Kosovo dan Metohija semula adalah negara bagian
Federasi Yugoslavia yang punya otonomi luas, baik secara teritorial maupun kultural. Punya
parlemen dan kepala eksekutif sendiri. Mengelola keuangan, kebudayaan, pendidikan,
informasi, kesejahteraan, serta bahasa sendiri.
Namun itu semua tetap dirasakan kurang. Mereka iri pada Kroasia, Bosnia-Herzegovina,
dan Macedonia, republik-republik yang pada Juni 1991 memisahkan diri dari Federasi
Yugoslavia. Ibrahim Rugova, ketua organisasi perlawanan terbesar, Liga Demokratik Kosovo
(DSK), seperti dikutip Time edisi 5 April menyatakan, Milosevic tak cuma curang demi
mencapai kejayaan suku Serbia, tetapi juga diskriminatif. Ia menyingkirkan suku Albania dari
berbagai pos dan jabatan di Kosovo. Kalau tak bisa melawan, cara terbaik untuk
menghapuskan diskriminasi itu ya memisahkan diri.

Diskriminasi memang kata yang dianggap paling tepat oleh media Barat untuk menunjuk
perilaku politik Milosevic di Kosovo-Metohija. Pembersihan etnis, menjadi makin jelas
dengan mendiamkan ratusan ribu warganya berbondong-bondong pergi mencari tempat yang
lebih baik. Di satu sisi tak mau hegemoninya berkurang, namun di sisi lain membiarkan etnis
Albania ramai-ramai eksodus dari Kosovo-Metohija. Kesimpulannya, Milosevic
menghendaki wilayah semata-mata, bukan warga negara yang berhak tinggal di wilayah
itu.Ini memang bertolak belakang dengan retorika yang setiap kali dilakukannya. Menurut
Milosevic, Kosovo dan Metohija adalah bagian tak terpisahkan dari Serbia sejak abad VI.
Sekalipun etnis Serbia hanya sepuluh persen dari sekitar dua juta penduduk KosovoMetohija, di wilayah itu terdapat 200 gereja Abad Pertengahan sebagai bukti menyatunya
kedua wilayah pada masa lalu.
Waktu PD II meletus, lanjut publikasi resmi itu, orang Serbia dan Montenegro-lah yang justru
diusir dari Kosovo-Metohija. Selama perang berlangsung, tak kurang dari 100.000 orang
Serbia dideportasi. Seusai perang pun pemerintah komunis melarang mereka kembali. Dalam
kurun 2 dekade, 1968-1988, 220.000 orang Serbia diusir, dan 700 desa bersih dari etnis
Serbia. Total, selama 40 tahun terakhir jumlah orang Serbia yang meninggalkan kawasan itu
sekitar 400.000 orang.
Perlawanan Kosovo - Metohija
Pemerintah pusat mungkin punya seribu gincu politik untuk mempermanis penampilannya di
Kosovo-Metohija. Yang pasti, pejabat yang diangkat untuk mengurusi wilayah ini selalu
orang Serbia. Masuk akal jika gerakan perlawanan telah lama ada, jauh sebelum Beograd
mengakui tahun resmi 1981 sebagai pemberontakan separatis Republik Kosovo. Namun sejak
itu pun tekanan dari bawah makin kuat, sehingga tahun 1991, hampir bersamaan dengan
republik lain di bekas Yugoslavia yang memerdekakan diri, rakyat Kosovo-Metohija
menyelenggarakan pemilu yang terpisah dari campur tangan kekuasaan Beograd. Sayang,
kalau Slovenia, Kroasia, Bosnia-Herzegovina, dan Macedonia berhasil, tidak demikian
halnya dengan Kosovo-Metohija. Perlawanan mereka kemudian kembali meledak di awal
tahun ini, melahirkan babak baru Perang Balkan.
Separatisme Kosovo-Metohija dipolitisasi dengan cukup canggih oleh Milosevic, sehingga
citra yang muncul adalah: gerakan separatisme itu kejam, membahayakan golongan minoritas
Serbia di Kosovo-Metohija. Maka setiap kali Milosevic atau pejabat pemerintah lain
berkunjung ke kawasan Serbia di Kosovo, mereka selalu mencitrakan diri sebagai pelindung
kaum minoritas dari ancaman mayoritas etnis Albania.
Ketika tentara Serbia menyerbu kawasan Kosovo-Metohija, di media massa kontan tercipta
gambaran neraka perang. Korban berjatuhan, pengungsi pun bergelombang. Pencitraan ini
sedikit banyak juga diciptakan oleh media massa Barat, yang memang belum tentu cocok
dengan kenyataan. Sebelum tanggal 24 Maret, saat agresor jahat masuk dan bom jatuh di
negeri ini, tak ada satu pun pengungsi. Pengungsian baru terjadi setelah bom-bom NATO
menjatuhi tanah kami. Seluruh dunia tahu ini, kata Milosevic kepada televisi CBS yang
mewawancarainya di Beograd, 22 April 1999.
Dengan kata-kata itu ia menepis publikasi neraka perang. Singkatnya ia menyampaikan
pesan: masalah dalam negeri Yugoslavia mestinya sudah selesai jika NATO tak campur
tangan dengan menjatuhkan bom. Di matanya, itulah puncak propaganda untuk mencorengmoreng citra Serbia. Milosevic agak mengabaikan kenyataan, bom-bom NATO jatuh di
wilayah Serbia dan Montenegro, bagian utara dan baratdaya Yugoslavia, termasuk yang salah

sasaran di kawasan netral seperti bangunan sekolah atau kedutaan besar. Padahal seluruh
dunia tahu, rombongan pengungsi berasal dari Kosovo-Metohija, di bagian selatan Republik
Federasi Yugoslavia. Mereka mengalir ke selatan menuju Macedonia, atau ke barat menuju
Albania.
Mahkamah Pidana Internasional
Tanggal 1 Juli 2002 merupakan hari bersejarah bagi negara-negara yang tergabung dalam
Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pada hari tersebut telah lahir di Den Haag, Belanda, sebuah
organ judisial internasional baru di samping Mahkamah Internasional (International Court of
Justice) yang sudah ada lebih dulu yang tugasnya mengadili sengketa antarnegara. Organ
baru ini bernama Mahkamah Pidana Internasional (International Criminal Court). Untuk
pertamakalinya dalam sejarah, dunia memiliki satu lembaga peradilan internaisonal yang
bersifat permanen yang memiliki kewenangan untuk menyelidiki, mengadili, menghukum
individu, presiden, jenderal, panglima perang atau pun tentara bayaran yang terbukti telah
melakukan kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan atau pun pembantaian umat
manusia (genocide).
Boleh jadi andaikan mahkamah ini terbentuk sebelum pada saat proses peradilan Milosevic,
maka proses tersebut akan berjalan lebih cepat karena prosedur yang dimiliki mahkamah
tersebut memungkinkan penjahat perang seperti Milosevic dapat diadili langsung tanpa
perdebatan yang panjang mengenai prosedural peradilan yang akan dipilih. Namun tentunya
mahkamah ini tetap menghormati Negara untuk pihak yang pertama kali mengadili pelaku.
Pemulihan Hak Korban
Dalam kasus Milosevic dan Serbia Raya nya, negara, badan/lembaga internasional seperti
NATO terkesan hanya berusaha memburu pelakunya yang dalam hal ini Milosevic dengan
upaya militer tanpa diimbangi dengan usaha-usaha pemulihan HAM korban pelanggaran.
Aksi militer ini sendiri akhirnya menghasilkan korban-korban baru ketika Amerika atau
NATO tidak menyangka (atau sudah menduga?) bahwa seorang Milosevic akan
menggunakan warganya sebagai tameng hidup dari aksi militer mereka.

Sebab keseimbangan (balanced) dalam memburu pelaku pelanggaran HAM sampai ke


Mahkamah Internasional serta pemulihan HAM korban diperlukan guna penegakan total
HAM dan hukum humaniter secara. Setiap strategi aksi militer yang dilancarkan hendaknya
tidak justru menambah deretan jumlah korban, dan yang terpenting adalah pemulihan
(reparation) HAM para korban.
PENDAPAT SAYA
Ketika menganalisa permasalahan pelanggaran HAM maka kita acapkali terjebak untuk
melihat permasalahan dari sudut pandang isu-isu konseptual seperti isu relativisme versus
universalisme, konsep HAM barat versus timur, atau seputar pengusutan peristiwa peristiwa
pelanggaran HAM tersebut terjadi. Yang terjadi akhirnya terkadang pelaku pelanggar HAM
sering lolos dari hukuman.
Menurut saya posisi korban pelanggaran HAM jarang sekali dibahas dalam pengusutan
tersebut, artinya upaya pemulihan (reparation) korban terhadap hak-hak korban sering kali
terabaikan. Padahal upaya tersebut merupakan bagian dari usaha penajuan dan perlindungan
HAM.

Pembentukan Crisis Centre guna upaya tersebut dapat membantu. Keuntungan lainnya dalam
proses pemulihan tersebut dapat diperoleh juga data akurat tentang berbagai jenis
pelanggaran serta bukti-bukti obyektif yang dapat menyeret pelaku pelangaran HAM tersebut
ke pengadilan (dalam hal ini Milosevic tentunya Mahkamah Internasional).
KESIMPULAN
Setiap informasi perihal konflik mutakhir di Semenanjung Balkan itu memang perlu dicerna
baik-baik. Sumber-sumber formal Beograd, semisal kantor berita Beograd menyebutkan,
awal mulanya adalah keinginan segelintir orang di Kosovo yang dipanas-panasi CIA untuk
memisahkan diri dari pemerintah pusat Beograd. Sedangkan media Barat menitikberatkan
tinjauan pada hak asasi warga negara bagian Kosovo yang, karena perbedaan banyak hal,
ingin memisahkan diri dari Serbia, namun tak diperbolehkan. Apa pun, cerita berlanjut
dengan tindakan Milosevic membubarkan parlemen Kosovo, lantas diikuti dengan
penyerbuan pasukan Serbia. Kosovo harus tetap jadi bagian dari Republik Federasi
Yugoslavia!
Tapi begitulah. Konflik Milosevic dengan NATO tak melulu adu peluru namun juga adu
informasi. Cerita apa pun yang keluar, kepentingan penyampainya akan terbawa serta. Maka,
kalau pers Barat menyebut tentara pembebasan Kosovo (KLA) pejuang kemerdekaan,
Pemerintah Beograd menjuluki mereka penjahat tengik belaka. Kalau pers Barat
menggambarkan Presiden Milosevic sebagai Si Rendah Diri yang ingin balas dendam atas
masa lalu yang kelam, publikasi resmi Beograd menjulukinya ahli hukum hebat, mantan
pengusaha dan bankir sukses, pimpinan partai yang berwibawa, serta Bapak Bangsa.
Ini mengingatkan kita pada pelbagai gerakan separatis di tanah air, yang utama Timor Timur.
Bedanya, kalau di Timtim pencegahan niat merdeka dilakukan dengan diam-diam, di Kosovo
dilakukan dengan terbuka. Akibatnya, PBB harus turun tangan. Perundingan di Rambuillet
dan Paris yang berlangsung selama 3 minggu pada Maret lalu tak membawa hasil alias gagal
total. Milosevic tak setuju langkah PBB membagi delegasi negaranya menjadi Serbia,
Kosovo etnis Albania, serta Metohija. Ia bersikeras semuanya adalah bagian dari Yugoslavia,
dan tak satu pihak pun di dunia boleh memilah-milahkannya.
Maka persekutuan 19 negara yang tergabung dalam NATO, termasuk anggota kecil yang tak
punya angkatan perang seperti Luksemburg dan Eslandia, pun tergerak untuk menghukum
Milosevic. Perang - yang oleh NATO dianggarkan berbiaya AS $ 250 juta per minggu - pun
meletus. Wilayah Serbia dihujani bom, sementara pengungsi berhamburan keluar dari
Kosovo-Metohija.
Dasar dan instrument hukum internasional untuk mengadili penjahat perang seperti Milosevic
saat ini sudah semakin mapan, sebagai antisipasi apabila Negara asal penjahat tersebut tidak
mampu menangani peradilan atas pelaku. Lahirnya Mahkamah pidana Internasional
menunjukan bahwa dunia telah geram dengan ulah tokoh macam Hitler, Franco, Idi Amin,
Ceaucescu, Milosevic atau Pol Pot. Bahkan dalam peradilan internasional sudah tidak dikenal
lagi sistem kadaluwarsa pada suatu kasus pelanggaran HAM.
Pemasalahannya yang sering muncul adalah rumitnya pengusutan kaki tangan pelaku utama
pelanggar HAM secara keseluruhan, karena seringkali pelaku - pelaku sekunder tersebut
setelah jatuhnya pelaku utama, kini menjadi bagian dari penguasa Negara yang dapat
memanipulasi data tentang pelanggaran HAM. Untuk menangani hal tersebut maka tim
investigasi independent internasional sering dikerahkan guna pengusutan yang berindikasi

melibatkan penguasa Negara, walaupun sering terjadi pro dan kontra mengenai keberadaan
tim tersebut.
Kemudian permasalahan yang tidak kalah pentingnya adalah pemulihan hak korban. Sering
terjadi, tindakan kearah ini terbengkalai atau kurang terekspos karena sibuknya lembaga
peradilan dalam mengusut tuntas pelaku, padahal dalam penegakan HAM secara utuh
pemulihan HAM korban seharusnya menjadi prioritas penting. Belakangan ini lembaga
lembaga swadaya masyarakat baik nasional maupun internasional banyak yang memfokuskan
terhadap masalah ini. Fenomena tersebut terjadi sebagai reaksi atas sering lambannya respon
Negara terhadap hal ini.
Kerugian korban untuk kerusakan secara ekonomis akibat kejahatan perang Milosevic
diperkirakan berupa; kerusakan fisik dan mental, hilangnya kesempatan mendapat
pendidikan, mencari nafkah, kerugian tempat tinggal, tempat usaha, yang semuanya
disebabkan oleh eksodusnya ratusan ribu warganya dari Kosovo, sedangkan yang jelas terjadi
adalah korban jiwa warga yang dijadikan tameng perang terhadap NATO dan Amerika
Kendala-kendala yang dihadapi oleh Mahkamah
kelompok kami adalah sebagai berikut,

Internasional menurut

1. Sikap Egoisme antar negara yang bersengketa.


2. Sikap Arogan yang ditunjukkan oleh salah satu negara yang bersengketa.
3. Adanya sikap Monopoli atau hasutan dari negara-negara Adidaya kepada Mahkamah
Internasional dalam memutuskan suatu keputusan dalam persengketaan.
4. Tidak adanya sikap tranparansi dari pihak suatu kelompok yang terkait atau
pemerintahan dalam pengumpulan bukti-bukti untuk kasus Genosida atau kejahatan
perang.

Anda mungkin juga menyukai