Anda di halaman 1dari 7

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tanaman jeruk adalah tanaman buah tahunan yang berasal dari
Asia. Negara Cina dipercaya sebagai tempat pertama kali jeruk
tumbuh. Sejak ratusan tahun yang lalu, jeruk sudah tumbuh di
Indonesia baik secara alami maupun dibudidayakan.
Jeruk sambal termasuk jenis tanaman semak. Kayunya memiliki
banyak cabang kecil-kecil dan berdaun rimbun. Tumbuh setinggi 3-6
m dari permukaan tanah. Rasa buahnya asam, bentuknya kecil dengan
warna hijau saat muda dan kuning setelah masak. Aromanya sangat
menyengat. Jeruk ini tidak diketahui pasti nama umumnya, khususnya
di Kalimantan Barat jeruk ini disebut sebagai jeruk sambal. Buahnya
seperti jeruk kalamansi dan jeruk limo.
Buah jeruk sambal dimanfaatkan sebagai pelengkap bumbu
dapur, perasan minuman segar, perasan makanan, dan obat. Jeruk
sambal tidak hanya tersedia dalam rumah tangga tetapi juga terdapat di
pasar-pasar tradisional, warung, rumah makan, restoran, dan kafe.
1.2 Permasalahan
Dari hasil observasi yang dilakukan di kebun hortikultura, Pak
Ajung, tepatnya di Rasau Jaya khususnya pada tanaman jeruk sambal
telah dijumpai masalah yang dapat diidentifikasi sebagai berikut :
1. Kebun

jeruk

sambal

tidak

terawat

sehingga

menurunkan

produktivitas buah segar.


2. Tidak dilakukan pemanenan secara rutin sehingga banyak buah jeruk
yang dibiarkan begitu saja.

3. Kecilnya jangkauan pemasaran jeruk sambal, sehingga banyak buah


jeruk sambal yang tidak didistrubusikan.
4. Rendahnya permintaan pasar akan kebutuhan jeruk sambal.
5. Tidak ada penanganan produk segar.
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari praktik lapang penanganan produk segar
adalah sebagai berikut :
1. Untuk lebih mengetahui fisiologi pasca panen buah jeruk sambal
meliputi pemanenan dan penanganan pasca panen, cara
penyimpanan buah jeruk dan analisis ekonomi.
2. Menambah wawasan dan meningkatkan keterampilan mahasiswa
dalam melakukan pengamatan dan kegiatan dibidang pertanian,
khususnya dalam penanganan produk segar.
3. Mendewasakan cara berpikir dan meningkatkan daya penalaran
mahasiswa dalam merumuskan dan memecahkan masalah yang
terjadi di lapangan secara ilmiah dibidang pertanian.
4. Dalam praktik lapang ini diharapkan mahasiswa dapat memahami
persoalan serta pelaksanaan kerja dalam penanganan produk segar
khususnya pada tanaman jeruk sambal.
5. Sebagai studi perbandingan antara teori-teori yang didapat
dibangku kuliah dengaan pelaksanaan teknis di lapangan.
6. Melatih mahasiswa dalam menerapkan ilmu pengetahuan yang
diperoleh dibangku kuliah dengan pelaksanaan teknis lapangan.
7. Melatih mahasiswa dalam bekerjasama dengan orang lain dan bisa
bersosialisasi dalam masyarakat.
1.4 Pengumpulan data

Dalam pelaksanaan praktik lapang penanganan produk segar,


pengumpulan data dan informasi dilakukan dengan empat metode, yaitu:
1. Wawancara
Wawancara dilakukan dengan pemilik beserta karyawan kebun
hortikultura di Rasau untuk memperoleh data dan informasi yang
dibutuhkan.
2. Observasi
Observasi dilakukan untuk melihat dan meninjau secara langsung
keadaan dan kegiatan penanganan produk segar pada jeruk.
3. Kepustakaan
Mencari data-data yang diperlukan melalui pustaka-pustaka untuk
menunjang informasi yang diperoleh di lapangan serta mencari alternatif
pemecahan masalah yang ditemukan.
4. Dokumentasi
Untuk memperkuat suatu kegiatan yang dilaksanakan selama
praktikum ke lapangan dengan mempergunakan berbagai foto atau
gambar kegiatan yang dilakukan selama proses praktikum berlangsung

BAB II
PEMBAHASAN
Berdasarkan pengamatan dan wawancara yang dilakukan
khususnya di kebun hortikultura milik pak Ajung, tepatnya di Rasau
Jaya dalam penanganan produk segar pada tanaman jeruk sambal
ditemukan beberapa point penting. Buah jeruk sambal dipanen pada

saat masak optimal, biasanya pada umur 6 bulan,

tergantung

jenis/varietasnya. Cara panen buah jeruk sambal dilakukan dengan


cara manual, yaitu dengan cara diputar pada ujung tangkainya.
Dalam penanganan pasca panen yang dilakukan oleh karyawan
di kebun Pak Ajung, buah dikumpulkan di tempat yang teduh dan
bersih. Pisahkan buah yang mutunya rendah, memar dan buang buah
yang rusak. Sortasi dilakukan berdasarkan diameter dan berat buah
yang biasanya terdiri atas 2 kelas. Kelas A adalah buah dengan
diameter dan berat terbesar sedangkan kelas B memiliki diameter dan
berat terkecil. Setelah buah dipetik dan dikumpulkan, selanjutnya buah
disortasi/dipisahkan dari buah yang busuk. Kemudian buah jeruk
digolongkan sesuai dengan ukuran dan jenisnya.
Biasanya agen pengumpul memetik sendiri buah jeruk sambal di
kebun pak Ajung dan tidak ada dilakukan pengontrolan. Buah jeruk
sambal yang telah dipetik dimasukkan kedalam karung bila dalam
jumlah yang sangat kecil dan kedalam keranjang bila dalam jumlah
yang besar, dan diangkut menggunakan pick up.
Tidak

ada

perlakuan

khusus

yang

dilakukan

selama

pengangkutan dari kebun ke pasar-pasar tradisional yang ada di


wilayah pontianak maupun ke meja-meja penjual. Jeruk sambal dijual
dengan hitungan perkilo, biasanya pak Ajung memberi tarif
Rp.2000,00 perkilo, tergantung harga dan permintaan pasar. Tanaman
jeruk sambal tidak dijadikan prospek utama, namun hanya dijadikan
tanaman pelengkap, sehingga tanaman jeruk sambal kurang begitu
diperhatikan, mulai dari budidaya hingga pasca panen.
Rendahnya permintaan dari pasar menyebabkan banyak buah
jeruk yang tidak didistribusikan dan tidak ada perlakuan khusus,
terutama penanganan produk segar bagi tanaman yang tidak

didistribusikan sehingga tanaman jeruk membusuk dan dibiarkan


begitu saja di lapangan. Biasanya hasil penjualan jeruk hanya
digunakan untuk membayar upah karyawan. Permintaan pasar rendah
juga dikarenakan penggunaan buah jeruk di Pontianak hanya
menggunakan jeruk sambal sebagai perasan jeruk sambal pada
makanan seperti perasan bakso, mie rebus maupun untuk minuman
penyegar.
Jeruk sambal di kebun Pak Ajung juga tidak dilakukan
penanganan produk segar karena menurut penulusuran wawancara
kami, bapak tidak merawat budidaya jeruk sambal secara baik, jadi
penanganan produk segar seperti penyimpanan tidak diperhatikan.
Jeruk sambal yang telah dipetik di kebun dikumpulkan ke dalam
karung. Pemanenan dilakukan pada sore hari sekitar jam 3 kemudian
sekitar jam 6 sore barulah agen membawa jeruk sambal ke pasar. Jarak
antar pemanenan dan pengangkutan ke pasar tidak dilakukan
penanganan dan penyimpanan yang baik, hanya disimpan di kebun
atau dibawa ke rumah yang dekat dengan kebun.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Dari hasil pembahasan dan pengamatan yang kami lakukan di


lapangan pada penanganan buah

jeruk

sambal tidak di lakukan

penanganan pasca panen dan penanganan produk segar secara baik.


Pak Ajung tidak ada melakukan pengontrolan kebun jeruk sambalnya
dengan baik, terlihat buah-buah jeruk sambal yang telah masak tidak
dilakukan pemanenan sehingga terjadi pematangan di pohon dan
sebagian telah membusuk.
.
3.2
1. Untuk

meningkatkan

produktivitas

jeruk

sambal

Saran
sebaiknya

pemeliharaan dilakukan secara rutin dan berkala.


2. Pemanenan buah segar sebaiknya lebih terkontrol.
3. Sebaiknya dilakukan penyimpanan buah yang baik sebelum di jual
kepengepul agar buah yang di jual tidak mengalami kerusakan.

DAFTAR PUSTAKA
Evindrawanto, Mengenal Jeruk Kalamansi, Jakarta: Agro Media Pustaka, 2009
Sasmita, Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Jeruk, Jakarta Selatan:
Penebar Swadaya, 2008
Sutopo, PENANGANAN PANEN DAN PASCA PANEN BUAH JERUK,
Jakarta: Penabar Swadaya, 2011