Anda di halaman 1dari 54

TEKNIK MENENTUKAN PRIORITAS MASALAH

Disusun oleh:
Esti Fitria Hatami, S.Ked

040531000

Olivia Citra Utami, S.Ked

04053100076

Nipolin Sonoki M., S.Ked

04061001005

Uli Martha Manurung, S.Ked

04061001006

Olia Indri Saktianingsih, S.Ked

04061001090

Dosen Pembimbing:
dr. Mariatul Fadillah, MARS

BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
RUMAH SAKIT UMUM PUSAT MOH.HOESIN PALEMBANG
2011

HALAMAN PENGESAHAN

Makalah
Judul
Tehnik Menentukan Prioritas Masalah
Oleh:
Esti Fitria Hatami, S.Ked

040531000

Olivia Citra Utami, S.Ked

04053100076

Nipolin Sonoki M., S.Ked

04061001005

Uli Martha Manurung, S.Ked

04061001006

Olia Indri Saktianingsih, S.Ked

04061001090

Telah diterima dan disetujui sebagai salah satu syarat dalam mengikuti
Kepaniteraan Klinik Senior di Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas
Kedokteran Univesitas Sriwijaya Rumah Sakit Mohammad Hoesin Palembang
periode 14 Februari 2011-11 April 2011.

Palembang, Maret 2011

dr. Mariatul Fadillah, MARS

ii

KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur, penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah yang berjudul Teknik Menentukan Prioritas Masalah, yang merupakan
salah satu syarat untuk menempuh Kepaniteraan Klinik Senior Bagian Ilmu
Kesehatan Masyarakat RSMH Palembang periode 14 Februari 2011-11 April
2011.
Di dalam penyusunan makalah ini penulis menyadari keterbatasan
pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki, penulis mengucapkan terima kasih
kepada dr. Mariatul Fadillah, MARS atas bimbingan dan arahannya dalam
penyusunan makalah ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih atas bantuan
dari teman-teman di bagian ilmu kesehatan masyarakt RSMH Palembang
sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat waktu. Akhirnya, penulis berharap
semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Palembang, Maret 2011

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
Untuk meningkatkan kinerja dan mutu perencanaan program kesehatan,
diperlukan suatu proses perencanaan yang akan menghasilkan suatu rencana yang
menyeluruh (komprehensif dan holistik). Perencanaan kesehatan adalah
kegiatan yang perlu dilakukan di masa yang akan datang, yang jelas tujuannya.
Langkah-langkah perencanaan sebetulnya bersifat generik, yaitu sama dengan alur
pikir siklus pemecahan masalah, langkah-langkah pokok yang perlu dilakukan
adalah analisis situasi, identifikasi masalah dan menetapkan prioritas, menetapkan
tujuan, melakukan analisis untuk memilih alternatif kegiatan terbaik, dan
menyusun rencana operasional.
Penentuan prioritas pada suatu masalah adalah suatu proses yang
dilakukan oleh sekelompok orang dengan menggunakan metode tertentu untuk
menentukan urutan masalah dari yang paling penting sampai yang kurang penting.
Penentuan prioritas masalah ini dinilai oleh sebagian besar manager kesehatan
sebagai inti proses perencanaan. Langkah yang mengarah pada titik ini, dapat
dikatakan sebagai suatu persiapan untuk keputusan penting dalam penetapan
prioritas. Sekali prioritas ditetapkan, langkah berikutnya dapat dikatakan
merupakan gerakan progresif menuju pelaksanaan.
Menurut Abraham. L, masalah adalah terdapatnya kesenjangan (gap)
antara harapan dengan kenyataan. Oleh sebab itu, cara perumusan masalah yang
baik adalah kalau rumusan tersebut jelas menyatakan adanya kesenjangan.
Kesenjangan tersebut dikemukakan secara kualitatif dan dapat pula secara
kuantitatif. Identifikasi dan prioritas masalah kesehatan merupakan bagian dari
proses perencanaan harus dilaksanakan dengan baik dan melibatkan seluruh unsur
terkait, termasuk masyarakat. Sehingga masalah yang ditetapkan untuk
ditanggulangi betul-betul merupakan masalah dari masyarakat, sehingga dalam
pelaksanaan kegiatan untuk menanggulangi masalah kesehatan yang ada,
masyarakat dapat berperan aktif didalamnya.

Menetapkan prioritas dari sekian banyak masalah kesehatan di


masyarakat

saat

ini

merupakan

tugas

yang

penting

dan

semakin

sulit. Manager kesehatan masyarakat sering dihadapkan pada masalah yang


semakin menekan dengan sumber daya yang semakin terbatas. Metode untuk
menetapkan prioritas secara adil, masuk akal, dan mudah dihitung merupakan
perangkat manajemen yang penting.
Dari berbagai masalah kesehatan yang diidentifikasi ada beberapa
masalah kesehatan yang mendesak untuk diatasi. Munculnya sejumlah masalah
dari analisis permasalahan secara simultan, yang nampaknya mempunyai bobot
permasalahan
pertanyaan,

yang

sama,

masalah

menghadapkan

manakah

yang

pengambil
memerlukan

keputusan

kepada

penanggulangan

segera?. Melalui teknik dan metode tertentu sederet masalah kesehatan yang
ditemukan dapat diurut berdasarkan urgensinya untuk segera diatasi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Analisis Situasi


Dalam analisis situasi, kita berurusan dengan informasi yang
mencerminkan masalah-masalah yang adalah di lapangan. Masalah yang kerap
terjadi di sini adalah orang terbiasa dengan informasi rutin untuk pelaporan.
Mereka biasa memahami maksud dari data selain berkaitan dengan target
kegiatan. Data terbiasa dipakai untuk mengukur hasil. Padahal data bisa
digunakan untuk memahami lebih jauh tentang apa yang tidak beres dengan
program. Data tentang proses dalam program itu tidak tersedia sehingga seorang
menjadi tumpul. Manager kesehatan memasukkan informasi yang mereka miliki
ke dalam tabel. Jika tidak ada data, mereka diminta memasukkan indikator yang
biasa mencerminkan kegiatan atau hasil dari elemen program kesehatan. Yang
penting adalah Manager kesehatan bisa memilah-milah mana yang harus ia
masukkan ke dalam kolom status kesehatan, pelayanan kesehatan, dan
masyarakat.
Fasilitator menelaah semua data yang tersedia untuk menilai
kegunaannya dalam menganalisis dan menguraikan masalah kesehatan, termasuk
menyangkut kelengkapan dan relevansinya. Ia harus menjelaskan cara membuat
analisis situasi dan indikator-indikator yang dapat digunakan, dan meminta
peserta mendiskusikan data tambahan baik secara kualitatif dan kuantitatif untuk
menyempurnakan penetapan masalah.
Tabel ini harus bisa memberikan informasi tentang dalam hal apa suatu
daerah bermasalah. Ia membantu kita mengidentifikasi masalah-masalah dan menetapkan agenda. Ia juga membantu kita memahami mana sektor kesehatan dan
mana yang bukan. Ada banyak cara menampilkan informasi dalam tabel analisis
situasi. Yang dicontohkan dan dianjurkan modul ini adalah yang bersifat prediktif.
Tabel di bawah ini adalah contohnya. Di situ terlihat jelas, untuk masingmasing kondisi, dicantumkan indikator untuk tahun pada saat program dibuat dan

keadaan yang ingin dicapat pada beberapa tahun berikutnya. Tidak ada kepastian
berapa tahun yang akan kita gunakan untuk membuat target dari kegiatan kita. Ini
sama sekali tergantung pada siklus perencanaan. Jika kita bekerja untuk bupati
yang berganti tiap 5 tahun, maka barangkali lebih tepat kita mencantumkan jangka
harapan 5 tahun. Tetapi dapat pula terjadi dikaitkan dengan masa kerja kepala
dinas atau apa saja yang membuat kita ingin mengerjakan sesuatu karena ingin
mencapai keadaan tertentu dalam waktu tertentu.
Contoh Tabel yang Membedakan Indikator Dua Daerah

Kita bisa menggunakan beberapa pola lain yang mungkin lebih cocok
dengan kondisi otonomi daerah. Beberapa tabel berikut ini merupakan contoh.
Satu tabel menekankan betapa penting arti sebuah indikator agar ia menjadi
agenda dalam perencanaan. Bukan men-cantumkan tahun akan datang, tabel ini
membandingkan keadaan saat ini dengan keadaan di masa lampau. Jika keadaan
di masa sekarang menjadi lebih buruk dibanding yang lalu, maka keadaan itu
pantas dicatat sebagai masalah yang penting.
Pengisian Kolom Tabel
Hubungan antar kolom dari tabel analisis situasi dapat dilihat seperti
gambar di bawah ini. Untuk mudahnya kita bisa menuliskan status kesehatan
dengan apa saja yang dianggap outcome yang dianggap masalah kesehatan
pribadi. Apakah outcome ini berkaitan langsung dengan sistem kesehatan atau
tidak, untuk sementara tidak usah dihiraukan. Gunakan akal sehat ketika

menuliskan sesuatu itu sebagai masalah kesehatan. Sebagai contoh, gizi buruk
bisa kerap dimasukkan sebagai status kesehatan. Meskipun memang ada yang bisa
dikerjakan oleh petugas kesehatan berkenaan dengan gizi buruk, tetapi itu bisa
lebih tepat sebagai kelompok penyulit. Ia penyulit karena gizi buruk
mencerminkan masalah-masalah distribusi makanan dan kemampuan keluarga
mensuplai makanan yang memadai kepada anak. Itu sudah menjadi urusan
kementerian sosial dan kementerian pangan.
Sedangkan sistem pelayanan, berisi apa saja yang menjadi pekerjaan
dinas kesehatan dan perangkatnya di daerah, termasuk rumah sakit dan
puskesmas. Tidak usah terlalu khawatir dengan penggunaan istilah pelayanan
kesehatan. Kolom di tengah itu bisa juga berisi sistem pemeliharaan kesehatan.
Dalam sistem pelayanan ini, kita bisa memasukkan SDM kesehatan (input),
strategi pelayanan (proses) dan bentuk-bentuk pelayanan yang sampai di
masyarakat (output). Alasan kita menggunakan pelayanan kesehatan" sebagai
judul adalah karena banyak hal yang sesungguhnya berpengaruh terhadap proses
penyembuhan kesehatan yang masuk dalam katagori sistem sosial ekonomi.
Contoh Pengisian Tabel
Perhatikan, setelah kolom indikator terdapat dua kolom tahun. Kolom ini
untuk mempelajari seperti apa keinginan di masa mendatang akan kita capai. Jadi
yang membuat mereka bergairah mengatasi masalah adalah target yang ingin
dicapai. Tetapi jika yang menjadi alasan mereka berbuat adalah besarnya masalah,
dua kolom ini bisa dibuat untuk menggambarkan masalah. Ia bisa dibuat untuk
memperlihatkan perbedaan keadaan di kabupaten dan di propinsi. Contoh di atas
menjelaskan jurang antara kondisi Melaboh dan Rata-rata di Propinsi Aceh.
Pilihan ini tergantung apakah kita tergerak dengan melibat posisi daerah kita
dibandingkan keadaan level propinsi.Tetapi masalah yang penting bisa ditekankan
dari besar penurunan atau kenaikan pada kurun waktu tertentu. Dengan
membandingkan isi kolom indikator, kita bisa menekankan hal mana yang
menjadi tekanan dalam analisis situasi itu. Tabel itu bisa juga berisi indikator
suatu masalah berdasarkan kecamatan. Ini terutama dibuat untuk menempatkan
kecamatan mana yang harus menjadi perhatian bidang kesehatan.

Indikator
Indikator yang umum adalah angka insidensi, prevalensi, ratio, dan rate
yang biasanya diukur per 1000 hingga 100000 penduduk. Angka-angka kejadian
penyakit dan kematian per jumlah penduduk itu pada masa lalu berguna untuk
memperkirakan kejadian di tingkat nasional atau provinsial. Kadang-kadang
angka-angka dari bawah dibuat agar terdapat angka nasional. Analisis biasanya
dibuat pada level internasional. Bagi pemerintah pusat, angka-angka itu menjadi
dasar pengembangan perencanaan dan pembiayaan program penyakit.
Dalam konteks desentralisasi saat ini, angka-angka tentu saja bisa
dijadikan pegangan bagi bupati untuk mengeluarkan dana untuk program
kesehatan. Tetapi perlu diingat bahwa angka-angka itu perlu dibuat pada level
yang mempunyai arti bagi satuan politik di masyarakat. Jika kita memahami
angka-angka itu berdasarkan kabupaten atau kota saja, maka kita tidak bisa
mengetahui di mana sebenarnya masalah itu terjadi. Jika kita bisa membuat
angka-angka itu per kecamatan, maka hal itu akan lebih berarti bagi kepentingan
pencegahan pada tingkat kecamatan. Lagi pula, bila camat tertentu memahami
bahwa angka suatu penyakit atau kondisi tertentu buruk di daerahnya, itu akan
membawa dampak pada tanggung jawab politik mereka sebagai pejabat tertinggi
di kecamatan itu.
Diagram: Indikator Kecamatan vs Desa

Versi Umum

Angka kematian ibu kabupaten.

Insidensi malaria kabupaten.

Versi Khusus

Jumlah desa yang masih memiliki kematian karena proses


persalinan.

Jumlah kecamatan yang masih memiliki kema-tian karena


proses persalinan.

Persentase sekolah yang bebas tuberkulois

Haruskah kita menggunakan angka-angka kependudukan? Dalam


praktik, tidak semua angka-angka mudah dipahami pembuat keputusan di
kabupaten. Kadang-kadang bahkan angka-angka itu menjadi tidak berarti karena
dianggap sudah biasa. Bahkan kadang angka-angka itu mudah salah dibuat karena
penduduk yang menjadi dasar pembagi angka itu tidak jelas besar dan spesifikasinya. Sebagai respon terhadap keadaan seperti itu, tidak salah jika kita
mencantumkan angka absolut. Kematian ibu 3 orang per tahun sesungguhnya
sudah cukup mengatakan ada masalah serius di suatu kecamatan atau kabupaten.
Demikian pula, satu kematian karena DHF pun sudah cukup menunjukkan
masalah lingkungan yang berisiko tinggi bagi penularan lebih banyak. Jadi angkaangka absolut kerap kali lebih berarti apa lagi kejadian itu menjadi perhatian
masyarakat di suatu kecamatan atau kabupaten.
Keuntungan indikator kecamatan atau kelurahan yaitu indikator bisa
dikaitkan dengan kepentingan stakeholder. Tidak semua kecamatan dan desa
memiliki masalah kematian. Jika kecamatan atau desa yang memiliki kematian
ditemukan, maka pemecahan masalah akan berbeda jika tidak diketahui.
Anggaplah semua bundaran itu adalah desa. Jika kita tidak mengetahui desa mana
yang memiliki kematian, maka sumber digunakan untuk semua desa, biasanya
berupa pembagian rata untuk semua desa. Tetapi jika 3 desa diketahui memiliki
kematian ibu, maka sumber-sumber akan digunakan untuk 3 desa tersebut dan
masalah yang berkaitan dengan kematian dapat diatasi. Penyebutan 3 desa yang
10

bermasalah itu memberikan efek politik yang membuat kepala desa sadar masalah
itu berada di wilayah mereka. Mereka akan lebih besar bergerak mengatasi
masalah dibandingkan jika mereka tidak mengetahui masalah itu berada di tempat
mereka. Karena ada masalah di tiga desa itu, camat bisa memanggil lurah-lurah
yang bersangkutan dan meminta keterlibatan mereka dalam pengatasan masalah
itu. Keterlibatan lurah dan camat dalam pengatasan kematian di masa mendatang
akan jauh berbeda jika masalah itu hanya menjadi perhatian pada dinas kabupaten
yang mengundang puskesmas yang bertanggung jawab atas wilayah kematian.
Informasi akurat mungkin tidak tersedia. Tetapi selalu ada informasi lain
yang mendekati dan berfungsi sebagai pengganti. Ini dapat berupa:
(1) kondisi sebagi akibat dari item informasi yang ingin diungkapkan
(2) kondisi pendahulu dari item itu.
(3) informasi kualitatif yang terkait dengan unit analisis.
Jika tidak memiliki informasi tentang jumlah penduduk dan yang
mengalami kematian atau penyakit, maka kita bisa menggunakan informasi
tingkat di atasnya. Kita sudah biasa memiliki rumah tangga sebagai unit analisis.
sebagai contoh, persentase keluarga yang memiliki air bersih. Tetapi kita juga bisa
membuat indikator, persentase desa yang memiliki keluarga dengan air bersih
75%. Asumsi indikator itu, jika suatu desa memiliki keluarga dengan air bersih
75% maka itu dianggap sesuai dengan target yang dicanangkan oleh pemerintah.

II.2. Identifikasi Masalah


Perencanaan pada hakikatnya adalah suatu bentuk rancangan pemecahan
masalah. Oleh sebab itu langkah selanjutnya dalam perencanaan kesehatan adalah
mengidentifikasi masalah-masalah kesehatan. Sumber masalah kesehatan
masyarakat dapat diperoleh dari berbagai cara antara lain: Laporan-laporan
kegiatan dari program-program kesehatan yang ada.

Surveilans epidemiologi

atau pemantauan penyebaran penyakit. Survei kesehatan yang khusus diadakan


untuk memperoleh masukan perencanaan kesehatan. Hasil kunjungan lapangan
supervisi. Dalam menemukan masalah kesehatan diperlukan ukuran-ukuran.

11

Ukuran-ukuran yang paling lazim dipakai adalah angka kematian (mortalitas) dan
angka kesakitan (morbiditas). Masalah kesehatan harus diukur karena terbatasnya
sumber daya yang tersedia sehingga sumber daya yang ada betul-betul
dipergunakan untuk mengatasi masalah kesehatan yang penting dan memang bisa
diatasi.
Ada 3 cara pendekatan yang dilakukan dalam mengidentifikasi masalah
kesehatan, yakni:
1.

Pendekatan logis. Secara logis, identifikasi masalah kesehatan


dilakukan dengan mengukur mortalitas, morbiditas dan cacat yang
timbul dari penyakit-penyakit yang ada dalam masyarakat.

2.

Pendekatan Pragmatis. Pada umumnya setiap orang ingin bebas


dari

rasa sakit

dan rasa tidak

aman

yang

ditimbulkan

penyakit/kecelakaan. Dengan demikian ukuran pragmatis suatu


masalah gangguan kesehatan adalah gambaran upaya masyarakat
untuk memperoleh

pengobatan, misalnya jumlah orangyang

datang berobat ke suatu fasilitas kesehatan.


3.

Pendekatan Politis. Dalam pendekatan ini, masalah kesehatan


diukur atas dasar pendapat orang-orang penting dalam suatu
msyarakat (pemerintah atau tokoh-tokoh masyarakat).

Mengidentifikasi (mengenal) suatu masalah merupakan langkah pertama


yang di lakukan di dalam tahap analisis sistem. Masalah (problem) dapat di
defenisikan sebagai suatu pertanyaan yang di inginkan untuk dipecahkan. Masalah
inilah yang terkadang menyebabkan sasaran dari sistem tidak dapat di capai
seperti apa yang di harapkan. Oleh karena itulah pada tahap analisis sistem,
langkah

pertama

yang

harus

dilakukan

oleh

analisis

sistem

mengidentifikasi terlebih dahulu masalah - masalah yang terjadi.


Tugas - tugas yang harus di lakukannya adalah sebagai berikut :
1.

Mengidentifikasi masalah

2.

Mengidentifikasi penyebab masalah

3.

Mengidentifikasi titik keputusan

4.

Mengidentifikasi personil.

12

adalah

Untuk meningkatkan kinerja dan mutu perencanaan program kesehatan,


diperlukan suatu proses perencanaan yang akan menghasilkan suatu rencana yang
menyeluruh. Perencanaan kesehatan adalah kegiatan yang perlu dilakukan di
masa yang akan datang, yang jelas tujuannya.
II. 2. Menetapkan Prioritas Masalah
II. 2. 1. Penyusunan Prioritas
Setiap organisasi umumnya memiliki pernyataan yang jelas
mengenai prioritas program yang diacu secara resmi dan diperbarui
setiap jangka waktu tertentu. Prioritas tersebut menjadi dasar
pengambilan keputusan yang juga dipengaruhi oleh ketersediaan
sumber daya. Akan tetapi, dalam kenyataannya banyak organisasi yang
baru menyadari bahwa mereka tidak memiliki prioritas yang jelas
hingga organisasi tersebut mengalami masalah dan krisis.
Penentuan prioritas merupakan proses mengidentifikasi aktivitas
yang paling penting dalam sebuah organisasi. Penentuan prioritas
(priority setting) dikembangkan sebagai dasar pembuatan keputusan.
Penentuan prioritas perlu dikembangkan dengan memahami sumbersumber daya yang bermanfaat untuk mencapai hasil (outcomes) dan
pengaruh (impact) yang diharapkan. Ketersediaan sumber daya dapat
menjadi faktor utama dalam penentuan prioritas.
Prioritas disusun berdasarkan tingkat kebutuhan dan disesuaikan
dengan visi, misi, dan tujuan yang ingin dicapai. Pada umumnya,
penyusunan prioritas akan memperhatikan masalah-masalah dasar
yang dihadapi maupun faktor-faktor yang menghambat tercapainya
suatu tujuan. Oleh karena itu, pemahaman terhadap akar permasalahan
yang dihadapi menjadi modal utama bagi pengambil keputusan,
khususnya yang terkait dengan masalah fundamental.
Selain itu, penyusunan prioritas suatu program perlu dibuat
dengan bekal pemahaman mengenai sumber daya yang dapat
digunakan untuk mencapai hasil dan dampak yang diinginkan. Sumber

13

daya dapat diperoleh dari daerah, pelosok negara, nasional, atau


bahkan internasional. Ketersediaan atau keterbatasan sumber daya
dapat menjadi faktor utama dalam memilih prioritas program yang
akan dikembangkan. Tanpa pemahaman mengenai potensi dan kondisi
sumber daya yang dimiliki, prioritas tidak akan dilakukan dengan
tepat.
Efektifitas penentuan prioritas terkait erat dengan proses
pengambilan keputusan. Dalam hal ini, pengambilan keputusan harus
mempertimbangkan tujuan organisasi, baik jangka pendek maupun
jangka panjang. Setiap langkah yang dilakukan memiliki tujuan
sendiri. Analisis situasi sebagai langkah awal dalam perencanaan harus
dilakukan sebaik mungkin, sehingga dapat diperoleh gambaran
tentang masalah kesehatan yang ada serta faktor-faktor yang
mempengaruhi masalah kesehatan tersebut, yang merupakan tujuan
dari analisis ini, pada akhirnya akan diperoleh hasil dari analisis ini
yang merupakan titik tolak perencanaan kesehatan terpadu dan dalam
langkah selanjutnya diikuti oleh kegiatan untuk merumuskan masalah
secara jelas, sekaligus menentukan prioritas masalah-masalah tersebut.
Yang dimaksud dengan masalah dalam perencanaan kesehatan tidak
terbatas pada masalah gangguan kesehatan saja, akan tetapi meliputi
semua faktor yang mempengaruhi kesehatan penduduk (lingkungan,
perilaku, kependudukan dan pelayanan kesehatan).
Penentuan prioritas dipandang penting karena beberapa alasan
sebagai berikut:
-

Agar tetap fokus pada hal-hal yang berada pada prioritas


utama atau menuntun

perencanaan dan proses update

program.
-

Untuk mengawasi agar penggunaan sumber daya langka


dapat lebih efektif.

Untuk membangun komunikasi mengenai proyek/aktivitas


antar stakeholder.

14

Untuk menghubungkan antara kebijakan dan tujuan


ekonomi sosial pemerintah.

Penentuan prioritas masalah kesehatan adalah suatu proses yang


dilakukan oleh sekelompok orang dengan menggunakan metode
tertentu untuk menentukan peringkat masalah kesehatan. Penentuan
prioritas ini dilakukan karena disebabkan oleh pertimbangan
sumberdaya, yaitu:
1)

Man atau sumber daya manusia

2)

Money atau biaya

3)

Material atau bahan

4)

Methode atau metode/teknik.

5)

Machine atau peralatan

6)

Market atau pasar/konsumen atau pelanggan

7)

Time atau waktu

Dalam menetapkan prioritas sebelumnya kita menentukan


kriteria untuk menetapkan prioritas, dapat menggunakan salah satu
dari tiga metode, yaitu: dot voting, weighted voting atau consensus
voting tergantung waktu, sumber dan sifat kelompok.
1.

Dot Voting:
Berikan masing-masing anggota kelompok sejumlah votes
dengan menggunakan stiker titik-titik warna. Aturan
mainnya adalah, masing-masing orang mendapat sejumlah
titik yang menunjukkan VA dari jumlah item. Pemilahan
dan penggabungan ide-ide dapat ditunda sampai selesainya
voting, jadi waktu tidak akan terbuang percuma untuk
mendiskusikan item-item dengan prioritas rendah. Voting
ulang dapat dilakukan beberapa kali bersamaan dengan
pemilihan dan pengklasrifikasian ide. Dot voting ini
merupakan metode dengan visualisasi tinggi dan sederhana.
Kekurangannya adalah metode ini mengambil opini
mayoritas dan menyingkirkan kelompok minoritas yang

15

dapat merusak interaksi kelompok di masa yang akan


2.

datang.
Weighted Voting:
Poin diberikan pada ranking individu. Contohnya, jika
anggota diharuskan meranking lima pilihan teratas, maka 5
suara dapat memilih pilihan pertama, 4 suara untuk pilihan
kedua, 3 suara untuk pilihan ketiga dan seterusnya. Seluruh
nilai individu untuk tiap item kemudian ditotal dan item
dapat

diranking

(diurutkan)

berdasarkan

nilai

total

kelompok. Metode ini lebih akurat dibandingkan dengan


straight voting dalam mengukur pilihan anggota. Metode
ini juga dapat dilakukan dan dijumlahkan atau ditotal antara
pertemuan,
3.

sehingga

kelompok

tidak

menghabiskan

waktunya hanya untuk menyelesaikan tugas ini.


Consensus decision:
Metode ini paling banyak menyita waktu, namun penting
karena implementasi keputusan membutuhkan penerimaan
dan komitmen dari seluruh anggota kelompok. Aturan dasar
untuk membangun konsensus adalah:
1.
Meminta seluruh anggota kelompok berdiskusi.
2.
Hindari argumentasi.
3.
Nyatakan
seluruh
kekhawatiran/masalah/isu
4.

(terutama pandangan- pandangan minor).


Dengarkan
seluruh
kekhawatiran/masalah/isu.
Ajukan pertanyaan klarifikasi, dan paraphrase
kekhawatiran/masalah/isu (mengulangi pernyataan
kekhawatiran/masalah/isu tersebut dengan bahasa

5.

anda sendiri).
Catat pro dan kontra masing-masing posisi dalam

6.

suatu chart.
Jika ada dua posisi yang bertentangan (konflik),

7.

carilah yang ketiga untuk mengatasi perbedaan.


Dapatkan ekspresi dukungan dari seluruh anggota
kelompok sebelum membuat keputusan final.

16

Prioritas berfungsi untuk memudahkan pengambilan keputusan


merupakan suatu proses yang kompleks. Seseorang tidak dapat
menggunakan satu pendekatan yang sesuai untuk semua kebutuhan.
Oleh karena itu, pihak yang bertanggung jawab dan terlibat dalam
penetapan prioritas perlu mengetahui beberapa pendekatan utama dan
kendala-kendala yang mungkin muncul dalam penetapan prioritas,
sekaligus bagaimana cara untuk mengatasi kendala tersebut.
Pendekatan yang tepat sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor
berikut:
1. Seberapa

eksplisit

identifikasi

prioritas

mempersiapkan rencana kerja (work plan)?


2. Sampai seberapa jauh prioritas yang
merepresentasikan

apakah

prioritas

telah

organisasi

dalam
disusun
secara

menyeluruh?
Prioritas organisasi mencakup prioritas proyek dan program?
Seringkali

penyusunan

prioritas

hanya

memperhatikan

program internal dan mengabaikan prioritas antar program.


3. Seberapa jauh setiap pihak mampu memahami dan
menghargai proses yang telah dilakukan untuk menetapkan
prioritas?
4. Bagaimana kajian dan pembaruan (up date) prioritas?
5. Sampai seberapa jauh penerapan pendekatan rasional dalam
penyusunan prioritas?
6. Apakah terdapat fokus pada kebutuhan masyarakat yang
utama sebagai penentu kunci dalam penyusunan prioritas?
Dalam menentukan prioritas, terdapat beberapa pertanyaan
petunjuk (guidance question) yang dapat digunakan, yaitu:
1. Apa prioritas utama berdasarkan pemikiran dan kebutuhan
yang diidentifikasi selama analisis situasi?
2. Apa yang kita ketahui mengenai prioritas-prioritas tersebut?
3. Apakah sumber daya tersedia dan dapat diakses untuk
menjalankan prioritas tersebut?
4. Apakah ada orang, kelompok, atau organisasi lain yang lebih
mampu melaksanakan prioritas tersebut?

17

5. Siapa yang sudah atau sedang terlibat dalam pekerjaan


berkaitan dengan prioritas tersebut?
6. Siapa partner yang potensial?
II.2.2. Proses Penyusunan Prioritas yang Efektif
Dalam penentuan prioritas, aspek penilaian dan kebijaksanaan
banyak diperlukan bersama-sama dengan kecakapan unik untuk
mensintesis berbagai rincian yang relevan. Hal ini merupakan bagian
dari proses perencanaan yang biasanya dikatakan paling naluriah.
Namun, penetapan prioritas mungkin dapat jauh lebih bermanfaat
dibandingkan dengan langkah-langkah lain bila dibuat eksplisit dan
menjadi tindakan yang ditentukan secara jelas.
Ketrampilan utama yang diperlukan dalam penentuan prioritas
adalah menyeimbangkan variabel-variabel yang memiliki hubungan
kuantitatif yang sangat berbeda dan dalam kenyataannya terletak
dalam skala dimensional yang berbeda pula. Terlalu sering kesalahan
timbul akibat memberikan penekanan terlalu banyak pada satu
dimensi.
Perencanaan kesehatan harus mengembangkan ketrampilan
dalam semua disiplin ilmu yang diperlukan agar dapat melakukan
pendekatan perencanaan yang seimbang. Yang terutama diperlukan
adalah indeks-indeks tertentu yang valid di dalam informasi baik
kualitatif maupun kuantitatif yang digunakan dalam penilaian ini.
Tanpa

mengindahkan

semua

usaha

pada

pengukuran

dan

pengelompokkan khusus, si perencana pada akhirnya harus bersandar


pada elemen-elemen kebijaksanaan yang tak pasti berdasarkan
pengalaman

atau

evaluasi

rencana-rencana

sebelumnya

dalam

membuat keputusan akhir.


Karakter organisasi (struktur, budaya, dan sejarah) sangat
berpengaruh terhadap penyusunan prioritas. Selain itu, proses
dokumentasi prioritas program dan kondisi pada saat penyusunan

18

prioritas juga akan mempengaruhi penyusunan prioritas yang efektif.


Adapun beberapa ciri proses penyusunan prioritas yang efektif adalah:
1.

Mulai dari program yang dibutuhkan, bukan dari berapa


jumlah dana yang dimiliki. Jadi pertanyaan yang harus
dijawab adalah apa yang perlu kita lakukan bukan

2.

kegiatan apa yang dapat kita biayai


Mengkomunikasikan perlunya penetapan prioritas dan

3.
4.

berfokus pada masa depan organisasi


Klarifikasi peranan (role) dan aturan (rule)
Mulai dari apa yang telah ada dan sumber daya yang telah

5.
6.

dimiliki
Mendorong kreatifitas
Mencari tahu apa yang sedang terjadi dan berkembang di

7.
8.

masyarakat
Melibatkan sumber daya manusia dari luar/eksternal
Mengidentifikasi
persetujuan
(agreement)

dan

ketidaksetujuan (disagreement) mengenai prioritas yang


9.

ditetapkan
Identifikasi program-program yang berkaitan dengan

10.

organisasi lain
Penggunaan kriteria yang kredibel dalam penentuan

11.

prioritas akhir
Memastikan bahwa organisasi secara formal mengadopsi

12.

penyataan prioritas yang telah diputuskan


Diperlukan kompetensi sumber daya manusia (namun
jangan sampai kompetensi tersebut yang mengarahkan
prioritas)

II.2.3. Metode Penentuan Prioritas Masalah


Penetapan prioritas dinilai oleh sebagian besar manager
kesehatan sebagai inti proses perencanaan. Langkah yang mengarah
pada titik ini, dapat dikatakan sebagai suatu persiapan untuk keputusan
penting dalam penetapan prioritas. Sekali prioritas ditetapkan, langkah
berikutnya dapat dikatakan merupakan gerakan progresif menuju
pelaksanaan. Dalam penentuan prioritas, aspek penilaian dan

19

kebijaksanaan banyak diperlukan bersama-sama dengan kecakapan


unik untuk mensintesis berbagai rincian yang relevan. Hal ini
merupakan bagian dari proses perencanaan yang biasanya dikatakan
paling naluriah. Namun, penetapan prioritas mungkin dapat jauh lebih
bermanfaat dibandingkan dengan langkah-langkah lain bila dibuat
eksplisit dan menjadi tindakan yang ditentukan secara jelas.
Ketrampilan utama yang diperlukan dalam penentuan prioritas
dalah menyeimbangkan variabel-variabel yang memiliki hubungan
kuantitatif yang sangat berbeda dan dalam kenyataannya terletak
dalam skala dimensional yang berbeda pula. Terlalu sering kesalahan
timbul akibat memberikan penekanan terlalu banyak pada satu
dimensi. Seorang ahli epidemiologi cenderung untuk menilai
penetapan prioritas terutama sebagai suatu masalah penentuan
mortalitas dan mortabiditas relatif dari masalah-masalah kesehatan
tertentu. Pendekatan ini dipakai secara berlebihan dalam versi pertama
Metode Amerika Latin dalam perencanaan kesehatan.
Ilmuwan sosial, politikus, dan masyarakat umum cenderung
memandang penetapan prioritas sebagai suatu tanggapan atas perasaan
populer mengenai hal-hal yang penting. Bagi mereka pertimbanganpertimbangan yang penting adalah : Pertama, apa yang diinginkan
masyarakat untuk dilakukan dan yang kedua adalah program kesehatan
yang dapat diterima. Para administrator cenderung mengkaji prioritas
terutama dalam hubungannya dengan yang disebut oleh metode
perencanaan kesehatan Amerika Latin sebagai kerawanan masalahmasalah kesehatan tertentu. Perhatiannya ada pada ketersediaan
metode teknis untuk mengendalikan penyakit-penyakit atau kondisikondisi yang memerlukan perhatian. Keterbatasan paling serius di
Negara berkembang yang bahkan mungkin seringkali lebih berat dari
pada kerangka kerja administratif untuk menyediakan pelayanan dan
personil yang diperlukan.

20

Para ekonom memberi penekanan khusus pada biaya. Hal ini


biasanya merupakan kendala akhir yang menentukan apa yang akan
dilakukan, ongkos-ongkos relatif berbagai program pengendalian harus
diseimbangkan. Kebijakan penting dalam menyeimbangkan ongkos
perencanaan kesehatan umumnya adalah menyediakan pelayanan
kesehatan ke masyarakat secara maksimum dari pada memberikan
pelayanan

dengan

mutu

tertinggi

kepada

sekelompok

kecil

masyarakat.
Perencanaan kesehatan harus mengembangkan ketrampilan
dalam semua disiplin ilmu yang diperlukan agar dapat melakukan
pendekatan perencanaan yang seimbang. Yang terutama diperlukan
adalah indeks-indeks tertentu yang valid di dalam informasi baik
kualitatif maupun kuantitatif yang digunakan dalam penilaian ini.
Tanpa

mengindahkan

semua

usaha

pada

pengukuran

dan

pengelompokkan khusus, si perencana pada akhirnya harus bersandar


pada elemen-elemen kebijaksanaan yang tak pasti berdasarkan
pengalaman

atau

evaluasi

rencana-rencana

sebelumnya

dalam

membuat keputusan akhir.


Identifikasi dan prioritas masalah kesehatan merupakan salah
satu bagian dari proses perencanaan. Dalam melakukan identifikasi
masalah kesehatan, ada beberapa cara pendekatan yang perlu
diperhatikan, sehingga masalah yang dikemukakan merupakan
masalah yang benar-benar penting dan memang harus segera
diselesaikan. Selain itu diperlukan ukuran-ukuran dan data untuk
menemukan masalah kesehatan yang ada.
Untuk dapat menetapkan prioritas masalah ini, ada beberapa hal
yang harus dilakukan, yakni:
a.

Melakukan pengumpulan data


Untuk dapat menetapkan prioritas masalah kesehatan, perlu
tersedia data yang cukup. Untuk itu perlulah dilakukan
pengumpulan data. Data yang perlu dikumpulkan adalah

21

data

yang

berkaitan

dengan

lingkungan,

perilaku,

keturunan, dan pelayanan kesehatan, termasuk keadaan


geografis,

keadan

pemerintahan,

kependudukan,

pendidikan, pekerjaan, mata pencaharian, sosial budaya,


dan keadaan kesehatan.
b.

Pengolahan Data
Apabila data yang telah berhasil dikumpulkan, maka data
tersebut harus diolah, maksudnya adalah menyusun data
yang tersedia sedemikian rupa sehingga jelas sifat-sifat
yang dimiliki oleh masing-masing data tersebut. Cara
pengolahan data yang dikenal ada tiga macam, secara
manual, elektrikal dan mekanik.

c.

Penyajian Data
Data yang telah diolah perlu disajikan, ada tiga macam
penyajian data yang lazim dipergunakan yakni secara
tekstular, tabular dan grafikal.

d.

Pemilihan Prioritas Masalah


Hasil penyajian data akan memunculkan pelbagai masalah.
Tidak semua masalah dapat diselesaikan. Karena itu
diperlukan pemilihan prioritas masalah, dalam arti masalah
yang

paling

penting

untuk

diselesaikan. Penentuan

prioritas masalah kesehatan adalah suatu proses yang


dilakukan oleh sekelompok orang dengan menggunakan
metode tertentu untuk menentukan urutan masalah dari
yang paling penting sampai dengan kurang penting.
Penetapan prioritas memerlukan perumusan masalah yang
baik, yakni spesifik, jelas ada kesenjangan yang dinyatakan
secara kualitatif dan kuantitatif, serta dirumuskan secara
sistematis.
Dalam

menetapkan

prioritas

masalah

pertimbangan yang harus diperhatikan, yakni:

22

ada

beberapa

1.

Besarnya masalah yang terjadi

2.

Pertimbangan politik

3.

Persepsi masyarakat

4.

Bisa tidaknya masalah tersebut diselesaikan.

Penentuan prioritas masalah merupakan hal yang sangat penting,


setelah masalah-masalah kesehatan teridentifikasi. Cara memilih
prioritas masalah dibedakan atas dua yaitu secara Scoring dan Non
Scoring. Kedua cara tersebut pelaksanaannya berbeda-beda. Pemilihan
kedua cara tersebut berdasarkan ada tidaknya data yang tersedia,
yaitu :
a.

Scoring Technique

Pada cara ini pemilihan prioritas dilakukan dengan memberikan


score (nilai) untuk pelbagai parameter tertentu yang telah ditetapkan.
Parameter yang dimaksud adalah :
1.

Besarnya masalah.

2.

Berat ringannya akibat yang ditimbulkan.

3.

Kenaikan prevalensi masalah.

4.

Keinginan masyarakat untuk menyelesaikan masalah


tersebut.

5.

Keuntungan sosial yang dapat diperoleh jika masalah


tersebut terselesaikan.

6.

Rasa prihatin masyarakat terhadap masalah.

7.

Sumber daya yang tersedia yang dapat dipergunakan untuk


mengatasi masalah.

Secara terperinci cara-cara tersebut antara lain:


1.

Cara Bryant

Cara ini telah dipergunakan di beberapa negara yaitu di Afrika


dan Thailand. Cara ini menggunakan 4 macam kriteria, yaitu :
a. Community Concern, yakni sejauh mana
menganggap masalah tersebut penting

23

masyarakat

b. Prevalensi, yakni berapa banyak penduduk yang terkena


penyakit tersebut
c. Seriousness, yakni sejauh mana dampak yang ditimbulkan
penyakit tersebut
d. Manageability, yakni sejauh mana kita memiliki kemampuan
untuk mengatasinya.
Menurut cara ini masing-masing kriteria tersebut diberi scoring,
kemudian masing-masing skor dikalikan. Hasil perkalian ini
dibandingkan antara masalah-masalah yang dinilai. Masalah-masalah
dengan skor tertinggi, akan mendapat prioritas yang Tinggi pula.
2.

Cara Ekonometrik

Cara ini dipergunakan di Amerika Latin. Kriteria yang dipakai


adalah :
a.

Magnitude (M), yakni kriteria yang menunjukkan besarnya


masalah.

b.

Importance (I), yakni ditentukan oleh jenis kelompok


penduduk yang terkena masalah.

c.

Vulnerability (V), yaitu ada tidaknya metode atau cara


penanggulangan yang efektif.

d.

Cost

(C),

yaitu

biaya

yang

diperlukan

untuk

penanggulangan masalah tersebut. Hubungan keempat


kriteria dalam menentukan prioritas masalah (P) adalah
sebagai berikut:
P = M . I .V.C
3.

Metode Hanlon

Metode yang dijelaskan di sini memberikan cara untuk


membandingkan berbagai masalah kesehatan dengan cara yang relatif,
tidak

absolut/mutlak,

memiliki

kerangka,

sebisa

mungkin

sama/sederajat, dan objektif. Metode ini, yang disebut dengan Metode


Hanlon maupun Sistem Dasar Penilaian Prioritas (BPRS), dijelaskan

24

dalam buku Public Health: Administration and Practice (Hanlon and


Pickett, Times Mirror/Mosby College Publishing) dan Basic Health
Planning (Spiegel and Hyman, Aspen Publishers). Metode ini memiliki
tiga tujuan utama:
*

Memungkinkan

para

pengambil

mengidentifikasi

faktor-faktor

keputusan

eksplisit

yang

untuk
harus

diperhatikan dalam menentukan prioritas


*

Untuk mengorganisasi faktor-faktor ke dalam kelompok


yang memiliki bobot relatif satu sama lain

Memungkinkan faktor-faktor agar dapat dimodifikasi sesuai


dengan kebutuhan dan dinilai secara individual.

Proses penetuan kriteria diawali dengan pembentukan kelompok


yang akan mendiskusikan, merumuskan dan menetapkan kriteria.
Sumber informasi yang dipergunakan dapat berasal dari :
- Pengetahuan dan pengalaman individual para anggota
- Saran dan pendapat nara sumber
- Peraturan pemerintah yang relevan
- Hasil rumusan analisa keadaan dan masalah kesehatan.
Langkah selanjutnya adalah :
1.

Menginventarisir kriteria

2.

Menginventalisir dan mengevaluasi kriteria

Dalam metode Hanlon dibagi dalam 4 kelompok kriteria,


masing-masing adalah :
1.

Kelompok kriteria A = besarnya masalah

2.

Kelompok kriteria B = tingkat kegawatan masalah

3.

Kelompok

kriteria

C =

kemudahan

penanggulangan

masalah
4.

Kelompok kriteria D

Pearl faktor, dimana P =

Kesesuaian, E = Secara ekonomi murah, A = dapat


diterima, R = Tersedianya sumber, L
terjamin

25

= Legalitas

1.

Kelompok kriteria A = besarnya masalah


Komponen ini adalah salah satu yang faktornya memiliki angka

yang kecil. Pilihan biasanya terbatas pada persentase dari populasi


yang secara langsung terkena dampak dari masalah tersebut, yakni
insiden, prevalensi, atau tingkat kematian dan angka. Ukuran/besarnya
masalah juga dapat dipertimbangkan dari lebih dari satu cara. Baik
keseluruhan

populasi

penduduk

maupun

populasi

yang

berpotensi/berisiko dapat menjadi pertimbangan. Selain itu, penyakit


penyakit dengan faktor risiko pada umumnya, yang mengarah pada
solusi bersama/yang sama dapat dipertimbangkan secara bersamasama. Misalnya, jika kanker yang berhubungan dengan tembakau
dijadikan pertimbangan, maka kanker paru-paru, kerongkongan, dan
kanker mulut dapat dianggap sebagai satu. Jika akan dibuat lebih
banyak penyakit yang juga dipertimbangkan, penyakit cardiovascular
mungkin juga dapat dipertimbangkan. Nilai maksimal dari komponen
ini adalah 10. Keputusan untuk menentukan berapa ukuran/besarnya
masalah biasanya merupakan konsensus kelompok.
2.

Kelompok kriteria B = tingkat kegawatan masalah

Kelompok harus mempertimbangkan faktor-faktor yang mungkin


dan menentukan tingkat keseriusan dari masalah. Sekalipun demikian,
angka dari faktor yang harus dijaga agar tetap pada nilai yang pantas.
Kelompok harus berhati-hati untuk tidak membawa masalah ukuran
atau dapat dicegahnya suatu masalah ke dalam diskusi, karena kedua
hal tersebut sesuai untuk dipersamakan di tempat yang lain.
Maksimum skor pada komponen ini adalah 20. Faktor-faktor harus
dipertimbangkan bobotnya dan ditetapkan secara hati-hati. Dengan
menggunakan nomor ini (20), keseriusan dianggap dua kali lebih
pentingnya dengan ukuran/besarnya masalah.
Faktor yang dapat digunakan adalah:

26

Urgensi: sifat alami dari kedaruratan masalah; tren


insidensi, tingkat kematian, atau faktor risiko; kepentingan
relatif

terhadap

masayarakat;

akses

terkini

kepada

pelayanan yang diperlukan.


*

Tingkat keparahan: tingkat daya tahan hidup, rata-rata usia


kematian, kecacatan/disabilitas, angka kematian prematur
relatif.

Kerugian ekonomi: untuk masyarakat (kota / daerah /


Negara), dan untuk masing-masing individu.

Masing-masing faktor harus mendapatkan bobot. Sebagai contoh,


bila menggunakan empat faktor, bobot yang mungkin adalah 0-5 atau
kombinasi manapun yang nilai maksimumnya sama dengan 20.
Menentukan apa yang akan dipertimbangkan sebagai minimum dan
maksimum dalam setiap faktor biasanya akan menjadi sangat
membantu. Hal ini akan membantu untuk menentukan batas-batas
untuk menjaga beberapa perspektif dalam menetapkan sebuah nilai
numerik. Salah satu cara untuk mempertimbangkan hal ini adalah
dengan menggunakannya sebagai skala seperti:
0= tidak ada
1= beberapa
2= lebih (lebih parah, lebih gawat, lebih banyak, dll)
3= paling
Misalnya, jika kematian prematur sedang digunakan untuk
menentukan keparahan, kemudian kematian bayi mungkin akan
menjadi 5 dan gonorea akan menjadi 0.
3.

Kelompok kriteria C = kemudahan penanggulangan masalah

Komponen ini harus dianggap sebagai "Seberapa baikkan


masalah ini dapat diselesaikan?" Faktor tersebut mendapatkan skor
dengan angka dari 0 - 10. Komponen ini mungkin merupakan
komponen formula yang paling subyektif. Terdapat sejumlah besar
data yang tersedia dari penelitian-penelitian yang mendokumentasikan

27

sejauh mana tingkat keberhasilan sebuah intervensi selama ini.


Efektivitas penilaian, yang dibuat berdasarkan tingkat keberhasilan
yang diketahui dari literatur, dikalikan dengan persen dari target
populasi yang diharapkan dapat tercapai.
Contoh: Berhenti Merokok
Target populasi 45.000 perokok
Total yang mencoba untuk berhenti 13.500
Efektivitas penghentian merokok 32% atau 0,32
Target populasi x efektivitas 0,30 x 0,32 = 0,096 atau 0,1 atau 1
Contoh: Imunisasi
Target populasi 200.000
Jumlah yang terimunisasi yang diharapkan 193.000
Persen dari total 97% atau 0,97
Efektivitas 94% atau 0,94
Populasi yang tercapai x efektivitas 0,97 x 0,94 = 0,91 atau 9,1
Sebuah keuntungan dengan mempertimbangkan populasi target
dan jumlah yang diharapkan adalah akan didapatkannya perhitungan
yang realistis mengenai sumber daya yang dibutuhkan dan kemampuan
yang
4.

diharapkan

untuk

memenuhi

tujuan

yang

ditetapkan.

Kelompok kriteria D = Pearl faktor


PEARL yang merupakan kelompok faktor itu, walaupun tidak

secara langsung berkaitan dengan masalah kesehatan, memiliki


pengaruh yang tinggi dalam menentukan apakah suatu masalah dapat
diatasi.
P Propierity/Kewajaran. Apakah masalah tersebut berada
pada lingkup keseluruhan misi kita?
E Economic

Feasibility/Kelayakan

Ekonomis.

Apakah

dengan menangani masalah tersebut akan bermakna dan


memberi arti secara ekonomis? Apakah ada konsekuensi
ekonomi jika masalah tersebut tidak diatasi?

28

A Acceptability. Apakah dapat diterima oleh masyarakat dan /


atau target populasi?
R Resources/Sumber Daya. Apakah tersedia sumber daya untuk
mengatasi masalah?
L Legalitas.

Apakah

hukum

yang

ada

sekarang

memungkinkan masalah untuk diatasi?


Masing-masing faktor kualifikasi dipertimbangkan, dan angka
untuk setiap faktor PEARL adalah 1 jika jawabannya adalah "ya" dan
0 jika jawabannya adalah "tidak." Bila penilaian skor telah
lengkap/selesai, semua angka-angka dikalikan untuk mendapatkan
jawaban akhir terbaik. Karena bersama-sama, faktor-faktor ini
merupakan suatu produk dan bukan merupakan jumlah. Singkatnya,
jika salah satu dari lima faktor yang "tidak", maka D akan sama
dengan 0. Karena D adalah pengali akhir dalam rumus , maka jika D =
0, masalah kesehatan tidak akan diatasi dibenahi dalam OPR, terlepas
dari seberapa tingginya peringkat masalah di BPR. Sekalipun
demikian, bagian dari upaya perencanaan total mungkin termasuk
melakukan langkah-langkah lanjut yang diperlukan untuk mengatasi
PEARL secara positif di masa mendatang. Misalnya, jika intervensi
tersebut hanya tidak dapat diterima penduduk, dapat diambil langkahlangkah bertahap untuk mendidik masyarakat mengenai manfaat
potensial dari intervensi, sehingga dapat dipertimbangkan di masa
mendatang.
Uji setiap masalah dengan factor PEARL hanya 2 jawaban
Ya=1 tidak =0. Dari setiap kelompok criteria diperoleh nilai
dengan cara melakukan scoring dengan skala tertentu, kemudian
hasilnya dimasukkan kedalan rumus atau formula untuk memperoleh
hasil akhir. Makin tinggi nilainya, semakin penting masalah yang
bersangkutan.
Penggunaan metode metode Hanlon untuk menetapan prioritas
masalah dilakukan apabila pengelola program menghadapi hambatan

29

keterbatasan dalam menyelesaikan masalah. Pengunanaan metode ini


menekankan pada kemampuan pengelola program. Metode Hanlon
seperti halnya metode yang lain, dalam prosesnya menggunakan
pendapat anggota untuk menentukan nilai dan bobot.
Semua komponen tersebut diterjemahkan ke dalam dua rumus
yang merupakan nilai numerik yang memberikan prioritas utama
kepada mereka penyakit / kondisi dengan skor tertinggi.
Nilai Dasar Prioritas/Basic Priority Rating (BPR)> BPR = (A +
B) C / 3.
Nilai Prioritas Keseluruhan/Basic Priority Rating (OPR)> OPR =
[(A + B) C / 3] x D
Perbedaan dalam dua rumus akan menjadi semakin nyata ketika
Komponen D (PEARL) dijelaskan. Penting untuk mengenal dan
menerima hal-hal tersebut, karena dengan berbagai proses seperti itu,
akan terdapat sejumlah besar subyektivitas. Pilihan, definisi, dan bobot
relatif yang ditetapkan pada komponen merupakan keputusan
kelompok dan bersifat fleksibel. Lebih jauh lagi, nilai tersebut
merupakan penetapan dari masing-masing individu pemberi nilai.
Namun demikian, beberapa kontrol ilmiah dapat dicapai dengan
menggunakan definisi istilah secara tepat, dan sesuai dengan data
statistik dan akurat.

4.

Metode USG (Urgency, Seriousness, and Growth)

Metode USG merupakan salah satu cara menetapkan urutan


prioritas masalah dengan metode teknik scoring. Proses untuk metode
USG dilaksanakan dengan memperhatikan urgensi dari masalah,
keseriusan masalah yang dihadapi, serta kemungkinan bekembangnya
masalah tersebut semakin besar. Hal tersebut dapat dijelaskan sebagai
berikut :

30

a.

Urgensy atau urgensi, yaitu dilihat dari tersedianya waktu,


mendesak atau tidak masalah tersebut diselesaikan.

b.

Seriousness atau tingkat keseriusan dari masalah, yakni


dengan

melihat

produktifitas

dampak

kerja,

masalah

pengaruh

tersebut

terhadap

terhadap

keberhasilan,

membahayakan system atau tidak.


c.

Growth atau tingkat perkembangan masalah yakni apakah


masalah tersebut berkembang sedemikian rupa sehingga
sulit untuk dicegah.

Penggunaan metode USG dalam penentuan prioriotas masalah


dilaksanakan apabila pihak perencana telah siap mengatasi masalah
yang ada, serta hal yang sangat dipentingkan adalah aspek yang ada
dimasyarakat dan aspek dari masalah itu sendiri.
Langkah-langkah USG
a. Persiapan
Dalam melaksanakan penentuan prioritas masalah dengan
metode USG persiapan yang perlu dilakukan antara lain :
1. Persiapan gugus tugas
Pembagian pekerjaan atau gugus tugas perlu dilaksanakan
sebelum pertemuan dimulai, dimana ditentukan siapa yang akan
menjadi pimpinan proses USG, siapa yang melakukan tugas
sebagai notulis, dan orang yang menulis di flipchart, siapa yang
melakukan scoring dan menghitung hasilnya untuk menetukan
ranking, serta siapa yang membacakan hasilnya.
Susunan petugas untuk metode teknik scoring dengan metode
USG, yakni sebagai berikut :
- Pimpinan USG
- Petugas pencatat flipchart
- Petugas scoring dan ranking
- Personil yang bertugas sebagai notulis
2. Persiapan ruang pertemuan

31

Ruang

pertemuan

yang

akan

digunakan

sebaiknya

menggunakan ruangan yang cukup luas dan nyaman. Meja dan


tempat duduk diatur setengah lingkaran atau seperti huruf U yang
terbuka ujungnya atau meja bundar (Round table), dimana pada
ujung meja yang terbuka ditempatkan flipchart atau papan tulis
atau white board.
3. Persiapan peralatan atau sarana
Sarana atau peralatan yang diperlukan dalam proses
kegiatan ini adalah:
~ Daftar hadir
~ Kertas flipchart, papan tulis atau whiteboard lengkap
dengan alat tulisnya.
~ Alat tulis dimasing-masing meja.
~ Kalkulator.
b. Peserta
Sebelum melakukan pemilihan atau seleksi untuk peserta,
beberapa hal yang perlu dijelaskan oleh pimpinan atau yang akan
memimpin pelaksanaan metode USG, yaitu

Peserta yang akan bergabung dalam kelompok USG, adalah


karena kemampuan mereka untuk melakukan analisis dan
mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan masalah.

Menekankan pentingnya tugas kelompok.

Menekankan pentingnya sumbangan pikiran setiap peserta.

Memberikan petunjuk kegunaan hasil pertemuan.

Memberikan sambutan yang bersifat hangat dan ramah,


selanjutnya tentukan siapa yang akan diundang atau
dilibatkan dalam pertemuan untuk melakukan proses
metode USG.

Jumlah peserta berkisar antara 7-10 peserta.

c. Data yang Dibutuhkan

32

Data atau informasi yang dibutuhkan dalam pelaksanaan


metode USG, yakni sebagai berikut:
Hasil analisa situasi
Informasi tentang sumber daya yang dimiliki
Dokumen-dokumen tentang perundang-undangan, peraturan,
serta kebijakan pemerintah yang berlaku.
d. Proses Dinamika Kelompok
Sebelum memasuki proses atau langkah inti pada
pelaksanaan metode USG, pimpinan kelompok metode USG
memberikan sambutan dalam bentuk kata pengantar, yang berisi:

Ucapan selamat datang pada peserta USG

Penjelasan tentang

teknik

scoring, proses, terutama

menyangkut jalannya proses, dengan menekankan pada


pentingnya untuk menciptakan suasana kerjasama, saling
pengertian dan kesatuan pandangan dari setip peserata
dalam melaksanakan setiap tahapan proses.

Tujuan pertemuan diadakan, yakni berorientasi pada


masalah dan pemecahan masalah.

Langkah inti pelaksanaan USG :


1.

Penyusunan daftar masalah

Setiap

peserta

pertemuan

diminta

mengemukakan

masalah bagian yang diwakilinya

Pimpinan
pencatat

USG
untuk

menginstruksikan
mencatat

setiap

kepada

petugas

masalah

yang

dikemukakan di lembar flipchart atau papan tulis atau


white board

33

2.

Klarifikasi masalah
1) Lakukan klarifikasi masalah yang telah diidentifikasi
dalam rangka menentukan prioritas masalah
2) Setiap anggota dimintai penjelasan (klarifikasi) maksud
dari masalah yang dikemukakannya.
3) Setelah diklarifikasi, maka tulis masalah hasil dari
klarifikasi tersebut

3.

Membandingkan antar masalah


a.

Bandingkan masalah yang diperoleh, sebagai contoh


masalah A sampai E menurut kriteria Urgensi
(Urgency), Keseriusan (Seriousness) dan Kemungkinan
Berkembangnya Masalah (Growth)

b.

Tulis frekuensi kemunculan tiap masalah setelah


diperbandingkan, frekuensi ini dianggap sebagai nilai
atau skor masalah. Kemudian jumlahkan skor yang
diperoleh tiap masalah berdasarkan kriteria Urgency,
Seriousness dan Growth

Lembar Flipchart

34

LEMBAR FLIPCHART
Diperoleh hasil perbandingan sebagai berikut :
Aspek Urgency
A=3
B=3
C=0
D=1
E=3

Aspek Seriousness
A=3
B=3
C=0
D=1
E=3

Hasil Skoring
Masalah Urgency Seriousness
A
3
3
B
3
3
C
0
0
D
1
1
E
3
3

4.

Aspek Growth
A=3
B=3
C=0
D=1
E=3

Growth
3
4
0
1
2

Total
9
10
0
3
8

Penyusunan prioritas masalah


Menyusun prioritas masalah berdasarkan hasil
langkah 3. Misalnya : Dari hasil langkah 3 pada contoh,
maka dapat disusun prioritas masalah dengan urutan sebagai
berikut :

35

1. Masalah B
2. Masalah A
3. Masalah E
4. Masalah D
5. Masalah C
Kelebihan dan Kekurangan Penggunaan Metode
USG:

1)

Kelebihan
Merupakan

pandangan

orang

banyak

dengan

kemampuan sama, sehingga dapat dipertanggungjawabkan.


2)

Diyakini bahwa hasil prioritas dapat memberikan


hasil yang obyektif.

3)

Identifikasi

dapat

dilanjutkan,

terutama

untuk

penyelesaian dalam bentuk penyelasaian dengan


pengelolaan manajemen atau tidak.
Kekurangan
1)

Dengan metode USG lebih banyak berdasar asumsi


dengan suatu keterbatasan tertentu yang melemahkan
eksistensi permasalahan.

2)

Jika asumsi yang disepakati lebih banyak dengan


keterbatasan, maka hasilnya akan bersifat lebih
subyektif.

5.

Metode MCUA (Multi Criteria Utility Assesment)

Metode MCUA digunakan apabila pelaksana belum terlalu siap


dalam penyediaan sumber daya, serta pelaksana program atau kegiatan
menginginkan masalah yang diselesaikan adalah masalah yang ada di
masyarakat. MCUA adalah suatu teknik atau metode yang digunakan
untuk membantu tim dalam mengambil keputusan atas beberapa
alternatif. Alternatif dapat berupa masalah pada langkah penentuan
prioritas masalah atau pemecahan masalah pada langkah penetapan
36

prioritas pemecahan masalah. Kriteria adalah batasan yang digunakan


untuk menyaring alternatif masalah sesuai kebutuhan
6.

Metode CARL (Capability, Accesability, Readiness &

Leverage)
Metode CARL merupakan suatu teknik atau cara yang digunakan
untuk menentukan prioritas masalah jika data yang tersedia adalah data
kualitatif. Metode ini dilakukan dengan menentukan skor atas kriteria
tertentu, seperti kemampuan (capability), kemudahan (accessibility),
kesiapan (readiness), serta daya ungkit (leverage). Semakin besar skor
semakin besar masalahnya, sehingga semakin tinggi letaknya pada
urutan prioritas. Penggunaan metode CARL untuk menetapkan
prioritas masalah dilakukan apabila pengelola program menghadapi
hambatan keterbatasan dalam menyelesaikan masalah. Pengunanaan
metode ini menekankan pada kemampuan pengelola program.
Metode CARL (Capability, Accesibility, Readness, Leverage)
dengan menggunakan skore nilai 1 5.
Kriteria CARL tersebut mempunyai arti :
C: Ketersediaan

Sumber

Daya

(dana

dan

sarana/peralatan)
A: Kemudahan, masalah yang ada diatasi atau tidak
Kemudahan dapat didasarkan pada ketersediaan
metode/cara/teknologi serta penunjang pelaksanaan
seperti peraturan atau juklak.
R: Kesiapan dari tenaga pelaksana maupun kesiapan
sasaran seperti keahlian/kemampuan dan motivasi
L: Seberapa besar pengaruh kriteria yang satu dengan
yang lain dalam pemecahan yang dibahas.
Nilai total merupakan hasil perkalian C x A x R x L,
urutan ranking atau prioritas adalah nilai tertinggi sampai
nilai terendah.
Contoh Tabel :

37

NO

MASALAH

NILAI

RANK

1
2
3
4
5
6
7

Masalah 1
Masalah 2
Masalah 3
Masalah 4
Masalah 5
Masalah 6
Masalah 7

3
2
3
1
1
4
5

2
3
1
3
2
2
3

1
2
3
4
3
2
1

2
3
1
1
4
1
3

12
36
9
12
24
16
45

5
2
7
6
3
4
1

Langkah inti pelaksanaan CARL


1. Pemberian

skor

pada

masing-masing

masalah

dan

perhitungan hasilnya
a. Tulis atau daftarlah masalah yang didapat dari
kegiatan analisis situasi.
b. Tentukan skor atau nilai yang akan diberikan pada
tiap masalah berdasarkan kesepakatan bersama
Misal : telah disepakati bersama skor atau nilai yang
diberikan adalah 1-5, dengan ketentuan sebagai berikut :
Nilai 1 = sangat tidak menjadi masalah
Nilai 2 = tidak menjadi masalah
Nilai 3 = cukup menjadi masalah
Nilai 4 = sangat menjadi masalah
Nilai 5 = sangat menjadi masalah (mutlak)
c. Berikan skor atau nilai untuk setiap alternatif masalah
berdasarkan

kriteria

CARL

kemampuan,

Accessability

(Capability

atau

atau

Kemudahan,

Readiness atau kesiapan, Leverage atau Daya Ungkit)


Contoh tampilan :

38

2. Menentukan prioritas berdasarkan hasil rangking. Urutkan


masalah menurut prioritasnya, berdasarkan hasil yang telah
diperoleh pada langkah b.
Misal : dari contoh tampilan pada langkah b, maka
prioritas masalahnya adalah sebagai berikut :
1. Rendahnya mutu pelayanan BP
2. Perhatian keluarga pada bumil rendah
3. Perilaku PHBS rendah
Kelebihan Penggunaan Metode CARL
Dengan masalah yang relatif banyak, bisa ditentukan
peringkat atas masing-masing masalah sehingga bisa
diperoleh prioritas masalahnya.
Kekurangan Penggunaan Metode CARL
1. Penentuan skor sangat subyektif, sehingga sulit
untuk distandarisasi
2. Penilaian atas masing-masing kriteria terhadap
masalah yang diskor perlu kesepakatan agar
diperoleh hasil yang maksimal dalam penentuan
peringkat (prioritas)
3. Objektifitas hasil peringkat masalah kurang bisa
dipertanggungjawabkan karena penentuan skor atas
kriteria yang ada bersifat subyektif.

39

7. Metode PAHO-CENDES
Metode PAHO-CENDES dikembangkan oleh Pan American
Health Organization Center for Development Studies atau disebut
pula metode Matematik. Rumus metode tersebut adalah :
Priority = Magnitude x Importancy x Vulnerability x Cost

Magnitude (M)

besarnya masalah

Importancy (I)

pentingnya masalah

Vulnerability (V)

kerentanannya terhadap cara inervensi

Cost (C)

besarnya biaya.

Magnitude terdiri dari :


Severity (S)

: berat ringannya masalah tersebut


terhadap masalah kesehatan pada
umumnya (semakin berat, nilai
semakin tinggi).

Rate of Increase (RI)

: berat ringannya hambatan jika


masalah

tersebut

tidak

segera

ditangani (semakin berat hambatan,


nilai semakin tinggi).
Public Concern (Pco)

: banyak sedikitnya masalah tersebut


menjadi

perhatian

masyarakat

(semakin menjadi perhatian, nilai


semakin tinggi)
Political Climate (PC)

: banyak sedikitnya perhatian politik


terhadap masalah tersebut (semakin

40

menjadi perhatian politik, nilai


semakin tinggi)
Social Benefit (SB)

: banyak sedikitnya masalah tersebut


memberikan manfaat sosial jika
ditangani
memberi

(semakin
manfaat

banyak

sosial,

nilai

semakin tinggi)
Contoh Tabel :
NO MASALAH
1 Masalah 1
2 Masalah 2
2 Masalah 2

S
3
3
1

I
RI PCo PCl SB
3
5
1
3
3
3
1
3
1
2
3
3
5
3

Nilai

45

11

25

Dalam aplikasinya, masing-masing kriteria tersebut diberi skor


dengan nilai ordinal, misalnya antara 1 dan 5. Pemberian skor ini
dilakukan oleh panel ekspert. Setelah diberi skor, masing-masing
masalah dikalikan. Berdasarkan jumlah skor masing-masing masalah,
maka ditentukan skala prioritas dari masalah-masalah yang ada.
Langkah PAHO
1. Tulis atau daftarlah masalah yang didapat dari kegiatan
analisis situasi.
2. Tentukan

expert

yang

akan

dilibatkan

dalam

penyusunan prioritas
3. Tentukan skor yang akan dipergunakan dalampenentuan
prioritas 1 sampai dengan 10
4. Pemberian skor oleh expert untuk setiap masalah berdasarkan
4 kriteria PAHO. (Pemberian skor sebaiknya membandingkan
antar masalah dengan kriteria yang sama)
5. Kalikan skor setiap kriteria pada tiap masalah

41

6. Tentukan prioritas berdasarkan urutan hasil perkalian. Hasil


yang paling besar merupakan prioritas.
Tabel Kriteria PAHO

Kriteria PAHO

Masalah A

Masalah B

Masalah C

Magnitude (M)

Severity (S)

Vulnerability (V)

Community/

M x S x V x CC

900

240

3024

Rangking

political concern (CC)

Ada beberapa kelemahan pada metode ini. Pertama, penentuan


nilai skor sebetulnya didasarkan pada penilaian kuantitatif yang bisa
saja tidak objektif. Kedua, penentuan kriteria kadang-kadang tidak
tepat sesuai dengan masalah. Kelebihan cara ini adalah mudah
dilakukan dan cepat. Beberapa kriteria penting sekaligus bisa
dimasukkan dalam pertimbangan penentuan prioritas.
b.

Non Scoring Technique

Memilih prioritas masalah dengan mempergunakan berbagai


parameter, dilakukan bila tersedia data yang lengkap. Bila tidak
tersedia data atau dengan kata lain data yang tersedia adalah data
kualitatif atau semi kualitatif , maka cara menetapkan prioritas masalah
yang lazim digunakan adalah :
1.

Delphi Technique

42

Yaitu penetapan prioritas masalah tersebut dilakukan melalui


kesepakatan sekelompok orang yang sama keahliannya. Pemilihan
prioritas masalah dilakukan melalui pertemuan khusus. Setiap peserta
yang sama keahliannya dimintakan untuk mengemukakan beberapa
masalah pokok, masalah yang paling banyak dikemukakan adalah
prioritas masalah yang dicari.
Metode Delphi merupakan metode yang sistematis, metode
peramalan yang interaktif, yang bergantung pada panel ahli yang
independen. Ahli-ahli yang secara hati-hati dipilih, menjawab angket
dalam dua putaran atau lebih. Setelah satu putaran, seorang fasilitator
kemudian memberikan ringkasan atas ramalan para ahli yang
anonymous dari putaran sebelumnya termasuk alasan-alasan yang
mendasari penilaian mereka. Untuk itu, para ahli didorong untuk
merevisi jawaban mereka sebelumnya setelah mendengar/mengetahui
jawaban dari anggota panel lainnya. Dipercaya bahwa dalam proses
ini, cakupan jawaban akan berkurang dan kelompok akan bersatu
menuju/mengarah pada jawaban yang benar. Akhirnya, proses
dihentikan setelah mencapai kriteria berhenti yangtelah ditentukan
sebelumnya (misalnya, jumlah putaran, tercapainya konsensus, hasil
yang stabil) dan nilai mean atau median di putaran terakhir
menentukan hasil.
Delphi berdasarkan prinsip bahwa peramalan dari sekelompok
ahli lebih akurat dibandingkan peramalan dari kelompok tidak
terstuktur atau individu. Teknik ini dapat diadaptasi untuk digunakan
dalam rapat/pertemuan tatap muka, yang kemudian disebut sebagai
mini-Delphi atau Estimate-Talk-Estimate (ETE). Delphi telah secara
luas digunakan dalam peramalan bisnis dan memiliki beberapa
keunggulan daripada pendekatan struktur peramalah yang lain,
peramalan pasar. Karakteristik utama dari metode Delphi berikut ini
dapat membantu partisipan fokus pada isu yangdihadapi dan
memisahkan Delphi dari metodologi lain.

43

2.

Delbeque Technique

Penetapan prioritas masalah dilakukan melalui kesepakatan


sekelompok orang yang tidak sama keahliannya. Sehingga diperlukan
penjelasan terlebih dahulu untuk meningkatkan pengertian dan
pemahaman peserta tanpa mempengaruhi peserta. Lalu diminta untuk
mengemukakan beberapa masalah. Masalah yang banyak dikemukakan
adalah prioritas. Pada metode ini penentuan prioritas ditentukan secara
kualitatif oleh panel ekspert. Sekelompok pakar diberi informasi
tentang masalah yang perlu ditetapkan prioritasnya, termasuk data
kualitatif yang ada untuk masing-masing masalah tersebut. Para pakar
kemudian menuliskan urutan prioritas masalah dalam kertas tertutup.
Kemudian dilakukan semacam perhitungan suara. Hasil perhitungan
ini disampaikan kembali kepada pakar dan setelah itu dilakukan
penilaian ulang oleh para pakar dengan cara yang sama yang kemudian
didapat konsensus tentang masalah mana yang perlu diprioritaskan.
Kelebihan
Dengan kajian dan evaluasi yang teliti, maka skor yang
dihasilkan akan memuaskan, jika skor distandarkan sesuai dengan
referensi yang telah disepakati dengan sumber informasi yang obyektif
maka akan dapat dihasilkan suatu prioritas masalah atau pemecahan
masalah yang tepat.
Kekurangan
Membutuhkan biaya yang tingg serta waktu yang relatif lama,
karena harus mengkaji ulang criteria yang ada dan mengklasifikasikan
yang sama atau yang hampir sama untuk digabung.
3.

Metode NGT (Nominal Group Technique)

Teknik ini merupakan metode pengambilan keputusan yang


digunakan oleh berbagai macam ukuran kelompok, yang ingin
mengambil keputusan dengan cepat, seperti dengan vote, tapi ingin
melibatkan/mempertimbangkan seluruh opini anggota (berbeda dengan

44

cara voting yang lama, dimana hanya kelompok terbesar saja yang
dipertimbangkan). Perbedaannya ada pada metode penjumlahan,
pertama tiap anggota kelompok memberikan pandangan untuk solusi,
dengan penjelasan singkat. Kemudian, duplikasi solusi dihilangkan
dari daftar seluruh solusi dan anggota kelompok melanjutkan
merangking solusi tersebut.
Jumlah masing-masing solusi yang diterima kemudian ditotal dan
solusi dengan rangking total terendah (most favored/paling disukai)
dipilih sebagai keputusan akhir. Terdapat beberapa variasi dalam
penggunaan teknik ini. Misalnya, teknik ini dapat mengidentifikasi
kekuatan vs area yang dibutuhkan untuk pengembangan, dari pada
hanya digunakan sebagai alternatif voting untuk pengambilan
keputusan. Selain itu, pilihan tidak selalu harus di rangking, tapi dapat
dievaluasi lebih lanjut.
NGT telah terbukti meningkatkan satu atau lebih dimensi
efektifitas dari pengambilan keputusan kelompok. Mengharuskan
individu untuk menuliskan ide-idenya secara tenang/diam dan
independen sebelum diskusi kelompok menambah solusi yang didapat
kelompok. Round-robin polling juga menghasilkan input dalam jumlah
besar dan mendorong partisipasi yang sama. Peningkatan jumlah input
yang heterogen mengarah pada pengambilan keputusan dengan mutu
tinggi. Dibandingkan dengan kelompok interaktif, kelompok NGT
lebih memberikan ide-ide yang unit, partisipasi yang lebih seimbang
dafT anggota kelompok, meningkatkan perasaan pencapaian, dan
kepuasan yang lebih besar dengan ide yang bermutu dan efisiensi
kelompok.
Kapan menggunakan NGT
1. Saat sebagian anggota kelompok lebih vokal dibandingkan
lainnya
2. Pada saat beberapa anggota kelompok merasa bahwa diam
lebih baik

45

3. Jika mengkhawatirkan bahwa beberapa anggota kelompok


tidak berpartisipasi.
4. Saat kelompok susah mendapatkan sejumlah ide
5. Saat seluruh atau sebagian anggota kelompok merupakan
anggota baru dalam kelompok
6. Saat isu yang dibahas kontrovesi atau terjadi konflik yang
memanas
Prosedur Standar NGT biasanya melibatkan lima tahapan:
1. Perkenalan dan penjelasan:
2. Pengumpulan ide dengan diam/tenang: Fase ini berlangsung
kira-kira 10 menit.
3. Membagi-bagi ide (sharing idea): fasilitator mengajak
partisipan untuk membagi ide-ide yang telah mereka tulis.
Tidak ada debat dalam tahapan ini dan partisipan didorong
untuk menuliskan ide baru apapun yang muncul. Proses ini
memastikan

bahwa

seluruh

partisipan

mendapatkan

kesempatan yang sama dalam memberikan kontribusi dan


menghasilkan catatan seluruh ide yang didapat dari
kelompok. Tahapan ini berlangsung anatar 15-30 menit.
4. Diskusi kelompok: partisipan diundang untuk mencari
penjelasan verbal atau detail lebih lanjut atas ide apapun yang
diberikan oleh koleganya yang mungkin tidak begitu jelas
bagi mereka. Sangat penting untuk diingat bahwa proses ini
harus netral dan menghindari penilaian dan kritik. Tahap ini
berlangsung 30-45 menit.
5. Voting dan Ranking: memprioritaskan ide yang tercatat yang
relevan dengan pertanyaan. Setelah proses voting dan
rangking, hasil cepat atas respon pertanyaan tersedia bagi
partisipan sehingga pertemuan disimpulkan telah mencapai
outcome spesifik.

46

Salah

satu keunggulan

NGT adalah

bahwa

teknik

ini

menghindari terjadinya dua masalah yang disebabkan oleh interaksi


kelompok. Pertama, beberapa anggota tidak ingin memberikan ide
karena mereka khawatir di kritik. Kedua, beberapa anggota tidak ingin
menciptakan konflik dalam kelompok (banyak orang ingin tepat
mempertahankan iklim yang kondusif). NGT dapat mengatasi masalah
ini. NGT memiliki keunggulan yang jelas dalam meminimalkan
perbedaan dan memastikan partisipasi yang seimbang. Dan teknik ini,
dalam berbagai macam kasus menjadi teknik yang hemat waktu.
Keunggulan lain adalah dengan teknik (penutup/tidak mengambang)
yang sering kali tidak ditemukan dalam metode kelompok yang lebih
tidak terstruktur.
Kelemahan utama metode ini adalah kurang fleksibel karena
metode ini hanya dapat mengatasi masalah satu persatu. Selain itu,
harus mencapai jumlah keseragaman (conformity) tertentu. Setiap
orang harus merasa nyaman dengan jumlah struktur yang terlibat.
Kelemahan lainnya adalah waktu yang diperlukan dalam menyiapkan
aktivitas ini. Tidak ada spontanitas terlibat dalam metode ini. Fasilitas
harus diatur dan direncanakan dengan hati-hati. Opini bisa saja tidak
menyatu dalam proses voting, fertilisasi silang, ide-ide dapat terhambat
dan proses menjadi terlalu mekanis.
Sebagai catatan tambahan untuk penetapan prioritas masalah
dengan metode Delbeque atau NGT, berikut ini adalah beberapa
kriteria yang pernah dipergunakan dalam perumusan masalah dalam
rangka penyusunan rencana kesehatan :
- Masalah Kesehatan yang memberi akibat cacat
- Masalah Kesehatan yang mengakibatkan penderitaan lama
- Masalah Kesehatan yang mengenai daerah yang luas
- Masalah Kesehatan yang mengenai golonganpenduduk <5
tahun
- Masalah Kesehatan dengan kemampuan menyebar yang tinggi

47

- Masalah Kesehatan yang mempunyai kecendrungan meningkat


- Masalah

Kesehatan

yang

menimbulkan

kegelisahan

di

masyarakat luas
- Masalah Kesehatan yang menurunkan produktifitas kerja
- Masalah kesehatan yang timbul di daerah-daerah priritas
Kriteria yang telah disusun ini akan digunakan untuk menetapkan
skor dengan metode Delbeque atau metode NGT.
2.2.4 Kendala dalam Penyusunan Prioritas
Terdapat beberapa alasan mengapa organisasi pada umumnya
mengalami kesulitan dalam menetapkan prioritas. Menurut Drucker
(1973) hal ini utamanya banyak terjadi dalam organisasi yang bergerak
di sektor publik karena melibatkan kepentingan banyak pihak.
Bryson (1988) menyebutkan empat masalah utama yang menjadi
hambatan dalam mencapai perencanaan strategi yang efektif.
Keempatnya memiliki kaitan erat dengan penentuan prioritas program.
Keempat masalah itu adalah:
1. Human problem; kesulitan untuk memusatkan perhatian
personil kunci (key people) terhadap masalah, keputusan,
konflik, dan kebijakan utama. Tantangan yang dihadapi untuk
mengatasi masalah ini adalah bagaimana menentukan prioritas
organisasi secara imperatif dan meminta setiap individu untuk
mengesampingkan

kepentingan

masing-masing

hingga

kerangka yang lebih luas selesai disusun.


Untuk mengatasi human problem, beberapa hal yang harus
dilakukan antara lain:
a. Mulailah dengan menciptakan konsensus mengenai apa yang
akan dicapai melalui penetapan prioritas. Mengapa kita
melakukan hal tersebut dan apa manfaatnya?
b. Melibatkan para pengambil keputusan dalam menentukan
proses dan kriteria prioritas untuk memastikan rasionalitas
dan kejelasan prioritas tersebut.

48

c. Mengidentifikasi kekuatan dari berbagai sudut berbeda.


d. Memberikan kesempatan bagi pihak lain untuk mencerna
informasi yang diberikan dan memberi masukan sehingga
dapat dilakukan penyesuaian terhadap keputusan yang akan
diambil.
e. Secara hati-hati

mempekerjakan

staff

yang

akan

mengumpulkan dan menginterpretasikan informasi. Sediakan


pelatihan apabila diperlukan.
f. Memastikan bahwa setiap pihak yang terlibat dapat
menjalankan peran mereka secara berkesinambungan.
2. Process problem; kesulitan dalam mengelola informasi dan ide
dalam proses penentuan prioritas.
Untuk mengatasi process problem, beberapa hal yang harus
dilakukan antara lain:
a. Penentuan prioritas harus sangat spesifik untuk mengurangi
multi interpretasi.
b. Adanya
kewajiban

dan

tanggung

jawab

untuk

mengekspresikan dan memberikan sejumlah alternatif yang


masuk akal.
c. Informasi kunci harus disediakan sebelum penentuan
keputusan
d. Hati-hati agar tidak membuang terlalu banyak waktu dalam
melakukan analisis maupun terlalu terburu-buru mengejar
tenggat waktu.
e. Secara aktif menciptakan suasana yang membantu orang
untuk memiliki pandangan luas dan memiliki paradigma
masing-masing karena informasi eksternal mungkin sangat
berguna.
3. Structural problem; kesulitan dalam mengelola sebagian atau
keseluruhan hubungan yang ada dalam organisasi. Tantangan
yang harus dihadapi dalam mengatasi masalah ini adalah
bagaimana untuk menentukan prioritas sesuai dengan prioritas
organisasi

atau

asosiasi

secara

lebih

luas.

Hal

ini

merepresentasikan interpretasi konsisten terhadap visi dan misi.

49

Dengan demikian, suatu organisasi dapat melakukan penentuan


prioritas dengan sangat baik dalam lingkup program maupun
antar program.
Untuk mengatasi structural problem, beberapa hal yang harus
dilakukan antara lain:
a. Menetapkan dan mengklarifikasi peranan setiap pihak sejak
awal proses.
b. Tetap fokus pada prioritas saat ini dan bukan prioritas masa
lalu.
c. Komunikasi terbuka inter- dan antar-staff dan pemimpin.
d. Mengidentifikasi dan mengkomunikasikan manfaat yang
dapat diperoleh apabila suatu sistem dapat berjalan dengan
baik.
e. Mendorong terjalinnya hubungan yang harmonis selama
proses perencanaan.
4. Institutional problem; kesulitan dalam menerjemahkan prioritas
ke dalam aksi atau aktivitas yang riil.
Untuk mengatasi institutional problem, beberapa hal yang harus
dilakukan antara lain:
a. Adanya komitmen dalam mengimplementasikan hal yang
telah disepakati maupun penyesuaian atau perubahan yang
dilakukan.
b. Perlu adanya proses pencocokan (fitting) antara pengetahuan
dan keahlian dengan tugas yang diberikan ke setiap individu.
c. Implementasi program disesuaikan dengan kekuatan yang
dimiliki.
d. Rencana implementasi didefinisikan secara jelas.
e. Prioritas dilengkapi dengan deskripsi posisi, alokasi waktu,
rencana implementasi, dan penghargaan terhadap prestasi
kerja.

50

BAB III
KESIMPULAN
Analisis situasi, Identifikasi dan prioritas masalah kesehatan merupakan
salah satu bagian dari proses perencanaan. Dalam analisis situasi, kita berurusan
dengan informasi yang mencerminkan masalah-masalah yang adalah di lapangan.
Masalah yang kerap terjadi di sini adalah orang terbiasa dengan informasi rutin
untuk pelaporan. Mereka biasa memahami maksud dari data selain berkaitan
dengan target kegiatan. Data terbiasa dipakai untuk mengukur hasil. Padahal data
bisa digunakan untuk memahami lebih jauh tentang apa yang tidak beres dengan
program. Yang penting adalah Manager kesehatan bisa memilah-milah mana yang
harus ia masukkan ke dalam kolom status kesehatan, pelayanan kesehatan, dan
masyarakat.
Dalam melakukan identifikasi masalah kesehatan, ada beberapa cara
pendekatan yang perlu diperhatikan sehingga masalah yang dikemukakan
merupakan masalah yang benar-benar penting dan memang harus segera
diselesaikan. Selain itu diperlukan ukuran-ukuran dan data untuk menemukan
masalah kesehatan yang ada. Penentuan prioritas masalah merupakan hal yang
sangat penting setelah masalah-masalah kesehatan teridentifikasi. Penentuan
prioritas masalah harus memperhatikan beberapa faktor, antara lain : besarnya

51

masalah, pertimbangan politik, persepsi masyarakat dan bisa tidaknya masalah


tersebut diselesaikan.
Cara pemilihan prioritas masalah banyak macamnya. Secara sederhana
dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu : Scoring Technique (Metode
Penskoran) misal: metode USG, metode Hanlon, metode MCUA, metode CARL,
PAHO, cara Bryant, cara ekonometrik, dan Non Scoring Technique (NGT,
Delphin Technique dan Delbech Technique). Pemilihan kedua cara tersebut
berdasarkan ada tidaknya data yang tersedia.
Pada metode Scoring Technique, pemilihan prioritas dilakukan dengan
memberikan score (nilai) untuk berbagai parameter tertentu yang telah ditetapkan.
Parameter yg dimaksud adalah : besarnya masalah, berat ringannya akibat yang
ditimbulkan,

kenaikan prevalensi

masalah,

keinginan

masyarakat

untuk

menyelesaikan masalah tersebut, keuntungan sosial yang dapat diperoleh jika


masalah tersebut terselesaikan, rasa prihatin masyarakat terhadap masalah, serta
sumber daya yang tersedia yang dapat dipergunakan untuk mengatasi masalah.
Namun, bila tidak tersedia data yang lengkap maka metode yang
digunakan untuk menentukan prioritas masalah yang lazim digunakan hdala
dengan metode Non Scoring Technique (Delphin Technique dan Delbech
Technique). Adapun kendala-kendala dalam menentukan prioritas masalah seperti
human, process, structural, dan institutional problem harus dapat

dikaji dan

diatasi selama proses perencanaan agar tercapai prioritas masalah yang benarbenar harus diatasi sesegera mungkin.

52

DAFTAR PUSTAKA
1. Pasinringi, Syahrir A. Perencanaan Pelayanan Kesehatan. 2002. Makassar.
FKM Unhas. Available from :

http://www.scribd.com/doc/2908460/

Perencanaan-Pelayanan-Kesehatan.
2. Nangi, Moh.Guntur. Problem Solving Kesehatan Masyarakat. 2010.
Available

from

http://www.google.co.id/url?

sa=t&source=web&cd=1&ved=0CBQQFjAA&url=http%3A%2F
%2Fmohamadguntur.files.wordpress.com%2F2010%2F03%2Fproblemsolving-kes
3. Azwar, Azrul. Pengantar Administrasi Kesehatan. Edisi Ketiga. 1996.
Jakarta
4. Reinke, William A. Perencanaan Kesehatan Untuk Meningkatkan
Efektifitas

Manajemen. 1994. Yogyakarta : Gadjah Mada University

Press

53

5. DUTTWEILER, Michael W. 2004. Priority Setting Resources Selected


Background Information and Techniques. Cornell Cooperative Extension,
Cornell

University,

New

York.

URL

http://staff.cce.cornell.edu/administration/program/documents/priority_sett
ing_tools.pdf
6. Notoatmodjo,

Soekidjo.

Prinsip-Prinsip

Dasar

Ilmu

Kesehatan

Masyarakat. Cetakan ke-2. 2003. Jakarta : Rineka Cipta.


7. Maidin. 1998. Perencanaan dan Evaluasi Kesehatan. Jakarta: Aksara
8. Vilnius, D. A Priority Rating System for Public Health Programs.
September-October 1990, Vol. 105 No. 5

54