Anda di halaman 1dari 16

I.

KETERANGAN UMUM
Nama
Umur
Pekerjaan
Pendidikan
Jenis kelamin
Status
Agama
Alamat
Tanggal pemeriksaan

:
:
:
:
:
:
:
:
:

Ny. S
19 tahun
Ibu Rumah Tangga
SMA
Perempuan
Menikah
Islam
Pabuaran
18 Juli 2006

II. ANAMNESA
Keluhan Utama
: Tekanan darah tinggi dan bengkak-bengkak
Anamnesis Khusus :
Seorang G2P0A1 yang merasa hamil hampir sembilan bulan datang atas rujukan dari puskesmas Cipendeuy dengan keluhan
tekanan darah tinggi yang diketahui sejak 1 bulan SMRS. Keluhan disertai bengkak-bengkak yang dimulai dari tungkai bawah
kemudian diikuti seluruh tubuh dan kelopak mata yang dirasakan sejak 3 bulan SMRS. Keluhan pusing diakui oleh penderita.
Keluhan kejang, penurunan kesadaran, sakit kepala yang hebat, nyeri pada ulu hati yang dirasakan terus menerus, penglihatan
menjadi kabur, sesak nafas, dan perdarahan dari jalan lahir, maupun keluhan BAK menjadi berkurang disangkal oleh penderita.
Keluar cairan banyak serta mules-mules disangkal oleh penderita. Gerak bayi masih dirasakan ibu.
Riwayat darah tinggi sebelumnya tidak ada (120/80 mmHg). Riwayat darah tinggi pada keluarga ada, yaitu ibu penderita.
Riwayat kencing manis pada penderita dan keluarga tidak ada.
Anamnesis tambahan :
Penderita 2 jam SMRS mendapat terapi MgSO4 8 gram im. dibokong kanan-kiri dan terpasang infus Ringer Laktat.
Riwayat obstetri :
1. Abortus
2. Hamil ini
Riwayat menikah :
1. , 16 tahun, SMP, Ibu rumah tangga
2. , 29 tahun, SMA, Swasta
HPHT
: 18 - 10 2005, siklus 28 hari / 7 hari
TP
: 25 - 7 - 2006

PNC
: 5 kali di bidan
KB terakhir
:III. PEMERIKSAAN FISIK
A. Keadaan Umum
Kesadaran
: Compos mentis
Tekanan Darah
: 160 / 100 mmHg
Nadi
: 100 x/ menit, REIC
Respirasi
: 24 x/ menit
Suhu
: 36,8 C
BB/TB
: 65 kg/145 cm
B. Status Interna
Kepala
: Simetris, deformitas (-)
Mata
: pupil bulat isokor ODS = 3 mm, kelopak mata edema kanan & kiri
Konjungtiva
: Tidak anemis
Sklera
: Tidak ikterik
Leher
: KGB tak teraba membesar
JVP tidak meningkat
Thoraks
: Bentuk dan gerak simetris
Paru-paru
: Sonor, VBS kanan = kiri, VF ka=ki
Ronkhi -/- ; Wheezing -/Jantung
: Batas kiri jantung LMCS
BJ S1 & S2 normal, reguler
Abdomen
: Cembung tegang, NT (-)
Hepar/Lien sulit dinilai
Bising usus (+), normal
Ekstremitas
: Deformitas (-), edema kedua tungkai atas dan bawah (+/+)
(pitting edema), varises (-)
C. Status Obstetrikus
Inspeksi :
1. Kepala/Muka
:
Cholasma gravidarum (-)
2. Thorax
:
Hiperpigmentasi areola mamae (+), papilla mamae (+)
Papila mammae tidak menonjol, colustrum (-)

3. Abdomen
Palpasi
FU

Cembung tegang, striae gravidarum (+)

: 36 cm

LP

: 104 cm

Leopold I

: teraba massa lunak, kurang bundar, tidak melenting

Leopold II

: bagian terbesar ada disebelah kanan, dan bagian kecil disebelah kiri

Leopold III

: teraba massa keras, bundar, melenting

Leopold IV

: divergen

Presentasi

: letak kepala, 5/5, punggung kanan

TBBA
: 3500 gram
Pemeriksaan luar genitalia :
1. Vulva/vagina
:
2. Perineum
:

tidak ada kelainan


tidak ada kelainan

Pemeriksaan dalam :
Vulva
Vagina
Portio
Ostium

tidak ada kelainan


tidak ada kelainan
tebal, lunak
tertutup

:
:
:
:

Auskultasi :
Terdengar bunyi jantung anak pada sisi kanan perut ibu sebelah bawah pusat dengan frekuensi 144-148x /menit regular.
Pemeriksaan Penunjang :
Protein urin
:
+4
Usul Pemeriksaan
:
Hb, leukosit, trombosit, hematokrit, SGOT SGPT,
Bilirubin, Kolesterol darah, Ureum kreatinin, SADT.

IV. RESUME
G2P0A1 merasa hamil 9 bulan datang atas rujukan dari puskesmas Pabuaran dengan keluhan hipertensi, yang diketahui sejak 1
bulan SMRS. Keluhan disertai edema yang dimulai dari tungkai bawah kemudian diikuti seluruh tubuh dan kelopak mata yang dirasakan
sejak 3 bulan SMRS. Keluhan pusing diakui oleh penderita. Keluhan kejang, penurunan kesadaran, sakit kepala yang hebat, nyeri pada ulu
hati yang dirasakan terus menerus, penglihatan menjadi kabur, sesak nafas, dan perdarahan dari jalan lahir, maupun keluhan gangguan BAK
disangkal oleh penderita. Ketuban pecah serta mules-mules disangkal oleh penderita. Gerak bayi masih dirasakan ibu. Riwayat hipertensi
sebelumnya tidak ada (120/80 mmHg). Riwayat hipertensi pada keluarga ada, yaitu ibu penderita. Riwayat diabetes mellitus pada penderita
dan keluarga tidak ada.
Riwayat obstetri, kehamilan pertama keguguran pada usia kandungan 3 bulan. Kehamilan kedua hamil ini. Menikah, , 16 tahun,
SMP, IRT dan , 29 tahun, SMA, Swasta. Dari pemeriksaan fisik, Status Interna: Kesadaran compos mentis, Tekanan Darah 160 / 100
mmHg, Nadi 100 x/ menit, REIC, Respirasi 24 x/ menit, Suhu 36,8 C, kedua tungkai atas dan bawah serta kelopak mata edema kanan &
kiri, lain-lain dalam batas normal.
Status Obstetrikus: tanda kehamilan (+) ; pemeriksaan luar genitalia tidak ada kelainan, TFU 36 cm, LP 104 cm, Leopold I teraba
massa lunak, kurang bundar, tidak melenting, Leopold II bagian terbesar ada disebelah kanan, dan bagian kecil disebelah kiri, Leopold III
teraba massa keras, bundar, melenting, Leopold IV divergen, Presentasi letak kepala, 5/5, punggung kanan , TBBA 3500 gram; Pemeriksaan
dalam:Vulva/vagina tidak ada kelainan, portio tebal lunak, ostium tertutup. Bunyi jantung anak pada sisi kanan perut ibu sebelah bawah
pusat dengan frekuensi 144-148x /menit regular. Pemeriksaan Penunjang Protein urin +4. Penderita 2 jam SMRS mendapat terapi MgSO4 8
gram im. dibokong kanan-kiri dan infus Ringer Laktat.
V. DIAGNOSIS
G2P0A1 gravida 35-36 minggu + Preeklampsi Berat
VI. USUL TERAPI
Terapi Umum :

Bed Rest

Diet Rendah Garam


Terapi Khusus

Infus Ringer Laktat

Metildopa 3 x 500 mg

Nifedipin 3 x 5 mg

Magnesium Sulfat 40% 8 gram i.m tiap 4 jam


Observasi KU, TNRS, BJA

Pemeriksaan serial Protein Urin

Konsul Bagian Ilmu Penyakit Dalam dan Saraf


VII. PROGNOSIS
Quo ad vitam
: ad bonam
Quo ad functionam
: ad bonam
PEMBAHASAN
Pertanyaan :
1. Mengapa pasien ini di diagnosis Pre eklampsi berat ?
2. Faktor predisposisi yang didapatkan pada pasien ini ?
3. Bagaimana pengelolaan yang diberikan pada pasien ini ?
4. Penyulit/komplikasi apa yang dapat terjadi pada pasien ini?
Hipertensi dalam kehamilan adalah penyakit yang umum dan merupakan salah satu dari segitiga kematian pada ibu hamil, bersama
sama dengan perdarahan dan infeksi. Hipertensi dalam kehamilan juga salah satu penyebab utama dalam morbiditas dan mortalitas ibu
hamil.
Hipertensi dalam kehamilan diklasifikasikan oleh Working Group of the National High Blood Pressure Education Program, sebagai
berikut :
1. Hipertensi Gestasional
Tekanan darah mencapai 140/90 mmHg untuk pertama kalinya dalam kehamilan
Proteinuri (-)
Transient hipertensi jika tidak berkembang menjadi preeklamsi dan TD kembali ke normal dalam 12 minggu post partum
Diagnosis terakhir hanya bisa dibuat setelah post partum
Yang paling penting ialah wanita dengan hipertensi gestasional dapat mengalami tanda tanda yang berhubungan dengan
preeklamsi, misalnya nyeri ulu hati atau trombositopeni
2. Preeklamsi
Kriteria minimum :
tekanan darah 140/90 mmHg setelah usia kehamilan 20 minggu
proteinuri 300mg/24 jam atau+1

Kriteria tambahan
tekanan darah 160/110 mmHg
proteinuri 2,0 gr/24 jam atau +2
Kreatinin serum > 1,2 mg/dL, kecuali sebelumnya memang telah meningkat
Trombosit < 100.000 mm3
Mikroangiopati hemolisis (peningkatan LDH)
Sakit kepala yang menetap atau gangguan serebral atau penglihatan
Nyeri ulu hati tetap
3. Eklamsi
Yaitu jika terjadi kejang kejang, yang tidak disingkirkan oleh penyebab lain, pada penderita preeklamsi. Kejang kejang bisa
terjadi sebelum, selama, atau segera setelah persalinan
4. Preeklamsi/eklamsi yang terjadi atas dasar hipertensi kronis
Adalah preeklamsi/eklamsi yang terjadi pada pasien yang menderita hipertensi kronis
5. Hipertensi kronis
Adalah ditemukannya hipertensi pada saat sebelum kehamilan atau sebelum kehamilan berumur 20 minggu, atau setelah kehamilan
berumur lebih dari 20 minggu atau menetap hingga 12 minggu pasca persalinan.
Faktor Faktor Predisposisi
Banyak faktor yang telah ditemukan berhubungan dengan terjadinya hipertensi dalam kehamilan. Kebanyakan faktor tersebut
termasuk dalam faktor predisposisi, sedangkan sebagian lagi seperti penambahan beratr bdan dan edema lebih cenderung merupakan akibat
dari hipertensi dalam kehamilan
Studi group WHO pada tahun 1987, telah mengumpulkan pelbagai faktor predisposisi tersebutr dalam suatu technical report series no
758, yaitu :
1. Umur < 18 tahun atau 35 tahun
2. Paritas
3. Suku bangsa
4. Keluarga
5. Genetik :
Golongan darah
Konsanguitas
Jenis kelamin janin
6. Nutrisi
Kalori dan protein

Vitamin, mineral
Berat badan
7. Lingkungan
Masa perang, kelaparan dan musim kering
Iklim dan cuaca
Ketinggian
Perkotaan dan pedesaan
8. Kebiasaan dan sosio ekonomi
Merokok
Kegiatan fisik
Sosio-ekonomi
9. Hiper plasentosis
Kehamilan ganda
hidropsfetalis
Diabetes Melitus
Mola hidatidosa
DIAGNOSIS
Preeklamsi ringan
Diagnosis preeklamsi ringan didasarkan atas timbulnya hipertensi (sistolik antara 140 - <160 mmHg dan diastolik antara 90-<110
mmHg) disertai proteinuri (> 300 mg/24 jam, atau >1 + dipstick).
Preeklamsi berat
Bila didapatkan satu atau lebih gejala di bawah ini preeklamsi digolongkan berat.
1. Tekanan darah sistolik > 160 mmHg atau tekanan darah diastolik > 110 mmHg.
2. Proteinuri > 2 g/24 jam atau > 2 + dalam pemeriksaan kualitatif (dipstick)
3. Kreatinin serum > 1,2 mg% disertai oliguri (< 400 ml/ 24 jam)
4. Trombosit < 100.000/mm3
5. Angiolisis mikroangiopati (peningkatan kadar LDH)
6. Peninggian kadar enzim hati (SGOT dan SGPT)
7. Sakit kepala yang menetap atau gangguan visus dan serebral
8. Nyeri epigastrium yang menetap
9. Pertumbuhan janin terhambat
10. Edema paru disertai sianosis

11. Adanya HELLP Syndrome (H : Hemolysis; EL : Elevated liver enzymes LP : low platelet count)
Eklamsi
Terjadi kejang kejang, yang tidak disingkirkan oleh penyebab lain, pada penderita preeklamsi. Kejang kejang bisa terjadi
sebelum, selama, atau segera setelah persalinan.
Preeklamsi/eklamsi yang terjadi atas dasar hipertensi kronis
Preeklamsi/eklamsi yang terjadi pada pasien yang menderita hipertensi kronis.
Hipertensi kronis
Ditemukannya hipertensi pada saat sebelum kehamilan atau sebelum kehamilan berumur 20 minggu, atau setelah kehamilan
berumur lebih dari 20 minggu atau menetap hingga 12 minggu pasca persalinan.
Hipertensi Gestasional
1. Tekanan darah mencapai 140/90 mmHg untuk pertama kalinya dalam kehamilan
2. Proteinuri (-)
3. Transient hipertensi jika tidak berkembang menjadi preeklamsi dan TD kembali ke normal dalam 12 minggu post partum
4. Diagnosis terakhir hanya bisa dibuat setelah post partum
5. Yang paling penting ialah wanita dengan hipertensi gestasional dapat mengalami tanda tanda yang berhubungan dengan preeklamsi,
misalnya nyeri ulu hati atau trombositopenia.
TERAPI
Preeklamsi ringan
1. Rawat inap. Istirahat (tirah baring/ tidur miring kekiri). Rawat jalan dilakukan apabila pasien menolak rawat inap. Dilakukan
pemantauan tekanan darah dan protein urine setiap hari.
2. Pantau tekanan darah 2 kali sehari, dan proteinuri setiap hari.
3. Dapat dipertimbangkan pemberian suplementasi obat-obatan antioksidan atau anti agregasi trombosit
4. Roboransia
5. Diberikan kortikosteroid pada kehamilan 24-34.
6. Berikan Methyl Dopa 3 x 250 mg apabila tekanan diastol diantara 100-110 mmHg.
7. Dilakukan pemantauan kesejahteraan janin dengan pemeriksaan USG (Doppler) dan CTG.
8. Jika tekanan diastol turun sampai normal, pasien dipulangkan dengan nasihat untuk istirahat dan diberi penjelasan mengenai tanda-tanda
preeklamsi berat. Kontrol 2 kali seminggu. Bila tekanan diastol naik lagi, pasien dirawat kembali.
9. Jika tekanan diastol naik dan disertai dengan tanda-tanda preeklamsi berat, pasien dikelola sebagai preeklamsi berat.
10. Bila umur kehamilan > 37 minggu, pertimbangkan terminasi kehamilan.
11. Persalinan dapat dilakukan secara spontan.

Preeklamsi Berat
Rawat bersama dengan Bagian yang terkait (Penyakit Dalam, Penyakit Saraf, Mata, Anestesi,dll).
A. Perawatan aktif
a. Indikasi
Bila didapatkan satu/lebih keadaan di bawah ini :
i. Ibu :
1. kehamilan > 37 minggu
2. adanya gejala impending eklamsi
ii. Janin :
1. adanya tanda-tanda gawat janin
2. adanya tanda-tanda IUGR
iii. Laboratorik :
adanya HELLP syndrome
b. Pengobatan medisinal
1. Infus larutan ringer laktat
2. Pemberian obat : MgSO4
Cara pemberian MgSO4 :
1. Pemberian melalui intravena secara kontinyu (infus dengan infusion pump):
a. Dosis awal :
4 gram (20 cc MgSO4 20 %) dilarutkan kedalam 100 cc ringer lactat, diberikan selama 15-20 menit.
b. Dosis pemeliharaan:
10 gram dalam 500 cc cairan RL, diberikan dengan kecepatan 1-2 gram/jam ( 20-30 tetes per menit)
2. Pemberian melalui intramuskuler secara berkala :
a. Dosis awal:
4 gram MgSO4 (20 cc MgSO4 20%) diberikan secara i.v. dengan kecepatan 1 gram/menit.
b. Dosis pemeliharaan
Selanjutnya diberikan MgSO4 4 gram (10 cc MgSO4 40%) i.m setiap 4 jam. Tambahkan 1 cc lidokain 2% pada setiap
pemberian i.m untuk mengurangi perasaan nyeri dan panas.
Syarat-syarat pemberian MgSO4
1. Harus tersedia antidotum MgSO4, yaitu kalsium glukonas 10% (1 gram dalam 10 cc) diberikan i.v dalam waktu 3-5 menit.

2. Refleks patella (+) kuat


3. Frekuensi pernafasan > 16 kali per menit
4. Produksi urin > 30 cc dalam 1 jam sebelumnya (0,5 cc/kg bb/jam)
Sulfas magnesikus dihentikan bila :
1. Ada tanda-tanda intoksikasi
2. Setelah 24 jam pasca salin
3. Dalam 6 jam pasca salin sudah terjadi perbaikan tekanan darah
(normotensif)
3. Diuretikum tidak diberikan kecuali bila ada
a. edema paru
b. payah jantung kongestif
c. edema anasarka
4. Antihipertensi diberikan bila :
1. Tekanan darah :
- Sistolik > 180 mmHg
- Diastolik > 110 mmHg
2. Obat-obat antihipertensi yang diberikan :
- Obat pilihan adalah hidralazin, yang diberikan 5 mg i.v. pelan-pelan selama 5 menit. Dosis dapat diulang dalam waktu 1520 menit sampai tercapai tekanan darah yang diinginkan.
Apabila hidralazin tidak tersedia, dapat diberikan :
Nifedipin : 10 mg, dan dapat diulangi setiap 30 menit (maksimal 120 mg/24 jam) sampai terjadi penurunan tekanan
darah.
Labetalol 10 mg i.v. Apabila belum terjadi penurunan tekanan darah, maka dapat diulangi pemberian 20 mg setelah 10
menit, 40 mg pada 10 menit berikutnya, diulangi 40 mg setelah 10 menit kemudian, dan sampai 80 mg pada 10 menit
berikutnya.
Bila tidak tersedia, maka dapat diberikan : Klonidin 1 ampul dilarutkan dalam 10 cc larutan garam faal atau air untuk
suntikan. Disuntikan mula-mula 5cc i.v. perlahan-lahan selama 5 menit. Lima menit kemudian tekanan darah diukur,
bila belum ada penurunan maka diberikan lagi sisanya 5 cc i.v. selama 5 menit. Kemudian diikuti dengan pemberian
secara tetes sebanyak 7 ampul dalam 500 cc dextrose 5% atau Martos 10. Jumlah tetesan dititrasi untuk mencapai
target tekanan darah yang diinginkan, yaitu penurunan Mean Arterial Pressure (MAP) sebanyak 20% dari awal.

Pemeriksaan tekanan darah dilakukan setiap 10 menit sampai tercapai tekanan darah yang diinginkan, kemudian setiap
jam sampai tekanan darah stabil.
5. Kardiotonika
Indikasi pemberian kardiotonika ialah, bila ada : tanda-tanda payah jantung. Jenis kardiotonika yang diberikan : Cedilanid-D
Perawatan dilakukan bersama dengan Sub Bagian Penyakit Jantung
6. Lain-lain
1. Obat-obat antipiretik
Diberikan bila suhu rektal di atas 38,5 0 C
Dapat dibantu dengan pemberian kompres dingin atau alkohol
2. Antibiotika
Diberikan atas indikasi
3. Antinyeri
Bila pasien gelisah karena kontraksi rahim dapat diberikan petidin HCl 50-75 mg sekali saja.
c. Pengelolaan Obstetrik
Cara terminasi kehamilan
Belum inpartu :
1. Induksi persalinan :
amniotomi + tetes oksitosin dengan syarat skor Bishop > 6
2. Seksio sesarea bila ;
a. Syarat tetes oksitosin tidak dipenuhi atau adanya kontra indikasi tetes oksitosin
b. 8 jam sejak dimulainya tetes oksitosin belum masuk fase aktif
Pada primigravida lebih diarahkan untuk dilakukan terminasi dengan seksio sesarea.
Sudah inpartu :
Kala I
Fase laten :
Amniotomi + tetes oksitosin dengan syarat skor Bishop > 6.
Fase aktif :
1. Amniotomi
2. Bila his tidak adekuat, diberikan tetes oksitosin.

3. Bila 6 jam setelah amniotomi belum terjadi pembukaan lengkap, pertimbangkan seksio sesarea.
Catatan : amniotomi dan tetes oksitosin dilakukan sekurang-kurangnya 15 menit setelah pemberian pengobatan medisinal.
Kala II :
Pada persalinan pervaginam, maka kala II diselesaikan dengan partus buatan.
B. Pengelolaan konservatif
a. Indikasi :
Kehamilan preterm (< 37 minggu) tanpa disertai tanda-tanda impending eklamsi dengan keadaan janin baik
b. Pengobatan medisinal :
Sama dengan perawatan medisinal pengelolaan secara aktif. Hanya dosis awal MgSO4 tidak diberikan i.v cukup i.m saja.(MgSO4
40%, 8 gram i.m.). Pemberian MgSO4 dihentikan bila sudah mencapai tanda-tanda preeklamsi ringan, selambat-lambatnya dalam
waktu 24 jam.
c. Pengelolaan obstetrik
1. Selama perawatan konservatif, tindakan observasi dan evaluasi sama seperti perawatan aktif, termasuk pemeriksaan tes tanpa
kontraksi dan USG untuk memantau kesejahteraan janin
2. Bila setelah 2 kali 24 jam tidak ada perbaikan maka keadaan ini dianggap sebagai kegagalan pengobatan medisinal dan harus
diterminasi. Cara terminasi sesuai dengan pengelolaan aktif.
PENYULIT
Sindroma HELLP, gagal ginjal, gagal jantung, edema paru, kelainan pembekuan darah, perdarahan otak.
Sindroma HELLP
Weinstein 1982 yang mula-mula menggunakan istilah Hellp syndrome untuk kumpulan gejala Hemolysis, Elevated Liver enzym,
dan Low Platelets yang merupakan gejala utama dari sindroma ini.
Diagnosis laboratorium :

Hemolisis :
adanya sel-sel spherocytes, schistocytes, triangular dan sel burr pada hapus darah perifer
kadar bilirubin total > 1,2 mg%

Kenaikan kadar enzim hati :


kadar SGOT > 70 IU/l
kadar LDH >600 IU/l

Trombositopeni :
kadar trombosit < 100 x 103/mm3

Klasifikasi berdasarkan pada beratnya trombositopeni (Mississippi) :


1.
Kelas 1 : kadar trombosit < 50x103/mm3
2.
Kelas 2 : kadar trombosit 50-100 x 103/mm3
3.
Kelas 3 : kadar trombosit > 100 x 103/mm3
Klasifikasi berdasarkan lengkap/ tidaknya gejala (Memphis):
1. Complete Hellp:
Anemia hemolitik mikroangiopatik pada PEB
LDH > 600 IU/L
SGOT > 70 IU/L
Trombositopenia < 100.000/mm3
2. Partial Hellp :
Bila ditemukan satu atau dua gejala diatas.
Pengelolaan :
Pada prinsipnya, pengelolaannya terdiri dari :
a.
b.
c.

Atasi hipertensi dengan pemberian obat antihipertensi


Cegah terjadinya kejang dengan pemberian MgSO4
Pertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit
1.
Hemoterapi dengan pemberian transfusi trombosit apabila kadar trombosit <30.000/mm 3 untuk mencegah perdarahan spontan.
2.
Terapi konservatif dilakukan apabila umur kehamilan < 34 minggu, tekanan darah terkontrol < 160/110 mmHg, normourine,
kenaikan kadar enzim hati yang tidak disertai nyeri perut kuadran atas kanan atau nyeri uluhati.
3.
Pemberian kortikosteroid, terutama pada kehamilan 24-34 minggu atau kadar trombosit < 100.000/mm 3. Diberikan dexametason 10
mg IV 2 x sehari sampai terjadi perbaikan klinis (Trombosit > 100.000/mm 3, kadar LDH menurun dan diuresis > 100 cc/jam).
Pemberian dexametason dipertahankan sampai pasca salin sebanyak 10 mg IV 2 kali sehari selama 2 hari, kemudian 5 mg IV 2 kali
sehari selama 2 hari lagi.
4.
Dianjurkan persalinan pervaginam, kecuali bila ditemukan indikasi seperti : serviks yang belum matang (bishop score < 6), bayi
prematur, atau ada kontraindikasi.

5.

Bila akan dilakukan operasi SC, kadar trombosit < 50.000/mm 3 merupakan indikasi untuk melakukan transfusi trombosit.
Pemasangan drain intraperitoneal dianjurkan untuk mengantisipasi adanya perdarahan intra abdominal. Bila ditemukan cairan
ascites yang berlebihan, perawatan pasca bedah di ICU merupakan indikasi untuk mencegah komplikasi gagal jantung kongestif
dan sindroma distres pernafasan.

PENYULIT
Sindroma HELLP, gagal ginjal, gagal jantung, edema paru, kelainan pembekuan darah, perdarahan otak.
Sindroma HELLP
Weinstein 1982 yang mula-mula menggunakan istilah Hellp syndrome untuk kumpulan gejala Hemolysis, Elevated Liver enzym,
dan Low Platelets yang merupakan gejala utama dari sindroma ini.
Diagnosis laboratorium :

Hemolisis :
adanya sel-sel spherocytes, schistocytes, triangular dan sel burr pada hapus darah perifer
kadar bilirubin total > 1,2 mg%

Kenaikan kadar enzim hati :


kadar SGOT > 70 IU/l
kadar LDH >600 IU/l

Trombositopeni :
kadar trombosit < 100 x 103/mm3
Klasifikasi berdasarkan pada beratnya trombositopeni (Mississippi) :
1.
Kelas 1 : kadar trombosit < 50x103/mm3
2.
Kelas 2 : kadar trombosit 50-100 x 103/mm3
3.
Kelas 3 : kadar trombosit > 100 x 103/mm3
Klasifikasi berdasarkan lengkap/ tidaknya gejala (Memphis):
3. Complete Hellp:
Anemia hemolitik mikroangiopatik pada PEB
LDH > 600 IU/L
SGOT > 70 IU/L
Trombositopenia < 100.000/mm3

4.

Partial Hellp :
Bila ditemukan satu atau dua gejala diatas.

Pengelolaan :
Pada prinsipnya, pengelolaannya terdiri dari :
d.
e.
f.

Atasi hipertensi dengan pemberian obat antihipertensi


Cegah terjadinya kejang dengan pemberian MgSO4
Pertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit
1.
Hemoterapi dengan pemberian transfusi trombosit apabila kadar trombosit <30.000/mm 3 untuk mencegah perdarahan spontan.
2.
Terapi konservatif dilakukan apabila umur kehamilan < 34 minggu, tekanan darah terkontrol < 160/110 mmHg, normourine,
kenaikan kadar enzim hati yang tidak disertai nyeri perut kuadran atas kanan atau nyeri uluhati.
3.
Pemberian kortikosteroid, terutama pada kehamilan 24-34 minggu atau kadar trombosit < 100.000/mm 3. Diberikan dexametason 10
mg IV 2 x sehari sampai terjadi perbaikan klinis (Trombosit > 100.000/mm 3, kadar LDH menurun dan diuresis > 100 cc/jam).
Pemberian dexametason dipertahankan sampai pasca salin sebanyak 10 mg IV 2 kali sehari selama 2 hari, kemudian 5 mg IV 2 kali
sehari selama 2 hari lagi.
4.
Dianjurkan persalinan pervaginam, kecuali bila ditemukan indikasi seperti : serviks yang belum matang (bishop score < 6), bayi
prematur, atau ada kontraindikasi.
5.
Bila akan dilakukan operasi SC, kadar trombosit < 50.000/mm 3 merupakan indikasi untuk melakukan transfusi trombosit.
Pemasangan drain intraperitoneal dianjurkan untuk mengantisipasi adanya perdarahan intra abdominal. Bila ditemukan cairan
ascites yang berlebihan, perawatan pasca bedah di ICU merupakan indikasi untuk mencegah komplikasi gagal jantung kongestif
dan sindroma distres pernafasan.

DAFTAR PUSTAKA
1.
2.

Cunningham, T Gary, Williams Obstetrics 22nd Edition.2005.USA.McGraw-Hill


Companies,Inc
Krisnadi, Sofie R.et all.editor.Pedoman Diagnosis dan Terapi Obstetri dan
Ginekologi Rumah Sakit Dr.Hasan Sadikin. Bagian
Pertama.2005.Bandung.Bagian Obstetri dan Ginekologi FK Unpad, Perjan RSHS

3.

Mose, Johanes C, Patologi Obstetri, Bandung, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, EGC,Cetakan I, 2005.