Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Gangguan afektif bipolar adalah kondisi umum yang dijumpai, dan diantara gangguan
mental menempati posisi kedua terbanyak sebagai penyebab ketidak mampuan/disabilitas.
Depresi bipolar sama pada kelompok pria dan wanita dengan angka kejadian sekitar 5 per
1000 orang. Penderita depresi bipolar dapat mengalami bunuh diri 15 kali lebih banya
dibandingkan dengan penduduk umum. Bunuh diri pertama-tama sering terjadi ketika
tekanan pada pekerjaan, studi, tekanan emosional dalam keluarga terjadi pada tingkat yang
paling berat. Pada risiko bunuh diri dapat meningkat selama menopause.6
Kebanyakan pasien dengan gangguan afektif bipolar secara potensial denganterapi yang
optimal dapat kembali fungsi yang normal. Dengan pengobatan yangkurang optimal hasilnya
kurang baik dan dapat kambuh untuk melakukan bunuh dirilagi. Data menunjukkan bahwa
pengobatan sering kurang optimal.6
Studi longitudinal bahwa pasien dengan kecenderungan bunuh diri pada kasusdengan
afektif bipolar 50% dapat dikurangi dengan terapi maintenance/pemeliharaandan terapi
depresi yang tepat.6
Prof dr Sasanto Wibisono, SpKJ (K), guru besar di bagian Psikiatri FKUImenjelaskan
perbedaan ekstrem perasaan (manik dan depresi) penderita Bipolar tidakselalu bisa diamati
oleh lingkungannya karena masing-masing individu reaksinyaberlainan. Ada yang menonjol
kutub maniknya, sementara yang lain menonjoldepresinya.
Kondisi tidak normal itu bisa terjadi hanya beberapa minggu sampai 2-3bulan.Setelah itu
kembali ''normal'' untuk jangka waktu relatif lama, namun dikesempatan lain muncul
kembali.7

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi
Gangguan Bipolar dikenal juga dengan gangguan manik depresi, yaitu gangguanpada
fungsi otak yang menyebabkan perubahan yang tidak biasa pada suasana perasaan, dan
proses berfikir. Disebut Bipolar karena penyakit kejiwaan ini didominasi adanya fluktuasi
periodik dua kutub, yakni kondisi manik (bergairah tinggi yang tidak terkendali) dan
depresi.
2.2. Etiopatofisiologi
Dahulu virus sempat dianggap sebagai penyebab penyakit ini. Serangan virus pada
otak berlangsung pada masa janin dalam kandungan atau tahun pertama sesudah
kelahiran. Namun, gangguan bipolar bermanifestasi 15-20 tahun kemudian. Telatnya
manifestasi itu timbul karena diduga pada usia 15 tahun kelenjar timus dan pineal yang
memproduksi hormon yang mampu mencegah gangguan psikiatrik sudah berkurang 50%.
Penyebab gangguan Bipolar multifaktor. Mencakup aspek bio-psikososial. Secara
biologis dikaitkan dengan faktor genetik dan gangguan neurotransmitter di otak. Secara
psikososial dikaitkan dengan pola asuh masa kana-kanak, stres yang menyakitkan, stres
kehidupan yang berat dan berkepanjangan, dan banyak lagi faktor lainnya.
Didapatkan fakta bahwa gangguan alam perasaan (mood) tipe bipolar (adanya episode
manik dan depresi) memiliki kecenderungan menurun kepada generasinya,berdasar
etiologi biologik. 50% pasien bipolar mimiliki satu orangtua dengan gangguan alam
perasaan/gangguan afektif, yang tersering unipolar (depresi saja). Jika seorang orang tua
mengidap gangguan bipolar maka 27% anaknya memiliki resikomengidap gangguan alam
perasaan. Bila kedua orangtua mengidap gangguan bipolarmaka 75% anaknya memiliki
resiko mengidap gangguan alam perasaan. Keturunan pertama dari seseorang yang
menderita gangguan bipolar berisiko menderita gangguan serupa sebesar 7 kali. Bahkan
risiko pada anak kembar sangat tinggiterutama pada kembar monozigot (40-80%),
sedangkan kembar dizigot lebih rendah,yakni 10-20%.
Beberapa studi berhasil membuktikan keterkaitan antara gangguan bipolar dengan
kromosom 18 dan 22, namun masih belum dapat diselidiki lokus mana dari kromosom
tersebut yang benar-benar terlibat. Beberapa diantaranya yang telah diselidiki adalah
2

4p16, 12q23-q24, 18 sentromer, 18q22, 18q22-q23, dan 21q22.Yang menarik dari studi
kromosom ini, ternyata penderita sindrom Down (trisomi 21) berisiko rendah menderita
gangguan bipolar.
Sejak ditemukannya beberapa obat yang berhasil meringankan gejala bipolar,peneliti
mulai

menduga

adanya

hubungan

neurotransmiter

dengan

gangguan

bipolar.

Neurotransmiter tersebut adalah dopamine, serotonin, dan noradrenalin. Gen-genyang


berhubungan dengan neurotransmiter tersebut pun mulai diteliti seperti genyang
mengkode monoamine oksidase A (MAOA), tirosin hidroksilase, catechol-Ometiltransferase (COMT), dan serotonin transporter (5HTT).
Penelitian terbaru menemukan gen lain yang berhubungan dengan penyakit iniyaitu
gen yang mengekspresi brain derived neurotrophic factor (BDNF). BDNF adalah
neurotropin yang berperan dalam regulasi plastisitas sinaps, neurogenesis dan
perlindungan neuron otak. BDNF diduga ikut terlibat dalam mood. Gen yang mengatur
BDNF terletak pada kromosom 11p13. Terdapat 3 penelitian yang mencaritahu hubungan
antara BDNF dengan gangguan bipolar dan hasilnya positif. Kelainan pada otak juga
dianggap dapat menjadi penyebab penyakit ini. Terdapatperbedaan gambaran otak antara
kelompok sehat dengan penderita bipolar. Melaluipencitraan magnetic resonance imaging
(MRI) dan positron-emission tomography(PET), didapatkan jumlah substansia nigra dan
aliran darah yang berkurang pada korteks prefrontal subgenual. Tak hanya itu, Blumberg
dkk dalam Arch GenPsychiatry 2003 pun menemukan volume yang kecil pada
amyangdala dan hipokampus. Korteks prefrontal, amyangdala dan hipokampus
merupakan bagian dari otak yangterlibat dalam respon emosi (mood dan afek).
Penelitian lain menunjukkan ekspresi oligodendrosit-myelin berkurang pada
otakpenderita bipolar. Seperti diketahui, oligodendrosit menghasilkan membran myelin
yang membungkus akson sehingga mampu mempercepat hantaran konduksi antar saraf.
Bila jumlah oligodendrosit berkurang, maka dapat dipastikan komunikasi antar saraf tidak
berjalan lancar.
2.3. Neurotransmiter Pada Gangguan Bipolar
Otak menggunakan sejumlah senyawa neurokimiawi sebagai pembawa pesan untuk
komunikasi berbagai beagian di otak dan sistem syaraf. Senyawa neurokimiawi ini,
dikenal sebagai neurotransmiter, sangat esensial bagi semua fungsi otak. Sebagai
pembawa pesan, mereka datang dari satu tempat dan pergi ke tempat lain untuk
menyampaikan pesan-pesannya. Bila satu sel syaraf (neuron) berakhir, di dekatnya ada
3

neuron lainnya. Satu neuron mengirimkan pesan dengan mengeluarkan neurotrasmiter


menuju ke dendrit neuron di dekatnya melalui celah sinaptik, ditangkap reseptor-reseptor
pada celah sinaptik tersebut.
Neurotransmiter yang berpengaruh pada terjadinya gangguan bipolar adalah dopamin,
norepinefrin, serotonin, GABA, glutamat dan asetilkolin.Selain itu, penelitian-penelitian
juga menunjukksan adanya kelompok neurotransmiter lain yang berperan penting pada
timbulnya mania, yaitu golongan neuropeptida, termasuk endorfin, somatostatin,
vasopresin dan oksitosin. Diketahui bahwa neurotransmiter-neurotransmiter ini, dalam
beberapa cara, tidak seimbang (unbalanced) pada otak individu mania dibanding otak
individu normal.
Misalnya, GABA diketahui menurun kadarnya dalam darah dan cairan spinal pada
pasien mania. Norepinefrin meningkat kadarnya pada celah sinaptik, tapi dengan
serotonin normal. Dopamin juga meningkat kadarnya pada celah sinaptik, menimbulkan
hiperaktivitas dan nsgresivitas mania, seperti juga pada skizofrenia. Antidepresan trisiklik
dan MAO inhibitor yang meningkatkan epinefrin bisa merangsang timbulnya mania, dan
antipsikotik yang mem-blok reseptor dopamin yang menurunkan kadar dopamin bisa
memperbaiki mania, seperti juga pada skizofrenia.
1) Monoamin dan Depresi
Penelitian-penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa zat-zat yang menyebabkan
berkurangnya monoamin, seperti reserpin, dapat menyebabkan depresi.Akibatnya
timbul teori yang menyatakan bahwa berkurangnya ketersediaan neurotransmiter
monoamin, terutama NE dan serotonin, dapat menyebabkan depresi. Teori ini
diperkuat dengan ditemukannya obat antidepresan trisiklik dan monoamin oksidase
inhibitor yang bekerja meningkatkan monoamin di sinap. Peningkatan monoamin
dapat memperbaiki depresi.
2) Serotonin
Neuron serotonergik berproyeksi dari nukleus rafe dorsalis batang otak ke korteks
serebri, hipotalamus, talamus, ganglia basalis, septum, dan hipokampus. Proyeksi ke
tempat-tempat ini mendasari keterlibatannya dalam gangguan-gangguan psikiatrik.
Ada sekitar 14 reseptor serotonin, 5-HT1A dst yang terletak di lokasi yang berbeda di
susunan syaraf pusat.
Serotonin berfungsi sebagai pengatur tidur, selera makan, dan libido. Sistem
serotonin yang berproyeksi ke nukleus suprakiasma hipotalamus berfungsi mengatur
ritmik sirkadian (siklus tidur-bangun, temperatur tubuh, dan fungsi axis HPA).
4

Serotonin bersama-sama dengan norepinefrin dan dopamin memfasilitasi gerak


motorik yang terarah dan bertujuan. Serotonin menghambat perilaku agresif pada
mamalia dan reptilia.
Neurotransmiter serotonin terganggu pada depresi. Dari penelitian dengan alat
pencitraan otak terdapat penurunan jumlah reseptor pos-sinap 5-HT1A dan 5-HT2A
pada pasien dengan depresi berat. Adanya gangguan serotonin dapat menjadi tanda
kerentanan terhadap kekambuhan depresi.Dari penelitian lain dilaporkan bahwa
respon serotonin menurun di daerah prefrontal dan temporoparietal pada penderita
depresi yang tidak mendapat pengobatan. Kadar serotonin rendah pada penderita
depresi yang agresif dan bunuh diri.
Triptofan merupakan prekursor serotonin. Triptofan juga menurun pada pasien
depresi. Penurunan kadar triptofan juga dapat menurunkan mood pada pasien depresi
yang remisi dan individu yang mempunyai riwayat keluarga menderita depresi.
Memori, atensi, dan fungsi eksekutif juga dipengaruhi oleh kekurangan triptofan.
Neurotisisme dikaitkan dengan gangguan mood, tapi tidak melalui serotonin. Ia
dikaitkan dengan fungsi kognitif yang terjadi sekunder akibat berkurangnya
triptofan.Hasil metabolisme serotonin adalah 5-HIAA (hidroxyindolaceticacid).
Terdapat penurunan 5-HIAA di cairan serebrospinal pada penderita depresi.
Penurunan ini sering terjadi pada penderita depresi dengan usaha-usaha bunuh diri.
Penurunan serotonin pada depresi juga dilihat dari penelitian EEG tidur dan HPA
aksis. Hipofontalitas aliran darah otak dan penurunan metabolisme glukosa otak
sesuai dengan penurunan serotonin. Pada penderita depresi mayor didapatkan
penumpulan respon serotonin prefrontal dan temporoparietal. Ini menunjukkan bahw
adanya gangguan serotonin pada depresi.
3) Noradrenergik
Badan sel neuron adrenergik yang menghasilkan norepinefrin terletak di locus
ceruleus(LC) batang otak dan berproyeksi ke korteks serebri, sistem limbik, basal
ganglia, hipotalamus dan talamus. Ia berperan dalam mulai dan mempertahankan
keterjagaan (proyeksi ke limbiks dan korteks). Proyeksi noradrenergik ke hipokampus
terlibat dalam sensitisasi perilaku terhadap stressor dan pemanjangan aktivasi locus
ceruleus dan juga berkontribusi terhadap rasa ketidakberdayaan yang dipelajari.
Locus ceruleus juga tempat neuron-neuron yang berproyeksi ke medula adrenal dan
sumber utama sekresi norepinefrin ke dalam sirkulasi darah perifer.
5

Stresor akut dapat meningkatkan aktivitas LC. Selama terjadi aktivasi fungsi LC,
fungsi vegetatif seperti makan dan tidur menurun. Persepsi terhadap stressor
ditangkap oleh korteks yang sesuai dan melalui talamus diteruskan ke LC, selanjutnya
ke komponen simpatoadrenalsebagai respon terhadap stressor akut tsb. Porses kognitif
dapat memperbesar atau memperkecil respon simpatoadrenal terhadap stressor akut
tersebut.
Rangsangan terhadap bundel forebrain (jaras norepinefrin penting di otak)
meningkat pada perilaku yang mencari rasa senang dan perilaku yang bertujuan.
Stressor yang menetap dapat menurunkan kadar norepinefrin di forbrain medial.
Penurunan ini dapat menyebabkan anergia, anhedonia, dan penurunan libido pada
depresi.
Hasil

metabolisme

norepinefrin

adalah

3-methoxy-4-hydroxyphenilglycol

(MHPG). Penurunan aktivitas norepinefrin sentral dapat dilihat berdasarkan


penurunan ekskresi MHPG. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa MHPG
mengalami defisiensi pada penderita depresi. Kadar MHPG yang keluar di urin
meningkat kadarnya pada penderita depresi yang di ECT (terapi kejang listrik).
2.4. Epidemiologi
Dapat dikatakan insiden gangguan bipolar tidak tinggi, berkisar antara 0,3-1,5%.
Namun, angka itu belum termasuk yang misdiagnosis. Risiko kematian terus membayangi
penderita bipolar. Biasanya kematian itu dikarenakan mereka mengambil jalan pintas
yaitu bunuh diri. Risiko bunuh diri meningkat pada penderita bipolar yang tidak diterapi
yaitu 5,5 per 1000 pasien. Sementara yang diterapi hanya 1,3 per 1000 pasien.
Gangguan pada lelaki dan perempuan sama, umumnya timbul di usia remaja atau
dewasa. Hal ini paling sering dimulai sewaktu seseorang baru menginjak dewasa, tetapi
kasus-kasus gangguan bipolar telah didiagnosis pada remaja dan bahkan anak- anak.
2.5. Gambaran Klinis
Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual (DSM) IV, gangguan bipolar
dibedakan menjadi 2 yaitu gangguan bipolar I dan II. Perbedaannya adalah pada
gangguan bipolar I memiliki episode manik sedangkan pada gangguan bipolar II
mempunyai episode hipomanik. Beberapa ahli menambahkan adanya bipolar III dan
bipolar IV namun sementara ini yang 2 terakhir belum dijelaskan.

Gangguan bipolar I dibagi lagi menjadi beberapa bagian menurut perjalanan


longitudinal gangguannya. Namun hal yang pokok adalah paling tidak terdapat 1 episode
manik di sana. Walaupun hanya terdapat 1 episode manik tanpa episode depresi lengkap
maka tetap dikatakan gangguan bipolar I. Adapun episode-episode yang lain dapat berupa
episode depresi lengkap maupun episode campuran, dan episode tersebut bisa mendahului
ataupun didahului oleh episode manik.
Gangguan bipolar II mempunyai ciri adanya episode hipomanik. Gangguan bipolar II
dibagi menjadi 2 yaitu tipe hipomanik, bila sebelumnya didahului oleh episode depresi
mayor dan disebut tipe depresi bila sebelum episode depresi tersebut didahului oleh
episode hipomanik.
Berdasarkan Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) III,
gangguan ini bersifat episode berulang yang menunjukkan suasana perasaan pasien dan
tingkat aktivitasnya jelas terganggu, dan gangguan ini pada waktu tertentu terdiri dari
peninggian suasana perasaan serta peningkatan energi dan aktivitas (mania atau
hipomania), dan pada waktu lain berupa penurunan suasana perasaan serta pengurangan
energi dan aktivitas (depresi). Yang khas adalah terdapat penyembuhan sempurna antar
episode. Episode manik biasanya mulai dengan tiba-tiba dan berlangsung antara 2 minggu
sampai 4-5 bulan, sedangkan depresi cenderung berlangsung lebih lama.
Episode pertama bisa timbul pada setiap usia dari masa kanak-kanak sampai tua.
Kebanyakan kasus terjadi pada dewasa muda berusia 20-30 tahun. Semakin dini
seseorang menderita bipolar maka risiko penyakit akan lebih berat, kronik bahkan
refrakter.
Episode manik dibagi menjadi 3 menurut derajat keparahannya yaitu hipomanik,
manik tanpa gejala psikotik, dan manik dengan gejala psikotik. Hipomanik dapat
diidentikkan dengan seorang perempuan yang sedang dalam masa ovulasi (estrus) atau
seorang laki-laki yang dimabuk cinta. Perasaan senang, sangat bersemangat untuk
beraktivitas, dan dorongan seksual yang meningkat adalah beberapa contoh gejala
hipomanik. Derajat hipomanik lebih ringan daripada manik karena gejala- gejala tersebut
tidak mengakibatkan disfungsi sosial.
Pada manik, gejala-gejalanya sudah cukup berat hingga mengacaukan hampir seluruh
pekerjaan dan aktivitas sosial. Harga diri membumbung tinggi dan terlalu optimis.
Perasaan mudah tersinggung dan curiga lebih banyak daripada elasi. Tanda manik lainnya
dapat berupa hiperaktifitas motorik berupa kerja yang tak kenal lelah melebihi batas wajar
dan cenderung non-produktif, euphoria hingga logorrhea (banyak berbicara, dari yang isi
bicara wajar hingga menceracau dengan 'word salad'), dan biasanya disertai dengan
7

waham kebesaran, waham kebesaran ini bisa sistematik dalam artian berperilaku sesuai
wahamnya, atau tidak sistematik, berperilaku tidak sesuai dengan wahamnya. Bila gejala
tersebut sudah berkembang menjadi waham maka diagnosis mania dengan gejala psikotik
perlu ditegakkan.
2.6. Diagnosis Dan Klasifikasi
Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders of Psychiatric
Assosiation (4th edition, text revisions; DSM-IV-TR), gangguan bipolar dibedakan
menjadi 2 yaitu gangguan bipolar I dan II. Gangguan bipolar I atau tipe klasik ditandai
dengan adanya 2 episode yaitu manik dan depresi, sedangkan gangguan bipolar II
ditandai dengan hipomanik dan depresi. PPDGJ III membaginya dalam klasifikasi yang
berbeda yaitu menurut episode kini yang dialami penderita.
Tabel 1. Pembagian Gangguan Afektif Bipolar Berdasarkan PPDGJ III (F31)
F31.0
Gangguan afektif bipolar, episode kini hipomanik
F31.1
Gangguan afektif bipolar, episode kini manik tanpa gejala psikotik
F31.2
Gangguan afektif bipolar, episode kini manik dengan gejala psikotik
F31.3
Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif ringan atau sedang
F31.4
Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif berat tanpa gejala psikotik
F31.5
Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif berat dengan gejala psikotik
F31.6
Gangguan afektif bipolar, episode kini campuran
F31.7
Gangguan afektif bipolar, kini dalam remisi
F31.8
Gangguan afektif bipolar lainnya
F31.9
Gangguan afektif bipolar yang tidak tergolongkan
F31 Gangguan Afektif Bipolar
Gangguan ini tersifat oleh episode berulang (yaitu sekurang-kurangnya dua) yang
menunjukkan suasana perasaan (mood) pasien dan tingkat aktivitasnya jelas terganggu, dan
gangguan ini pada waktu tertentu terdiri dari peninggian suasana perasaan (mood) serta
peningkatan enersi dan aktivitas (mania atau hipomania), dan pada waktu lain berupa
penurunan suasana perasaan (mood) serta pengurangan enersi dan aktivitas depresi). Yang
khas adalah bahwa biasanya ada penyembuhan sempurna antar episode, dan insidensi pada
kedua jenis kelamin kurang lebih sama dibanding dengan gangguan suasana perasaan (mood)
lainnya. Dalam perbandingan, jarang ditemukan pasien yang menderita hanya episode mania
yang berulang-ulang, dan karena pasien-pasien tersebut menyerupai (dalam riwayat keluarga,
kepribadian pramorbid, usia onset, dan prognosis jangka panjang) pasien yang mempunyai
juga episode depresi sekali-sekali, maka pasien itu digolongkan sebagai bipolar.
8

F31.0 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini hipomanik


Pedoman diagnostik
a. Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk hipomania (F30.0) dan,
b. Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik atau campuran
di masa lampau.
F31.1 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Manik tanpa Gejala Psikotik
Pedoman diagnostik
a. Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk mania tanpa gejala psikotik
(F30.1) dan,
b. Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik atau campuran
di masa lampau.
F31.2 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Manik dengan Gejala Psikotik
Pedoman diagnostik
a. Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk mania dengan gejala psikotik
(F30.2) dan,
b. Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik atau campuran
di masa lampau.
F31.3 Gangguan Afektif Bipolar, episode kini Depresif Ringan atau Sedang
Pedoman diagnostik
Untuk mendiagnosis pasti :
a. Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif ringan (F32.0)
ataupun sedang (F32.1), dan
b. Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik atau campuran
di masa lampau.
Karakter kelima dapat digunakan untuk menentukan ada atau tidaknya gejala somatic dalam
episode depresif yang sedang berlangsung.
F31.30 Tanpa gejala somatik
F31.31 Dengan gejala somatik
F31.4 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Depresif Berat tanpa Gejala Psikotik
Pedoman diagnostik
9

Untuk mendiagnosis pasti :


a. Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif berat tanpa
gejala psikotik (F32.2), dan
b. Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik atau campuran
di masa lampau.
F31.5 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Depresif Berat dengan GejalaPsikotik
Pedoman diagnostik
Untuk mendiagnosis pasti :
a. Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif berat dengan
gejala psikotik (F32.3), dan
b. Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik atau campuran
di masa lampau.
Jika dikehendaki, waham atau halusinasi dapat ditentukan sebagai serasi atau tidak serasi
dengan afeknya.
F31.6 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Campuran
Pedoman diagnostic
a. Episode yang sekarang menunjukkan gejala-gejala manik, hipomanikdan depresif
yangtercampur atau bergantian dengan cepat (gejala mania/hipomania dan depresi
sama-sama mencolok selama masa terbesar dari episode penyakit yang sekarang, dan
telah berlangsung sekurang-kurangnya 2 minggu) dan
b. Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik atau campuran
di masa lampau.
F31.7 Gangguan Afektif Bipolar, Kini dalam Remisi
Sekarang tidak menderita gangguan afektif yang nyata selama beberapa bulan terakhir ini,
tetapi pernah mengalami sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik atau
campuran di masa lampau dan ditambah sekurang-kurangnya satu episode afektif lain
(hipomanik, manik, depresif atau campuran).
F31.8 Gangguan Afektif Bipolar Lainnya
F31.9 Gangguan Afektif Bipolar YTT
Kriteria Episode Manik menurut DSM-IV-TR
10

Mood Elasi, ekspansif atau iritabel yang menetap, secara abnormal, selama periode tertentu,
berlangsung paling sedikit satu minggu (atau < 1 minggu bila rawat inap). Selama
gangguan mood, minimal 3 gejala menetap dgn derajat berat yang signifikan:

Grandiositas

Berkurang kebutuhan tidur

Bicara lebih banyak

Loncatan gagasan

Distraktibilitas

aktivitas yang diarahkan ketuhuan

Keterlibatan yang berlebihan dalam aktivitas yang menyenangkan yang


berpotensi merugikan

Gejala tidak memenuhi gejala episode campuran. Gangguan mood sgt berat sehingga
menyebabkan hendaya yang jelas dalam fungsi pekerjaan, sosial atau memerlukan perawatan
untuk menghindari melukai diri sendiri/ orang lain atau dgn psikotik. Gejala tidak disebabkan
oleh efek fisiologik.
Episode Hipomanik
Derajat gejala tidak berat, tidak ada, gejala psikotik, tidak perlu perawatan, hendaya tidak
berat. Durasi episode paling sedikit 4 hari. Gejalanya antara lain:

mood yang ringan

Pikiran menjadi tajam

energi dan aktivitas

Berlangsung beberapa hari pada perode tertentu tanpa ada hendaya

Kriteria Episode Hipomanik menurut DSM-IV-TR


Mood Elasi, ekspansif atau iritabel yang menetap, secara abnormal, selama periode tertentu,
berlangsung plg sedikit 4 hari, mood jelas terlihat berbeda dengan mood biasa atau ketika
tidak sedang depresi. Selama gangguan mood, min 3 gejala menetap dgn derajat berat yang
signifikan:

Grandiositas

Berkurang kebutuhan tidur

Bicara lebih banyak

Loncatan gagasan
11

Distraktibilitas

aktivitas yang bertujuan

Keterlibatan yg berlebihan dalam aktivitas yg menyenangkan yg berpotensi merugikan .


Episode yang tidak dikaitkan dgn perubahan yg jelas dalam fungsi yg tidak khas. Perubahan
mood dan fungsi tsb dpt dilihat orang lain. Episode yg terjadi tidak cukup berat untuk
menyebabkan hendaya yang jelas dalam fungsi pekerjaan, sosial atau tidak memerlukan
perawatan untuk menghindari melukai diri sendiri/ orang lain atau tidak dgn psikotik. Gejala
tidak disebabkan oleh efek fisiologik.

2.7. Komorbid
Sebagian besar penderita bipolar tidak hanya menderita bipolar saja tetapi juga menderita
gangguan jiwa yang lain (komorbid). Penelitian oleh Goldstein BI dkk, seperti dilansir dari
Am J Psychiatry 2006, menyebutkan bahwa dari 84 penderita bipolar berusia diatas 65 tahun
ternyata sebanyak 38,1% terlibat dalam penyalahgunaan alkohol, 15,5% distimia, 20,5%
gangguan cemas menyeluruh, dan 19% gangguan panik.2 Sementara itu, attention deficit
hyperactivity disorder (ADHD) menjadi komorbid yang paling sering didapatkan pada 90%
anak-anak dan 30% remaja yang bipolar.

2.8. Penatalaksanaan

12

a. Farmakoterapi
Fluoxetin (prozac) telah digunakan dengan suatu keberhasilan pada remaja dengan
gangguan depresif barat. Karena beberapa anak dan remaja yang menderita depresif akan
mengalami gangguan bipolar, klinisi harus mencatat gejala hipomanik yang mungkin
terjadi selama pemakaian fluoxetin dan anti depresan lain. Pada kasus tersebut medikasi
harus dihentikan untuk menentukan apakah episode hipomanik selanjutnya menghilang.
Tetapi, respon hipomanik terhadap antidepresan tidak selalu meramalkan bahwa
gangguan bipolar telah terjadi.8 Gangguan bipolar pada masa anak-anak dan remaja
adalah diobati dengan lithium (Eskalith) dengan hasil yang baik. Tetapi, anak-anak yang
memiliki gangguan defisit-atensi/hiperaktivitas) dan selanjutnya mengalami gangguan
bipolar pada awal masa remaja adalah lebih kecil kemungkinannya untuk berespon baik
terhadap lithium dibandingkan mereka yang tanpa gangguan perilaku.
13

Pasien dengan gangguan bipolar membutuhkan dorongan untuk mencari dan


mempertahankan pengobatan dan tindak lanjutnya dengan segala keterbatasannya lithium
merupakan pengobatan untuk gangguan bipolar yang telah lama digunakan meskipun
banyak obat-obat generasi baru yang ditemukan, namun efektifitas pencegahan bunuh diri
masih belum jelas.
Garam Lithium (carbonate) merupakan antidepresan yang dianjurkan untuk gangguan
depresi bipolar (terdapatnya episode depresi dan mania) dan penderita gangguan depresi.
Lithium tidak bersifat sedative, depresan ataupun eforian, inilah yang membedakannya
dari antidepresan lain.
Mekanis aksi lithium mengendalikan alam perasaan belum diketahui, diduga akibat
efeknya sebagai membrana biologi. Sifat khas ion lithium dengan ukuran yang amat kecil
tersebar melalui membrana biologik, berbeda dari ion Na dan K. Ion lithium
menggantikan ion Na mendukung aksi potensial tunggal di sel saraf dan melestarikan
membrana potensial itu. Masih belum jelas betul makna interaksi antara lithium (dengan
konsentrasi 1 mEq per liter) dan transportasi monovalent atau divalent kation oleh sel
saraf.2 Aksi lithium disusunan saraf pusat dispekulasikan merobah distribusi ion
didalamsel susunan saraf pusat, perhatian terpusat pada efek konsentrasi ionnya yang
rendah dalam metabolisme biogenik amin yang berperanan utama dalam patofisiologi
gangguan alam perasaan.
Sudah lebih dari 50 tahun lithium digunakan sebagai terapi gangguan bipolar.
Keefektivitasannya telah terbukti dalam mengobati 60-80% pasien. Pamornya semakin
berkibar karena dapat menekan ongkos perawatan dan angka kematian akibat bunuh diri.
Tapi bukan berarti lithium tanpa cela. Terdapat orang-orang yang kurang memberi
respon terhadap lithium di antaranya penderita dengan riwayat cedera kepala, mania
derajat berat (dengan gejala psikotik), dan yang disertai dengan komorbid. Bila
penggunaanya dihentikan tiba-tiba, penderita cepat mengalami relaps. Selain itu, indeks
terapinya sempit dan perlu monitor ketat kadar lithium dalam darah. Gangguan ginjal
menjadi kontraindikasi penggunaan lithium karena akan menghambat proses eliminasi
sehingga menghasilkan kadar toksik. Di samping itu, pernah juga dilaporkan lithium
dapat merusak ginjal bila digunakan dalam jangka lama. Karena keterbatasan itulah,
penggunaan lithium mulai ditinggalkan.2 Antipsikotik mulai digunakan sebagai
antimanik sejak tahun 1950.
Antipsikotik lebih baik daripada lithium pada penderita bipolar dengan agitasi
psikomotor. Perhatian ekstra harus dilakukan bila hendak merencanakan pemberian
antipsikotik jangka panjang terutama generasi pertama (golongan tipikal) sebab dapat
14

menimbulkan beberapa efek samping seperti ekstrapiramidal, neuroleptic malignant


syndrome, dan tardive dyskinesia.
Valproat menjadi pilihan ketika penderita bipolar tidak memberi respon terhadap
lithium. Bahkan valproat mulai menggeser dominasi lithium sebagai regimen lini
pertama. Salah satu kelebihan valproat adalah memberikan respon yang baik
padakelompok rapid cycler. Penderita bipolar digolongkan rapid cycler bila dalam 1 tahun
mengalami 4 atau lebih episode manik atau depresi. Efek terapeutik tercapai pada kadar
optimal dalam darah yaitu 60-90 mg/L. Efek samping dapat timbul ketika kadar melebihi
125 mg/L, di antaranya mual, berat badan meningkat, gangguan fungsi hati, tremor,
sedasi, dan rambut rontok. Dosis akselerasi valproat yang dianjurkan adalah loading dose
30 mg/kg pada 2 hari pertama dilanjutkan dengan 20 mg/kg pada 7 hari selanjutnya.
Pencarian obat alternatif terus diupayakan. Salah satunya adalah lamotrigine.
Lamotrigine merupakan antikonvulsan yang digunakan untuk mengobati epilepsi.
Beberapa studi acak, buta ganda telah menyimpulkan, lamotrigine efektif sebagai terapi
akut pada gangguan bipolar episode kini depresi dan kelompok rapid cycler. Sayangnya,
lamotrigine kurang baik pada episode manik.

1) Litium
Indikasi:
Episode mania akut, depresi, mencegah bunuh diri, dan bermanfaat sebagai terapi
rumatan GB.
15

Dosis:
Respons litium terhadap mania akut dapat dimaksimalkan dengan menitrasi dosis
hingga mencapai dosis terapeutik yang berkisar antara 1,0-1,4 mEq/L. Perbaikan
terjadi dalam 7-14 hari.Dosis awal yaitu 20 mg/kg/hari. Dosis untuk mengatasi
keadaan akut lebih tinggi bila dibandingkan dengan untuk terapi rumatan. Untuk
terapi rumatan, dosis berkisar antara 0,4-0,8 mEql/L. Dosis kecil dari 0,4 mEq/L,
tidak efektif sebagai terapi rumatan. Sebaliknya, gejalatoksisitas litium dapat
terjadi bila dosis 1,5 mEq/L.
2) Valproat.
Dosis:
Dosis terapeutik untuk mania dicapai bila konsentrasi valproat dalam serum
berkisar antara 45 -125 ug/mL. Untuk GB II dan siklotimia diperlukan divalproat
dengan konsentrasi plasma 50 ug/mL. Dosis awal untuk mania dimulai dengan
15-20 mg/kg/hari atau 250 500 mg/hari dan dinaikkan setiap 3 hari hingga
mencapai konsentrasi serum 45- 125 ug/mL. Efek samping, misalnya sedasi,
peningkatan nafsu makan, dan penurunan leukosit serta trombosit dapat terjadi
bila konsentrasi serum 100 ug/mL. Untuk terapi rumatan, konsentrasi valproat
dalam plasma yang dianjurkan adalah antara 75-100 ug/mL.
Indikasi:
Valproat efektif untuk mania akut, campuran akut, depresi mayor akut, terapi
rumatan GB, mania sekunder, GB yang tidak berespons dengan litium, siklus
cepat, GB pada anak dan remaja, serta GB pada lanjut usia.
3) Lamotrigin
Indikasi:
Efektif untuk mengobati episode depresi, GB I dan GB II, baik akut maupun
rumatan. Lamotrigin juga efektif untuk GB, siklus cepat.
Dosis:
Berkisar antara 50-200 mg/hari.
Antipsikotika Atipik
1) Risperidon
Dosis:
Untuk preparat oral, risperidon tersedia dalam dua bentuk sediaan yaitu tablet dan
cairan. Dosis awal yang dianjurkan adalah 2 mg/hari dan besoknya dapat
dinaikkan hingga mencapai dosis 4 mg/hari. Sebagian besar pasien membutuhkan
4-6 mg/hari. Risperidon injeksi jangka panjang (RIJP) dapat pula digunakan untuk
16

terapi rumatan GB. Dosis yang dianjurkan untuk orang dewasa atau orang tua
adalah 25 mg setiap dua minggu. Bila tidak berespons dengan 25 mg, dosis dapat
dinaikkan menjadi 37,5 mg - 50 mg per dua minggu.
Indikasi:
Risperidon bermanfaat pada mania akut dan efektif pula untuk terapi rumatan
2) Olanzapin
Indikasi:
Olanzapin mendapat persetujuan dari FDA untuk bipolar episode akut mania dan
campuran. Selain itu, olanzapin juga efektif untuk terapi rumatan GB.
Dosis:
Kisaran dosis olanzapin adalah antara 5-30 mg/hari.
3) Quetiapin.
Dosis:
Kisaran dosis pada gangguan bipolar dewasa yaitu 200-800 mg/hari. Tersedia
dalam bentuk tablet IR (immediate release) dengan dosis 25 mg, 100 mg, 200 mg,
dan 300 mg, dengan pemberian dua kali per hari. Selain itu, juga tersedia
quetiapin-XR dengan dosis 300 mg, satu kali per hari.
Indikasi:
Quetiapin efektif untuk GB I dan II, episdoe manik, depresi, campuran, siklus
cepat, baik dalam keadaan akut maupun rumatan.
4) Aripiprazol
Dosis:
Aripiprazol tersedia dalam bentuk tablet 5,10,15,20, dan 30 mg. Kisaran dosis
efektifnya per hari yaitu antara 10-30 mg. Dosis awal yang direkomendasikan
yaitu antara 10 - 15 mg dan diberikan sekali sehari. Apabila ada rasa mual,
insomnia, dan akatisia, dianjurkan untuk menurunkan dosis. Beberapa klinikus
mengatakan bahwa dosis awal 5 mg dapat meningkatkan tolerabilitas.
Indikasi:
Aripiprazol efektif pada GB, episode mania dan episode campuran akut. Ia juga
efektif untuk terapi rumatan GB. Aripiprazol juga efektif sebagai terapi tambahan
pada GB I, episode depresi.
17

Antidepresan
Antidepresan efektif untuk mengobati GB, episode depresi. Penggunaannya harus
dalam jangka pendek. Penggunaan jangka panjang berpotensi meginduksi hipomania
atau mania. Untuk menghindari terjadinya hipomania dan mania, antidepresan
hendaklah dikombinasi dengan stabilisator mood atau dengan antipsikotika atipik
Intervensi Psikososial
Intervensi psikososial meliputi berbagai pendekatan misalnya, cognitive
behavioral therapy (CBT), terapi keluarga, terapi interpersonal, terapi kelompok,
psikoedukasi, dan berbagaibentuk terapi psikologi atau psikososial lainnya. Intervensi
psiksosial sangat perlu untukmempertahankan keadaan remisi.
b. Psikoterapi
Sedikit data yang menguatkan keunggulan salah satu pendekatan psikoterapi
dibandingkan yang lain dalam terapi gangguan mood masa anak-anak dan remaja. Tetapi,
terapi keluarga adalah diperlukan untuk mengajarkan keluarga tentang gangguan mood serius
yang dapat terjadi pada anak-anak saat terjadinya stres keluarga yang berat. Pendekatan
psikoterapetik bagi anak terdepresi adalah pendekatan kognitif dan pendekatan yang lebih
terarah dan lebih terstruktur dibandingkan yang biasanya digunakan pada orang dewasa.
Karena fungsi psikososial anak yang terdepresi mungkin tetap terganggu untuk periode yang
lama, walaupun setelah episode depresif telah menghilang, intervensi keterampilan sosial
jangka panjang adalah diperlukan. Pada beberapa program terapi, modeling dan permainan
peran dapat membantu menegakkan keterampilan memecahkan masalah yang baik.
Psikoterapi adalah pilihan utama dalam pengobatan depresi.

II.9. Prognosis
Pada kasus mengarah ke buruk
Prognosis Buruk
Akut
Onset terjadi pada usia muda
Riwayat kerja yang buruk
Penyalahgunaan alcohol
Gambaran psikotik

Prognosis Baik
Fase manic (dalam durasi pendek)
Onset terjadi pada usia yang lanjut
Pemikiran untuk bunuh diri yang rendah
Gambaran psikotik yang rendah
Masalah kesehatan (oranganik) yang rendah.
18

Gambaran

depresif diantara episode

manic dan depresi


Adanya bukti keadaan depresif
Jenis kelamin laki-laki.

2.10. Komplikasi
Komplikasi dari gangguan ini antara lain bunuh diri, pembunuhan, dan adiksi.
BAB III
PENUTUP

3. Kesimpulan
Gangguan bipolar adalah gangguan suasana perasaan yang bersifat episodik, pada
waktu tertentu terdiri dari peninggian suasana perasaan serta peningkatan energi dan aktivitas
(mania atau hipomania), dan pada waktu lain berupa penurunan suasana perasaan serta
pengurangan energi dan aktivitas (depresi). Penyebab gangguan Bipolar multifaktor.
Mencakup aspek bio-psikososial. Secara biologis dikaitkan dengan faktor genetik dan
gangguan neurotransmitter di otak. Secara psikososial dikaitkan dengan pola asuh masa kanakanak, stres yang menyakitkan, stres kehidupan yang berat dan berkepanjangan, dan banyak
lagi faktor lainnya.
Gangguan bipolar I (episode manik), yaitu: Peningkatan aktivitas, Peningkatan
pembicaraan, Pengurangan kebutuhan tidur, Sosialisasi / pergaulan yang berlebihan.
Sedangkan gangguan bipolar II (episode depresi), yaitu: Konsentrasi dan perhatian
berkurang, Kepercayaan diri berkurang, Gagasan perasaan bersalah, Gagasan atau perbuatan
membahayakan diri.
Pasien dengan gangguan bipolar membutuhkan dorongan untuk mencari dan
mempertahankan pengobatan dan tindak lanjutnya dengan segala keterbatasannya lithium
merupakan pengobatan untuk gangguan bipolar yang telah lama digunakan meskipun banyak
obat-obat generasi baru yang ditemukan, namun efektifitas pencegahan bunuh diri masih
belum jelas.

19

DAFTAR PUSTAKA
1. Dorland, W.A Newman. Kamus Kedokteran Dorland edisi kedua puluh sembilan. Jakarta:
EGC. 2002.
2. Depkes RI Direktorat Jenderal Pelayanan Medik. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis
Gangguan Jiwa di Indonesia III. Jakarta. Departemen Kesehatan. 1993.
3. Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri
Klinis Jilid Dua. Jakarta. Binarupa Aksara. 2010.
4. Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri
Klinis Jilid Satu. Jakarta. Binarupa Aksara. 2010.
5. David A. Tomb, Buku Saku Psikiatri, Edisi 6, , Jakarta : EGC, 2003.
6. Widiodiningrat R. Membangun Kesadaran-Mengurangi Resiko gangguan Mental dan
Bunuh Diri. http://pdpersi.co.id . diakses 28 Desember 2011.
7. Hilary. Bipolar Disorder. http://hilary.wordpresss.com. Diakses 28 Desember 2011

20