Anda di halaman 1dari 20

CHILD ABUSE PADA ANAK

MAKALAH

disusun untuk memenuhi tugas mata ajaran anak

oleh
kelas santa teresa

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SANTO
BORROMEUS
2010
Child Abuse

Page 1

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

CHILD ABUSE
A. Pengertian
Child Abuse : tindakan yang mempengaruhi perkembangan anak sehingga tidak

optimal lagi
Child Abuse : perlakuan salah terhadap fisik dan emosi anak, menelantarkan

pendidikan dan kesehatannya dan juga penyalahgunaan seksual


Child Abuse adalah penganiayaan, penelantaran dan eksploitasi terhadap anak,

dimana ini adalah hasil dari perilaku manusia yang keliru terhadap anak
Physical abuse adalah penganiayaan fisik ketika anak-anak mendapatkan luka atau

terluka oleh karena tindakan orang tua atau orang lain


Physical abuse terjadi ketika orang tua atau pengasuh dan pelindung anak ( ketika
sebenarnya anak membutuhkan perhatian ) melakukan pemukulan atau kekerasan
secara fisik pada anak

B. Etiologi
Ada beberapa faktor yang menyebabkan anak mengalami kekerasan. Baik
kekerasan fisik maupun kekerasan psikis, diantaranya adalah:
1. Stress yang berasal dari anak
a. Fisik berbeda, yang dimaksud dengan fisik berbeda adalah kondisi fisik anak
berbeda dengan anak yang lainnya. Contoh yang bisa dilihat adalah anak
mengalami cacat fisik. Anak mempunyai kelainan fisik dan berbeda dengan anak
lain yang mempunyai fisik yang sempurna.
b. Mental berbeda, yaitu anak mengalami keterbelakangan mental sehingga anak
mengalami masalah pada perkembangan dan sulit berinteraksi dengan
lingkungan di sekitarnya.
c. Temperamen berbeda, anak dengan temperamen yang lemah cenderung
mengalami banyak kekerasan bila dibandingkan dengan anak yang memiliki
temperamen keras. Hal ini disebabkan karena anak yang memiliki temperamen
Child Abuse

Page 2

keras cenderung akan melawan bila dibandingkan dengan anak bertemperamen


lemah.
d. Tingkah laku berbeda, yaitu anak memiliki tingkah laku yang tidak sewajarnya
dan berbeda dengan anak lain. Misalnya anak berperilaku dan bertingkah aneh di
dalam keluarga dan lingkungan sekitarnya.
e. Anak angkat, anak angkat cenderung mendapatkan perlakuan kasar disebabkan
orangtua menganggap bahwa anak angkat bukanlah buah hati dari hasil
perkawinan sendiri, sehingga secara naluriah tidak ada hubungan emosional
yang kuat antara anak angkat dan orang tua.
2. Stress keluarga
a. Kemiskinan dan pengangguran, kedua faktor ini merupakan faktor terkuat yang
menyebabkan terjadinya kekerasan pada anak, sebab kedua faktor ini
berhubungan kuat dengan kelangsungan hidup. Sehingga apapun akan dilakukan
oleh orangtua terutama demi mencukupi kebutuhan hidupnya termasuk harus
mengorbankan keluarga.
b. Mobilitas, isolasi, dan perumahan tidak memadai, ketiga faktor ini juga
berpengaruh besar terhadap terjadinya kekerasan pada anak, sebab lingkungan
sekitarlah yang menjadi faktor terbesar dalam membentuk kepribadian dan
tingkah laku anak.
c. Perceraian, perceraian mengakibatkan stress pada anak, sebab anak akan
kehilangan kasih sayang dari kedua orangtua.
d. Anak yang tidak diharapkan, hal ini juga akan mengakibatkan munculnya
perilaku kekerasan pada anak, sebab anak tidak sesuai dengan apa yang
diinginkan oleh orangtua, misalnya kekurangan fisik, lemah mental, dsb.

3. Stress berasal dari orangtua


a. Rendah diri, anak dengan rendah diri akan sering mendapatkan kekerasan, sebab
anak selalu merasa dirinya tidak berguna dan selalu mengecewakan orang lain.
b. Waktu kecil mendapat perlakuan salah, orangtua yang mengalami perlakuan
salah pada masa kecil akan melakuakan hal yang sama terhadap orang lain atau
anaknya sebagai bentuk pelampiasan atas kejadian yang pernah dialaminya.
c. Harapan pada anak yang tidak realistis, harapan yang tidak realistis akan
membuat orangtua mengalami stress berat sehingga ketika tidak mampu
Child Abuse

Page 3

memenuhi memenuhi kebutuhan anak, orangtua cenderung menjadikan anak


sebagai pelampiasan kekesalannya dengan melakukan tindakan kekerasan.
C. Klasifikasi
Emotional Abuse
Perlakuan yang dilakukan oleh orang tua seperti menolak anak, meneror,
mengabaikan anak, atau mengisolasi anak. Hal tersebut akan membuat anak merasa
dirinya tidak dicintai, atau merasa buruk atau tidak bernilai. Hal ini akan
menyebabkan kerusakan mental fisik, sosial, mental dan emosional anak.
- Indikator fisik kelainan bicara, gangguan pertumbuhan fisik dan perkembangan.
- Indikator perilaku kelainan keiasaan (menghisap, mengigit, atau memukul

mukul)
Physical Abuse
Cedera yang dialami oleh seorang anak bukan karena kecelakaan atau tindakan yang
dapat menyebabkan cedera serius pada anak, atau dapat juga diartikan sebagai
tindakan yang dilakukan oleh pengasuh sehingga mencederai anak. Biasanya berupa
luka memar, luka bakar atau cedera di kepala atau lengan.
- Indikator fisik luka memar, gigitan manusia, patah tulang, rambut yang tercabut,
-

cakaran
Indikator perilaku waspada saat bertemu degan orang dewasa, berperilaku
ekstrem seerti agresif atau menyendiri, takut pada orang tua, takut untuk pulang
ke rumah, menipu, berbohong, mencuri.

Neglect
Kegagalan orang tua untuk memberikan kebutuhan yang sesuai bagi anak, seperti
tidak memberikan rumah yang aman, makanan, pakaian, pengobatan, atau
meninggalkan anak sendirian atau dengan seseorang yang tidak dapat merawatnya .
Indikator fisik kelaparan, kebersihan diri yang rendah, selalu mengantuk,
-

kurangnya perhatian, masalah kesehatan yang tidak ditangani.


Indikator kebiasaan - Meminta atau mencuri makanan, sering tidur, kurangnya
perhatian pada masalah kesehatan, masalah kesehatan yang tidak ditangani,

pakaian yang kurang memadai (pada musim dingin), ditinggalkan.


Sexual Abuse
Termasuk menggunakan anak untuk tindakan sexual, mengambil gambar pornografi
anak-anak, atau aktifitas sexual lainnya kepada anak.

Child Abuse

Page 4

Indikator fisik kesulitan untuk berjalan atau duduk, adanya noda atau darah di
baju dalam, nyeri atau gatal di area genital, memar atau perdarahan di area

genital/ rektal, berpenyakit kelamin.


Indikator kebiasaan pengetahuan tentang seksual atau sentuhan seksual yang
tidak sesuai dengan usia, perubahan pada penampilan, kurang bergaul dengan
teman sebaya, tidak mau berpartisipasi dalam kegiatan fisik, berperilaku permisif/
berperilaku yang menggairahkan, penurunan keinginan untuk sekolah, gangguan
tidur, perilaku regressif (misal: ngompol)

D. Dampak Child Abuse


Child abuse ini menimbulkan dampak (Moore,2004) diantaranya :
1. Anak kehilangan hak untuk menikmati masa kanak-kanaknya. Anak bisa saja
kehilangan keceriaannya karena kekerasan yang dialaminya hingga malas untuk
bermain.
2. Sering menjadi korban eksploitasi dan penindasan dari orang dewasa. Anak yang
pernah menjadi korban kekerasan lagi dan semakin ditindas orang dewasa bila tidak
mendapatkan penanganan yang tepat.
3. Sering pada saat dewasa membawa dampak psikologis : labilitas emosi, perilaku
agresif, tindak kekerasan, penyalahgunaan NAPZA, perilaku sex bebas, dan perilaku
anti sosial.
4. Kerusakan fisik : pertumbuhan dan perkembangan tubuh kurang normal atau bahkan
mengalami kecacatan dan rusaknya sistem syaraf.
5. Besar kemungkinan setelah dewasa akan memberi perlakuan keras secara fisik pada
anaknya.
6. Akibatnya yang paling fatal adalah kematian
E. Manifestasi klinis
Tanda fisik yang bisa dijumpai pada physical abuse :
Cidera Kulit
Cidera kulit adalah tanda-tanda penganiayaan anak yang paling umum dan paling
mudah dikenali. Bekas gigitan manusia tampak sebagai daerah lonjong dengan bekas
gigi, tanda hisapan atau tanda dorongan lidah. Memar multiple atau memar pada
tempat-tempat yang tidak terjangkau menunjukkan bahwa anak itu telah mengalami
penganiayaan. Memar yang ada dalam berbagai tahap penyembuhan menunjukkan
Child Abuse

Page 5

adanya trauma yang terjadi berulang kali. Memar berbentuk objek yang dapat dikenali
umumnya bukan suatu kebetulan.
Kerontokan Rambut Traumatik
Kerontokan rambut traumatik terjadi ketika rambut anak ditarik, atau dipakai untuk
menyeret atau menyentak anak. Akibatnya pada kulit kepala dapat memecahkan
pembuluh darah di bawah kulit. Adanya akumulasi darah dapat membantu
membedakan antara kerontokan rambut akibat penganiayaan atau non-penganiayaan.
Jatuh
Jika seorang anak dilaporkan mengalami kejatuhan biasa, namun yang tampak adalah
cidera yang tidak biasa, maka ketidaksesuaian riwayat dengan trauma yang dialami
tersebut menimbulkan kecurigaan adanya penganiayaan terhadap anak.
Cidera Eksternal pada Kepala, Muka dan Mulut
Luka, perdarahan, kemerahan atau pembengkakan pada kanal telinga luar, bibir pecahpecah, gigi yang goyang atau patah, laserasi pada lidah dan kedua mata biru tanpa
trauma pada hidung, semuanya dapat mengindikasikan adanya penganiayaan.
Cidera Termal Disengaja atau Diketahui Sebabnya
Luka bakar terculap, dengan garis batas jelas, luka bakar sirkuler kecil-kecil dan
banyak dalam berbagai tahap penyembuhan, luka bakar setrikaan, luka bakar daerah
popok dan luka bakar tali semuanya memberikan kesan adanya tindakan jahat yang
disengaja.
Sindroma Bayi Terguncang
Guncangan pada bayi menimbulkan cidera ekslersi deselersi pada otak, menyebabkan
regangan dan pecahnya pembuluh darah. Hal ini dapat menimbulkan cidera berat pada
system saraf pusat, tanpa perlu bukti-bukti cidera eksternal.
Fraktur dan Dislokasi yang Tidak Dapat Dijelaskan
Fraktur Iga Posterior dalam berbagai tahap penyembuhan, fraktur spiral atau dislokasi
karena terpelintirnya ekstremitas merupakan bukti cidera pada anak yang tidak terjadi
secara kebetulan.

Child Abuse

Page 6

Menurut American Academy Of Child Adolescent Psychiatry (2007) anak telah


mengalami penganiayaan dapat menunjukkan ciri-ciri :

Mempunyai gambaran diri yang lemah & tidak bisa menjalankan peran
Ketidakmampuan untuk percaya atau mencintai orang lain
Agresif, mengganggu, dan berperilaku tidak benar
Kemarahan dan amuk, merusak diri sendiri, pemikiran tentang bunuh diri
Pasif, menarik diri, dan perilaku mengandung kutukan
Ketakutan melakukan aktivitas atau hubungan interpersonal yang baru
Khawatir dan takut, merasa sedih yang berlebih atau merasa tertekan
Permasalahan sekolah atau kegagalan dan penyalahgunaan NAPZA
Gangguan tidur, mimpi buruk

Menurut Child Welfare Information Gateway (2006) tanda dan gejala yang sering
dijumpai pada physical abuse adalah :
1.

Anak :
Menunjukkan adanya perubahan yang mendadak di dalam perilaku atau
prestasi sekolah
Belum atau tidak menerima bantuan baik secara fisik maupun permasalahan
medis yang seharusnya diberikan oleh orang tua
Selalu dalam kewaspadaan seolah-olah bersiap mengahadapi sesuatu yang
tidak menyenangkan/mengancamnya akan terjadi
Menuntut yang berlebihan, pasif, menarik diri
Datang ke sekolah dan aktifitas lain lebih awal dan pulang terlambat (seperti

2.

ingin pergi dari rumah).


Orang tua :
Pengawasan orang tua yang kurang, menunjukkan perhatian yang sedikit pada
anak
Menyangkal

keberadaan

anak

dan

menyalahkan

anak

baik

tentang

permasalahan di sekolah maupun di rumah


Meminta pada guru atau pejabat di sekolah untuk menggunakan kekerasan fisik
dalam menegakkan disiplin pada anak yang berbuat nakal/jahat
Child Abuse

Page 7

Selalu melihat anak tidak baik, tidak berharga atau membebani


Menuntut tingkatan fisik serta pencapaian akademis yang tidak mungkin
dicapai oleh anak.
Orang tua dan anak :
Jarang bersentuhan atau saling berpandangan
Memandang hubungan antara orang tua dan anak sebagai hal negatif

3.

seluruhnya
Mengatakan tidak suka satu sama lain.

F. Evaluasi Diagnostik
Diagnostik perlakuan salah dapat ditegakkan berdasarkan riwayat penyakit,
pemeriksaan fisik yang teliti, dokumentasi riwayat psikologik yang lengkap, dan
laboratorium.
Riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik
- Penganiayaan fisik
Tanda patogomonik akibat penganiayaan anak dapat berupa:
Luka memar, terutama di wajah, bibir, mulut, telinga, kepala, atau punggung.
Luka bakar yang patogomonik dan sering terjadi: rokok, pencelupan kakitangan dalam air panas, atau luka bakar berbentuk lingkaran pada bokong.
Luka bakar akibat aliran listrik seperti oven atau setrika.
Trauma kepala, seperti fraktur tengkorak, trauma intrakranial, perdarahan
retina, dan fraktur tulang panjang yang multipel dengan tingkat penyembuhan
yang berbeda.
Trauma abdomen dan toraks lebih jarang dibanding trauma kepala dan tulang
pada penganiayaan anak. Penganiayaan fisik lebih dominan pada anak di atas
usia 2 tahun.
-

Pengabaian
Pengabaian non organic failure to thrive, yaitu suatu kondisi yang
mengakibatkan kegagalan mengikuti pola pertumbuhan dan perkembangan
anak yang seharusnya, tetapi respons baik terhadap pemenuhan makanan dan
kebutuhan emosi anak.

Child Abuse

Page 8

Pengabaian medis, yaitu tidak mendapat pengobatan yang memadai pada


anak penderita penyakit kronik karena orangtua menyangkal anak menderita
penyakit kronik. Tidak mampu imunisasi dan perawatan kesehatan lainnya.
Kegagalan yang disengaja oleh orangtua juga mencakup kelalaian merawat
kesehatan gigi dan mulut anak sehingga mengalami kerusakan gigi.
-

Penganiayaan seksual
Tanda dan gejala dari penganiayaan seksual terdiri dari:
Nyeri vagina, anus, dan penis serta adanya perdarahan atau sekret di vagina.
Disuria kronik, enuresis, konstipasi atau encopresis.
Pubertas prematur pada wanita
Tingkah laku yang spesifik: melakukan aktivitas seksual dengan teman
sebaya, binatang, atau objek tertentu. Tidak sesuai dengan pengetahuan
seksual dengan umur anak serta tingkah laku yang menggairahkan.
Tingkah laku yang tidak spesifik: percobaan bunuh diri, perasaan takut pada
orang dewasa, mimpi buruk, gangguan tidur, menarik diri, rendah diri,
depresi, gangguan stres post-traumatik, prostitusi, gangguan makan, dsb.

Laboratorium
Jika dijumpai luka memar, perlu dilakukan skrining perdarahan. Pada penganiayaan
seksual, dilakukan pemeriksaan:
Swab untuk analisa asam fosfatase, spermatozoa dalam 72 jam setelah
penganiayaan seksual.
Kultur spesimen dari oral, anal, dan vaginal untuk genokokus
Tes untuk sifilis, HIV, dan hepatitis B
Analisa rambut pubis

Radiologi
Ada dua peranan radiologi dalam menegakkan diagnosis perlakuan salah pada anak,
yaitu untuk:
Identifiaksi fokus dari jejas
Dokumentasi
Pemeriksaan radiologi pada anak di bawah usia 2 tahun sebaiknya dilakukan
untuk meneliti tulang, sedangkan pada anak diatas 4-5 tahun hanya perlu dilakukan
jika ada rasa nyeri tulang, keterbatasan dalam pergerakan pada saat pemeriksaan

Child Abuse

Page 9

fisik. Adanya fraktur multiple dengan tingkat penyembuhan adanya penyaniayaan


fisik.

CT-scan lebih sensitif dan spesifik untuk lesi serebral akut dan kronik, hanya
diindikasikan pada pengniayaan anak atau seorang bayi yang mengalami trauma

kepala yang berat.


MRI (Magnetik Resonance Imaging) lebih sensitif pada lesi yang subakut dan kronik

seperti perdarahan subdural dan sub arakhnoid.


Ultrasonografi digunakan untuk mendiagnosis adanya lesi visceral
Pemeriksaan kolposkopi untuk mengevaluasi anak yang mengalami penganiayaan
seksual.

G. Penatalaksanaan
Pencegahan dan penanggulangan penganiayaan dan kekerasan pada anak adalah melalui:
1. Pelayanan kesehatan
Pelayanan kesehatan dapat melakukan berbagai kegiatan dan program yang ditujukan
pada individu, keluarga, dan masyarakat.
Prevensi primer-tujuan: promosi orangtua dan keluarga sejahtera
Individu :
- Pendidikan kehidupan keluarga di sekolah, tempat ibadah, dan masyarakat
- Pendidikan pada anak tentang cara penyelesaian konflik
- Pendidikan seksual pada remaja yang beresiko
- Pendidikan perawatan bayi bagi remaja yang merawat bayi
- Pelayanan referensi perawatan jiwa
- Pelatihan bagi tenaga profesional untuk deteksi dini perilaku kekerasan.
Keluarga :
-

Kelas persiapan menjadi orangtua di RS, sekolah, institusi di masyarakat


Memfasilitasi jalinan kasih Bocial pada orangtua baru
Rujuk orangtua baru pada perawat Puskesmas untuk tindak lanjut (follow up)
Pelayanan Bocial untuk keluarga

Komunitas :

Child Abuse

Pendidikan kesehatan tentang kekerasan dalam keluarga


Mengurangi media yang berisi kekerasan
Mengembangkan pelayanan dukungan masyarakat, seperti: pelayanan krisis,

tempat penampungan anak/keluarga/usia lanjut/wanita yang dianiaya


Kontrol pemegang senjata api dan tajam

Page 10

Prevensi sekunder-tujuan: diagnosa dan tindakan bagi keluarga yang stress


Individu :
- Pengkajian yang lengkap pada tiap kejadian kekerasan pada keluarga pada
-

tiap pelayanan kesehatan


Rencana penyelamatan diri bagi korban secara adekuat
Pengetahuan tentang hukuman untuk meminta bantuan dan perlindungan
Tempat perawatan atau Foster home untuk korban

Keluarga :
-

Pelayanan masyarakat untuk individu dan keluarga


Rujuk pada kelompok pendukung di masyarakat (self-help-group). Misalnya:

kelompok pemerhati keluarga sejahtera


Rujuk pada lembaga/institusi di masyarakat yang memberikan pelayanan
pada korban

Komunitas :
-

Semua profesi kesehatan terampil memberikan pelayanan pada korban

dengan standar prosedur dalam menolong korban


Unit gawat darurat dan unit pelayanan 24 jam memberi respon, melaporkan,
pelayanan kasus, koordinasi dengan penegak hukum/dinas sosial untuk

pelayanan segera.
Tim pemeriksa mayat akibat kecelakaan/cedera khususnya bayi dan anak.
Peran serta pemerintah: polisi, pengadilan, dan pemerintah setempat
Pendekatan epidemiologi untuk evaluasi
Kontrol pemegang senjata api dan tajam

Prevensi tertier-tujuan: redukasi dan rehabilitasi keluarga dengan kekerasan


Individu :
-

Strategi pemulihan kekuatan dan percaya diri bagi korban


Konseling profesional pada individu

Keluarga :
-

Redukasi orangtua dalam pola asuh anak


Konseling profesional bagi keluarga
Self-help-group (kelompok peduli)

Komunitas :
Child Abuse

Page 11

Foster home, tempat perlindungan


Peran serta pemerintah
follow up pada kasus penganiayaan dan kekerasan
Kontrol pemegang senjata api dan tajam

2. Pendidikan
Sekolah mempunyai hak istimewa dalam mengajarkan bagian badan yang sangat
pribadi, yaitu penis, vagina, anus, mammae dalam pelajaran biologi. Perlu
ditekankan bahwa bagian tersebut sifatnya sangat pribadi dan harud dijaga agar tidak
diganggu orang lain. Sekolah juga perlu meningkatkan keamanan anak di sekolah.
Sikap atau cara mendidik anak juga perlu diperhatikan agar tidak terjadi aniaya
emosional. Guru juga dapat membantu mendeteksi tanda2 aniaya fisik dan
pengabaian perawatan pada anak.
3. Penegak hukum dan keamanan
Hendaknya UU no.4 thn 1979, tentang kesejahteraan anak cepat ditegakkan
secara konsekuen. Hal ini akan melindungi anak dari semua bentuk penganiayaan
dan kekerasan. Bab II pasal 2 menyebutkan bahwa anak berhak atas perlindungan
terhadap lingkungan hidup yang dapat membahayakan atau menghambat
pertumbuhan dan perkembangannya secara wajar.
4. Media massa
Pemberitaan penganiayaan dan kekerasan pada anak hendaknya diikuti oleh
artikel2 pencegahan dan penanggulangannya. Dampak pada anak baik jangka pendek
maupun jangka panjang diberitakan agar program pencegahan lebih ditekankan.

Child Abuse

Page 12

ASUHAN KEPERAWATAN PADA CHILD ABUSE


A. Pengkajian
Fokus pengkajian secara keseluruhan untuk menegakkan diagnosa keperawatan berkaitan
dengan child abuse, antara lain :
1. Psikososial :
Melalaikan diri (neglect), baju dan rambut kotor, bau
Gagal tumbuh dengan baik
Keterlambatan perkembangan tingkat kognitif, psikomotor, dan psikososial
With drawl (memisahkan diri) dari orang2 dewasa
2. Muskuloskeletal
Fraktur
Dislokasi
Keseleo (sprain)
3. Genito Urinaria
Infeksi saluran kemih
Perdarahan per vagina
Luka pada vagina/penis
Nyeri waktu miksi
Laserasi pada organ genetalia eksternal, vagina, dan anus
4. Integumen
Lesi sirkulasi (biasanya pada kasus luka bakar oleh karena rokok)
Luka bakar pada kulit, memar dan abrasi
Adanya tanda2 gigitan manusia yang tidak dapat dijelaskan
Bengkak

Child Abuse

Page 13

B. Diagnosa Keperawatan

1. Resiko tinggi cedera berhubungan dengan perilaku agresif, perilaku anti sosial,
penyalahgunaan obat, percobaan bunuh diri, masalah disekolah dan pekerjaan.
2. Tidak efektifnya koping keluarga; kompromi berhubungan dengan faktor-faktor yang
menyebabkan Child Abuse
3. Perubahan pertumbuhan dan perkembangan anak berhubungan dengan tidak adekuatnya
perawatan
4. Resiko perilaku kekerasan oleh anggota keluarga yang lain ber-hubungan dengan kelakuan yang maladaptive.
5. Peran orang tua berubah berhubungan dengan ikatan keluarga yang terganggu.

C. Intervensi Keperawatan
1. DK : Resti cidera b/d perilaku agresif
Tujuan : Anak tidak mengalami cedera.
Intervensi keperawatan :
Intervensi

Rasional

1. Lindungi anak dari cedera lebih lanjut

Menghindari anak dari cedera/luka yang


lebih

parah dan meminimalkan dampak

psikologis yang

ditimbulkan.

Membantu dalam menentukan altenatif


2. Bantu diagnosis penganiayaan anak :
fisik, seksual / emosional

tindakan

yang tepat untuk menghindari

penganiayaan anak

lebih lanjut.

Dengan melaporkan adanya kecurigaan


3. Laporkan

kecurigaan

adanya

penganiayaan
Child Abuse

adanya

penganiayaan anak seperti

luka pada kulit dapat


Page 14

mencegah

terjadinya

cedera

yang

lebih

serius

pada anak serta mencegah kematian anak.


Resusitasi dan stabilisasi dilakukan ketika
4. Lakukan

resusitasi

dan

stabilisasi

anak

seperlunya

mendapatkan penganiayaan

yang menyebabkan

mengalami

henti nafas, dilakukan sampai stabil

dan

dibawa ke rumah sakit.


2. DK : Tidak efektifnya koping keluarga; kompromi berhubungan dengan faktorfaktor yang menyebabkan Child Abuse
Tujuan : Mekanisme koping keluarga menjadi efektif
Intervensi keperawatan:

1. Identifikasi

Intervensi
faktor-faktor

menyebabkan

rusaknya

yang
mekanisme

Rasional
Dengan mengidentifikasi faktor-faktor
yang

dilakukan

intervensi

yang

koping pada keluarga, usia orang tua, anak

dibutuhkan dan penyerahan pada pejabat

ke berapa dalam keluarga, status sosial

yang

ekonomi

kesehatan dan organisasi social

terhadap

perkembangan

berwenang

pada

pelayanan

keluarga, adanya support system dan


kejadian lainnya
2.

Konsulkan

pada

pekerja

sosial

dan Keluarga dengan Child Abuse & neglect

pelayanan kesehatan pribadi yang tepat biasanya memerlukan kerja sama multi
mengenai problem keluarga, tawarkan disiplin,
terapi untuk individu atau keluarga
3.

Dorong

anak

dan

keluarga

support

kelompok

dapat

membantu, memecahkan masalah yang


spesifik.
untuk Dengan mendorong keluarga dengan

mengungkapkan perasaan tentang apa mendiskusikan masalah mereka maka


yang mungkin menyebabkan perilaku dapat
kekerasan.

Child Abuse

dicari

jalan

keluar

memodifikasi perilaku mereka.

Page 15

untuk

4.

Ajarkan orang tua tentang perkembangan Orang tua mungkin mempunyai harapan
& pertum-buhan anak sesuai tingkat umur. yang tidak realistis tentang pertumbuhan
Ajarkan kemampuan merawat spesifik dan dan perkem-bangan anak
terapkan tehnik disiplin

3. DK: Perubahan pertumbuhan dan perkembangan anak berhubungan dengan tidak


adekuatnya perawatan
Tujuan : Perkembangan kognitif anak, psikomotor dan

psikososial dapat disesuai-kan

dengan tingkatan umurnya


Intervensi Keperawatan:
Intervensi
Rasional
1. Diskusikan hasil test kepada orang Orang tua dan anak akan menyadari, sehingga
tua dan anak

mereka dapat merencanakan tujuan jangka panjang


dan jangka pendek

2. Melakukan
membaca,

aktivitas
bermain

(seperti, Kekerasan

sepeda,

pada

dll) keterlambatan

anak

akan

perkembangan

menyebabkan
karena

tugas

antara orang tua dan anak untuk keluarga. Aktivitas dapat engkoreksi masalah
meningkatkan per-kembangan dari perkembangan
penurunan

kemampuan

akibat

dari

hubungan

yang

kognitif terganggu

psikomotor dan psikososial


3. Tentukan tahap perkembang-an anak Dengan menentukan tahap perkembangan anak
seperti 1 bulan, 2 bulan, 6 bulan dan dapat membantu perkembangan yang diharapkan
1 tahun.
4. Libatkan

keterlambatan

per- Program stimulasi dapat membantu meningkatkan

kembangan dan pertumbuhan yang perkembangan menentukan intervensi yang tepat


normal

4. DK : Resiko perilaku kekerasan oleh anggota ke-luarga yang lain berhubungan


dengan kelakuan yang maladaptive.
Child Abuse

Page 16

Tujuan : Perilaku kekerasan pada keluarga dapat berkurang.


Intervensi Keperawatan :
Intervensi
Rasional
1. Identifikasi perilaku kekeras-an, saat Dengan mengidentifikasi perilaku kekerasan
menggunakan/
alkohol

atau

mengkonsumsi dapat membantu menentukan intervensi yang


obat

atau

saat tepat

menganggur.
2. Selidiki

faktor

yang

dapat Dengan mengidentifikasi faktor-faktor yang

mempengaruhi perilaku kekerasan menye-babkan perilaku kekerasan akan lebih


seperti minum alkohol atau obat- memberikan kesadaran akan tipe situasi yang
obatan

mempengaruhi

perilku,

membantu

dirinya

mencegah kekambuhan

3. Lakukan

konsuling

kerjasama konseling dapat membantu

perkembangan

multidisiplin, termasuk organisasi koping yang efektif.


komunitas dan psikolologis.
4. Menyarankan
keluarga
kepada Terapi keluarga menekan dan memberikan
seorang terapi keluarga yang tepat

support

kepada

seluruh

keluarga

untuk

mencegah kebiasaan yang terdahulu.


5. Melaporkan seluruh kejadian yang Perawat mempunyai tang-gung jawab legal
aktual yang mungkin terjadi kepada untuk
pejabat berwenang

melaporkan

semua

kasus

dan

menyimpan keakuratan data untuk investigasi

5. DK : Peran orang tua berubah berhubungan dengan ikatan keluarga yang terganggu.
Tujuan : Perilaku orang tua yang kasar dapat menjadi lebih efektif
Intervensi Keperawatan :
Intervensi
Child Abuse

Rasional
Page 17

1. Diskusikan ikatan yang wajar dan Menyadarkan orang tua akan perikatan normal
perikatan dengan orang tua yang dan proses pengikatan akan membantu dalam
keras

mengembangkan keahlian menjadi orang tua


yang tepat

2. Berikan model peranan untuk orang Model


tua

peranan

untuk

orang

tua,

memungkinkan orang tua untuk menciptakan


perilaku orang tua yang tepat

3. Dukung pasien untuk mendaftarkan Kelas akan memberikan teladan & forum
dalam

kelas

yang

mengajarkan praktek untuk mengembangkan keahlian orang

keahlian orang tua tepat

tua yang efektif

4. Arahkan orang tua ke pelayanan Kelas akan memberikan teladan & forum
kesehatan

yang

tepat

untuk praktek untuk mengembangkan keahlian orang

konsultasi dan intervensi seperlunya

Child Abuse

tua yang efektif.

Page 18

D. Evaluasi
1. Anak tidak mengalami cedera
2. Mekanisme koping keluarga menjadi efektif
3. Perkembangan kognitif anak, psikomotor dan psikososial dapat disesuaikan dengan
tingkatan umurnya
4. Perilaku kekerasan pada keluarga dapat berkurang
5. Perilaku orang tua yang kasar dapat menjadi lebih efektif

Child Abuse

Page 19

DAFTAR PUSTAKA

Anna Budi Keliat. 1998. Penganiayaan Dan Kekerasan Pada Anak. Jakarta : FIK UI
Ennis Sharon Axton. 2003. Pediatric Nursing Care Plans,2nd Edition,Pearson Education,New
Jersey.
Nelson. 1999. Ilmu Kesehatan Anak I. Jakarta : EGC.
Whaleys and Wong. 1996. Clinic Manual of Pediatric Nursing,4th Edition,Mosby Company.
Sowden Betz Cicilia. 2002. Keperawatan Pediatric. Jakarta : EGC.

Child Abuse

Page 20