Anda di halaman 1dari 18

Open Society dan Globalisme Sosial

Oleh: Harri Fajri


Abstrak
Proposal Masyarakat Terbuka (Open Society) yang disampaikan oleh George Soros sangat
sayang untuk dilewatkan. Paling tidak karena dua alasan: Pertama, fondasi pemikiran Open
Society Soros yang dibangun di atas kritiknya terhadap kapitalisme global berkontradiksi
langsung dengan profesinya sebagai pialang saham sekaligus statusnya sebagai salah satu
orang terkaya di dunia. Kedua, kekuatan finansial yang dimiliki Soros memberikannya
keuntungan lebih untuk menyebarkan ideologinya dengan lebih leluasa dan mendukung
gerakan-gerakan yang sejalan dengan pemikirannya. Jika ilmu pengetahuan didefinisikan
sebagai ajang pertarungan pemikiran, Soros dapat dikatakan memiliki kekuatan lebih
dibandingkan dengan sekedar akademisi. Tulisan ini mencoba untuk memetakan pemikiran
George Soros sekaligus mengkritisi relevansinya dengan situasi politik global kontemporer.
Meski kekuatan Soros tidak dapat diremehkan, konsep Open Society yang ditawarkan Soros
tetap saja mengandung celah. Terutama tentang bagaimana ia menaruh kepercayaan total
terahadap demokrasi liberal yang justru mengandung kontradiksi tersendiri terhadap gagasan
open society yang ditawarkannya.

Pendahuluan
Studi tentang globalisasi merupakan studi yang sarat dengan pertarungan wacana. Bagi
pengkritiknya, globalisasi menyebabkan kegagalan finansial, melebarnya kesenjangan,
kekacauan, dan ketidakadilan sistem perdagangan. Sedangkan, bagi para pendukungnya,
globalisasi justru merupakan solusi dari semua persoalan itu.1 Masing-masing kubu saling
mengklaim kebenarannya. Mereka beradu argumentasi dengan menyajikan data dan fakta yang
sama-sama meyakinkan.
Salah satu perdebatan yang paling hangat adalah tentang bagaimana peran institusi
nasional, yaitu negara bangsa, dalam menghadapi globalisasi. Ada yang menganggap bahwa
peran negara telah tergeser bahkan hilang seiring dengan kemunculan kapitalisme global. Namun
1

Untuk pengantar perdebatan globalisasi, lihat M. Naim, Globalization, Foreign Policy, No. 171, Maret/April 2009, pp. 28-30,
32, 34.

ada pula yang kukuh mengatakan bahwa sampai saat ini negara masih menjadi entitas yang kuat
di tengah kehadiran aktor-aktor transnasional lainnya, seperti perusahaan multinasional dan
organisasi masyarakat internasional.
Pemikiran George Soros hadir untuk mengisi perdebatan tersebut. Sebagai individu dengan
kekuatan finansial yang sangat besar, pemikirannya menjadi sangat penting untuk dibicarakan.
Sebab dengan kekuatan tersebut ia cenderung lebih leluasa dalam menyebarkan gagasannya
kepada publik secara lebih luas. Manuver-manuver yang dilakukannya dalam skala lokal maupun
internasional menunjukkan kecenderungan tersebut. Alih-alih sebagai intelektual yang sekedar
berusaha untuk memberikan perspektif terhadap wacana tertentu, Soros telah bergerak selangkah
lebih di depan dengan menyusun agenda-agenda guna mewujudkan gagasan-gagasan yang
dipercayainya.
Tulisan ini pertama-tama berusaha untuk memposisikan pemikiran Soros dalam
perkembangan wacana tentang globalisasi dan bagaimana usaha-usaha yang dilakukannya untuk
mensosialisasikan wacananya tersebut. Argumen dari tulisan ini adalah bahwa kritik Soros
terhadap kapitalisme global dan pandangannya tentang open society mengandung semangat
globalisme. Sehingga pemikiran Soros mengandung dua kontradiksi yang tidak termaafkan,
pertama terkait dengan posisinya sebagai orang yang mengkritik sekaligus menikmati
kebobrokan dari sistem kapitalisme. Kedua, menyoal kepercayaannya yang berlebihan terhadap
demokrasi liberal yang justru justru bertolak belakang dengan gagasan open society yang
dikembangkannya.

Perang Wacana dalam Studi Globalisasi


Setelah keruntuhan rezim komunis Uni Soviet, Francis Fukuyama merayakannya dengan
menulis sebuah artikel yang berjudul The End of History.2 Pada intinya, Fukuyama berpendapat
bahwa kehancuran Uni Soviet dari dalam telah menobatkan demokrasi liberal dan kapitalisme
liberal sebagai pemenang perang ideologi sekaligus menandai akhir sejarah evolusi ideologi
dunia.

F. Fukuyama, Akhir Sejarah?, dalam Huntington, Amerika dan Dunia, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2005, pp. 1 34.

Tesis Fukuyama tidak semerta-merta diterima. Bahkan, kompatriotnya buru-buru


menepis anggapan Fukuyama yang menurutnya telah overreacted. Pada tahun yang sama,
Huntington menulis sebuah artikel yang diberi judul Kegagalan Endisme.3 Huntington
mengkritik apa yang disebutnya sebagai paham endisme dalam pemikiran Fukuyama. Dengan
kepercayaan yang berlebihan terhadap demokrasi liberalis, Huntington mengatakan bahwa
Fukuyama telah mengabaikan adanya ideologi-ideologi alternatif seperti misalnya demokrasi
sosial yang cukup populer di Eropa.4 Bagi Huntington sejarah belum berakhir.
Rentetan peristiwa setelah itu menunjukkan bahwa tesis Fukuyama tentang akhir perang
ideologi manusia memang sangat rapuh. Masyarakat dunia mulai mempertanyakan kembali
tentang keberadaan sistem kapitalisme liberal. Sejarah telah mencatat bagaimana protes terhadap
sistem tersebut kembali didengungkan.
Pada tahun 1999, media massa di seluruh dunia ramai-ramai membicarakan fenomena
baru: gerakan antikapitalisme internasional... sepuluh tahun setelah kaum penguasa kapitalis
berjaya saat rezim-rezim Eropa Timur ambruk, sebuah peristiwa yang didengungkan sebagai
kemenangan mutlak pasar bebas, media massa borjuis harus mengakui bahwa semakin banyak
manusia menolak sistem mereka.5
Tentu saja, kutipan di atas hanyalah merupakan salah satu dari sekian banyak gerakan
masa yang menentang kapitalisme liberal pasca runtuhnya komunisme di Uni Soviet. Satu
contoh aksi protes terbesar di abad ke 21 yang perlu juga disampaikan disini adalah gerakan
Occupy Wall Street.
Gerakan ini seolah-olah memberikan tekanan-tekanan baru terhadap sistem ekonomi
kapitalisme. Lihat saja semangat yang dibawa oleh gerakan tersebut: menentang 1% kelompok
terkaya yang telah membuat pengaturan ekonomi global yang tidak adil.6 Hal tersebut
menunjukkan bahwa masalah ketimpangan tidak hanya terjadi dalam lingkup internasional
3

S.P. Huntington, Tak Ada Jalan Keluar: Kesalahan-Kesalahan endisme, dalam buku Huntington, Amerika dan Dunia,
Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2005.

4
5

Huntington, p. 38.

C. Harman, Anti Kapitalisme, Teplok Press, Jakarta, 2003, p. 1.


6
Occupy Wall Street merupakan gerakan yang menentang keserakahan korporasi dan ketimpangan sosial. Dimulai di Distrik
Manhattan, New York, Amerika Serikat pada 17 September 2011, gerakan tersebut telah menyebar ke berbagai kota di dunia.
Kompas.com menyebutkan bahwa dalam sebulan, 900 kota di dunia, termasuk Asia, mengikuti gerakan ini. Lihat Kompas.com
Protes yang Mengglobal (daring), 21 Oktober 2011, <www.kompas .com Protes yang Mengglobal
http://internasional.kompas.com/read/2011/10/21/02165296/Protes.yang.Mengglobal>, diakses 17 Mei 2014

namun juga dalam lingkup perekonomian domestik, bahkan di negara-negara maju seperti
Amerika Serikat, tempat gerakan okupasi Wall Street berlangsung.

Neoliberalisme dan Pendalaman Kapitalisme Global


Saat ini, perekonomian dunia dikatakan tengah berada di bawah kontrol penganut paham
neoliberalis. Dalam sebuah buku berjudul Neoliberalisme, I. Wibowo menjelaskan tiga faktor
yang mendorong munculnya neoliberalisme, yakni kemunculan perusahaan multinasional
(multinational corpotation - MNC), terbentuknya rezim-rezim internasional seperti International
Monetary Fund (IMF) dan World Bank (Bank Dunia), dan perkembangan teknologi transportasi
dan telekomunikasi.7 Namun beberapa penulis seperti Ha-Joon Chang dan Ilene Grabel juga
mengaitkan kebangkitan neoliberalisme dengan peristiwa besar yang terjadi di dunia. Misalnya
krisis negara berkembang yang terjadi pada tahun1980an. Krisis tersebut menurut mereka telah
menyebabkan pengambil kebijakan di negara-negara berkembang segera merangkul kapitalisme
pasar bebas, tanpa berpikir panjang.8
Neoliberalisme itu sendiri biasanya sering dikaitkan dengan lembaga internasional atau
institusi global seperti IMF dan World Bank. John Williamson menyandingkan keduanya dengan
Departemen Keuangan Amerika Serikat sebagai institusi yang berpengaruh dalam sistem
ekonomi global, dan menamakannya dengan istilah washington consensus. Washington
Consensus pada mulanya adalah rekomendasi-rekomendasi yang dibentuk dalam upaya
menanggulangi krisis yang melanda negara-negara Amerika Latin. Namun seiring dengan
perkembangannya, Neoliberalisme cenderung bermanuver secara agresif dan bersifat memaksa,
sehingga rekomendasi-rekomendasi tersebut dianggap tidak hanya sekedar rekomendasi belaka.
Melainkan memuat kepentingan negara-negara yang mengontrol lembaga ekonomi politik
internasional tersebut.
Washington Consensus setidaknya menyangkut 10 hal yang mengatur tentang
perdagangan bebas, liberalisasi pasar modal, nilai tukar mengambang, angka bunga ditentukan
pasar, deregulasi pasar, transfer aset dari sektor publik ke sektor swasta, fokus ketat dalam

7
8

I. Wibowo dalam I. Wibowo & Francis Wahono (ed.). Neoliberalisme, Cindelaras Pustaka Cerdas, Yogyakarta, 2003, pp. 3-4
H.J.Chang & Ilene Grabel, Membongkar Mitos Neolib. Insist Press, Yogyakarta, 2008, p. 6

pengeluaran publik pada berbagai target pembangunan sosial, anggaran berimbang, reformasi
pajak, perlindungan atas hak milik dan hak cipta.9
Senada dengan Williamson, Gills lebih menekankan pada kecendrungan homogenisasi
kebijakan dan bentuk negara untuk memaksa negara-negara tersebut secara instrumental untuk
melindungi modal dan proses atas akumulasi kapital melalui ideologi pasar atas peran institusi
internasional.10
Neoliberalisme bertekad untuk mengembalikan perekonomian kepada mekanisme pasar.
Negara disarankan untuk sebisa mungkin membatasi diri terhadap kegiatan-kegiatan ekonomi.
Bahkan sikap bermusuhan terhadap pemerintah yang merupakan ciri pertama dan utama dari
pandangan-pandangan neoliberal muncul dari beberapa sumber. Seperti misalnya Edmund
Burke, seorang pelopor konservatisme di inggris, yang berpendapat jika negara tidak berperan
terlalu jauh ia akan menjadi kebebasan dan kemandirian.11
Pandangan Burke sangat erat hubungannya dengan paham ekonomi klasik.12 Kebebasan
dan kemandirian menurut Burke dapat disejajarkan dengan nilai individualistis ekonomi klasik
yang berdasarkan pada persaingan bebas dalam kegiatan ekonomi. Terlebih lagi, Tatcherisme
juga dikatakan tidak mempedulikan atau secara aktif mendukung ketidaksetaraan. Menurutnya,
gagasan bahwa ketidaksamaan sosial secara inheren salah atau merugikan adalah naif dan tak
masuk akal. Namun ada perbedaan yang mencolok antara ekonomi liberal klasik Smith dengan
neoliberalisme seperti yang disampaikan oleh David Balaam dan Michael Veseth dalam salah
satu bukunya:
a viewpoint that favors a return to the economic policies
advocated by classical liberals such as Adam Smith and
David

Ricardo.

Neoliberalism

emphasizes

market

Lihat J. Williamson, A Short History of Washington Consensus, Institute of International Education (daring), 24
September 2004, <www.iie.com/publications/papers/williamson0904-2.pdf>

10

Gills. Introduction: Globalization and Politics of Resistance dalam I. f. Justice, Jurnal Free Trade Watch, vol.1, p. 34.
Anthony Giddens, Jalan Ketiga Pembaruan Demokrasi Sosial, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2000, p. 14.
12
Ekonomi klasik merupakan paham ekonomi pasar bebas yang dibawa oleh Adam Smith. Pada tahun 1776, Smith
memperkenalkan istiah The Invisible Hand (tangan tak terlihat) dalam bukunya yang paling terkenal: The Wealth of Nations.
Kapitalisme klasik percaya bahwa pertumbuhan ekonomi akan efektif jika sistem tersebut diserahkan pada mekanisme pasar
yang berprinsip pada paham laissez-faire. Bagi kapitalisme klasik peran negara harus dibatasi dan kebebasan individu dalam
melakukan kegiatan ekonomi harus selalu dikedepankan. Lihat Winardi, Kapitalisme versus Sosialisme: Suatu Analisis Ekonomi
Teoritis, Penerbit Remadja Karya CV, Bandung, 1986, p. 35.
11

deregulation, privatization of government enterprises,


minimal government intervention, and open international
markets.

Unlike classical liberalism, neoliberalism is

primarily an agenda of economic policies rather than a


political economy perspective.13
Balaam dan Veseth berpendapat bahwa, alih-alih sebagai perspektif ekonomi politik,
neoliberalisme lebih merupakan sebuah agenda kebijakan ekonomi. Sebagian kalangan bahkan
menilai neoliberalisme sebagai agenda paksaan, misalnya terkait dengan kehadiran lembaga
internasional seperti IMFdan Bank Dunia. Gelombang privatisasi di negara-negara berkembang,
misalnya, dicurigai sebagai hasil dari desakan internasional. Privatisasi di negara-negara
berkembang dilakukan untuk memenuhi syarat utama restrukturasi ekonomi yang dimandatkan
oleh kedua lembaga itu.14
Dalam suatu pengantar pada sebuah buku berjudul 10 Alasan Bubarkan IMF dan Bank
Dunia, Anuradha Mittal seorang Direktur Food First/Institute for Food and Development Policy
mengatakan bahwa WTO, IMF, dan Bank Dunia berperan besar dalam menyebarkan gagasan
neoliberalisme.15 Menurutnya ketika, IMF mengembangkan berbagai aliran kapital global yang
lebih bebas, Bank Dunia melakukan pengawasan transformasi negara-negara sedang berkembang
agar mereka tetap berada di sepanjang rel pasar bebas dan mengelola integrasi mereka ke dalam
dunia. Itu lah agenda kebijakan ekonomi yang dimaksud.
Sebagai sebuah gagasan, semangat neoliberalisme dapat dilacak dari akar pemikiran
ekonom klasik seperti Adam Smith dan David Ricardo. Gagasan ekonom yang sering disebut
juga sebagai konservatisme tersebut kemudian dikembangkan oleh Milton Friedman dan
Friedrich Hayek pada tahun 1960-an. Yang pada akhirnya sangat mempengaruhi kebijakankebijakan Margareth Tatcher dan Ronald Reagen di masa jabatannya masing-masing sebagai
kepala negara Inggris dan Amerika Serikat.

13

D. Balaam & Michael Veseth, Introduction to International Political Economy 3rd edition, New Jersey, Pearson Education Inc.
S. Hadi et. al. Potret Privatisasi Globa dalam Post Washington Consensus dan Politik Privatisasi di Indonesia. Marjin Kiri,
Serpong, 2007.
15
A. Mittal. Bangkitnya Gerakan Perlawanan Menentang Perang Ekonomi, dalam 10 Alasan Bubarkan IMF & Bank Dunia,
Cindelaras Pustaka Rakyat Cerdas, Yogyakarta, Januari 2005.
14

Globalisme: Memahami Globalisasi sebagai Sebuah Agenda


Manfred B. Steger dalam bukunya yang berjudul Globalisme, berpendapat bahwa analisis
globalisasi tidak akan pernah memadai jika ia hanya dipahami sebagai hasil dari proses-proses
material objektif yang berada di luar sana.16 Dengan kata lain, globalisasi juga harus dipahami
sebagai proyek ideologis. Menurutnya, perdebatan tentang globalisasi selama ini terjadi
cenderung berfokus terhadap dimensi analitis. Misalnya tentang bagaimana globalisasi telah
memberikan dampak, baik positif maupun negatif, terhadap kelompok/kelas tertentu.
Serentetan aksi masa, seperti yang disampaikan di atas, menunjukkan bahwa globalisasi
bukan proses yang given. Ia bisa dikendalikan dan disetir seusai dengan kemauan kelompok yang
memiliki kuasa. Bukankah pemimpin tangan besi Margareth Tatcher dalam mengeluarkan
kebijakan neoliberalnya banyak dipengaruhi oleh masukan dari Friedrich von Hayek, peletak
batu pertama fondasi neoliberalisme?
Mengikuti logika yang ditawarkan oleh Steger, tulisan ini berniat untuk meneruskan tradisi
penelitian terkait fenomena globalisasi dalam dimensi ideologis. Dalam pandangan Steger narasi
tentang globalisasi saat ini cenderung dikuasai oleh kaum globalis dengan cara memilintir
realitas untuk mempertahankan struktur sosial tertentu. Meminjam istilah Antonio Gramsci,
neoliberalisme telah berhasil menjadi common sence atau cara berpikir yang diyakini umum.
Sebelum lebih jauh membahas tentang gagasan open society dan kritik Soros terhadap
kapitalisme global. Penulis ingin memaparkan signifikansi pemikiran Soros sehingga layak
untuk dijadikan sebagai objek penelitian yang berdiri sendiri.

Peran dan Kuasa Soros


Soros memang lebih dikenal dengan profesinya sebagai pialang saham, atau sebagai salah
satu orang terkaya di dunia. Soros bahkan saat ini menduduki posisi 27 miliarder terkaya di

16

M. B. Steger. Globalisme: Bangkitnya Ideologi Pasar, Lafadl Pustaka, Yogyakarta, 2006

dunia dengan total kekayaan mencapai 23 triliun dolar Amerika.17 Namun minat intelektual
Soros tidak dapat disepelekan. Ia benar-benar serius dalam menyebarkan gagasan open society.
Semangatnya dapat dilihat dari pengakuannya dalam suatu wawancara:
Minat saya sesungguhnya murni analitis. Ini lah teori
yang saya pedulikan. Kesuksesan saya di pasar sekadar
memberi saya landasan agar orang menganggap saya dengan
serius. Saya tidak berminat mendapatkan klien baru.18
Keseriusannya terlihat ketika ia mendirikan Open Society Foundation pada tahun 1984.
Niat awal dari pendirian yayasan ini adalah untuk membantu negara-negara bertransisi dari
sistem komunisme.19 Sampai saat ini, melalui yayasannya itu ia telah menggelontorkan dana
sebesar 10 triliun dolar Amerika.20
Dalam ranah akademis, Soros juga aktif menulis buku. Sejak tahun 1990, ia mulai aktif
menulis buku-buku dengan tema politik. Buku pertamanya tentang politik sudah mulai bercerita
tentang konsep masyrakat terbuka. Pada tahun tersebut, seiring dengan jatuhnya rezim Uni
Soviet, Soros menulis buku yang berjudul Opening the Soviet System. Dalam buku ini Soros
membandingkan masyarakat terbuka dengan masyarakat tertutup, menunjukkan keunggulan
masyarakat terbuka, dan tawarannya tentang bagaimana Kekaisaran Soviet yang telah terpisah
dapat menyesuaikan diri dengan sistem yang bebas.
Jika suatu masyarakat bukan merupakan masyarakat terbuka maka tidak ada alternatif lain
selain masyarakat tertutup.21 Masyarakat tertutup merupakan tempat setiap orang dipaksa
mempercayai hal yang sama. Sedangkan masyarakat terbuka, anggotanya bebas dari perang
kesukuan dan nasionalisme yang ditemukan begitu mengganggu. Dalam masyaraka terbuka
inilah, keyakinan yang saling bertikai harus ditampung, tidak peduli pengaruhnya yang menekan
pada masyarakat.
Buku Soros selanjutnya masih berkaitan dengan negara bekas Uni Soviet. Berjudul
Underwriting Democracy, buku ini bercerita tentang pengalamannya dalam membantu
17

Forbes, The Worlds Billionaires (daring), <http://www.forbes.com/profile/george-soros/> diakses 17 Mei 2014.


R. Slater, Soros Investor Terbesar Dunia, Kehidupan, Masa Hidup & Rahasia Dagang Dunia, diterjemahkan oleh Anton
Adiwiyoto, Profesional Books, 1997, p. 50.
19
Open Society Foundation, About (daring), <http://www.opensocietyfoundations.org/about> diakses 17 Mei 2014
20
Open Society Foundation, About (daring), <http://www.opensocietyfoundations.org/about> diakses 17 Mei 2014
21
B. Irawanto, Meniti Buih Perubahan: Menuju Etika Masyarakat Terbuka, Majalah Unisia: Jurnal ilmu-ilmu sosial, Maret 1997,
p. 77
18

membangun demokrasi di Eropa Timur. Terkait dengan demokrasi, tahun 1993 atau dua tahun
setelah diterbitkannya Underwriting Democracy. Soros mendirikan Open Society Institute (OSI)
yang didedikasikan untuk mendorong semangat dan toleransi demokrasi dengan pemerintahan
yang akuntabil bagi warganya. OSI menjadi payung organisasi untuk jaringan internasional
yayasan masyarakat terbuka, yang dikenal dengan Open SocietyFoundations (OSF).
Pembentukan OSI oleh Soros sejatinya telah memberikan gambaran jelas tentang
obsesinya dalam mewujudkan nilai-nilai masyarakat terbuka dalam kehidupan masyarakat dunia.
Sampai saat ini, yayasan Soros telah bergerak setidaknya di 70 negara yang tersebar di seluruh
benua. Hal ini telah menjadi bukti keseriusan Soros dalam menyebarkan gagasan masyarakat
terbuka.
Pada tahun 1995 Soros kembali menulis buku. Kali ini berjudul Soros on Soros: Staying
Ahead on Curve yang isinya mencakup hampir keseluruhan aspek ide dan pengalamannya,
seperti keuangan, investasi, politik dan filantropi. Namun bukunya yang paling fenomenal terbit
pada tahun 1998. Buku tersebut berjudul The Crisis of Global Capitalism: Open Society
Endangered. Buku ini dikatakan fenomenal karena berisikan kritik terhadap sistem kapitalisme,
sistem ekonomi yang melambungkan namanya itu. Buku ini paling tidak beredar di pasar selama
2 tahun, karena pada tahun 2000 Soros menerbitkan edisi revisinya yang berjudul Open
Society:Reforming Global Capitalism.
Open Society: Reforming Global Capitalism berisikan kritik-kritiknya terhadap sistem
kapitalisme global seperti yang tertulis pada buku sebelumnya, dan ditambahkan dengan
pandangannya yang lebih kompleks tentang kedaulatan negara dan bagaimana kehadiran negara
saat ini justru turut memperburuk krisis yang telah disebabkan oleh kapitalisme global. Buku ini
juga menyajikan secara utuh pandangan filosofis Soros yang mampu menjelaskan bagaimana
akhirnya ia beranggapan bahwa sistem kapitalisme global dan eksistensi negara saat ini tengah
berada dalam kondisi krisis.
Dalam buku Open Society: Reforming Global Capitalism dapat dijumpai pula beberapa
konsep yang juga dikembangkan Soros sebagai pendukung dari konsep utama yang diambilnya
dari Karl Popper, open society. Misalnya tentang konsep refleksivits, falibilitas dan
fundamentalisme pasar. Dalam buku ini juga tersaji pandangan Soros tentang arsitektur

keuangan global dan politik global, tentu saja didasarkan pada gagasan masyarakat terbuka.
Untuk memahami konsep masyarakat terbuka secara lebih mendalam.
Setelah Open Society: Reforming Global Capitalism, berbagai buku diterbitkan oleh
Public Affairs atas nama George Soros secara rutin, paling tidak dua tahun sekali. Hal ini juga
menunjukkan betapa Soros konsisten dalam menekuni profesinya sebagai pemikir. Pada tahun
2002 Soros menulis buku George Soros on Globalization. Dalam buku ini Soros memberikan
penjelasan bagaimana menjadikan globalisasi lebih stabil dan adil. Dua tahun berikutnya Soros
menulis buku yang berisi kritiknya terhadap politik luar negeri Amerika Serikat, khususnya
tentang kebijakan yang dikeluarkan oleh George Bush. Buku yang berjudul The Bubble of
American Supremacy menilai rezim Bush sebagai neokonservatisme.
Pada tahun 2006, 2008, 2009, dan 2010, berturut-turut Soros menulis buku berjudul The
Age of Falibility: Consequences of the War on Terror, The New Paradigm for Financial
Markets: the Credit Crisis of 2008 and What Means, The Crash of 2008 and What it Means, dan
The Soros Lectures at the Central European University.
Sebagai upayanya dalam menapakkan kekuasaannya di bidang akademis, Soros aktif
menyuntikkan dana di kampus-kampus ternama seperti Columbia University, Indiana University,
Oxford University, dan Harvard University. Dana yang dimiliki Soros juga berperan besar atas
pendirian Central European University di Budapest. Di kampus tersebut, Soros pernah
memberikan kuliah terkait dengan gagasannya tentang open society.22
Statusnya sebagai salah satu pemilik modal terbesar di dunia juga memberikannya
advantage dalam menyampaikan gagasan-gagasannya. Meski dalam bidang akademis namanya
belum sekaliber pemikir-pemikir lain, dana tersebut tentu sangat membantu Soros agar
pemikirannya dapat didengar secara lebih luas. Soros tentu tentu saja tidak sebanding dengan
ilmuwan-ilmuwan yang -walaupun mempunyai argumentasi intelektual luar biasa- sekedar
menyampaikan gagasannya di jurnal-jurnal atau koran-koran lokal.

Kerangka Pemikiran Soros


22

Untuk mengetathui sepak terjang Soros dalam dunia politik dan akademis, lihat laporan D. Gainor dan Iris Somberg, Special
Report - George Soros: the Godfather of the Left, Media Research Center (daring), 6 April 2012, < http://www.mrc.org/specialreports/special-report-george-soros-godfather-left>, diakses 16 Mei 2014.

Soros lahir di Budapest, Hungaria pada tanggal 13 Agustus 1930. Sebagai keturuan yahudi,
Soros dan keluarganya mengalami masa-masa sulit selama berlangsungnya perang dunia II.
Terutama, ketika Jerman yang dipimpin oleh Adolf Hitler mengokupasi kampung halamannya
pada Maret 1944. Pada masa itu, harta keluarga yahudi dirampas dan mereka diasingkan di
tempat penampungan yang dikenal dengan istilah ghetto. Pengalaman selama masa perang pada
akhirnya sangat mempengaruhi cara Soros memandang dunia.
Selama berada dibawah penguasaan Jerman, Soros berhasil menyelamatkan diri dengan
cara memalsukan identitasnya sebagai bangsa yahudi menjadi keturunan orang asli Hungaria.
Setelah perang dunia berakhir, ia hijrah ke London dan kuliah di London School Economics.
Pada saat itu, LSE merupakan tempat berkumpulnya pemikir-pemikir terkemuka, termasuk
pemikir neoliberal seperti Friedrich von Hayek dan Karl Raimund Popper. Nama terakhir adalah
sosok yang paling berpengaruh terhadap pemikiran Soros. Gagasan tentang masyarakat terbuka
yang dikembangkan oleh Soros tidak dapat dipisahkan dengan konsep open society yang
dicetuskan oleh Popper.
Namun gagasan Soros tentang open society baru muncul setelah kesuksesannya sebagai
pialang saham. Prestasinya yang paling fenomenal adalah ketika dinobatkan sebagai the man
who broke the Bank of England. Semenjak itu, Soros semakin aktif menjalani kegiatan
filantropis. Ia mendanai program-program sosial dan mendukung kegiatan-kegiatan intelektual di
universitas-universitas di berbagai negara.
Seperti yang sudah dikatakan di atas, gagasan open society Soros sangat dipengaruhi oleh
guru filsafatnya, Karl Popper. Gagasan yang pertama kali diperkenalkan oleh filsuf Prancis Henri
Bergson dalam bukunya yang berjudul The Two Morality and Religion itu dikembangkan oleh
Karl Popper dengan membandingkannya dengan Komunisme dan Naziisme yang merupakan
kebalikan dari masyarakat terbuka.23
Dalam pandangan Popper, masyarakat terbuka merupakan insitusi yang dapat menjamin
kebebasan manusia untuk memilih dan berbicara, sekaligus terhindar dari ideologi-ideologi yang

23

George Soros. Open Society: Reforming Global Capitalism, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2007. p. xviii.

menindas, karena mengklaim sebagai pemilik kebenaran tertinggi-terakhir (ultimate truth).24 Jika
Popper menganggap Komunisme dan Naziisme sebagai ancaman terhadap masyarakat terbuka,
Soros justru beranggapan bahwa saat ini kapitalisme global lah yang menjadi musuh utama.
Menurut Soros kapitalisme global yang saat ini dipengaruhi oleh fundamentalisme pasar
tampil sebagai ideologi yang mengklaim dirinya sebagai pemegang ultimate truth.
Fundamentalisme pasar berkeyakinan bahwa kepentingan umum paling terpenuhi bila orangorang dibiarkan mengejar kepentingannya sendiri.25
Kapitalisme global oleh sebab itu tidak bisa diandalkan karena hanya menekankan pada
motif profit. Fundamentalisme pasar yang memuat nilai-nilai individualisme dan persaingan
sempurna tidak dapat menjawab kebutuhan masyarakat dunia secara utuh, terutama kebutuhankebutuhan sosial mereka. Prinsip-prinsip universal seperti kebebasan, hak asasi manusia, dan
supremasi hukum cederung terabaikan. Di saat yang bersamaan, negara yang seharusnya
menjamin prinsip-prinsip tersebut semakin tidak efektif karena dibayang-bayangi oleh
persaingan internasional dalam memperebutkan modal. Sehingga aspek-aspek sosial dan politik
tertindas oleh kepentingan ekonomi. Disinilah open society dalam pandangan Soros dapat
memainkan perannya.
Soros menggunakan istilah kapitalisme global untuk merujuk pada keadaan masyarakat
ekonomi global kontemperor yang bercirikan perdagangan bebas dalam barang, jasa, dan,
terutama, modal. Lebih-lebih, pergerakan modal uang yang menurutnya lebih mobile lagi
daripada bentuk-bentuk modal yang lain.26 Namun Soros sama sekali tidak menampik adanya
fenomena kapitalisme (ekonomi) yang telah mengglobal itu atau berkehendak untuk
menggantinya dengan sistem lain. Melainkan, yang menjadi perhatiannya adalah nilai yang
dianut oleh kapitalisme itu sendiri. Menurutnya, kapitalisme global saat ini telah mampu
memberikan kekayaan. Namun manusia tidak bisa bergantung kepadanya dalam hal pemenuhan
atas kebebasan, demokrasi, dan kekuasaan hukum.27 Bagi Soros, ada pemahaman yang salah
tentang kapitalisme saat ini. adanya keyakinan bahwa pasar akan menjaga semua kebutuhan
manusia patut dipertanyakan jika
24

K. Popper, seperti dikutip dalam Soros, p. xix.


Soros, p. xxxiii
26
Soros, p. xxi
27
Soros, p. xxxiii
25

melihat

kondisi

ketimpangan

kesejahteraan

yang

nyata.Biasanya keyakinan yang seperti itu disebut laissez-faire dalam abad ke-19, tetapi Soros
memberikan penamanan yang menurutnya lebih cocok, yaitu: fundamentalisme pasar.
Fundamentalisme pasar berkeyakinan bahwa kepentingan umum paling terpenuhi bila orangorang dibiarkan mengejar kepentingannya sendiri.
Masyarakat

terbuka

Soros

sangat

berkaitan

dengan

konsep

lain

yang

juga

dikembangkannya: falibility (falibitas). Falibilitas atau kemungkinan-salah mernurut Soros


merupakan salah satu nilai yang harus dimiliki manusia untuk menciptakan masyarakat yang
terbuka. Ketika manusia memiliki pemahaman akan falibilitas, disitulah manusia akan dapat
menerima ketidaksempurnaan sehingga terbuka terhadap setiap upaya perbaikan. Menurut Soros
bukan untuk bersikap pesisimis- manusia harus puas dengan terbaik kedua. Menganggap diri
sendiri sebagai pemegang kebenaran merupakan dan memaksakan kebenaran itu kepada orang
lain merupakan penyimpangan terhadap nilai masyarakat terbuka.Soros melihat penyimpangan
seperti itu ada pada sistem kapitalisme kontemporer.
George Soros mengatakan bahwa tidak ada satu pun desain cetak biru dalam membentuk
tatatan masyarakat terbuka sebab negara-negara mempunyai tradisi yang beraneka ragam serta
tingkat kemajuan yang berbeda-beda.Ciri masyarakat terbuka adalah adanya kebebasa
warganegaranya untuk menentukan bagaimana masyarakatnya harus dikelola. Namun, untuk
menjamin kebebasa tersebut, ada beberapa prakondisi yang diperlukan, yaitu: suatu konstitusi
yang demokratis, tegaknya hukum, kebebasan berbicara dan kemerdekaan pers, suatu pengadilan
yang mandiri, dan aspek-aspek penting lain dari kebebasan.28
Soros menganjurkan agar negara-negara demokratis di dunia membentuk sebuah aliansi
dengan tujuan ganda untuk: pertama, mempromosikan dalam negara masing-masing tumbuhmekarnya masyarakat terbuka dan kedua, memperkokoh hukum internasional serta lembagalembaga yang dibutuhkan oleh masyarakat terbuka global.29

Bias Open Society

28
29

Soros, p 375
Soros, p. xxxi

Meski memiliki pengaruh yang signifikan, pemikiran Soros mengandung kontradiksi yang
tidak sesuai dengan semangatnya dalam membentuk masyarakat terbuka. Kontradiksi tersebut
dapat dilihat dari tiga hali: pertama adalah bagaimana Soros secara tegas sedari awal telah
menolak kemungkinan tentang adanya struktur ekonomi selain ekonomi kapitalisme.
Hal tersebut tentu akan bertentangan dengan nilai masyarakat terbuka yang bertujuan untuk
memberikan kebebasan kepada warga negara untuk memutuskan bagaimana sistem sosial
masyarkatnya diatur. Soros memang melihat dan bahkan melihat secara langsung bagaimana
sistem komunisme pernah dijalankan di beberapa negara, seperti Uni Soviet, China, dan negara
asalnya, Hungaria.
Namun, pemahaman Soros tentang komunisme sepertinya terdistorsi oleh pengalaman di
negara-negara tersebut yang sering dikaitkan dengan totaliranisme dan kediktatoran. Padahal,
sistem komunisme tidak selalu berujung pada masyarakat tertutup.
Kedua, kritik George Soros terhadap kapitalisme global tidak menyentuh persoalan
mendasar, yakni pertentangan kelas. Dapat dikatakan tidak ada yang baru terhadap kritik Soros
terhadap kapitalisme global, selain pandangannya tentang rapuhnya pasar finansial yang sudah
menjadi makanannya sehari-hari.
Beberapa pemikir seperti Immanuel Wallerstein dan Andre Gunder Frank, atau mereka
yang dikenal sebagai penganut paham dependensia dalam proses pembangunan negara, juga
membahas permasalahan mengenai ketimpangan yang terjadi antara negara maju dan negara
miskin atau berkembang. Pemikiran Soros hanya menjadi lebih unik karena diletakkan pada
konteks sistem ekonomi global kontemporer yang dipahaminya telah begitu berkembang dengan
pesat seiring dengan hadirnya teknologi terkini, sehingga sulit untuk dihindari.
Oleh sebab itu, kritik Soros bisa dikatakan belum cukup memadai untuk memberikan
legitimasi bahwa tatanan kapitalisme global layak untuk dipertahankan. Alih-alih mereformasi
kapitalisme global, Soros justru terlihat seperti sedang memberikan pembenaran terhadap sistem
kapitalisme yang memiliki tendensi untuk menghisap negara-negara pinggiran (phery-phery).
Reformasi yang ditawarkan Soros mengisyaratkan usaha-usahanya untuk dapat menyelamatkan
kapitalisme global dari kehancuran. Dan jika menghubungkan dengan profesinya sebagai pialang

saham, sebagai kelas borjuis yang berada di rantai paling atas struktur kapitalisme global,
tentunya kecurigaan tersebut sangat berasalan.
Sebuah kritik yang sangat menarik dilontarkan oleh David C. Korten:
At any given point in our lifetime we each make our choice as
to whether we will devote our life to the practice of public citizenship
or the pursuit of private greed. George Soros now faces such a choice.
If he proceeds with his plan to use his money and influence to realign
civil society behind the institutions of greed and his personal financial
interests he has made one choice. He could yet, however, make a
choice for citizenship by heeding his own critique-which is consistent
with that of civil society-and mobilize his foundations in support of
civil society's self-defined mission to align the institutions and values
of the economy with the interests of life.
Sejalan dengan kritik Korten, bias yang ditemui dalam individu Soros tidak jauh berbeda
dengan bias yang terkandung dalam gagasannya tentang masyarakat terbuka. Barangkali krisis
identitas tengah melanda Soros sehingga ia sendiripun bingung menentukan pilihan: apakah
memihak kepada kepentingan publik secara luas atau kepada kepentingan korporat yang rakus.

Kesimpulan
Meskipun bernada kritik, gagasan open society Soros sejatinya bertujuan untuk
menguatkan tatanan struktur kapitalisme global yang berada dalam cengkraman kaum neoliberal.
Indikasi tersebut terlihat dari cara Soros memandang globalisasi sebagai fenomena yang tidak
terelakkan sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat global.
Namun berbeda dengan pendapat pendukung globalisasi lainnya, Soros mengakui bahwa
kapitalisme menimbulkan berbagai persoalan pada sistem ekonomi dan sosial masyarakat dunia.
Terutama terkait dengan masalah kesenjangan. Jika pada umumnya kaum neoliberalis
menyangkal bahwa globalisasi ekonomi memproduksi kesenjangan, bahkan menafikan

keberadaan kesenjangan itu sendiri, Soros justru sebaliknya. Ia memandang bahwa kapitalisme
global harus dibebaskan dari kaum fundamentalisme pasar yang selama ini telah mengabaikan
kepentingan umum atas nama kepentingan pribadi.
Oleh sebab itu, globalisasi ala Soros dapat dikatakan sebagai globalisme sosial. Suatu
usaha untuk membentuk globalisasi neoliberal dengan wajah manusiawi. Di suatu sisi, ia
menerima globalisasi sebagai fenomena yang tak terhindarkan sekaligus menolak kemungkinan
ideologi-ideologi lain, semisal komunisme. Namun di sisi lain, ia berjuang atas kepentingan
umum dan menolak individualisme.

Referensi
Buku:
Balaam D. & Michael Veseth, Introduction to International Political Economy 3rd edition, New
Jersey, Pearson Education Inc.
Chang H.J. & Ilene Grabel, Membongkar Mitos Neolib. Insist Press, Yogyakarta, 2008
Giddens A., Jalan Ketiga Pembaruan Demokrasi Sosial, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta,
2000.
Hadi S., et. al. Potret Privatisasi Global dalam Post Washington Consensus dan Politik
Privatisasi di Indonesia. Marjin Kiri, Serpong, 2007.
Harman, C., Anti Kapitalisme, Teplok Press, Jakarta, 2003.
M. B. Steger. Globalisme: Bangkitnya Ideologi Pasar, Lafadl Pustaka, Yogyakarta, 2006.
Slater, R., Soros Investor Terbesar Dunia, Kehidupan, Masa Hidup & Rahasia Dagang Dunia,
diterjemahkan oleh Anton Adiwiyoto, Profesional Books, 1997.
Soros, G, Open Society: Reforming Global Capitalism, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2007.
Wibowo I., dalam I. Wibowo & Francis Wahono (ed.). Neoliberalisme, Cindelaras Pustaka
Cerdas, Yogyakarta, 2003.
Winardi, Kapitalisme versus Sosialisme: Suatu Analisis Ekonomi Teoritis, Penerbit Remadja
Karya CV, Bandung, 1986.

Artikel Jurnal
Gills. Introduction: Globalization and Politics of Resistance dalam I. f. Justice, Jurnal Free
Trade Watch, vol.1.
Irawanto B.,, Meniti Buih Perubahan: Menuju Etika Masyarakat Terbuka, Majalah Unisia:
Jurnal ilmu-ilmu sosial, Maret 1997, p. 77
Naim, M., Globalization, Foreign Policy, No. 171, Maret/April 2009, pp. 28-30, 32, 34.

Artikel Buku
Fukuyama, F., Akhir Sejarah?, dalam Huntington, Amerika dan Dunia, Yayasan Obor
Indonesia, Jakarta, 2005, pp. 1 34.

Huntington S.P., Tak Ada Jalan Keluar: Kesalahan-Kesalahan endisme, dalam buku
Huntington, Amerika dan Dunia, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2005.
Mittal A.,. Bangkitnya Gerakan Perlawanan Menentang Perang Ekonomi, dalam 10 Alasan
Bubarkan IMF & Bank Dunia, Cindelaras Pustaka Rakyat Cerdas, Yogyakarta, Januari 2005.

Artikel Daring
Forbes, The Worlds Billionaires (daring), <http://www.forbes.com/profile/george-soros/>
diakses 17 Mei 2014.
Gainor D., & Iris Somberg, Special Report - George Soros: the Godfather of the Left, Media
Research Center (daring), 6 April 2012, < http://www.mrc.org/special-reports/special-reportgeorge-soros-godfather-left>, diakses 16 Mei 2014.
Kompas.com Protes yang Mengglobal (daring), 21 Oktober 2011, <www.kompas .com Protes
yang
Mengglobal
http://internasional.kompas.com/read/2011/10/21/02165296/Protes.yang.Mengglobal>, diakses
17 Mei 2014
Open Society Foundation, About (daring), <http://www.opensocietyfoundations.org/about>
diakses 17 Mei 2014.
Williamson, J., A Short History of Washington Consensus, Institute of International Education
(daring), 24 September 2004, <www.iie.com/publications/papers/williamson0904-2.pdf>