Anda di halaman 1dari 110

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah


Banyak aktivitas yang tidak terlepas dari praktek kecurangan atau fraud di

era globalisasi sekarang ini. Kecurangan yang terjadi tidak mudah dihilangkan
seperti membalikkan kedua telapak tangan. Banyak tindakan kecurangan yang
masih terjadi dan masih sulit untuk diatasi serta ditekan keberadaannya.
Kecurangan bisa saja terjadi dilakukan oleh perorangan, tetapi juga bisa
dilakukan oleh sekelompok orang di dalam organisasi yang bekerja sama dalam
praktek kecurangan (Benni, 2011).
Beberapa tahun belakangan ini kecurangan akuntansi telah berkembang di
berbagai negara, termasuk di Indonesia. Kecurangan akuntansi telah berkembang
secara luas Di United States of America (USA) (Sobel, 1977:1). Spathis (2002)
menjelaskan bahwa di United States of America (USA) kecurangan akuntansi
menimbulkan kerugian yang sangat besar di hampir seluruh industri. Kerugian
dari kecurangan akuntansi di pasar modal adalah menurunnya akuntabilitas
manajemen dan membuat para pemegang saham meningkatkan biaya monitoring
terhadap manajemen (Pritchard,1999). Seorang sosiolog, Edwin H. Sutherland
memperkenalan istilah white collar crime, yang menjadi istilah terkenal dengan
berbagai pengertian. Banyak fraud atau kecurangan papan atas sejak dahulu,
dilakukan oleh pengusaha dan professional berkerah putih. Istilah ini kembali

menjadi terkenal dengan terungkapnya kasus Enron dan kasus-kasus lain di


Amerika Serikat dan Eropa (Tuanakotta, 2010).
Menurut

Association

of

Certified

Fraud

Examiners

(ACFE)

menggambarkan Occupational Fraud dalam bentuk fraud tree. Occupational


Fraud Tree

ini mempunyai tiga cabang utama, yakni korupsi (Corruption),

pengambilan asset secara illegal (Asset Misappropriation), dan kecurangan dalam


opini audit (Fraudulent Statement). Korupsi adalah salah satu bentuk kecurangan.
Korupsi sebagai fenomena sosiologi dan dampaknya pada sendi-sendi sosial dan
perekonomian secara makro. Dalam korupsi, tindakan yang lazim dilakukan
diantaranya adalah pencurian dana-dana pemerintah, penyuapan, memanipulasi
pencatatan, penghilangan dokumen, dan mark-up yang merugikan keuangan
negara atau perekonomian negara. Tindakan ini merupakan bentuk kecurangan
akuntansi. Indonesia termasuk negara dengan peringkat korupsi tertinggi di dunia
(Transparancy International, 2005). Pemberantasan tindak korupsi telah menjadi
wacana paling popular yang selalu dibicarakan oleh setiap kalangan baik oleh
pejabat pemerintah, pengusaha sampai kalangan masyarakat

di Indonesia.

Meskipun tidak sedikit upaya yang telah dilakukan, namun pemperantasannya


perlu dipertanyakan. Sampai hari ini tersedia sedikit bukti yang menunjukkan
bahwa jika lembaga-lembaga pemantau korupsi diberikan dana dan sumber daya
lainnya, mereka akan berhasil menekan korupsi. (Tuanakotta, 2010).
Berbagai tindak korupsi di Indonesia, salah satunya adalah seperti yang
dilaporkan Indonesian Corruption Watch (ICW) bahwa terdapat kasus
penggelapan pajak di Indonesia yang dilakukan oleh suatu perusahaan dengan

memberikan uang suap kepada aparat pajak. Selain itu Badan Pemeriksa
Keuangan (BPK) Republik Indonesia juga menemukan adanya penyelewengan
atas penerimaan negara yang harus disetor ke kas Negara tetapi justru masuk ke
rekening negara atas nama pribadi. Kasus kecurangan lain yang dapat ditemukan
di Indonesia adalah manipulasi pembukuan, menteri keuangan Sri Mulyani
menyatakan bahwa banyak perusahaan membuat laporan keuangan yang berbeda
atau laporan keuangan ganda (Double Bookkeeping)

untuk bank, Badan

pengawas pasar modal (BAPEPAM), maupun kantor pajak. Meski kecurangan


sudah sering terjadi namun di Indonesia masih sangat sedikit penelitian yang
membahas topik ini. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh Wilopo
(2006) yang menunjukan bahwa pengendalian internal yang efektif memberikan
pengaruh yang signifikan dan negatif terhadap kecenderungan kecurangan
akuntansi. Praktek kecurangan yang terjadi khususnya di perusahaan biasanya
disebabkan oleh sistem pengendalian perusahaan tidak mampu untuk menekan
tindakan kecurangan yang dilakukan oleh pegawainya. Pegawai yang melakukan
kecurangan biasanya mempunyai kekuasaan atau kesempatan untuk melakukan
kecurangan yang merugikan perusahaan. Kecurangan tidak hanya terjadi pada
jajaran pegawai tingkat bawah saja, tetapi untuk pegawai jajaran tingkat atas
kecurangan bisa terjadi lebih besar (Benni, 2011).
Menurut Agoes (2004) terlepas dari bagaimana bagusnya desain dan
operasinya, pengendalian internal hanya dapat memberikan keyakinan memadai
bagi manajemen

dan dewan komisaris berkaitan dengan pencapain tujuan

pengendalian internal entitas, kemungkinan pencapaian tersebut dipengaruhi oleh

keterbatasan bawaan yang melekat di dalamnya, hal ini mencakup kenyataan


bahwa pertimbangan manusia dalam mengambil keputusan yang salah baik
disengaja maupun tidak, di mana pengendalian internal dapat dirusak karena
kegagalan yang bersifat manusiawi tersebut.
Beragam kebutuhan manusia merupakan motivator bagi manusia untuk
melakukan suatu tindakan nyata agar kebutuhannya terpenuhi. Sayangnya, tidak
semua orang dapat memenuhi kebutuhannya dengan cara yang dibenarkan.
Adanya hambatan-hambatan seperti perbedaan kepentingan, tekanan dari
lingkungan keluarga maupun lingkungan kerja dan rendahnya kompensasi yang
diterima memotivasi seseorang untuk mengambil jalan pintas dengan melakukan
kecurangan. Namun, penelitian yang dilakukan oleh Wilopo (2006) menunjukan
bahwa pemberian kompensasi yang sesuai pada perusahaan terbuka dan Badan
Usaha Milik Negara (BUMN) di Indonesia tidak secara signifikan menurunkan
kecenderungan kecurangan akuntansi dari manajemen perusahaan. Hal yang sama
dinyatakan oleh Sulistyowati (2007), penelitian ini menunjukkan bahwa kepuasan
gaji tidak berpengaruh terhadap presepsi aparatur pemerintah daerah tentang
tindak korupsi, di mana gaji merupakan salah satu komponen

kompensasi.

Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Darsono (2001) yang menyatakan
salah satu penyebab terjadinya korupsi adalah perasaan tidak sanggup menolak
ketidakadilan (inequity) akibat upah di bawah standar (underpayment), sehingga
korupsi merupakan salah satu reaksi kompromistis dari perasaan ketidakadilan
tersebut. Sedangkan menurut Saefudin (1997) salah satu penyebab sulitnya
korupsi di Indonesia diberantas adalah adanya ketidakrelaan menerima gaji yang

relatif terbatas dibandingkan dengan tingkat kebutuhan yang layak. Beberapa


penelitian tersebut, menunjukkan bahwa hasil penelitian tentang faktor yang
mempengaruhi kecurangan akuntansi, yang terdiri dari pengendalian internal dan
kesesuaian kompensasi cenderung tidak konsisten dan berbeda.
Asimetri informasi terjadi karena adanya perbedaan kepentingan antara
manajemen dengan pemilik modal. Pemilik modal sebagai pihak yang
memberikan wewenang kepada manajemen untuk mengelola kekayaannya
mempunyai kepentingan meningkatkan kesejahteraan dirinya melalui pembagian
deviden atau kenaikan kinerja saham perusahaan. Sedangkan manajemen sebagai
pihak yang diberi tanggung jawab untuk mengelola kekayaan perusahaan
mempunyai kepentingan dirinya melalui peningkatan kompensasi. Kondisi
tersebut menyebabkan manajemen cenderung untuk tidak memberikan informasi
yang berpengaruh negatif terhadap kepentingan tersebut (Khomsiyah dan
Susanti,2003). Mengatasi permasalahan keagenan seharusnya manajemen
perusahaan melaksanakan aturan akuntansi dengan benar.
Ketidak konsistenan hasil penelitian-penelitian terdahulu mengenai faktorfaktor yang mempengaruhi tindak kecurangan akuntansi mendorong peneliti
untuk melakukan pengujian lebih lanjut mengenai hal itu. Penelitian ini dilakukan
untuk menggali presepsi para Accounting Departement dan Manajer pada
Perusahaan Jasa Perhotelan di Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat untuk
mengetahui kecenderungan kecurangan akuntansi dan faktor-faktor yang
mempengaruhinya. Berbeda dengan penelitian sebelumnya dalam penelitian ini
memfokuskan pengendalian internal dan kesesuaian kompensasi, asimetri

informasi dan ketaatan aturan

akuntansi sebagai faktor yang mempengaruhi

kecurangan akuntansi.
Berdasarkan latar belakang masalah, maka penulis tertarik mengambil
penelitian dengan judul Pengaruh Pengendalian Internal dan Kesesuaian
Kompensasi, Asimetri Informasi dan Ketaatan Aturan Akuntansi terhadap
Kecurangan Akuntansi pada Perusahaan Jasa Perhotelan di Kota Mataram
dan Kabupaten Lombok Barat.
1.2

Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka masalah dalam penelitian ini

adalah :
1. Apakah pengaruh pengendalian internal, kesesuaian kompensasi, asimetri
informasi dan ketaatan aturan akuntansi terhadap kecurangan akuntansi?
1.3

Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah di atas, maka tujuan

yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:


1. Menguji secara empiris pengaruh pengendalian internal, kesesuaian
kompensasi, asimetri informasi dan ketaatan aturan akuntansi terhadap
kecurangan akuntansi

1.4

Manfaat Penelitian
Melalui penelitian ini diharapkan dapat diambil manfaat sebagai berikut :
1. Secara Akademik adalah untuk memenuhi salah satu syarat untuk mencapai
kebulatan studi program strata satu (S1) pada Fakultas Ekonomi Universitas
Mataram.
2. Secara teoritis adalah untuk memberikan manfaat dalam bidang akuntansi
khususnya dalam hal pengendalian internal, kesesuaian kompensasi, asimetri

informasi dan ketaatan aturan terhadap akuntansi kaitannya dengan


kecurangan akuntansi
3. Secara Praktis hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi
informasi bagi penelitian selanjutnya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Penelitian Terdahulu
Terdapat beberapa penelitian terdahulu yang melandasi penelitian ini.

Penelitian yang dilakukan oleh Mayangsari dan Wilopo (2002) yang meneliti
Pengaruh Pengendalian Internal Dan Perilaku Tidak Etis Terhadap
Kecenderungan

Kecurangan Akuntansi. Menemukan bahwa pengendalian

internal dan perilaku tidak etis berpengaruh terhadap kecenderungan kecurangan


akuntansi.
Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Wilopo (2006) dengan judul
Analisa Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Kecenderungan
Kecurangan Akuntansi (Studi Pada Prusahaan Publik Dan Badan Usaha

Milik Nagara). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prilaku tidak etis
serta

kecenderungan

mempengaruhinya.

kecurangan

Variabel

akuntansi

independen

serta

dalam

faktor-faktor

penelitian

ini

yang
adalah

pengendalian internal, kesesuaian kompensasi, ketaatan aturan akuntansi,


asimetri informasi, sedangkan variabel dependen dalam penelitian ini adalah
prilaku tidak etis dan kecenderungan kecurangan akuntansi. Data populasi
diperoleh dari Bursa Efek Jakarta, Badan Pengawas Pasar Modal, dan Asosiasi
Emiten Indonesia, serta Kementrian BUMN. Populasi berjumlah 477 yang
dikelompokkan dalam sembilan sektor usaha. Penentuan sampel dilakukan
dengan random sampling sehingga diperoleh 161 sampel. Penelitian ini
menunjukkan bahwa pengendalian internal yang efektif, ketaatan aturan
akuntansi, moralitas manajemen, serta asimetri informasi berpengaruh signifikan
dan negatif terhadpa prilaku tidak etis manajemen dan kecenderungan
kecurangan akuntansi. Pada penelitian ini juga menunjukkan bahwa kesesuaian
kompensasi memberikan pengaruh yang tidak signifikan terhadap kecendrungan
kecurangan akuntansi pada perusahaan terbuka dan BUMN di Indonesia.
Penelitian yang dilakukan Thoyibatun (2008) yang meneliti Pengaruh
Pengendalian internal Dan Sistem Kompensasi Terhadap Perilaku Tidak Etis
Dan Kecenderungan Kecurangan Akuntansi. Dengan menambah sistem
pengukuran dengan menggunakan COSO (The Committee of Sponsoring
Organizations)

menemukan

bahwa

keefektifan

pengendalian

internal

berpengaruh negatif terhadap perilaku tidak etis dan kecenderungan kecurangan


akuntansi lain halnya dengan sistem kompensasi. Pada penelitian ini ditemukan

bahwa sistem kompensasi tidak memiliki pengaruh terhadap perilaku tidak etis
dan berpengaruh positif terhadap kecenderungan akuntansi.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Mohammad (2011) dengan judul
Analisis Pengaruh Pengendalian internal, Presepsi Kesesuaian Kompensasi,
Moralitas Manajemen terhadap Prilaku Etis dan Kecurangan Akuntansi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh pengendalian internal,
kompensasi, moralitas manajemen terhadap prilaku etis dan kecurangan
akuntansi. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif
dengan pendekatan studi kasus pada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Data
diperoleh dari laporan keuangan dan laporan pertanggungjawaban Pemerintah
Provinsi Jawa Tengah, selanjutnya data dioleh dengan menggunakan analisis
regresi berganda. Analisis koefisien determinasi digunakan untuk mengetahui
besarnya pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen, kemudian
ditarik kesimpulan dari hipotesis yang diajukan dengan menggunakan uji t.
Penelitian yang dilakukan sekarang merupakan replikasi dari penelitian
terdahulu yaitu Wilopo (2006) yang

memiliki tujuan yang sama untuk

mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kecurangan akuntansi, namun pada


penelitian ini lebih memfokuskan pada faktor pengendalian internal, kesesuaian
informasi dan asimetri informasi. Kecurangan umumnya terjadi karena adanya
tekanan untuk melakukan penyelewengan atau dorongan untuk memanfaatkan
kesempatan yang ada, salah satu penyebabnya adalah karena rendahnya
kompensasi yang diberikan, rendahnya kompensasi yang diterima memotivasi
seseorang untuk mengambil jalan pintas dengan melakukan kecurangan

10

(Suhermadi, 2009). Meminimalisir kecurangan akuntansi tersebut dibutuhkan


pengendalian internal sebagai suatu struktur organisasi, metode dan ukuranukuran yang dikoordinasikan untuk menjaga kekayaan organisasi, mengecek
ketelitian dan keandalan akuntansi, mendorong efisiensi dan mendorong
dipatuhinya kebijakan manajemen (Mulyadi,2002). Creative Accounting menurut
Amat et al., (1999) adalah sebuah proses dimana beberapa pihak menggunakan
kemampuan pemahaman pengetahuan akuntansi (termasuk didalamnya standar,
teknik dsb.) dan menggunakannya untuk memanipulasi pelaporan keuangan.
Creative accounting sangat mungkin dilakukan oleh manajemen, karena
manajemen dengan asimetri informasi yang dimilikinya akan leluasa untuk
memilih alternatif metode akuntansi. Manajemen akan memilih metode akuntansi
tertentu jika terdapat insentif dan motivasi untuk melakukannya. Cara yang paling
sering digunakan adalah dengan merekayasa laba (Earning Management), karena
laba seringkali menjadi fokus perhatian para pihak eksternal yang berkepentingan.
Bila terjadi asimetri informasi, manajemen perusahaan akan menyajikan laporan
keuangan yang bermanfaat bagi mereka, demi motivasi untuk memperoleh
kompensasi bonus yang tinggi, mempertahankan jabatan dan lain-lain (Khang,
2002). Demikian pula, bila terjadi asimetri informasi, manajemen perusahaan
membuat bias atau memanipulasi laporan keuangan sehingga dapat memperbaiki
kompensasi dan reputasi

manajemen, serta rasio-rasio keuangan perusahaan

(Scott, 2003:13). Faktor-faktor yang mendorong perusahaan untuk menyediakan


informasi laporan

keuangan adalah kekuatan pasar serta kekuatan regulasi

(Foster, 1986: 24-45). Regulasi

ini mensyaratkan perusahaan untuk

11

menyampaikan laporan keuangan yang disusun

sesuai aturan atau standar

akuntansi kepada para pihak yang membutuhkan. Wolk and Tearney (1997: 9395) menjelaskan bahwa kegagalan penyusunan laporan keuangan

yang

disebabkan karena ketidaktaatan pada aturan akuntansi, akan menimbulkan


kecurangan perusahaan yang tidak dapat dideteksi oleh para auditor. Berbeda dari
penelitian Wilopo (2006) yaitu terletak pada objek penelitian dan penentuan
sampel. Penelitian ini dilakukan dengan memberikan angket kepada bagian
Accounting Departement dan Manajer dalam sebuah perusahaan jasa Perhotelan
di Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat dan menggunakan teknik
penentuan sampel dilakukan dengan menggunakan Purposive Sampling.

2.2

Tinjauan Teoritis

2.2.1 Teori Atribusi


Teori atribusi dikembangkan oleh Kelley (1967), kemudian Green serta
Mitchell (1979). Mereka berpandangan bahwa perilaku kepemimpinan disebabkan
oleh atribut penyebab. Jadi teori kepemimpinan atribut menjelaskan mengapa
perilaku kepemimpinan terjadi. Teori atribusi dikembangkan dengan beberapa
pendapat berikut:
a. Teori Kepemimpinan Karismatik
Teori atribusi ikut menjelaskan kepemimpinan karismatik. Para pengikut
membuat atribut pada pemimpin yang heroik atau yang memiliki kemampuan
yang luar biasa yang mereka amati dan dapati.
b.

Teori Kepemimpinan Transaksional

12

Para pemimpin transaksional, adalah pemimpin yang membimbing atau


mendorong bawahan mereka mengarah pada tujuan yang telah diletakkan, dengan
cara menjelaskan peranan dan tugas yang dipersyaratkan.
c.

Teori Kepemimpinan Transformasional


Terdapat juga para pemimpin yang transformasional. Teori ini melihat

pemimpin yang menyediakan pertimbangan individual dan stimulasi intelektual


serta mereka yang memiliki karisma (Waworuntu, 2003).

Semua pandangan, model, dan teori di atas tidak terlepas dari perilaku orang
dalam organisasi, yaitu perilaku pimpinan dan perilaku bawahan. Jadi
kepemimpinan tidak terlepas dari cara berpikir, berperasaan, bertindak, bersikap,
dan berperilaku dalam kerja di sebuah organisasi dengan bawahannya atau orang
lain (Waworuntu, 2003).
Tindakan atau keputusan yang diambil oleh pemimpin ataupun orang yang
diberikan wewenang

disebabkan oleh atribut penyebab. Termasuk tindakan

kecurangan yang terjadi. Faktor-faktor seperti pengendalian internal dan


kompensasi merupakan beberapa faktor yang menjadi penyebab

terjadinya

kecurangan tersebut.

2.2.2 Teori Keagenan


Teori Keagenan (Agency theory) merupakan basis teori yang
mendasari praktik bisnis perusahaan yang dipakai selama ini. Teori keagenan
memegang peranan penting dalam menjelaskan hubungan antara principal dan

13

agent dalam menjalankan fungsi dan wewenang masing-masing. Konflik


keagenan yang muncul karena perbedaan kepentingan akan membawa pada
masalah-masalah diantara berbagai pihak yang terlibat (Jansen dan Meckling,
1976)
Teori agensi mengasumsikan bahwa semua individu bertindak atas
kepentingan mereka sendiri. Jensen dan Meckling (1976) juga menyatakan
hubungan keagenan muncul ketika satu atau lebih individu (principal)
memperkerjakan individu lain (agent) untuk memberikan suatu jasa dan
kemudian mendelegasikan kekuasaan kepada agen untuk membuat suatu
keputusan atas nama principal tersebut. Dasar perlu praktik pengungkapan
laporan keuangan oleh manajemen kepada pemegang saham dapat dijelaskan
melalui teori keagenan tersebut. Hubungan keagenan mewajibkan agent
memberikan laporan periodik pada principal tentang usaha yang dijalankan pada
principal akan menilai kinerja agennya melalui laporan keuangan yang
disampaikan kepadanya. Oleh karena itu, dalam hubungan keagenan tersebut,
laporan keuangan merupakan sarana transparansi dan akuntabilitas manajemen
(agent) kepada pemiliknya (principal)
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa teori keagenan
merupakan teori dasar yang mendasari praktik bisnis perusahaan yang
memegang peranan penting dalam menjelaskan hubungan antara principal
(pemilik) dan agent (manajemen) dalam menjalankan fungsi dan wewenang
masing-masing. Konflik keagenan yang muncul karena perbedaan kepentingan
akan membawa pada masalah-masalah diantara berbagai pihak yang terlibat.
Sehingga teori keagenan (agency theory) dapat mengimplikasikan adanya

14

asimetri informasi antara manajer sebagai agent dan pemilik sebagai principal.
Begitu pula yang terdapat di hotel yang mengimpilkasikan adanya asimetri
informasi antara manajer dan pemilik hotel yang akan memunculkan konflik
keagenan

2.2.3 Struktur pengendalian Intern


Struktur pengendalian intern sebagai suatu tipe pengawasan diperlukan
karena adanya keharusan mendelegasikan wewenang dan tanggung jawab dalam
suatu organisasi. Seorang manajer/pemilik perusahaan yang merasa tidak
memiliki cukup waktu dan kemampuan untuk mengelola sendiri semua kegiatan
perusahaannya, akan mendelegasikan wewenang dan tanggung jawabnya kepada
orang lain. Tetapi bersamaan dengan atau segera setelah pemilik perusahaan
mendelegasikan wewenang dan tanggung jawabnya, pada saat itu pula dirasakan
suatu kebutuhan untuk senantiasa mengawasi pelaksanaan kegiatan dan hasil-hasil
yang dicapai oleh para fungsionaris tersebut.

2.2.3.1 Pengertian Pengendalian Intern


Pengendalian intern atau kontrol intern dalam teori akuntansi dan
organisasi, didefinisikan sebagai suatu proses, yang dipengaruhi oleh sumber daya
manusia dan sistem teknologi informasi, yang dirancang untuk membantu
organisasi mencapai suatu tujuan atau objektif tertentu. Pengendalian intern
merupakan suatu cara untuk mengarahkan, mengawasi, dan mengukur sumber
daya suatu organisasi. Ia berperan penting untuk mencegah dan mendeteksi

15

penggelapan (fraud) dan melindungi sumber daya organisasi baik yang berwujud
(seperti mesin dan lahan) maupun tidak (seperti reputasi atau hak kekayaan
intelektual seperti merek dagang).
Pengendalian intern dapat dibedakan ke dalam arti yang sempit dan dalam
arti luas menurut Hartanto (1979:51) yaitu sebagai berikut:
Arti sempit : pengendalian intern disamakan dengan Internal Check
yang merupakan prosedur-prosedur mekanisme untuk memeriksa ketelitian dari
data-data administrasi, seperti mencocokkan penjumlahan horizontal dengan
penjumlahan vertikal.
Arti luas: pengendalian intern dapat disamakan dengan Management
Control yaitu suatu sistem yang meliputi semua cara-cara yang digunkaan oleh
pimpinan perusahaan untuk mengawasi/mengendalikan perusahaan. Dalam
pengertian pengendalian intern meliputi: struktur organisasi, formulir-formulir
dan prosedur pembukuan dan laporan (administrasi), budget dan standar
pemeriksaan intern dan sebagainya.
Maka dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa, sistem pengendalian
intern merupakan suatu sistem yang terdiri dari berbagai macam unsur dengan
tujuan untuk melindungi harta benda, meneliti ketetapan dan seberapa jauh dapat
dipercayainya data akuntansi, mendorong efisien dan operasi dan menunjang
dipatuhinya kebijaksanaan pimpinan.

2.2.3.2 Komponen Pengendalian Intern

16

Pengendalian (control) internal memerlukan komponen kontrol internal


dalam menunjang pencapaian tujuan. Menurut The Committee of Sponsoring
Organizations (COSO) of the Treadway Commission yang dikutip oleh Amin
(2000) penegndalian internal terdiri dari lima komponen:
A. Lingkungan Pengendalian
Inti dari Bisnis apapun adalah orang-orangnya, ciri-ciri perorangan,
termasuk integritas, nilai-nilai etika dan kompetensi serta lingkungan
tempat beroperasi. Mereka adalah mesin yang mengemudikan organisasi
dan dasar segala hal terletak. Lingkungan pengendalian terdiri dari faktorfaktor berikut: (1) Komitmen atas integritas dan nilai-nilai etika, (2)
Filosofi

pihak

manajemen

dan

gaya

operasinya,

(3)

Struktur

organisasional, (4) Badan audit dan dewan komisaris (5) Metode untuk
memberikan otoritas dan tanggung jawab, (6) Kebijakan dan praktikpraktik dalam sumber daya manusia, (7) Pengaruh-pengaruh eksternal.
B. Aktivitas Pengendalian
Kebijakan dan prosedur pengendalian harus dibuat dan
dilaksanakan untuk membantu memastikan bahwa tindakan yang
diidentifikasi oleh pihak manajemen untuk mengatasi resiko pencapaian
tujuan organisasi, secara efektif dijalankan. Secara umum prosedurprosedur pengendalian tersebut adalah : (1) Otorisasi transaksi dan
kegiatan yang memadai, (2) Pemisahan tugas, (3) Desain dan penggunaan
dokumen serta catatan yang memadai, (4) Penjagaan asset dan catatan
yang memadai, (5) Pemeriksaan independen atas kinerja
C. Penilaian Resiko

17

Organisasi harus sadar akan resiko dan berurusan dengan resiko


yang dihadapnya. Organisasi harus menempatkan tujuan, yang terintegrasi
dengan penjualan, produksi, pemasaran, keuangan dan kegiatan lainnya,
agar organisasi beroperasi secara harmonis. Organisasi juga harus memuat
mekanisme untuk mengidentifikasi, menganalisis dan mengelola resiko
yang terkait. Akuntan memainkan peranan penting dalam membantu
manajemen mengontrol Bisnis dengan mendesain sistem pengendalian
yang efektif, dan mengevaluasi sistem yang ada untuk memastikan bahwa
sistem tersebut berjalan dengan efektif.
D. Informasi dan Komunikasi
Aaktivitas

pengendalian

terdapat

sistem

informasi

dan

komunuikasi. Mereka memungkinkan orang-orang dalam organisasi


mendapat dan bertukar informasi yang dibutuhkan untuk melaksanakan,
mengelola dan mengendalikan operasinya. Akuntan harus memahami
bagaimana (1) transaksi diawali, (2) data didapat dalam bentuk yang dapat
dibaca oleh mesin, (3) file komputer diakses dan diperbaruhi, (4) data
diproses untuk mempersiapkan sebuah informasi, dan (5) informasi
dilaporkan ke para pemakai internal dan pihak eksternal.
E. Pengawasan
Seluruh proses harus diawasi, dan perubahan dapat dilakukan
sesuai kebutuhan. Melalui cara ini sistem dapat bereaksi secara dinamis,
berubah sesuai tuntutan keadaan. Komponen pemantau atau pengawasan
dijelaskan dalam COSO untuk memastikan kehandalan sistem dan
internal kontrol dari waktu ke waktu. Pengawasan merupakan proses

18

yang menilai kualitas dari kinerja sistem dan internal control dari waktu
ke waktu, yang dilakukan dengan melakukan aktivitas monitoring dan
melakukan evaluasi secara terpisah.

2.2.3.3 Tujuan Struktur Pengendalian Intern


Agar dapat mewujudkan tujuan perusahaan dengan langkah-langkah yang
efisien maka perusahaan harus menerapkan suatu pengendalian intern yang dapat
memberikan manfaat yang menyeluruh tanpa mengurangi fungsi bagian-bagian
yang ada dalam perusahaan. Menurut Mulyadi (2002:163) tujuan pengendalian
internal adalah sebagai berikut : (1) Menjaga kekayaan harta milik perusahaan dan
catatan organisasi Kekayaan fisik suatu perusahaan dapat dicuri, disalahgunakan
atau hancur karena kecelakaan kecuali jika kekayaan tersebut dilindungi dengan
pengendalian yang memadai. Begitu juga dengan kekayaan perusahaan yang tidak
memiliki wujud fisik seperti piutang dagang akan rawan oleh kekurangan jika
dokumen penting dan catatan tidak dijaga. (2) Mengecek ketelitian dan kendalan
data akuntansi Manajemen memerlukan informasi keuangan yang teliti dan andal
untuk menjalankan kegiatan usahanya.Banyak informasi akuntansi yang
digunakan oleh manajemenuntuk dasar pengambilan keputusan penting.
Pengendalian intern dirancang untuk memberikan jaminan proses pengolahan data
akuntansi akan menghasilkan informasi keuangan yang teliti dan andal, karena
data akuntansi mencerminkan perubahan kekayaan perusahaan. (3) Mendorong
efisiensi Pengendalian intern ditujukan untuk mencegah duplikasi usaha yang
tidak perlu atau pemborosan dalam segala kegiatan Bisnis perusahaan dan untuk

19

mencegah penggunaaan sumber daya perusahaan yang tidak efisien (4)


Mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen. Mencapai tujuan perusahaan,
manajemen menetapkan kebijakan dan prosedur. Pengendalian intern ini ditujukan
untuk memberikan jaminan yang memadai agar kebijakan manajemen dipatuhi
oleh karyawan.
Mencapai kegunaan dan tujuan pengendalian intern tersebut di atas maka
diperlukan adanya sistem informasi akuntansi yang benar hal ini dapat
memberikan bantuan yang utama terhadap kekayaan perusahaan dengan cara
penyelenggaraan pencatatan aktiva yang baik. Apabila struktur pengendalian
intern suatu perusahaan lemah, maka akan timbul kesalahan, ketidakakuratan serta
kerugian yang cukup besar bagi perusahaan dalam bentuk kecurangan akuntansi.

2.2.4 Kesesuaian Kompensasi


2.2.4.1 Pengertian Kompensasi
Berikut ini adalah definisi kompensasi dari beberapa ahli sebagai berikut :
a. Veithzal (2007:357), Kompensasi merupakan sesuatu yang diterima
karyawan sebagai pengganti kontribusi jasa mereka pada perusahaan.
b. Malayu (2007:117),

Kompensasi adalah semua pendapatan yang

berbentuk uang, barang langsung atau tidak langsung yang diterima


karyawan sebagai imbalan atas jasa yang diberikan kepada perusahaan.
c. Sihotang (2007:220), Kompensasi adalah pengaturan keseluruhan
pemberian balas jasa bagi pegawai dan para menejer baik berupa finansial

20

maupun barang dan jasa pelayanan yang diterima oleh setiap orang
karyawan.
Berdasarkan ketiga pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa
kompensasi adalah kompensasi adalah pendapatan yang diterima karyawan
sebagai balas jasa atas kontribusinya terhadap pencapaian tujuan perusahaan.
Kompensasi digunakan karyawan dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya,
sedangkan dengan dengan kompensasi yang diberikan, perusahaan berharap
karyawan dapat meningkatkan kinerjanya dengan lebih baik serta tercapainya
kepuasan kerja karyawan.

2.2.4.2 Komponen Kompensasi


Pemberian kompensasi merupakan salah satu pelaksanaan fungsi sumber
daya manusia (SDM) yang berhubungan dengan semua jenis pemberian
penghargaan

individual

sebagai

pertukaran

dalam

melakukan

tugas

keorganisasian.
Rivai

(2007:360),

menjelaskan

beberapa

kompenen-komponen

kompensasi sebagai berikut:


a. Gaji adalah balas jasa dalam bentuk uang yang diterima karyawan sebagai
konsekuensi dari kedudukannya sebagai seorang karyawan yang memberikan
sumbangan tenaga dan pikiran dalam mencapai tujuan perusahaan.
b. Upah merupakan imbalan finansial langsung yang dibayarkan kepada
karyawan berdasarkan jam kerja, jumlah barang yang dihasilkan atau
banyaknya pelayanan yang diberikan.

21

c. Insentif

merupakan imbalan langsung yang dibayarkan kepada karyawan

karena kinerjanya melebihi standar yang ditentukan.


d. Kompensasi Tidak Langsung merupakan kompensasi tambahan yang diberikan
berdasarkan kebijakan perusahaan terhadap semua karyawan sebagai upaya
meningkatkan kesejahteraan para karyawan.

2.2.4.3 Kebijakan dalam Pemberian Kompensasi


Mengembangkan kebijakan pemberian kompensasi yang akan digunakan
agar dapat memenuhi kebutuhan organisasi dalam memberikan pembayaran yang
adil kepada karyawan sehingga tujuan organisasi terpenuhi sesuai yang
diharapkan, maka harus ditentukan sistem pemberian kompensasi yang dibuat
berdasarkan prinsip-prinsip penggajian.
Dessler (1998 : 85) mengatakan bahwa untuk menentukan skala gaji/upah
ada empat faktor, antara lain adanya pertimbangan hukum dalam kompensasi,
serikat buruh, kebijakan perusahaan, dan prinsip-prinsip keadilan.
Selain beberapa hal di atas, penting untuk melihat apakah individu yang
menerima kompensasi tersebut merasa puas dengan apa yang diterimanya, karena
ketidakpuasan atas gaji yang mencukupi pada umumnya menimbulkan tingkat
kepuasan kerja yang lebih rendah atas pembayaran dari komponen pekerjaan
tersebut. Hal ini dapat mengakibatkan seseorang bertindak di luar prosedur yang
ditetapkan oleh perusahaan dengan melakukan tindakan-tindakan yang dapat
merugikan pihak perusahaan.

22

2.2.5 Asimetri Informasi


2.2.5.1 Pengertian Asimetri Informasi
Asimetri

informasi terjadi karena adanya pihak yang mempunyai

informasi yang lebih (agent) dibandingkan dengan pihak lain yang dalam hal ini
berarti principal. Agen lebih banyak mempunyai informasi karena lebih banyak
berhubungan langsung dengan perusahaan.

2.2.5.2 Jenis Asimetri Informasi


Menurut Scott (2003:8), terdapat dua macam asimetri informasi yaitu:
1. Adverse selection, yaitu bahwa para manajer serta orang-orang dalam
lainnya biasanya mengetahui lebih banyak tentang keadaan dan prospek
perusahaan dibandingkan investor pihak luar. Dan fakta yang mungkin
dapat mempengaruhi keputusan yang akan diambil oleh pemegang saham
tersebut tidak disampaikan informasinya kepada pemegang saham.
2. Moral hazard, yaitu bahwa kegiatan yang dilakukan oleh seorang manajer
tidak seluruhnya diketahui oleh pemegang saham maupun pemberi
pinjaman. Sehingga manajer dapat melakukan tindakan diluar pengetahuan
pemegang saham yang melanggar kontrak dan sebenarnya secara etika
atau norma mungkin tidak layak dilakukan.

2.2.6 Kecurangan Akuntansi

23

2.2.6.1 Definisi Kecurangan Akuntansi


Menurut Alison (2006) kecurangan (fraud) sebagai bentuk penipuan yang
disengaja dilakukan yang menimbulkan kerugian tanpa disadari oleh pihak yang
dirugikan tersebut dan memberikan keuntungan bagi pelaku kecurangan.
Ikatan Akuntan Indonesia (IAI, 2001) menjelaskan kecurangan akuntansi
sebagai: (1) Salah saji yang timbul dari kecurangan dalam pelaporan keuangan
yaitu salah saji atau penghilangan secara sengaja jumlah atau pengungkapan
dalam laporan keuangan untuk mengelabuhi pemakai laporan keuangan, (2) Salah
saji yang timbul dari perlakuan tidak semestinya terhadap aktiva (seringkali
disebut dengan penyalahgunaan atau penggelapan) berkaitan dengan pencurian
aktiva entitas yang berakibat laporan keuangan tidak disajikan sesuai dengan
prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
Kecurangan umumnya terjadi karena adanya tekanan untuk melakukan
penyelewangan atau dorongan untuk memanfaatkan kesempatan yang ada dan
adanya pembenaran terhadap tindakan tersebut.

2.2.6.2 Karakteristik Kecurangan Akuntansi


Menurut

Simanjuntak (2008), Pengklasifikasian kecurangan dapat

dilakukan dilihat dari beberapa sisi sebagai berikut:


a.

Berdasarkan Pencatatan : kecurangan berupa pencurian aset dapat


dikelompokkan kedalam tiga kategori yaitu pencurian aset yang tampak
secara terbuka pada buku (duplikasi pembayaran), pencurian aset yang
tampak pada buku namun tersembunyi diantara catatan akuntansi yang

24

valid, dan pencurian aset yang tidak tampak pada buku, dan tidak akan
dapat dideteksi melalui pengujian transaksi akuntansi yang dibukukan,
seperti: pencurian uang pembayaran

piutang dagang yang telah

dihapusbukukan
b.

Berdasarkan frekuensi : Pengklasifikasian kecurangan dapat dilakukan


berdasarkan frekuensi terjadinya yaitu (1) tidak berulang (non-repeating
fraud). Dalam kecurangan yang tidak berulang, misalnya pembayaran cek
mingguan karyawan memerlukan kartu kerja mingguan untuk melakukan
pembayaran cek yang tidak benar dan (2) Berulang (repeating fraud).
Dalam kecurangan berulang, tindakan yang menyimpang terjadi beberapa
kali dan hanya diinisiasi/diawali sekali saja, misalnya cek pembayaran gaji
bulanan yang dihasilkan secara otomatis tanpa harus melakukan
penginputan setiap saat. Penerbitan cek terus berlangsung sampai diberikan
perintah untuk menghentikannya.

c.

Berdasarkan keunikan: kecurangan berdasarkan keunikannya dapat


dikelompokkan sebagai berikut: (a) Kecurangan khusus (specialized
fraud), yang terjadi secara unik pada orang-orang yang bekerja pada
operasi Bisnis tertentu. Contoh: (1) pengambilan aset yang disimpan
deposan pada lembaga-lembaga keuangan, seperti: bank, dana pensiun,
reksa dana (disebut juga custodial fraud) dan (2) klaim asuransi yang tidak
benar. (b) Kecurangan umum (garden varieties of fraud) yang semua
orang mungkin hadapi dalam operasi Bisnis secara umum. Misal:
kickback, penetapan harga yang tidak benar, pesanan pembelian/kontrak

25

yang lebih tinggi dari kebutuhan yang sebenarnya, pembuatan kontrak


ulang atas pekerjaan yang telah selesai, pembayaran ganda, dan
pengiriman barang yang tidak benar.
d.

Berdasarkan konspirasi : kecurangan dapat diklasifikasikan sebagai:


terjadi konspirasi atau kolusi, tidak terdapat konspirasi, dan terdapat
konspirasi parsial. Pada umumnya kecurangan terjadi karena adanya
konspirasi, baik bona fide maupun pseudo. Dalam bona fide conspiracy,
semua pihak sadar akan adanya kecurangan; sedangkan dalam pseudo
conspiracy, ada pihak-pihak yang tidak mengetahui terjadinya kecurangan.

2.2.6.3 Unsur-Unsur Kecurangan


Kecurangan dapat memiliki banyak bentuk. Kecurangan dapat diakibatkan
oleh kesalahan representasi yang sengaja-adanya saran bahwa sesuatu hal adalah
benar, padahal sebenarnya tidak, oleh seorang yang tahu bahwa hal tersebut
adalah tidak benar. Pernyataan yang tidak benar yang dinyatakan sebagai fakta
oleh seseorang yang memiliki dasar yang tidak memadai untuk mempercayai
bahwa hal tersebut adalah benar-penutupan fakta oleh seseorang yang diharuskan
untuk mengungkapkannya. Kecurangan juga termasuk janji-janji palsu yang
dibuat dengan maksud untuk tidak akan dipenuhi (Amin, 2011:7).
Unsur-unsur kecurangan legal, ataupun penipuan seperti yang dikenal
menurut hukum secara umum adalah :
1. Representasi yang salah atas fakta yang material ataupun opini dalam
beberapa kasus tertentu;

26

2. Dibuat dengan pengetahuan akan kepalsuannya atau tanpa memiliki cukup


pengetahuan atas subjek untuk dapat memberikan sebuah representasi (sering
dikenal sebagai scienter)
3. Seorang yang bertindak atas representasi tersebut.
4. Sehingga menimbulkan kerugian baginya.

2.2.6.4 Kondisi yang Menyebabkan Terjadinya Kecurangan


Terdapat tiga kondisi yang menyebabkan terjadinya kecurangan dalam
laporan keuangan dan penyalahgunaan asset sebagaimana dijelaskan dalam PSA
70 (SA 316). Terdapat tiga kondisi yang menyebabkan kecurangan, yang
dinamakan dengan segitiga kecurangan (fraud triangle).
1. Insentif / Tekanan. Manajemen atau pegawai lainnya memiliki insentif atau
tekanan untuk melakukan kecurangan
2. Kesempatan. Situasi yang memberikan kesempatan bagi manajemen atau
pegawai untuk melakukan kecurangan
3. Sikap/Rasionalisasi. Adanya suatu sikap, karakter atau seperangkat nilai-nilai
etika yang memungkinkan manajemen atau pegawai untuk melakukan
tindakan yang tidak jujur tersebut.
Sedangkan menurut Simanjuntak (2008), terdapat empat faktor pendorong
seseorang melakukan kecurangan yang disebut juga teori GONE yaitu:
1. Greed (keserakahan)
2. Opportunity (kesempatan)
3. Need (kebutuhan)

27

4. Exposure (pengungkapan)
Faktor Greed dan Need merupakan faktor yang berhubungan dengan
individu pelaku kecurangan (disebut juga faktor individual). Sedangkan faktor
Opportunity dan Exposure merupakan faktor yang berhubungan dengan organisasi
sebagai korban perbuatan kecurangan (disebut juga faktor generik/umum)

2.2.7 Perusahaan Jasa Perhotelan


2.2.7.1 Definisi Hotel
Pengertian hotel, tergantung konteks bahasa yang digunakan. Dalam
konteks legal hukum dapat meninjau peraturan pemerintah terkait dalam
mendefinisikan pengertian hotel. Misalnya Menurut Dirjen Pariwisata, pengertian
hotel adalah suatu jenis akomodasi yang mempergunakan sebagian atau seluruh
bangunan, untuk menyediakan jasa penginapan, makan dan minum, serta jasa
lainnya bagi umum, yang dikelola secara komersial. Selain itu juga dapat
meninjau Surat Keputusan Menteri Perhubungan R.I No. PM 10/PW 301/Phb.
77, tanggal 12 Desember 1977 yang menjelaskan pengertian hotel sebagai suatu
bentuk akomodasi yang dikelola secara komersial, disediakan bagi setiap orang
untuk memperoleh pelayanan penginapan, berikut makan dan minum.
Hotel juga dapat dikatakan suatu bentuk bangunan, lambang, perusahaan
atau badan usaha akomodasi yang menyediakan pelayanan jasa penginapan,
penyedia makanan dan minuman serta fasilitas jasa lainnya dimana semua
pelayanan itu diperuntukkan bagi masyarakat umum, baik mereka yang bermalam

28

di hotel tersebut ataupun mereka yang hanya menggunakan fasilitas tertentu yang
dimiliki hotel itu. (Arfan, 2008: 2)

2.2.7.2 Jenis Hotel


Penentuan jenis hotel tidak terlepas dari kebutuhan pelanggan dan ciri
yang dimiliki wisatwan (Tarmoezi,2000). Berdasarkan hal tersebut, dapat dilihat
dari lokasi dimana hotel tersebut dibangun, sehingga dikelompokkan menjadi:
a.

City Hotel
Hotel yang berlokasi di perkotaan, biasanya diperuntukkan bagi
masyarakat yang bermaksud untuk tinggal sementara (dalam jangka waktu
pendek). City Hotel disebut juga sebagai transit hotel.

b.

Residential Hotel
Hotel yang berlokasi di daerah pinngiran kota besar yang jauh dari
keramaian kota, tetapi mudah mencapai tempat-tempat kegiatan usaha.
Hotel

ini

berlokasi

di

daerah-daerah

tenang,

terutama

karena

diperuntukkan bagi masyarakat yang ingin tinggal dalam jangka waktu


lama.
c.

Resort Hotel
Hotel yang berlokasi di daerah pengunungan (mountain hotel) atau
di tepi pantai (beach hotel), di tepi danau atau di tepi aliran sungai. Hotel
seperti ini terutama diperuntukkan bagi keluarga yang ingin beristirahat
pada hari-hari libur atau bagi mereka yang ingin berekreasi

d.

Motel (Motor Hotel)

29

Hotel yang berlokasi di pinggiran atau di sepanjang jalan raya yang


menghubungan satu kota dengan kota besar lainnya, atau di pinggiran
jalan raya dekat dengan pintu gerbang atau batas kota besar. Hotel ini
diperuntukkan sebagai tempat istirahat sementara bagi mereka yang
melakukan perjalanan dengan menggunakan kendaraan umum atau mobil
sendiri.
e.

Segi Jumlah Kamar Hotel


Menurut Tarmoezi (Tarmoezi,2000:3), dari banyaknya kamar yang
disediakan, hotel dapat dibedakan menjadi :
a. Small Hotel
Jumlah kamar yang tersedia maksimal sebanyak 28 kamar.
b. Medium Hotel
Jumlah kamar yang disediakan antara 28-299 kamar.
c. Large Hotel
Jumlah kamar yang disediakan sebanyak lebih dari 300 kamar.

2.3 Kerangka Konseptual Penelitian


Penelitian ini ditunjukkan untuk melihat pengaruh pengendalian internal,
kesesuaian kompensasi, asimetri informasi, ketaatan aturan akuntansi terhadap
kecenderungan kecurangan akuntansi pada perusahaan jasa Perhotelan di Kota
Mataram dan kabupaten Lombok Barat. Menurut Wilopo (2006) pengendalian
internal yang efektif berpengaruh signifikan dan negatif terhadap kecenderungan
kecurangan akuntansi. Sedangkan Suhermadi (2009) rendahnya kompensasi yang

30

diterima memotivasi seseorang untuk mengambil jalan pintas dengan melakukan


kecurangan. Menurut Scott (2003:8) bila terjadi asimetri informasi, manajemen
perusahaan membuat bias atau memanipulasi laporan keuangan sehingga dapat
memperbaiki kompensasi dan reputasi manajemen, serta rasio-rasio keuangan
perusahaan.

Sehingga

kecenderungan

asimetri

kecurangan

informasi

akuntansi.

berpengaruh

Wolk

and

positif

Tearney

terhadap

(1997:93-95)

menjelaskan bahwa kegagalan penyusunan laporan keuangan yang disebabkan


karena ketidaktaatan pada aturan akuntansi, akan menimbulkan kecurangan
perusahaan yang tidak dapat dideteksi oleh para auditor. Sehingga ketaatan aturan
akuntansi berpengaruh negatif terhadap kecenderungan akuntansi.
Berdasarkan masalah yang dibahas yang dilandasi pada asumsi bahwa
gejala bersifat kausal (sebab akibat), maka kerangka konseptual disusun
berdasarkan paradigm ganda dengan dua variabel independen (Sugiyono, 2010),
di mana variabel independen berpengaruh parsial terhadap variabel dependen.
Kerangka konseptual untuk menggambarkan alur penelitian ini adalah sebagai
berikut:

31

Pengendalian internal (X1)

Kecurangan Akuntansi

Kesesuaian Kompensasi (X2)

(Y)

Asimetri Informasi (X3)


Keterangan :
Pengaruh Simultan
Pengaruh Parsial
2.3

Pengembangan Hipotesis
2.3.1 Pengaruh Pengendalian internal dan Kecurangan Akuntansi
Smith et al., (1997), Beasley (1996), Beasley et al., (2000), Reinstein
(1998), Matsumura (1992), dan Abbot et al., (2002) menyatakan bahwa
pengendalian internal

yang efektif mengurangi kecurangan akuntansi.

Penelitian ini berpendapat bahwa pengendalian

internal yang efektif

mempengaruhi kecurangan akuntansi.


H1: Pengendalian internal berpengaruh terhadap kecurangan akuntansi

2.3.2

Pengaruh Kesesuaian Kompensasi dan Kecurangan Akuntansi


Jensen and Meckling (1976) menjelaskan dalam teori keagenan bahwa

pemberian

kompensasi yang memadai ini membuat agen (manajemen)

bertindak sesuai dengan keinginan dari prinsipal (pemegang saham). Yaitu,


dengan memberikan informasi

sebenarnya tentang keadaan perusahaan.

Pemberian kompensasi ini diharapkan

mengurangi kecurangan akuntansi.

32

Penelitian ini berpendapat bahwa kompensasi yang sesuai akan menurunkan


kecurangan akuntansi.
H2: Kesesuaian kompensasi berpengaruh terhadap kecurangan akuntansi
2.3.3

Pengaruh Asimetri Informasi dan Kecurangan Akuntansi


Bila

terjadi

asimetri

informasi,

manajemen

perusahaan

akan

menyajikan laporan keuangan yang bermanfaat bagi mereka, demi motivasi


untuk memperoleh kompensasi bonus yang tinggi, mempertahankan jabatan
dan lain-lain (Khang, 2002). Demikian pula, bila terjadi asimetri informasi,
manajemen perusahaan membuat bias atau memanipulasi laporan keuangan
sehingga dapat memperbaiki kompensasi dan reputasi

manajemen, serta

rasio-rasio keuangan perusahaan (Scott, 2003:13). Pendapat ini didukung


oleh Albercht (2004: 26-33), Green and Calderon (1999) dan Reinstein (1998)
H3: Asimetri informasi berpengaruh terhadap kecurangan akuntansi

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1

Jenis Penelitian

33

Jenis penelitian yang digunakan adalah asosiatif. Penelitian


asosiatif merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan
antara dua variabel atau lebih. Hubungan yang digunakan dalam penelitian
ini adalah hubungan kausal. Hubungan kausal adalah hubungan yang
bersifat sebab akibat, di mana dalam hubungan ini terdapat variabel yang
mempengaruhi atau variabel independen dan variabel yang dipengaruhi
atau dependen (Sugiyono,2010:36-37)
3.2 Penentuan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada beberapa Perusahaan Jasa Perhotelan
yang ada di Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat. Adapun alasan
penentuan lokasi ini adalah karena daerah tersebut sudah mewakili sampel
yang ada selain itu hotel dijadikan objek penelitian karena pada perusahaan
Jasa Perhotelan telah ada pemisahan yang jelas sebagai badan usaha,
dengan demikian pada perusahaan tersebut telah diterapkan sistem
pengendalian internal, yang sesuai dengan masalah yang diteliti yaitu
mengenai pengaruh pengendalian internal dan kesesuaian kompensasi
terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi. Adapun alasan lain dipilih
perusahaan jasa perhotelan ini adalah adanya asimetri informasi
memungkinkan adanya konflik yang terjadi antara principal dan agent
untuk saling mencoba memanfatkan pihak lain untuk kepentingan sendiri
sehingga dibutuhkan ketaatan aturan akuntansi yang akan mempengaruhi
kecurangan akuntansi.
3.3 Populasi dan Sampel
3.3.1 Populasi

34

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek


yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh
peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono,
2010:61). Populasi dalam penelitian ini adalah Perusahaan Jasa Perhotelan
yang ada di kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat yaitu sebanyak
171 Hotel
3.3.2 Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki
oleh populasi tersebut (Sugiyono,2010:62). Penentuan sampel pada
penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Purposive Sampling.
Purposive Sampling merupakan salah satu teknik pengambilan sampel non
probabilitas, di mana teknik penentuan sampel di lakukan berdasarkan
pertimbangan atau kriteria yang di sesuaikan dengan tujuan penelitian

1.

( Sugiyono, 2010:68).
Adapun Kriteria sampel yang digunakan adalah sebagai berikut :
Perusahaan Jasa Perhotelan yang terdaftar di Dinas Kebudayaan dan

2.

Pariwisata Kabupaten Lombok Barat dan Mataram


Perusahaan-perusahan Jasa perhotelan yang termasuk dalam Hotel
Berbintang yaitu dari hotel bintang 1 sampai 5 dan Hotel Melati yang

3.

tergolong hotel menengah (medium).


Perusahaan-perusahan Jasa perhotelan yang memiliki bagian Accounting
departemen

Kriteria

Jumlah

Perusahaan Jasa Perhotelan yang terdaftar di


Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab.Lobar dan
Mataram

171

35

Perusahaan-perusahan Jasa perhotelan yang tidak


termasuk dalam Hotel Berbintang dan tidak

29

tergolong hotel melati menengah (medium).


Hotel yang tidak memiliki Bagian Accounting
1
Departemen
Jumlah

41

Berdasarkan pertimbangan pembatasan objek penelitian maka


penentuan sampel yang dituju dalam penelitian ini adalah manajer dan
bagian akuntansi pada perusahaan jasa perhotelan dengan total sampel
sebanyak 41 hotel di kota Mataram dan Lombok Barat.
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
kuesioner yang diantar dan diambil sendiri oleh peneliti. Kuesioner merupakan
pengumpulan data penelitian dimana pertanyaan peneliti dan jawaban responden
dapat dikemukakan secara tertulis. Teknik ini memberikan tanggung jawab
kepada responden untuk membaca dan menjawab pertanyaan (Indriantoro dan
Supomo, 2002:154).

3.5 Metode Pengumpulan Data


Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
metode survey. Metode survey merupakan teknik pengumpulan data primer yang
menggunakan pertanyaan lisan atau tertulis. Teknik ini memerlukan adanya

36

kontak/hubungan antara peneliti dan subjek (responden) penelitian untuk


memperoleh data yang diperlukan (Indriantoro dan Supomo, 2002:152).

3.6 Jenis dan Sumber Data


3.6.1 Jenis Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data
kuantitatif adalah data yang berbentuk angka atau data kualitatif yang diangkakan
yang diperoleh dari nilai skor dalam skala likert dari jawaban responden dalam
pengisian kuesioner berupa pendapat tentang kecurangan akuntansi dan faktorfaktor yang mempengaruhi (Indriantoro dan Supomo, 2002:36).
3.6.2 Sumber data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data
primer merupakan sumber data penelitian yang diperoleh secara langsung
dari sumber atau tempat di mana penelitian dilakukan (Indriantoro dan
Supomo, 2002:146). Dalam penelitian ini, data primer diperoleh dengan
metode angket (kuesioner) yang ditujukan kepada responden, yaitu para
Accounting Dapartemen dan Manajer.
.
3.7

Istrumen Penelitian
Istrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
kuesioner hasil replikasi dari penelitian terdahulu, yaitu penelitian Wilopo
(2006). Setiap pertanyaan dalam kuesioner di ukur dengan menggunakan
skala likert, yaitu metode yang mengukur sikap, pendapat, dan presepsi
seseorang atau sekelompok orang dengan menyatakan setuju atau ketidak
setujuaannya terhadap objek, subjek atau kejadiaan tertentu. (Sugiyono,
2010:222)

37

Skor 1
Skor 2
Skor 3
Skor 4
Skor 5
3.8
1.
2.
3.
4.
3.9

1.

:
:
:
:
:

Format skala likert tersebut adalah sebagai berikut :


Sangat Setuju (SS)
Setuju (S)
Netral (N)
Tidak Setuju (TS)
Sangat Tidak Setuju (STS)

Identifikasi Variabel
Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
Pengendalian internal
Kesesuaian kompensasi
Asimetri Informasi
Kecurangan akuntansi
Klasifikasi Variabel
Berdasarkan identifikasi variabel di atas maka variabel tersebut
dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
Variabel Independen (variabel bebas) adalah variabel yang nilainya tidak
dipengaruhi oleh perubahan variabel lain. Variabel independen dalam
penelitian ini yaitu pengendlaian internal (X1), kesesuaian kompensasi (X2),

2.

dan Asimetri Informasi (X3)


Variabel Dependen (variabel terikat) adalah variabel yang nilainya
dipengaruhi oleh perubahan variabel lain. Variabel independen dalam
penelitian ini yaitu kecurangan akuntansi

3.10 Definisi Operasional Variabel


Variabel yang telah diidentifikasi perlu diberikan definisi secara
operasional untuk memperjelas arah penelitian. Berikut ini adalah definisi
operasional masing-masing variabel :
1.

Kecurangan Akuntansi (Y) didefinisikan sebagai : (1) Salah saji yang


timbul dari kecurangan dalam pelaporan keuangan yaitu salah saji atau
penghilangan secara sengaja jumlah atau pengungkapan dalam laporan

38

keuangan untuk mengelabuhi pemakai laporan keuangan, (2) Salah saji


yang timbul dari perlakuan tidak semestinya terdapat aktiva (seringkali
disebut dengan penyalahgunaan dan penggelapan) berkaitan dengan
pencurian aktiva entitas yang berakibat laporan keuangan tidak disajikan
sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
Pengukuran ini memiliki lima item pertanyaan yang diadopsi oleh Wilopo
(2006) dari pertanyaan yang dikembangkan oleh peneliti dari SPAP IAI,
1)

2001. Adapun indikator sebagai berikut:


Kecurangan untuk melakukan manipulasi, pemalsuan, atau perubahan

2)

catatan akuntansi atau dokumen pendukungnya


Kecurangan untuk melakukan penyajian yang salah atau penghilangan

3)

peristiwa, transaksi, atau informasi yang signifikan dari laporan keuangan


Kecurangan untuk melakukan salah menerapkan prinsip akuntansi secara

4)

sengaja
Kecurangan untuk melakukan penyajian laporan keuangan yang alah akibat
pencurian (penyalahgunaan/penggelapan) terhadap aktiva yang membuat

5)

entitas membayar barang/jasa yang tidak diterima.


Kecurangan untuk melakukan penyajian laporan keuangan yang salah akibat
perlakuan yang tidak semestinya terdapat aktiva dan disertai dengan catatan
atau dokumen palsu dan dapat menyangkut satu atau lebih individu di antara
manajemen, karyawan, atau pihak ketiga.
Pengukuran menggunakan skala likert 1 (sangat setuju)
sampai 5 (sangat tidak setuju)

2.

Pengendalian Intern (X1) adalah suatu proses yang dijalankan oleh dewan
komisaris, manajemen dan personel lain entitas yang didesain untuk
memberikan keyakinan memadai tentang pencapaian tiga golongan berikut:

39

(a) keandalan pelaporan keuangan, (b) efektivitas dan efisiensi operasi, (c)
ketaatan aturan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku. Pengukuran
ini memiliki lima item pertanyaan yang dikembangkan oleh peneliti dari
IAI (2001), yang diadopsi oleh Wilopo (2006). Adapun indikator sebagai
1)
2)
3)
4)
5)

berikut :
Penerapan wewenang dan tanggungjawab
Pencatatan transaksi
Pengendalian fisik
Sistem akuntansi
Pemantauan dan evaluasi
Pengukurannya menggunakan skala likert 1 (sangat setuju) sampai
5 (sangat tidak setuju)

3.

Kompensasi (X2) adalah setiap bentuk pembayaran atau imbalan yang


diberikan kepada seseorang dalam bentuk pembayaran keuangan secara
langsung (upah, gaji, insentif, komisi dan bonus) dan pembayaran
keuangan tidak langsung (asuransi dan uang liburan). Pengukuran ini
memiliki enam item pertanyaan yang diadopsi oleh Wilopo (2006) dari

1)
2)
3)
4)
5)
6)

kuesioner Gibson 1997. Adapun indikator sebagai berikut:


Kompensasi keuangan
Pengakuan perusahaan atas keberhasilan dalam melaksanakan pekerjaan
Promosi
Penyelesaian tugas
Pencapaian sasaran
Pengembangan pribadi
Pengukurannya menggunakan skala likert 1 (sangat setuju) sampai
5 (sangat tidak setuju)

4.

Asimetri Informasi (X3) terjadi karena adanya pihak yang mempunyai


informasi yang lebih (agen) dibandingkan dengan pihak lain yang dalam
hal ini berarti principal. Agen lebih banyak mempunyai informasi karena

40

lebih banyak berhubungan langsung dengan perusahaan. Menurut Scott


(2000), terdapat dua macam asimetri informasi yaitu: (a) Adverse
Selection, dan (b) Moral Hazard. Pengukuran ini memiliki enam item
pertanyaan yang dikembangkan oleh peneliti dari Dunk (1993), yang
1)

diadopsi oleh Wilopo (2006). Adapun indikator sebagai berikut :


Situasi dimana manajemen memiliki informasi yang lebih baik atas
aktivitas yang menjadi tanggungjawabnya di banding pihak luar

2)

perusahaan.
Situasi dimana manajemen lebih mengenal hubungan input-output dalam

3)

bagian yang menjadi tanggungjawabnya dibanding pihak luar perusahaan


Situasi dimana manajemen lebih mengetahui potensi kinerja yang menjadi

4)

tanggungjawabnya dibanding pihak luar perusahaan


Situasi dimana manajemen lebih mengenal teknis pekerjaan yang menjadi

5)

tanggung jawabnya dibanding pihak luar perusahaan.


Situasi dimana manajemen lebih mengetahui pengaruh faktor eksternal
dalam bidang yang menjadi tanggungjawabnya dibanding pihak luar

6)

perusahaan
Situasi dimana manajemen lebih mengerti apa yang dapat dicapai dalam
bidang yang menjadi tanggungjawabnya dibanding pihak luar perusahaan
Pengukurannya menggunakan skala likert 1 (sangat setuju) sampai
5 (sangat tidak setuju)

3.11 Prosedur Analisis Data


3.11.1 Uji Kualitas Data
3.11.1.1 Uji Validitas
Uji validitas digunakan sah atau valid atau tidaknya suatu
kuisioner. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner
mampu untuk mengungkapkan suatu yang akan di ukur oleh kuesioner

41

tersebut. Teknik yang digunakan dalam mengukur validitas pertanyaanpertanyaan kuesioner adalah korelasi Product Moment dari Karl Pearson
dengan ketentuan : jika r hitung lebih besar dari r tabel maka skor butir
pertanyaan-pertayaan valid tetapi sebaliknya jika r hitung lebih kecil dari r
tabel maka skor butir pertanyaan-pertanyaan tidak valid (Ghozali, 2006:45)
3.11.1.2 Uji Reliabilitas
.
Suatu kuesioner dikatakan realibel atau andal jika jawaban
seseorang terhadap pertanyaan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke
waktu (Ghozali, 2006:41). Pengujian reliabilitas

dilakukan untuk

mengetahui apakah jawaban yang diberikan responden dapat dipercaya atau


dapat diandalkan dengan menggunakan analisis reliability melalui metode
Cronbach Alpha, di mana suatu instrument dikatakan reliabel bila memiliki
koefisien keandalan atau alpha > 0,6 (Ghozali, 2006:41).
3.11.2 Uji Asumsi Klasik
Asumsi klasik

yang

digunakan

adalah

asumsi

klasik

heterokedastisitas, multikolienaritas, dan normalitas. Dalam literatur


ekonometrika dikemukakan beberapa asumsi klasik yang harus dipenuhi
oleh suatu model regresi agar model regresi tersebut dapat dipakai. Uji
1.

asumsi klasik tersebut antara lain adalah:


Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model
regresi variabel independen dan dependen, keduanya mempunyai distribusi
normal. Pengujian normalitas data dilakukan dengan menggunakan One
Sample Kolmogrovsmirnov Test, dengan membandingkan Asymptotic
Significance dengan a=5 %. Data dikatakan berdistribusi normal jika nilai

42

Asymptotic Significance-nya > 0,05 dan sebaliknya jika nilai Asymptotic


Significance < 0,05 maka data mempunyai distribusi tidak normal (Ghozali,
2006:110).
2.

Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas dapat dideteksi pada model regresi apabila
variabel terdapat pasangan variabel bebas yang saling berkorelasi kuat satu
sama lain. Mendeteksi ada tidaknya multikolinearitas, yaitu dengan
menganalisis matriks korelasi variabel-variabel independen yang dapat
dilihat melalui Variance Inflation Faktor (VIF).

Nilai VIF yang bisa

ditoleransi adalah < 0,10 atau sama dengan nilai VIF > 0,10 menunjukkan
adanya multikolinearitas. (Ghozali, 2006:91-92).
3.

Uji Heteroskedastisitas
Uji heterokedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam
model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan
ke

pengamatan

homoskedastisitas

yang

lain.

Model

regresi

yang

baik

atau

tidak

terjadi

heteroskedastisitas.

adalah

Pengujian

heteroskedastisitas dalam penelitian ini dilakukan dengan metode Glejser


test (Ghozali, 2006:105-109).

3.11.3 Analisis Kuantitatif


3.11.3.1
Analisis Regresi Linear Berganda
Menurut Sugiyono (2010:275), analisis regresi linear berganda
digunakan oleh peneliti bila peneliti bermaksud meramalkan bagaimana

43

keadaan (naik turunnya) variabel dependen bila dua variabel independen


sebagai faktor prediktor dimanipulasi (di naik turunkan nilainya). Model
analisis regresi berganda yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah
sebagai berikut :
Di mana :
= Kecenderungan Akuntansi
= Konstanta
= Koefisien regresi untuk X1
= Pengendalian internal
= Koefisien regresi untuk
= Keseuaian Kompensasi
= Koefisien regresi untuk X3
= Asimetri informasi

= Error
Penelitian ini menggunakan Software Program SPSS Version 16,0
For Windows, dan semua hasil output data yang dihasilkan kemudian
diinterpretasikan satu per satu termasuk di dalamnya koefisien korelasi (R)
untuk mengukur tingkat hubungan antara variabel bebas dan variabel
terikat dan koefisien determinasi (R2) untuk mengukur pengaruh antara
variabel bebas dan terikat.

3.11.3.2

Analisis Koefisien Determinasi (R2)

44

Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh


kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai
koefisien determinasi berada di antara nol dan satu. Nilai R 2 yang kecil
berarti kemampuan

variabel variabel independen dalam menjelaskan

variabel dependen amat terbatas.

Nilai yang mendekati satu berarti

variabel-varibel independen memberikan hampir semua informasi yang


dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen. Besarnya nilainilai koefisien Determinasi dapat dicari dengan mengkuadratkan nilai
koefisien korelasinya, karena variabel yang diteliti lebih dari satu maka
digunakan koefisien korelasi Berganda dengan rumus sebagai berikut :
(Ghozali, 2006:83).

Di mana :
ry 1,2,3,4 = Merupakan Koefisien korelasi Y dengan Variabel X 1 (Pengendalian
intern), X2 (Kesesuaian Kompensasi), X3 (Asimetri Informasi)
3.11.4 Uji Hipotesis
Selanjutnya untuk menguji hipotesis yang diajukan, maka
digunakan statistik uji t dan uji F.
1.

Uji Signifikan Parameter Individual ( Uji Statistik t )


Pengujian terhadap variabel-variabel independen secara individu
yang dilakukan untuk melihat pengaruh variabel independen yaitu
pengendalian internal (X1), kesesuaian kompensasi (X2), asimetri
informasi (X3) dan ketaatan aturan akuntansi (X4) secara parsial atau

45

individu terhadap variabel dependen yaitu kecurangan akuntansi (Y).


Langkah-langkah pengujian hipotesisnya adalah sebagai berikut :
a.
Memformulasikan hipotesis
Ho = = 0
Artinya tidak ada pengaruh antara
variabel independen (X) terhadap variabel
Ha = 0

dependen (Y).
Artinya

ada

pengaruh

antara

variabel independen (X) terhadap variabel


dependen (Y).
b.

Menentukan level of significance ( )


Level of Significance ( ) yang digunakan adalah 5 %
Menentukan nilai koefisien determinasi (R2)
Kriteria pengujian hipotesis dilakukan sebagai berikut:
Jika Sig > , maka Ho diterima
Jika Sig < , maka Ho ditolak

c.
d.

2.

Uji Signifikan Simultan (Uji Statistik F)


Pengujian terhadap variabel-variabel independen secara bersamasama yang dilakukan untuk melihat pengaruh variabel independen yaitu
pengendalian internal (X1), kesesuaian kompensasi (X2), asimetri
linformasi (X3) dan ketaatan aturan akuntansi (X4) secara bersama-sama
terhadap variabel dependen yaitu kecurangan akuntansi (Y). Langkahlangkah pengujian hipotesisnya adalah sebagai berikut :
a. Memformulasikan hipotesis
Ho:

=0

Artinya

secara

bersama-sama

variabel independen X1, X2, X3, X4 tidak


berpengaruh terhadap variabel dependen Y.

46

Ha:

Artinya

secara

variabel independen

bersama-sama
X1, X2, X3, X4

berpengaruh terhadap variabel dependen Y.


b.

Menentukan level of significance ( )


Level of Significance ( ) yang digunakan adalah 5 %

c.
e.

Menentukan nilai koefisien determinasi (R2)


Kriteria pengujian hipotesis dilakukan dengan Kriteria pengujian
hipotesis dilakukan sebagai berikut:
Jika Sig > , maka Ho diterima
Jika Sig < , maka Ho ditolak

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Pelaksanaan Survey


Penelitian ini dilakukan dengan menyebarkan sebanyak 44 kuesioner ke
hotel se-kota mataram dan 42 se-lombok barat . Dari jumlah tersebut, kuesioner
yang kembali dan bisa digunakan sebanyak 60 kuesioner. Rincian kuesioner yang
disebarkan dan diterima kembali dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 4.1 Daftar Distribusi Kuesioner Pada Hotel Se- Kota Mataram dan
Lombok Barat

No.
1.

Keterangan
Kuesioner yang disebarkan

Hotel Kota
Mataram

Hotel
Lombok
Barat

Total

44

42

80

47

2.

Kuesioner yang tidak kembali

14

20

3.

Kuesioner yang kembali

22

38

60

4.

Kuesioner yang tidak dapat


digunakan

5.

Kuesioner yang dapat digunakan dan


diolah

22

38

60

Persentase tingkat pengembalian


kuesioner

37%

63%

100%

Persentase tingkat pengembalian


yang digunakan

37%

63%

100%

Sumber : Data primer diolah tahun 2012


Dari data di atas diperoleh total jumlah kuesioner yang bisa digunakan dan
diolah sebanyak 60 kuesioner dari total jumlah kuesioner sebanyak 80 kuesioner

4.2 Deskripsi Umum Objek Penelitian


Perkembangan sektor pariwisata di Nusa Tenggara Barat dalam
tahapan pembangunan daerah telah dapat memberikan peranan dan kontribusi
yang cukup besar terhadap pembangunan daerah. Industri perhotelan
merupakan bagian dari industri

pariwisata yang memiliki arti penting.

Semakin banyaknya hotel yang berdiri menunjukkan bahwa dunia industri


perhotelan semakin strategis untuk menarik karyawan-karyawan baru di
berbagai tempat, sekaligus mengurangi tingkat penganguran. Pengurangan
tingkat penganguran tentunya membantu pemerintah dalam meminimalisasi
tingkat kemiskinan. Di samping itu, arti pentingnya industri perhotelan dapat
juga dilihat dari sisi pendapatan pajak yang diberikan hotel terhadap

48

pemerintah. Oleh karena itu, objek yang dipilih dalam penelitian ini adalah
Hotel Se-kota Mataram dan kabupaten Lombok barat sebanyak 42 hotel
dengan kriteria tertentu. Rincian hotel yang dijadikan sebagai objek penelitian
sebagai tersebut :

Tabel 4.2 Daftar Nama Perusahaan Jasa Perhotelan Di Kota Mataram Dan
Kabupaten Lombok Barat
NO
NAMA
HOTEL BINTANG
1
HOTEL GRAND LEGI
2
HOTEL LOMBOK RAYA
3
HOTEL LOMBOK GARDEN
4
HOTEL NITOUR
5
HOTEL GRAHA AYU
6
HOTEL MATARAM
7
HOTEL HANDIKA
8
HOTEL ZAITUN
9
HOTEL LOMBOK PLAZA
10 SHERATON SENGGIGI BEACH
THE SANTOSA VILLAS &
11
RESORT
12 HOLIDAY RESORT LOMBOK
13 SENGGIGI AERO WISATA
14 JAYAKARTA
15 GIC GOLONG
16 PURI SALON
17 WINDY
18 GRAHA SENGGIGI
19 BINTANG SENGGIGI
20 BUKIT SENGGIGI
21 SURANADI HOTEL

ALAMAT
Jln. Sriwijaya 81 Mataram
Jln. Panca Usaha No 11 Mataram
Jln. Bung Karno No 17 Mataram
Jln. Yos Sudarso No 4 Ampenan
Jln. Ismail Marzuki Mataram
Jln. Pejanggik No 105 Cakra
Jln. Panca Usaha No 3 Mataram
Jln. Pejanggik Mataram
Jln. Pejanggik Cakra
Jln. Raya Senggigi KM 14
Jln. Raya Senggigi KM 12
Jln. Raya Senggigi KM 16
Jln. Raya Senggigi KM 11
Jln. Raya Senggigi KM 6
Kawasan Presak Narmada
Jln. Raya Senggigi KM 16
Mangsit
Jln. Raya Senggigi KM 10
Jln. Raya Senggigi KM 7
Jln. Raya Senggigi KM 13
Jln. Raya Suranadi Narmada

49

22
23
24
25
26
27

PURI MAS SENGGIGI


PURI BUNGA
THE QUNCI
IMAJ PRIVATE VILLA
MENINTING RAYA
COCOTINOS BOUTIQUE BEACH

RESORT & SPA


MELATI HOTEL
28 HOTEL ASTITI I
29 HOTEL RATIH
30 HOTEL KARTIKA I
31 HOTEL ORINDO
32 HOTEL BIDARI
33 HOTEL MEREJE SARIGUNA I
34 HOTEL CHANDRA
35 HOTEL ARUM JAYA
36 HOTEL SANTIKA
37 WISMA NUSANTARA I
38 HOTEL PURI INDAH
39 HOTEL PABEAN
40 HOTEL CENDRAWASIH
41 BATU BOLONG
Sumber: lampiran 2

Jln. Raya Senggigi KM 15


Jln. Raya Senggigi
Jln. Raya Senggigi
Jln. Raya Senggigi
Jln. Raya Senggigi
Jln. Raya Pandanan-Pelanggan
Sekotong
Jln. Subak III/3 Cakra
Jln. Penjanggik No 127 Cakra
Jln. Garuda No 21 Cakra
Jln.Tgh Faesal 11 Sweta Cakra
Jln. Bangau No 5 Cakra
Jln. Pariwisata 9 Mataram
Jln. Catur Warga 35 Mataram
Jln. Catur Warga 29 Mataram
Jln. Pejanggik No 32 Mataram
Jln. R Soeprapto 28 Mataram
Jln. Sriwijaya 132 Cakra
Jln. Yos Sudarso Ampenan
Jln. Garuda No 8 Cakra
Jln Raya Senggigi

4.3 Deskripsi Responden


Deskripsi responden terdiri dari jenis kelamin, jenjang pendidikan dan
pengalaman kerja
4.3.1

Jenis Kelamin
Jenis kelamin dalam penelitian ini dideskripsikan untuk mengetahui

seberapa banyak Manajer dan Accounting pria dan wanita yang menjadi
responden. Jenis kelamin responden dibagi menjadi 2 kelompok yaitu pria dan
wanita. Rincian identifikasi responden berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat
pada tabel di bawah ini :

50

Tabel 4.3 Deskripsi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin


No

Keterangan

Jumlah

Persentase

1.

Pria

46

77 %

2.

Wanita

14

23%

60

100%

Total
Sumber : Data Primer diolah tahun 2012

Berdasarkan Tabel 4.3 dapat dilihat bahwa responden yang menjawab


kuesioner lebih banyak dari kelompok pria yaitu sebesar 77 % dibandingkan
dengan wanita yang hanya sebesar 23 %

4.3.2

Jenjang Pendidikan
Jenjang pendidikan para auditor yang menjadi responden dalam penelitian

ini dibagi menjadi 5 kelompok yaitu: SMA, Diploma III (D III), Sarjana Strata
Satu (S1), Sarjana Strata Dua (S2). Rincian identifikasi responden berdasarkan
tingkat pendidikan sebagai berikut:
Tabel 4.4 Deskripsi Responden Berdasarkan Jenjang Pendidikan
No

Keterangan

Jumlah

Persentase

SMA

17

28%

D3

13

22%

S1

29

48%

S2

2%

60

100%

Total
Sumber : Data Primer diolah tahun 2012

51

Berdasarkan Tabel 4.4 di atas dapat dilihat bahwa responden yang


menjawab kuesioner lebih banyak pada tingkat pendidikan S1 yaitu sebesar 48%
dibandingkan dengan responden dengan tingkat pendidikan SLTA, SMA, D III,
dan S2.

4.3.3

Pengalaman Kerja
Pengalaman kerja responden dibagi menjadi 4 kelompok yaitu 1-5 tahun,

6-10 tahun, 11-15 tahun, dan > 15 tahun. Rincian identifikasi responden
berdasarkan pengalaman kerja sebagai berikut:
Tabel 4.5 Deskripsi Responden Berdasarkan Pengalaman Kerja
No.

Keterangan

Jumlah

Persentase

1.

1-5 tahun

36

60%

2.

6-10 tahun

10%

3.

11-15 tahun

15%

4.

> 15 tahun

15%

60

100%

Total
Sumber : Data Primer diolah tahun 2012

Dilihat dari segi lamanya bekerja, responden yang menjawab kuesioner


lebih banyak memiliki pengalaman 1-5 tahun yaitu sebesar 53% dibandingkan
dengan responden dengan pengalaman kerja 6-10 tahun, 11-15 tahun, dan > 15
tahun.

52

4.4 Deskripsi Data


4.4.1

Diskripsi Pengendalian internal


Pengukuran pengendalian intern dalam penelitian ini menggunakan
5 indikator yaitu penerapan wewenang dan tanggungjawab, pencatatan
transaksi, pengendalian fisik, sistem akuntansi dan pemantauan dan
evaluasi. Jawaban responden terhadap variabel pengendalian internal dapat
dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 4.6
Jawaban Responden Mengenai Variabel Pengendalian Internal

Item

SS

TS

STS

Total

24

40

29

48,3

3,33

6,67

1,67

60

100

24

40

23

38,3

15

1,67

60

100

13

21,7

25

41,7

11,7

14

23,3

1,67

60

100

14

23,3

24

10

16,7

10

16,7

3,33

60

100

17

28,3

28

15

60

100

Sumber : Data Primer diolah tahun 2012

1. Penerapan wewenang dan tanggung jawab


Berdasarkan tabel diatas tampak bahwa menurut responden mengenai
indikator tentang penerapan wewenang dan tanggungjawab dipentingkan
dalam pengendalian internal memberikan pernyataan terbanyak sangat setuju
yaitu 48,3% atau 29 orang, pada jawaban sangat setuju ada 40% atau 24
orang, pada jawaban tidak setuju ada 6,67% atau 4 orang, pada jawaban

53

netral 3,33% atau 2 orang dan 1,67% atau 1 orang untuk pilihan sangat tidak
setuju.
2. Pencatatan transaksi
Berdasarkan tabel diatas tampak bahwa menurut responden mengenai
indikator tentang adanya pencatatan transaksi yang tidak dapat diabaikan
dalam perusahaan memberikan pernyataan terbanyak sangat setuju yaitu 40%
atau 24 orang memberikan jawaban sangat setuju. Selanjutnya 38,3% atau 23
orang yang menjawab setuju, kemudian 15% atau 9 orang yang menjawab
tidak setuju, pada pilihan netral 5 % atau 3 orang dan 1,67% atau 1 orang
untuk pilihan sangat tidak setuju.
3. Pengendalian Fisik
Berdasarkan tabel diatas tampak bahwa menurut responden mengenai
indikator tentang adanya pengendalian fisik terhadap karyawan perusahaan
dilakukan pada saat diperlukan memberikan pernyataan terbanyak yaitu
41,7% atau 25 orang memberikan jawaban setuju. Selanjutnya 23,3% atau 14
orang yang menjawab tidak setuju, kemudian 21,7% atau 13 orang yang
menjawab sangat setuju, pada pilihan netral 11,7 % atau 7 orang dan 1,67%
atau 1 orang untuk jawaban sangat tidak setuju
4. Sistem Akuntansi
Berdasarkan tabel diatas tampak bahwa menurut responden mengenai
indikator

tentang

pencatatan

transasksi

seluruh

informasi

kegiatan

operasional dalam pengendalian internal memberikan pernyataan terbanyak


setuju yaitu sebesar 40% atau 24 orang. Selanjutnya 23,3% atau 14 orang
yang menjawab sangat setuju, kemudian 16,7% atau 4 orang yang menjawab

54

netral dan tidak setuju, dan 3,33% atau 2 orang untuk pilihan jawaban sangat
tidak setuju.
5. Pemantauan dan evaluasi
Berdasarkan tabel diatas tampak bahwa menurut responden mengenai
indikator tentang adanya pemantauan dan evaluasi atas aktivitas operasional
untuk menilai pelaksana pengendalian internal memberikan

pernyataan

terbanyak setuju yaitu sebesar 46,7% atau 28 orang. Selanjutnya 28,3% atau
17 orang yang menjawab sangat setuju, kemudian 15% atau 9 orang yang
menjawab tidak setuju, dan pada pilihan netral dan sangat tidak setuju
sebesar 5% atau 3 orang.
4.4.2

Diskripsi Kompensasi
Pengukuran
menggunakan

kesesuaian

kompensasi

dalam

penelitian

ini

6 indikator yaitu kompensasi keuangan, pengakuan

perusahaan atas keberhasilan dalam melaksanakan pekerjaan, promosi,


penyelesaian tugas, pencapaian sasaran, dan pengembangan pribadi.
Jawaban responden terhadap variabel kesesuaian kompensasi dapat dilihat
pada tabel berikut ini:
Tabel 4.7
Jawaban Responden Mengenai Variabel Kesesuaian kompensasi

Item

SS
F

S
%

N
%

TS
%

STS
%

Total
%

55

10

29

48,33 7

11,67 18

30

60

100

8,33

44

73,33 2

3,33

15

60

100

11,67 19

31,67 14

23,33 20

33,33 0

60

100

10

16,67 33

55

1,67

16

26,67 0

60

100

10

22

36,67 12

20

20

33,33 0

60

100

15

42

70

10

60

100

Sumber : Data Primer diolah tahun 2012

1. Kompensasi Keuangan
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa sebagian besar 48,33%
atau 29 orang memberikan jawaban setuju. Selanjutnya 30% atau 18 orang
yang menjawab tidak setuju, kemudian 11,67% atau 7 orang yang menjawab
netral, dan 10% atau 6 orang menjawab sangat setuju. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa responden yang memilih jawaban kompensasi keuangan
yang diberikan perusahaan ini diukur sesuai dengan prestasi pekerja yang
telah dilakukan oleh karyawan perusahaan tersebut berjumlah cukup banyak
yakni 29 orang dari 60 responden dengan kategori setuju.
2. Pengakuan Perusahaan Atas Keberhasilan Dalam Melaksanakan Pekerjaan
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa sebagian besar 73,33%
atau 44 orang memberikan jawaban setuju. Selanjutnya 15% atau 9 orang
yang menjawab tidak setuju, kemudian 8,33% atau 5 orang yang menjawab
sangat setuju, dan 3,33% atau 2 orang menjawab netral. Sehingga dapat
disimpulkan

bahwa

responden

yang

memilih

jawaban

perusahaan

menciptakan kondisi sehingga diakui semua karyawan memang menguasi


pekerjaan yang menjadi tanggungjawab masing-masing tersebut berjumlah
cukup banyak yakni 44 orang dari 60 responden dengan kategori setuju.

56

3. Promosi
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa sebagian besar 33,33%
atau 20 orang memberikan jawaban tidak setuju. Selanjutnya 31,67 % atau 19
orang yang menjawab setuju, kemudian 23,33% atau 14 orang yang menjawab
netral, dan 11,67% atau 7 orang menjawab sangat setuju. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa responden yang memilih jawaban promosi perusahaan
diberikan atas dasar prestasi kerja yang telah dicapai oleh para karyawan
perusahaan tersebut berjumlah yakni 20 orang dari 60 responden dengan
kategori tidak setuju.
4. Penyelesaian Tugas
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa sebagian besar 55% atau
33 orang memberikan jawaban setuju. Selanjutnya 26,67% atau 16 orang yang
menjawab tidak setuju, kemudian 16,67% atau 7 orang yang menjawab sangat
setuju, dan 1,67% atau 1 orang menjawab netral. Sehingga dapat disimpulkan
bahwa responden yang memilih jawaban perusahaan dikelola oleh manajemen
sedemikian sehingga karyawan memulai dan menyelesaikan pekerjaan dengan
baik tersebut berjumlah cukup banyak yakni 33 orang dari 60 responden
dengan kategori setuju.
5. Pencapaian Sasaran
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa sebagian besar 36,67%
atau 22 orang memberikan jawaban setuju. Selanjutnya 33,33% atau 20 orang
yang menjawab tidak setuju, kemudian 20 % atau 12 orang yang menjawab
netral, dan 10% atau 6 orang menjawab sangat setuju. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa responden yang memilih jawaban penyelesaian tugas
dimana pekerjaan sebagai penganggungjawab penyusunan laporan keuangan

57

merupakan tugas menantang yang harus dicapai dalam waktu tertentu tersebut
berjumlah cukup banyak yakni 22 orang dari 60 responden dengan kategori
setuju.
6. Pengembangan Pribadi
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa sebagian besar 70% atau
42 orang memberikan jawaban setuju. Selanjutnya 15% atau 9 orang yang
menjawab sangat setuju, kemudian 10% atau 6 orang yang menjawab tidak
setuju, dan 5% atau 3 orang menjawab netral. Sehingga dapat disimpulkan
bahwa responden yang memilih jawaban Pengembangan pribadi dimana
dalam perusahaan penanggungjawab penyusunan laporan keuangan dapat
memaksimalkan kemampuan, pengetahuan dan keahlian dibidangnya tersebut
berjumlah cukup banyak yakni 42 orang dari 60 responden dengan kategori
setuju.
4.4.3

Diskripsi Asimetri Informasi


Pengukuran pengendalian intern dalam penelitian ini menggunakan
6 indikator yaitu situasi dimana manajemen memiliki informasi yang lebih
baik atas aktivitas yang menjadi tanggungjawabnya di banding pihak luar
perusahaan, manajemen lebih mengenal hubungan input-output dalam
bagian yang menjadi tanggungjawabnya dibanding pihak luar perusahaan,
manajemen

lebih

mengetahui

potensi

kinerja

yang

menjadi

tanggungjawabnya dibanding pihak luar perusahaan, manajemen lebih


mengenal teknis pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya dibanding
pihak luar perusahaan dan situasi dimana manajemen lebih mengetahui
pengaruh faktor eksternal dalam bidang yang menjadi tanggungjawabnya

58

dibanding pihak luar perusahaan, manajemen lebih mengerti apa yang


dapat dicapai dalam bidang yang menjadi tanggungjawabnya dibanding
pihak luar perusahaan. Jawaban responden terhadap variabel Asimetri
Informasi dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 4.8
Jawaban Responden Mengenai Variabel Asimetri Informasi
Item

SS

13,3 2

12

20

25

TS
%

STS
%

Total

3,33 44

73,3 6

10

60

100

41,7 4

6,67 17

28,3 2

3,33 60

100

3,33 19

31,7 7

11,7

20

33,3 12

20

60

100

8,33 39

65

14

35

3.33 60

100

3,33 26

43,3 3

21

35

13,3 60

100

1,67 4

6,67 46

76,7 9

15

60

100

16

26,7 2

3,33 36

60

10

60

100

Sumber : Data Primer diolah tahun 2012

1. Situasi dimana manajemen memiliki informasi yang lebih baik atas aktivitas
yang menjadi tanggungjawabnya di banding pihak luar perusahaan.
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa sebagian besar 73,3%
atau 44 orang memberikan jawaban tidak setuju. Selanjutnya 13,3% atau 8
orang yang menjawab setuju, kemudian 10% atau 6 orang yang menjawab
sangat tidak setuju, dan 3,33% atau 2 orang menjawab netral. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa responden yang memilih jawaban dari pertanyaan atas
pekerjaan dibidang akuntansi, pihak luar perusahaan ini, baik langsung
ataupun tidak langsung, juga mengetahui informasi yang berkaitan dengan

59

transaksi perusahaan yang seluruh mempunyai dampak keuangan tersebut


berjumlah cukup banyak yakni 44 orang dari 60 responden dengan kategori
tidak setuju.
2. Situasi dimana manajemen lebih mengenal hubungan input-output dalam
bagian yang menjadi tanggungjawabnya dibanding pihak luar perusahaan.
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa sebagian besar 41,7%
atau 25 orang memberikan jawaban setuju. Selanjutnya 28,3% atau 17 orang
yang menjawab tidak setuju, kemudian 20% atau12 orang yang menjawab
sangat setuju, responden yang menjawab netral sebanyak 6,67% atau 4 orang
dan 3,33% atau 2 orang menjawab sangat tidak setuju. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa responden yang memilih jawaban dari pertanyaan hanya
penangung jawab penyusunan laporan keuangan yang seluruh hubungan
antara data transaksi keuangan dengan peroses penyusunan laporan keuangan
tersebut berjumlah cukup banyak yakni 25 orang dari 60 responden dengan
kategori setuju.
3. Situasi dimana manajemen lebih mengetahui potensi kinerja yang menjadi
tanggungjawabnya dibanding pihak luar perusahaan.
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa sebagian besar 33,3%
atau 20 orang memberikan jawaban tidak setuju. Selanjutnya 31,7% atau 19
orang yang menjawab setuju, kemudian 20% atau 12 orang yang menjawab
sangat tidak setuju, responden yang menjawab 11,7 % atau 7 orang menjawab
netraldan 3,33% atau 2 orang menjawab sangat setuju. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa responden yang memilih jawaban dari pertanyaan Pihak
luar perusahaan, baik langsung ataupun tidak langsung, selalu mengetahui dan

60

memahami isi dan angka laporan keuangan yang selesai dikerjakan tersebut
berjumlah 20 orang dari 60 responden dengan kategori tidak setuju.
4. Situasi dimana manajemen lebih mengenal teknis pekerjaan yang menjadi
tanggung jawabnya dibanding pihak luar perusahaan.
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa sebagian besar 43,3%
atau 26 orang memberikan jawaban setuju. Selanjutnya 35% atau 21 orang
yang menjawab tidak setuju, kemudian 13,3% atau 8 orang yang menjawab
sangat tidak setuju, responden yang menjawab netral sebanyak 5% atau 3
orang dan 3,33% atau 2 orang menjawab sangat setuju. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa responden yang memilih jawaban dari pertanyaan
perusahaan hanya penanggung jawab penyusunan laporan keuangan yang
mengerti lika-liku pembuatan laporan keuangan tersebut berjumlah 26 orang
dari 60 responden dengan kategori setuju.
5. Situasi dimana manajemen lebih mengetahui pengaruh faktor eksternal dalam
bidang yang menjadi tanggungjawabnya dibanding pihak luar perusahaan.
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa sebagian besar 76,7%
atau 46 orang memberikan jawaban tidak setuju. Selanjutnya 15% atau 9
orang yang menjawab sangat tidak setuju, kemudian 6,67% atau 4 orang yang
menjawab netral, dan 1,67% atau 1 orang menjawab setuju. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa responden yang memilih jawaban dari pertanyaan pihak
luar perusahaan, baik langsung ataupun tidak langsung, juga mengetahui
faktor yang memperngaruhi kegiatan pembuatan laporan keuangan tersebut
berjumlah cukup banyak yakni 46 orang dari 60 responden dengan kategori
tidak setuju.

61

6. Situasi dimana manajemen lebih mengerti apa yang dapat dicapai dalam
bidang yang menjadi tanggungjawabnya dibanding pihak luar perusahaan.
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa sebagian besar 60% atau
36 orang memberikan jawaban tidak setuju. Selanjutnya 26,7% atau 16 orang
yang menjawab setuju, kemudian 10% atau 6 orang yang menjawab tidak
setuju, dan 3,33% atau 2 orang menjawab netral. Sehingga dapat disimpulkan
bahwa responden yang memilih jawaban dari pertanyaan perusahaan, pihak
luar perusahaan, tidak pernah mengetahui isi dan angka yang sebenarnya dari
laporan keuangan yang disusun perusahaantersebut berjumlah 36 orang dari
60 responden dengan kategori setuju.

4.4.4

Diskripsi Kecurangan Akuntansi


Pengukuran pengendalian intern dalam penelitian ini menggunakan
6 indikator yaitu kecurangan untuk melakukan manipulasi, pemalsuan,
atau

perubahan

catatan

akuntansi

atau

dokumen

pendukungnya,

kecurangan untuk melakukan penyajian yang salah atau penghilangan


peristiwa, transaksi, atau informasi yang signifikan dari laporan keuangan,
kecurangan untuk melakukan salah menerapkan prinsip akuntansi secara
sengaja, kecurangan untuk melakukan penyajian laporan keuangan yang
alah akibat pencurian (penyalahgunaan/penggelapan) terhadap aktiva yang
membuat entitas membayar barang/jasa yang tidak diterima, dan
kecurangan untuk melakukan penyajian laporan keuangan yang salah
akibat perlakuan yang tidak semestinya terdapat aktiva dan disertai dengan

62

catatan atau dokumen palsu dan dapat menyangkut satu atau lebih individu
di antara manajemen, karyawan, atau pihak ketiga. Jawaban responden
terhadap variabel kecurangan akuntansi dapat dilihat pada tabel berikut
ini:
Tabel 4.9
Jawaban Responden Mengenai Variabel Kecurangan Akuntansi
Item

SS

TS

13,3 10

16,7

11,7 8

13,3

4
5

Total

13,3 27

45

11,7 60

100

10

16,7 15

25

20

33,3 60

100

8,33 11

187,3 10

16,7 24

40

10

16,7 60

100

18

30

40

11

18,3 4

6,67 3

60

100

14

23,3 13

21,7

20

33,3 11

18,3 2

3,33 60

100

24

STS

Sumber : Data Primer diolah tahun 2012

1. Kecurangan

untuk melakukan manipulasi, pemalsuan, atau perubahan

catatan akuntansi atau dokumen pendukungnya.


Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa sebagian besar 45%
atau 27 orang memberikan jawaban tidak setuju. Selanjutnya 16,7% atau 10
orang yang menjawab setuju, kemudian 13,3% atau 8 orang yang menjawab
sangat setuju dan netral, dan 11,7% atau 7 orang menjawab sangat tidak
setuju. Sehingga dapat disimpulkan bahwa responden yang memilih jawaban
dari pertanyaan agar laba perushaan ini tampak lebih besar, maka wajar
pemimpin bagian akuntansi di perusahaan ini memperkecil biaya-biaya yang

63

tercatat dalam pembekuan perusahaan tersebut yakni 27 orang dari 60


responden dengan kategori tidak setuju.
2. Kecurangan untuk melakukan penyajian yang salah atau penghilangan
peristiwa, transaksi, atau informasi yang signifikan dari laporan keuangan.
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa sebagian besar 33,3%
atau 20 orang memberikan jawaban sangat tidak setuju. Selanjutnya 25% atau
15 orang yang menjawab tidak setuju, kemudian 16,7% atau 10 orang yang
menjawab netral, responden yang menjawab setuju sebesar 13,3% atau 8
orang dan 11,7% atau 7 orang menjawab sangat setuju . Sehingga dapat
disimpulkan bahwa responden yang memilih jawaban dari pertanyaan bagi
pemimpin bagian akuntansi di perusahaan ini, demi mengamankan posisi
direksi adalah tidak wajar bila catatan dan dokumen penyuapan kepada
pejabat pemerintah dihilangkan dari pembukuan tersebut berjumlah cukup
banyak yakni 20 orang dari 60 responden dengan kategori sangat tidak setuju.
3. Kecurangan untuk melakukan salah menerapkan prinsip akuntansi secara
sengaja.
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa sebagian besar 40% atau
24 orang memberikan jawaban setuju. Selanjutnya 18,3% atau 11 orang yang
menjawab setuju, kemudian 16,67% atau 10 orang yang menjawab netral dan
sangat tidak setuju, dan 8,33% atau 5 orang menjawab sangat setuju. Sehingga
dapat disimpulkan bahwa responden yang memilih jawaban dari pertanyaan
bila ingin menunjukkan laba perusahaan yang lebih besar dari sebenarnya
penanggung

jawab

penyusunan

laporan

keuangan

perusahaan

ini

diperkenankan untuk memperkecil cadangan piutang macet menunjukkan laba

64

perusahaan tersebut berjumlah cukup banyak yakni 24 orang dari 60


responden dengan kategori tidak setuju.
4. Kecurangan untuk melakukan penyajian laporan keuangan yang salah akibat
pencurian (penyalahgunaan/penggelapan) terhadap aktiva yang membuat
entitas membayar barang/jasa yang tidak diterima.
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa sebagian besar 40`% atau
24 orang memberikan jawaban setuju. Selanjutnya 30% atau 18 orang yang
menjawab sangat setuju, kemudian 18,3% atau 11 orang yang menjawab
netral, responden yang menjawab tidak setuju sebesar 6,67% atau 4 orang dan
5 % atau 3 orang untuk jawaban sangat tidak setuju. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa responden yang memilih jawaban dari pertanyaan
pemimpin bagian akuntansi sepatutnya berusaha untuk tidak menerima
pembayaran fiktif yang ada diperusahaan tersebut berjumlah cukup banyak
yakni 24 orang dari 60 responden dengan kategori setuju.
5. Kecurangan untuk melakukan penyajian laporan keuangan yang salah akibat
perlakuan yang tidak semestinya terdapat aktiva dan disertai dengan catatan
atau dokumen palsu dan dapat menyangkut satu atau lebih individu di antara
manajemen, karyawan, atau pihak ketiga.
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa sebagian besar 33,3%
atau 20 orang memberikan jawaban netral. Selanjutnya 23,33% atau 14 orang
yang menjawab sangat setuju, kemudian 21,7% atau 13 orang yang
menjawab setuju, pada responden yang menjawab tidak setuju sebesar 18,3%
atau 11 orang dan 3,33% atau 2 orang yang menjawab sangat tidak setuju.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa responden yang memilih jawaban dari

65

pertanyaan mengenai direktur keuangan di perusahaan seharusnya berani


menolak permintaan komisaris utama untuk membeli rumah perusahaan
dengan harga murah (dibawah harga pasar) tersebut berjumlah cukup banyak
yakni 20 orang dari 60 responden dengan kategori netral.

4.5 Statistik Diskripsi


Statistik deskripsi memberikan gambaran atau deskripsi suatu data yang
dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar deviasi, varian, maksimum, minimum,
sum, range, kurtosis dan skewness (kemencengan distribusi) (Ghozali, 2006:19).
Dalam pembahasan ini akan dilakukan statistik deskriptif dengan memberikan
gambaran data tentang jumlah data, minimum, maksimum, mean dan standar
deviasi.
Tabel 4.10 Statistik Deskripsi

Minimum Maximum

Mean

Std. Deviation

PI

60

8.00

25.00 19.1833

4.07344

KK

60

12.00

30.00 21.1000

4.40223

AI

60

6.00

24.00 16.6667

3.80752

KA

60

5.00

25.00 15.0833

4.34641

Valid N
(listwise)

60

Sumber : Lampiran 4
Dari tabel 4.10 di atas, dapat dilihat bahwa variabel Kecurangan Akuntansi
(KA) dengan jumlah data sebanyak 60 mempunyai skor rata-rata 15.0833 dengan
skor minimal 5 dan maksimal 25, sedangkan standar deviasinya sebesar 4,34641.

66

Variabel Pengendalian internal (Pi) dengan jumlah data sebanyak 60 mempunyai


skor rata-rata 19.1833 dengan skor minimal dan maksimal berturut-turut 8 dan 25,
sedangkan standar deviasinya sebesar 4.07344. Variabel Kesesuaian Kompensasi
(Kk) dengan jumlah data sebanyak 60 mempunyai skor rata-rata 21,1000 dengan
skor minimal 12 dan skor maksimal 30, sedangkan standar deviasinya sebesar
4,40223. Variabel Asimetri Informasi (Ai) memiliki jumlah data sebanyak 60
mempunyai skor rata-rata 16.6667 dengan skor minimal 6 dan skor maksimal 24
dengan standar deviasinya 3.80752.

4.6 Analisis Uji Instrumen Penelitian


4.6.1

Uji Validitas
Uji validitas diukur dengan menggunakan korelasi Pearson Product

Moment. Uji signifikansi dilakukan dengan membandingkan nilai rhitung dengan


rtabel untuk degree of freedom (df) = n 2, dalam hal ini n adalah jumlah sampel.
Maka dapat dihitung degree of freedom (df) = 60 2 = 58 , dengan df = 58 dan
alpha = 0,05 didapat rtabel = 0,2144 Jika rhitung > rtabel dan bernilai positif, maka butir
pertanyaan tersebut dinyatakan valid (Ghozali, 2006:45). Hasil uji validitas dapat
dirangkum ke dalam tabel berikut ini:
Tabel 4.11 Hasil uji validitas variabel Pengendalian internal

67

No.

rhitung

rtabel

Keterangan

0,717

0,2144

Valid

0,712

0,2144

Valid

0,824

0,2144

Valid

0,781

0,2144

Valid

0,715

0,2144

Valid

Sumber: Lampiran 5

Tabel 4.12 Hasil uji validitas kesesuaian kompensasi


No.

rhitung

rtabel

Keterangan

0,783

0,2144

Valid

0,597

0,2144

Valid

0,852

0,2144

Valid

0,844

0,2144

Valid

0,846

0,2144

Valid

0,590

0,2144

Valid

Sumber: Lampiran 5
Tabel 4.13 Hasil uji validitas variabel asimetri Informasi
No.

rhitung

rtabel

Keterangan

0,413

0,2144

Valid

0,725

0,2144

Valid

0,694

0,2144

Valid

0,722

0,2144

Valid

0,632

0,2144

Valid

68

0,450

0,2144

Valid

Sumber: Lampiran 5
Tabel 4.14 Hasil uji validitas kecurangan akuntansi
No.

rhitung

rtabel

Keterangan

0,801

0,2144

Valid

0,735

0,2144

Valid

0,748

0,2144

Valid

0,524

0,2144

Valid

0,741

0,2144

Valid

Sumber: Lampiran 5
Dari hasil uji validitas variabel pengendalian internal, kesesuaian
kompensasi, asimetri informasi dan kecurangan akuntansi terlihat bahwa
semua butir pertanyaan benar-benar valid karena r hitung > rtabel dan bernilai
positif, maka butir pertanyaan tersebut dinyatakan valid dan semua butir
pertanyaan tersebut dapat digunakan untuk analisis selanjutnya.
4.6.2

Uji Reliabilitas
Teknik pengujian reliabilitas menggunakan uji statistik cronbach alpha

(). Suatu konstruk atau variabel dikatakan reliabel jika memberikan nilai
cronbach alpha > 0,60 (Nunnally, 1967 dalam Ghozali, 2006). Hasil uji
reliabilitas sebagai berikut:
Tabel 4.15 Hasil uji reliabilitas variabel penelitian
No.

Variabel

Cronbach

Keterangan

69

Alpha
1

Pengendalian Internal

0,806

Reliabel

Kesesuaian Kompensasi

0,848

Reliabel

Asimetri Informasi

0,672

Reliabel

Kecurangan Akuntansi

0,756

Reliabel

Sumber: Lampiran 6
Dari Tabel 4.15 di atas, nilai cronbach alpha ( ) untuk seluruh variabel
menunjukkan angka yang lebih besar dari 0,60 sehingga seluruh variabel yang
diteliti adalah reliabel. Dari hasil ini, dapat disimpulkan bahwa data yang
dikumpulkan dapat digunakan untuk analisis selanjutnya.
4.7 Analisis Uji Asumsi Klasik
4.7.1

Uji Normalitas
Uji normalitas dapat dilakukan dengan uji statistik nonparametrik
Kolmogorov-Smirnov /K-S. Uji normalitas data dikatakan normal apabila
Kolmogorov-Smirnov /K-S > 0,05 (Ghozali, 2006:114). Hasil uji
normalitas yaitu:

70

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test


Unstandardize
d Residual
N

60

Normal Parametersa

Mean
Std. Deviation

Most Extreme
Differences

.0000000
3.74954845

Absolute

.080

Positive

.079

Negative

-.080

Kolmogorov-Smirnov Z

.621

Asymp. Sig. (2-tailed)

.835

a. Test distribution is Normal.


Sumber : Lampiran 7
Berdasarkan tabel 4.16 di atas hasil uji normalitas data KolmogorovSmirnov Z

menunjukkan nilai sebesar 0,621 dengan signifikan pada 0,835,

karena signifikansi lebih dari 0,05 maka data telah terdistribusi dengan normal.

4.7.2

Uji Multikolonearitas
Uji multikolonieritas dilakukan dengan menganalisis matrik korelasi

variabel-variabel independent. Apabila nilai tolerance > 0,10 berarti tidak ada
korelasi antar variabel independen, dan apabila nilai VIF < 10 berarti tidak ada
multikoloniearitas antar variabel independen dalam model regresi (Ghozali,
2006:91-92). Berikut ini hasil uji multikolonearitas yaitu:
Tabel 4.17 Hasil Uji Multikolonearitas

71

Coefficientsa
Unstandardized
Coefficients
Model
1

Standardized
Coefficients

Std.
Error

(Constant) 21.384

Beta

Collinearity
Statistics
t

Sig.

3.970

5.387

.000

Tolerance

PI

-.294

.131

-.275 -2.249

.028

.886

1.129

KK

-.261

.119

-.265 -2.199

.032

.918

1.089

AI

.291

.138

.039

.911

1.098

.255

2.110

a. Dependent Variable: KA
Sumber : Lampiran 8
Dari Tabel 4.17 di atas, dapat dilihat bahwa hasil nilai tolerance > 0,10
dan nilai VIF < 10. Oleh karena itu, dapat dikatakan tidak terjadi multikolonieritas
yang serius antar variabel independent tersebut.

4.7.3

VIF

Uji Heteroskedastisitas
Uji heterokedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model

regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke


pengamatan

yang

lain.

Cara

untuk

mendeteksi

ada

atau

tidaknya

Heteroskedastisitas adalah dengan uji Glejser (Ghozali, 2006:108). Berikut ini


hasil uji heteroskedastisitas :
Tabel 4.18 Uji Glejser

72

Coefficientsa
Unstandardized
Coefficients
Model
1

B
(Constant)

Standardized
Coefficients

Std. Error
2.474

2.589

PI

.072

.085

KK

-.079

AI

.036

Beta

Sig.
.956

.343

.118

.840

.404

.077

-.140

-1.014

.315

.090

.056

.402

.689

a. Dependent Variable: ABSUT


Sumber : Lampiran 9

Dari Tabel 4.18 di atas terlihat bahwa hasil output menunjukkan bahwa
pada model regresi tidak terjadi gejala heteroskedastisitas. Hal ini dikarenakan
bahwa nilai probabilitas lebih besar dari nilai alpha (Sig. > ) yaitu pengendalian
internal sebesar 0,404>0,05, kesesuaian kompensasi sebesar 0,315 > 0,05, dan
asimetri informasi sebesar 0,689>0,05.

4.8 Analisis Kuantitatif


4.8.1

Analisis Regresi Linear Berganda


Penelitian ini menggunakan model regresi liniear berganda untuk

mengetahui pengaruh variabel independen (X) terhadap variabel dependen (Y),


dikarenakan jumlah variabel independen lebih dari 1(Sugiyono, 2010:275).
Adapun hasil pengujian regresi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Tabel 4.19 Hasil uji regresi linier berganda

73

Coefficientsa
Unstandardized
Coefficients
Model
1

B
(Constant)

Standardized
Coefficients

Std. Error

21.384

3.970

PI

-.294

.131

KK

-.261

AI

.291

Beta

Sig.

5.387

.000

-.275

-2.249

.028

.119

-.265

-2.199

.032

.138

.255

2.110

.039

a. Dependent Variable: KA

Berdasarkan hasil pengujian diatas dapat dirumuskan persamaan regresi


linier sebagai berikut:
Y = 21,384- 0,294X1 - 0.261 X2 + 0.291 X3 + e
Dari persamaan regresi diatas dapat disimpulkan bahwa variabel
independen X1 dan X2

mempunyai hubungan berlawanan arah atau negatif

terhadap variabel dependen (Y), sehingga jika pengendalian internal dan


kesesuaian kompensasi menurun maka akan meningkatnya kecurangan akuntansi.
Sebaliknya jika pengendalian internal dan kesesuaian kompensasi meningkat
maka akan menurunkan kecurangan akuntansi. Sedangkan untuk variabel
independen

X3 mempunyai hubungan searah atau positif terhadap variabel

dependen (Y), sehingga jika asimetri informasi meningkat

maka akan

meningkatkan kecurangan akuntansi dan sebaliknya.

4.8.2

Analisis Koefisien Determinasi (R2)


Koefisien determinasi (R2) digunakan untuk mengetahui derajat hubungan

yang sebenarnya antara variabel-variabel independent dengan variabel dependent.


(Ghozali, 2006 :83). Berikut ini hasil dari koefisien determinasi :

74

Tabel 4.20 Koefisien Determinasi

Model

.506a

R Square

Adjusted R
Square

.256

.216

Std. Error of
the Estimate
3.84867

a. Predictors: (Constant), AI, KK, PI


Sumber: Lampiran 12
Dari perhitungan tabel 4.20 di atas, diperoleh nilai koefisien determinasi (R2)
sebesar 0,216 yang berarti bahwa secara statistik pengendalian internal,
kesesuaian kompensasi dan asimetri informasi mampu menjelaskan variasi dari
kecurangan akuntansi sebagai variabel dependent sebesar 21,6% dan sisanya
78,4% dijelaskan oleh variabel lain di luar variabel dalam penelitian ini. Standard
Error of the Estimate sebesar 3. 84867, makin kecil nilai Standard Error of the
Estimate ini akan membuat model regresi semakin tepat dalam memprediksi
variable dependent.

4.9 Analisis Uji Hipotesis


4.9.1

Uji Regresi Simultan (Uji F)

75

Uji regresi simultan dimaksudkan untuk mengetahui apakah pengendalian


internal, kesesuaian kompensasi dan asimetri informasi berpengaruh secara
simultan atau bersama-sama terhadap kecurangan akuntansi.
Tabel 4.21 Uji Simultan
ANOVAb
Sum of
Squares

Model
1

df

Mean Square

Regression

285.096

95.032

Residual

829.488

56

14.812

1114.583

59

Total

F
6.416

Sig.
.001a

a. Predictors: (Constant), AI, KK, PI


b. Dependent Variable: KA
Sumber : Lampiran 10
Dari hasil uji ANOVA pada tabel 4.21 di atas, dapat dilihat nilai Fhitung
sebesar 6, 416 dengan signifikansi 0,01. Karena signifikansi lebih kecil dari 0,05
maka model regresi tersebut dapat digunakan untuk memprediksi pengendalian
internal, kesesuaian kompensasi dan asimetri informasi

berpengaruh secara

simultan terhadap kecurangan akuntansi.

4.9.2

Uji Regresi Parsial (Uji t)


Uji regresi parsial dimaksudkan untuk mengetahui apakah pengendalian

internal, kesesuaian kompensasi dan asimetri informasi berpengaruh secara parsial


atau individual terhadap kecurangan akuntansi sebagai variabel dependent.
Berikut ini hasil uji secara parsial :

76

Tabel 4.22 Uji Parsial


Unstandardized
Coefficients

Model

Std.
Error

Standardized
Coefficients

Sig.

5.387

0.000

Kesimpulan

Keterangan

Beta

1
(Constant)

21.384

3.970

PI

-0.294

0.131

-0.275

-2.249

0.028

H1= Ho
diterima

Berpengar
uh

KK

-0.261

0.119

-0.265

-2.199

0.032

H2= Ho
diterima

Berpengar
uh

AI

0.291

0.138

0.255

2.110

0.039

H3= Ho
diterima

Berpengar
uh

Sumber : Lampiran 11
Berdasarkan Tabel 4.22 di atas, berikut ini akan dijelaskan hipotesis yang
telah dirumuskan sebelumnya :
1. Pengaruh pengendalian internal terhadap kecurangan akuntansi
Dari hasi uji secara parsial terlihat bahwa pengendalian internal
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kecurangan akuntansi. Hasil
penelitian ini menerima hipotesis 1. Hal ini terlihat bahwa nilai signifikan
sebesar 0,028 lebih kecil dari 0,05
2. Pengaruh kesesuaian kompensasi terhadap kecurangan akuntansi
Dari hasil uji parsial terlihat bahwa kesesuaian kompensasi
berpengaruh signifikan terhadap kecurangan akuntansi. Hasil penelitian ini
menerima hipotesis 2. Hal ini terlihat dari nilai signifikan 0,032 lebih kecil
dari 0,05
3.

Pengaruh Asimetri Informasi terhadap kecurangan akuntansi

77

Dari hasil uji parsial terlihat bahwa kecurangan akuntansi berpengaruh


signifikan terhadap kecurangan akuntansi. Hasil penelitian ini menerima
hipotesis 3. Hal ini terlihat nilai signifikan 0,039 lebih kecil dari 0,05

4.10

Interpretasi Hasil
Hasil penelitian menjelaskan bahwa pengendalian internal, kesesuaian

kompensasi, dan asimetri informasi secara bersama-sama atau simultan


berpengaruh signifikan terhadap kecurangan akuntansi. Dari hasil Uji Anova atau
F test diperoleh nilai Fhitung sebesar 6, 416 dengan signifikansi sebesar 0,001 yang
lebih kecil dari taraf signifikansi 0,05.
Secara parsial, hasil penelitian untuk variabel pengendalian intern
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kecurangan akuntansi. Sistem
pengendalian internal merupakan proses yang dijalankan untuk memberikan
keyakinan memadai tentang pencapaian keandalan laporan keuangan, kepatuhan
terhadap hukum, dan efektivitas dan efisiensi operasi. Pengendaiian internal
dimana berperan dalam mencegah serta mengidentifikasi terjadinya kecurangan
atau fraud (Committee Sponsoring Organization dikutip Albreeht et al, 2004).
COSO (Commitee of Sponsoring Organization) mengemukakan sistem yang lebih
komprehensif dimana struktur pengendalian internal dianggap relevan untuk
mencapai tujuan organisasi baik tujuan keuangan maupun non keuangan. Dengan
hasil bahwa pengendalian internal dapat mencegah dan mengidentifikasi
kecurangan/fraud. Hal yang sama dikemukakan oleh Tuanakotta di mana ada 3
faktor seseorang dapat melakukan kecurangan yaitu kebutuhan, keserakahan dan

78

kesempatan. Secara umum manajemen suatu organisasi/perusahaan mempunyai


kesempatan yang lebih besar untuk melakukan kecurangan daripada karyawan .
Oleh karena itu, faktor kesempatan biasanya ditekan atau dicegah melalui
pengendalian internal, dimana pengendalian internal adalah suatu proses dan
prosedur yang bertujuan khusus, dirancang dan dilaksanakan untuk tujuan utama,
kalau bukan satu-satunya tujuan yaitu untuk mencegah dan menghalangi (dengan
membuat jera) terjadinya kecurangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
pengendalian internal yang dirancang dan dilaksanakan dengan baik maka dapat
diandalkan untuk mencegah dan mengurangi kecurangan akuntansi. Hasil
penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Smith et al., (1997),
Beasley (1996), Beasley et al., (2000), Reinstein (1998), Matsumura (1992), dan
Abbot et al., (2002).
Kesesuaian Kompensasi secara parsial berpengaruh signifikan terhadap
kecurangan akuntansi di perusahaan jasa perhotelan. Manajemen diberi
wewenang oleh prinsipal untuk mengelola perusahaan, bertanggung jawab untuk
memaksimalkan keuntungan pemegang saham, dan melaporkan tanggung
jawabnya melalui media laporan keuangan. Jensen and Meckling (1976)
menjelaskan dalam teori keagenan bahwa pemberian kompensasi yang memadai
membuat agen (manajemen) bertindak sesuai dengan keinginan dari prinsipal
(pemegang saham), yaitu memberikan informasi yang sebenarnya tentang
keadaan perusahaan. Manajemen akan beritndak sesuai dengan keinginan
prinsipal (pemegang saham) jika mereka mendapatkan kompensasi yang sesuai
dengan kinerjanya. Banyak perusahaan yang mengenyampingkan pemberian

79

kompensasi yang sesuai bagi para karyawannya. Tanpa disadari, justru hal itu
yang membuat semakin banyaknya perilaku tidak produktif dan masalah-masalah
yang berkaitan dengan perilaku tidak etis didalam perusahaan tersebut. Masalahmasalah itu antara lain inresponsible behaviour (perilaku yang tidak bertanggung
jawab) dan employee dishonesty (ketidakjujuran karyawan). Dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa sistem kompensasi yang baik adalah sistem yang
diperlukan organisasi untuk meyakinkan karyawan bahwa mereka akan
mendapatkan apa yang mereka butuhkan secara layak sehingga mereka dengan
sadar melakukan tindakan yang diinginkan oleh organisasi. Pemberian
kompensasi ini dapat mengurangi kecenderungan kecurangan akuntansi. Ini
berarti bahwa kompensasi yang sesuai dapat membuat individu merasa tercukupi
sehingga individu tidak melakukan tindakan yang merugikan organisasi termasuk
melakukan kecurangan akuntansi. Sehingga pemberian kompensasi ini diharapkan
mengurangi kecurangan akuntansi. Hasil penelitian ini mendukung penelitian
yang dilakukan oleh Jensen and Meckling (1976).
Asimetri secara parsial memiliki pengaruh signifikan terhadap kecurangan
akuntansi. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori keagenan (Jensen and
Meckling, 1976)

yang sering digunakan

untuk menjelaskan kecurangan

akuntansi. Teori keagenan bermaksud memecahkan dua problem yang terjadi


dalam hubungan keagenan. Salah satunya adalah problem yang muncul bila
keinginan atau tujuan dari

prinsipal dan agen bertentangan, dan juga disaat

prinsipal merasa kesulitan untuk menelusuri apa yang sebenarnya dilakukan oleh
agen. Bila agen dan prinsipal berupaya memaksimalkan utilitasnya masing-

80

masing, serta

memiliki kenginan dan motivasi yang berbeda, maka agen

(manajemen)

tidak selalu bertindak sesuai keinginan prinsipal (pemegang

saham). Keinginan, motivasi dan utilitas yang tidak sama antara manajemen dan
pemegang saham menimbulkan kemungkinan manajemen bertindak merugikan
pemegang saham. Ini berarti bahwa bila terjadi asimetri informasi, manajemen
perusahaan akan menyajikan laporan keuangan yang bermanfaat bagi mereka,
demi motivasi untuk memperoleh kompensasi

bonus yang tinggi, sehingga

manajemen perusahaan membuat bias atau memanipulasi laporan keuangan atau


dapat mengakibatkan terjadinya kecurangan akuntansi. Hasil penelitian ini
mendukung penelitian yang dilakukan oleh Albercht (2004: 26-33), Green and
Calderon (1999) dan Reinstein (1998)

BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan

81

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan, maka peneliti dapat


menarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Pengendalian internal, kesesuaian kompensasi, dan asimetri informasi secara
bersama-sama atau simultan berpengaruh signifikan terhadap kecurangan
akuntansi.
2. Pengendalian internal mempunyai pengaruh signifikan terhadap kecurangan
akuntansi. Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh
Smith et al., (1997), Beasley (1996), Beasley et al., (2000), Reinstein (1998),
Matsumura (1992), dan Abbot et al., (2002).
3. Kesesuaian Kompensasi secara parsial berpengaruh signifikan terhadap
kecurangan akuntansi.

Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang

dilakukan oleh Jensen and Meckling (1976).


4. Asimetri secara parsial memiliki pengaruh signifikan terhadap kecurangan
akuntansi. Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh
Albercht (2004: 26-33), Green and Calderon (1999) dan Reinstein (1998)

5.2. Keterbatasan
Keterbatasan-keterbatasan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Sampel ini terbatas pada manajer dan bagian akuntansi yang bekerja di
lingkungan perhotelan mataram dan kabupaten Lombok barat sehingga

82

memungkinkan hasil yang kurang optimal karena sampel yang kurang luas. Di
samping itu jumlah sampel yang diperoleh kurang dari target jumlah sampel
yang sebenarnya sehingga generalisasi yang dihasilkan kurang maksimal
2. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
kuesioner. Metode pengumpulan data melalui kuesioner memiliki kelemahan
dimana responden dapat kurang objektif dalam menjawab kuesioner yang
dapat disebabkan kondisi responden yang tidak serius menjawab dikarenakan
kesibukkan para manajer dan bagian akuntansi.

5.3. Saran
Adapun saran-saran yang diberikan peneliti dari hasil penelitian ini sesuai
dengan apa yang diamati adalah sebagai berikut:
1. Bagi peneliti selanjutnya yang ingin mengkaji masalah yang sejenis
disarankan untuk menambah jumlah sampel penelitian dan mengambil objek
penelitian yang lebih luas. Karena semakin banyak jumlah sampel dan objek
penelitian maka akan dapat menghasilkan kesimpulan yang lebih baik.
2. Peneliti selanjutnya sebaiknya mempertimbangkan untuk mengganti atau
menambah variabel lain yang dapat mempengaruhi kecurangan akuntansi
misalnya prilaku etis, moralitas manajemen dan ketaatan akuntansi sehingga
menambah pengetahuan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kecurangan
akuntansi. Di samping itu peneliti selanjutnya selain mengukur kecurangan
akuntansi dari persepsi manajer dan bagian akuntansi sebaiknya juga

83

mengukur kecurangan akuntansi

dari persepsi pimpinan perusahaan dan

karyawan lainnya sehingga diperoleh hasil penelitian yang lebih luas.


3. Bagi peneliti selanjutnya yang ingin mengkaji masalah yang sejenis
disarankan untuk tidak hanya mengkaji melalui pendekatan ilmu akuntansi
tetapi juga perlu mengikut sertakan pendekatan teori-teori dari displin ilmu
yang lain diantaranya ilmu psikologi dan ilmu manajemen. Dengan adanya
pendekatan lintas displin ilmu ini diharapkan akan diperoleh penyebab
kecurangan akuntansi perusahaan secara menyeluruh.
4. Penelitian selanjutnya sebaiknya menggunakan metode pengumpulan data
melalui wawancara yaitu tatap muka dengan responden selain melalui
kuesioner penelitian, agar dapat memperoleh informasi yang lebih akurat dan
detail.

DAFTAR PUSTAKA

84

Abbott, L. J., Susan Parker, and Gary F. Peters. 2002. Audit Comite
Characteristics and Financial Statement: A Study of the Efficacy of Certain
Blue Ribbon Committee Recommendation. Working paper. www.ssrn.com
Agus, Sukrisno. 2004. Auditing (Pemeriksaan Akuntan) oleh Kantor Akuntan
Publik. Edisi Ketiga, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas
Indonesia
Albrecht, W. S., and Chad Albrecht. 2004. Fraud Examination & Prevention.
Australia: Thomson, South-Western
Alison. 2006. Fraud Auditing
http://www.reindo.co.id

(Bagian

Pertama

dari

Dua

Tulisan).

Amat, O., Blake, J., & Dowds, J. 1999. The Ethics of Creative Accounting.
Retrieved February, 21, 2006, from the Econ Papers Web site :
http://econpapers.repec.org/paper/upfupfgen/349.htm
Apostolou, B. A., Jhon M. Hassel, Sally A. Webber, Glenn E. Sumners. 2001.
The Relative Importance of Management Fraud Risk Factors. Behavioral
Research in Accounting, vol.13, pp:1-24
Batavia, Van Fuddin. 2010. Kinerja Pegawai dan Budaya Organisasi.
http://www.google.com
Beasley, M. S. 1996. An Empirical Analysis of the Relation between the Board of
Director Composition and Financial Statement Fraud. The Accounting
Review, vol. 71 no. 4 (Oct.), pp: 443-465
Chtourou, S. M., Jean Bdard, and Lucie Courteau. 2001. Corporate Governance
and Earnings Management. Working Paper. www.ssrn.com
Church, B. K., Jeffrey J. McMillan., and Arnold Schneider. 2001. Factors
Affecting
Internal Auditors Consideration of Fraudulent Financial
Reporting during Analytical Procedures. Auditing: a Journal of Practice
& Theory, vol. 20. no.1: 65-80
Dallas, Lynne L. 2002. A Preliminary Inquiry into the Responcibility of
Corporations and Their Directors and Officers for Corporate Climate: The
Psichology of Enrons Climate. Working Paper. www.ssrn.com
Darsono (2001), Korupsi Sebagai Kompensasi Underpayment: Suatu Tinjauan
Teori Equity, Jurnal Bisnis dan Akuntansi, Volume 3 No 2
Dessler, Gary. 1998. Human Resource Management. Tenth Edition. New Jersey:
Prentice Hall
Dyah, Siregar. 2006. Kepuasan Kerja Vs produktivitas, http://www.Ippm.com

85

Fauwzi, Hari Glifandi Muhammad. 2011. Analisis Pengaruh Pengendalian


internal, Presepsi Kesesuaian kompensasi, Moralitas Manajemen terhadap
Prilaku Tidak Etis dan Kecurangan Akuntansi. Skripsi S1 Universitas
Diponegoro Semarang
Foster, G. 1986. Financial Statement Analysis 2 edition. Prentice
International, Inc. New Jersey, USA

Hall

Ghozali, Imam. 2006. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS.


Semarang : Badan Penerbit Universitas diponogoro
Green, B.P., and Thomas G. Calderon. 1999. Exploring Collusion through
Consolidation of Positions, Duties, and Controls as a Faktor in Financial
Statement Fraud. Working Paper. www.ssrn.com
Green, Stephen G. and Terence R. Mitchell. 1979. Attributional Processes of
Leaders in Leader-Member Interactions, dalam Organizational Behavior
and Human Performance.
Harif, Rivai. 2001. Pengaruh Kepuasan gaji, Kepuasan Kerja, Komitmen
Organisasional terhadap Intensi Keluar, Pengujian Empiris Model Turnover
Lum et all, Jurnal Bisnis dan Akuntansi, Volume 3, No 1.
Hartadi, Bambang. 2000. Sistem Pengendalian Intern dalam Hubungannya
dengan Manajemen Dan Audit. Yogyakarta: BPFE
Hartanto, 1997. Akuntansi untuk Usahawan, Edisi Kelima. Jakarta : LPFE-UI
Hasibuan, Malayu S.P. 2002. Manajemen Sumber daya Manusia. Jakarta : PT
Bumi Aksara
http://www.ekasulistiyana.web.id/kuliah/bahan-kuliah/apakah-creativeaccounting-itu/
http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/07/pengantar-perhotelan-definisi-hotel.html
http://www.reindo.co.id/reinfokus/edisi16/fraud.htm
IAI (2009), Standar Profesional Akuntan Publik.
Ihsan, Arfan & Ida Bagus Teddy Prianthara. 2008. Sistem Akuntansi Perhotelan.
Yogyakarta : Graha Ilmu
Indriantoro, Nur Supomo Bambang. 2002. Metodologi penelitian Bisnis untuk
Akuntansi dan Manajemen. Yogyakarta : Penerbit BPFE

86

Jensen, and W. H. Meckling. 1976. Theory of the firm: Managerial behavior,


agency costs and ownership structure. Journal of Financial Economics,
vol. 3 : 305- 360
Kelley, H.H. 1967. Attribution Theory in Social Psychology, dalam Nebraska
Symposium on Motivation, ed. D. Levine. Lincoln: University of Nebraska
Press.
Khomsiyah dan Susanti. 2003. Pengungkapan, Asimetri Informasi dan Cost of
Capital. Simposium Nasional Akuntansi VI Surabaya
Khang, K. and Tao-Hsien Dolly King. 2002. Is Devidend Policy Related to
Information Asymmetry? Evidence from Insider Trading Gains. Working
Paper. www.ssrn.com
Matsumura, E. M., and Robert R. Tucker. 1992. Fraud detection: A Theoretical
Foundation. The Accounting Review, vol. 67 no. 4
Mayangsari, Sekar, & Wilopo. 2002. Pengaruh Pengendalian Internal dan
Perilaku Tidak Etis terhadap Kecenderungan Kecurangan Akuntansi.
Simposium Nasional Akuntansi
Mustafa, li Bihaqi. 2004. Pengendalian intern dan Pemberantasan korupsi,
Artikel Warta Pengawasan Volume XI No.1
Mulyadi. 2002. Auditing. Jakarta : Salemba Empat
Pritchard, Adam C. 1999. Markets as Monitors: A Proposal to Replace Class
Actions with Exchanges as Securities Fraud Enforces. Working Papers. A
revised version is forthcoming in the Virginia Law Review, September
1999. www.ssrn.com
Reinstein, A., and Bayou, M. E. 1998. A Comprehensive Structure to Help
Analyse, Detect and Prevent Fraud. Working paper. www.ssrn.com
Ribstein, L. E. 2002. Market vs Regulatory Responses to Corporate Fraud: A
Critique
of the Sarbanes-Oxley Act of 2002. Working paper.
www.ssrn.com
Rivai, Veithzal. 2005. Manajemen Sumber Daya Manusia Untuk perusahaan.
Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada
Saefuddin, A. Muflih. (1997). Korupsi Struktural, GATRA, No. 28 Tahun III,
31 Mei, hal 107
Sanusi, Anwar . 2011. Metodologi Penelitian Bisnis. Jakarta : Salemba Empat

87

Scott, W. R. 2003. Financial Accounting Theory 3 edition. Toronto: Prentice


Hall.
Sihotang. 2007. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta : Pradnya Paramita
Simanjuntak, Ridwan. 2008. Kecurangan: Pengertian dan Pencegahan.
http://www.asei.co.id/internal/docs/Asei-Kecurangan.doc
Smith, R., Sam Tiras, and Stan Vichitlekar. 1997. The Interaction Between
Internal Control Assessment and Substantive Testing in Audits for Fraud.
Working Paper, www.ssrn.com
Soselisa, Rangga. 2008. Pengaruh Faktor Kultur Organisasi, Manajemen,
Strategik, Keuangan dan Auditor terhadap Kecenderungan Kecurangan
Akuntansi: Studi pada Perusahaan Publik di Indonesia. Simposium
Nasional Akuntansi XI, Pontianak.
Sobel, L. A. 1977. Corruption in Business. New York: Facts on File, Inc
Spathis, Ch., M. Doumpos, C. Zopoundis. 2002. Detecting Falsified Financial
Statement Using Multikriteria Analysis: The Case of Greece. Working
Papers. www.ssrn.com
Sugiyono. 2010. Statistika untuk Penelitian. Bandung : CV. Alfabeta
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Bisnis. Bandung : CV. Alfabeta
Suhermadi, Bambang. 2009. Manajemen Fraud. http://internal.dsuc.co.id
Sulistyowati, Firma. 2007. Pengaruh Kepuasan Gaji dan Kultur Organisasi
terhadap Presepsi Aparatur Pemerintah Tentang Tindak Korupsi. Jurnal
Akuntansi dan Auditing Indonesia (JAAI), Volume 11 No.1
Tarmoezi, Trizno. 2000. Hotel Front Office. Jakarta : Kesaint Blanc
Tranparancy International. Corruption Perceptions Index, 1998-2005
Tuanakotta, Theodorus M. 2010. Akuntansi Forensik dan Audit Investigatif.
Jakarta : Salemba Empat
Tunggal, Amin. 2000. Coso-Based Auditing. Jakarta : Harvindo
Tunggal, Amin. 2011. Teori dan Kasus Kecurangan Akuntansi dan Keuangan.
Jakarta : Harvindo

88

Tim Penyusun Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik.
2007. Sistem Pengendalian Internal, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara
(STAN)
Thoyibatun, Siti. 2008. Pengaruh Pengendalian internal dan Sistem Kompensasi
terhadap Perilaku Tidak Etis dan Kecenderungan Kecurangan Akuntansi.
Simposium Nasional Akuntansi XII, Palembang
Wijaya, Benni. 2011. Peranan Pedoman Anti Fraud dalam Menurunkan Tingkat
Kecurangan Perbankan Nasional di Indonesia. Skripsi S1 Universitas
Brawijaya.
Wilopo. 2006. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kecenderungan
Kecurangan Akuntansi. Simposium Nasional Akuntansi IX.
Wolk, H. I., and Michael G. Tearney. 1997. Accounting Theory: A Conceptual
and
Institusional Approach 4th ed. Ohio, South-Western College
Publishing.
Wright, Patrick M., 2003. Restoring Trust: The Role of HR in Corporate
Governance. September, 2003. www.ilr.cornell.edu/cahrs
Waworuntu, Bob. 2003. Determinasi Kepemimpinan : dalam Jurnal Makara,
Sosial Humaniora Vol 7. No.2. Depok : Universitasn Indonesia

Lampiran 1

89

DAFTAR NAMA PERUSAHAAN JASA PERHOTELAN DI KOTA


MATARAM DAN KABUPATEN LOMBOK BARAT

NO
NAMA
HOTEL BINTANG
1
HOTEL GRAND LEGI
2
HOTEL LOMBOK RAYA
3
HOTEL LOMBOK GARDEN
4
HOTEL NITOUR
5
HOTEL GRAHA AYU
6
HOTEL MATARAM
7
HOTEL HANDIKA
8
HOTEL ZAITUN
9
HOTEL LOMBOK PLAZA
10 SHERATON SENGGIGI BEACH
THE SANTOSA VILLAS &
11
RESORT
12 HOLIDAY RESORT LOMBOK
13 SENGGIGI AERO WISATA
14 JAYAKARTA
15 GIC GOLONG
16 PURI SALON
17 WINDY
18 GRAHA SENGGIGI
19 BINTANG SENGGIGI
20 BUKIT SENGGIGI
21 SURANADI HOTEL
22 PURI MAS SENGGIGI
23 PURI BUNGA
24 QUNCI VILLAS
25 THE QUNCI
26 IMAJ PRIVATE VILLA
27 MENINTING RAYA
COCOTINOS BOUTIQUE BEACH
28
RESORT & SPA
MELATI HOTEL
29 HOTEL ASTITI I
30 HOTEL RATIH
31 HOTEL KARTIKA I
32 HOTEL ORINDO
33 HOTEL BIDARI

ALAMAT
Jln. Sriwijaya 81 Mataram
Jln. Panca Usaha No 11 Mataram
Jln. Bung Karno No 17 Mataram
Jln. Yos Sudarso No 4 Ampenan
Jln. Ismail Marzuki Mataram
Jln. Pejanggik No 105 Cakra
Jln. Panca Usaha No 3 Mataram
Jln. Pejanggik Mataram
Jln. Pejanggik Cakra
Jln. Raya Senggigi KM 14
Jln. Raya Senggigi KM 12
Jln. Raya Senggigi KM 16
Jln. Raya Senggigi KM 11
Jln. Raya Senggigi KM 6
Kawasan Presak Narmada
Jln. Raya Senggigi KM 16
Mangsit
Jln. Raya Senggigi KM 10
Jln. Raya Senggigi KM 7
Jln. Raya Senggigi KM 13
Jln. Raya Suranadi Narmada
Jln. Raya Senggigi KM 15
Jln. Raya Senggigi
Jln. Raya Senggigi
Jln. Raya Senggigi
Jln. Raya Senggigi
Jln. Raya Senggigi
Jln. Raya Pandanan-Pelanggan
Sekotong
Jln. Subak III/3 Cakra
Jln. Penjanggik No 127 Cakra
Jln. Garuda No 21 Cakra
Jln.Tgh Faesal 11 Sweta Cakra
Jln. Bangau No 5 Cakra

90

34
35
36
37
38
39
40
41

HOTEL MEREJE SARIGUNA I


HOTEL CHANDRA
HOTEL ARUM JAYA
HOTEL SANTIKA
WISMA NUSANTARA I
HOTEL PURI INDAH
HOTEL CENDRAWASIH
BATU BOLONG

Jln. Pariwisata 9 Mataram


Jln. Catur Warga 35 Mataram
Jln. Catur Warga 29 Mataram
Jln. Pejanggik No 32 Mataram
Jln. R Soeprapto 28 Mataram
Jln. Sriwijaya 132 Cakra
Jln. Garuda No 8 Cakra
Jln Raya Senggigi

Sumber : Data Usaha Pariwisata Nusa Tenggara Barat ( Dinas pariwisata)


2011

Lampiran 2
UNIVERSITAS MATARAM
FAKULTAS EKONOMI
Kepada
Yth.Bapak/Ibu Responden
Di Tempat

Dengan Hormat,
Saya, mahasiswa Program Studi Strata 1 Universitas Mataram, sedang
mengadakan penelitian berjudul Pengaruh Pengendalian internal, Kesesuaian
Kompensasi dan Asimetri Informasi terhadap Kecurangan Akuntansi.
Penelitian ini bertujuan untuk memberikan kontribusi informasi mengenai

91

kecurangan akuntansi kepada Perusahaan Jasa Perhotelan dalam upaya


peningkatan kualitas pelayanan Perusahaan Jasa Perhotelan tersebut.
Untuk keperluan studi ini, saya mengharapkan kesediaan Bapak/Ibu untuk
berkenaan menjadi responden dan bersedia menjawab pertanyaan-pertanyaan
yang diajukan. Jawaban Bapak/Ibu berikan tidak dinilai dari benar atau salah,
namun lebih untuk menggali pendapat/opini Bapak/Ibu berkenaan dengan
kecurangan akuntansi.
Jawaban yang Bapak/Ibu berikan akan saya jamin kerahasiaanya sebaik
mungkin. Atas bantuan dan kesediaan Bapak/Ibu untuk memberikan jawaban,
saya ucapkan banyak terima kasih.
Mataram,

Ade Aryani Taufik

IDENTITAS RESPONDEN
Nama Responden

Jenis Kelamin

: (L/P)

Nama Hotel

Jabatan

Lama menduduki Jabatan

Pendidikan Terakhir

PETUNJUK PENGISIAN:

92

Pada bagian ini, Bapak/Ibu diminta memberi tanda centang () pada salah satu
alternatif

jawaban yang menurut Bapak/Ibu paling tepat pada kolom yang

tersedia.
Keterangan : SS

= Sangat Setuju

= Setuju

= Netral(artinya tidak tahu/tidak dapat menentukan pilihan)

TS

= Tidak Setuju

STS

= Sangat Tidak Setuju

No

Pertanyaan

Pengendalian Internal
1

Di Perusahaan tempat saya bekerja Penerapan wewenang


dan tanggung jawab di pentingkan
Di Perusahaan tempat saya bekerja, bila laporan keuangan
perlu segera di terbitkan, maka otoritas transaksi dan bukti
pendukung tidak dapat di abaikan
Di perusahaan tempat saya bekerja, pemeriksaan fisik

terhadap karyawan karyawan perusahaan (kas, persedian


dan lain-lain) tidak hanya dilakukan pada saat di perlukan
Di perusahaan tempat saya bekerja, sistem akuntansi dapat
mencatat seluruh informasi kegiatan operasional perusahaan
Di Perusahaan tempat saya bekerja, pemantauan dan
evaluasi atas aktivitas operasional untuk menilai pelaksana
pengendali internal (misalnya, derajat keamanan kas,
persedian dsb.) dilakukan secara terus menerus

Kesesuaian Kompensasi
kompensasi keuangan yang diberikan perusahaan ini diukur
6

sesuai dengan prestasi pekerja yang telah dilakukan oleh


karyawan perusahaan

SS

ST

STS

93

Perusahaan ini menciptakan kondisi sehingga diakui semua


7

karyawan memang menguasai pekerjaan yang menjadi


tanggung jawab masing-masing
Promosi perusahaan ini berikan atas dasar prestasi kerja

yang yang telah dicapai oleh para karyawan perusahaan


yang telah dicapai oleh para karyawan perusahaan
Perusahaan ini di kelola oleh manajemen sedemikian

sehingga

karyawannya

memulai

dan

menyelesaikan

pekerjaan dengan baik


Pekerjaan sebagai penanggung jawab penyusunan laporan
10

keuangan di perusahaan ini merupakan tugas menantang


yang harus dicapai dalam waktu tertentu
Diperusahaan ini, penanggung jawab penyusunan laporan

11

keuangan dapat memaksimalkan kemampuan, pengetahuan


dan keahlian di bidangnya

Asimetri Informasi
Atas pekerjaan dibidang akuntansi, pihak luar perusahaan
12

ini, baik langsung ataupun tidak langsung, juga mengetahui


informasi yang berkaitan dengan transaksi perusahaan yang
seluruh mempunyai dampak keuangan
Dalam perusahaan ini, hanya penangung jawab penyusunan

13

laporan keuangan yang seluruh hubungan antara data


transaksi keuangan dengan peroses penyusunan laporan
keuangan
Pihak luar perusahaan ini, baik langsung ataupun tidak

14

langsung, selalu mengetahui dan memahami isi dan angka


laporan keuangan yang selesai dikerjakan
Di perusahaan ini hanya penanggung jawab penyusunan

15

laporan keuangan yang mengerti lika-liku pembuatan


laporan keuangan
Pihak luar perusahaan ini, baik langsung ataupun tidak

16

langsung, juga mengetahui faktor yang memperngaruhi


kegiatan pembuatan laporan keuangan

94

Di
17

perusahaan

ini,

pihak

luar

perusahaan,

pernah

mengetahui isi dan angka yang sebenarnya dari laporan


keuangan yang disusun perusahaan

Kecurangan Akuntansi
Agar laba perushaan ini tampak lebih besar, maka wajar
18

pemimpin bagian akuntansi di perusahaan ini memperkecil


biaya-biaya yang tercatat dalam pembekuan perusahaan
Bagi pemimpin bagian akuntansi di perusahaan ini, demi

19

mengamankan posisi direksi adalah tidak wajar bila catatan


dan dokumen penyuapan kepada pejabat pemerintah
dihilangkan dari pembukuan
Bila ingin menunjukkan laba perusahaan yang lebih besar

20

dari sebenarnya penanggung jawab penyusunan laporan


keuangan perusahaan ini diperkenankan untuk memperkecil
cadangan piutang macet
Pemimpin bagian akuntansi di perusahaan ini, sepatutnya

21

berusaha untuk tidak menerima berbagai pembayaran fiktif


yang ada diperusahaan
Direktur keuangan di perusahaan ini, seharusnya berani

22

menolak permintaan komisaris utama untuk membeli rumah


perusahaan dengan harga murah (di bawah harga pasar)

95

Lampiran 3

TABULASI DATA RESPONDEN


Pengendalian Internal (PI)
Responden
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

1
5
5
4
4
4
4
4
5
4
4
4
2
4
4
4
5
5
5
5
5

Skor Butir Soal Ke


2
3
4
2
2
4
5
5
5
4
2
3
4
4
4
5
2
4
2
4
3
2
4
3
4
5
4
4
4
4
4
4
4
4
4
3
2
3
2
4
4
4
4
4
3
4
4
4
5
4
4
5
5
5
5
5
5
4
4
4
5
5
5

5
2
5
4
4
4
5
5
4
4
4
4
2
4
4
4
5
5
5
4
5

KPI
15
25
17
20
19
18
18
22
20
20
19
11
20
19
20
23
25
25
21
25

96

21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
59
Jumlah

5
5
5
2
5
4
5
4
4
5
5
2
2
4
2
5
5
5
5
5
5
5
5
5
4
4
5
3
5
1
4
3
3
3
3
5
4
4
3
4
4
4
4
4
4
3
5
4
3
4
5
5
4
5
5
5
5
2
2
2
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
5
5
2
5
4
4
3
3
3
3
3
4
4
3
3
4
5
3
5
1
5
2
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
4
1
1
4
5
4
4
5
4
4
4
4
4
1
1
1
1
4
4
2
2
2
4
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
4
3
3
4
4
5
5
3
2
4
5
5
4
4
5
5
5
5
4
4
4
4
4
4
4
4
4
2
4
4
4
4
2
2
2
4
4
2
2
2
2
4
4
4
4
4
4
2
4
4
4
4
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
251 240 215 218 227

22
22
15
25
24
18
16
20
20
19
24
16
20
20
21
16
17
18
22
25
16
22
20
8
14
25
25
18
19
23
23
20
18
14
14
18
18
14
10
10
1151

97

Kesesuaian Kompensasi (KK)


Responden
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39

1
5
5
3
4
4
2
2
5
4
2
4
3
4
4
4
4
2
2
4
4
4
4
5
3
4
4
3
4
5
4
3
2
4
4
2
2
3
4
2

Skor Butir Soal Ke


2
3
4
5
5
5
5
4
5
5
5
5
2
2
2
3
4
4
4
4
4
4
4
4
4
3
5
4
4
3
5
4
5
4
5
4
4
5
4
5
2
2
2
2
4
3
5
4
5
3
4
3
4
3
4
3
4
3
5
4
4
3
4
3
4
4
5
5
4
2
2
2
4
2
2
2
4
4
4
2
4
4
4
5
4
4
4
4
4
4
4
3
5
5
5
4
3
3
3
3
3
4
4
5
4
3
4
4
4
3
4
3
4
5
4
4
4
5
4
4
4
5
4
3
4
4
4
5
2
2
2
2
4
4
4
4
4
4
4
4
4
2
2
2
4
2
2
2
4
3
4
3
2
4
4
4
2
2
2
2

6
4
5
4
4
4
4
4
5
4
2
4
3
4
4
4
4
4
4
4
5
4
4
4
3
5
5
4
4
4
4
5
2
4
4
4
4
4
5
2

KK
28
30
16
24
24
22
22
28
26
12
24
21
22
24
22
26
16
16
22
26
24
23
28
18
25
24
21
25
26
24
25
12
24
24
16
16
21
23
12

98

40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
Jumlah

5
4
4
5
3
4
2
4
2
2
2
4
2
4
2
2
2
4
4
4
4
4
4
4
2
2
2
2
2
2
3
4
4
4
4
4
2
4
2
2
2
4
2
4
2
2
2
4
4
4
3
4
3
3
4
4
3
4
3
2
4
4
4
2
4
2
4
4
3
4
4
5
4
4
2
4
4
5
2
4
2
4
2
4
2
4
2
4
2
4
2
4
2
4
2
4
4
4
2
2
2
4
4
2
2
4
2
4
2
4
4
4
4
4
4
2
2
2
2
4
4
2
4
4
2
4
203 225 193 217 194 234

25
16
16
24
12
23
16
16
21
20
20
24
23
18
18
18
18
18
22
16
20
1266

Asimetri Informasi (AI)

Responden
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

1
2
2
2
2
2
2
2
2
2
1
2
2
2

Skor Butir Soal Ke


2
3
4
5
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
5
1
4
4
5
1
4
4
5
2
4
3
4
1
4
4
1
1
1
1
4
1
4
4
2
2
2
2
2
1
4
1

6
2
2
2
2
2
2
2
2
1
1
1
2
2

AI
20
20
20
20
20
18
18
18
16
6
16
12
12

99

14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55

2
3
3
2
2
1
2
4
2
1
2
2
2
4
4
4
4
2
2
2
2
2
2
2
2
1
1
2
2
2
2
4
4
1
4
2
2
2
2
2
2
2

5
4
4
4
2
4
2
4
2
1
2
2
2
4
4
4
5
2
4
5
5
5
2
2
2
5
5
2
2
2
3
3
3
2
3
2
4
4
4
4
4
4

1
3
2
2
2
2
3
2
4
1
3
2
4
2
4
2
3
2
2
3
3
3
2
2
2
1
1
2
2
4
4
2
2
1
2
1
4
4
4
4
4
4

4
4
4
4
2
2
2
4
2
1
2
2
4
4
4
4
5
2
4
4
4
4
4
4
4
5
5
2
2
2
2
4
4
2
4
2
4
4
4
4
4
4

4
3
2
4
2
2
4
2
2
1
4
2
4
2
3
2
2
4
1
2
2
2
2
2
2
1
1
4
4
4
4
2
2
1
2
1
2
2
4
4
4
4

2
3
1
2
2
2
2
2
2
1
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
1
1
1
1
2
2
2
2
3
3
2
3
2
2
2
2
2
2
2

18
20
16
18
12
13
15
18
14
6
15
12
18
18
21
18
21
14
15
18
18
18
14
13
13
14
14
14
14
16
17
18
18
9
18
10
18
18
20
20
20
20

100

56
57
58
59
60
Jumlah

2
4
4
4
4
2
2
5
5
5
5
2
2
5
5
5
5
2
2
4
4
4
4
2
2
4
4
4
4
4
122 188 139 191 153 107

20
24
24
20
22
1000

Kecurangan Akuntansi (KA)


Responden
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30

1
4
1
4
2
2
4
4
1
1
2
2
3
3
2
3
2
2
1
2
1
2
2
2
3
2
2
3
2
2
3

Skor Butir Soal Ke


2
3
4
2
4
4
1
1
1
4
4
3
2
2
2
1
2
5
1
2
3
1
2
3
1
4
5
1
5
5
2
2
2
1
2
4
2
3
3
3
3
3
1
2
4
3
3
3
2
2
4
2
1
5
1
1
5
2
2
4
1
1
5
3
2
4
3
2
4
2
1
3
3
3
5
3
2
4
1
2
5
3
3
3
1
3
5
1
3
5
3
3
3

5
4
1
3
2
3
4
4
3
4
2
3
4
3
3
3
3
5
5
3
5
3
3
2
3
4
3
3
5
4
3

KCA
18
5
18
10
13
14
14
14
16
10
12
15
15
12
15
13
15
13
13
13
14
14
10
17
15
13
15
16
15
15

101

31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
Jumlah

2
2
2
5
5
2
2
2
2
2
2
1
1
1
2
2
1
1
1
2
1
1
1
5
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
2
1
2
5
3
2
2
2
2
2
1
1
1
5
1
5
1
4
4
5
4
1
1
4
5
4
2
4
4
4
5
5
2
4
5
2
2
2
4
3
4
4
4
4
4
4
4
4
4
4
2
4
2
4
4
4
4
4
4
4
2
2
2
4
2
2
4
2
4
2
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
4
2
4
4
4
2
4
4
4
2
2
4
4
4
2
5
5
2
4
5
5
5
2
4
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
127 107 121 190 168

Lampiran 4
Statistik Deskrpsi

16
10
7
7
11
15
15
13
10
9
19
15
18
21
13
20
20
16
20
12
14
25
25
18
16
16
21
21
25
25
905

102

Descriptive Statistics
N

Minimum

Maximum

Mean

Std. Deviation

PI

60

8.00

25.00

19.1833

4.07344

KK

60

12.00

30.00

21.1000

4.40223

AI

60

6.00

24.00

16.6667

3.80752

KA

60

5.00

25.00

15.0833

4.34641

Valid N (listwise)

60

LAMPIRAN 5
1. Hasil Uji validitas Pengendalian Intern (PI)

103

Correlations
pi1
pi1

Pearson Correlation

pi2

pi2

Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N

pi3

.456**

.482**

.309*

.717**

.000

.000

.000

.016

.000

60

60

60

60

60

60

.539**

.464**

.439**

.250

.712**

.000

.000

.054

.000

.000

60

60

60

60

.456**

.464**

.536**

.602**

.824**

.000

.000

.000

.000

.000

60

60

60

60

60

60

.482**

.439**

.536**

.458**

.781**

.000

.000

.000

.000

.000

60

60

60

60

60

60

Pearson Correlation

.309*

.250

.602**

.458**

.715**

Sig. (2-tailed)

.016

.054

.000

.000

60

60

60

60

60

60

.717**

.712**

.824**

.781**

.715**

.000

.000

.000

.000

.000

60

60

60

60

60

Pearson Correlation

Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N

N
pitotal

pitotal

60

pi5

pi5

60

Sig. (2-tailed)

pi4

pi4

.539**

Sig. (2-tailed)
N

pi3

Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).


*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

2. Uji validitas Kesesuaian Kompensasi (KK)

.000

60

104

Correlations
KK1
KK1

Pearson
Correlation

KK2
1

Sig. (2-tailed)
N
KK2

KKtotal

.589**

.571**

.326*

.783**

.046

.000

.000

.000

.011

.000

60

60

60

60

60

60

.456**

.373**

.362**

.597**

Sig. (2-tailed)

.046

.002

.000

.003

.004

.000

Pearson
Correlation

Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N

KK6

KK6

1 .384**

KK5

.258* .713**

KK5

.258*

Sig. (2-tailed)

KK4

KK4

Pearson
Correlation

N
KK3

60

KK3

Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N

KKTOTAL Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N

60

60

60

60

60

60

60

.713**

.384**

.644**

.740**

.279*

.852**

.000

.002

.000

.000

.031

.000

60

60

60

60

60

60

60

.456** .644**

.658**

.428**

.844**

.000

.001

.000

.589**
.000

.000

.000

60

60

60

60

60

60

60

.373** .740**

.658**

.433**

.846**

.001

.000

.571**
.000

.003

.000

.000

60

60

60

60

60

60

60

.326*

.362**

.279*

.428**

.433**

.590**

.011

.004

.031

.001

.001

60

60

60

60

60

60

60

.597** .852**

.844**

.846**

.590**

.783**

.000

.000

.000

.000

.000

.000

.000

60

60

60

60

60

60

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2tailed).


**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

60

105

3. Uji Validitas Asimetri informasi (AI)


Correlations
Ai1
Ai1

Ai2

.421**

.413**

.257

.579

.013

.729

.001

.001

60

60

60

60

60

60

60

Pearson Correlation

.149

.229

.774**

.249

.090

.725**

Sig. (2-tailed)

.257

.078

.000

.055

.495

.000

60

60

60

60

60

60

60

Pearson Correlation

.073

.229

.237

.547**

.337**

.694**

Sig. (2-tailed)

.579

.078

.069

.000

.008

.000

60

60

60

60

60

60

60

Pearson Correlation

.320*

.774**

.237

.155

.077

.722**

Sig. (2-tailed)

.013

.000

.069

.236

.558

.000

60

60

60

60

60

60

60

-.046

.249

.547**

.155

.201

.632**

.729

.055

.000

.236

.124

.000

60

60

60

60

60

60

60

.421**

.090

.337**

.077

.201

.450**

.001

.495

.008

.558

.124

60

60

60

60

60

60

60

.413**

.725**

.694**

.722**

.632**

.450**

.001

.000

.000

.000

.000

.000

60

60

60

60

60

60

N
Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N
Ai6

Aitotal

-.046

Ai5

Ai6

.320*

Ai4

Ai5

.073

Ai3

Ai4

.149

Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)

Ai2

Ai3

Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N

Aitotal Pearson Correlation


Sig. (2-tailed)
N

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).


**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

.000

60

106

4. Uji Validitas Kecurangan Akuntansi (KA)


Correlations
KA1
KA1

Pearson
Correlation

KA2

KA2

Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N

KA3

Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N

KA4

Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N

KA5

Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N

KATOTAL

Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N

KA4

KA5

KATOTAL

.621**

.538**

.056

.573**

.801**

.000

.000

.673

.000

.000

60

60

60

60

60

60

.621**

.500**

.107

.272*

.735**

.000

.417

.036

.000

Sig. (2-tailed)
N

KA3

.000
60

60

60

60

60

60

.538**

.500**

.285*

.319*

.748**

.000

.000

.027

.013

.000

60

60

60

60

60

60

.056

.107

.285*

.549**

.524**

.673

.417

.027

.000

.000

60

60

60

60

60

60

.573**

.272*

.319*

.549**

.741**

.000

.036

.013

.000

60

60

60

60

60

60

.801**

.735**

.748**

.524**

.741**

.000

.000

.000

.000

.000

60

60

60

60

60

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).


*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

.000

60

107

LAMPIRAN 6
1. Hasil Uji Reliabilitas Pengendalian Internal (PI)
Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha Based on
Cronbach's

Standardized

Alpha

Items
.804

N of Items
.806

2. Hasil Uji Reliabilitas Kesesuaian Kompensasi (KK)


Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha Based on
Cronbach's

Standardized

Alpha

Items
.854

N of Items
.848

3. Hasil Uji Reliabilitas Asimetri Informasi (AI)


Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha Based on
Cronbach's

Standardized

Alpha

Items
.669

N of Items
.672

4. Hasil Uji Reliabilitas Kecurangan Akuntansi (KA)


Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha Based on
Cronbach's

Standardized

Alpha

Items

N of Items

108

Lampiran 7
Hasil Uji Normalitas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized
Residual
N

60

Normal Parametersa

Mean

.0000000

Std. Deviation
Most Extreme Differences

3.74954845

Absolute

.080

Positive

.079

Negative

-.080

Kolmogorov-Smirnov Z

.621

Asymp. Sig. (2-tailed)

.835

a. Test distribution is Normal.

Lampiran 8
Hasil Uji Multikolonearitas

Coefficientsa
Standardized
Unstandardized Coefficients
Model
1

(Constant)

Std. Error
21.384

3.970

PI

-.294

.131

KK

-.261

AI

.291

a. Dependent Variable: KA

Coefficients
Beta

Collinearity Statistics
t

Sig.

Tolerance

VIF

5.387

.000

-.275

-2.249

.028

.886

1.129

.119

-.265

-2.199

.032

.918

1.089

.138

.255

2.110

.039

.911

1.098

109

Lampiran 9
Hasil Uji Heteroskedastisitas (Uji Glejser)

Coefficientsa
Standardized
Unstandardized Coefficients
Model
1

B
(Constant)

Std. Error

Coefficients
Beta

2.474

2.589

PI

.072

.085

KK

-.079

AI

.036

Sig.
.956

.343

.118

.840

.404

.077

-.140

-1.014

.315

.090

.056

.402

.689

a. Dependent Variable: ABSUT

Lampiran 10
Hasil Uji Regresi Simultan (Uji F)

ANOVAb
Model
1

Sum of Squares

df

Mean Square

Regression

285.096

95.032

Residual

829.488

56

14.812

1114.583

59

Total

a. Predictors: (Constant), AI, KK, PI


b. Dependent Variable: KA

F
6.416

Sig.
.001a

110

Lampiran 11
Hasil Uji Regresi Parsial (Uji t)

Coefficientsa
Standardized
Unstandardized Coefficients
Model
1

B
(Constant)

Coefficients

Std. Error

Beta

21.384

3.970

PI

-.294

.131

KK

-.261

AI

.291

t
5.387

.000

-.275

-2.249

.028

.119

-.265

-2.199

.032

.138

.255

2.110

.039

a. Dependent Variable: KA

Lampiran 12
Hasil Uji Koefisien Determinasi (R2)

Model Summary

Model
1

R
.506a

R Square
.256

a. Predictors: (Constant), AI, KK, PI

Sig.

Adjusted R

Std. Error of the

Square

Estimate
.216

3.84867